ENDING
Disclaimer : Masashi Kishimoto
By : Dewi Hyuuchi-Chan
Pair : Sasuke U. & Hinata H. 3
Genre : Romance & Hurt Comfort
Warning : OOC pakai banget, AU, TYPO, dan banyak kesalahan-kesalahan lain.
Ohya.. DON'T LIKE ! DON'T READ!
Summary :
Kehidupan yang Hinata alami akan berbeda dari sebelumnya.
Setiap ia salah melangkah ia akan masuk ke dalam perangkap dua orang yang berpengaruh dalam kehidupannya.
Setiap awal memiliki akhir.
Awal buruk membawa kemalangan.
Awal baik membawa keberuntungan.
Entah apa yang akan dialami olehnya akan berbuah manis atau apa?
Chapter 3 : Main Perasaan Part 2
Happy reading~
.
.
'Beginikah sambutan untuk tunanganmu, Sasuke. Tega sekali. Chh.'
Terlihat seseorang yang menatap Sasuke dan Hinata sambil menggerutu kesal. Ia menggerakan tangannya mengambil ponsel di saku dan mengabadikan momen di depannya.
CKRIK
Dan setelah sekiranya selesai, ia pergi dari tempat itu.
.
.
'Lihat apa yang akan dikatakan dia padamu nanti, Sasuke sayang. Mungkin kita akan semakin cepat menikah.'
.
.
Hinata POV
.
.
Sungguh ini sangat menyenangkan.
Ku tekankan lagi hari ini sangat menyenangkan.
Sungguh aku tak pernah sekalipun merasa bisa tertawa seperti ini. Bersama Sasuke, orang yang pertama membuat aku berfikir untuk dapat kubunuh karena membuat bajuku kotor waktu itu. Yah walaupun itu secara tidak langsung terfikir dalam hati saja.
"Haha.. Sasuke sudah ya! Aku menyerah.."
Aku mendorong Sasuke pelan. Sasuke mengembangkan senyumnya dan bergumam pelan.
Sungguh ku kira dia hanya bisa bicara ketus, dingin dan tak bisa tersenyum. Nyatanya dia sekarang ada di depanku, dan yang paling penting Sasuke terlihat jauh lebih tampan.
Eh— apa yang aku fikirkan. Arghh! Aku bisa gila!
Aku menundukan kepalaku mencoba menyembunyikan wajahku yang mungkin sekarang sudah memerah malu dengan apa yang ada di fikiranku tadi.
"Hinata." Sasuke mengangkat daguku dan secara tak sadar sorot mataku beralih ke atas. Menatap apa yang dapat alat indraku lihat. Mata onyx kelam dan mata amethystku saling beradu pandang.
"Ada apa-?" Entah kenapa suaraku agak tercekat pada bagian akhirnya.
Sungguh situasi ini begitu membuat dadaku sesak seketika dan perasaan yang aneh. Jauh berbeda saat aku berada sedekat ini dengan Gaara. Ini jauh lebih err- memabukkan.
Eh—Apa yang ku fikirkan lagi.
"Ayo pulang." Ujar Sasuke dengan deru nafas yang menerpa wajahku.
Sungguh posisi ini dekat sekali.
"Hmm" aku hanya bergumam dan agak menjauh dari Sasuke dengan hati yang berdebar-debar.
.
.
Normal POV
.
.
Tok Tok Tok
Berkali-kali diketuk pun tak ada satupun sahutan dari dalam.
"Gaara apa benar tempatnya disini?"
"Ya." Sahut Gaara.
"Terlihat sepi."
"Hn, tak biasanya dia tak ada di rumah."—atau mungkin dia sekarang sedang ada di rumah Sasuke. Hinata pernah bilang kalau dia sekarang bekerja dengan Sasuke.
'Tidak salah lagi.'
"Aku tau dia dimana Neji-nii. Lebih baik kita cepat kesana sebelum sesuatu yang buruk menimpa Hinata." –maybe- imbuh Gaara dalam hati.
"Apa maksudmu?" Neji bingung dengan apa yang diucapkan Gaara.
"Sasuke—"
"Maksudmu Sasuke Uchiha?" Neji memandang Gaara bingung.
'Kenapa Neji mengetahui Sasuke?'
"Hn." Jawab Gaara singkat.
"Bagaimana kau bisa mengenalnya? Padahal—" Gaara melanjutkan gumamannya dan-
"Dialah yang membantu perusahaan Hyuuga bangkit dari kebangkrutan." Neji memotong perkataan Gaara. Gaara yang mendengar hal itu hanya mampu terbelalak.
"Apa maksudmu membantumu dalam perusahaan? Bukankah dia murid yang tergolong nakal dan—" Gaara tak percaya apa yang Neji ucapkan.
"Dia memang terlihat seperti itu dan itu karena suatu alasan. Dia pintar."
"Alasan apa?" Gaara memandang penuh selidik.
"Kau tak perlu tau lebih baik kita harus menemui Hinata."
'Apa yang Neji sembunyikan.'
"Hn." Gaara menyahuti Neji ambigu dan berjalan sambil masuk ke mobilnya.
.
.
Sasuke menarik pelan tangan Hinata dan membawakan tas yang sedari tergeletak bersandar di pohon. Tas itu menjadi saksi bisu lain yang melihat keakraban dan kebahagiaan dua orang itu tadi selain pohon dan bunga-bunga.
"Eh Sas.." Hinata merona merah dan sama halnya dengan Sasuke yang wajahnya sudah memerah walaupun tipis.
"Sudah diam saja."
Hinata mendengar suara Sasuke yang tak seperti pertama bertemu, ini jauh lebih hangat dan suaranya lembut.
Hinata mengangguk dan berlari lebih cepat dan menarik tangan Sasuke.
"Kau kalah cepat denganku Sasuke-kun.. Haha." Hinata berlari dengan cepat dan Sasuke yang ada di belakang Hinata berjalan menunduk dan terseok-seok.
"Eh Hinata hentikan itu."
Tinggi Sasuke yang melebihi Hinata, membuatnya sulit melangkah dengan baik, karena yang menarik itu Hinata, dan Hinata tak terlalu tinggi baginya.
Hinata tau itu dan ia iseng saja, bagaimana reaksi Sasuke jika ia melakukan itu.
Hinata mempunyai ide jahil di otaknya.
Hinata mendadak berhenti, sontak Sasuke yang berjalan di belakangnya terlonjak ke depan dan itu membuat Hinata ikut kaget. Karena tak siap menerima beban Sasuke yang menibannya dari depan, Hinata dan Sasuke terjatuh bersama.
"Haha, tak ku sangka Sasuke bisa jatuh juga."
Hinata tertawa pelan sambil sedikit menolehkan kepalanya ke atas.
"Kau berat Sasuke."
Sasuke tak begeming.
'Hmm ternyata dari tadi kau sedang mengujiku ya H-I-N-A-T-A.'
Sasuke menunjukan seringaian iblisnya.
"Humm." Sasuke memejamkan mata dan sedikit melonggarkan acara yang tadi ia sempat lakukan.
'Apa ini semua sudah berakhir.' Hinata sedikit menggerakan badannya yang mulai terasa bebas. Hinata menggulingkan badannya ke atas.
'DEG'
'What the!'
1 cm jarak bibir Hinata dengan Sasuke.
'BUUGGH.'
Hinata memukul pelan wajah Sasuke sampai tubuh Sasuke sedikit terpental, sungguh apa itu yang tadi katanya pelan.
Sasuke yang kaget mendapat hadiah dari Hinata mendengus dan menatap tajam Hinata.
"Apa yang kau lakukan Hinata?" Aura dari Sasuke menghitam.
'Anak ini mau diberi pelajaran ternyata.'
"I-itu refleks. Ha—bisnya kenapa kau menutup mata. Baka! Dan-" Hinata menutup cepat bibirnya dengan kedua tangannya.
Sasuke melebarkan seringainya.
"Kau ber-ha-rap Hi-na-ta Hi-me."
Ck ini akhir bagimu Hinata.
Hinata dapat merasakan itu.
'Sebaiknya aku harus segera pergi dari sini.'
"Emm.." Sebelum Hinata pergi Sasuke memeluknya erat.
Dan berjalan dengan sambil Sasuke bertingkah jail memeluk-meluk Hinata.
.
.
.
.
Sasuke POV
Ku baringkan badanku ke tempat tidur pelan. Ku pejamkan mataku.
Mengingat kejadian menyenangkan dengan Hinata.
Sesingkat itu ia mengenalnya. Ch, ini bukan sinetron abal-abalkan.
Hmm..
Aku ingin memilikimu Hinata. Semuanya, setiap inchi-
Tok Tok Tok
Tok Tok Tok
Suara ketukan terdengar di luar kamarnya. Siapa sih yang mengganggunya sedang berkhayal tentang Hinata.
"Buka pintumu otoutou-chan!" Suara Itachi sekarang terdengar benar-benar menyebalkan.
"Aniki baka! Pergi! Aku ingin tidur!"
Aku menggulingkan tubuhku ke samping dan memeluk bantal dengan erat.
Hime.
Saat aku mulai ingin berimajinasi lagi. Suara lain memanggilku dari luar.
Suara dingin dan tajam.
Ada apa Tousan memanggilku? Biasanya saat dia berulah baru bisa membuat ia memanggilmu dan berakhir dengan ceramahan dan tamparan.
"Hn."
.
.
Normal POV
.
.
Akhirnya Sasuke keluar dari kamar itu setelah Itachi dibantu Fugaku memanggilnya. Itachi sedari tadi hanya tersenyum tidak jelas. Biasanya kalau bukan karena hal yang menakjubkan Itachi tidak akan seperti itu. Yah walaupun seperti itu, semuanya dianggap Itachi menakjubkan sih.
Fugaku sedikit berdehem melihat aksi kedua anaknya.
"Sasuke."
"Hn." Jawab Sasuke ambigu.
"Ada yang ingin Ayah bicarakan."
Sasuke tidak menjawab karena ia sekarang sedang berfikir apa yang sedang ingin dibicarakan Fugaku. Tidak biasa dia menghampirinya kalau bukan karena masalah penting.
"Aku lebih baik pergi saja dan tidak akan mengganggu." Itachi melenggang pergi.
.
.
Sepeninggal Itachi sekarang Sasuke dan Fugaku duduk di sofa ruang tamu.
Hening dan tak ada pembicaraan. Fugaku yang terlihat masih enggan untuk bicara dan Sasuke yang memang sedang ingin mendengar apa yang akan dikatakan Fugaku.
"Ehm."
Fugaku berdehem karena sedikit benci dengan situasi ini.
"Sasuke, bagaimana sekolahmu?" Tanya Fugaku pelan dan terlihat ada keraguan dalam ucapannya.
Ch, Sasuke berdecih.
'Omong kosong apa yang dia ucapkan. Tidak mungkin hal sepele itu yang ia ingin ucapkan.' Batin Sasuke
"Aku tau bukan itu yang kau ingin ucapkan." Sasuke berujar dengan dingin.
Fugaku menghela nafas, dia sudah tau pasti akan begini jadinya.
"Sas—"
"Cepat ada apa! Aku tak ada waktu!" Sasuke melirik tajam pada Fugaku.
Sekali lagi Fugaku menghela nafas, dan sekarang terlihat ia menghela nafas dengan sangat berat.
"Sedikit saja dengarlah dulu apa yang ku katakan anakku." Fugaku menatap sendu Sasuke dan suara Fugaku terdengar sangat lembut.
Mata Sasuke terbelalak melihat kelakuan Fugaku yang tak pernah ia lihat. Dulu ia ingin sekali tertawa saat dia lemah dihadapannya. Tapi disaat itu terjadi sekarang di depannya, hatinya melunak.
Dan mata Sasuke terlihat memandang Fugaku sendu, walau tak nampak seperti itu dipandangan orang lain.
"Baik, Tou-san."
Fugaku memandang Sasuke tak percaya. Dia baru mendengar Sasuke tak membentak-bentaknya ataupun berujar dingin. Sasuke sedikit memalingkan wajahnya. Di wajah Sasuke yang sekarang datar sebenarnya hatinya sekarang senang orangtuanya baru kali ini seperti ini. Ini naluri seorang anak yang baru pertama kali diperlakukan seperti itu pada Ayahnya. Ingat pertama kali.
.
.
"Psst.. Kaa-san kita berhasil membuat Ototou dan Tou-san akur.." Bisik Itachi pada Mikoto yang sedari tadi merekam adegan tak terduga itu. Itachi berusaha bersuara sepelan mungkin, supaya tempat persembunyiannya ini tak diketahui Sasuke.
"Kyaaa! Ide Kaa-san hebat!" Teriak Mikoto refleks.
Sontak Sasuke terkaget dan menoleh ke arah Mikoto. Itachi dan Fugaku hanya mampu menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepala.
Sadar perbuatan Mikoto membuat rencana yang ia buat berantakan.
"Ehmm la-lanjutkan acaranya." Mikoto menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum tanggung.
Sasuke bingung dengan situasi yang terjadi.
"Kalian semua berhutang penjelasan, apa maksudnya ini?"
"Ceritanya panjang Otoutou-chan intinya kami ingin, kau dan Tou-san akur. Kau tau kalian sama-sama kolot dan keras kepala. Maunya menang sendiri dan saling menyalahkan. Dan satu lagi aku sudah bilang dari dulu, Tou-san tidak hanya memujiku saja kok. Dia bahkan sering memujimu dulu di depan Kaa-san. Itu membuatku iri. Tou-san selalu memujiku di depanmu supaya kau semangat. Dan akhir-akhir ini Tou-san memarahimu saat kau berulah, itu karena dia sayang padamu. B-A-K-A! " Itachi bercerita panjang lebar sambil menyentil dahi Sasuke.
"Aniki yang baka!"
"Apa yang diucapkan Itachi benar Sasu-chan!" Sekarang giliran Mikoto yang mengelus-elus kepala Sasuke.
"Aku bukan anak kecil Kaa-san." Sasuke menghela nafas.
"Oh iya Sasu-chan kan sudah besar dan ehm-" Mikoto berucap begitu dan melirik ke arah Fugaku.
"Kau akan segera menikah dan mengelola perusahaan. Karena aku tau IQmu lebih tinggi dari Itachi." Sanggah Fugaku mengetahui isyarat mata dari Mikoto.
.
.
.
Hinata POV
.
.
Aku berjalan menyelusuri trotoar dan sedikit memandang ke atas. Melihat indahnya langit.
Tersenyum mengingat kejadian yang ia lalui tadi.
TIIT TIIT TIIT
Suara klakson mobil terdengar. Aku melihat ke samping dan sebuah mobil berhenti tepat di sampingku. Kaca mobil terbuka dan menampakan Gaara dan seseorang pria aneh, yang sepertinya tidak asing dan sepertinya pernah aku temui.
Tapi sudahlah toh itu bukan masalah bagiku.
"Hinata masuklah, baru saja kami ingin menjemputmu." Gaara tersenyum manis dihadapanku. Eh tapi tunggu sebentar kami, maksudmu pria aneh disamping Gaara itu. Mana mungkin dia juga menungguku.
Hm— sudahlah.
Aku masuk ke dalam mobil itu dan duduk di kursi bagian belakang.
Ku sandarkan bahuku dan sedikit melirik ke depan.
Di lihat dari pantulan kaca, pria itu berwajah tegas, dewasa dan mempunyai rambut panjang. Tunggu pria berambut panjang, kenapa aku malah ingat Orochimaru ya.
Tapi sepertinya dia bukan seperti itu. Dilihat dari penampilannya pun terlihat sekali kalau dia itu pria tulen. Hihi.
Dan tunggu— matanya hampir sama dengan mata milikku. Seingatku hanya Hyuuga saja yang mempunyai mata seperti itu.
Hm—Aku lelah berfikir. Lebih baik aku mengistirahatkan mataku dan fikiranku sebentar.
Setalah aku memejamkan mataku dan semua terasa gelap.
.
.
"Nata—Nat—Hin—ata.. Hinata.." Seperti ada seseorang yang menggoyang-goyangkan tubuhku sekarang.
Ehmm siapa sih ngantuk.
Aku memosisikan badanku miring dan memeluk guling disampingku.
Aku tak merasa guling memiliki bentuk yang berubah. Hangat dan memiliki tang—AN.
Aku membulatkan mataku dan melihat siapa yang sedang berada didekapanku sekarang.
Kepala, rambut berwarna merah dan tatoo Ai di dahinya—GAARA.
Gaara terlihat sadar dan ku lihat posisiku menyamping dan memeluk Gaara dengan-Ah tidak bisa digambarkan.
"Kyaa!"Aku berteriak dan mendorong pelan Gaara.
Karena tempat tidurku sempit alhasil Gaara dengan sekali serang sudah tersungkur dibawah tempat tidur itu..
"Tega sekali." Kata Gaara dengan sekarang berposisi tidak elit.
"Itu tidak disengaja!"
BRAAKK
Aku terkaget dan melihat ke sumber suara.
Pintu terbuka keras menampakan pria aneh itu tadi. Terlihat di wajahnya khawatir. Khawatir dengan siapa. Gaara? Memang apa yang akan terjadi pada Gaara. Tidak mungkin aku berbuat buruk padanya.
Tapi apa dia khawatir pada-ku.
Aku menatapnya.
"Hinata-sama apa yang terjadi padamu, hosh hosh."
Dia berlari ke arahku dan memelukku.
"Kau tak apa-apa?"
Dia bergetar sambil mengeratkan pelukannya.
Aku menelan ludahku, siapa pria asing ini. Aku ingin mendorongnya tapi rasanya aku tak bisa. Ada sesuatu perasaan aneh. Pelukan penuh sayang dan dia menangis. Ada apa?
Aku melihat Gaara yang sudah bangun dan menatapku dengan tersenyum.
Apa maksudnya ini?
.
.
.
Mendengar penjelasan panjang lebar dari Gaara aku terpaku tak percaya. Pria yang duduk di sampingku dan yang tadi memelukku sambil menangis itu adalah sepupuku. Aku masih punya saudara, benarkah itu.
"A-apa benar—" Aku tercekat dan tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi.
"Ya Hinata-sama." Kata dia sopan.
"Jangan berkata seperti itu Nii-san. Panggil Aku Hinata. Hiks." Aku menitikan air mataku dan berhambur ke arahnya. Aku memeluknya erat.
"Hiks A-aku punya kakak."
Dia membalas pelukanku dan mengelus punggungku.
Ku dongakan kepalaku menatap Gaaara.
Aku tersenyum padanya tipis dan aku berfikir apa akhir cerita hidupnya akan bahagia setelah bertemu dengan Neji.
.
.
.
TBC
.
.
Semoga masih dapat feelnya ya.. Makasih buat yang udah fav, follow atau review fic ini. Itu sangat memotivasiku.
Sekarang aku jarang sempet ngetik. Banyak tugas + pretest + ulangan yang membuat waktuku membuat fic tertunda.
Dan ini aku ketik langsung publish. Jadi masih banyak kesalahan.
Arigatou.
MIND TO REVIEW?
