terimakasih untuk Ms. Loony Lovegood, aquadewi dan Chocofia.

untuk Aquadewi: berencana bikin cerita yang cukup panjang, tapi gak terlalu panjang juga karna takut stuck di tengah jalan atau keburu pada bosen. hehe.

maaf karna terlalu lama buat update chapter ke-4nya. kemarin kepotong UTS dan ujian praktikum. selain itu idenya agak mandet juga hehe.

oke, ini chapter 4nya, semoga suka.

Semua karakter milik bunda J.K. Rowling

maafkan kalau masih ada typo(s), OOC, kemiripan cerita dan sebagainya

Chapter 4 – First Year

Hermione naik perahu bersama Seamus Finnigan, Susan Bones, dan dua orang murid tahun pertama lainnya. Itu adalah pertama kalinya Hermione melihat kastil Hogwarts secara langsung. Kastil itu sangat besar, klasih, dan indah. Kastil itu sudah tinggi, dan semakin terlihat megah bila dilihat dari bawah sana. Cahaya temaram yang keluar dari setiap jendela di kastil itu menambah keindahan di setiap centi kastil itu. Hermione tak sabar rasanya ingin segera menginjak tempat itu. perahu kecil yang ditumpanginya terasa berjalan begitu lambat, membuat Hermione semakin tidak sabar..

Rasanya senang namun takut saat Hermione menaiki tangga kastil itu dan melihat professor McGonagall sudah berdiri di atasnya. Berbeda dengan Draco, dia sama sekali tidak takut saat menaiki tangga itu. senyumnya mengembang saat mengagumi kastil tersebut. Draco sedikit berlari saat menaiki tangga, dan mengambil posisi nyaman pada sisi kiri tangga, sebelum mendengar sambutan dari McGonagall.

"selamat datang di Hogwarts. Sebentar lagi kalian akan melalui pintu ini dan bergabung dengan siswa-siswa lainnya. Tapi sebelum kalian boleh duduk, kalian akan disortir berdasarkan asrama kalian. Ada Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw dan Slytherin," Draco menyeringai saat McGonagall menyebutkan 'Slytherin' keluarga Malfoy selalu berada di asrama itu selama berabad-abad, dia sudah tahu pasti bahwa dirinya akan masuk asrama Slytherin. Dia juga senang masih ada asrama yang mengagungkan kemurnian darah. Yah, mungkin half-blood masih di toleransi oleh Slytherin. Tapi mudblood tentu saja tidak! Mereka bahkan tidak pantas disebut sebagai penyihir bukan? "selagi kau tinggal disini, asramamu adalah keluargamu," tambah McGonagall

"tujuan kamu adalah memenangkan nilai," Hermione sudah tahu tentang yang satu ini. Namun dia belum tahu pasti asrama mana yang beruntung mendapatkan poin dari dirinya. Oh tapi dia yakin akan satu hal. Asrama yang beruntung itu tentu bukan sekumpulan ular hijau Sltherin. "Pelanggaran peraturan akan menyebabkanmu kehilangan nilai," betapa sialnya asrama yang akan ditempati Draco Malfoy nanti. Dia pasti akan sering mendapatkan masalah! Pikir Hermione. Jika dipikir lagi, Draco adalah penyihir berdarah murni yang begitu menagungkan status darah, dan tak satupun Slytherin seorang muggle-born, pastilah anak menyebalkan itu akan masuk Slytherin. Setidaknya saat ini Hermione sedikit lebih tenang karena asrama manapun yang akan dia tempati nanti, dia tidak akan terjebak bersama Draco Malfoy di dalamnya.

"di akhir tahun, asrama dengan nilai tertinggi akan mendapatkan house cup," kata McGonagall. Belum sempat wanita itu menarik napas, anak laki-laki yang tadi Hermione ketahui sebagai Neville longbottom memekik girang karena menemukan Trevor, kataknya yang sejak siang tadi anak menertawakannya, beruntunglah Neville karena McGonagall hanya menatapnya dengan sebal.

"a sorting ceremony akan segera dimulai," kata McGonagall sambil membalikkan badannya. "kalau begitu benar apa yang dikatakan orang-orang di kereta tadi. Harry Potter datang ke Hogwarts," kata Malfoy dengan tampang angkuhnya sambil menatap Harry. "kenalkan Crabbe dan Goyle," kata Draco mengenalkan kedua teman bodohnya. Hermione pura-pura tidak peduli dan tidak mengenalnya "dan aku Malfoy. Draco Malfoy," kata anak pirang itu. Hermione berani bersumpah dia mendengar suara tawa yang ditahan dari anak sebelahnya. Diapun ingin menertawakan Draco sebenarnya, tapi dia pikir itu bukanlah hal yang baik mengingat siapa anak itu. "kaupikir namaku lucu? Aku tidak perlu menanyakan namamu. Rambut merah, jubah bekas, kau pasti seorang Weasley," kata Draco pada Ron. Benar seperti dugaan dia. Anak arogan dan sombong itu pasti akan membuat masalah, bahkan di jam pertama dia masuk Hogwarts! Untung saja Hermione masih mampu menahan tawanya tadi sehingga dia aman dari hinaan yang diberikan Malfoy. Hermione sebenarnya merasa tidak tega melihat wajah menyedihkan Ron, namun dia tidak berani mengambil resiko dengan menentang Malfoy di depan semua siswa tahun pertama.

"kau akan tahu bahwa keluarga penyihir tertentu lebih baik dari penyihir lainnya Potter. Kau tidak ingin berteman dengan orang yang salah Potter," kata Draco sambil menatap wajah menyedihkan Ron. "aku bisa membantumu dalam hal ini," kata Draco sambil mengulurkan tangan pada anak berambut hitam dan luka sambaran petir itu. "kupikir aku bisa membedakan sendiri, terimakasih," kata Harry. Hari ini seorang yang sangat tidak terkenal dan tidak penting berani membuat Draco terjatuh karena dia menabraknya, lalu seorang yang sama tidak pentingnya, dan terkenal karena kemiskinannya, menertawai namanya. Dan sekarang, seorang bocah yang tak mengerti apa-apa tentang dunia sihir, terkenal karena kepala pitaknya itu, merasa lebih baik dari dirinya hingga tak menerima jabatan tangannya. Semua hal itu membuat Draco muak menjadi siswa Hogwarts dan merasa bahwa perkataan ayahnya tentang dia lebih baik di Durmstrang adalah benar.

Oh Hermione merasa senang sekali dengan perkataan Harry barusan. Itu sangat bagus dan hebat! Dan Draco tidak menjawab apa-apa. Mungkin karena belum sempat dia menjawab, McGonagall telah datang dan menepuk pundak anak itu dengan perkamen. Cukup menghibur bagi Hermione yang ketakutan akan upacara itu. "kami sudah siap untuk kalian sekarang. Ikuti aku," kata McGonagall. Hermione, Draco, dan seluruh murid tahun pertama mengikuti McGonagall dari belakang tanpa membantah sedikitpun.

Pintu aula besar terbuka dengan sendirinya saat McGonagall berjalan mendekati pintu itu. Hermione berjalan di samping gadis berhidung pesek dengan rambut hitam sedikit di atas bahu. "itu bukan langit sungguhan, tapi disihir seperti langit malam. Aku membacanya di Hogwarts, a history," kata Hermione pada gadis itu.

'dasar sok tahu!' pikir Draco.

McGonagall naik ke podium dan meminta seluruh murid tahun pertama berbaris di depan podium. Di sebelah kiri professor McGonagall terdapat sebuah kursi, diatasnya ada sebuah topi berbentuk kerucut. Topi itu terlihat sudah sangat usang. Hermione pernah membaca tentang topi tua itu, namun setelah melihatnya secara langsung, ia heran kenapa topi itu masih bisa bertahan sampai sekarang.

"sebelum kita mulai, Professor Dumbledore akan mengatakan sepatah dua patah kata," professor McGonagall menjelaskan.

Seorang laki-laki tua dengan rambut dan jenggot panjang seputih salju berdiri. "aku punya beberapa pengumuman awal semester. Bagi siswa tahun pertama, harap ingat bahwa hutan gelap terlarang bagi semua siswa. Juga, penjaga sekolah kita Mr. Filch, telah memintaku untuk mengingatkan kalian bahwa koridor di lantai 3, di sebelah kanan, tidak boleh dikunjungi," kata pria itu seraya menunjuk seorang pria berwajah aneh yang berdiri di pintu masuk aula besar dengan kucingnya. "bagi yang melanggar dapat menderita kematian yang sangat menyakitkan. Terimakasih," Suaranya sedikit bergetar, sangat menunjukkan bahwa dia adalah pria yang sudah berumur.

"sekarang, saat aku memanggil nama kalian, majulah ke depan. Aku akan meletakkan shorting hat ke kepala kalian. Dan kalian akan di pilah ke asrama kalian masing-masing," kata McGonagall sambil membuka perkamen yang tergulung di tangannya. Dia membaca nama pertama "Hermione Granger," kata wanita itu. Gadis semak yang dipanggilnya terlihat sedikit gugup. Draco merasa sedikit lucu melihstnya. Tidakkah dia berpikir kalau dia akan ditempatkan di asrama yang sama seperti orangtuanya? Ataukah orang tuanya berasal dari dua asrama yang berbeda?

"GRYFFINDOR!" kata topi usang itu. terdengar jeritan bahagia dari meja Gryffindor. "Gryffindor?" Tanya Draco pelan. Dia terlihat berpikir. Gadis semak itu tidak pernah terlihat bersama orangtuanya. Mereka berasal dari asrama sampah itu jangan-jangan mereka lebih sampah dari Gryffindor? Muggle mungkin. Hell! Pantas saja. Gadis itu adalah mudblood. Seorang mudblood yang sok tahu. Dia merasa lebih baik dari pure blood sepertinya eh?

"Draco Malfoy," panggil McGonagall. Bocah laki-laki itu tidak terlalu senang. Bagaimana tidak, seorang malfoy akan mengenakan sesuatu yang baru saja dikenakan oleh mudblood. Tidak adakah seseorang yang bersedia membersihkan topi itu dari bau darah kotor itu?

"SLYTHERIN!" Belum sempat topi itu benar-benar dikenakannya, topi busuk itu sudah meneriakkan dimana seharusnya Draco berada. Anak itu tersenyum. Penyihir terbaik selalu ada di Slytherin. Dia berjalan kea rah meja Slytherin. Meja itu berada di sisi yang berlainan dengan meja Gryffindor. Mata kelabu milik Draco menatap mata hazel milik gadis berambut semak di seberang ruangan. Anak itu menatap Hermione dengan tatapan merendahkan.

Selesai makan malam, semua prefek dari setiap asrama menunjukkan jalan menuju asrama masing-masing kepada murid tahun pertama. Hermione dan beberapa Grffindor lainnya seperti Harry dan Ron, berjalan mengikuti prefek Gryffindor menuju menara Gryffindor. Sedangkan Draco berjalan dengan teman-teman Slytherin dan kedua teman bodohnya menuju asrama Slytherin di bawah tanah.

"Kau lihat wajahnya? Mungkin kalau si gendut itu sempat memegang ini, ia akan teringat untuk jatuh pantat duluan."

"berikan padaku, Malfoy," kata Harry pada anak pirang itu. Harry terlalu berani untuk melawan bocah arogan itu. "tidak. Kupikir akan aku taruh di suatu tempat biar nanti dicari Longbottom," tentu saja Malfoy tidak akan berubah menjadi anak manis dan memberikan remembrall milik Neville pada Harry.

"bagaimana kalau di atap?" Draco terbang dengan sapunya. "Ada masalah apa potter? Diluar kemampuanmu?" katanya sombong.

"Harry jangan! Kau dengar apa yang diucapkan madam Hooch. Lagipula kau belum belajar caranya terbang," kata gadis berambut semak itu pada Harry. Namun Harry lebih memikirkan Neville daripada perkataan gadis bossy di sebelahnya. anak laki-laki itu terbang dengan sapunya dan menghampiri Draco.

"berikan padaku. Kalau tidak kujatuhkan kamu dari sapumu!" kata Harry yang berlagak berani. Dia bahkan baru pertama kali terbang menggunakan sapu terbang.

"memangnya bisa?" kata Draco sombong. Jelas sekali dia tahu bahwa Harry dibesarkan oleh dua orang muggle bodoh yang tentunya tidak mampu terbang dengan sapu. Dia juga yakin ini adalah kali pertama harry terbang sedangkan dia sudah pernah menggunakan sapu terbang mainan sejak dia berumur 2 tahun.

"terserah kau," kata Draco. Anak berambut pirang itu melempar remembrall milik Neville kea rah kantor McGonagall, dan Harry berusaha mengejar bola itu sebelum memecahkan kaca kantor McGonagall

"kau keterlaluan Malfoy!" bentak Hermione pada anak pirang itu. "oh jangan terlalu berlebihan semak! Aku hanya bermain-main saja dengan bola itu. masa tidak boleh?" jawab anak laki-laki itu diikutin dengan seringaian menyebalkan yang dimilikinya.

"Harry pasti akan melaporkanmu pada Dumbledore dan bersiaplah menerima detensi, Malfoy!"

"uh aku takut," kata Draco sambil tertawa.

Bocah laki-laki berambut hitam terbang menghampiri teman-temannya sambil mengacungkan remembrall yang ada di tangan kirinya. Semua murid yang ada di situ – kecuali Slytherin- berteriak senang menyambut Harry.

"Santo Potter! Dia pikir dia siapa? Pahlawan eh?" gumam Draco sebal.

"yang jelas dia bukan anak manja yang sombong sepertimu, Malfoy!" kata Hermione sambil berlalu.

"ugh! Gadis semak sialan! Lihat saja nanti. Akan kubalas dia!" kata Draco yang dijawab dengan anggukan oleh kedua teman bodohnya, Crabbe dan Goyle.

-TBC-

Oke sekali lagi maaf karena masih terlalu pendek ceritanya. mereka masih di tahun pertama dan ga banyak ide yang muncul buat modifikasi tahun pertamanya :| maaaaaf.