Arakafsya Uchiha Mempersembahkan:
"TWIN"
Genre : Romance/Friendship
Characters: Sasuke U. & Sakura H.
Rate: Semi M
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
.
Don't like?! Don't read!
.
.
Namikaze's Home. March, 25th – 2013
Namikaze Karin— baru saja menghentikan kegiatan menulisnya. Ia sandarkan tubuhnya pada penyanggah kursi yang menghadapkannya pada meja belajar, buku-buku sekolahnya saling bertumpukan, alat tulisnya masih berserakan. Ia buang pandangannya pada jendela kamar yang besar, tirainya masih terbuka dan menampakkan langit malam yang bertabur bintang. Iris rubbynya terjerat lagi— angannya melambung entah kemana, pikiran terlepas dari raganya. Menyusuri jejak kehidupan yang sudah hampir tujuh belas tahun ini ia pijaki.
Namikaze Sakura.
Nama itu kembali menghantui pikirannya. Ia masih menerka-nerka siapa gadis dari pemilik nama tersebut. Satu hal yang ia tahu, gadis itu pasti memiliki hubungan darah dengannya. Menyandang sebagai Nona Namikaze, berarti gadis itu bukanlah gadis sembarangan.
Drrt Drrt Drrt Drrt
Alam sadarnya kembali tertarik saat menyadari getaran di handphonenya. Ia sedikit tersenyum saat melihat sebuah nama menghiasi layar handphonenya. Ia geser kursor layarnya demi menjawab panggilan itu, lalu menempelkan benda kotak itu pada daun telinga kanannya.
"Konbanwa, Sui-kun." Ucapnya sembari tersenyum manis.
"Aa, belum tidur?" kata suara di seberang sana.
Gadis itu menggeleng, "Belum, aku juga belum makan malam. Tadi tou-san sudah menyuruh, tapi aku belum lapar."
"Kebiasaan sekali, makanlah sebelum lapar. Kalau kau sakit, aku juga yang repot."
"Aku merepotkanmu ya?" tanya gadis itu dengan nada sedih yang dibuat-buat.
"Tidak, hehehe. Aku hanya bercanda, jangan lupa makan dan jangan tidur terlalu larut."
"Aku tahu. Kau juga, ne?" jawabnya masih dengan logat Jepang yang khas.
"Sudah dulu ya, aku mau tidur duluan. Jaa,"
"Jaa ne," ia tersenyum dan langsung memutuskan sambungan telefon. Entah kenapa perasaannya kembali membaik setelah mendapat sedikit perhatian dari kekasihnya barusan. Bicara soal kekasih, ia jadi ingat kejadian yang terjadi tadi pagi.
Sasuke Uchiha.
Salah satu pemuda yang pernah menjabat di hatinya. Pemuda itu adalah kekasih— mantan kekasih— yang terindah di dalam hidupnya. Menjabat sebagai kekasihnya dalam jangka waktu yang lama, lalu berpisah karena sebuah alasan. Lama meninggalkan Jepang ke Sydney, ia kembali dan dikejutkan dengan pemandangan tadi pagi. Apa hubungannya pemuda itu dengan Haruno Sakura? Gadis yang pingsan itu. Setahu Karin, Sasuke itu tipikal pemuda yang dingin kepada perempuan. Banyak yang terjadi selama ia berada di Sydney. Ya, banyak yang terjadi.
==oOo==
Uchiha Mansion. March, 25th – 2013
Ting Tong... Ting Tong...
Sasuke Uchiha— tuan muda yang sedang menonton TV itu menolehkan kepalanya kearah pintu, ia bangkit dari duduknya dan membuka pintu rumahnya. Ia yakin ada tamu yang berkunjung malam ini. Iris onyxnya terbelalak sebentar, langkahnya tiba-tiba mundur karena kaget. Ia melihat seorang wanita paruh baya dengan seorang gadis di belakangnya yang menatapnya dengan malu-malu. Ia tarik nafas sebentar dan berojigi memberi hormat, lalu mempersilahkan tamunya untuk masuk.
"Sasuke-kun, maaf mengganggumu malam-malam begini." Kata wanita paruh baya itu sembari duduk di hadapannya.
"Hn, Baa-san mau minum sesuatu?" Tanyanya sembari mencuri pandang pada gadis yang ada di sebelahnya.
"Tidak, tidak. Aku kesini karena ada hal yang ingin aku sampaikan. Kemana ayah dan ibumu?" wanita itu sedikit melongokkan kepalanya kearah dapur.
"Kaa-san dan Tou-san sedang berada di Beijing, Baa-san kenal dengan mereka?"
Wanita itu menggeleng senyum, "Tadinya aku ingin meminta izin mereka,"
Sasuke menoleh lagi pada sosok gadis bersurai merah muda di sebelahnya, "Izin?"
"Iya, aku akan pergi ke luar kota untuk urusan kerja. Tadinya aku ingin minta tolong titip Sakura disini, di rumah kami tidak ada orang." Katanya lagi dengan suara yang lembut.
"Aku tidak keberatan, nanti aku akan hubungi kaa-san. Ada lagi yang bisa aku bantu?" tanya Sasuke agi.
"Aku titip Sakura untuk beberapa hari bisa? Aku harus berangkat malam ini juga," ucapnya sembari tersenyum.
Sasuke mengangguk. Wanita itu berdiri dari duduknya dan diikuti dengan kedua anak remaja yang ada di dekatnya. Sasuke mengantarkan wanita itu sampai ke pintu depan, sampai wanita itu mengucapkan terima kasih dan segera berlalu dengan mobil putihnya. Tuan muda Uchiha itu menghela nafas, ia lirik gadis bersurai merah muda yang masih memandang keluar dengan tas ransel merah yang ada di tangannya.
"Bukankah seharusnya kau ada di rumah sakit?" tanya Sasuke sembari menatap gadis itu.
Sakura— nama gadis yang berada di sampingnya itu menoleh, "Aku mau sekolah,"
"Kalau tidak ku izinkan bagaimana?" gadis itu menoleh dan mengembungkan pipi ranumnya.
"Ini 'kan rumahku, jadi terserah aku. Kau 'kan masih sakit, jadi tidak boleh sekolah." Sambung pemuda emo itu lagi.
"Kalau Sasuke-kun tidak mengizinkan aku sekolah, aku tidak mau makan dan minum obatku."
"Tch. Sudah ayo masuk, ini sudah malam." Katanya sembari merebut tas ransel merah dari tangan Sakura.
.
.
.
"Ini kamarmu," ucap Sasuke sembari membuka pintu kamar tamu yang terletak tak jauh dari kamarnya. Sakura masuk dan langsung duduk di tepi kasur berukuran King Size itu dan menelusuri tiap inci kamar barunya dengan tersenyum.
"Kalau kau mandi, kamar mandinya ada di sana." Lanjut pemuda itu lagi sembari meletakkan tas ransel milik sahabatnya itu.
"Sasuke-kun sudah makan?" tanya gadis itu sembari menatap pemuda di hadapannya.
Sasuke mengangguk, "Kau mau makan?"
Ia menggeleng, "Done," katanya sembari tersenyum.
"Sudah malam, sebaiknya kau tidur. Kalau ada apa-apa, kamarku ada di sebelahmu." Pemuda itu berjalan begitu saja meninggalkan Sakura sendirian di dalam kamar. Gadis itu mengangguk dan segera merebahkan diri di kasur, menyembunyikan iris emeraldnya dan berjalan menuju dream land.
Masih dalam satu atap, Sasuke Uchiha baru saja masuk ke dalam kamarnya dan melirik jam dinding yang berdetak menyuarakan dentingan jarum jam. Pukul 01:15a.m, ia menggeram karena matanya belum juga terpejam. Ia rebahkan tubuh kekarnya di atas kasur, lalu menutup matanya sejenak. Terbayang lagi olehnya kejadian singkat di rumah sakit tadi sore, ciuman pertamanya yang ia jatuhkan pada Haruno Sakura. Tidak— dia tidak tahu kenapa ciuman pertamanya ia berikan pada gadis lugu itu, mobil pribadi yang biasanya tak pernah seorang pun berada di dalamnya kecuali dirinya juga telah dimasuki oleh gadis itu. Besok, kemungkinan besar ia akan barangkat bersama. Itu sudah pasti, ia tidak mungkin menggunakan motor mengingat kondisi Sakura sedang sakit. Ia juga tidak mungkin menyuruh Sakura untuk berangkat dan pulang sendirian.
Drap Drap Drap Drap Drap
"Sasuke-kun! Buka pintunya! Sasuke-kun...hiks...! buka pintunya!" pemuda itu langsung membuka matanya saat mendengar langkah kaki yang terburu-buru, lalu ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya dengan brutal disertai dengan isak tangis seorang perempuan. Ia buru-buru membuka kunci pintu dan segera membuka dengan lebar daun pintu tersebut. Sebuah pelukan ketakutan langsung menyerbunya. Ya, Sakura Haruno— menangis terisak ketakutan.
"K-kau kenapa, Sakura?" tanyanya sedikit khawatir.
"Sasuke-kun...hiks...tadi ada laki-laki...hiks...dia masuk...ke- hiks...ke kamarku~" jawab Sakura dengan susah payah karena nafas yang tersengal.
Pemuda itu menolehkan kepalanya keluar kamar, "Biar aku lihat kamarmu,"
Sakura tidak mau melepaskan pelukannya, ia masih saja menangis dan menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang pemuda itu. Ia ketakutan, tidak peduli pada tatapan Sasuke yang mungkin kebingungan atau sedikit risih dipeluk seperti ini. Pemuda itu mencoba melepaskan pelukannya lagi, "Sakura, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku hanya ingin melihat apa yang ada di kamarmu,"
Sakura menggeleng lagi. Pemuda itu lalu tersenyum dan mengusap kepala Sakura, "Aku hanya ingin melihat," pada akhirnya gadis itu melepaskan pelukannya dan menggenggam erat tangan Sasuke dengan kedua tangannya. Ia mengikuti langkah pemuda itu, sampai tiba di kamar juga ia tidak melihat apa-apa lagi. Pemuda itu menghela nafas, "Tidak ada apa-apa 'kan? Mungkin kau bermimpi,"
"Aku takut, tadi aku melihatnya." Kata Sakura lagi dengan terisak.
"Tidur di kamarku saja kalau takut, nanti aku tidur di bawah." Ujar Sasuke sembari mengelus pucuk kepala Sakura.
"Aku tidak mau tidur, aku takut." Jawabnya lagi sembari menghapus air matanya yang menggenang di pelupuk matanya.
"Hn," pemuda itu menarik tangan Sakura dan membawanya kembali ke kamarnya.
Sasuke's POV
Aku tuntun tangan mungilnya masuk ke dalam kamar, ku isyaratkan agar ia berbaring di atas tempatku tidur. Aku tarik bangku yang biasanya aku pakai untuk berhadapan dengan notebook yang terpajang di atas meja. Ia menatapku dalam diam, iris teduhnya yang kontras dengan mataku kembali beradu. Wajahku memanas, ingin tersenyum seperti tadi juga tidak bisa. Susah payah aku tarik nafasku dalam-dalam. Aku bertanya dalam hati, "Apa yang terjadi padaku?".
"Sasuke-kun," ia memanggilku. Aku ingin tertawa, logat baratnya memanggilku dengan embel-embel 'kun' begitu terasa aneh. Tapi, jujur saja aku suka. Aku suka mendengarnya memanggilku demikian.
"Hn?" tanyaku sembari menggenggam tangannya, mengatakan padanya bahwa tidak ada yang perlu ditakuti.
"Tidur, ini sudah malam." Ia menceramahiku seolah tidak lihat keadaannya? Ia bahkan belum terpejam lagi, aku menggeleng.
"Aku tidur kalau kau sudah terlelap." Jawabku lagi. Dia hanya diam, terus memandangku dengan wajahnya yang memerah.
"Sasuke-kun, yang kau ambil itu...itu ciuman pertamaku," katanya lagi sembari menatap tangan kami yang bertautan.
"Hn. Aku juga," jawabku sekenanya. Ia menengadahkan kepalanya lagi, menatapku terkejut.
"Jangan bohong," aku menghela nafas mendengar tuduhannya, aku tatap matanya yang seindah emerald itu.
"Aku kehilatan sedang berbohong ya?" ku lihat ia tersentak.
"Tidak, maafkan aku." Katanya sembari mengeratkan genggaman tangan kami. Aku tersenyum.
Aku cukup terkejut saat tiba-tiba tangannya yang lain mengusap bibir bawahku. Ada rasa aneh yang menggerogoti hatiku, aku begitu menikmati sentuhannya. Aku memejamkan mataku sejenak, lalu membukanya secara perlahan saat jemarinya tak lagi menyentuh bibirku. Aku dekatkan wajahku padanya, menarik dagunya yang mungil itu. Aku kecup bibirnya yang kecil, terasa rasa buah cherry di bibirku.
"Mmhh~ Sasuke-kun~" ku masukan lidahku saat ia mencoba untuk mengambil nafas, ku coba untuk turun dari kursi dan beranjak ke kasur tanpa melepas ciuman kami. Sakura mengalungkan tangannya di leherku, tubuhnya menerima pelukan dariku. Rasa hangat mulai mengalir dalam hatiku, seumur hidupku menjalani hubungan dengan seorang gadis, aku tidak pernah melakukan apapun. Sungguh.
"Sasuke-kun," ia memanggil namaku saat ciuman kami terhenti, ku raih kedua pipinya dalam rengkuhan telapak tanganku.
"Sakura, aku..." aku terhenti, tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Ia menarik kaos putihku seolah minta penjelasan, aku menggeleng, "Aku tidak tahu kenapa aku ingin melindungimu. Sakura, aku...menyukaimu."
"Aku tidak mau disukai olehmu, aku maunya dicintai olehmu. Sejak pertama kali aku menatapmu, aku jatuh hati padamu. Sasuke-kun," katanya panjang lebar.
Aku tersentak mendengar pengakuannya, setidaknya...perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan, tidak seperti dulu. Sudah, aku tidak mau membahas masa lalu lagi. Aku jera, ku tarik Sakura dalam pelukanku dan ku usap kepala merah mudanya. Ku baringkan perlahan di atas kasur, lalu ku kecup lagi bibirnya. Sebelah tanganku menggerayangi tubuh mungilnya. Biarah, malam ini aku bergerak sesuai dengan naluriku sendiri. Selama perasaan ini masih ada untuknya, aku tidak akan meninggalkannya.
"Uugghh...S-Sasuke-kuuunnhhh~" ia menggeram pelan dalam ciuman kami, tubuhnya meliuk lagi ketika ku remas-remas dada sebelah kanannya yang masih tertutupi pakaian tidur.
Tanganku bergerak, mengangkat pakaiannya yang tersingkap entah sejak kapan. Ku irik sebentar bra berwarna merah menyala itu, ku angkat sebentar tubuh Sakura dengan tangan kananku, lalu ku buka pengait yang terpasang disana. Gumpalan daging kenyal itu mengeras, pucuknya menantangku untuk segera mengulumnya. Ku lirik wajah Sakura yang memerah, ia tersenyum. Ah, aku jadi salah tingkah.
"Pelan-pelan, Sasuke-kun." Aku mengangguk, aku tarik kepalaku untuk melumatnya. Aku dengar ia mendesah, menyerukan namaku.
"A-aahh...Sasuke-kun...uuhh..." brengsek! Hasratku langsung saja naik begitu dia mendesahkan namaku dengan suara sexynya. Aku pejamkan mataku, menajamkan indera pendengaranku, sambil tetap mengulum dadanya. Aku gunakan tangan kiriku untuk meremas-remas dengan gemas dadanya yang menganggur. Ia semakin mendesah.
"Aaahhh...mmhhh..." tangannya yang semula diam kini bergerak, mencoba menyibakkan kaos putih polosku dan menyentuh tubuh kekarku.
Shit!
Aku baru merasakan sensasi senikmat ini. Tak ayal kalau aku juga sedikit menggeram karenanya. Geram, ku lepas lumatanku dan segera membuka kaos putih yang mulai menghalangi tubuhku. Ku timpah lagi tubuh Sakura dengan pelan, iris teduhnya menatap lemas mataku. Untuk sekali ini saja, aku tersenyum tulus— di hadapan wajahnya.
Normal POV
==oOo==
Konoha High School. March, 26th – 2013
Sebuah mobil Fortuner hitam telah berhenti di pelataran parkir khusus mobil milik sekolah. Sasuke Uchiha dan Haruno Sakura turun bersamaan dan baru saja akan menaiki tangga yang mengantarkannya pada lorong di dekat kelas mereka. Tapi, tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat seorang gadis yang baru keluar dari Yaris merahnya. Dua pasang mata itu bertemu pandang dengan si pemilik iris rubby yang nampaknya juga terkejut dengan kehadiran mereka.
"Karin?! Kita bertemu lagi," ucap Sakura sembari melambaikan tangannya.
Karin tersenyum canggung dan menatap mereka secara bergantian, sementara Sasuke yang ditatap juga menatap balik, "Kalian...err...bersama?"
Sakura mengangguk, "Hu-um, kenapa?"
"A-aah...tidak! hehehe, biasanya Sasuke tidak pernah mau satu mobil dengan perempuan." Jawab Karin sembari menatap bingung pemuda itu.
"Kami tinggal satu atap, jadi kami bersama." Sela Sasuke sembari menatap Karin dengan datar.
"Bersama? Kalian saudara?"
"Mama menitipkan aku pada Sasuke-kun, karena mama harus pergi keluar kota." Sela Sakura sembari tersenyum. Ia jelas tidak tahu apa-apa yang terjadi diantara keduanya, jadi sikapnya memang biasa saja.
"Aku duluan," ucap Sasuke sembari menarik tangan Sakura menuju kelas mereka.
.
.
.
Sakura sadar ada yang berubah dari Sasuke. Pemuda itu jadi lebih canggung berhadapan dengannya, sejak kejadian semalam keadaan mereka jadi kaku. Bicara sekenanya, bahkan pemuda itu juga jadi kelihatan sedikit menjauh— menjaga jarak maksudnya. Materi hari ini cukup membuatnya bosan, ia menyandarkan punggungnya dan mencoret-coret buku tulisnya. Pikirannya kembali berlabuh pada sebuah pertanyaan, salahkah jika seorang gadis menyatakan cinta pada pemuda yang ia sukai?.
"Sakura," ia terkejut saat menyadari beberapa anak yang lain sudah membereskan buku-bukunya. Hari ini adalah hari terakhir masa orientasi, jadi sekolah akan pulang cepat. Ia bahkan tidak sadar dan terlalu larut dalam pemikirannya sendiri. Ia menatap Ino— yang menatapnya dengan tatapan curiga.
"Apa?" tanyanya malas sembari membereskan bukunya.
"Tadi pagi kau dan Sasuke berangkat bareng, pacaran ya?" tanyanya langsung tanpa basa-basi.
Sakura menghela nafas, "Tidak. Kebetulan rumah kami dekat,"
Ino menganggukkan kepalanya, "Kata Sasuke tadi kau di suruh menunggunya. Jangan pulang sendiri, dia harus berkumpul dulu dengan team futsalnya itu."
"Sasuke-kun ikut futsal?!" tanyanya tidak percaya, sedangkan Ino hanya mengangguk saja untuk menanggapinya.
"Seumur hidupku baru pertama kali ini Sasuke mau pergi dengan perempuan dengan mobilnya," Sakura menghela nafas lagi.
"I don't care, aku sedang tidak bersemangat. Aku mau menyusulnya saja, daah~"
Jarak dari kelas ke lapangan memang tidak terlalu jauh, Sakura masih menyeret kakinya untuk menemui Sasuke. Sungguh, ia sudah membayangkan bagaimana rasanya di mobil nanti. Sudah pasti hening, canggung, enggan menatap, dan sebagainya. Ia menghela nafas berat.
"Tidak, Sasuke. Kau yang banyak berubah,"
Gadis musim semi itu mengerutkan dahinya kala mendengar pembicaraan orang lain. Ia kenal suara gadis ini, dengan pelan-pelan ia mengendap-endap untuk melihat siapa yang sedang berbicara di balik tembok ini. Sekelebat bayangan Sasuke dan seorang gadis berambut merah maroon panjang tertangkap oleh matanya. Ia mencengkram dadanya perlahan.
"Aku tidak berubah, masih sama seperti dulu. Hanya satu yang berubah," suara pemuda itu terdengar.
"Apa? Apa yang berubah?" tanya si gadis dengan nada yang pelan.
"Hatiku. Aku sudah melupakanmu, aku sudah bisa membuka hatiku untuk orang lain." Si pemuda menjawab.
Gadis itu terkekeh, "Kau memilih Haruno Sakura karena ia mirip denganku?"
Sakura membelalakkan matanya, dadanya semakin terasa sakit dan nafasnya mulai terasa sesak, "Uhuukk—" tubuhnya mulai beringsut bersandar pada dinding, sampai akhirnya kedua manusia yang saling berbicara itu membelalakkan matanya masing-masing, lalu berlari menuju balik tembok besar— asal suara batuk itu berada.
Dua pasang mata itu sedikit terkejut saat melihat pemuda berambut merah bata tengah memberi pertolongan pada sosok gadis bersurai merah muda yang baru saja hampir mati. Sasuke segera berhadapan pada sosok gadis berambut merah muda yang baru saja meminum obatnya di sandaran bahu Gaara— pemuda berambut merah bata itu. Iris onyxnya menatap secara bergantian, Sakura—Gaara—Sakura.
"Hey, Haruno. Kau baik-baik saja?"
Kau bahkan memanggilku Haruno. Bukan Sakura, sebegitu berubahnya sikapmu di hadapan Karin. Sasuke-kun.
Sakura menggeleng lemah, "Uchiha-san? Aku baik-baik saja, Arigatou." Jawabnya sembari memegangi dadanya yang masih sedikit sesak. Ia bahkan sempat bertemu pandang pada Karin.
"Kau baik-baik saja, Sakura?" pemuda berambut merah itu menyandarkan Sakura pada dinding di belakangnya.
"Hu-um, Gaara. Terima kasih," katanya sembari tersenyum.
"Hn. Sebaiknya ku antar kau pulang," sela Sasuke sembari mengulurkan tangannya pada Sakura. Gadis itu menepis halus tangan Sasuke, ia bangkit dan menatap Karin dengan Sasuke secara bergantian, lalu menggeleng sembari tertawa renyah.
"Tidak usah, kau juga harus berkumpul dengan teammu." Jawab Sakura sembari merapihkan pakaiannya.
Gaara dan Sasuke berdiri. Pemuda emo itu menatap Sakura, "Keadaanmu tidak memungkinkan untuk pulang sendiri,"
"Jangan khawatir, aku bisa pulang sendiri. Aku akan langsung pulang," jawabnya sembari membetulkan posisi tasnya.
"Kita tinggal satu rumah, Sakura. Ibumu memberiku amanat untuk menitipkanmu," sela Sasuke dengan nada datarnya.
Tidak mau ambil pusing, Sakura segera beranjak dari tempat itu. Entah kenapa melihat Sasuke dengan Karin membuat hatinya sakit, ia berjalan terburu-buru. Tidak peduli pada air mata yang sudah keluar membasahi pipinya.
"Aku yang akan mengantarkan Sakura pulang, kebetulan hari ini aku membawa mobil." Ujar Gaara sembari menatap jam tangannya.
"Gaara, kau—"
"Kau tidak perlu khawatir gadismu ku rebut, selesaikan masalah kalian. Aku yakin ia mendengar apa yang kalian bicarakan," sela Gaara sembari berlalu meninggalkan mereka, lalu mengangkat tangannya yang menggenggam kunci mobilnya sebagai tanda perpisahan. Sasuke menghela nafasnya kasar dan membuang pandangannya ke lapangan.
.
.
.
Sakura tidak peduli pada mata orang-orang yang menatapnya keheranan. Ia terus berjalan melewati gerbang sekolah yang menjulang tinggi, kakinya terus melangkah dan tetap akan nekat untuk pulang menggunakan bus umum. Ia menggeleng, ia harus kuat.
Tin Tin!
"E-eh?" Sakura menolehkan kepalanya saat melihat sebuah mobil BMW merah yang atapnya terbuka berhenti di sampingnya. Sang pengemudi, Sabaku Gaara tersenyum menawan kearahnya dan sedikit tertawa saat melihat tetesan air mata itu kembali jatuh ke pipinya.
"Mungkin kau berharap Sasuke yang menyusulmu, tapi percayalah mereka tidak ada hubungan apa-apa lagi." Sakura terdiam.
"Naik?" katanya sembari menunjukkan bangku yang kosong di sebelahnya.
"Terima kasih, Gaara..."
-Tbc-
Author Area:
Ara update ini karena pas lihat kotak review terharu banget ;)
Ara mau UN, minggu depan udah harus UN, doain Ara ya biar lulus~ muehehe :3
Selesai UN, ini pasti Ara updatenya cepet. Gomen ne, flashdisk Ara ilang jadi telat update ;(
Thanks to:
Tsurugi De Lelouch - birumenanti - SaSakuToCherry - eL-yuMiichan - melyarahmawinarti - crown demiko - Hikari Matsushita - Yukina Itou Sephiienna Kitami - nadialovely - hanazono yuri - FYLIN-chan - Cloudista-chAn - mako-chan - Seseorang - OrangHebath - sasusaku kira - sasusaku uciha - me - Azakayana Yume - SaGaari Uchiha - lina - Novrie TomatoCherry -
Ne? Mind To Review Again? Thanks *ojigi*
.
.
