Chapter 4

Summary : Sebelum meninggal, Kushina dan Minato meninggalkan pesan bahwa Naruto harus menjemput istrinya di Quebec City. Sementara Naruto tidak ingat pernah menikah. Apa yang sebenarnya terjadi? Tiba-tiba kehidupannya berubah.

Disclaimer : Karakter milik Om Masashi. Cerita sepenuhnya milik Author. Arigatou.

Warning : Au, Ooc, Marriage Life. NaruSaku.

oOo

Terkadang kita akan merasakan bahagia ketika kita menjadi seseorang bagi seseorang, dengan begitu paling tidak kita tahu bahwa di dunia ini keberadaan kita dianggap dan dihargai. Sakura hanyalah gadis yatim piatu yang tumbuh di panti asuhan. Sejak kecil ia tak pernah merasa dianggap hidup meskipun hanya dengan sedikit kasih sayamg dari orang terdekatnya. Tak ada keluarga yang melindunginya, pun orang tua yang berada di dekatnya. Sakura dibuang sesaat setelah ia dilahirkan, seolah keberadaannya tak pernah diakui sejak sebelum dirinya melihat dunia. Semua yang ia capai sampai detik ini tak lepas dari perjuangannya betahan melawan kerasnya kehidupan. Terlebih kehidupan Kanada yang sangat liar dan kasar.

"Kaa-san, Tou-san, begitu cepat kalian pergi." Sakura menatap sendu dua gundukan tanah di depannya. Ia memang sengaja meminta izin pergi mengunjungi makam kedua orang tua Naruto. Sakura berjongkok, menaruh dua buket bunga di depan batu nisan bertuliskan nama dua orang yang paling ia sayangi di dunia ini selain suaminya. Orang-orang yang sudah menjadi keluarga sesungguhnya baginya. Air matanya jatuh di antara dua pusara berhiaskan beberapa helai taburan bunga yang sudah mengering dan ditumbuhi rumput di beberapa sudutnya.

"Bagaimana dengan aku?" wanita itu mulai menangis, memegangi dadanya yang mendadak sesak. "Jika kalian pergi begitu cepat, bagaimana dengan aku di sini?"

Tenten berinisiatif mendekat untuk merangkul Sakura dalam pelukannya, berusaha menguatkan majikannya. Kasihan sekali Sakura harus menangis berkali-kali padahal tidak lebih dari dua puluh empat jam sejak kedatangannya ke Konoha. "Nyonya..."

"Bagaimana aku bertahan dengan semua ini, Kaa-san?" Sakura semakin terisak, suaranya tercekat di tenggorokan. "Aku mungkin tidak sanggup menjalaninya sendirian," lirihnya.

"Sakura?"

Saat itulah sebuah suara yang terdengar berat dan lembut di saat bersamaan memanggil namanya. Sakura merasakan orang itu mendekatinya lantas berjongkok di sampingnya. Ia menoleh dan sedikit terkejut.

"Kau?"

oOo

"Aku sengaja pulang." Hinata menjawab pertanyaan Naruto yang terdengar aneh. Bahkan terasa kurang menyenangkan. Apakah kepulangannya hari ini tidak terlalu diharapkan?

Hari beranjak sore. Awan-awan bergerak mengikuti arah angin, membawa serta beberapa helai warna emas yang jatuh di atasnya. Sebuah keindahan yang dipersembahkan senja dari ufuk barat di awal musim dingin. Namun kening Naruto justru berkeringat meskipun cuaca dingin di luar gedung. Rasa terkejutnya belum habis dikarenakan Sakura, kini haruskah ia kembali terkejut dengan kedatangan Hinata? Ya Hyuuga Hinata. Nyaris semua orang tahu bahwa Uzumaki Naruto memang memiliki hubungan khusus dengan putri Hyuuga, bahkan dikabarkan tak lama lagi mereka akan meresmikan hubungannya ke jenjang yang lebih serius. Entah berita itu hanya isapan jempol atau memang benar adanya, kenyataannya hari ini Naruto tidak siap bertatap muka dengan gadis Hyuuga itu. Benar-benar tidak siap.

"Err, maksudku apa yang membawamu pulang ke Jepang?" Naruto meralat pertanyaannya.

Sejak sekolah menengah Hinata memang tinggal bersama ibunya di London dan hanya pulang sesekali saja ke Konoha jika ayahnya meminta atau jika ia ingin liburan ke kampung halaman. Selain itu Hyuuga Hinata tidak banyak memiliki kepentingan di Jepang terutama setelah dirinya sukses sebagai aktris terkenal dengan jam terbang yang cukup tinggi di Inggris.

Dua iris mutiara gadis Hyuuga itu menangkap kilat ketakutan dari tatapan Naruto. Kenapa? Rasanya ia paham alasannya. Hinata tersenyum tipis, dengan sengaja mendudukkan dirinya di atas sofa beludru berwarna merah di tengah ruang kerja Naruto.

"Aku hanya merindukanmu. A-Apakah mungkin aku mengganggumu?"

'Ya!' Naruto berteriak dalam hati. Tapi tentu saja tidak ia utarakan melalui lisan. Pria itu hanya memijat keningnya yang tidak sakit. Mendadak darahnya seperti naik semua ke kepala. Entah karena apa. " Tentu saja tidak." Naruto memaksakan senyuman.

"Apakah ada yang hendak kau katakan?"

"Soal itu..." Naruto menutup semua berkas yang sedang dikerjakannya ‒yang sebenarnya tidak benar-benar ia kerjakan mengingat sedari pagi dirinya banyak melamun di jam-jam sibuk, termasuk beberapa saat lalu sesaat sebelum kedatangan Hinata. "Ada yang ingin aku bicarakan." Pria itu berjalan menghampiri Hinata untuk bergabung di sofa ruang kerjanya.

"So-al?" Hinata menelan ludahnya. Ia tidak terlalu bodoh untuk tidak memahami arah pembicaraan Naruto.

Mungkin ini memang saat yang tepat bagi Naruto menjelaskan apa adanya pada Hinata. Semua hal yang ia pikir mustahil sejak beberapa hari lalu itu harus secepatnya ia katakan pada Hinata. Naruto mencari kata-kata dalam otaknya yang pas untuk ia ucapkan. Ia sudah mempersiapkan semua konsekuensinya. Meskipun dirinya sendiri belum sepenuhnya menerima semua kenyataan yang terjadi.

"Hime-chan, dengarkan aku. Apa yang akan aku katakan ini mungkin tidak terlalu menyenangkan bagimu tapi‒"

"Aku membawakan dua tiket pertunjukan opera untuk kita berdua." Hinata bergegas menaruh dua lembar kertas di atas meja. Naruto yang kalimatnya dipotong begitu saja hanya terdiam tak berkutik.

"Hime-chan, dengarkan aku dulu‒"

"A-Akan ada acara matsuri awal musim dingin di tengah kota. Aku akan menunggumu di tempat biasa pada jam biasa." Hinata langsung berdiri. Tak memberi Naruto kesempatan sekadar membalas kalimatnya. "Sampai ketemu nanti. Ada banyak barang yang harus aku bereskan di apartemen. Jaa Naruto-kun!" ia melenggang begitu saja meninggalkan Naruto yang tidak mempu bergerak menahan kepergiannya.

"Ini gila!" gumam Naruto frustasi.

oOo

Suatu pagi di musim gugur,

Aroma kopi menguar dari counter barista sebuah cafe. Orang-orang lalu lalang silih berganti datang dan pergi meninggalkan tempat itu. Beberapa masih berbaris mengantri di depan kasir menunggu pesanan. Beberapa lain sedang asyik mengobrol dengan teman nongkrong di meja kafe sementara yang lain lagi sibuk bergulat dengan keyboard komputer entah mengerjakan apa. Suasana kafe selalu hidup sepanjang siang dan malam.

"Bolehkah saya meminta tambahan susu coklat di dalam kopinya?" Seorang wanita memanggil waitress yang tengah mengantarkan kopi ke sebuah meja pelanggan.

"Tentu saja Nyonya. Bolehkah saya membawa cangkir Anda terlebih dahulu?" Gadis itu menyodorkan tangannya meminta cangkir si wanita.

"Tolong ya!" Seorang pria lain di meja itu menyahut sambil tersenyum.

Sekembalinya si gadis dari counter barista kafe ia menyerahkan cangkir kopi kembali pada si wanita berambut merah dengan kacamata dan pria berambut kuning yang panjang menutup keningnya.

"Namamu Sakura?" ucap wanita itu setelah melihat sebuah note di samping cangkir kopinya yang biasanya sengaja ditaruh para karyawan kafe untuk membuat pelanggan terkesan. Biasanya berisi quotes atau kata-kata indah yang meminta pelanggan kembali mampir di lain waktu. "Kau dari Jepang?"

Sakura yang hendak pergi berbalik sambil tersenyum ramah ala waitress kafe. "Iya, Nyonya. Kebetulan saya keturunan Jepang. Tapi lahir dan tinggal di sini."

Wanita itu tersenyum sangat manis di mata Sakura. Cantik dan anggun. Sangat serasi dengan pasangan di sebelahnya yang tampan berkharisma. "Pantas saja Bahasa Inggris dan Perancismu sangat fasih." Kushina mengangguk paham.

"Selamat menikmati, Nyonya."

Kushina menyeruput sedikit kopinya lalu tersenyum senang.

"Kopimu enak."

oOo

Sakura terbangun dengan kedua pipi yang sudah basah oleh air mata. Tanpa sadar ia menangis dalam tidur. Ia lihat Tenten memperhatikan tak jauh dari sofa tempatnya tertidur karena menunggu kepulangan Naruto.

"Anda tidak apa-apa, Nyonya?"

Tenten sejujurnya tidak tahan melihat Sakura menangis terus-menerus seperti ini sejak kemarin. Ia merasa tak ada ruang bagi majikannya sekadar bernapas sesaat menenangkan diri sebab di setiap sudut Konoha dipenuhi kenangan-kenangan tak terlupakan tentang kehidupannya sebelum semua masalah ini menimpa dirinya.

"Aku hanya bermimpi buruk." Sakura bangun lalu mengusap wajahnya yang masih mengantuk. Ia tertidur cukup lama, malam sudah larut, jam menunjukkan pukul satu malam dan Naruto masih belum terlihat kembali.

"Apa tidak sebaiknya Anda kembali ke kamar saja, Nyonya?"

Sakura menoleh melihat meja makan yang masih kosong. Di atasnya terdapat beberapa piring makanan yang mulai dingin karena dibiarkan. Perut Sakura berbunyi karena kelaparan. Haruskah ia kelaparan hanya karena menunggu seseorang yang bahkan mungkin tidak ingat pada dirinya? Ah sungguh ironi yang menyedihkan. Sebenarnya untuk apa ia melakukan semua ini?

"Kau benar. Tolong bereskan makanan itu." Sakura mengiyakan lantas melenggang menuju lantai dua.

Ingatannya melayang pada seseorang yang ia temui di pemakaman sore tadi. Orang yang cukup lama tidak ia jumpai.

"Aku sengaja datang untuk mengucapkan salam." Orang itu berkata sambil tersenyum.

"Sudah sangat lama, Sai." Sakura mengenali Shimura Sai sebagai pengawal pribadi Minato dulu. Ia dengar Sai dapat selamat dari insiden kecelakaan karena ketidakikutsertaannya dalam acara yang hendak dihadiri Kushina dan Minato.

Tatapan mata Sai berubah sendu menatap dua nisan yang berdampingan di samping tempat Sakura berjongkok. "Aku diberikan tugas terakhir oleh Tuan sebelum kepergiannya," pandangan matanya berganti menatap Sakura. "Yaitu menyusul Anda ke Kanada dan menjaga Anda di sana."

Obrolan itu sangat singkat namun menohok Sakura. Minato selalu saja mengkhawatirkan Sakura sejak pertama kali mereka saling mengenal sampai statusnya berubah sebagai menantu keluarga Uzumaki. Sakura memegang lehernya yang mulai terasa sakit karena tidur di atas sofa yang kasar.

oOo

"Forehead!"

Teriakan itu terdengar melengking dan sedikit menyakiti pendengaran. Sakura menutup dua telinganya sebelum melanjutkan langkahnya menuju ke arah kantin. Seorang wanita dengan rambut pirang panjang dan kacamata berlari cepat ke arahnya. Sakura menatapnya bingung, dari mana ia tahu tempat kerja Sakura yang baru? Wanita itu hanya menggeleng pasrah dengan kelakuan sahabatnya.

"Pelan-pelan Ino Pig! Apa kau ini anak remaja?!" bentak Sakura lengkap dengan pukulan pelan di lengan Ino. Tentu saja Sakura jengkel sebab ia tahu bahwa Ino adalah orang yang cukup penting di perusahaan pusat keluarga Uzumaki, namun di jam kerja seperti ini dirinya justru ada di tempat ini.

"Kenapa kau kerja di sini? Bagaimana bisa kau bekerja menjadi seorang pengajar begini?!" seketika sekeliling Sakura menjadi heboh hanya karena satu orang.

Benar sekali, ini adalah hari pertama Sakura mengajar di Universitas Konoha sebagai dosen di bidang kesehatan. Ia sengaja melamar sebagai pengajar karena merasa bosan setiap hari menjalani rutinitas di rumah sebagai Nyonya Uzumaki. Otot-ototnya pegal meminta digerakkan dan otaknya tumpul meminta dipakai. Hampir dua minggu berlalu, dan jangan tanyakan bagaimana perkembangan hubungan antara Sakura dengan suaminya, jawabannya sama sekali tidak ada perkembangan! Bagaimana tidak, jika Naruto terus menghindari Sakura. Pergi pagi-pagi sekali dan pulang lewat tengah malam. Sakura tidak terlalu bodoh untuk menyadari penolakan Naruto terhadap dirinya. Kini ia benar-benar telah kehilangan semuanya.

Tapi bukankah hidup harus tetap berlanjut? Dengan atau tanpa Naruto. Sepertinya Sakura memang harus memulai semuanya dari awal. Kembali pada saat sebelum laki-laki itu hadir dalam kehidupannya. Meskipun mungkin tak semudah mengatakannya.

"Tenanglah, aku hanya mengisi waktu kosong." Sakura menjawab asal.

"Bagaimana dengan ramen?" saran Ino sambil melirik ke arah kantin. Sakura yang mengerti maksud sahabatnya langsung mengangguk antusias. Keduanya bergegas menuju kantin. Rasanya perut mereka sudah keroncongan.

oOo

"Kau bilang apa barusan?"

"Nyonya Sakura mulai mengajar di Universitas hari ini," Gaara memperjelas kalimatnya pada Naruto.

Naruto menaruh dokumen seusai rapat dengan para manager kantor dan beberapa direktur dari anak perusahaan Uzumaki terkait beberapa proyek penting yang sedang mereka garap. Ia sempat tertegun sesaat mengingat berkas dari Shikamaru kemarin yang berisi latar belakang Sakura. Ya, Haruno Sakura, gadis yatim piatu yang lahir dan besar di Kanada. Serta lulus dengan nilai tinggi sebagai mahasiswa kedokteran di usia muda. Sakura sepertinya memang orang akademik, awalnya tak ia sangka melihat dari penampilannya, Naruto tidak menyangka bahwa Sakura adalah seorang dokter spesialis yang cukup terkenal di kalangan para medis.

"Apa yang sebenarnya dia inginkan?" Naruto bertanya pada dirinya sendiri.

Gaara menyahut, "mungkin Nyonya bosan sendirian di rumah, Tuan."

"Kau tahu, kadang-kadang dia melakukan hal yang aneh padaku, bahkan beberapa kata-katanya terdengar aneh. Aku jadi ragu."

"Maksud Anda?"

Naruto ingat terakhir kali ia bertemu Sakura adalah dua minggu yang lalu. Di pagi hari tiba-tiba saja Sakura mengatakan hal yang aneh di telinga Naruto. 'Aku senang kau kembali bekerja ke kantor', dan tiba-tiba saja mengatakan 'kau cocok dengan jas itu' atau apa pun kata-kata aneh lainnya. Wanita itu terdengar seperti sangat memahami Naruto tapi pada kenyataannya tidak.

"Kau pikir apa mungkin seorang yang kehilangan ingatannya akan kehilangan kebiasaannya juga?"

Gaara tampak berpikir sebentar. "Kurasa tidak, tapi aku tidak begitu tahu."

Naruto menghela napas kecewa. Ah ia lupa harus meminta Shikamaru menjadwalkan ulang schedulenya untuk sabtu nanti, ia punya janji dengan Hinata untuk menemaninya pergi ke festival musim dingin.

oOo

"Forehead tehanya hau kem‒"

"Telan makananmu terlebih dahulu Pig!" Sakura memukul bahu Ino yang mencoba berbicara sementara mulutnya penuh dengan mie.

Ino menelan mienya lalu mengambil segelas air tak jauh darinya. "Teganya kau kembali tanpa memberitahuku Forehead!"

Sakura memutar bola mata, merasa Ino terlalu mendramatisir keadaan. "Aku bukannya tidak mengabari. Hanya belum sempat."

"Kau ke mana saja Forehead! Dua tahun sudah berlalu dan kau sepertinya sudah melupakan aku! Kau ke mana saja? Di mana selama ini kau tinggal? Kenapa baru muncul hari ini? Kenapa kau sama sekali tidak mengabari aku tentang keadaanmu? Apa kau benar-benar berencana melupakan aku? Hah? Benarkah?"

Pertanyaan Ino beruntun ia lemparkan ke Sakura, nyaris membuat sahabatnya memuntahkan seluruh mie yang sudah masuk ke mulutnya. "Aku harus menjawab yang mana? Dasar bodoh! Uhuk!"

Meja itu terdengar paling heboh di antara meja lainnya di kampus itu. Kehebohan tersebut cukup menarik perhatian banyak orang di kantin. Sakura dan Ino terkekeh pelan, mereka memelankan suaranya.

"Aku senang kau baik-baik saja," ujar Ino lembut. Kali ini terdengar lebih tulus dari sebelumnya. "Aku sedih saat mendengar kabar soal kecelakaan dua tahun yang lalu, lebih sedih saat tiba-tiba saja kau menghilang dari kehidupan kami, terlebih saat Nyonya Uzumaki mendatangiku dan meminta secara pribadi agar aku tidak pernah membahas tentangmu lagi, terutama di depan Naruto. Awalnya aku tidak mengerti maksudnya, tapi lambat laun aku paham. Ada yang berbeda dengan Naruto."

Sakura tertunduk sedih. Mendadak mie di depannya terlihat tidak enak di mata Sakura. Nafsu makannya hilang seketika.

Angin berhembus dari luar kantin. Langit berubah gelap menandakan hujan akan segera turun. Ino langsung terdiam menyadari kata-kata kurang tepat diucapkan pada Sakura.

"Ma-af." Ino menunduk penuh sesal.

"Menurutmu bagaimana dengan Naruto yang sekarang?" Sakura balik bertanya. Dalam hatinya masih saja mengganjal pertanyaan tentang itu. Berhari-hari ia tidak mampu menjawabnya sendiri.

Ino berpikir sebentar. "Kurasa banyak hal yang berubah. Termasuk sikapnya."

"Menurutmu apakah mungkin jika seorang kehilangan ingatan, dia juga akan kehilangan perasaannya?"

Ino menghela napas. "Bisa iya bisa tidak. Biasanya kalau itu drama, perasaan seseorang tidak akan mudah berubah meskipun ingatannya hilang."

Ya benar. Jika pada awalnya seorang itu memiliki perasaan terhadap pasangannya. Pertanyaannya bagaimana jika sejak awal Naruto tidak memiliki perasaan pada Sakura? Maka jawabannya akan berbeda pula. Maka semua yang terjadi hari ini terdengar sangat masuk akal di mata Sakura bagaimana Naruto selalu menutup dirinya setiap kali bertemu Sakura. Meskipun setiap pagi Sakura menyiapkan sarapan buatannya yang selalu diabaikan, atau susu coklat yang dibiarkan dingin dengan sendirinya, atau makan malam yang sering terbuang sia-sia.

"Dengar Forehead, aku percaya pada ketulusanmu, kau akan mampu membuat Naruto kembali seperti semula. Namun aku menyayangkan sikapmu yang lari dari masalah selama dua tahun ini. Aku tidak tahu apa alasanmu pergi selama dua tahun tanpa kabar. Kau tahu, dengan kau pergi kau tidak akan mendapatkan ketenangan. Kau hanya menunda permasalahan yang pada akhirnya tetap akan kau hadapi. Sejauh apa pun kau berlari, di jarimu terikat sebuah benang takdir yang harus kau tuntaskan tidak hanya dengan cara melupakan. Sepertinya hari ini permasalahan ini semakin berlarut-larut. Jadi kau harus menghadapinya jauh lebih intens dari sebelumnya. Apa aku salah?" Ino mengatakan isi hatinya panjang lebar. Ingin sekali rasanya memukul sahabat bodohnya yang gegabah ini. Tapi itu tidak mungkin setelah usia mereka dewasa seperti sekarang.

"Kau benar. Bagaimana pun inilah yang terjadi." Sakura mengangkat bahu.

Setelah usai obrolan singkat namun panjang mereka di kantin Ino meminta diri untuk kembali ke kantor karena takut akan kena marah meninggalkan posisinya terlalu lama. Sakura kembali ke kelas melanjutkan kegiatannya mengajar mahasiswa. Hingga sore tiba membawa gerimis kecil di antara daun-daun di taman kampus. Sakura membuka jubah putihnya, bersiap untuk pulang. Tenten sudah mengirim pesan bahwa dirinya menunggu di lobi kampus bersama pengawal mereka, Shimura Sai.

"Saya pamit pulang!" Sakura membungkuk pada dosen lain di ruang dosen. Beberapa dari mereka menjawab dengan senyuman dan pesan agar Sakura berhati-hati.

Ia berjalan menyusuri lorong kampus menuju ke arah lobi, berusaha menghindar dari cipratan air hujan yang mulai turun membasahi koridor. Tepat di ujung bangunan fakultas yang terpisah dengan bangunan utama Universitas Konoha Sakura berhenti, kebingungan mencari cara agar ia tidak kebasahan menuju lobi. Baru saja tangannya hendak mengangkat tas sampir untuk ia gunakan sebagai payung agar menutupi kepalanya, sebuah tangan bergerak tiba-tiba saja berada di depan wajahnya. Tangan itu menggenggam sebuah payung. Sakura mendongak dan mendapati seseorang berdiri di ujung koridor memayunginya dari air hujan.

"Uzumaki-sensei?" Pria itu menyapa dengan nada flat dan ekspresi wajah yang terlampau datar. Sampai-sampai Sakura canggung untuk menjawab.

"Anda?" Sakura berusaha mengingat nama pria di depannya, mencari di setiap sudut otaknya di mana ia pernah bertemu orang ini?

"Uchiha Sasuke."

"Ah, oh, maaf boleh aku ikut di payungmu?" Sakura melihat jam di tangannya. "Sepertinya aku agak terlambat."

"Hn." Pria bernama Sasuke itu hanya mengangguk sambil menggumamkan sesuatu yang tidak bisa didengar telinga Sakura. Ah itu tidak penting, yang lebih penting adalah ia cepat pulang dan beristirahat.

Sesampainya di lobi kampus Sakura membungkuk berterima kasih pada Sasuke, ia langsung bergegas menghampiri mobil yang ia kenali sebagai mobilnya. Hanya saja wanita itu tidak menemukan Tenten dan Sai seperti yang pengasuhnya katakan di sms tadi. Sakura membuka pintu depan dan terkejut mendapati Naruto yang duduk di kursi kemudi. Ia duduk dengan wajah yang tidak bersahabat. Ah sial, ke mana Tenten dan Sai? Kenapa harus Naruto?

"Masuklah," pintanya dengan nada dingin atau hanya pendengaran Sakura saja, sebab suara hujan cukup memekakkan telinga.

"Naruto? Kau sudah pulang?" Sakura berusaha mencairkan suasana.

"Apa yang kau lakukan tanpa sepengetahuanku?"

Setelah menutup pintu mobil dan Naruto menghidupkan mesin mobil mereka menyusuri jalanan Konoha menembus derasnya hujan di tengah kota. Orang-orang berlarian menghindari air, sebagian lain berjalan cepat menggunakan payung berwarna-warni yang menghiasi trotoar.

Takut-takut Sakura melirik Naruto. "Aku hanya mengisi waktuku."

"Mengisi waktu katamu? Dengan mencoreng nama Uzumaki di belakang namamu?"

"Maksudmu?" Nada suara Sakura sedikit meninggi. Ia tidak sadar melakukannya.

Naruto memejamkan mata. Mendadak ia merasa marah dan jengkel. Ia sendiri tidak sadar dengan ucapannya sendiri. Hanya saja ia tidak suka Sakura mengajar dan ia merasa kesal sejak pertama kali mendengar kabarnya setelah Gaara melaporkan hal tersebut.

"Maksudku, kau tidak perlu melakukan apa-apa. Dengan nama Uzumaki di belakang namamu, apa pun yang kau lakukan akan menjadi sorotan banyak orang. Mereka akan menjadikanmu pemberitaan, dan kau tahu? Aku agak tidak suka menjadi pusat perhatian."

"Aku tidak akan melakukan hal yang macam-macam. Aku sadar itu. Lagipula, sejak kapan kau membanggakan nama Uzumaki-mu itu?"

Naruto mendelik sedikit sinis. "Pertanyaanku, sejak kapan aku tidak membanggakan namaku ini?"

Sakura terhenyak, apa mungkin ia salah bicara kali ini? Nada suara Naruto bukan main-main dingin dan sinis di waktu bersamaan.

"Maaf kalau aku salah bicara."

"Dan maaf jika aku 'tidak seperti biasanya' seperti yang kau katakan barusan dan hari-hari sebelum ini." Naruto menginjak lebih keras gas di kakinya. Ia memang sengaja menjemput Sakura sendiri dan meminta Tenten maupun Sai untuk pulang sebab dirinya ingin membawa Sakura ke suatu tempat.

Naruto membawa Sakura sampai ke sebuah taman di tengah kota. Ia turun setelah mematikan mesin dan meminta Sakura keluar tanpa menggunakan payung, keduanya sengaja membiarkan dirinya diguyur hujan. Naruto mengambil sebuah ranting lalu menuliskan namanya di atas pasir tempat bermain anak kecil dan menuliskan nama Sakura juga. Sakura hanya memperhatikan dengan perasaan kebingungan.

"Kau lihat?" Naruto menunjuk tulisan di atas pasir itu yang perlahan hilang dihantam air hujan. "Seperti inilah aku dan dirimu."

Sakura terdiam kaku. Tubuhnya membeku. Ia bukan tidak paham maksud Naruto dengan analogi yang coba dijelaskannya. Seluruh baju Sakura juga baju Naruto sudah basah kuyup. Langit masih gelap dan awan masih setia menurunkan butiran-butiran hujan.

"Hari ini kita seperti pasir. Mengembalikan semuanya itu seperti menulis namaku dan namamu di atas pasir. Sementara waktu dan kejadian itu seperti hujan. Sehingga apa pun yang coba kita tulis di atas pasir tidak akan pernah menjadi tulisan karena hujan akan menghapusnya kemudian."

Deg

Sakura kini paham maksud Naruto sepenuhnya. Secara tidak langsung Naruto menginginkan agar mereka tidak berusaha mengembalikan keadaan seperti semula. Pada kenyataannya mereka telah banyak berubah. Waktulah yang sudah merubah banyak hal. Ino benar, melarikan diri selama dua tahun tak pernah menyelesaikan apa-apa justru memperkeruh keadaan. Sakura paham dengan perasaan Naruto. Dia pasti lebih kebingungan dibandingkan siapa pun. Tiba-tiba saja seseorang yang 'tidak' ia kenal datang ke dalam kehidupannya dan mengacaukan banyak hal.

Sakura menangis dalam diam. Namun kali ini air matanya tidak keluar. Entah tidak keluar atau karena hujan membawanya serta jatuh ke tanah sehingga air matanya tidak terlihat, yang jelas dadanya terasa sakit mendengar kalimat Naruto. Ia hanya tidak menyangka orang yang sebelumnya paling ia pecayai tidak akan pernah menyakitinya di dunia justru membuat hatinya seperti diremas begini.

"Aku akan secepatnya kembali ke Kanada. Kau tidak perlu merasa bertanggung jawab terhadapku. Aku memahamimu. Hiduplah dengan bahagia dan anggap aku tidak pernah ada dalam kehidupanmu. Kau benar, kita hanya seperti pasir." Suara Sakura bergetar. Haruskah ia menyerah dengan mudah seperti ini?

Naruto hanya menundukkan kepala tidak tega melihat wajah Sakura. Tanpa disadarinya tubuh Sakura tiba-tiba saja abruk ke tanah.

"Sakura!"

oOo

To be continued

Haaaiii Author kembali. Jangan lupa tinggalkan Review, klik Fav dan Follow untuk menambah semangat Author.

Terima kasih kepada :

Matarinegan : hahaha diusahakan update seminggu sekali ya ini juga. Author tambah semangat kalo banyak yang suka, Ganbatte!

Rosaerith : Continueeee

Narto : Yup!

Anonim : Yuk!

nona fergi kennedy : Wkwkwk Aku juga bingung dibuat triangle jangan ya? Atau segi empat biar tambah seru? Ah tapi Author kurang suka cerita segitiga segi empat gitu, mungkin hanya sedikit bumbu saja. Author lebih suka cerita yang fokus pada kisah dua chara utama saja. Ganbaree !

Namikaze Yohan : Yup siap laksanakan!

NSL : Tidak semudah itu ferguso hahaha

Dan semua silent reader kesayangan Author hehe. Semoga menghibur, Jaa. Maaf kalo pendek ya.