Title: { Chaptered} MAMA's Legends

Genre: Yaoi, Fantasy, Romantic, Drama, OOC(Out Of Character, beda banget sama aslinya!)

Rating: Teen, PG-13

Cast:

EXO

Other cast:

SM's Member

Cari sendiri

Ps:

Desclaimer: All cast belong to their self and god. PLOT IS MINE ATHIYA064! Kesamaan tempat dan nama hanya sebuah rekayasa ataupun kebetulan!

Contact me on:

1. fb: athiya almas

2. wp: athiya064 . wordpress . com

Cerita ini hanya untuk yang menyukainya. Kalo gak suka jangan dibaca ya, DON'T BE A PLAGIATOR! TIDAK TERIMA BASH… this is just my imagination. RCL please^^

Happy reading

Canada, 08 November 2067

Kris berjalan cepat dengan langkah kakinya, sementara Tao hanya mengikuti dari belakang. Sebenarnya Tao sedikit merasa kedinginan, ini musim gugur. Dan Kanada adalah negara yang terkenal dengan keindahannya di musim ini. Tao yakin suhu udara pasti sekitar dibawah lima belas derajat. Kris tampak terlihat fabulous, Tao tahu gegenya itu memang seorang yang cukup fashionista.

Kris memesan sebuah taksi, lalu membukakan pintunya untuk Tao. Sementara ia sendiri duduk di depan di samping sopir. Kris menyebutkan nama-nama jalan yang tak dikenali oleh Tao, Tao sendiri sedari tadi mencoba diam. Akhirnya ia mengeluarkan sebuah earphone dari kantong bajunya, ia bersyukur setidaknya baterai ponselnya masih terisi penuh. Tao memilih mendengarkan lagu dan menatap ke arah jendela, melihat orang berlalu-lalang dengan baju-baju tebal, dan daun-daun kering yang gugur tersebar di sepanjang jalan.

Tao memandang takjub pada beberapa tempat yang menarik perhatiannya, ini pertama kalinya ia mengunjungi benua Amerika. Sebagian hidupnya ia habiskan di China, di tanah kelahirannya. Dan entah bagaimana kapsul sialan itu bisa berpindah menuju Korea, mungkin Tao akan mengutuk orang yang membawa kapsul tidurnya suatu saat nanti. Di Korea ia tak bisa dengan bebas mengunjungi kebun binatang yang letaknya tak sampai lima kilometer dari rumahnya, ia juga tak bisa menikmati kawasan budidaya bambu, yang jelas Korea sangat berbeda dari China yang memiliki begitu banyak penduduk namun memiliki keakraban satu sama lain.

Bukan berarti Tao tak menyukai Korea, hanya saja.. ia belum siap untuk meninggalkan tanah kelahirannya. Tapi sekarang, rasanya mustahil hanya untuk sekedar kembali ke China. Kekuatan aneh yang ia miliki mengganggu kenormalan hidupnya.

"Tao?" Tao menegakkan tubuhnya lalu melepas earphone yang ia kenakan. "Eh, kenapa?" tanya Tao, ia melihat Kris sudah berada di depan pintu taksi. Kris menggerakkan ibu jarinya, memberi isyarat agar Tao turun. Tao melihat sebuah pusat perbelanjaan, tak menyangka kalau Kris akan mengajaknya turun. Akhirnya Tao membungkukkan diri, meminta maaf pada sopir taksi yang mereka tumpangi karena ia tak kunjung keluar. Tao menjejeri langkah Kris, menatap lelaki yang lebih tinggi darinya beberapa senti itu bingung.

"Kita butuh baju ganti." Tao mengangguk lalu lagi-lagi memilih diam, ia tak ingin berbicara dan membuat orang-orang di sekitarnya menoleh karena ia menggunakan bahasa Mandarin yang tak semua orang bisa memahaminya.

Tao kembali mendengarkan lagu yang tadi sempat ia tunda, membiarkan Kris memilih. Tao tahu, Kris memiliki selera fashion yang bagus jadi ia tak perlu khawatir Kris akan membelikannya baju aneh. Tao melihat-lihat aksesoris dan topi-topi yang dipamerkan di etalase, Tao jadi ingat sudah berapa lama ia tak pergi berbelanja. Ia lahir di tahun 2001 dan mungkin masuk ke kapsul tidur tahun 2019, sejujurnya Tao bersyukur ia tak sadar lagi di tahun 2020, kalau ia ada di tahun itu entah apakah ia semangat dari gempa bumi yang Kyungsoo ceritakan.

. . .

TAO

Qindao, China.

17th July 2017

"Latihan hari ini selesai, kalian bisa pulang dan beristirahat. Terima kasih, dan sampai jumpa minggu depan. Oh ya, untuk anggota yang mau mengikuti camping ke gunung hari Minggu esok silahkan mendaftarkan namanya pada saya." Seorang lelaki tua dengan rambut yang mulai memutih karena umur menjelaskan. Kemudian lelaki itu melepas baju latihannya dan mengganti dengan sebuah kemeja garis-garis yang lebih santai.

"Guru!" lelaki tua yang dipanggil guru itu menoleh, seorang muridnya berlari-lari. "Jangan berlari-lari little Huang. Nanti kau bisa jatuh." Guru itu terkekeh, lalu punggung tangannya menyeka peluh yang mengalir di dahinya. "Eum guru, aku ingin ikut camping."

"Ikutlah." Guru itu menjawab, lalu mengambil tas jinjingnya yang berisi pakaian ganti dan beberapa bawaan yang lain. "Tapi, baba dan mama melarang." Gerutunya. "Sudah kuduga haha, kalau begitu biar aku yang berbicara pada orangtuamu."

"Benarkah?" gurunya itu mengangguk. "Kalau begitu, apa aku bisa menuliskan namamu di buku catatanku Huang Zi Tao?" Tao mengangguk, "Sudah pasti!"

. . . . .

"Guru! Kapan kita akan duduk dan menikmati bekal?" guru bernama 'Yang Lie' itu terkekeh. "Kita harus naik sampai anak tangga paling atas, baru disana kita bisa beristirahat sejenak. Sebentar lagi," guru Yang Lie menjawab dengan sabar, wajahnya terlihat begitu teduh.

"Guru sudah bilang sebentar lagi semenjak kita berangkat." Gerutu Mingjou teman Tao. Gurunya itu tidak menjawab dan malah menaiki anak tangga yang jumlahnya mungkin lebih dari seratus anak tangga itu dengan tegap, berbeda dengan sekitar dua puluh anak didiknya yang seperti kehabisan nafas.

"Tao, kau tidak lelah?" tanya Mingjou. "Uhm, tidak. Kenapa?" tanya Tao. "Si pak tua itu kadang tak memikirkan kita, kakiku terasa hampir lepas." Tao terbahak-bahak, "Mingjou, bukankah guru bilang. Dalam Wushu, Kungfu atau bela diri lainnya dibutuhkan kerelaan hati dan menghilangkan rasa dongkol agar energi positif senantiasa mengelilingi diri kita."

"Aish, iya, iya. Kau ini, memang tak ada bedanya dengan guru Yang Lie." Gerutu Mingjou, Tao hanya tertawa dan menggandeng telapak tangan Mingjou mendaki anak tangga yang seolah tak ada habisnya tersebut.

Akhirnya setelah lima belas menit kemudian, mereka sampai di puncak. Tao menghirup udara segar khas pegunungan dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia meletakkan tas ranselnya ke tanah dan merentangkan tangannya. "Sekarang, persiapkan diri kalian. Aku akan mengadakan ujian mendadak."

"APAAA?!" pekik Mingjou, ia yang paling keras. Hampir saja ia tersedak air mineral yang ia minum sendiri. "Mingjou, jangan banyak protes atau aku akan melawankanmu dengan Tao dan Choulin?" ancam gurunya, Mingjou langsung ciut nyali seketika.

Tao dan Choulin adalah ace dari perguruan wushu mereka, hanya saja Choulin terlihat sepuluh kali lipat lebih menakutkan daripada Tao. Kalau Tao memang memiliki wajah yang tegas dan sedikit menyeramkan, tapi sekali ia mengeluarkan suara mungkin orang-orang akan terkejut. Suara Tao lembut, berkebalikan dengan wajah garangnya.

Dan lagi Tao memang memiliki sifat yang sedikit kekanakan, mandi bersama temannya, tidur bersama kakaknya, dan ia juga suka sekali pergi ke kebun binatang. Mengunjungi hewan-hewan, terutama panda. Dan ia sangat beruntung hidup di China, meskipun populasi panda mulai punah tapi setidaknya jumlah panda di China masih cukup banyak dan itu membuat Tao bahagia.

Sementara Choulin, ia adalah anak dari seorang ahli wushu juga. Wajahnya garang dan lebih menyeramkan dari Tao, memiliki tinggi badan yang melebihi Tao, dan ia adalah tipe-tipe petarung. Tidak seperti Tao yang mempelajari wushu untuk olahraga dan sebagai penjaga dirinya. Choulin terlihat seperti orang berhati baja, begitu keras. Sudah beberapa kali ia mencederai lawannya selama bertanding, itulah mengapa mereka lebih menakuti Choulin daripada Tao. Padahal kalau saja Tao mau menunjukkan kekuatannya ia bisa lebih mengerikan dari Choulin, karena gerakan dan jurus-jurus Tao begitu akurat dan cepat. Hanya sekali Tao benar-benar menunjukkannya dan memaksimalkan penggunaan semua jurus yang ia kuasai, ketika pertandingan nasional. Dan ia keluar sebagai juara pertama, bahkan Choulin hanya menempati peringkat ketiga.

"Tao dan Choulin, aku mau kalian membuka pertandingan ini." Tao mengerjap terkejut, "Aku?" tanya Tao, sang guru mengangguk mengiyakan. Choulin mengeluarkan seringai tipis, ia selalu menunggu saat-saat untuk bisa melawan Tao. Karena bagi Choulin hanya Tao-lah yang bisa menjadi ancaman baginya. Terkadang Choulin benar-benar ingin mengalahkan Tao, karena meski teman-temannya lebih takut padanya daripada dengan Tao, bagi guru mereka Tao tetap nomor satu.

"Tak perlu lama-lama." Guru Yang Lie mengingatkan, Tao dan Choulin mengangguk. Tao membenarkan simpul tali sepatunya dan mulai memasang kuda-kuda. Mingjou memandang sedikit khawatir, Tao meraih sebuah tongkat yang tadi telah disiapkan gurunya, begitu pula Choulin. Mingjou takut karena hanya Tao-lah satu-satunya teman yang bisa dekat dengannya, dan Mingjou begitu mengagumi kemampuan sahabatnya itu. Mingjou yakin Tao bisa menang, hanya saja yang ia tak yakin bahwa satu dari fakta yang dimiliki temannya itu, Tao takut pada ketinggian. Dan kalau saja Choulin mendesak Tao lalu melakukan trik osoto-gari* (biasa digunakan dalam wrestling/sumo mengaitkan kaki dengan kaki lawan lalu membanting lawan) atau mendorong Tao dengan kaki, bahkan mungkin tongkatnya dan Tao akan jatuh...

"Ah tidak-tidak! Aku terlalu memikirkan." Mingjou menggeleng-geleng. 'Aku bukan pembaca masa depan, jadi aku tidak boleh sok tahu.' Batin Mingjou, meski ia tak bisa menghilangkan rasa khawatirnya, arena pertandingan ini berada di ketinggian yang cukup ekstrim dan tidak ada pagar pembatas di sekitarnya, jadi siapapun yang akan jatuh maka mereka sudah bisa dijamin akan mati sia-sia dibawah sana. Choulin menggerakkan tongkatnya dengan cepat, berusaha memukul tubuh Tao, tapi Tao menghindar dengan gesit.

Sesekali Tao menggerakkan kakinya, untuk membuat Choulin tersungkur. Tao berhasil menyerang Choulin dengan memukulkan tongkatnya ke ulu hati Choulin, namun ternyata Choulin lebih sigap. Dengan cepat lelaki yang lebih tinggi dari Tao tersebut bangkit dan setelah menyeringai karena menyadari posisi Tao yang terpojok, Choulin menendang leher Tao dengan kaki kanannya, Tao yang tak menyadari kecepatan kaki Choulin membelalak. Ia limbung dan tumitnya tergelincir dari pinggir arena. Tao menoleh, melihat dasar tanah yang tingginya lebih dari lima puluh meter di bawahnya.

"TAOOOOOOO!" entah itu jeritan siapa, Tao memejamkan matanya. Kalau memang Tuhan menakdirkannya mati hari ini, mau tidak mau ia harus siap–

'MAMA belum membiarkanmu mati secepat ini, Time Controller.' Tao ingin membuka matanya, ia penasaran mengapa ada suara yang mendengung-dengung di pikirannya tapi rasanya begitu susah bahkan hanya untuk sekedar menghembuskan nafas.

. . . . .

"Hei Tao, kau disuruh guru Yang Lie melawan Choulin. Ambil tongkatmu, kenapa kau malah diam?" Tao mengerjapkan matanya, ia menatap BuiXian di hadapannya. "M-Melawan?" tanya Tao, BuiXian mengangguk. "BuiXian, apa ini pertandingan pertama?"

"Iya, kau ini tidak memperhatikan perintah guru Ying Lie?" tanya BuiXian sedikit ketus, sebenarnya ia tidak jahat hanya saja melihat Tao seperti orang ling-lung disaat Choulin sudah siap dengan tongkatnya membuat BuiXian kesal. Apa Tao mau dihajar Choulin dan terluka parah karena tak menyiapkan apapun?

'Apa ini? Mengapa waktu jadi kembali?' batin Tao, samar-samar ia mengingat suara yang sebelumnya menghantui pikirannya. Bagian 'time controller' apa Tao telah benar-benar menjelma sebagai pengendali waktu?

"Tak perlu lama-lama." Guru Yang Lie mengingatkan, Tao dan Choulin mengangguk, Tao tak tahu mengapa ia mengangguk, seolah-olah ada yang mengendalikan dirinya. Tao membenarkan simpul tali sepatunya dan mulai memasang kuda-kuda, dan Tao tahu ia hanya merubah satu kejadian di waktu sebelumnya, sementara kejadian lain akan berjalan sesuai plot yang sebelumnya. Tao diam saja saat dirinya meraih sebuah tongkat yang tadi telah disiapkan gurunya, begitu pula Choulin.

"Ah tidak-tidak! Aku terlalu memikirkan." Mingjou menggeleng-geleng. Tao mendengar suara Mingjou, ia hanya tersenyum kecil untuk menyakinkan Mingjou. Mingjou mendongak menyadari senyum Tao, lalu mengangkat kedua ibu jarinya seolah-olah memberi Tao kekuatan. Tao mengangguk, ia kembali konsentrasi. Pertandingan dimulai seperti sebelumnya, Choulin bergerak memulai dengan menggerak-gerakkan tongkatnya mencari celah untuk mengacau Tao dan untuk menyerangnya.

Tao tahu saat tongkatnya bergerak memukul ulu hati Choulin, Choulin mundur beberapa langkah karena merasa sakit di ulu hatinya. Tao tak menyia-nyiakan kesempatan lagi, dengan gerakan akurat ia mengayunkan kakinya meniru gerakan Choulin di waktu sebelumnya, menyerang leher bagian kiri Choulin dan membuat Choulin tersungkur. Bedanya Tao membuat Choulin tersungkur di area pertandingan.

Brukkk!

Suara itu seolah-olah mengembalikan Tao ke alam sadar, ia melihat Choulin yang terbaring di tanah. Dan setelah itu, Tao bisa merasakan ia bisa mengendalikan tubuhnya sendiri kembali. Tao berjongkok, meletakkan tongkatnya dan menatap Choulin. "Choulin ge, kau tak apa?" tanya Tao, Choulin membuka matanya lalu tersenyum kecil. "Sepertinya adik gege ini memang benar-benar hebat, aku takkan pernah bisa mengalahkanmu ZiTao."

Tao terkekeh, atmosfir persahabatannya dengan Choulin telah kembali. Memang, diluar semua pertandingan Choulin suka menganggapnya sebagai teman akrab. Dan Tao yakin, kalau saja waktu sebelumnya dikembalikan ia pasti melihat Choulin panik karena tak sengaja menyerang Tao hingga ia akan terjatuh. Segarang apapun Choulin, ia takkan pernah bertindak sejahat itu untuk membunuh Tao di arena pertandingan, mungkin pertandingan sungguhan yang biasa dilaksanakan tiap tahun sekali adalah pengecualian.

. . . . .

Tao menyeruput teh hijau yang dihidangkan di sebuah cangkir keramik kecil, ia sedang makan di restauran Jepang bersama Mingjou. Mingjou memang seperti itu, alih-alih bahagia karena Tao memenangkan pertandingan dengan Choulin, ia punya maksud tersendiri untuk ditraktir Tao makan. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui lah.

Mingjou menikmati sushinya dengan rakus, sebenarnya selera makan Mingjou dan Tao tak jauh beda. Maklum mereka masih dalam masa pertumbuhan, kadang-kadang tak sadar kalau cara makan mereka lebih mirip babi kelaparan. Tapi untuk saat ini Tao hanya makan dengan tenang, bahkan cenderung seperti ia tak ingin makan meski tadi energinya telah terkuras habis untuk mendaki arena pertandingan dan melawan Choulin.

"Tao, cepat makan! Guru Yang Lie hanya memberi kita waktu santai dua puluh menit, ia tak mau kita ketinggalan kereta ketika pulang." Perintah Mingjou sambil menyuapkan daging ikan salmon mentah ke dalam mulutnya, salah satu hal yang tak disukai Tao adalah rata-rata makanan Jepang berupa daging mentah dan kadang baunya tak bersahabat dengan indera penciumannya.

Tao akhirnya makan dan menyuapkan sushi ke mulutnya, padahal pikirannya tak berjalan kesana. Ia memikirkan apakah ia memang seorang pengendali waktu? Kalau begitu ia sangat beruntung, ketika sekolah ia bisa memberhentikan waktu di pelajaran sejarah dan tidur selama yang ia mau. Tapi satu hal, 'Bagaimana caraku mengendalikan waktu?' batinnya. Tadi waktu terulang karena ia tak sengaja, atau mungkin memang bukan dirinya yang mengendalikan waktu tersebut.

"Hei! Berhenti melamun ZiTao!" bentak Mingjou kesal, daritadi ia sudah mengajak Tao berbicara tapi lawan bicaranya tak mendengarkan sedikitpun. Tao hanya mengangguk gamblang dan menghabiskan tegukan terakhir dari teh hijaunya.

Dan setelah itu, Tao tak tahu apa yang ia dan Mingjou lakukan.

. . .

Tao menatap Kris yang berjalan dengan empat tas belanjaan di tangan kiri dan kanannya, dan lagi-lagi Tao tersihir oleh ketampanan Kris. Kris begitu tampan dan misterius, Tao belum pernah menemui orang setampan Kris sebelumnya.

Kris memiliki semua nilai positif dalam fisiknya yang orang lain dambakan. Tubuh tinggi, mata elang dengan bola mata kecoklatan yang tegas namun sekaligus lembut, wajah tampan, garis rahang yang tegas, bibir tipis yang akan terlihat seksi sekaligus menyeramkan ketika ia menyeringai, hidung yang mancung. Benar-benar nilai sempurna.

Hanya saja Tao tak benar-benar yakin apakah Kris benar-benar lahir di akhir abad ke delapan belas? Rasanya tak mungkin, seharusnya Tao menjumpai Kris di jaman ia sebelum masuk ke kapsul tidur, dan tempat ia melihat Kris adalah di televisi. Seharusnya ia melihat Kris berlenggak-lenggok di atas panggung catwalk, memamerkan koleksi baju dari desainer ternama, koleksi musim gugur atau musim dingin mungkin akan pas di tubuh Kris.

Oh well, Tao ingin memukul kepalanya karena memikirkan hal yang aneh-aneh. Tapi kalau kalian mendengar Kris mulai berbicara memang baru merasakan perbedaannya, kadang mereka takkan mengenali apa yang Kris bicarakan. Logat dan aksen yang dipakai Kris memang jarang mereka dengar, dan kadang Kris berlaku terlalu sopan untuk lelaki yang hidup di abad dua puluh satu.

"Ini, ganti bajumu. Aku juga sudah membelikanmu scarf uhm maksudku syal." Tao mengangguk, kadang Kris masih menggunakan bahasa yang cukup formal. Membuat Tao mau tak mau merasa segan dan selalu mematuhi Kris. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar pas dan mengganti bajunya secepat mungkin tak mau membuat Kris menunggu, padahal Kris takkan pernah protes.

"Sudah? Apa kau mau makan dulu? Perjalanan yang kita tempuh sedikit panjang. Kita akan menuju ke Quebec, jadi aku harap kita bisa makan dulu." Tao hanya mengangguk lagi, ia membuntuti langkah panjang Kris yang menuju ke arah pintu keluar. Dapat Tao saksikan semua orang memandang Kris, tentu saja setiap kali mereka berjalan sorotan perhatian akan jatuh ke Kris. Kris memang memiliki aura bintang, semua orang menyadarinya. Hanya kadang Kris bersikap terlalu angkuh untuk sekedar membalas pandangan orang di sekitarnya tersebut.

"Mom?!" Tao mundur selangkah, kaget tiba-tiba Kris memekik. Ia mengikuti arah pandang Kris, seorang wanita cantik mengenakan jaket kulit dan celana panjang. Wanita itu umurnya terlihat masih sangat muda, mungkin tak jauh bedanya dengan Tao maupun Kris. Wanita itu menguncir rambutnya seperti ekor kuda, dan memilih-milih beberapa pakaian. "Why is she here?"

Kris membawa barang belanjaannya dengan satu tangan dan menghampiri wanita itu, Kris mencengkram lengan kiri wanita itu. "Mom!" wanita itu melebarkan mata sipitnya, dari jarak sedekat itu Tao benar-benar bisa menyadari betapa cantiknya wanita itu, kulitnya putih namun tak terlihat pucat. "I'm sorry but.. who are you?" suaranya terdengar begitu merdu, kalau saja wanita itu ibunya Tao mungkin malah memeluk wanita itu daripada mencengkram lengannya seperti Kris.

"Kau, Tiffany kan?" tanya Kris, wanita itu mengangkat sebelah alisnya. "Ya benar itu aku." Jawab Tiffany lagi, mereka berdua berbicara dalam bahasa Inggris dengan logat yang hampir sama. Cukup berbeda dari kebanyakan orang di sekitar mereka, untungnya bergaul dengan Kris adalah Tao bisa memahami bahasa Inggris meskipun belum cukup lancar untuk berbicara dalam bahasa itu.

"Aku, aku adalah anakmu. Kau melahirkanku tapi kau meninggalkan klan kita setelah melahirkanku, dad bilang kau masih manusia dan begitu pula aku. Tapi karena darah yang telah dioleskan kakek, aku bisa menjadi lebih kuat. Sedangkan dad memerintahkanmu untuk pergi karena takut kau akan dijadikan tawanan oleh mereka. Kau ingat?"

"Mungkin kau salah orang, dan klan apa?" tanya Tiffany, Kris ingin memukul kepalanya saat itu juga. Mengapa ia tak membawa Kyungsoo pergi bersamanya, mungkin saja Tiffany tidak berasal dari tahun yang sama dengannya, mungkin Tiffany memang bukan ibunya. "Mungkin kau memang bukan ibuku, tapi apa kau mau menjawab pertanyaanku dengan jujur?"

"Baiklah, walau aku masih bingung karena kedatanganmu yang tiba-tiba ini." Tiffany menganggukkan kepalanya. "Apa kau pernah masuk ke kapsul tidur? Dan apa kau mengingat sesuatu tentang Quebec?" tanya Kris lirih, biar bagaimanapun mereka sedang berada di dalam toko pakaian dan itu seharusnya adalah rahasia.

"How did you know?" tanya Tiffany, ia sepertinya takut. Padahal kalau benar Kris adalah anaknya itu berarti Kris sedikit kurang ajar karena menakuti ibunya sendiri. "Karena aku mengalami hal yang sama, aku keluar dari kapsul tidur itu dan kita berasal dari Quebec mom."

"Tunggu, kau salah. Aku tidak ingat apa-apa tentang Quebec, hanya saja aku bangun dari kapsul tidur itu tepat di Quebec. Dan aku juga bekerja di Quebec." Jelas Tiffany, "Kau.. bekerja? Bekerja apa?" tanya Kris penuh selidik.

"Maaf, aku tak bisa memberitahukannya pada sembarang orang sepertimu." Kris menggeleng, "Tapi aku anakmu!" Tiffany menghentakkan tangan Kris yang mencengkram lengannya. "Aku tak ingat apapun! Berhenti mengaku-ngaku stranger!" Tiffany meninggalkan belanjaannya dan berlari keluar menuju tempat mobilnya diparkir.

Langkah kaki Tiffany cukup cepat, sehingga mau tak mau Kris mengajak Tao sedikit berlari. Tiffany menekan salah satu tombol di kunci mobil yang ia bawa, dan pintu mobil itu terbuka otomatis. "Tao! Hentikan waktu kecuali untuk kita!" Tao mengangguk, lalu memfokuskan pikirannya. Sedetik kemudian orang-orang yang beraktifitas di sekitar mereka berhenti dengan tidak wajar.

"Biarpun aku sering mengalaminya, rasanya masih aneh melihat orang lain berhenti bergerak sementara kita tidak." Gumam Kris, lalu ia menuju mobil Tiffany dan duduk di sebelah Tiffany. Tao sendiri memilih duduk di belakang. "Tao, jalankan waktunya lagi."

"B-Bagaimana bisa kalian disini?" pekik Tiffany. "Mom, aku memiliki keahlian. Aku yakin mom juga memilikinya, apa mom mau mengajakku ke tempat mom tinggal?" tanya Kris, Tiffany menghela nafas berat. "Baiklah! Aish dan berhenti memanggilku mom, belum tentu aku adalah ibumu."

. . . . .

Mereka menikmati perjalanan panjang menuju Quebec, dan Tao baru menyadari mobil itu tak sepenuhnya dikemudikan oleh Tiffany. Tiffany hanya menekan beberapa tombol saja dan mobil itu berjalan sendiri, mereka bertiga mencuri-curi waktu untuk tertidur tanpa takut menabrak atau salah arah. Tao pertama kali membuka mata, ia berdecak kagum. Ia tak sadar kalau daritadi mereka melewati pegunungan, dan jalanan beraspal mulus yang seolah-olah membelah padang bunga di kiri dan kanan mereka.

"Kau suka pemandangannya?" Tao mendongakkan kepalanya, itu suara Kris. Ia melirik, ternyata Tiffany masih belum terjaga, perempuan itu masih tertidur sambil memegang kemudi dan mendengarkan lagu melalui headset di telinganya. "Hm, ini indah sekali." Jawab Tao singkat.

"Kau beruntung karena musim dingin belum datang, dan kau beruntung masih bisa melihat daun-daun mapple yang berguguran. Karena di Quebec, musim semi berlangsung lebih lama. Sehingga musim gugur dan musim dingin datang terlambat, mungkin lain kali aku bisa membawamu ke tempat yang menyediakan festival musim gugur. Kalau kau mau kita bisa berangkat ke Kanada lagi musim gugur depan, tentunya berangkat lebih awal." Ajak Kris.

"Benarkah?" tanya Tao, Kris mengangguk. "Aku berjanji mengajakmu mengelilingi Kanada nanti. Kita punya banyak waktu, bila kita berhasil.." suara Kris mengambang di akhir kalimat. Tao menyadari perubahan nada suara Kris, 'bila kita berhasil?' dan Tao langsung yakin yang Kris maksud adalah bila mereka memenangkan pertempuran melawan perusak pohon kehidupan.

Hah, apa kabar dengan pohon kehidupan itu? Pikir Tao. Jujur dari kemarin mereka belum membeli kartu ponsel baru untuk di Kanada dan belum mengabari member EXO lain. "Tao, kau tahu.. aku yakin wanita ini benar-benar ibuku. Meski ingatanku masih samar-samar, tapi kontak batin berkata lain. Memori terakhir yang aku ingat dari Kyungsoo adalah, ketika aku lahir dad menyuruh mom berlari keluar hutan. Mom baru saja melahirkanku, dan ia masih lemah secara fisik, ia berencana membawaku dalam pelariannya namun dad melarangnya. Kau tahu, kalau saja tak ada Kyungsoo yang entah bagaimana bisa membuatku merealisasikan pandangan masa lalunya dengan begitu jelas mungkin aku takkan ingat. Dan kurasa MAMA memang merencanakan agar aku mengingat mom, aku dihantui gambaran wajahnya selama lebih dari tiga hari sebelum aku mengajakmu ke Kanada. Kalau saja aku hidup di zaman yang sedikit lebih maju mungkin aku bisa mendapatkan foto mom, sayang aku tak memiliki apa-apa. Akibat tak ada mom hidupku jadi begitu keras, kakek hanya melatihku menjadi petarung handal. Sementara dad, aku tak pernah bertemu dengannya lagi setelah umurku dua belas tahun."

"Jadi kau mendapatkan penglihatan tentang wajah ibumu dari mimpi?" Kris mengangguk, Tao hanya diam. Kalau saja ia tak mengenal MAMA mungkin ia akan berkata kalau itu hanya halusinasi Kris, tapi selama ini mereka mendapat petunjuk dari MAMA melalui mimpi-mimpi mereka. Mobil mereka mulai melambat, dan kini Tao bisa melihat sebuah gedung yang cukup mewah, sebagian besar gedung tersebut dilapisi kaca, sehingga ketika cahaya matahari menerobos akan membuat gedung itu memantulkan cahayanya. Tao heran, mengapa hingga zaman semaju ini orang-orang masih tak perduli dengan pemanasan global yang bisa timbul dari efek rumah kaca?

Dan yang mengejutkan mobil mereka berbelok dan langsung masuk ke garasi gedung tersebut, Tao cukup takjub. Mungkin suatu saat nanti ia bisa membeli mobil seperti ini, sudah mewah canggih pula. Mobil itu berhenti tepat di sebelah tiga mobil yang terlihat mirip, "Uhm mom, mobilnya sudah berhenti." Kris membangunkan ibunya. "Oh?" wanita itu terbangun.

"Tolong jangan panggil aku mom, aku belum terbiasa." Tiffany keluar dari mobilnya, diikuti Tao dan Kris. Mereka masuk ke sebuah lift dan Tiffany menekan tombol nomor empat, tak lama kemudian lift mereka berhenti di lantai empat. "Selamat datang di rumah sekaligus tempat kerjaku, anak-anak."

"Mom tinggal sendiri?" Tiffany memutar bola matanya malas, akhirnya membiarkan Kris memanggilnya 'mom' "Ya, seperti yang kau lihat. Hanya beberapa kali saja ada pekerja lain mengunjungiku, tugas kami sedikit berat. So, is there anything else?" Tiffany memilih duduk di sofa putih bersih.

"Apa kau ingat sesuatu tentang masa lalumu?" Tiffany menggeleng, "I.. really had no memories about my past." Jawabnya. Kris mengetuk-ngetukkan jarinya, ia bingung juga. "Apa kau bersedia membantuku?" tanya Tiffany, Kris mengangguk pasti.

"Aku yakin kau adalah ibuku, atau setidaknya kau memiliki hubungan darah dengan ibuku. Wajah kalian berdua begitu mirip," gumam Kris, Tiffany mengangkat bahunya. Ia melepaskan jaket kulitnya, sedikit membuat Tao terkejut karena dibaliknya Tiffany hanya menggunakan baju tanpa lengan yang cukup tipis. "Oh mom, bisakah setidaknya kau memakai baju yang lebih tertutup?"

"Dasar cerewet, baiklah tunggu." Tiffany berbalik, ia menuju ke lemari pakaiannya. Namun Kris mengeraskan rahangnya, "Kau.. pasti ibuku!" Tiffany menoleh lagi. Kris berjalan dengan langkah kaki jenjangnya, lalu menyentuh pundak Tiffany. "Hei!" protes Tiffany, biar bagaimanapun usia Kris saat ini tak jauh dengannya meski Kris mengaku anaknya. Bisa saja Kris hanya mengaku-ngaku lalu melecehkannya bukan?

"Aku tidak bermaksud mesum, maaf. Hanya.. aku memiliki tanda yang sama denganmu." Kris membuka kemeja yang ia pakai, Tiffany menutup matanya. "W-what are you doing? Stop it! Now!" jeritnya. "Mom, it's okay. Open your eyes, i'll show you something." Dengan takut Tiffany membuka matanya, sebenarnya Tiffany menguasai beberapa ilmu bela diri, ia menutup matanya hanya karena terkejut. Bagaimanapun Kris itu tampan dan mempesona, 'Aish apa yang kau pikirkan? Dia itu bisa jadi benar-benar anakmu di masa lalu!' batin Tiffany.

Tiffany membelalak, dihadapannya Kris hanya menggunakan kaos dalam berwarna putih. Kaos dalam itu tanpa lengan, sehingga sedikit mengekspos bagian dadanya. "Lihat ini, kau memiliki tanda yang sama. Hanya saja tandamu ada di bagian pundak, sementara milikku di dada. Kakek yang menandai kita, dari darah klan musuh lawan." Tiffany memperhatikan dada kiri Kris, memang benar disana ada tanda yang sama persis seperti miliknya. Tiffany sendiri bingung mengapa saat ia bangun ada tanda itu di tubuhnya, goresan merah berbentuk mirip bintang.

"Temanku adalah seorang pembaca masa depan dan masa lalu, ia bilang anggota keluarga kita memiliki tanda-tanda ini. Tapi hanya keluarga inti saja yang memiliki tanda ini di bagian tubuh dalam, yang mungkin takkan terlihat kalau kita tidak mengenakan baju minim. Kata temanku, kakek menandai kita di tubuh yang sedikit dalam karena ia tidak mau musuh mengenali kita." Jelas Kris, lalu mengancingkan kemejanya kembali.

"Ini aneh, aku tak bisa membayangkannya." Tiffany melangkah dan mengambil sebuah baju berlengan panjang dari lemari dan memakainya. Kemudian Tiffany melangkah menuju tempat komputernya, ia melewati Tao yang sedang menggulung lengan bajunya. Tiffany terkesiap, ia memegang punggung tangan Tao. "Uhm, hai?"

"Tell me, what is this? Is it a tattoo?" tanya Tiffany, sekarang ia lebih mirip mencengkram daripada memegang punggung tangan Tao. Tao melirik punggung tangannya, disana ada tanda jam pasir, mirip tato memang. Tapi Tao rasa takkan pernah ada orang yang menato dirinya dengan gambar jam pasir. "This is symbol.." jawab Tao.

"Kau.. kalian.. jangan bilang kalian adalah legenda?" Kris melangkah, melepaskan tangan Tiffany dari Tao. "Jadi kau tahu tentang legenda?" tanya Kris, "Ya.. aku tahu. Aku sangat tahu malah, dan kalian seharusnya tak berada disini."

"Mengapa?" tanya Tao penasaran. "Aku hidup di gedung ini bertahun-tahun untuk melacak kalian, dan juga memprogram penyerangan pada kalian. Aku tak pernah tahu apa motif dan mengapa aku harus melakukan pekerjaan ini. Hanya ketika aku berhenti aku tak bisa! Awalnya aku tak perduli, tapi fakta kalau kau adalah anakku.."

"Katakan padaku! Siapa yang akan menyerang kami?!" jerit Kris. "Pergilah." Perintah Tiffany. "Kenapa?" tanya Tao lagi, Tao rasa otaknya error sehingga lagi-lagi menanyakan hal yang sama. "Pergilah sebelum terlambat! Keluar dari Quebec dan kalau bisa lari keluar Kanada, aku akan mengaktifkan penghapusan ingatan sehingga jejak kalian takkan terekam! Sekarang!"

"Tapi mom.." Tiffany menggeleng, ia mulai menuju ke suatu tombol. "Pergi sekarang atau ingatan kalian juga akan ikut terhapus? Kalian harus keluar dari gedung ini sebelum ada yang menemukan kalian atau sebelum aku menekan tombol penghapusan ingatan ini. Dan Kris, kuharap aku bisa mengingatmu dan kita bertemu kapan-kapan karena jujur aku punya banyak pertanyaan padamu."

"TARGET FOUND!" Tao panik, alarm berbunyi. "Shit! Aku melupakan CCTV! Sekarang pergi!" perintah Tiffany. Kris menatap Tao, Tao yang mengerti arti tatapan Kris langsung memberhentikan waktu. Semua berhenti, termasuk Tiffany. Kris membuka kaca jendela dan keluar, keahliannya adalah terbang dan ia sangat bersyukur kalau tidak ia pasti sudah jatuh dari lantai empat gedung itu. Kris sempat meraih sebuah benda mirip bola mainan, Tao melompat ke punggung Kris dan Kris membawa Tiffany dalam bridal style. "Sekarang Tao!"

Kris melemparkan bola itu dan mengarahkannya ke tombol yang tadinya mau ditekan oleh Tiffany, ketika bola itu mengenai tombolnya bersamaan dengan itu Tao menjalankan waktu kembali. Kris langsung menutup kaca jendela dan terbang sambil membawa dua orang. Dan entah mengapa tiba-tiba Tiffany tak sadar.

. . . . .

"Luhan ge!" Luhan menoleh, ia menatap Kyungsoo yang memandanginya intense. "Ada apa Kyung?" tanya Luhan, walaupun Luhan bisa membaca pikiran Kyungsoo, Luhan tak pernah mendapat jawaban yang pasti dari pikiran anak itu. Kadang pikiran Kyungsoo lebih mirip jalan tak berujung, atau malah untaian benang kusut yang tak bisa diluruskan. Terlalu banyak yang ia pikirkan, bahkan Luhan pikir kalau seorang mind reader sepertinya tak memiliki pikiran sebanyak itu.

"Apa gege yang meletakkan kapsul tidur itu di gudang?" tanya Kyungsoo, Luhan nyengir seketika. Waktu disuruh merapikan ia memang menggunakan kekuatan telekinesisnya asal-asalan dan langsung menumpuk kapsul tidur itu tanpa melihatnya apalagi berpikiran menatanya. Dan Luhan tahu, Kyungsoo tak pernah suka pada sesuatu yang berantakan. Kyungsoo kan seorang clean-freak. "Hehe, begitulah. Berantakan ya Kyung? Mau kubantu merapikan?"

Akhirnya Luhan bisa melihat seulas senyum di wajah datar Kyungsoo, lebih baik Luhan membantu Kyungsoo daripada melihat Kyungsoo ngambek seharian. Toh membantu Kyungsoo tak berat karena ia memiliki kekuatan telekinesis. "Kyung, biar aku yang menata saja." Tawar Luhan, Kyungsoo menggeleng. Ia memegang kapsul tidur yang berada di tumpukan paling atas, jelas saja Luhan khawatir. Kyungsoo itu begitu mungil, lihat saja tinggi badannya dibandikan yang lain, selain itu tubuhnya juga kurus, bisa tertimpa kapsul tidur kalau ia yang mengangkatnya.

"Kyung sudahlah, serahkan padaku. Lebih baik kau ambil sapu dan menyapu ruangan ini." Luhan berupaya merayu Kyungsoo, namun Kyungsoo tetap memegang salah satu kapsul tidur berwarna putih itu. Dan tiba-tiba tubuh Kyungsoo menegang..

"Kyung?" panggil Luhan, tak ada jawaban. Luhan buru-buru menelusuri pikiran Kyungsoo, dan Luhan melihat dirinya sendiri. "G-gege.." Luhan sendiri tak menyadari ucapan Kyungsoo yang sedikit parau, itu bukan masa lalu yang pernah diceritakan Kyungsoo dimana ia lahir pada tahun 1934 dan masuk ke kapsul tidur delapan belas tahun kemudian, itu adalah lanjutan dari ingatan terakhir yang Kyungsoo beritahukan padanya.

. . .

Luhan

Beijing, 24 April 1952

Luhan menatap bingung, ia terjebak di aula sekolahnya. "Ish, padahal mimpi itu menyuruhku menuju ke gua diujung desa!" Luhan menatap punggung tangannya, entah sejak kapan disana mulai ada gambar kecil berupa lingkaran-lingkaran yang tersusun. Luhan menyipitkan matanya, lalu tiba-tiba seolah ada yang mengendalikan dirinya.

Luhan mengalihkan pandangannya pada salah satu meja yang biasa dipakai untuk pertemuan, Srek! Ketika Luhan menatap meja itu, meja itu tiba-tiba melayang. Luhan mendapat ide, ia terus mempertahankan konsentrasinya, dan mengarahkan meja itu ke salah satu kaca aula.

Pranggg!

Dengan sebuah gerakan tak kasat mata, Luhan melempar meja itu dan membuat salah satu kaca di aula mereka pecah berkeping-keping. Luhan melompati jendela itu dan berhasil keluar dengan selamat dari aula tersebut. Ia berlari kecil, sekolahnya sudah sangat sepi dan diluar sudah mulai gelap.

Luhan berlari keluar dari area sekolahnya, dan bukannya pulang ke rumah untuk berganti pakaian ia malah berlari ke arah yang berlawanan. Masuk ke sebuah desa yang selalu sunyi setiap hari karena kebanyakan penduduknya telah berurbanisasi menuju kota. Luhan berlari, ketika itu China belum maju betul. Masih belum banyak lampu yang menyinari jalanan, sehingga jalanan begitu sunyi dan gelap gulita.

Luhan terengah-engah ketika mulai menemui gapura desa yang menyambutnya. Ia baru saja akan masuk, namun tiba-tiba ada sekelompok orang yang menghadangnya. Luhan berusaha menghindar, ia melihat bulan purnama yang begitu indah. 'Sudah waktunya.' Batin Luhan.

"Hei manis, mau kemana? Mengapa terburu-buru?" Luhan menatap beberapa lelaki di hadapannya satu-persatu dengan pandangan menusuk, perasaan Luhan tiba-tiba sangat tidak enak. Seolah-olah ia mencium bau kriminal dari orang-orang tersebut. "Maaf aku terburu-buru." Luhan berusaha menyingkir.

"Ups, tidak bisa seperti itu. Ini adalah daerah kekuasaan kami manis, setidaknya kalau kau mau pergi kau bisa memberi kami imbalan." Luhan menggeram, ia disuruh sampai ke gua sebelum hujan turun dan kali ini mendung mulai menutupi cahaya bulan. Luhan habis kesabaran, sebelum salah satu di antara mereka menyentuhnya Luhan menggunakan kekuatan telekinesisnya.

Bruaaakkk!

Luhan menghempaskan mereka semua ke arah semak-semak, "D-Dia bukan manusia!" jerit salah seorang dari mereka, Luhan hanya mendecih pelan. 'Aku manusia, tapi bukan manusia bodoh seperti kalian.' Batin Luhan, ia kembali berlari dengan sisa tenaganya.

Petir mulai menyambar, namun Luhan beruntung belum ada tetes air hujan yang turun. Luhan tersenyum senang ketika melihat pintu gua di hadapannya, untung saja medan yang ditempuh untuk sampai ke gua tersebut tak terlalu berat. Luhan menggunakan kemampuannya lagi, meskipun ia tahu menggunakan kemampuannya berarti menghabiskan dua kali lebih banyak energi tubuhnya. ia membuka batu yang menutupi pintu gua itu dan menyibakkan jaring laba-laba yang begitu tebal karena gua itu lama tak dibuka.

"Hai." Sapa Luhan, suaranya menggema di dalam gua tersebut. Suasana begitu menyeramkan, Luhan bisa melihat kelelawar yang beristirahat di atap gua. Beberapa batu stalaktit dan stalakmit juga membuatnya bergidik, entah karena apa.

Tes.. tess..

Luhan mendongak, tetesan air mengenai ujung kepalanya, mendadak ia merinding sepuluh kali lipat, jantungnya terasa berpacu dengan tidak wajar. "Apa ada orang?" tanya Luhan. Ia merogoh tas sekolahnya, untung tadi ia sempat membawa senter. Luhan menyalakan senter tersebut, menyorotkannya ke sudut-sudut gua. "Aku sudah datang sesuai dengan perintah kalian, dan hujan juga belum turun. Jadi boleh aku tahu untuk alasan apa aku kemari?"

Greekkk!

Luhan menoleh, matanya membelalak. Batu yang tadi telah disingkirkannya kembali menutupi gua itu, ia mengarahkan kekuatan telekinesisnya untuk membuka batu itu namun batu itu bahkan tak bergerak seinchi pun. 'T-Tidak mungkin!'

"Selamat datang telekinesis, selamat datang Xi Luhan-ku.' Luhan mendongak, tak ada siapa-siapa. Tapi Luhan mendengar suara seseorang dengan pasti! Meski Luhan sendiri ragu, suara itu ada di sekelilingnya atau hanya ada di pikirannya saja. "Tenanglah, aku takkan melukaimu. Aku hanya memberimu tugas, sampai disini saja kehidupanmu yang fana. Kau butuh istirahat untuk mempersiapkan dirimu di masa depan, nanti ada yang akan mengantarmu."

"S-Siapa kau?!" tanya Luhan panik, suaranya seperti tercekat. "Aku MAMA, aku yang selalu datang di mimpimu Luhan. Aku yang memberimu kekuatan itu, aku yang membuatmu kuat. I'm your majesty.."

"Xi Luhan." Seseorang menepuk bahu Luhan. Luhan berbalik, ia bersiap menyorotkan senternya ke orang itu, namun orang itu menutup cahaya senternya. "Jangan takut, aku takkan membunuhmu, atau bahkan menyakitimu barang setitik saja." Meski peluhnya mengalir deras, Luhan bisa tenang sedikit.

"Maaf aku harus melakukan ini." Luhan mengerjap bingung, ia tak bisa melihat wajah orang di depannya dengan jelas. Tiba-tiba Luhan merasa tubuhnya diangkat, namun ia tak bisa memberontak. Tiba-tiba ia merasa di baringkan dalam sebuah tempat yang cukup dingin, 'Apa aku dimasukkan dalam peti mati?' batin Luhan.

Cklek!

Luhan menyadari bahwa ia memang dimasukkan dalam sebuah benda mirip peti, dan benda itu ditutup! Tapi anehnya Luhan masih bisa bernafas dalam damai, dan perlahan-lahan ia merasa tubuhnya semakin ringan.

Zrasshh

Luhan merasa ada asap di sekitar tubuhnya, kemudian setelah itu ia memejamkan matanya. Dan tak ada satupun hal yang berhasil ia ingat lagi.

. . .

"J-Jadi begitu?" gumam Luhan, ia masih membayangkan hal yang diingat Kyungsoo. Luhan baru ingat kalau Kyungsoo bisa membaca masa depan dan masa lalu dengan menyentuh atau melakukan kontak fisik, dan kapsul tidur yang Kyungsoo sentuh adalah kapsul tidur miliknya. "Asap itu, adalah asap yang menghapus ingatan kita semua."

"Kalau begitu, kau cari yang mana saja yang merupakan kapsul tidurmu!" pekik Luhan, Kyungsoo mengangguk. Luhan menyuruh Kyungsoo mundur dan ia langsung meletakkan kapsul tidur satu persatu di lantai dan tak menumpuknya lagi. Kyungsoo menyentuh satu-persatu dari kedua belas kapsul tidur tersebut.

Ia menyentuh kapsul tidur bertuliskan nomor satu, namun di otaknya terbayang kasti. Itu adalah masa lalu Xiumin, ia menyentuh kapsul tidur nomor enam, di otaknya terbayang asap yang mengepul dan kobaran api. Itu adalah masa lalu Chanyeol. Lalu ia menyentuh kapsul tidur nomor delapan, dan di pikirannya adalah banjir bandang. Itu adalah masa lalu Suho. Sampai akhirnya ia menyentuhkan tangannya di kapsul tidur nomor lima. Kyungsoo diam tak berekspresi.

"Kyungsoo?" panggil Luhan tak sabar, lalu Luhan mencoba menyelami pikiran Kyungsoo. Itu Kyungsoo di masa lalu!

. . .

D.O

"Kau sudah sadar nak?" seorang anak lelaki dengan tubuh kecil mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha menyesuaikan dengan cahaya mentari yang merasuki retina matanya. "A-Aku dimana?" ia mencoba bangkit, namun ia memegang dahinya yang terasa begitu sakit seperti dipukul palu yang besar.

"Kau dirumahku nak, namaku Kim Youngmin. Aku menyelamatkanmu dari puing-puing gempa, kau tidak sadar selama empat hari." Anak itu menyipitkan bola matanya mencoba mengingat sesuatu. "Gempa apa?" kakek itu tersenyum lembut, melarang anak itu bangkit lagi karena luka di tubuhnya belum sembuh betul.

"Empat hari lalu terjadi gempa bumi dahsyat, kalau aku boleh tahu siapa namamu anak muda?" anak itu mengerjap bingung, "N-Nama? A-aku tidak tahu namaku!" pekik anak itu, "Sudah kuduga. Kau tertimpa beberapa bahan bangunan, apa namamu Do Kyungsoo? Aku menemukan ini di saku celanamu." Kakek itu mengeluarkan sebuah saputangan berwarna putih yang mulai kusam, di ujung sapu tangan tersebut ada sebuah nama yang dirajut, bertuliskan 'Do Kyungsoo'.

Anak itu memegang sapu tangan tersebut, tiba-tiba pandangannya kosong. Kakek itu memperhatikan anak berumur sekitar tujuh belas tahun di hadapannya bingung.

"Kyungsoo, ini umma jahitkan sapu tangan. Bawa selalu ya, karena umma tak ingin melihat tetes-tetes air mata dari mata anak umma yang tampan ini." Seorang wanita cantik paruh baya memberikan sapu tangan berwarna putih. "G-Gumawo eomma, Kyungsoo janji tidak akan menangis lagi."

"Kau harus ingat Kyungsoo, meski di luar sana orang-orang membencimu dan mengataimu. Eomma akan selalu ada disisimu, eomma akan selalu mempercayaimu. Eomma berjanji, jangan pikirkan mereka lagi ara? Eomma tahu kau memiliki kelebihan yang tak semua orang memilikinya." Wanita paruh baya tadi mengelus rambut 'Kyungsoo' lembut. "Eomma gumawo, saranghae."

.

..

"Kyungsoo sedang apa kau diam? Ayo lari Kyungsoo!" anak kecil itu menoleh, "T-Tidak eomma jangan berjalan keluar rumah." Cegahnya namun ibunya telah ditarik ayahnya. "Tidak eomma jangan! Eommaaa!"

"Nak? Kau tak apa?" anak yang dirawat kakek bernama Youngmin itu meremas saputangannya. "N-Namaku Kyungsoo haraboeji. Tapi selain itu, aku tak ingat apapun." Jawabnya lirih. "Gwaenchana, haraboeji akan membantumu mengingat. Sekarang kau minum dulu, bagian tubuhmu masih ada yang retak. Kakek hanya bisa membalut lukamu dengan perban, maaf kakek tidak bisa membawamu ke dokter."

"Tidak apa-apa kek, terima kasih mau menyelamatkanku. Apa kakek menemukan anggota keluargaku?" kakek itu menggeleng, "Aku hanya melihat-lihat, kemudian aku melewati rumahmu nak. Aku masuk karena rasa penasaran, aku melihatmu ditimpa beberapa puing-puing. Tubuhmu begitu mengenaskan, kau patah tulang kaki dan tangan. Tapi aku yakin kau masih bernafas, kemudian aku membawamu pulang dan menyembuhkanmu."

"T-Tunggu kek, kakek bilang gempa itu empat hari yang lalu dan sudah empat hari aku tak sadar? Tapi mengapa aku bisa menggerakkan tanganku dan hanya tersisa nyeri sedikit saja?" kakek itu terkekeh, "Tentu saja nak, aku telah mengobatimu."

"Tapi bukankah kakek bilang kakek tak membawaku ke dokter? bukankah patah tulang membutuhkan waktu penyembuhan yang lama?" kakek itu menunjukkan sebuah mangkok kecil, Kyungsoo mendongak. Kakek itu memberitahukan isi mangkok itu yang berisi sebuah cairan bening. "Semua penyakit, pasti bisa sembuh dengan ini. Bahkan kematianpun bisa dicegah, kalau takdir berkata lain bisa juga membangkitkan orang yang telah meninggal."

"MWO?" kakek itu tersenyum, lalu meraih handuk kecil dan mengusapkannya di lengan kiri Kyungsoo yang tergores, ajaibnya luka itu menutup perlahan-lahan. "Sejujurnya aku tak pernah memberi tahu hal ini pada siapapun, bahkan pada istriku sampai ia meninggal sebelum melahirkan anak pertama kami. Tapi entah mengapa padamu aku begitu terbuka nak.. ini adalah ramuan yang berhasil aku ciptakan sendiri, dari getah pohon di belakang rumahku. Pohon itu akan abadi, meski kau membakarnya."

"Pohon?" kakek itu mengangguk. "Pohon itu memiliki suatu kekuatan tak biasa, ia selalu hidup dan daunnya tak pernah layu. Memang kalau kau melihat dari jauh itu mirip seperti pohon beringin biasa, tapi kalau kau memetik daun atau mengambil getahnya, memiliki manfaat begitu luar biasa. Pohon itu tumbuh di halaman belakang rumahku, kau tahu nak.. gempa yang terjadi beberapa hari lalu benar-benar dahsyat. Hampir semua rumah di sekeliling rumahku hancur, hanya rumahku yang masih kokoh berdiri sehingga aku bisa menyelamatkanmu dan memberi obat pada warga sekitar. Aku memang dikenal sebagai ahli obat-obatan tradisional."

"Maukah kakek membawaku menemui pohon itu?" kakek itu memapah Kyungsoo, untung kakek itu memiliki sebuah kursi roda di rumahnya. Ia mendorong kursi roda Kyungsoo sampai ke halaman belakang rumahnya, Kyungsoo menghela udara segar. Ia melebarkan pandangannya, sisa-sisa gempa belum sepenuhnya dibersihkan. Tapi rumah kakek yang ia tempati bahkan tak retak sedikitpun.

"Ini Kyungsoo, ini pohon kehidupan. Kakek percaya kau tidak akan mengkhianati pohon kehidupan ini, tapi walaupun kau mengkhianati pohon kehidupan ini kau tetap tak bisa merusaknya. Hanya orang yang memiliki hati tulus dan yang ditakdirkan yang bisa memetik manfaat pohon ini." Jelas kakek tersebut. "Haraboeji tenang saja, aku akan membalas kebaikan haraboeji dan pohon ini." Kyungsoo tersenyum cerah.

"Haraboeji tahu kau orang baik dan tulus Kyungsoo, kau tinggal disini saja. Kau tak menemukan keluargamu lagi kan? Biarkan haraboeji merawatmu, setelah istriku meninggal bertahun-tahun yang lalu aku selalu hidup sendiri dan kesepian. Maukah kau menemaniku?" Kyungsoo mengangguk. "Aku juga tak memiliki tempat untuk pulang kembali, aku akan tinggal bersamamu."

. . . . .

3 months later

"Kyungsoo, kau tak mau sekolah?" Kyungsoo menggeleng, baginya berada bersama sang kakek sudah membuatnya bahagia. Kakek itu mengajarinya banyak hal, membuat obat, merawat orang sakit, ketulusan dan kejujuran. Mirip figur seorang ibu bagi Kyungsoo, dan Kyungsoo menyukainya. Ia takut pada dunia luar, karena setiap kali tahu dunia luar ia ingat bagaimana orang-orang mencercanya dan mencerca kelebihannya membaca masa lalu dan masa depan.

Young Min haraboeji tahu kelebihan Kyungsoo, dan kakek itu malah bangga pada Kyungsoo. Ia juga menyembunyikan keahlian Kyungsoo dari pasien-pasiennya, ia terus mendidik dan merawat Kyungsoo seperti anaknya sendiri. Apalagi Kyungsoo selalu dengan pandainya memasakkan makanan buat kakek itu.

"Kyungsoo, kau sedang apa?" kakek itu bertanya, menyentuh pundak Kyungsoo yang sedang membuka sebuah tutup botol sirup. "Aku hanya ingin membuat minuman untuk kita, lumayan menyegarkan di musim panas haraboeji. Haraboeji mau rasa melon atau jeruk? Atau mungkin straw— EH?" Kyungsoo memberhentikan perkataannya. "Ada apa Kyungsoo?"

"Kita harus temukan pohon kehidupan itu sesegera mungkin!" seseorang yang memiliki badan tegap dan besar berteriak. "Tapi disana ada seorang kakek-kakek, kabarnya kakek itu sakti karena bisa menyingkirkan semua pemburu pohon kehidupan!"

"Aku tak mau tahu bodoh! Singkirkan saja dia! Bergerak cepat!"

BRUKK!

"Itu dia pohonnya! Bakar!" perintah orang itu lagi. "Mau apa kalian?" mereka menoleh, seorang kakek bertubuh tegap dan memakai kacamata baca memanggil mereka. "Oh jadi kau Kim Young Min? Aku? Aku akan melenyapkan pohon ini, karena kalau pohon ini dilenyapkan kami bisa berkuasa!"

"Kau takkan bisa melawan takdir, hanya orang pilihan-'nya' lah yang bisa melakukannya. Kau hanya manusia biasa yang melakukan hal merusak alam ini demi uang yang tak seberapa, kau tidak memikirkan akibat di masa depan." Nasihat Young Min. "Dasar tua bangka banyak omong!"

DORR!

"HARABOEJII!" Kyungsoo berlari, ia melihat kakeknya tergeletak dengan peluru yang masih menyasar di kepalanya, dan kepala yang bersimbah darah. "APA YANG KAU LAKUKAN PADA KAKEKKU?!" Kyungsoo menggeram, ia menjejakkan kakinya ke tanah.

KRAKKK!

Tanah itu terbelah, orang jahat yang menyerang kakeknya dan yang akan merusak pohon kehidupan itu terjerembap ke dalam tanah, Kyungsoo menjejakkan kakinya lagi mengunci mereka diantara tanah yang terbelah. "S-Siapa kau?" tanya salah satu dari mereka?

"Aku? Aku juga tidak tahu siapa diriku. Nyawa harus dibalas dengan nyawa, kau melukai kakekku." Dan detik itu pula Kyungsoo menenggelamkan mereka di dalam lapisan tanah yang ia buat. "Haraboeji!"

Kyungsoo berjongkok di depan haraboejinya, mengambil getah pohon kehidupan dengan telapak tangannya. Lalu mengoleskan getah itu di dahi kakeknya, luka kakek itu menutup perlahan. "Kakek, kakek tidak apa-apa?" tanya Kyungsoo. "Lukanya sudah menutup Kyungsoo, kakek baik-baik saja. Hanya kakek rasa, takdir kakek akan berakhir sampai disini."

"A-Apa?" kakek itu mengelus rambut Kyungsoo, "Kau adalah salah satu dari takdir-nya. Kakek harap kau berhasil di masa depan. Kakek.. sayang.. padamu, Kyungsoo." Perlahan-lahan mata sang kakek tertutup. "HARABOEJI!"

"KAKEK!" jerit Kyungsoo, tiba-tiba saat ia menoleh sang kakek tak berada di sisinya lagi. Ia berlari keluar dari dapur sang kakek, ia memberhentikan langkahnya tepat di pintu halaman belakang. "Dasar tua bangka banyak omong!"

DORR!

Kyungsoo membelalakkan matanya, penglihatannya sudah berjalan lagi dan ini adalah kenyataan. "HARABOEJIII!" teriak Kyungsoo, ia berlari menghampiri kakeknya. Kyungsoo merasa matanya berkunang-kunang, kepalanya pening. Ia tidak suka hal ini, ia benci ketika penglihatannya yang buruk menjadi kenyataan dan ia tak bisa melakukan apa-apa.

Semua berjalan tanpa ada perubahan sedikitpun, Kyungsoo menatap iba pada sang kakek. Dadanya terasa begitu sesak, lagi-lagi kehilangan orang yang ia sayangi. "H-Haraboeji.. hiks.. hiks.." ia melepaskan kacamata sang kakek, Kyungsoo mencium dahi kakeknya. Meskipun kakek itu bukanlah kakek kandungnya, meskipun kakeknya baru menemuinya selama tiga bulan saja, tapi kakek itu menorehkan kenangan yang begitu dalam untuknya.

'Tidak apa Kyungsoo, MAMA akan menyelamatkanmu. Kakekmu akan berada di tempat yang terbaik, tidak apa.. hapus air matamu Kyungsoo. Ini perintah.' Kyungsoo menoleh ke segala arah namun tak mendengar siapa yang berbicara. "Hai.. Kyungsoo." Kyungsoo menoleh, di belakangnya ada seseorang yang menggunakan topeng sehingga wajahnya tertutupi.

"N-Nuguseyo? HEI LEPASKAN!" Kyungsoo berteriak, ia ditarik mundur oleh orang itu. Kyungsoo langsung melirik sang kakek, dan anehnya kakeknya tak berada di tempat yang semula. Kakek Kyungsoo hilang dalam sepersekian detik. "Maaf aku melakukan hal yang sedikit kasar, tapi percayalah kami menggantinya dengan hal yang jauh lebih baik nanti."

Zraasshh!

Setelah itu Kyungsoo linglung, ia tak ingat harus berkata apa lagi. Ia bahkan diam saja ketika ia dimasukkan ke suatu tempat mirip peti namun rasanya sangat nyaman, dan seperti Luhan perlahan-lahan Kyungsoo memejamkan matanya.

. . .

"LUHAN GE! Ayo kita menemui pohon kehidupan itu! Kita harus kesana sesegera mungkin!" Kyungsoo menjerit panik. "Tapi kau masih ingat alamat kakekmu itu?" tanya Luhan, Kyungsoo menggeleng. "Kita kan punya Kai!"

"Ada apa ribut-ribut? Hei hyung, ayo kita keluar, Kris gege datang dan ia membawa wanita yang ia yakini... ibunya." Sehun berkata sedikit ragu, mereka pun menyusul ke arah ruang tamu. Tiba-tiba Kyungsoo merasa dirinya diawasi, ia menoleh, ternyata empat orang pelatih yang semalam. Kyungsoo lupa kalau mereka menginap.

"M-Miyoung?" seluruh mata menoleh, menatap Siwon yang tergagap. "What the hell, apa yang kau lakukan membawa mata-mata penyerang ke markasmu Wu Yi Fan?" protes Changmin. "Tapi dia ibuku, dan tunggu.. Miyoung?" Kris yang masih menggendong Tiffany batal membawa Tiffany ke kamar.

"Kau.. Wu Yi Fan?" Siwon mendadak bertanya dengan suara yang tercekat. "Kau Wu Shi Yuan?" balas Kris. "Ada apa ini Siwon? Siapa Wu Shi Yuan?" tanya Kangin.

"Dad? Why are you here?"

TBC!

YEAAAHHHHHHHHHH
SETELAH BINGUNG MAU BAWA KEMANA FF INI AKHIRNYA BISA BIKIN LANJUTANNYA :')

Yaampun maaf belum bisa bikin lanjutannya Boss! Sama Hello Baby. Bingung mau gimana, sebagai gantinya aku bikin chapter MAMA Legends ya hehe. Maklum saya di pondok kemarin jadi gabawa laptop, yaudah ini. Insyaallah Boss bakal selesai minggu ini, doain ya^^~

Oh iya ini gaada latihan soalnya mau fokus ke masa lalu Kris sama Kyungsoo. Dan ternyata ibunya Kris adalah pasukannya lawannya Kris. Oh iya disini aku bikin Tiffany-Siwon itu orangtuanya Kris, maaf ya kalau ga suka Super Generation. Sebenernya aku juga ga seberapa suka tapi ini tuntutan peran._. aku mau masangin Kibum Siwon tapi kayanya kalau buat ibunya Kris lebih cocok tiffany/jessica kan sama sama orang luar negeri. Cuma kalau Jessica kayanya ga pantes hehehe. Maaf banget._.v

Yaudahlah,

Last, Review? :D