Naru-tobrok - tobrokkan, astaga, Naruto.,.

Claiming from Masashi Kishimoto.,.

Itachi & Akatsuki.,.

Humor / Parody/ Drama...

Being a Bakpao?


Mangap buat judulnya yang kemaren kemaren bedonn, lupakan...,

- buat P.O.V. yang pake undertaker, eh, underline itu adalah pikiran pokok, readers.


Request dari Ototo[Black'MirR0r] wakwkakw

Sumari eh, Summary : Itachi jadi tukang bakpao [kerja 9 [sambilan]]? Bagaimana kelangsungan bakpaonya, eh hidupnya? Apa teman - temannya masih akan berteman dengannya? [?] Ya, pokok'e dibaca dan dipahami, makna dari fict ini, semoga berkenan di hati rider[lho? pengendara?], maksudnya reader...


Bakpao's Note

Seorang pemuda berbadan biru kekar dan berambut lebih gelap dari warna kulitnya mengendap di balik pohon memantau dan kembali melangkahkan kakinya dengan telapak tengah kakinya supaya tak terdengar [bakat tukang gondol mode on]. Ia bergerak bagai setan kepanasan [cacing kali], maksudnya bukan begitu. Ia bergerak cekatan, terampil, terlatih, dan... ketat? Pemuda tersebut memakai baju hitam yang bagian atas dan celananya tersambung, hitam baju tersebut mengkilap, terbuat dari kulit sepertinya.

Pemuda tersebut melompat hendak menjadikan kursi pijat, eh, kursi jongkok[inget chap 2] didekat jendela kecil diujung markas tersebut sebagai pijakan. Dia melompat dan berusaha melihat apa yang ada di dalam markas tersebut lewat jendela kecil.

Tiba -tiba.

"Hei!" nada seseorang pria yang nampaknya sudah rentan bila dikaitkan dengan umur seolah melonjak keluar dari mulutnya. Suara ini mengagetkan si pemuda biru yang langsung melonjak dan berbalik ke arah si pria berambut oranye asal suara, "Sedang apa kau? Mengintip - mengintip saja!" dia melanjutkan.

"Ehem, maaf," si pemuda biru itu turun dari kursi jongkok sepelan - pelannya agar tidak terdengar, "Saya-Panggil saya Hoshigaki-kun, saya da-dari Pe-Pe-Pe" si pemuda tergagap - gagap tidak dapat melanjutkan apa yang ingin atau harus ia katakan.

"Pe? Pe apa?" pria itu menggoyang - goyang badannya ke kanan dan ke kiri sambil memegang dagunya dengan tangan kanannya. Bingung, "saya rasa, saya tidak memesan Pezza Hat[disamarkan lagi] ?" lanjutnya berhenti menggoyang goyang badannya.

"Tidak! Tidak! Saya dari Pe-el-en[lagi - lagi]. Perusahaan listrik, ingin menanyakan biaya bulanan tempat ini." pemuda [yang mengaku] bernama Hoshigaki ini kelihatannya berhasil membuat Boss Pein, "Apakah saya bisa berbicara dengan... Tuan Penin?" tanya Hoshigaki sambil membuka - buka catatan yang tak tahu ada isinya atau tidak dan darimana dia mendapatkannya? Hanya Tuhan yang tahu [dikira Rahasia Ilahi?].

"Emmmm, maksud anda mungkin Bapak Pein?"

"O-Oh! Iya, maksud saya begitu, catatan saya luntur terkena air hujan. Maaf..." kata Hoshigaki sambil memasang muka... err... sok dikyut - kyutin [Cute maksudnya].

"Oh, tak apa. Saya sendiri kalau begitu..." kata Boss laknato ini tanpa dosa.

"Boleh saya periksa kotak listriknya?" kata Hoshigaki mencoba mencari cara agar diizinkan masuk ke dalam markas si Boss mencari apa yang ia cari selama ini.

Boss Pein mengangguk mengiyakan keinginan orang Pe-el-en yang ia anggap benar - benar orang Pe-el-en. Namun, dia sudah tahu apa yang sebenarnya dicari pemuda biru bernama Hoshigaki atau lengkapnya Hoshigaki Kisame ini. Rasanya ingin tertawa saja... fufufufu... pikir Boss jahat ini sambil tertawa.

"Lho? Ada apa, Pak? Mengapa anda tertawa? Ada yang lucu?" tanya Kisame heran melihat tingkah si Boss Pein ini.

"Oh, ehem - ehem... Tidak - tidak apa - apa." katanya mempersilahkan Kisame masuk ke markasnya tanpa ragu.

"Mari, permisi - permisi..." kata Kisame tidak pernah lupa peringatan neneknya untuk selalu menyapa 'Permisi' sebelum masuk ke rumah atau masuk ke manapun ia akan masuk. [?]

XxX

Kisame's P.O.V

Orang ini benar - benar mencurigakan, tadi dia tertawa, apa pula maksudnya? Huh... Bodoh lagi. Tidak pakai logika untuk berpikir. Ditengah hutan begini, memang ada petugas Pe-el-en datang menagih bayaran bulanan? Tentu saja tidak. Tapi, tetap saja, aku harus waspada.

Aku dipersilahkan masuk ke dalam markas yang sederhana sekali kalau ini bisa disebut sebagai markas Boss Kriminal paling jahat. Boss jahat ini lalu menunjukkan dimana letak kotak listrik yang aku tadi minta. Tentu saja aku tidak langsung clingak clinguk mencarinya. Tapi aku hanya memperkirakan dimana tempat dia disekap atau disembunyikan. Aku ditinggal di tempat itu, Boss jahat itu berkata ia akan mengambil minum untukku. Ini kesempatan.

Aku mulai membuka kotak listrik itu dan berpura - pura mengutak - atik bagian pengaturan watt yang dikeluarkan dan berpura - pura mencatat sesuatu di catatanku. Aku tidak bodoh, bagaimana kalau di tempat yang kuanggap sederhana ini terdapat kamera pengintai atau yang sejenisnya.

"Jadi? Bagaimana?" tiba - tiba Boss jahat itu sudah berada di belakangku dan menaruh gelas berisi air putih biasa, "Ada yang bermasalah?" tanyanya lagi sambil mempersilahkanku untuk meminum air yang sudah disediakan.

"Pengaturan watt anda keliru menyebabkan biayanya bertumpuk." dia langsung menengok ke arah kotak listriknya.

"Ya, ya sudahlah, saya tidak akan lama tinggal di sini. Saya akan pindah ke tempat lain lagi." lagi? Boss ini sama sekali tidak menutup - nutupi apa yang biasa dia lakukan. Aku lalu menyeruput sedikit air yang sudah boss kejam ini kasih sedikit. Mengapa sedikit? Bisalah berpikir.

Tak ada waktu, aku harus cepat!

"Ehem," aku mencari perhatian si boss Pein ini, "Bi-bisakah saya pergi ke toilet?" dia mendongak ke arahku.

"Tentu. Hanya lurus dari sini, lalu belok ke arah kanan sesudah ada pintu kamar yang ada lukisannya di sana," aku lalu mulai berjalan, cepat, "Kalau kau tak tahu, tanya saja pada yang ada di dalam kamar tersebut... fufufu..."

"A-Apa?" dia tahu, "Apa anda berbicara sesuatu?" boss gila itu langsung menggeleng. Ya, dia benar, dia tahu.

Semakin kupercepat langkahku. Setelah membelakangi boss gila itu, aku segera mengambil amplop berisi TEHAER [apa pula?], eh, tertukar, aku lalu mengambil amplop berisi surat catatan untuknya.

Ya, triknya berhasil. Aku berpura - pura menjatuhkan kacamata hitamku yang sengaja kugantung diluar kantung celanaku di depan sebuah pintu yang sembilan puluh sembilan koma sembilan sembilan persen pasti kamarnya atau tempat ia disekap. Aku lalu menyelipkan amplop itu lewat bawah pintu dan cepat - cepat pergi ke kamar mandi.

Berhasil. Aku bisa. Namun, di dalam kamar itu tidak ada satu suarapun yang keluar. Aku jadi ragu. Namun, itu pasti kamarnya. Pasti.

Normal's P.O.V.

Catatan apa yang diberikan oleh sang sahabat Hiu kepada sahabat Ilusi? Apa yang sebenarnya sedang dipersiapkan oleh Boss Pein dan duo Kaku-Hidan? Kapankah boneka dan seni akan muncul? Dan, kepada siapa mereka berpihak? Lalu apa yang terjadi pada diri Itachi sendiri?

Boleh dimasukin ke dalam kotak amal [ketahuan aibnya], boleh ngantri ambil sembako buat nanya ama yang bagiin [lebih ketahuan]. Ya, simak terus penelusurannya di TEHAER, eh, TEKAPE!


Mangap buat apdeath yang lama dan yang ini pendek banget, minggu kemaren memang minggu stres, wawkakw [tuhkan]. Sebagai gantinya saya akan membahas sedikit asal - usul Bakpao. Bakpao beneran dari negeri 'Gorden Bambu' *ditabok Wang Yao [Aph]*, dari China sana. Tapi, dulu orang lebih mengenalnya dengan sebutan Mantao, tahu Mantao, kan? Mantao identik diucapkan sebagai 'Kepala Barbar Itu'. Kenapa begitu?

Semuanya berawal dari Periode Tiga Kerajaan atau Abad ketiga, saat Baba [Baba?] Zhuge Liang sedang memimpin Angkatan Darat Shu saat invasi dari tanah Selatan. Pas udah menjatuhkan raja orang barbar , Meng Huo, Baba Zhuge mimpin lagi ke daerah Shu. Saat perjalanan menuju daerah Shu, Baba mendapat kesulitan saat perjalanan ketika ia ingin menyeberang sebuah sungai, sungai itu sungai keramat, karena barang siapa [kayak pak haji] yang ingin melewati sungai itu harus mempersembahkan setidaknya 50 kepala orang barbar, begitu kata seorang tuan Barbar yang membantu Baba Zhuge. Kalo lewat sungai itu tanpa mempersembahkan korban, maka semua yang lewat akan mati hanyut dibawa arus sungai yang marah, begitu kata tuan Barbar lagi. Karena tidak ingin melihat pertumpahan darah lagi, maka Baba Zhugepun membunuh sapi, kuda dan hewan ternak lain yang ia bawa lalu mengisikan dagingnya ke dalam roti berbentuk kasar seperti kepala manusia [atas setengah lingkaran, bawahnya rata, bentuk huruf D-lha.,.] kemudian ia membuangnya ke dalam sungai. Pas udah nyeberang Baba Zhuge memberi nama roti itu 'Mantou' yang berarti 'Kepala Barbar Itu'. Hii.., ternyata awal makanan enak aja dari kepala orang barbar...

Pasti ada yang berpikir kalau Bapak Bakpao itu adalah Baba Zhuge, emmm, bukan - bukan, selain sifat dan watak, perawakan [apa bedanya dari tadi?] dan apa - apanya. Semuanya berbeda - da -da... Asal nama Bakpao di Indonesia ini sebenernya diartikan oleh kaum Tionghoa di Indonesia, karena 'Bak' artinya Babi, dan 'Pao' artinya bungkusan, jadi kalau ada yang menananyakan Bakpao artinya apa. Ya, jawab saja 'Babi yang dibungkus'. Mohon mangap buat readers yang tidakk biasa makan babi. Bakpao di Indonesia kan banyak isinya bukan 'itu' doang, ada coklat [favorit saya!], seteroberi, bahkan Baba Zhuge pake daging - daging ternak lain. Ya, kan?

Sekian, jelek? Bagus? Kurang [banget!]? [dikira jualan kain ape?] Gbu always readers..., Salam Thomas Uber cup! Indonesia masuk pinal!

Untuk yang berikut kayaknya masih lama, soalnya ada UAS *nunjuk guru - guru di sekolah*, ya sudah lha, deritanya saya ini..., Siyu!