Disclaimer: Bleach belongs to... TITE KUBO! YEY!
.
Holding Back the Tears
By: red-deimon-beta
Chapter 3: True Intention?
"M... Matsumoto-san?" tanya Toshiro heran. Bagaimana mungkin orang yang tepat bisa berada pada saat yang tepat ketika dibutuhkan?
Perempuan berambut pirang strawberry itu menoleh sebentar. Tangannya mengunci berusaha menenangkan pria di sebelahnya sekuat yang ia bisa.
"PERGI, TOSHIRO! CEPAT PERGI!" perintahnya.
"I.. Iya!" Toshiro menjawab sebisanya dalam keadaan genting itu. Dan tanpa berpikir panjang lagi, ia langsung berlari menjauhi tempat itu secepat mungkin. Semakin jauh jaraknya dari ayahnya, semakin lega pula perasaan Toshiro.
Bukan kelegaan yang didapat. Melainkan beban yang bertambah berat. Pertama kali ia menjejakkan kakinya ke tanah, didapatinya teriakan-teriakan yang menyuarakan sumpah serapah. Ia tidak mendengar seluruhnya. Tapi, sedikit bagian saja sudah membuat kuduknya merinding.
~Big Bang-is-VIP~
"Rangiku! Apa-apaan tingkahmu itu?! Mengganggu!" Lelaki itu kini kembali marah dan meronta. Mencoba lepas dari kungkungan erat lengan Matsumoto. Semu merah yang ada di pipinya membuktikan bahwa ia sedang mabuk.
"Gin! Y.. Yang benar saja! Ayah macam apa kau ini? INGAT! Dia itu anakmu!" serunya marah. Bulir-bulir keemasan nyaris jatuh dari pelupuk matanya. Namun, ia tetap mencoba untuk menahannya sebisa mungkin.
"Hmph... Lalu?" dengusnya. Mata sipitnya untuk sementara terbuka. Memperlihatkan iris berwarna merah dengan pupil hitam di tengahnya.
"Jangan menyakitinya! Dan jug-"
"Apa? Memangnya kau siapa? Ibunya pun bukan. Tahu apa kau mengenai keluargaku?" potong Gin tajam. Kemampuan otak itu tetap tidak berkurang meski dalam keadaan mabuk, Matsumoto mengakuinya.
"E.. Eng...," Matsumoto hanya bisa tergagap -dan kemudian terdiam- mendengar bantahan Gin. Kata-kata sarkastis yang tadinya hendak ia lontarkan seakan tertahan dalam mulutnya. Perkataan tadi menusuk nuraninya. Dan terbuktilahlah benar semua perkataan pria di hadapannya ini. Memangnya dia ini siapa? Saudara pun bukan. Beraninya mengurusi urusan rumah tangga orang. Apalagi mengingat dirinya memendam cinta bertepuk sebelah tangan pada lelaki licik ini.
"Apa? Aku menunggu jawabanmu...., Rangiku-sshi*..." Ichimaru berusaha menyela lamunan Matsumoto. Senyum licik yang sedari tadi bertengger di wajahnya kini terlihat semakin bengis. Entah apa yang direncanakannya. Hanya dia dan Tuhan saja yang tahu.
Matsumoto berusaha untuk tetap tenang. Namun hati itu rasanya ingin berteriak. Mencari pertolongan pada siapa pun yang lewat di pinggir sungai sepi ini. Untuk beberapa detik yang singkat, wanita itu terperangah melihat keadaan sekalilingnya. Sungai beriak yang tadinya terkesan membosankan itu berubah bagaikan selimut jingga keemasan yang dapat mempengaruhi kondisi di sekitarnya menjadi lebih indah. Ditambah lagi, saat ini adalah musim semi.
"Wah, ada apa Rangiku? Indah, ya?" tanya Ichimaru begitu kesunyian timbul di antara mereka.
"..." Hening. Matsumoto pun mengangguk kecil.
Ichimaru tersenyum kecil. 'Rangiku... Betapa menyedihkannya nasibmu. Apa sebenarnya yang ada di otak kecilmu itu? Babo nunna*' pikirnya mengasihani manusia lemah di hadapannya ini sebelum membunuhnya.
"Gin?" panggil Matsumoto. Lelaki itu tidak menjawab. Dan dalam sekali kedipan mata, pisau itu sudah berada tepat di atas perut Matsumoto.
"!!!" Rasa terkejut tidak dapat lagi disembunyikan oleh wanita itu. Matanya membelalak melihat seringai kejam Ichimaru.
"Mianhae *, Matsumoto."
Itulah kata-kata terakhirnya sebelum menancapkan bayonet itu ke dalam perut Matsumoto. Seorang wanita bodoh yang disakiti dalam diam.
.
.
.
.
.
Tunggu. Mengapa jantung itu masih berdetak?
~Big Bang-is-VIP~
"UKH!" Toshiro tiba-tiba jatuh saat berlari. Kepalanya sangat sakit seakan akan pecah laiknya bom waktu.
'Mengapa perasaanku sangat tidak enak?' pikirnya. Ia merasa sesuatu yang sangat buruk baru saja terjadi. Dia kemudian menggigit bibirnya. Bingung. Kini ia terjebak dalam 2 pilihan. Kembali menyelamatkan Matsumoto, atau pergi mencari bantuan.
Tak butuh waktu lama untuk memikirkannya. Toshiro kembali bergerak beberapa detik kemudian. Keputusannya sudah bulat. Ia akan mencari bala bantuan.
-
Tok... Tok...
Seseorang mengetuk pintu kayu itu. "Kuchiki". Begitulah tulisan yang tertulis di papan namanya.
"Rukia, tolong kau saja yang membukakan pintunya," titah lelaki dewasa yang bernama lengkap Kuchiki Byakuya itu. Pandangannya masih tertuju pada majalah 'Forbes' yang sedang dibacanya seraya duduk santai di living chair.
Rukia yang duduk di seberang Byakuya segera saja beranjak dari sofa dan memakai slipper-nya. Kemudian memberi anggukan kecil. "Baik, Oto-sama.."
"Cepat, ya," tambah Byakuya.
Gadis bermata violet itu tidak membalas. Dengan acuhnya ia langsung berjalan menuju pintu depan dan membukakan pintu. Headset iPod masih bertengger di kedua telinganya.
Ekspresi acuh tak acuhnya langsung berubah senang ketika melihat siapa tamu yang datang.
"Momo!" teriaknya.
"Halo, Rukia..." balasnya. Senyum lemah tersungging di wajahnya.
"Ada apa? Kenapa malam-malam begini? Mana kau masih memakai seragam, lagi!" ujar Rukia. Matanya mengamati Hinamori yang masih mengenakan seragam dan tas sekolahnya dari atas ke bawah.
Hinamori memutar bola matanya. "Umm... Begitulah. Apa kau ada waktu? Aku ingin bertanya sesuatu padamu," balas Hinamori.
"Umm... Baiklah," Rukia mengiyakan. "Kebetulan hari ini semua jadwal lesku diliburkan. Dan aku juga bosaaaan!!" serunya.
Hinamori lagi-lagi menyunggingkan senyum. "Terima kasih, Rukia.. Maaf kalau aku merepotkan."
"Ah, Momo!" Rukia segera menepis perkataan Hinamori. "Jangan begitu! Kita saudara, kan? Kenapa harus malu-malu begitu? Ayo masuk!" ajaknya.
Hinamori berdecak. Sepupunya ini memang energik. Tapi, dia berusaha tetap menahan tawa dan berusaha fokus melepas sepatunya dan meletakkannya di tempat yang benar.
-
"Rukia, siapa tamu yang datang?" tanya Byakuya ketika melihat Rukia mendendangkan lagu "Sexy Magic" milik Justin Timberlake (Ft. Ciara) dengan senangnya.
"Itu Hinamori, oto-sama..." jawabnya.
Byakuya menaikkan separuh alisnya. "Di mana dia sekarang?"
"Aku di sini, Kuchiki-ojisan..." potong Hinamori.
"Oh," Byakuya sedikit terkejut melihat kedatangan Hinamori yang tiba-tiba. Sayangnya, ekspresinya terlalu datar. Hingga orang-orang pun sulit memutuskan apakah dia benar-benar terkejut atau tidak.
"Hmph.." Rukia menghembuskan naasnya pelan. "Yah, jangan menatap Hinamori seperti itu!" katanya mengkritik tatapan Byakuya yang datar. Namun yang dikritik malah tidak menggubris sama sekali.
"Aish..." dengus Rukia sebal. "Sudahlah, ayo kita ke kamarku saja!" ajaknya pada Hinamori.
"Ung!" Hinamori mengangguk. Kemudian tak berapa lama, gadis berambut gelap itu langsung saja mengekor di belakang sepupunya yang tingginya berselisih 7 cm dengannya.
~Big Bang-is-VIP~
"To.. Toshiro?!!" Ichigo menatap pemuda yang tergeletak tak berdaya di hadapannya. Tangannya memegang kepalanya dengan erat, menahan rasa sakit. Sekujur wajahnya bermandikan keringat karena rasa sakit yang amat sangat.
"Ku.. Kurosaki..." Toshiro berujar lemah. Mengucapkan sebaris kata itu saja sudah merupakan hal yang sulit baginya.
"Kenapa kau ini?!" tanya Ichigo panik. Dengan segera ia berusaha memapah Toshiro yang nampaknya sudah tak sanggup berdiri lagi.
"...." Pemuda itu tidak menjawab. Rasa sakit yang menjalar di kepalanya semakin menjadi-jadi. Membuatnya semakin tidak bisa berkonsentrasi, Bahkan untuk merangkai kata dan berdiri pun ia sudah kesulitan.
"Ah... Kondisimu mengerikan. Ayo kita cari tempat tidur yang nyaman untukmu," sahutnya. Dan 5 menit kemudian, Toshiro sudah terbaring lemah di atas ranjang Ichigo.
"Terima.. k.. kasih, Kurosaki," ucap Toshiro terbata-bata. Rasa sakit itu masih ada. Meski pun tak separah tadi.
"Itu tidak penting. Yang penting sekarang, cepat ceritakan apa yang terjadi!" perintah Ichigo tanpa mengurangi rasa hormatnya pada sepupunya yang jenius dalam musik dan pelajaran itu.
Toshiro mengangguk lemah, kemudian berusaha bangkit untuk duduk. Setelah memosisikan bantalnya di tempat yang nyaman, dia terbatuk sebentar dan mulai bercerita.
"Yah, kau tahu, kan?" ujar Toshiro dengan sebelah alis terangkat. Matanya menatap Ichigo dengan penuh harap.
"Ha? Tahu apa?"
~Big Bang-is-VIP~
"Rukia....." panggil Hinamori.
Rukia segera menoleh dan menggenggam tangan Hinamori. "Apa Momo? Cepat ceritakan masalahmu...."
"Aku hanya ingin tahu...." Hinamori membiarkan kalimatnya menggantung. Sedikit perasaan ragu membumbui hatinya saat ini.
"Ya?"
"Apa hubunganmu dengan Hitsugaya?"
"Uph.." Rukia membungkukkan tubuhnya yang sedikit bergetar karena menahan tawa.
"Nee? Rukia?" Momo kebingungan melihat tingkah Rukia.
"Bwahahahaha!!!!" tawa Rukia menggelegar dalam kamar bernuansa biru laut itu.
"Rukia, kenapa kau malah tertawa?" tanya Hinamori. Sebelah alisnya terangkat. 'Ada apa dengannya?' pikir gadis itu dengan heran. Bukannya suara tawa tidak enak didengar. Bukan itu, suaranya justru berdenting dengan lembut seperti bunyi lonceng pertama saat hari Natal. Hanya saja, tawa Rukia sangat bertolak belakang dengan apa yang ia tanyakan.
"Ah.. Ahaha...." Rukia akhirnya menyelesaikan tawanya beberapa menit kemudian. "Hei, Momo.. Kau cemburu?" tanyanya dengan ekspresi penuh selidik.
"Bu.. Bukan begitu!" sergah Hinamori cepat. Seberkas warna merah muda mulai terlihat di pipinya.
"Lalu?"
"Yah... Hanya penasaran saja," ujarnya. "Lagipula, kita ini saudara, bukan? Masa' sesama saudara justru saling memendam rahasia?" Hinamori mulai berusaha membujuk Rukia.
Rukia hanya mengeluarkan sebuah senyum kecut. "Oi, Momo. Apa kau tidak salah bicara?"
"Maksudmu?" tanya Hinamori kebingungan.
"Hah....." Rukia menghela nafas. Diam-diam hatinya mengutuk kelambanan otak sepupunya yang kadang kambuh di saat yang tidak tepat. "Sekarang, aku tanya. Siapa yang menyembunyikan rahasia? Kau atau aku?"
"Rukia... Kau ini sungguh misterius!" ujar Hinamori. Tangannya Memukul punggung Rukia setengah bercanda. "Apa maksudmu?" lanjutnya.
"Hah...." Sekali lagi, Rukia menghela nafas. "Di mataku, justru kaulah yang lebih misterius. Kau tidak pernah menceritakan apa pun padaku seputar kejadian yang terjadi dalam kurun waktu 3 tahun yang lalu! Kau hanya menceritakan kejadian sebelum maupun setelahnya!" Rukia mengatakan semua itu dalam sekali tarikan nafas. Emosi kini mulai mewarnai hatinya.
DEG!
Hinamori langsung tertegun begitu mendengar perkataan Rukia. Dari semua perkataan yang mungkin akan diucapkan Rukia, dia tak pernah mengira bahwa hal ini yang akan diucapkan.
"Eh? Seingatku aku sudah sering menceritakan kejadian 3 tahun yang lalu, deh..." kilah Hinamori. Senyum lebar disunggingkan bibir mungilnya dengan terpaksa.
"Kau pikir aku sebodoh itu?" tanya Rukia melecehkan. "Apa yang kau ceritakan? Kau hanya menceritakan kejadian membosankan waktu Natal, Momo. Bagaimana dengan bulan-bulan yang lain? Bagaimana dengan kejadian yang lain? Apakah kau tidak mempunyai kenangan yang lebih berharga dari itu? Apa kau mengalami amnesia akut?!" Rukia kini berdiri di atas kasurnya. Telunjuknya menuding Hinamori dengan penuh amarah.
"Tunggu. Kenapa kau sekarang marah?" balas Hinamori. Dia sama sekali tidak bisa menerima perlakuan Rukia padanya.
"Tentu saja aku marah!" jawab Rukia cepat. "Kau ini saudara sekaligus sahabatku, Momo! Kita sudah saling mengenal sejak kita bayi. Banyak saat-saat senang dan sedih yang kita jalani bersama! Aku selalu mendukungmu, selalu menceritakan semua rahasiaku padamu! Bahkan aku merelakan Ichigo yang sangat kusukai untukmu! Ups-" Emosi Rukia kini tidak terbendung lagi. Semua pembicaraan ini membuat darahnya menggelegak. Tapi, sepertinya perkataannya tadi membuat pertahanan dirinya jebol.
Rasa shock tidak dapat ditutupi oleh Hinamori. Sekeras apa pun dia mencoba, tetap saja dia tetap terkejut mendengar hal terakhir itu. "Kau... waktu itu juga menyukai Ichigo? Kukira kau menyukainya baru-baru ini. Cintamu sudah terbalas, kan? Tapi, mengapa waktu itu kau tidak menceritakannya? Aku bukan orang serendah itu!" Kini emosi Hinamori juga tersulut. Ia agaknya merasa dikhianati sekarang.
Rukia menghapus air matanya dengan susah payah, karena butir-butir kesedihan itu tak kunjung berhenti mengalir dari pelupuk matanya. Kemudian, dia mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan mata Hinamori. "Satu...," katanya lambat. "Satu hal yang aku yakini di dunia ini... Persahabatan lebih berarti daripada cinta."
Hinamori tak dapat berkata-kata lagi. Sekarang, hanya ada satu hal yang bisa dilakukannya. Dengan cepat, ia langsung memeluk Rukia. Bahu sepupunya kini sudah bergetar menahan tangis yang akan jatuh lagi.
Segenap rasa sayang dalam hati Hinamori dilimpahkannya dalam pelukan itu. Berharap akan membantu menenangkan sepupu sekaligus sahabat terbaiknya. Namun, apa yang terjadi? Kedua gadis itu justru akhirnya menangis bersama-sama. Keduanya berusaha meresapi rasa haru yang kini menjadi atmosfer utama kamar ini.
"Arigatou, Rukia..." isak Hinamori dari sela tangisnya.
To be Continued . .
*Keterangan:
*sshi: bahasa Korea. Sama seperti embel-embel -san dalam Bahasa Jepang. Panggilan untuk orang yang kita hormati.
*babo nunna: (lagi-lagi) Bahasa Korea. Artinya perempuan/wanita bodoh.
*Mianhae: (*tertawa getir*) Bahasa Korea lagi. Artinya Maaf(kan aku)....
Mengenai alasan mengapa Toshiro dan Ichimaru bisa bahasa Korea (termasuk ringtone Super Junior-Sorry Sorry itu)... Yah.... Akan rdb ceritakan di 2 chap berikutnya! Nyehehe...
. .
Pojok SBS!
rdb: Aish.... Maafkan daku gara-gara updatenya telat banget! DX Itu semua gara-gara Bio Mafia and the Gank (BIOlogi, MAtematika, FIsika, kimiA, dkk) yang mengganggu saya sehubungan dengan dijalankannya UAS nista ini!
Kibum (from Super Junior, of course): SOK SIBUK!
rdb: Buh... Kagak, ya! Ni beneran! *ngliatin jadwal UAS*
Kibum: ............
rdb: Tuh! Liat, kan? Untung aja besok udah kelar! YIPPIE!!!
Kibum: .......
rdb: *sweatdrop* Yah. Ni anak malah diem. O ya! Minna! Gue sedih banget! Lagi-lagi nggak ada yang bisa nebak! *pundung*
Kibum: O ya? Lu ngasih soal susah banget, sih.....
rdb: Ga, kok! Yang As If Nothing's Wrong itu kan cara nyari jawabannya gampang banget! Search aja di Google! Orang jawaban aslinya cuma 'Amureohji Ahneun Cheog'! Yang nyanyi TOP Ft. Ji Eun!
Kibum: Bukan Suju..... Tapi, hebat juga tuh Monkey d. Cyntia! Tebakannya betul!
rdb: Iya. Sayang yang satunya salah.
Kibum: Iya. Padahal gampang banget! 'Ever Lasting Friends' itu kepanjangan dari ELF! Sebutan buat fansnya Suju! Buat readers yang termasuk fansnya Suju. Aku shock. Masa pada ga tau..... *pundung*
rdb: Oke! Saatnya bales-bales review! Tapi, berhubung waktunya mepet, jadi ga dibikin talk show! Gommen, minna! *sujud*
himekahime-sansan: Chonmaneyo, onnie.... XD
HIYAH! Masa Onnie tau Kyuhyun tapi ga tau Ever Lasting Friends?! *shock*
kazuka-ichirunatsu23: Iya.. Dia datang...... Hehe... Ayahnya Toshiro.... Udah tau, kan?
Monkey d. Cyntia: *speechless* MAKASIH UDAH FAVE! *sembah sujud*
Yori-nee: Jangan haduh... Dia kan punya peranan penting di sini. Awkakaka... Ga papa kan Shiro-chan suka Sorry Sorry?
shiNomori naOmi: Eng? Nggak, kok. Kan Aizen udah kuliah....
Mayonakano Shadow Girl: Eh? Bukan DBSK!!!!!
Ruki_ya: Eh? Tapi Aizen di sini nggak licik, lho..... Cuma sedikit iseng.. *digetok*
Namie Amalia: Nah.. Udah ketauan, kok? EH! Bukan lagu Indo! W ga suka band-band Indo! Kalah cakep ma FT Island! XDXDXD
Jess Kuchiki: No way... No OC... Lagi puasa OC... (?) Makasih udah nyempetin review! ^^
c amu isn gie's: Hehehehehe... *nyengir lebar banget* Iya... Emang aku dapetnya dari Attack On the Pin Up Boys... *digorok* Bosen pake Karakura High atau Tokyo High... ya udah. Pake Neul Paran aja. Lagian kan sekalian mengingat-ingat suami dan mantan pacar saya plus sopir pribadi saya... (baca: Yesung, Eunhyuk, Leeteuk).. *digampar ELF n Flawless*
c amu isn gie's: (walah. Mpe repot-repot ngerepiu dua kali...) YEAH! Betul! Sayang satunya salah... ==a.. YOSH! THANKS!
hinamori shion: Ngek? Iya donk! Orang sampe nongol 30 minggu di chart musik Taiwan!
. . Review, pleaseee? *puppy eyes*
