Anne Garbo

Black : Part 2

Disclaimer :Kuroko no Basukemilik Fujimaki Tadatoshi

Warning : peringatan warna warni ada disini. Tapi yang paling saya ingatkan adalah

Saat anda menemukan ranjau typo, dimohon agar jangan diinjak

Saat sore hari, pintu kamarnya terbuka. Ibunya kembali masuk dengan wajah seolah hal tadi pagi tak terjadi sama sekali.

"Kou, bangun! Kamu tidak takut terlambat?"

Kouki bergeser dari posisi tidurnya. Melihat ibunya dengan wajah khawatir.

"Naoki sudah berangkat dari tadi loh. Ayo cepat siap-siap sekolah!"ucap wanita itu sambil menarik selimut yang menutupi Kouki. "Ah, jangan bilang dari kemarin kamu tidur masih menggunakan seragam!"

Kouki diam. Ibunya tersenyum.

"Ibu tunggu dibawah ya. Sarapan sudah siap!" katanya sambil berlalu pergi.

Dalam keremangan kamar, Kouki melirik jam digital diatas nakas. Pukul 17:58

Ia sudah tidak tau harus seperti apa lagi hidupnya kini.

Black : Part 2

Kouki berusaha mengikuti khayalan ibunya. Meski ini memang tidak masuk akal. Sangat. Berbicara pada angin. Dibangunkan dua sampai tiga kali karena waktu di kepala ibunya tidak pernah tetap. Kouki juga tidak pernah masuk sekolah lagi sejak saat itu – dari dulu memang dia jarang ke sekolah sejak ayahnya meninggal. Dia memakai waktu paginya dengan bekerja di toko kelontong kakek tua – tentu saja awalnya kakek itu menolak karena Kouki jauh dibawah umur semestinya pekerja – dan siang hari menjadi tukang cuci piring di sebuah kedai ramen.

Ibunya tidak tau. Ibunya tidak boleh tau karena uang yang tiba-tiba muncul di atas meja makan itu adalah hasil kerja kerasnya. Ia tidak ingin menghancurkan khayalan ibunya. Kouki tidak ingin kehilangan siapapun lagi. Kouki bertahan dengan kepura-puraan ini karena dia juga tidak tau harus bagaimana lagi.

Tapi dunia solah masih ingin bermain-main dengan Furihata Kouki. Keadaan ibunya semakin hari semakin tidak stabil. Rumah yang dulunya tenang karena hanya berpenghuni dua orang, kini kian hari ramai diisi teriakan ngilu dari wanita satu-satunya di rumah itu. Hal itu dulu tidak sering terjadi. Kadang ibunya memasuki mode histeris saat malam hari, saat menyadari ayahnya tidak ada disampingnya. Tapi hal ini semakin sering. Semakin terulang.

Hal ini membuat Kouki kadang ragu untuk berangkat bekerja. Keadaan ini semakin begitu sulit untuknya yang seharusnya masih menduduki kursi kelas 3 sekolah menengah pertama. Kouki semakin tidak paham. Tapi ia terus berjalan. Meski beban hidup semakin terasa berat di punggungnya.

Lalu tepat dua hari yang lalu, saat Kouki kembali dari tempat kerjanya, ia melihat sepasang mobil mewah terparkir di depan rumahnya. Dalam hati ketar-ketir karena takut yang datang adalah para penagih hutang. Tapi Kouki tidak bisa lari, karena ibunya ada di dalam. Maka dari itu, dia memberanikan diri untuk masuk ke dalam meski dengan kaki gemetar.

Satu hal yang Kouki sadari saat ia masuk ke dalam rumahnya adalah, bahwa yang datang berkunjung ke rumahnya saat ini adalah bukan orang biasa. Bukan para penagih hutang yang biasa. Melainkan beberapa orang yang memakai seragam jas, dan satu orang dengan rambut mencolok – satu-satunya yang duduk bersama dengan ibunya.

Saat mereka semua menyadari keberadaan Kouki, anak itu mundur selangkah. Merasa terintimidasi oleh tatapan yang sebagian besar seperti tak memiliki hati. Begitu dingin. Tapi ibunya memanggilnya. Menyuruhnya duduk di sisinya. Bagaimana Kouki bisa mundur?

Sebelum duduk, Kouki menunduk sopan sebagai pengganti salam. Kemudian hening sampai ibunya memutuskan untuk membuatkan teh di dapur. Meninggalkan si penakut Kouki diantara orang-orang dingin.

"Furihata Kouki," panggil pria berambut merah itu.

Kouki tersentak kaget lalu mengangkat wajahnya, menatap takut-takut pada orang yang memiliki aura kepemimpinan yang kuat di hadapannya.

"Saya turut berduka cita atas kematian ayah dan kakakmu. Saya menyesal baru dapat berkunjung saat ini." Pria itu berujar sopan namun ekspresi datarnya tak berubah banyak.

"Ka-kalau boleh tau, paman ini siapa?" tanya Kouki takut-takut.

"Saya adalah Akashi Masaomi. Teman semasa sekolah dulu dengan ayah dan ibumu. Kami berteman akrab saat itu."

"O-oh.." ujar Kouki. Dia tak tau harus memberikan tanggapan apa.

"Saya akan langsung pada intinya," Akashi berkata. Suasana menjadi semakin tegang dari sebelumnya. Kouki menebak ini adalah pembicaraan yang serius. "Saya mengenal baik Kuji dan Yuriko. Mereka teman yang telah banyak membantu saya semasa sekolah dulu. Segala hal tentang mereka adalah kenangan baik untuk saya.

"Maka dari itu saat mendengar kabar ini saya merasa sangat menyesal dengan renggangnya hubungan kami karena kesibukan masing-masing. Dan untuk membalas semua kebaikan mereka di masa lampau, saat ini saya datang untuk mengangkatmu, Furihata Kouki yang sekarang anak satu-satunya dari Kuji dan Fujiko menjadi anakku."

Kouki membulatkan matanya, tak percaya. Dia tidak mengenal orang ini. Bahkan ini pertama kalinya dia bertemu dengan sosok yang penuh dengan aura kekuasaan di depannya ini. Dan kini orang itu ingin mengangkatnya sebagai anak? Tapi ia masih memiliki seorang ibu.

Anak berambut brunet itu melirik ke arah dapur. Mengintip ibunya yang sedang bersenandung sambil menunggu air mendidih. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Lalu kembali ke tuan besar Akashi lalu berkata, "Ta-tapi aku masih punya ibu.."

"Saya tau mengenai keadaan ibumu."

Kouki reflek menaikkan pundaknya.

"Keadaan Fujiko saat ini, tidak mungkin bisa mengasuhmu. Tidak, justru saat ini keadaan sudah terbalik untukmu. Saya tau kamu yang telah mengurusnya."

Kouki menundukkan kepalanya. Kedua tangannya terkepal di pangkuan. Seperti anak yang telah ketahuan mencuri, Kouki seakan tak bisa membantah dan bahkan untuk berbicara dengan orang ini saja menjadi terlalu segan.

"Dengan kamu dan Fujiko ikut denganku, saya akan membayar semua biaya sekolahmu. Dan Fujiko akan saya bawa ke dokter terbaik di Jepang." Kouki memperdalam kepalanya. Ini adalah tawaran yang mengguirkan. Tapi Kouki takut jika mempercayai orang yang baru ditemunya saat ini.

"Sejujurnya saja, semua hutang Kuji ke beberapa rentenir telah saya lunasi." Perkataan itu sukses membuat Kouki mengangkat kepalanya dan menatap tuan besar Akashi dengan mata membola. Kouki membuka mulutnya, hendak berbicara namun dipotong oleh Akashi. "Tidak ada gunanya kamu protes. Karena bahkan dengan seluruh sisa umurmu pun belum tentu bisa melunasinya. Jika kamu ingin membalasnya, ikutlah denganku. Jadilah anakku. Itu satu-satunya pelunasan yang bisa saya terima."

Kembali hening. Kouki menimbang dalam bimbang. Sampai ibunya kembali dengan beberapa gelas teh yang masih mengepulkan asap. "Membicarakan apa sih? Sepertinya serius sekali."

Sambil menerima secangkir teh dari ibunya Kouki, sebuah senyum tulus terukir di wajah kaku Akashi Masaomi lalu berkata, "Bukan hal yang terlalu serius."

FIN

Mungkin para pembaca sudah mulai tau nih alur mau kemana ahahaha. Yang jelas chap depan sudah ada Sei!

Ayo kita main tebak-tebakan~ Apa reaksi Sei saat bertemu dengan Kouki?

Black : Part 2

Kouki menatap pemandangan luar mobil dengan wajah murung. Kemudian mendesis sat merasakan bekas cakaran di lehernya tiba-tiba terasa perih. Ia meraba lehernya. Tidak ada darah mengalir dari sana. Lalu ia melirik ke bawah. Terdapat ibunya yang sedang tertidur tenang di pangkuannya. Jejak air mata masih terlihat jelas dari sana.

Sudah Kouki duga, membujuk ibunya untuk meninggalkan rumah bukanlah usaha yang mudah. Sama sekali bukan. Ibunya sempat lepas kendali dan melukainya. Tapi inilah yang terbaik. Keputusan untuk menerima tawaran Akashi adalah keputusan terbaik untuk mereka berdua. Karena Kouki sangat menginginkan ibunya kembali normal. Tidak seperti ini.

Untungnya ada beberapa pria berjas asing lain yang membantu untuk menenangkan ibunya. Sampai sepuluh menit yang lalu ibunya masih menangis sesenggukan di pangkuannya. Saat ini tenang. Wanita itu tertidur. Tapi tidak tau jika nanti.