NARUTO PUMNYA MASASHI KISHIMOTO

Back to me, now! (hhibin)

Tenten X Gaara.S

Genre: ?

Rating: T

Note: Au, Typo, Dsb.

..

..

..

..

#Exit

Suasana dilapangan kali ini lebih dipenuhi tawa akibat kelakuan Tenten dan Kiba, tapi pada akhirnya Tenten berhasil menangkap Kiba kemudian mempiting kepalanya tanpa ampun dan membawanya kearah lapangan dimana teman-temannya menunggu mereka. Ia merasa marah akibat kejadian beberapa menit yang lalu, Gai-sensei hanya bisa tertawa melihat kelakuan satu kelas yang lumayan aneh dan kompak sekaligus.

"Tenten aku mohon ampun, iya aku salah. Aku minta maaf ya," Kiba berucap dengan nada bersalah yang ia buat dengan berlebihan.

"Tidak mau. Kau mempermalukan aku Kiba-kun, aku malu sekali asal kau tau," Tenten mempiting kepala Kiba lagi dengan lebih kencang sampai menyebabkan Kiba sedikit terbatuk-batuk.

"Uhuk... Uhukk.. Ka-u me-mebuat..ku ti..dak Bi.. Uhukk..."

Tenten reflek melepaskan Kiba karena Kiba mulai terbatuk-batuk sekarang.

"Gomen-gomen. Aku terlalu keras ya?" Kiba masih terbatuk hingga menyebabkan wajahnya juga memerah. Tenten langsung panik ketika melihat Kiba yang batuk-batuk seperti itu. Tanpa pikir panjang, ia meninggalkan Kiba dan berlari kearah botol minum yang dikumpulkan disamping lapangan. Kiba yang melihat Tenten pergi menjauh pun langsung saja berlari kencang dengan diiringi tawa khasnya. Tenten yang mendengar tawa Kiba langsung menengok kebelakang, ia tidak menyangka ia dibohongi oleh Kiba. Rasa ibanya pun dipermainkan Kiba, dasar Kiba manusia menyebalkan.

"KIBAAAAA!!!!!" Tenten berteriak dengan sangat kencang karena sudah sangat kesal dengan Kiba. Dengan kecepatan yang penuh, Tenten berlari dengan kencang hal itu sendiri pun tanpa disadari Tenten. Ia juga sendiri tidak menyangka sudah ingin menyaingi Kiba, hanya beda beberapa langkah Tenten langsung menarik leher baju Kiba dan...

Bruk.

Dua manusia ini jatuh kebelakang (ngejengkang) bersamaan. Dan langsung saja disambut tawa dari para teman-teman sekelasnya yang memerhatikan kelakuan mereka berdua dari jarak yang lumayan jauh.

Tenten yang sudah mendapatkan Kiba langsung menariknya bangun tanpa memberinya ampun.

"Dasar kau Kiba jahat! Lihat aku tidak mengampuni mu," Kiba yang masih meringis tersentak kaget dengan gerakan tiba-tiba Tenten yang tau-tau sudah ada berada dipundaknya.

"Ayo jalan. Awas kalau kau menjatuhkan ku tiba-tiba, aku akan mencekik mu dari sini," ucap Tenten dengan kesal dan berpura-pura mencengkik Kiba. Kiba yang sadar jika Tenten tidak bercanda hanya mengangguk mengerti.

"Baguslah. Cepat jalan ketengah sana," Tenten menunjuk tengah lapangan yang masih berisi teman-temannya. Kiba pun mengerti dan mulai berjalan pasrah, hampir beberapa menit berjalan, mereka akhirnya tiba ditengah lapangan. Baru juga Tenten turun dari gendongan Kiba, tau-tau sudah mendapatkan tawa yang meledak dari teman-temannya.

"Hahahah Tenten kau itu terlalu baik hanya minta gendong saja, harusnya kau jenggut rambut kepalanya sampai jam istirahat. Bayangkan saja, kau itu sudah sering dipermalukan Kiba Tenten," ucap Ino mengompori. Tenten yang juga baru sadar kalau ia sering dipermalukan Kiba pun langsung menjambak rambut coklat pria dengan marga Inuzuka ini.

Kiba yang tidak tau jika Tenten mengikuti ajaran Ino tidak bisa mengelak lagi. Ini semua sudah diluar dugaanya. Bukannya menolong Kiba, semua teman sekelasnya malah sibuk tertawa termasuk gurunya sendiri. Dasar guru yang langkah memang.

"Sudah-sudah jangan bertengkar lagi. Kita berlanjut ke pelajaran berikutnya," Gai-sensei berusah menenangkan muridnya. Tenten yang masih punya rasa kasihan pun melepaskan jenggutan tangannya dari kepala Kiba,"Aku ini baik Kiba. Kalau tidak baik sudah pasti aku akan menjabakmu sampai jam istirahat nanti."

"Iya-iya. Kau itu manusia paling baik, iya paling baik memang. Sampai-sampai mempermainkan perasaan orang terus," ucapan Kiba mendapat tanda tanya besar dari Tenten. Dan orang yang berada disamping Tenten hanya mendengarkan percakapan dua manusia berisik ini

"Memangnya aku pernah? Kau jangan menyebarkan gosip. Huh, dasar tukang gosip."

Kiba menatap ke arah Tenten dan Gaara bergantian. Orang yang mendengarkan dua orang ini dari tadi adalah Gaara. Pemuda yang selalu setia walaupun tidak pernah diperhatikan, kasiaanya kau Sabaku Gaara.

"Hey kau itu sering mempermainkan perasaan orang disamping mu itu tuh," Kiba menunjuk Gaara. Gaara yang ditunjuk Kiba langsung mentoyor kepala Kiba, "Jangan asal bicara kau Kiba, jangan dengarkan dia Tenten."

Tenten pun mengangguk membenarkan perkataan Kiba, ia juga ikut-ikutan mentoyor kepala Kiba lagi. Kiba menatap Tenten dengan tidak percaya, orang ini sudah disindir pun tidak sadar? Harus diapakkan gadis disampingnya ini agar peka dan sadar coba?

"Dasar tukang gosip," ucapan Tenten barusan mendapatkan toyoran dari arah depan dan belakang. Siapa lagi yang main tangan kalau bukan Ino dan Shikamaru. Tenten yang tidak terima menatap Shikamaru dan Ino bergantian, ada rasa emosi juga ketika ia ditoyor padahal tidak melakukan hal yang salah sama sekalih.

"Apa? kau tidak terima? Harusnya kau itu dilempari granat dulu baru sadar. Benarkan Shikamaru?"

"Iya benar. Kalo tidak sadar juga, kita lempar saja di dari atap sekolah. Ide yang bagus kan Kiba?" Shikamaru langsung melakukan highfive dengan gembira bersama Kiba. Tenten yang masih bingung dengan teman-temannya ini hanya bisa berfikir dengan keras, memangnya dia tidak peka terhadap apa?

Back To Me, Now!!

"Gaara memangnya aku pernah mempermainkan perasaan mu?"

Itu adalah pertanyaan ke-5 kali yang keluar dari mulut Tenten sepanjang mereka berjalan pulang kerumah. tapi alhasil, pertanyaan itu semua tidak dijawab Gaara. Ia sudah lelah terus-terusan membuat kode untuk wanita disampingnya, sedangkan yang diberi kode tidak sadar-sadar. Semua orang itu punya batasnya masing-masing kan?

"Gaara~"

Huft.

Gaara tidak bisa menolak jika nada bicara Tenten sudah berubah menjadi manja seperti ini. Sepertinya batasan yang tadi itu harus dicoret, karena Gaara ini tidak punya batasan kesabaran menunggu wanita disampingnya ini.

"Hn."

Tenten menarik dasi Gaara agar menengok ke arahnya. Gaara yang ditarik hanya bisa pasrah dan menengok ke arah Tenten.

"Kaki ku hari ini pegal dan lututku juga masih sakit karena jatuh tadi. Rasanya aku ingin duduk," Gaara yang mendengar penjelasan Tenten mulai melihat keadaan disekitarnya.

Penuh.

Itu adalah keadaan yang sesuai dengan kenyataan hari ini. Bagaimana tidak penuh, mereka pulang disaat para orang dewasa pulang kerja dan dapat diartikan sekarang ini adalah jam sibuk. Lagi pula, mayoritas orang jepang itu semuanya selalu menggunakan transportasi umum seperti kereta sekarang ini, jadi wajar lah penuh.

"Kita turun distasiun berikutnya dan naik taksi. Kalau tidak kuat berpegangan saja padaku."

"Aku tidak mau. Kalau naik taksi itu macet dan lama sampai rumahnya."

Gaara menghela nafas lagi. Susah untuk berbicara dengan Tenten ketika ia itu sudah dalam mood lelah seperti sekarang. Gaara tanpa pikir panjang langsung menarik pundak Tenten dan memeluknya dari samping, Tenten yang sudah sering sekalih dipeluk seperti ini oleh Gaara pun melepaskan pegangan tangannya pada tiang yang diatas dan memeluk Gaara dari samping.

Satu hal yang selalu Tenten sukai dari hal ini adalah ...

Nyaman.

Kenyamanan yang selalu ia dapatkan dari Gaara.

"Tidurlah. Kau ini kan putri tidur yang bisa tidur dimana saja."

Tenten terkekeh dalam pelukan Gaara. Dan ia sekarang hanya bisa menurut dan tidur dalam keadaan berdiri.

Tanpa mereka sadari, orang-orang yang ada dikereta memperhatikan mereka dan seorang pria yang tepat duduk didepan Tenten Gaara tiba-tiba bangun mempersilahkan Tenten untuk duduk.

"Duduklah. Pacarmu sepertinya sakit, dari tadi kakinya bergetar terus."

Pacar?

Gaara hanya bisa tersenyum kecut mendengar orang tersebut menyebut dirinya pacar Tenten.

"Ah, terimakasih. Iya dia memang sedang sakit, Tenten duduklah."

Tenten yang masih setengah sadar pun menurut dan duduk ditempat yang orang tadi berikan. Ia memeluk pinggang Gaara dan tertidur lagi.

"Terimakasih banyak," ucap Gaara sopan.

"Tidak usah seperti itu. Aku kasian melihatnya, karena aku punya anak perempuan juga dirumah. Aku takut jika dia sakit seperti pacarmu sekarang tidak ada yang menolongnya."

"Oh, seperti itu."

"Iya. Mudah-mudahan, anakku bisa punya pacar yang bisa menjaganya sama seperti mu nak."

Gaara terkekeh mendengar pernyataan pria paruh baya disampingnya, orang tua seperti ini saja mau jika anaknya memiliki pacar seperti Gaara, tapi kenapa Tenten malah tidan menganggap Gaara sedikitpun?

Dasar wanita tidak peka!

"Ah iya. Semoga saja paman."

Pria paruh baya tersebut melihat papan pengumuman yang tepat berada di atasnya.

"Aku pergi dulu nak, sudah ingin turun hehe. Jaga pacarmu baik-baik."

Gaara membungkuk hormat pada pria paruh baya ini.

"Iya paman. Terimakasih atas bantuannya, hati-hati paman."

Pria paruh baya ini mengangguk dan melambaikan tangan kearah Gaara. Setelah kepergian pria paruh baya ini, Gaara menatap Tenten yang masih memeluknya.

"Aku lelah. Haruskah aku berhenti sekarang, Tenten."

Tes.

Air mata itu untuk kesekian kalinya jatuh lagi.

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

TBC.