NARUTO PUMYA MASASHI KISHIMOTO
I KNEW IT [hhibin]
Pairing : HINATA.H x SASUKE.U
RATE : M
NOTE : OCC, TYPO, AU.
#
#Perjanjian dimulai
Dikediaman Akatsuki mendadak menjadi lebih ramai dibandingkan kemarin, dikarenakan orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga.
"Waah kau bilang kan besok baru kesini, dan kenapa sekarang malah ada disini?" tanya Hidan yang baru datang bersama Kakuzu dan juga Deidara.
"Iya, tapi karena sekarang ada waktu luang lebih baik aku kesini. Kebetulan juga aku ada urusan dengan Konan-Neesan. Bagaimana kabar kalian?" tanya Hinata pada Kakuzu dan juga Hidan.
"Yah seperti biasa," jawab Kakuzu mewakili. "Kau datang dengan siapa?" tanya Hidan Deidara berbarengan.
"Dengan ku," jawab Itachi yang duduk disebelah Hinata. Mereka yang ada disana hanya tersenyum menggoda, tidak lupa Deidara yang semangat menyenggol lengan Itachi. Sedangkan, Itachi menatap Deidara dengan dingin.
"Jadi kau akan menginap kan Hinata?"
Hinata hanya diam tidak menjawab pertanyaan Pein.
"Aku rasa dia tidak akan menginap, iyakan?" tanya Sasori pada Hinata. Hinata hanya mengangguk tersenyum. Jadi itulah jawaban Hinata, tidak menginap.
"Yah, yasudah tidak apa yang terpenting Hinata datang dan masih mengingat kita tidak seperti yang lainnya," ucap Kisame. Yang lainnya mengangguk setuju dengan perkataanya.
"Ada urusan apa kau mencari ku Hinata-chan?" tanya Konan dari dapur dengan membawa minuman kaleng dan makanan ringan.
"Emm, aku sekarang membutuhkan pekerjaan. Bisakah aku menjadi cady di tempat golf Neesan? Aku bekerja sebagai pelayan ditempat Pein-nii tidak cukup dengan gaji segitu. Bisakah Neesan?" tanya Hinata ragu. Konan tampak berfikir.
"Kalau tidak cukup sebagai pelayan, aku akan menaikan jabatanmu sebagai manager kafe dikafe utama. Tidak usah kau menjadi cady, bisa-bisa orang disana bukannya ingin bermain golf, tapi malah ingin memainkanmu," ucap Pein tegas.
"Yang dikatakan Pein benar Hinata," ucap Zetsu yang tiba-tiba muncul.
"Tapi, aku tidak setara menjadi manager kafe. Lihat kan yang menjadi manager itu mempunyai ijazah lulusan S1 sedangkan aku belum mampu menebus ijazah kuliahku. Aku rasa aku banyak merepotkan Pein-nii. Jadi lebih baik tidak usah, aku juga tidak enak dengan karyawan yang lain."
Beberapa saat mereka terdiam.
"Yasudah aku izinkan dan benar yang dikatakan Hinata Pein. Jika kau seperti itu kau malah membeda-bedakan pegawaimu sendiri."
Semua yang ada disana hanya mengangguk mengerti ketika mereka mendengarkan percakapan Konan, Pein dan juga Hinata. Dan mereka rasa juga perkataan Konan ada benarnya, jika Pein menjadikan Hinata sebagai manager kafe pasti semua karyawannya akan protes dan mulai melakukan unjuk rasa.
"Yasudah lah, tapi jika ada yang memperlakukan mu dengan kurang ajar, laporlan pada kami semua," ucap Pein dingin dan tegas. Semuanya langsung mengangguk setuju. Tidak lupa Tobi yang mengelus rambut Hinata.
"Arigato," ucap Hinata menyeka air matanya yang meluncur dengan bebasnya tanpa aba-aba. Rupanya ia terharu dengan perkataan semua teman-temannya.
"Tidak usah menangis."
Itachi merangkul Hinata, sedangkan Hinata tersenyum melihat perlakuan Itachi padanya.
"Hinata, selama kau tidak ada Itachi seharian tidak keluar dari kamarmu. Dia seperti kehilangan sesuatu dalam dirinya."
Ucapan Sasori sukses membuat semua yang ada disana menahan tawa. Bagaimana tidak menahan tawa, itu adalah gaya Itachi ketika ia sedang rindu dengan sosok yang ia cintai itu.
"Benarkah?" tanya Hinata berpura-pura kaget, kemudian ia melepaskan rangkulan Itachi. Sasori mengangguk mantap.
"Jangan dengarkan dia Hinata," ucap Itachi mengelak, semua orang yang ada disana langsung tertawa melihat tingkah Itachi yang salah tingkah ini. Padahal memang kenyataanya ia memang tidak keluar setelah Hinata pergi, makan malam pun ia lewatkan. Padahal Konan sudah membujuknya tapi, Itachi tetap tidak ingin keluar juga. Suasana di ruang tengah Akatsuki ini dipenuhi dengan canda dan tawa.
Diperjalan pulang dari rumah sakit, Sasuke masih saja memikirkan perkataan ayahnya.
(Putuskan saja dia, dan menikah lah dengan Sakura).
Setiap mengingat kata-kata itu dia selalu ingin muntah.
Menikah dengan Sakura?
Gadis itu adalah gadis licik yang menyebabkan hubungannya dengan Ino putus ditengah jalan.
"Aku sudah tau sifat mu, Tousan."
Sasuke tersenyum licik. Senyum yang ia keluarkan sama seperti senyum ayahnya tadi. Beberapa menit kemudian ia sampai di halaman parkiran apartemennya dan mulai berjalan cepat untuk sampai ke apartemennya di lantai 23 untuk bertemu seseorang. Setelah beberapa menit ia akhirnya sampai diapartemennya dan pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah sepi dan kosong. Ternyata wanita yang dicarinya tidak ada, apa dia tidak punya fikiran hinggah jam 11 malam belum pulang juga. Dengan sedikit emosi Sasuke langsung menghubungi Hinata. Nomor itu ia dapatkan dari agen yang menjual Hinata.
Maaf nomor yang anda tuju sedang sibuk..
Tut.
Apa? malah nomor yang diberikan agen itu salah. Apa maksudnya? Sambil menahan emosinya ia duduk di sofa menunggu Hinata. 5 menit kemudian ia mendengar pintu masuk rumahnya terbuka.
"Tadaima," ucap Hinata ketika masuk rumah. Sasuke hanya memperhatikannya dengan dingin tanpa menjawab sedangkan, Hinata hanya diam ditempat tanpa bisa berkata apapun pada Sasuke.
"Ini sudah malam, kenapa kau baru pulang. Kemana saja sampai selarut ini baru pulang," ucap Sasuke dingin dan mulai bangun dari duduknya. Hinata hanya diam ketika ditanya Sasuke.
"Apa orang tua mu tidak mengajarkanmu agar tidak pulang malam," ucap Sasuke kemudian melipat tangannya didepan Hinata bagaikan kekasih yang sedang memarahinya.
"Gomenasai," ucap Hinata pelan tanpa menatap mata Sasuke.
"Mana ponsel mu," ucap Sasuke menjulurkan tangannya. Hinata hanya menatapnya dengan tatapan bingung.
"Aku bilang ponselmu," ucap Sasuke sekalih lagi. Hinata akhirnya memberikannya dengan ekspresi yang masih bingung. Sasuke mengambilnya dengan tatapan yang sama bingungnya dengan Hinata tadi, ia bingung karena melihat handphone milik Hinata. Sebegitu tidak punya uangkah hinggah ia tidak bisa membeli handphone yang lebih bagus dan modern dari ini?
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu, jadi duduklah".
Hinata hanya menurut dan duduk seperti apa yang dikatakan Sasuke padanya.
"Ini ponselmu, aku sudah memasukan nomorku. Jika aku menghubungi mu angkat jangan sekali-sekali kau mencoba menolak panggilan ku," perintah Sasuke dingin. Hinata pun mengangguk mengerti.
"Aku tadi bertemu dengan Tousanku, dan ia membicarakan soal pernikahanku. Aku sudah tau jika aku mengaku memiliki kekasih ia pasti akan bilang 'putuskan saja dia'. Maka dari itu aku ingin kontrak kita dimulai dari sekarang."
Hinata langsung kaget ketika orang didepannya ini ingin melakukan kontrak itu sekarang.
"Se-sekarang?" tanya Hinata tidak percaya.
"Iya dan ini suratnya cepat kau tandatangani, jika salah satu dari kita ada yang melanggar akan kena denda," jawab Sasuke menyerahkan surat yang berisikan kontraknya dengan Hinata.
"Aku sudah membebaskan sepupumu dari penjara, dan sekarang ia tinggal di rumah temanku. Dan soal Tousan mu, aku sudah mengurusnya. Seminggu lagi ia akan melakukan operasi pencakokan sumsum tulang belakang, karena aku tau jika kau dan adikmu tidak cocok sumsunya dengan Tousanmu. Aku ingin mandi, aku harap setelah aku keluar dari kamar mandi kau sudah menandatanganinya."
Setelah mengucapkan itu Sasuke pergi kekamar mandi meninggalkan Hinata yang masih bingung bercampur takut juga. Disatu sisi ia takut karena karena harus memberikan keperawananya pada orang yang ia tidak cintai dan disatu sisi ia juga senang karena sepupu nya bebas dan ayahnya akan segera sembuh. Hinata mulai membaca satu persatu kontraknya.
1. Melakukan pekerjaan rumah layaknya seorang wanita.
2. Tidak ikut campur dalam urusan pribadi.
3. Pihak wanita boleh bekerja.
4. Harus melakukan hubungan badan ketika ingin mendapatkan anak.
5. Mengungkapkan statusnya ketika bertemu dengan teman, keluarga dsb.
6. Ketika sudah positif mengandung, pihak pria akan menikahinya.
7. Setelah melahirkan mereka akan bercerai.
Setelah membaca surat kontrak itu Hinata langsung menandatangani surat itu tanpa ragu.
"Itachi-kun, Gomenasai," ucap Hinata pelan.
Tanpa sadar ia menangis jika mengingat Itachi. Setelah menandatanganinya Hinata langsung menuju kamarnya dengan Sasuke. Ia mulai mengganti bajunya dengan piyama yang sering ia pakai. Setelah selesai mengganti pakaiannya ia langsung naik ke ranjangnya dan merebahkan dirinya di atas kasur.
Ceklek.
Pintu kamar mandi pun terbuka, memperlihatkan Sasuke yang hanya mengenakan handuk dipinggangnya. Itu memperlihatkan tubuhnya yang perfect dan bisa dibilang sangatlah perfect.
"Kau sudah menandatanganinya?" tanya Sasuke yang mulai berjalan kearahnya.
Hinata hanya diam dan malah membelakangi Sasuke. Sasuke mulai duduk disamping ranjangnya dan mengelus pundak Hinata dengan lembut bagaikan barang antik yang takut rusak. Hinata hanya diam bercampur takut dengan perlakuan yang dilakukan Sasuke.
"Aku tidak meminta banyak padamu, ini semua menguntungkan antara kita berdua. Aku harap kau bersikaplah profesional," ucap Sasuke kemudian bangun dari ranjangnya menuju lemari pakaian. Ia mengambil kaos hitam dan celana hitam pendek. Setelah selesai memakai baju ia mulai naik keatas ranjangnya dan membelakangi Hinata. Beginilah posisi tidur mereka yaitu, saling membelakangi.
"Jika kau sudah siap, baru kita melakukannya," ucap Sasuke mulai memejamkam matanya perlahan.
"Hmm," ucap Hinata pelan. Ucapan Hinata masih bisa didengar oleh Sasuke walau samar-samar.
Malam ini mereka tidak melakukannya karena Hinata memanglah belum siap dan masih harus mengurus masalahnya dengan Itachi.
Matahari mulai meninggi menandakan hari sudah mulai pagi. Tapi pergerakan dua manusia ini belum ada yang menandakan akan bangun juga. Hampir pukul 06.10 belum ada yang bangun juga, hinggah alaram milik Sasuke berbunyi baru salah satu dari mereka ada yang bergerak merubah posisinya.
Perlahan mata lavender itu terbuka, sesekali mengejap-ngejapkan matanya menyesuaikan cahaya yang ada diruangan ini. Hangat. Inilah yang dirasakan Hinata ketika seseorang dibelakangnya menggenggam tangannya dengan erat bagaikan orang yang takut ditinggal. Hinata mencoba melepaskan tangan Sasuke perlahan, tapi gagal. Tangan Sasuke lebih kuat menahannya, didalam pikiran Hinata sekarang adalah apakah orang ini sadar atau tidak.
"Sasuke, bangun," bisik Hinata. Ia tidak ingin membangunkan seseorang dengan kasar ataupun keras. Hampir 1 menit tidak ada respon dari Sasuke.
"Sasuke, bangun. Kau tidak pergi kerja?" bisik Hinata lagi.
Sekarang mulai ada pergerakan dari Sasuke yang menandakan akan bangun. Mata onixnya perlahan terbuka, hal yang pertama ia lihat adalah wajah polos Hinata yang masih menatapnya.
"Kenapa kau menatapku?" tanya Sasuke kaget tapi dengan ekspresi dingin.
"Aku hanya mencoba membangunkanmu," jawab Hinata jujur.
"Kau mandi duluan."
Sasuke tidur lagi setelah menyuruh Hinata untuk mandi. Merasa tidak ada pergerakan Hinata bangun dari ranjang iapun membuka matanya lagi dan menatap Hinata dengan kesal bercampur bingung.
"Kenapa kau masih disini?" tanya Sasuke kesal. Hinata tidak menjawab, ia hanya menunjukan tangannya yang terus digenggam erat Sasuke. Spontan Sasuke langsung melepaskannya.
"Dasar," ucap Hinata kesal kemudian menepuk pipi Sasuke seperti biasanya tanpa sadar. Sepertinya itu adalah gerakan refleks Hinata, ia juga nampaknya sudah lupa kejadian semalam. Hinata langsung pergi mengambil handuk dan masuk kekamar mandi seperti yang Sasuke bilang. Sasuke hanya bisa memandangi punggung Hinata yang sudah menghilang dibalik pintu.
"Kapan aku menggenggam tangannya?" tanya Sasuke sendiri.
Drrt,Drrt.
1 pesan baru.
From: Itachi.
Kau masuk kantor, Tousan yang menyuruhmu.
Sasuke hanya membacanya tanpa ada niatan ingin membalas pesan kakaknya tersebut.
Krek...
Pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan Hinata yang mengenakan handuk dan rambutnya yang basah sehabis keramas tersebut. Didalam pikiran Sasuke wanita ini adalah wanita yang ia tau mandinya paling cepat ditambah lagi ia kramas. Sasuke yang mandi biasa saja butuh 30 menit, bagaimana wanita didepannya cepat sekalih mandinya ditambah keramas pula?
Hinata yang melihat tatapan aneh Sasuke lansung mengeratkan handuk yang ia kenakan sekarang.
"Sa-sana mandi," usir Hinata setengah gugup karena ditatapan Sasuke sedangkan Sasuke hanya menurut dan bangun dari ranjangnya menuju kamar mandi. Hinata langsung membuka lemari dan mengambil kaus biru, jaket dan celana jeans hitam serta pakaian dalam. Ia mulai memakainya. Setelah selesai ia berjalan menuju kamar mandi dan mengetuk pintunya.
"Ingin makan apa?" tanya Hinata. Ia langsung melaksanakan apa yang ada didalam surat perjanjiannya semalam.
"Terserah," ucap Sasuke dari dalam kamar mandi. Terserah? apa yang akan ia masak kalau terserah.
Dengan cepat Hinata menuju dapur untuk melihat bahan-bahan yang ada. Merasa bahan-bahan yang butuhkan ada ia mulai memasak. Hampir 30 menit barulah Sasuke keluar dari kamarnya mengenakan setelan jas Hitam dan berjalan menuju Hinata.
"Kau memasak apa?" tanya Sasuke kemudian duduk dimeja makan.
"Aku hanya memasak sup Miso, ikan bakar, dan telur gulung," jawab Hinata menjelaskannya.
Sasuke hanya membentuk huruf 'o' dari mulutnya. Ia mulai memakan nya, Hinata yang berdiri didepannya memerhatikan dengan serius karena ia penasaran jawaban apa yang akan keluar dari mulut Uchiha ini.
"Bagaimana?" tanya Hinata.
"Lumayan," jawab Sasuke dan memakan nya lagi. Ia memakannya dengan lahap, karena ini pertama kalinya lagi ia sarapan dengan menu masakan rumah lagi. Pasalnya setelah ia tinggal berpisah dengan keluarganya ia makan masakan siap saji terus.
15 menit kemudian mereka berdua selesai sarapan.
"Kau kerja dimana? Aku akan antar."
"Tidak usah, kau bilang kan jangan ikut campur urusan pribadi," ucap Hinata pergi meninggalkan ruangan makan menuju kamarnya dan keluar lagi dengan membawa tas.
"Cih," ucap Sasuke berjalan menuju pintu keluar. Sejujurnya itu adalah penolakan yang ia terima pertama kali dari gadis yang menurutnya biasa saja.
"Tunggu, ini ponselmu," ucap Hinata menyerahkan iphone milik Sasuke dan kemudian pergi berjalan mendahului Sasuke.
"Hey," panggil Sasuke. Merasa ada yang memanggil Hinatapun menengok kearah Sasuke.
"Nanti malam siap atau tidak, kau harus tetap siap Hyuga," ucap Sasuke tersenyum sedikit dan berjalan mendahului Hinata.
Hinata hanya cengo akan perkataan Sasuke. Ia masih berdiri ditempat sambil memikirkan perkataan Sasuke barusan.
Drrt..Drrt
1 Pesan baru.
From: Konan-Neesan.
Itachi sudah menunggumu di depan halte bus.
"A-apa?" ucap Hinata tidak percaya dan kaget. Setengah berlari ia mengejar Sasuke kearah lift.
"Kau kearah mana?" tanya Hinata canggung. Ia sebenarnya malu untuk menanyakan itu, pasalnya ia sudah mengucapkan kata-kata tadi tapi mau bagaimana lagi? Ia sekarang sedang terburu-biru. Sasuke hanya tertawa meremehkan melihat wanita didepannya menjilat ludahnya sendiri.
"Tidak boleh ikut campur dalam urusan pribadi." Hinata hanya mendengus kesal mendengar jawaban dari orang yang ada didepannya ini. Sakit ternyata jika ucapan kita sebelumnya diucapkan lagi dan diperuntukan untuk diri sendiri.
Ting.
Liftnya sudah terbuka, Sasuke langsung masuk kedalam sedangkan Hinata hanya memandangnya kesal.
"Cepat masuk," ucap Sasuke menarik tangan Hinata agar cepat masuk kedalam lift. Pasalnya bukan hanya mereka berdua yang ingin naik tapi, ada 10 orang lainnya juga.
"Sasuke-kun ini siapa? Saudaramu/Kekasihmu?" tanya wanita paruh baya yang berdiri disebelah Sasuke, wanita ini dari tadi memerhatikan Hinata dari atas hingga bawah.
"Dia calon Istriku," ucap Sasuke tanpa ragu. Tidak lupa ia menggenggam tangan Hinata agar terkesan lebih romantis. Hinata hanya bisa tersenyum kaku ketika Sasuke menggenggam tangannya.
"Wah cantik, tapi bukankah kabar yang ku dengar kau akan menikah dengan putri dari keluarga Haruno?" tanya lagi.
"Tidak, itu hanya isu," jawab Sasuke. Wanita paruh-baya ini hanya mengangguk tersenyum kearah Hinata.
"Hinata Hyuga, senang bertemu dengan anda," ucap Hinata memperkenalkan diri didepan wanita paruh-baya ini. Wanita itu tersenyum dan balik memperkenalkan dirinya.
Kling.
Lantai B1
Mereka semua turun tidak lupa Hinata yang mengucapkan salam perpisahan pada wanita itu dan berjalan mengikuti Sasuke yang sekarang posisinya masih menggengam tangannya.
"Bilang kau ingin kemana?" tanya Sasuke dingin. Ia melepaskan genggaman tangannya dengan Hinata dan membukakan pintu mobilnya untuk Hinata.
"Aku hanya menumpang ke haltes bus depan," jawab Hinata memakai sabuk pengamannya.
Tanpa banyak tanya Sasuke langsung masuk kedalam mobilnya dan menyalakan mesin mobilnya pergi menuju halte bus yang dituju Hinata. Hanya butuh 8 menit untuk sampai ke halte bus jika menggunakan kendaraan.
"Arigato, hati-hati," ucap Hinata tersenyum tidak lupa lupa menepuk pipi Sasuke lagi kemudian, keluar dari mobil Sasuke. Sepertinya Hinata tidak sadar lagi jika ia menepuk pipi Sasuke dan membuat pria yang ia tepuk pipinya diam tanpa bisa berkata apapun. Sasuke diam bukan berarti ia kaget, ia diam karena Hinata tidak pernah canggung ketika menepuk pipinya, padahal Ino yang mantannya saja kadang canggung jika sedang berdua dengannya tapi kenapa wanita ini tidak? Apa ia sering melakukan ini pada pria lainnya atau itu gerakan refleksnya? Ia jadi kesal jika pemikiran pertamanya benar. Berarti wanita itu sering melakukannya pada orang lain. Kenapa ia jadi kesal jika Hinata melakukannya bukan hanya dengannya saja?
Dengan kasar Sasuke menepuk pipinya sendiri agar sadar bahwa mereka hanya rekan kerja tidak lebih. Sasuke langsung menyalakan mobilnya agar tidak memikirkan soal tadi, ia sekarang benar-benar pergi meninggalkan Hinata tapi dengan kecepatan yang lambat agar masih bisa memerhatikan Hinata lewat kaca spionnya. Ia jadi penasaran Hinata akan pergi kemana.
Beberapa menit memerhatikan Hinata lewat kaca spionnya, muncul lah sebuah mobil sport hitam yang tepat berhenti di depan Hinata. Setelah mobil itu datang Sasuke langsung memberhentikan mobilnya dan memerhatikan mobil itu dengan serius.
Apakah Hinata menunggu mobil itu? Hinata tersenyum ketika kaca mobil itu terbuka, siapa orang yang ada didalam itu yang menyebabkan Hinata tersenyum lebih manis dari biasanya. Manis? sejak kapan Sasuke menyebutnya manis. Sasuke langsung menepuk pipinya lagi agar sadar.
Sakit.
Berarti ia sadar jika ia menyebutnya manis. Kaca yang digunakan mobil itu terlalu gelap jadi ia tidak dapat melihat seseorang yang ada didalamnya. Tanpa ragu Hinata langsung menaiki mobil itu dan pergi melewati mobil Sasuke yang masih diam ditempat. Merasa tambah penasaran Sasuke mulai mengikuti mobil yang ditaiki Hinata tersebut. 15 menit mengikuti mobil itu, mobil itu akhirnya berhenti tepat didepan Hotel berbintang 5.
Hinata pun turun dan mobil itu mulai menuju parkiran bawah.
"Apa ini pekerjaannya? Cih, aku tidak menyangka."
Sasuke langsung pergi meninggalkan tempat itu menuju kantornya tanpa tau siapa yang sedang bersama Hinata. Diperjalanan Sasuke masih saja memikirkan Hinata. Sebenarnya, wanita itu pekerjaannya apa?... menjadi wanita malam atau bukan. Tapi jika bukan kenapa ia pergi kehotel, tapi jika benar kenapa ia juga masih tersegel. Apa Konan membohonginya? Berarti ia memang harus mencobanya dan memerikasanya sendiri.
"Aku penasaran dengan mu Hinata Hyuga."
Sasuke akhirnya sampai di kantornya, melemparkan kunci mobilnyan pada salah seorang satpam disana. Ia berjalan cepat, rasanya emosinya sudah tepat di ujung kepalanya. Ingin rasanya ia memarahi seseorang yang menegurnya, tapi untungnya tidak ada yang menegurnya sama sekalih.
Sekarang Sasuke sudah berada tepat diruangannya. Baru beberapa menit ia masuk kedalam ruangannya, ia merasa ingin buru-buru pulang.
"Direktur hari ini rapat pemegang saham, tadi Kakak anda datang kesini dan menitipkan ini untuk anda. Aku permisi," ucap Sekretaris Sasuke dan menyerahkan sebuah kalung dan surat untuknya. Sasuke langsung membacanya. Baru beberapa kalimat ia baca, ia sudah kesal dengan isi surat yang diberikan Itachi untuknya ini.
"Sial, Itachi kau ...," ucapan Sasuke terhenti karena emosi yang ditahannya. Dengan kesal ia mulai merobek kertas itu dan membuangnya ke tong sampah didepannya.
#TBC.
Thanks yak yang udah baca :)
