Jujur saja. Jongin ingin protes atau mungkin jika bisa ia akan demo. Berteriak pada kedua orang tuanya dan mengancam akan kabur dari rumah.

Tapi dipikir-pikir lagi itu berlebihan, apalagi yang bagian akhir. Ugh, kabur. Memangnya mau kabur kemana? Tapi mengingat pembicaraan dirinya bersama Suho dan Kyungsoo setalah ia sampai di rumah dan melihat kedua orang dewasa itu sudah siap dengan koper-koper mereka, mau tak mau ia hanya bisa pasrah.

Memang apa yang bisa kau lakukan jika kedua orang tuamu meminta dirimu untuk di rumah dan menjaga sang kakak yang keterbelakangan mental, sendirian, lebih kurang seminggu, dan lagi ia juga harus latihan dance.

Tidak bisa membantah. Protespun yang ada malah ancaman sang ibu akan memberitahu sang ayah jika dirinya selama ini masih berlatih menari. Mungkin bisa jadi ia sudah berakhir di Jepang dan hidup bersama kakek dan nenek Kim nya yang otoriter sangat. Juga kejam! Ckh.

Hidup Kim Jongin benar-benar tidak mengenakkan.

"Umma~ bagaimana dengan keluarga Jonghoon ahjushii? Aku yakin Jongdae hyung akan bersikap baik dan tida-"

"Sekali tidak tetap tidak. Yang mengerti hyung mu hanya kau, umma dan appa mu. Umma tidak ingin merepotkan ahjushii mu, Jongin."

"Tapi umma! Aku harus sekolah, aku tidak mungkin membawa hyung ke sekolah. Bagaimana kalau teman-temanku tau aku punya hyung idiot-"

"Kau masih malu mempunyai hyung keterbelakangan mental, eoh? Bukankah semua teman-teman mu sudah tau kalau Jongdae 'sakit', kau hanya perlu mengabaikan mereka. Kau bisa menyuruh hyung mu menunggu di kantin atau di taman sekolah atau tempat lain selama kau belajar."

Dan ucapan sang appa pun membuat Jongin diam. Tak mampu lagi mendebat jika sang appa sudah berbicara dingin dan panjang lebar. Tatapan tajam seakan menusuk dirinya.

"Kami pergi hanya beberapa hari, Jongin. Kau tau apa yang akan kau lakukan, kan? Semua sudah umma urus, kau bisa menghangatkan makanan di kulkas atau pergi makan di luar, dan yang paling penting. Jangan abaikan hyung mu, kau mengertikan maksud umma?"

Kyungsoo menatap dalam dan sayang sepasang mata coklat Jongin. Meyakinkan sang anak bahwa semua akan baik-baik saja tanpa dirinya, baik-baik saja berdua dengan putra sulungnya yang tidak mungkin akan berbuat sesuatu yang bisa membuat putra bungsunya itu kesal dan marah. Tapi dia meyakinkan diri jika semarah-marahnya Jongin pada Jongdae, pasti Jongin akan menjaga Jongdae dengan baik. Setidaknya, tidak mengabaikan hyungnya.

Jongin hanya bisa mengangguk pasrah jika hari-harinya pasti lebih berat dari sebelumnya- walau hanya beberapa hari atau mungkin seminggu? Hanya berdua dengan hyung idiot. Uggh…

Kyungsoo berjalan menghampiri Jongdae yang terdiam menatap keluarganya, menatap kosong sembari mengayun-ayunkan tubuhnya depan belakang dengan pelan. Tersenyum lebar saat menyadari sang umma mendekatinya. Kyungsoo duduk disamping Jongdae yang masih menatapnya dengan pandangan kosong, di elusnya sayang rambut hitam sang anak dan berkata dengan lembut. "Dae sayang, umma dan appa pergi dulu, ne? Jongdae tinggal bersama saeng Jongin untuk beberapa hari ini. Umma tidak lama, setelah urusan di China selesai, umma akan cepat pulang dan membawakan Dae hadiah! Jadi Dae harus menjadi anak yang baik dan jangan membuat saeng Jongin marah, nde? Jongdae paham, kan?"

Kyungsoo menatap sayang namja muda di depannya dan berharap apa yang ia ucapkan dapat dimengerti oleh sang anak. Cukup lama namun setelahnya ia mencium sayang kening Jongdae kemudian memeluk tubuh mungil itu. Berdiri menghampiri Jongin dan melakukan hal yang sama.

"Umma dan appa pergi dulu. Jaga diri dan hyung mu. Jika ada apa-apa cepat telepon umma dan appa, arraseo?"

"Nde, umma."

Dan setelahnya pasangan Kim itupun pergi meninggalkan kediaman mereka. Meninggalkan seorang pemuda yang menghela nafas kasar menyadari bahwa beberapa hari kedepan kebebasannya benar-benar terengut.

Ugh.

.

A Sehun Kai fanfiction

For HunKai In Luv Challenge

-My Idiot Brother-

Jongin, Jongdae, Sehun, Kyungsoo(GS), Suho, Chanyeol

Warn(s) : Bromance, Typo, OOC and lit harsh/bad language

Length : Chapter 4 - ?

Genre : drama, brother friendship romance family angst

Saya hanya meminjam nama mereka dan cerita ini terinspirasi dari film lama yang tak sengaja saya tonton dengan judul yang sama. Saya juga gk nyangka kalo ada novelnya -_-' dan kemungkinan besar ff ini beda jauh sama film dan novel. Maaf bagi yang gk suka...

So,

Tidak suka, bisa close or back ^^

Enjoy!

.

Beruntung tadi malam ia bisa tidur nyenyak tanpa gangguan, tapi jika mengingat ia hanya berdua di rumah bersama sang 'hyung', entah kenapa ia ingin sekali tidak bangun-bangun. Tidur sepuasnya sampai kedua orang tuanya tiba dirumah.

Tapi itu tidak mungkin!

Dia harus sekolah dan yang terpenting latihan dance.

Aggh! Menyebalkan!

Sekarang Jongin tengah bersiap-siap dengan dasinya yang dari dulu sulit sekali diatur sembari menunggu sang hyung. Jongdae datang dengan piano kecil di pelukannya dengan tali yang mengalung di lehernya, Jongin yang memakaikannya. Ia berpikir jika piano itu tidak boleh hilang dari pelukan Jongdae. Mainan untuk sang hyung jika namja itu bosan dan berharap tidak membuat keributan saat di sekolah nanti.

"Hyung kau sudah siap? Ah, bodoh kenapa aku harus bertanya? Kau siap atau tidak kau tetap ikut dengan ku. Ckh, hyung aku ingatkan sekali lagi, jangan bertingkah aneh-aneh di sekolah nanti. Jika kau membuat ribut lagi seperti dulu, aku akan mengurungmu di gudang."

Jongdae hanya manggut-manggut mendengar ucapan Jongin dan tersenyum tipis. Membuat Jongin mendengus pelan.

"Ya sudah. Ayo pergi!"

.

.

Perkarangan sekolah sudah sepi tapi aktivitas belajar mengajar belum mulai. Kemungkinan Jongin belum terlambat. Sebelum ke kelas ia dan Jongdae pergi ke pos satpam dan meminta ahjushi itu untuk menjaga sang hyung selama ia belajar. Untung saja ahjushi satpam baik dan Jongin bisa bernafas lega meninggalkan sang hyung disana.

Setelah mewanti-wanti sang hyung agar bersikap baik, pemuda kulit tan itupun dengan cepat pergi ke kelas. Dan mungkin pagi ini keberuntungan untuknya karena Song ssaem belum datang.

"Tumben terlambat," celetukan Tao sebagai salam pagi untuknya yang baru saja mendudukkan bokongnya di kursi dan berusaha menetralkan nafasnya yang memburu karena berlari.

"Aku pergi dengan bus," jawab Jongin sekenanya.

"Kau tidak di antar?" tanya Taehyung penasaran.

"Orang tuaku pergi selama beberapa hari ke China dan sepedaku bannya bocor. Jadi aku pergi dengan bus."

Sehun hanya mendengar percakapan ketiga temannya itu karena ia sedang membaca buku yang akan di pelajari hari ini.

"Eoh? Jadi sekarang kau hanya berdua saja dengan hyung mu? Kau tidak mungkin meninggalkan hyungmu yang-"

"Huang ZiTao. Bisakah kau tidak memabahas keluarga ku?"

Ucapan dingin Jongin mau tak mau membuat Sehun mengalihkan pandangannya pada pemuda di sampingnya itu dan juga bahasan mengenai hyung pemuda itu. Jongin terlihat seperti saat pertama ia mengenal namja itu, kembali dingin dan tertutup. Paras manis itu datar dan sorot matanya kosong.

Tunggu, manis? Ok. Sepertinya Oh Sehun harus jujur sekarang. Ia benar-benar sudah jatuh pada pesona seorang Kim Jongin. Dan dia benar-benar menyukai pemuda kulit tan manis itu,ngomong-ngomomg. Ehhem.

Tak lama setelahnya Song ssaem pun masuk, semua siswa kembali ke tempat masing-masing dan aktivitas belajarpun dimulai.

.

Jongdae menatap kosong hamparan luas halaman sekolah. Duduk terdiam mengabaikan ocehan ahjushi satpam yang bertanya-tanya tentang hari yang cerah.

Jam sebentar lagi menunjukkan waktu istirahat dan ia mulai lapar. Tiba-tiba saja Jongdae berdiri dan melangkah keluar dari pos. "Eoh? Hei, kau mau kemana? Ya! Jongdae-ssi!" seru ahjushi satpam dan meraih pergelangan tangan Jongdae. "Hei, kau mau kemana? Ini belum jam istirahat, tunggulah sebentar lagi,"

"Euggh, aam... lapparr... ammh," keluh Jongdae sambil mengusap perutnya. Wajahnya memelas dan mata sipitnya berkedip lambat-lambat merasa sangat lapar.

"Kau bilang apa? Ahjushi tidak mengerti. Duduklah dulu, sebentar lagi-"

"Aahh, ndaak… paarr.. amm. Kaan.. mahkaann… aeng Ngiin.."

"Kau lapar? Ah, tunggu sebentar lagi nde?"

"Ndaak…"

Ahjushi satpam terus berusaha membujuk Jongdae untuk tenang dan menunggu kedatangan Jongin. Hingga bel istirahat berbunyi, Jongdae dengan kuat melepas pegangan ahjushi satpam dan berlari ke dalam sekolah.

Jongdae terus berlari menghiraukan tatapan setiap murid yang melihatnya kaget dan bertanya-tanya mengapa dirinya bisa masuk ke dalam sekolah dan mengabaikan seruan kesal setiap murid yang di tabraknya. Terus berlari sambil bergumam nama sang adik dan entah kenapa ia malah berakhir di ruang dance yang masih kosong.

Jongdae menghentikan langkahnya dan menatap kesekelilingnya dengan bingung. Berjalan kearah kaca besar disana dan beberapa saat ia terpaku menatap pantulan dirinya sendiri.

.

Sehun tak habis pikir dengan seorang Kim Jongin.

Kemarin ia bahkan bisa bercanda dengan pemuda itu dan bercerita banyak hal yang tentu saja berhubungan dengan dance. Bahkan ia sendiri bilang kemarin jika hari ini mereka akan berlatih lagi. Tapi ketika ia ingin mengajak pemuda tan itu pergi ke berlatih karena setelah jam istirahat Han ssaem tidak datang dan Sehun pikir waktu kosong itu bisa di manfaatkan untuk berlatih. Terlebih anak-anak dance malah sibuk dengan basket, Jongin menolak dan pergi entah kemana. Menghiraukan dirinya dengan hela nafas panjang dengan sikap pemuda itu yang kembali tertutup.

Berjalan gontai setelah mengisi perutnya di kantin dan membawa beberapa roti dan sekotak susu, Sehun membuka pintu ruang dance. Dan sejenak terdiam menatap seorang namja berdiri di depan cermin sambil menganyun-ayunkan kedua tangan kemudian jongkok dan berdiri lagi. Begitu seterusnya, mengayunkan tangan, jongkok lalu berdiri lagi.

Sehun yang penasaran siapa namja itu lalu mendekat dan memanggil namja itu. "Hei? Kau siapa? Kenapa bisa masuk kesini?" tanyanya.

Namja itu-Jongdae- tidak merespon, melirik Sehunpun tidak. Sehun menepuk pundak Jongdae pelan dan tetap namja yang lebih pendek itu tidak menoleh kearahnya. Tetap melakukan kegiatannya tanpa merasa terganggu sedikitpun.

Sehun heran dan sedikit menjauh, berpikir sejenak dan memperhatikan Jongdae dengan mata gelapnya. Tidak merespon dan menghiraukan keadaan sekitar, tatapan kosong dan hanya bermain dengan dunianya sendiri…

Ahh, sepertinya Sehun paham dengan kondisi namja di depannya itu, gangguan mentalkah?

Sehun tersenyum kecil dan beralih ke sudut ruangan, meletakkan bawaannya dan duduk bersandar di lantai. Memperhatikan Jongdae yang mulai berputar-putar kemudian duduk. Jongdae melepas piano kecilnya dan memainkannya dengan nada kacau. Tidak perduli jika suara pianonya yang kacau, Jongdae tetap memainkannya dan tersenyum senang dan bahkan tertawa, menampilkan bibir tipis itu terkembang dan sepasang mata sipitnya yang melengkung manis.

Wajah itu manis, jujur Sehun mengakuinya. Dan pemuda tampan itu juga tersenyum dan bahkan tertawa kecil saat tingkah Jongdae yang mirip seperti bocah 5 tahun.

"Khekeke... aku tidak tau siapa dirimu, tapi kau berhasil membuatku tersenyum," ujarnya pelan. "Kau terlihat manis jika tersenyum, kau... kau mirip dengan gegeku..." lanjutnya.

Pandangan Sehun menerawang, kembali teringat wajah tampan namun manis sang gege yang telah tiada. Oh Luhan...

"Luhan ge, dia seorang penderita alzheimer sejak kecil. Aku... aku tidak suka padanya, aku membencinya. Aku benci dengan segala tingkahnya dan semua teman-temanku juga, karena aku memiliki kakak penderita kelainan mental, mereka membullyku. Aku tidak suka Luhan ge dan aku- aku bahkan berniat untuk menghilangkannya dari dunia ini. Membunuhnya...khe,"

Sehun terdiam untuk beberapa saat hanya untuk melihat Jongdae yang berhenti memainkan pianonya dan berbalik menatapnya. Mata sipit itu menatap kosong Sehun. Terlihat polos namun begitu datar. Entahlah Sehun sendiri masih sulit memahami ekspresi dari seorang penderita kelainan mental.

"Luhan ge gila dan- dan aku lebih gila lagi. Khe, waktu itu, saat aku memenangkan kejuaraan dance nasional, aku- aku mendorongnya dari atas panggung karena ia ingin memegang tropi. Tersenyum seperti seorang psikopat idiot dan berteriak 'didi ku hebat! Dia akan jadi raja dan menari...!', kacau. Dia sungguh kacau dan gila, aku malu dan tidak tahan, ak- aku mendorong tubuhnya yang lebih pendek dariku. Dia terjatuh ke bawah dengan kepala lebih dulu, semua terdiam... tapi sesaat kemudia dia berdiri dan melihat ke atas. Kepalanya berdarah... khh aku tidak perduli.

"Entah apa yang dilihatnya tapi sedetik kemudian terdengar suara langit-langit panggung retak dan tiba-tiba dia menarik tanganku keras hingga aku ikut terjatuh bersamanya dilantai dan seketika suasana kacau dan semakin kacau saat panggung hancur, semua properti berserakan dan- dan yang kurasakan adalah kaki kananku mati rasa... semua terjadi tiba-tiba.

"Kaki ku terhimpit tiang penyangga, sakit tapi aku tidak bisa apa-apa. Luhan ge, dia memelukku, melindungiku dari tiang-tiang besar yang menghimpit kami. Darah... kepalanya semakin berdarah, banyak. Tubuhnya juga..."

Sehun kembali terdiam, tak sanggup melanjutkan ceritanya. Menunduk dan mengusap wajahnya yang penuh dengan rasa penyesalan. Kesal dan marah pada dirinya sendiri yang tak bisa apa-apa saat sang gege dengan lembutnya menatap dirinya, tersenyum manis dan berucap 'didiku hebat... gege sayang Xishun didi... didi kuat dan baik... tetaplah tersenyum, di-didi...'.

Terbata-bata hingga akhirnya Luhan jatuh ke dalam pelukan sang adik yang tiba-tiba terdiam dalam penyesalan. Menyadari sosok yang selama ini ia anggap pengganggu dan bahkan ingin sang gege menghilang dari hidupnya, tidak bernafas lagi. Sosok yang ia anggap gila. Penyesalan tentang semua yang ia lakukan pada sang kakak yang tanpa ia sadari selalu melindunginya dan menyayanginya.

Puuk.

"Uh?"

"Tnaang... jjangaan cediih... ne?"

Sehun tertegun dengan tindakan Jongdae yang tanpa di sadarinya sudah duduk di depannya dan menepuk kepalanya pelan. Mata sipit itu menatapnya teduh dan penuh rasa sayang di sana. Dan entah kenapa... Sehun merasa begitu di sayang, di sayang oleh seorang kakak yang sangat di rindukannya. Meski ia tau namja di depannya bukanlah sang gege tapi Sehun merasa- kasih sayang yang terpancar dari mata dan senyum lebar namja di depannya, mampu membuat ia merasa di sayangi.

Ia tidak tau siapa namja ini, tapi- tapi Sehun sungguh berterimakasih.

Uhm, entahlah.

"Gomawo... hyung. Ah! Aku punya kue, hyung mau?" tawar Sehun, mengambil sebungkus kue dan menyodorkannya pada Jongdae yang terlihat bingung dengan tingkah Sehun yang tiba-tiba berubah. Tapi sedetik setelahnya matanya berbinar melihat kue di depannya. Tanpa melihat Sehun iapun dengan cepat mengambil kue itu dan langsung membuka dan memakannya. Sehun hanya tersenyum lembut menatap tingkah Jongdae dan entah kenapa... ia menyayangi namja idiot di depannya itu.

.

Jongin menggerutu kesal dan sesekali mengumpat pada sang hyung.

Yah, Jongin langsung pergi ke pos satpam menemui Jongdae dengan bekal yang sudah di siapkannya tadi pagi. Tapi saat sampai di sana sang hyung tidak ada. Ahjushi bilang Jongdae masuk ke dalam sekolah dan itu artinya buruk! Kacau. Bisa saja sang hyung berbuat ulah atau tidak siswa-siswa lain mengganggunya dan membuat sang hyung marah dan mengamuk.

Aaggh! Jongin pusing!

Dan lagi, ia teringat dengan sikapnya pada Sehun tadi. Sehun tidak salah apa-apa tapi kenapa ia bersikap kasar pada pemuda tampan itu. Uggh.. Jongin bodoh.

Haah.. kemana lagi ia harus mencari sang hyung.. Jongin hanya bisa berharap sang hyung tidak berbuat keributan dan menambah beban pikirannya. Ia juga harus mencai Sehun dan mengajak pemuda itu berlatih dance karena setelah jam istirahat, kosong.

Ok. Berarti ia harus mencari dua orang sekarang. Dan setidaknya salah satunya dari mereka dapat ia temukan.

Tapi... kenapa ia malah berakhir di depan ruang dance? Haah... lebih baik ia masuk, mungkin saja Sehun sudah di dalam dan berlatih sendirian karena anak-anak lain masih sibuk dengan basket. Ah entah apa itu ia tidak perduli.

Dan sepertinya Jongin bisa bernafas lega karena ia menemukan Sehun tengah berlatih seorang diri di sana. Di depan cermin besar yang memperlihatkan gerakan-gerakan dance yang akan mereka bawakan saat acara ulang tahun sekolah.

"Sehun ah," panggilnya. Ah, mengenai Jongdae hyung, nanti saja. Setelah pulang sekolah aku bisa mencari hyung bodoh itu lagi. Pikirnya sambil berjalan kearah Sehun.

"Hah.. haa.. Jongin ah, akhirnya kau datang juga," balas Sehun.

"Mianhe.."

Sehun sejenak terdiam dan setelahnya ia tersenyum. "Nde, gwencahana.."

Jongin bersiap-siap di depan dan melirik Sehun yang sedang minum, "Bisa kita mulai latihannya?" tanyanya.

"Tentu."

.

Sehun sudah pulang duluan, ia bilang mau menemui hyungnya di rumah sakit. Jadilah hari ini latihan di batalkan.

Jongin menatap tajam Jongdae yang balik menatapnya polos. Bibir tipis itu bergumam namanya dan makan, membuat pemuda tan itu mendengus sebal. Lalu beralih pada ahjushi satpam. "Ahjushi.. sekali lagi aku minta maaf dan terimakasih sudah menjaga hyungku.."

"Ne ne... tidak apa Jongin ah. Dan ahjushi juga minta maaf tadi tidak bisa menjaga hyungmu. Tapi untunglah ada seorang murid yang mengantar hyungmu ke sini." Balas ahjushi satpam.

"Nde, ahjushi... umm, itu. Besok.. apa boleh aku titip hyungku lagi? Err.. itu juga, jika ahjushi tidak keberatan-"

"Gwenchana Jongin ah.. tidak apa, kau boleh meninggalkan hyungmu di sini dan kau bisa belajar dengan tenang. Ahjushi juga sepertinya butuh teman, yaah walau hyungmu tidak merespon tapi ahjushi tidak masalah..."

Jongin tersenyum senang dan merasa beryukur dan tentu saja berterimakasih pada ahjushi satpam karena dengan baik hatinya ia mau menjaga Jongdae.

Setelah berbasa-basi sedikit, duo Kim itupun pulang dengan jalan kaki menuju halte. Tidak berniat pergi kemana-mana karena Jongin tidak mungkin membawa sang hyung pergi ke tempat keramaian. Yang ada malah bikin repot, apalagi jika sang hyung menghilang. Bisa dipenggal dia oleh sang appa.

.

Di rumahpun, Jongin hanya memberikan makanan yang sudah di sediakan Kyungsoo dan tak lupa susu untuk sang hyung. Membiarkan Jongdae dengan dunianya sendiri dan ia dengan tugas sekolahnya.

Haah... jika seperti ini, ia sepertinya akan baik-baik saja di tinggal bersama sang hyung...

Yah asal sang hyung tidak berbuat kekacauan dan membuat masalah. Ia pun bisa tenang.

.

.

.

Tiga hari berlalu sejak pasangan Kim pergi, meninggalkan Jongin dan Jongdae berdua dirumah.

Tidak terjadi masalah besar, hanya saja Jongdae sepertinya mulai berulah dan hampir membuat Jongin mengurungnya di gudang belakang rumah.

Seperti hari ini, Sabtu, jadwal sang hyung untuk terapi tapi Jongdae menolak untuk keluar dari rumah. Padahal sang umma sudah menelfon Jongin dan menyuruh putra bungsunya itu mengantar sang hyung ke rumah sakit.

Daripada nanti ia terkena amukan sang umma lebih baik ia membawa sang hyung, meski harus dengan paksaan dan jaa... merekapun sampai di rumah sakit, bertemu lagi dengan dokter Park yang sok tampan dan kepo/?

Huh, Jongin sedikit tidak suka.

"Jadi... kau kelas dua SMA? Khekeke... berarti kau sama seperti adikku. Dia juga kelas 2 SMA. Ah, andai dia di sini mungkin kalian bisa akrab." Chanyeol berucap santai sembari memeriksa tubuh Jongdae. Ikut tertawa saat Jongdae tertawa dengan mainan bebek karet berwarna ungu yang di berikan Chanyeol.

Jongin tidak membalas, kembali mendengus pelan dan menatap datar sang dokter.

Setelah meyakini tubuh pasiennya dalam kondisi normal, dokter muda itu beralih pada pemuda di depannya. "Fisiknya... normal, baik-baik saja. Hanya saja... jantungnya sepertinya mulai bermasalah,"

"Uh? Bermasalah? Maksudnya?" Jongin tidak paham. Hyungnya baik-baik sajakan. Lalu?

"Paru-parunya mulai mengalami penyempitan, Jongdae akan susah bernafas dan mungkin- bisa.. ia bisa..."

"Yah dokter! Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Apa maksudmu jantungnya menyempit? Jangan menakutiku, hyungku baik-baik saja, kan," Jongin tidak yakin dengan ucapannya yang terakhir. Ia merasa... ini tidak baik, buruk dan ia tidak suka.

Chanyeol hanya terdiam, menatap dalam Jongdae yang tiduran di bangsal sambil menatap bebek mainan di pelukannya. Menatap sepasang mata sipit yang tertutup itu sayang. Entah kenapa, hatinya sakit saat pemikirannya tentang kondisi pasiennya itu. Sosok yang berbeda di matanya. Entah kenapa, tapi... Chanyeol merasa sangat menyayangi namja seumurannya itu.

Namja down syndrom yang selalu mengingatkannya pada kakak sepupunya yang sudah di anggapnya hyung sendiri. Luhan.

Kembali berbalik menatap Jongin yang menuntut jawaban darinya yang sungguh sulit ia ungkapkan. "Jongdae... kemungkinan akan mengalami penyempitan pada jantungnya karena penyebaran penyakit down syndrom di tubuhnya bereaksi berlebihan. Ia akan sering mengalami sesak nafas, demam tinggi dan bahkan kejang-kejang," Chanyeol menghentikan ucapanya, menatap Jongin yang balik menatapnya tidak percaya. Tidak percaya dengan apa yang di ucapkan dokter muda di depannya.

Tidak. Hyungnya tidak mungkin separah itu... penyempitan jantung? Paru-paru? Apa-apaan ini!? Sembuh dari penyakit 'menyebalkan' itu saja belum dan sekarang? Penyempitan jantung? Tidak... khe, dokter pasti bercanda. Jongin berusaha menyangkal segala pemikiran buruknya yang tiba-tiba saja memenuhi pikirannya.

Chanyeol hanya bisa bernafas panjang dan jujur, ia merasa bersalah telah memberitahukan diagnosannya. Dan tak seharusnya ia beritahukan perihal itu pada pemuda di depannya ini.

Mereka terdiam terlihat enggan untuk bicara hingga Jongdae membuka matanya dan memanggil sang adik lirih. "Ngiin?"

"Apa?"

Jongin menatap Jongdae dengan tatapan yang sulit diartikan. Tapi Chanyeol dapat melihat rasa luka dan khawatir di sepasang mata coklat Jongin. ia tau rasa itu, ia paham dan sungguh Chanyeol tidak ingin melihat seseorang bersedih karena kehilangan seseorang yang di sayang karena penyakit yang sulit di sembuhkan itu. terlintas di benaknya sosok Sehun yang seperti mayat hidup menatap kosong Luhan yang telah tiada di depan matanya.

Tidak lagi.

"Hiii… aeng tseenyuumm… aah! Aihhg, khekekee… aik… baahiikk.. ugh," Jongdae bergumam sambil mengguling-gulingkan tubuhnya di bangal membuat Chanyeol menatap namja bertubuh mungil itu was-was jika saja tubuh itu jatuh. Menghentikan tindakan Jongdae dan mebawa tubuh itu duduk tegak, meraba dada Jongdae dan menepuknya pelan. Tersenyum saat pandangan mereka bertemu.

"Namaku Chanyeol. Bisakah kau menyebut nama ku?" kata Chanyeol pelan, menunggu Jongdae memahami ucapannya hingga bibir tipis itu berseru keras membuat Chanyeol tertawa pelan.

"Nyeol!"

"Khekekeke... bukan Nyeol, tapi Chanyeol. Chan-yeol.."

"Nyeol? Uggh nnyo... oll.. oolllluugg.."

Chanyeol menjauhkan tubuhnya dari Jongdae yang kembali sibuk dengan dunianya, memainkan bebek karet dan piano kecilnya. Dokter muda itu berbalik pada Jongin yang masih terdiam, terlihat kebingungan dan Chanyeol sedikit miris melihatnya.

"Tenanglah, untuk saat ini kondisinya baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir, kau hanya lebih menjaga dan mengawasinya agar tidak berteriak terlalu keras atau berlari karena dapat mengganggu pernapasannya. Setiap pagi dan sebelum tidur berilah ia air putih hangat agar aliran darahnya tetap lancar." Chanyeol menghentikan penjelasannya kemudian berjalan kearah mejanya dan menulis sesuatu. "Ini, kau bisa membeli obat ini dan berikan jika Jongdae mengalami sesak nafas," lanjutnya.

Jongin menerima kertas yang di sodorkan Chanyeol dan menyimpannya dengan cepat ke saku celananya.

Haah...

Entah apa yang dipikirkannya sekarang. Haruskah ia memberitahukan pada orang tuanya tentang kondisi sang hyung? Atau menunggu mereka pulang lalu memberitahu mereka? Dan lagi, acara di sekolah besok lusa...

Aarghh! Jongin pusing.

.

.

.

Tbc..

Mianhe... T.T

Jeongmal mianhe telat update! *bow

Saya sibuk magang dan ide-nya ngajak berantem hilang timbul mulu pusing sayaa... /cry

Entah ending apa ntar, jongdae mati ato jongin yang mati...

Besok terakhir ya... moga masih bisa update besok...