Hooray! Ternyata Flashback Rio *Yang udah diulang tiga kali* bisa membuat beberapa Reader-sama sedih! Sukses! *high five sama readers*
Scarlet 'n Blossom:
Xujie bukannya sopan ya setau wa? :3 terima kasih! Hehe
Wa: zaman tak ada sekolah, hanya berperang... Dan perang... Bunuh dan mati ke mati...
Aupu: Namanya dulu mungkin bimbel.
Wa: *speechless*Thanks!
Aiko Ishikawa:
Yup, dimana ada Xiahou Dun, disanalah Mi Yan. Disana Mi Yan, disanalah Xiahou Dun...
Wa merasa begitu, hehe, ternyata wa sukses membuat sad flashback!
Thanks!
Sarasion:
Rio: jangan kau berani beraninya menyentuhku...
Wa: hush, terima kasih, sepertinya wa sukses dah membuat flashback sedih! Hehe, okay, wa lanjutkan!
Thanks!
Evil Red Thorn:
*duduk disamping Evil* HUEEEEEE!
Aupu: *tepok jidat* hah... *pel kolom review*
HUEEEEEEE!
Thanks!
Chapter 4: lahirnya kepalsuan
Genre: Humor/Adventure
Rate: K+
WARNING: OC inside, NO-pair for some OC, because my OC the history is ruined(*Slap), hope you like it, if you don't like it, try to like it.
Aupu: kok rasanya ini WARNING maksa ya?
Summary: Itu masa lalu utama, masa lalu kedua adalah hal yang paling kubenci, karena lahirnya 'Dia' yang telah mengambil segala galanya dariku. Ugh...
.
.
.
"Manik kaca tunggal jatuh ke lantai"
"Aku mengejar setelah itu, dan satu yang lain jatuh"
"Dan setelah cahaya datang, hanya satu yang tersisa"
"Mei Xujie? Apa kamu ada waktu?" tanya seseorang yang tiba tiba masuk.
"Tentu, Tuan Guo Jia. Ada apa?" tanya Mei Xujie pada pria berambut pirang itu.
"Saya butuh bantuan merayakan.. Jadi, saya butuh bantuanmu" lanjut pria bernama Guo Jia. Dengan nada Dora.
"Err, saya permisi..."
Mei Xujie segera meninggalkan ruang ini, dan kini hanya ada aku, Mi Yan, dan Xiahou Dun. Xiahou Dun menaruh cangkir yang telah kosong itu dan mengalih perhatiannya kearahku. Aku hanya tersentak kaget.
"Saya senang mendengar ceritamu... Tapi, kamu membesarkan dirimu seorang diri setelah itu?" tanya Xiahou Dun.
"Nah, Paman-ku datang membawaku setelah tahu kejadiannya, tapi dia gila, dia menjadikanku objek penilitiannya" ucapku tidak berbasa basi.
"Objek penilitian? Apa itu sebuah mainan?" tanya Mi Yan polos.
"Bukan! Agh, disini ada juga yang bodoh... Apapun itu, disalah satu penilitiannya, dia meniliti Replica" lanjutku.
"Replica?" tanya Xiahou Dun pusing, ya itu bahasa inggris.
"Arinya, 'Yang palsu'"
"..."
"Kalian benar benar bodoh, aku tidak percaya ini"
"Hei, kamu lagi lagi bilang saya bodoh!" protes Mi Yan.
"Karena kamu sama sekali tidak memakai otakmu untuk berpikir!"
"Uh, kamu kembali menyebalkan"
"Replica bisa dibuat, jika adanya Original, mungkin sulit, bayangkan saja. Kalian mengerti bedanya Pedang asli dan pedang palsu bukan?"
"Uh, mengerti!" ucap Mi Yan.
"Kamu mau mengatakan bahwa original itu seperti pedang asli, dan replica itu sseperti pedang palsu bukan?"
"Hah? Ya, kau hebat dalam ini... Dengan kata lain, pedang palsu bisa dibuat karena adanya sumber dari pedang asli" lanjutku.
"Berarti..."
"Ya, aku memiliki, Replica"
Xiahou Dun agak kaget, begitu juga Mi Yan. Mungkin mereka mengira aku ini bodoh, atau apa. Tapi ini asli, 'Dia' yang kumaksud adalah Replica-ku. Dan dia mengambil segala galanya...
"Itu, itu keren!" teriak Mi Yan tiba tiba dia jadi senang.
"Itu tidak, itu sama sekali tidak keren! Itu gila" ucapku dingin.
"Hem, ternyata ada hal seperti itu" ucap Xiahou Dun, sekarang dia malah kagum.
"Hmp, tentu saja"
"Oh ya, Rio, bukankah kamu merasa harus meminta maaf kepada Yang Mulia Cao Pi?" tanya Mi Yan.
"Kenapa?"
"'Kenapa'? Apa kamu gila? Kamu baru saja membuatnya marah!"
"Itu sudah lewat, tidak perlu lagi"
"Jika Yang Mulia Cao Pi membencimu, kami juga harus membencimu" ucap Xiahou Dun.
"Silahkan, aku tidak ragu ragu dibenci"
"Uh, kamu memang sangat menyebalkan" ucap Mi Yan.
Xiahou Dun hanya menghela nafas. Mi Yan hanya menatap Xiahou Dun dengan tatapan mau tahu, mungkin apakah langka jika Xiahou Dun menghela nafas?
"Ayo" ucap Xiahou Dun mencengkram lenganku.
"E, eh?"
"Ke tempat Yang Mulia Cao Pi"
"He, hei! A, aku tidak minta!"
Xiahou Dun segera menyeretku, hoi... Kenapa kalian inggin aku minta maaf begitu keras? Aku, aku bukannya tidak mau minta maaf, tapi... Aku belum pernah minta maaf sebelumnya... Atau sudah lama sekali aku tidak mengucap ini.
"Disini tempatnya, berharap kamu tidak mengatakan hal yang buruk, sampai nanti" ucap Xiahou Dun.
"Sampai jumpa besok, Rio. Jika kamu... Masih hidup..." tambah Mi Yan beranjak pergi bersama sama Xiahou Dun.
Aku hanya bisa sweatdrop. Mereka hanya mau mempermainkanku saja. Hah, tidakkah ada yang normal disini...? Seketika, seseorang segera menepuk pundakku, aku spontan berbalik dan melihat... Cao Pi? Benarkan?
"Sedang apa kamu? Mau mencuri?" tanyanya dingin.
"Jika kamu memperbolehkan" sahutku, lagi lagi aku spontan menjadi kurang ajar.
"Hmp, minggri dari jalanku"
Cao Pi mendorongku menjauh dari pintu. Rasanya ingin menebas kepalanya dengan pedang ini... Sudahlah, aku berbalik kearah pintu keluar.
"Aku hanya datang untuk minta maaf" ucapku kembali berjalan.
"... Tentu"
Heh? Tentu? Jadi aku benar benar berhasil meminta maaf? Tunggu, kenapa aku malah terlalu ke... Agh, aku makin lama makin aneh saja! A, apapun itu, wajahku memanas. Meminta maaf benar benar sesulit ini ya... (*Lihat dia, dia Tsundere... - Author dibuang)
Aku berjalan melewati tangga, dan terjadi hal paling terkenal(?) dihidupku, aku jatuh lagi dari tangga. Didepan banyak begitu orang, apapun itu. Aku berdiri dan menyapu debu debu.
"Apa kamu baik baik saja?" tanya seseorang, aku menoleh dan... Oh, Mei Xujie.
"Saya kaget kamu belum mati" ucap Guo Jia.
"Tutup mulutmu" ucapku.
"..."
"Tu, Tuan Guo Jia... Jangan marah... Dia memang seperti ini..."
"Kamu kenal dia, Xujie?"
"Tentu saja, tadi ia ada di ruang tamu Istana"
"Saya tidak lihat"
"Itu lebih baik, dan aku juga tidak melihat wajahmu" ucapku.
"Bo, bocah ini..." Guo Jia mulai terlihat kesal.
"Ku, kumohon jangan bertengkar disini!" bentak Mei Xujie.
"..."
"Jadi, Rio apa kamu baik baik saja?"
"Ya, sudah jadi habitat" jawabku.
"Ha, habitat? Ma, maksudmu kamu selalu jatuh dari tangga?"
"Ya, begitulah. Kalian sendiri, kenapa bawa banyak buku?"
Mei Xujie dan Guo Jia saling bertatapan. Ya, Mei Xujie dan Guo Jia sedang membawa buku tebal dan cukup banyak, mungkin 4-6 buku...
"Kami mau merayakan kemenangan peperangan Xia Pi, kami mau membuat pesta teh..." ucap Mei Xujie (Baca di Blue Butterfly: special edition chap 1, milik Scarlet 'n blossom)
"Ya, apa kamu mau ikut?" tanya Guo Jia.
"Tidak terima kasih" ucapku.
"Kena- oh ya..."
"Ya, aku benci teh"
"Tapi, kamu berharap mempunyai kebun teh sendiri kan?" tanya Mei Xujie. Glek, dia menyimak semua perkataanku.
"I, itu masa lalu yang lama!" bentakku.
"Kupikir kamu lebih ke Cao Pi, ternyata kamu cukup feminin..." tambah Guo Jia jujur.
"Diam! Di-Am! Jika aku ikut membuat, kalian akan diam!?"
"Haha, tentu..." ucap Mei Xujie tersenyum.
Geez, apa yang kukatakan tadi... Muncul dimulutku secara spontan. Aku selalu bereaksi tiap mendengar orang mengatakan bahwa aku ini 'Feminin' aku bukan perempuan, aku laki laki. Ini cuma karena rambut dan umurku saja... Apapun itu... Aku ikut... Aku sudah mengatakannya...
.
.
.
Terima kasih Cao Pi, kamu sangat baik ternyata.
Cao Pi: hmp, memangnya orang seperti apa aku bagimu?
Wa: kau tahu... *ditebas pedang*
