Bleach Disclaimer: Tite Kubo
Warning: OOC, Typo, Gaje.
Fic Khusus Untuk Usia 18+. Kurang dari itu mohon tekan tombol BACK
Setting Cerita Setelah Fullbring Arc (Bener gitu gk tulisannya?)
Love of an Adopted Brother
Chapter: 4
"Nii-sama..."
Rukia berlari menuju kamarnya, tak percaya atas apa yang dia dengar di balik pintu kamar Byakuya. Seandainya saja dia tak sengaja lewat di depan kamar Byakuya, mungkin dia tak akan pernah mendengar semua ini.
FLASBACK
Di malam sebelum keberangkatan rukia ke Karakura, dirinya masih sibuk menyiapkan barang-barang yang akan dia butuhkan nanti. Bodohnya, saat waktunya dia hendak mengelap zanpakutounya di dekat pohon Sakura yang sedang mekar, Rukia melupakan kain lap yang dia tinggalkan di dapur. begitu akan melewati kamar Byakuya, Rukia mendengar suara Byakuya secara samar-samar. Terdengar seperti suara rintihan dan desahan. Untuk memperjelas apa yang terjadi dengan kakaknya tersebut, gadis itu menempelkan daun telinganya di depan pintu kamar Byakuya. Namun apa yang dia dengar membuta mata violetnya terbelalak dengan lebar.
"Rukia..."
Rukia... Byakuya menyebut namanya dengan nada yang tak bisa dipercaya! Gadis itu bingung mengapa Nii-sama menyebut namanya dengan nada desahan yang menggoda. Rasa penasaran tersebut membuat gadis itu tak ingin beranjak dari tempat itu dan terus mencuri dengar.
"Kau sangat cantik, Rukia... Kau sangat nikmat..."
Sempurna sudah rasa terkejut gadis itu dikala ia menutup bibirnya sendiri yang saat ini sedang menganga lebar dengan telapak tangannyasecara refleks. Merasa tak sanggup lagi untuk mendengarkan lebih jauh lagi, yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah berlari menjauhi tempat tersebut menuju kamar pribadinya.
END OF FLASHBACK
Sungguh tak bisa dipercaya, Nii-sama nya sedang berfantasy dengan dirinya di dalam mimpi. Shock, kaget, tak percaya, semua rasa bercampur aduk menjadi satu dalam kepala gadis itu. Apakah semua ini karena dirinya yang sangat mirip dengan Hisana Nee-sama? Rukia tau dirinya dan Nee-sama memang bagaikan pinang dibelah dua, tapi setidaknya Rukia telah memotong pendek rambutnya agar tidak terlalu mirip dengan Nee-sama. Baginya, tak ada gunanya tetap berpenampilan seperti dulu, dengan rambut yang mulai panjang itu. Karena dia yakin, antara dirinya dengan Nee-sama, dirinya dengan Nii-sama, ada ikatan tertentu. Tapi setelah ia mendengar hal yang mengagetkan tersebut, apa yang harus dia lakukan di depan Nii-sama? Pikiran-pikiran yang terus berdatangan dalam otaknya membuat gadis itu lambat laun tertidur di dalam kamarnya.
Esoknya, sebuah ketukan di depan pintu kamar Rukia membuat acara tidur gadis itu terganggu. Tak disangka ternyata sudah menjelang pagi. Dengan mata yang terpejam-pejam, Rukia mulai bangun dari futonnya yang nyaman dan hangat tersebut.
"Rukia, apa kau sudah bangun?" Suara itu, suara milik Nii-sama!
"Ya, Nii-sama! Aku baru saja bangun..."
Rukia pun bergegas dan bersiap-siap untuk membersihkan diri agar tidak telat berangkat ke Karakura. Oh bahkan dia sampai lupa untuk membersihkan zanpakutounya tadi malam kalau saja dia tak terganggu dengan suatu hal pada saat itu. Saat akan membuka pintu kamarnya, terlihatlah sosok Byakuya yang sedang berdiri tegak dengan ketampanannya, menunggu Rukia.
"Selamat pagi, Nii-sama..." sapa Rukia.
"Hm... Apa kau dusah siap berangkat hari ini, Rukia?"
"I...iya, aku sudah siap..." bisa dirasakan saat ini wajah gadis itu sudah memanas begitu ia melihat wajah Byakuya, mengingatkannya akan kejadian tadi malam. Dengan cepat Rukia menundukkan kepalanya, berharap Byakuya tidak melihat wajahnya yang sudah memerah. Tentu saja Byakuya merasa aneh dengan tingkah Rukia yang tiba-tba memalingkan wajahnya tersebut. Samar-samar dia melihat wajah gadis itu memerah.
"Rukia, apa kau sakit?" tanyanya.
"Tidak Nii-sama... Aku baik-baik saja... Aku sepertinya harus berangkat sekarang... Aku mohon pamit, Nii-sama..."
Rukia membungkukkan badannya dan langsung berlari meninggalkan Byakuya yang heran penuh tanda tanya atas sikap Rukia yang seperti ingin menghindarinya. Padahal Byakuya datang untuk mengajak sarapan bersama, gadis itu melupakan sarapannya.
Rukia sampai di depan kediaman kapten divisi ke-13. Dia pun masuk dan langsung menghadap Ukitake-taichou untuk melapor keberangkatannya.
"Selamat pagi, taichou. Aku melapor untuk keberangkatan ke kota Karakura hari ini untuk menjalankan misi bersama Ichigo Kurosaki yang diperintahkan Yamamoto sou-taichou!"
"Baiklah, Rukia-chan. Aku terima laporanmu. Kau pasti senang dan tak sabar ingin bertemu dengan Ichigo hari ini, kan?"
"Taichou!"
"Hahahaha aku bercanda, Rukia-chan. Jalankanlah misi ini dan selesaikan dengan baik."
"Terimakasih, taichou..."
"Tunggu dulu, Rukia-chan... Bagaimana dengan Byakuya?"
"Nii-sama? Ada apa, taichou?"
"Aku merasa ada sedikit hal yang aneh dari Byakuya. Maksudku, ini tentangmu... Mungkin... Aku ingatkan saja untuk tidak terlalu dekat dengan Ichigo jika di depan Byakuya..."
"Dari dulu, Nii-sama memang sedikit sensitif dengan Ichigo karena orang itu kurang bersopan santun. Baiklah, saya pergi, taichou..."
Pagi itu, Ichigo sedang bermalas-malasan di dalam kamarnya. Masih teringat di benaknya saat Byakuya datang secara tiba-tiba untuk menjemput Rukia. engapa Byakuya menatapnya secara sinis saat itu? Pemuda itu menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal berharap bisa melupakan kejadian tersebut. Ichigo merasakan reiatsu Rukia ada di dalam kamarnya, benar saja ternyata gadis itu sudah ada di dalam kamar Ichigo dengan membawa sebuntalan kain yang entah ada apa saja didalamnya.
"Hai, Ichigo! Aku datang lagi!"
"Rukia!? Mengapa kau kemari lagi?"
"Aku mendapat perintah dari Yamamoto sou-taichou. Kita akan menjalankan misi bersama mulai dari hari ini. Biar aku jelaskan. Ada hollow jenis Adjuchas menyerang penduduk sekitar sini secara diam-diam, yang tersisa dari korban adalah pakaiannya saja. Kita harus mencari tau apa yang diincar oleh hollow tersebut lalu membasminya."
"Yang benar saja? Mengapa aku bisa tak tahu apapun selama ini?"
"Karena kau cukup bodoh untuk menyadarinya..."
"Apa kau bilang, pendek!? Tak ada reiatsu siapapun yang bisa luput dari ku, tau!"
"Cih! Kau ini tak bisa sopan sedikit dengan tamu yang baru saja datang berkunjung! Dasar jeruk bodoh yang tak tau sopan santun! Pantas saja Nii-sama..."
KRUUKKK~~~
"Apa itu bunyi perutmu, Rukia?"
"A... Aku..."
BLUSH...
Wajah Rukia memerah karena menahan malu sampai-sampai dia tak bisa melanjutkan kata-kata makiannya kepada Ichigo.
"BWAHAHAHAHHAHA... Memalukan! BWAHAHHAHAHA!"
"DIAAAM! INI WAJAR KARENA AKU BELUM SARAPAN!"
"Baiklah ayo kita sarapan bersama keluargaku, aku rasa sarapannya sudah disiapkan oleh Yuzu."
Ichigo pun menggandeng tangan Rukia dengan lembut dan tersenyum kearahnya. Hal itu tentu saja membuat Rukia tambah memerah, dan dengan segera dia memalingkan wajahnya.
"Ichigo, tolong lepaskan tanganku, aku bukan anak kecil yang harus dituntun..."
"Benarkah? Aku kira kau memang kecil, lihat saja ukuran tubuhmu..."
"Ichigo!"
Malam harinya, terlihat seorang gadis sedang keluar dari supermarket untuk membeli bahan makan malam. Malam itu terlihat tenang-tenang saja, damai seperti biasanya. Tapi entah mengapa dia merasakan firasat buruk. Padahal sama sekali dia tak merasakan ada reiatsu yang berbahaya disekitarnya. Gadis itu mencoba untuk terus berjalan hingga akhirnya terdengar bunyi dentuman di arah sebelah kanan. Gadis itu berlari menuju asal suara itu, dan betapa kagetnya dia melihat sebuah hollow berbentuk setengah manusia sedang bertarung dengan seorang gadis berambut merah. Dia sepertinya kenal dengan gadis berambut merah itu... Tidak, dia benar-benar kenal...
"Ini gawat! Aku... Harus memanggil Kurosaki-kun...!"
To Be Continue
