Saat Peradilan
I don't know nothing about that
In fact I don't know nothing at all
I'm tired of proving you right
By doing everything so wrong
.
-Maroon 5, Don't Know Nothing-
.
Hari-hari berlalu tanpa kemajuan. Pekerjaan Sai benar-benar terganggu. Amat terganggu. Rutinitasnya kini hanya berputar pada kantor polisi, kantor pengacara, Rumah Produksi. Dan begitulah seterusnya. Sai tahu ini takkan berakhir sebelum kasus ini selesai. Dan ia hanya bisa berdiam diri menunggu keputusan polisi.
"Melamun lagi?"
Sai tidak menoleh untuk melihat lawan bicaranya karena ia sudah sangat hapal suara Chojuro. Maka sambil terus menatap jalanan melalui jendela besar di ruangan kerjanya, Sai menjawab seadanya, "Ya. Begitulah."
Sai mendengar suara geretan kursi. Kursi itu diletakkan disebelah kursinya, lalu terdengar kembali suara khas Chojuro,"Oh, ayolah. Tak usah dibawa stress. Jika kau tak bersalah maka kau tak usah takut. Kudengar polisi pun tak punya bukti untuk menahanmu, karenanya hingga detik ini kau dibebaskan."
Dibebaskan? Benar. Tapi ia tahu persis ruang geraknya kini terbatas. Juga kegiatan bolak-balik ke kantor polisi sangat menyita waktunya, juga pikirannya. "Dibebaskan. Tapi tetap saja…."
Terdengar tawa Chojuro yang kini sudah duduk disampingnya. "Aku mengerti. Tapi tak lantas kau menjadi depresi seperti ini, Sai. Ayolah. Aku yakin film kita berhasil"
"Berhasil? Bahkan dengan wajahku –sebagai sutradaranya- menghiasi layar televisi selama berminggu-minggu dengan predikat 'Tersangka Utama Pembunuhan Sabaku Kankuro'? Kau masih se-optimis itu?" desah Sai. Chojuro menepuk bahu Sai. "Kita bisa menunda premier film itu hingga kasusmu selesai, bukan?"
Sai terdiam. Benar juga.
"Yang penting kita rampungkan dulu filmnya. Selama dua minggu ini bahkan kau tak meyentuh sama sekali proyek film ini. Kau tahu sendiri, kami tak berani menyentuh finishing jika tanpa kau." Ujar Chojuro. Setengah membujuk. Sai terpekur. Ide takkan muncul jika pikirannya sedang kacau.
"Kuserahkan finishingnya padamu." Tandas Sai, untuk pertama kalinya menoleh untuk menatap lawan bicaranya. Chojuro tampak kaget. "Tidak! Apa-apaan kau? Aku tak mau penonton kita berkurang gara-gara ulahku"
"Oh ayolah, sudah berapa tahun kita bekerjasama? Kau berbakat, Chojuro. Jangan merendah seperti itu. Aku sedang tak punya ide untuk menyelesaikan apapun." Keluh Sai. Chojuro tetap menggeleng. "Kami akan tunggu hingga ide itu muncul di kepalamu!"
Sai mendesah. Apa boleh buat? Untuk industri kreatif seperti perfilman, pikiran yang jernih sangat dibutuhkan untuk menghasilkan ide-ide yang brilian. Makanya ia tak berani menyentuh pekerjaannya jika pikirannya sedang kacau.
"Terserahlah. Tunggu saja sampai nanti. Tapi siap-siap saja kau mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan pengunduran waktu premier." Ujar Sai asal. Chojuro kembali terkejut. "Apa-apaan kau? Kau sutradaranya! Artinya kau yang akan mengadakan konferensi."
"Jika aku yang mengadakan, maka para wartawan takkan mewawancaraiku soal film, yang ada mereka akan bertanya, 'apakah kau benar-benar membunuh editor filmu sendiri?'. Oh demi tuhan, kau mau menyiksaku?" Sai mengerang. Chojuro meringis. Bayangan tentang ini benar-benar tidak terpikir sebelumnya.
"Baiklah, lupakan soal konferensi konyol itu. Sekarang mari kita bicarakan hal lain." Ujar Chojuro setelah melihat ekspresi Sai yang berubah menjadi lebih buruk. Sai hanya mendeliknya. Ia benar-benar sedang tidak berminat bicara.
Chojuro sendiri sudah tahu sebenarnya sifat Sai yang seperti itu. Pria itu dingin dan cuek. Jika mood-nya sudah buruk, maka tamatlah riwayat orang disekelilingnya.
Bunyi ponsel memecah keheningan diantara mereka.
Sai merogoh saku tanpa minat. Dahinya berlipat. Jelas sekali ia ingin buru-buru menutup telepon itu dan membungkam ponselnya. Namun saat melihat sederet nomor tak dikenal, Sai penasaran dan memutuskan untuk mengangkatnya.
"Selamat sore! Apakah ini Sai?"
Suara wanita. Sai bahkan belum berbicara sepatah katapun, ia sengaja membiarkan lawan bicaranya menyapa duluan, "Ya. Ini siapa?"
"Ini aku, Ino! Bisa berbicara sebentar? Sebentaaaar saja" suara riang itu semangat berbicara diseberang sana. Kerutan di dahi Sai menghilang. "Ya. Bicara saja."
"Ah, aku…..ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu lagi. Soal wawancara waktu itu…. Ada beberapa bagian yang kulupakan. Jadi maukah?" tanya Ino patah-patah. Sai menjawabnya tak sabar. "Lebih baik kau takatan langsung apa yang kau inginkan."
"Aaah, baiklah! Aku ingin mewawancaraimu lagi! Kali ini hanya sebentar! Aku janji!" ujarnya dengan penekanan disana-sini.
"Baiklah. Aku hanya memiliki waktu sore ini dan besok siang. Jadi…."
"Demi tuhan! Kau bersedia! Jika tahu ada sutradara sebaik kau, maka aku akan mengambil filmmu untuk bahan skripsiku empat tahun lalu! Kau tahu? Sutradara yang dulu kuwawancarai sangat serius dan pelit. Waktunya tak banyak. Huh, nampaknya ia bukan banyak pekerjaan. Memang dianya saja yang pelit! Nah, baiklah, apa tadi? Sore ini dan besok siang? Baiklah, bagaimana jika sore ini saja?" ujar Ino panjang-lebar. Dan tanpa diminta. Sai mengerutkan kening lalu tersenyum. Gadis yang aneh.
"Baiklah." Ujar Sai. Gadis diseberang sana kembali menyerbu gendang telinga Sai dengan suara riangnya. "Oke. Aku akan berangkat sekarang ke Rumah Produksi…"
"Tidak! Jangan disini. Di tempat lain saja." Potong Sai cepat-cepat. Ino segera menjawab, "Mengapa?"
"Aku bosan suasana disini. Ditempat lain saja."
"Begitu? Bagaimana jika Kafe? Kau tahu Kafe Tohohira? Kopi disana enak sekali. Jika aku sedang penat pasti aku akan kesana untuk menyesap secangkir Machiatto-nya. Bagaimana?" Ino kembali berkata panjang lebar. Sai kembali tersenyum aneh, hendak menertawakan kecewetan gadis ini namun yang keluar hanya seulas senyum. "Baiklah."
"Baiklah! Aku berangkat sekarang! Oh ya, tenang saja. Aku sudah memperbaiki Audi-ku kok. Sampai jumpa!" ujarnya dengan semangat yang biasa. Lalu memutus sambungan. Sai menatap ponselnya sambil terseyum setengah tertawa. Benar-benar gadis aneh.
Setelah itu ia segera menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku. Lalu hendak berdiri dan segera mendapati wajah heran Chojuro yang memandangnya serius sambil memiringkan kepala.
"Ada apa?" tanya Sai heran. Chojuro berkedip satu kali. Lalu menjawab, "Kau tahu? Yang tadi itu senyummu yang pertama setelah dua minggu belakangan."
-ooo-
Ino menikmati machiatto-nya dengan damal. Senyum sedari tadi tak rela meninggalkan bibirnya. Hari-hari belakangan, -entah mengapa- pengerjaan tesisnya berlangsung begitu cepat dan lancar. Mungkin karena waktu yang sudah menghimpitnya tanpa ampun atau entahlah, yang jelas ia yakin sekali pengerjaan tesisnya akan lebih cepat dari yang ia kira sebelumnya. Lidah Ino kembali disapa hangatnya machiatto dan kehangatan itu segera menular ke kerongkongannya.
"Sudah lama?"
Ino mendongak menatap Sai yang baru saja duduk dihadapannya. Sejak kapan pria ini datang? Entahlah, mungkin Ino tidak sadar akibat terlalu terlena dengan minumannya.
"Belum. Jangan khawatir, aku tidak keberatan menunggu berlama-lama jika ada machiatto disini." Ujarnya sambil mengacungkan cangkir kearah Sai. Sai hanya mengangkat alis. Tidak terlalu peduli.
"Jadi wawancara apalagi?" tanya Sai tak sabar. Sebenarnya ia tak tahu apa yang akan dilakukannya setelah ini, namun entah kenapa ia senang sekali terburu-buru.
"Eh? Kau tak memesan minuman dulu?" tanya Ino sedikit terkejut. Sai memutar mata, melirik cangkir minuman Ino diatas meja sekilas. "Boleh juga."
"Baiklah, aku yang memesan, ya? Kau mau apa?" tanya Ino antusias. Sai meraih buku menu diatas meja. Melihat-lihat sejenak sebelum akhirnya menatap Ino. "Machiatto itu benar-benar enak?"
Wajah Ino semakin antusias. "Enak! Kujamin kau tak akan menyesal! Mau kupesankan?"
Sai mengangguk walau sebenarnya ragu. Setelahnya Ino langsung memanggil pelayan dengan semangat, lalu memesan pesanan Sai. Sai hanya mengamati Ino takjub, takjub dengan semangat membara-nya.
"Kau selalu bersemangat seperti itu jika bicara?" tanya Sai penasaran setelah pelayan meninggalkan mereka. Ino tersenyum, "Hidup itu harus disikapi dengan semangat!"
Sai mengernyit. Ia hanya mendengar soal hidup dan semangat dalam film-film sedih menginspirasi yang mengisahkan pemain utama dengan penyakit berat dan semacamnya. Dan gadis ini? Oke, ia hanya mengambil kesimpulan bahwa gadis ini terlalu banyak menonton film semacam itu.
Setelah itu mereka hanya membahas tentang pertanyaan-pertanyaan susulan yang diajukan Ino, juga tentang tesis Ino. Sebenarnya lebih banyak Ino yang berbicara, Sai hanya mendengarkan sambil sesekali menimpali. Tak terasa hari sudah beranjak malam. Dan tak terasa pula Ino sudah menghabiskan dua cangkir machiatto sejak pembicaraan mereka dimulai sore tadi.
"Oh astaga. Ini sudah malam! Aku jadi merasa bersalah sudah mengganggumu selama ini." Ujar Ino sambil melirik arlojinya. Sai segera melihat kearah jendela, dan benar saja, langit sudah gelap.
"Oh, aku tak sadar ini sudah malam. Tak apa. Sebenarnya aku tak tahu apa yang akan kulakukan setelah ini," ucap Sai jujur. Ino memutar mata, "Kau bilang film itu sedikit lagi akan selesai?"
"Aku tak berminat menyelesaikannya."
Ino mengernyit, "Mengapa? Ayolah! Film itu menarik! Ada masalah apa sebenarnya?"
-ooo-
Sai mengernyit. Ada apa katanya? Ia jelas tahu apa penyebab terlantarnya pekerjaan Sai selama dua minggu ini. Atau ia tak menyadarinya?
"Kasus itu, tentu saja. Kau tahu itu." Jawab Sai pendek. Ia sudah malas menceritakan tentang keresahannya. Tapi jika tidak dijawab, sudah pasti gadis ini akan terus mencercanya dengan segudang pertanyaan yang tiada habisnya.
"Ooh itu! Menurutku kau tak usah meresahkannya, percaya saja polisi akan menemukan pelaku sebenarnya…" Ino terus berbicara hingga Sai tak sadar sudah tenggelam dalam lamunannya.
Ino sama saja dengan Chojuro. Menasihatinya dengan optimisme tingkat dewa. Oh tuhan, apakah tak ada yang mengerti soal reputasinya -juga filmnya- dihadapan publik?
"…. walau aku juga tahu kasus ini pasti berpengaruh dengan reputasi filmmu."
Oh, ternyata anggapan Sai salah. Gadis ini mengerti.
Usai berbicara panjang lebar, gadis itu diam. Sai tak menimpali karena benar-benar tak punya Ide harus berbicara apa. Dan setelah beberapa detik berlalu, gadis itu masih terdiam. Nampaknya merasa tidak enak hati karena menganggap masalah ini sepele.
"Pengacaraku tak bisa membantu banyak." Ujar Sai akhirnya. Ia tak tahu mengapa ia mengatakan ini pada Ino. Padahal ia tak pernah bercerita lebih lanjut tentang kasus ini pada rekannya di Rumah Produksi. Ia bersikap seolah-olah 'tenanglah, aku bisa menghadapinya sendiri' pada yang lain. Namun dengan gadis ini….
"Oh ya? Mungkin karena polisi belum memiliki tersangka lain, jadi semuanya terasa begitu memberatkan untukmu, Sai. Tapi aku percaya, bukti-bukti yang ada disana pasti takkan berbohong. Bukti-bukti itu pasti akan mengatakan bahwa kau bukan pelakunya." Tandas Ino menggebu. Sai terpekur. Apa yang disampaikan Ino memang benar,
Bukti tak mungkin berbohong.
-ooo-
"Ini sudah lewat dua minggu dan apa yang kalian capai? Hanya ini?" ujar Temari sambil membanting sebuah map berisi helaian kertas keatas meja. Polisi berkulit hitam yang berdiri dihadapan Temari menghela napas. "Agen Temari, penyelidikan itu sungguh tak mudah dilakukan. Kami sedang berusaha mencari tersangka lain yang kini mulai terungkap hasil dari bedah TKP. Mohon jangan terburu-buru."
"Sersan Darui! Bagaimana mungkin penyelidikan berlangsung amat lamban begini? Hasil lengkap olah TKP baru ada setelah kasus berjalan dua minggu? Apa saja kerja analis kalian?" bentak Temari tajam. Darui menelan ludah. Ia tak tahu sebenarnya apa saja yang dikerjakan para penyidik TKP disana, namun amarah wanita ini jelas harus segera dipadamkan.
"Hasilnya sudah ada sejak lama, tapi…"
"Jadi kalian menyembunyikannya dari kami? Bukankan kalian sudah sepakat untuk memberikan kami informasi tanpa kecuali?" Temari semakin memanas. Darui kembali menelan ludah. Yang bisa berbicara dengan nada amat sabar dengan wanita ini hanyalah Letnan Shisui, dan sayangnya ia sedang tidak di kantor saat wanita ini datang.
"Saya belum selesai bicara, Agen Temari. Dengarkan dulu, hasilnya sudah ada beberapa hari lalu, namun kami kesulitan melacak identitas tersangka lain. Jadi mohon…."
"Tidak ada gunanya! Ingat baik-baik! Aku akan segera mendapatkan surat izin itu, dan setelah itu kami yang akan mengambil alih sisanya." Ujar Temari dengan nada yang tak kalah tinggi dari sebelumnya sambil mengambil map yang tadi dibantingnya diatas meja. Setelah itu berlalu begitu saja meninggalkan Darui dengan helaan napas beratnya.
Setelah Temari menutup pintu, Darui menggeleng-gelengkan kepala, lalu berbalik kebelakang, "Silakan saja usahakan surat izin itu. Sudah tahu badan inteljen seperti itu tak bisa sembarangan mencampuri penyelidikan polisi jima tanpa alasan khusus, apalagi alasan pribadi macam ini."
Polisi yang sedari tadi duduk dibelakang saat perdebatan Temari-Darui memanas angkat bicara, "Entahlah. Biarkan saja. Aku malas menghadapi agen temperamen seperti dia, makanya daritadi aku hanya diam."
Darui menarik kursi, lalu duduk dihaapan rekannya, "Sebenarnya aku belum melihat laporan itu. Keburu wanita itu datang dan aku ingin segera menyuruhnya pulang. Jadi, apa isi laporan itu?"
"Penyidik TKP menemukan dua jejak kaki dibagian dalam rumah, satu milik korban dan satu lagi tidak dikenal. Aku juga melihat foto ceceran polikarbonat di meja, tentang pisau yang ditemukan di TKP itu benar milik korban, dan lain-lain" jawab polisi berambut kecokelatan itu. Darui mendengarkan dengan seksama. Polisi itu lalu melanjutkan, "Dan sekarang penyidik sedang mencari siapa pemilik jejak kaki itu."
"Aku mengerti." Balas Darui sambil mengangguk-angguk. Suara pintu terbuka membuat kepala Darui menoleh ke belakang. Dan segera mendapati Letnan Shisui sedang berjalan menghampiri mereka. Pasti ada informasi terbaru.
"Kemana yang lain?" tanya Letnan Shisui saat tiba menghampiri mereka. Polisi berambut kecoklatan menjawab, "Makan siang. Apa ada yang baru?"
"Hemm, tentu saja. Oh, apakah kau tadi bertemu Agen Temari, Iruka?" tanya Letnan Shisui. Polisi berambut kecokelatan –Iruka- menggeleng, telunjuknya segera menunjuk Darui.
"Aku yang menemuinya." Ujar Darui, lalu melanjutkan. "Aku menyerahkan map laporan itu sesuai yang kau perintahkan. Dan…..berdebat sedikit. Perempuan itu benar-benar temperamen."
Letnan Shisui tertawa, "Ya..begitulah. Baru saja tadi aku bertemu Agen Juugo di depan pintu, kami berbicara sebentar. Dan katanya hanya Agen Temari yang masuk kedalam untuk mengambil laporan, tapi aku tak bertemu dengannya selama perjalanan ke ruangan ini. Mungkin ia lewat jalan yang berbeda"
"Apa yang kau bicarakan dengan Agen Juugo?" tanya Iruka ingin tahu.
"Mereka…..ingin menginterogasi tersangka. Mungkin mereka akan membawa analis non-verbal mereka saat interogasi? Entahlah." Letnan Shisui mengangkat bahu. Darui menimpali, "Lalu apa kau setuju?"
"Apa boleh buat. Kuakui penyelidikan kasus ini memang lambat dan kupikir tak ada salahnya membiarkan mereka membentuk suatu kesimpulan sendiri. Agen Temari ini nampaknya tak sabar sekali."
Darui hanya mengangguk-angguk. Iruka kemudiab bertanya, "Kapan interogasinya?"
"Esok hari. Setelah pengadilan. Dan oh ya, aku mungkin belum memberitahu kalian bahwa besok adalah sidang pertama kasus ini."
-ooo-
"Sidang? Besok? Sidang pertama?" Ino bertanya berkali-kali kepada polisi yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya. Polisi itu mengangguk, kemudian menegaskan, "Ya, saya harap besok anda datang tepat waktu, pukul 9 pagi, dengan pakaian formal."
Ino berkedip-kedip untuk meyakinkan dirinya bahwa polisi dihadapannya memang benar-benar sedang memberitahu dirinya bahwa esok ia harus datang sebagai saksi di pengadilan.
"Oh ya, anda boleh membawa pendamping." Tambah polisi itu. Ino kemudian mengangguk. Tak lama polisi itu pamitan pulang. Meninggalkan Ino yang sedang merenung didepan pintu rumah besarnya.
Pendamping?
Ia tak punya ide besok akan hadir dengan siapa atau akan memberikan kesaksian apa di hadapan hakim. Selama dua minggu ini ia terlalu sibuk mengurusi tesisnya. Lalu bagaimana?
Karena udara dingin mulai menusuk-nusuk kulitnya, Ino akhirnya menutup pintu dan masuk ke dalam. Sebenarnya ia bisa saja meminta tolong pengacara ayahnya untuk menemaninya ke pengadilan. Namun, apa itu tak berlebihan? Mengingat ia tak lebih dari sebatas seorang saksi disana.
Kemudian yang terpikir berikutnya ialah Sai. Esok pasti ia akan datang bersama pengacaranya, tentu saja. Bisa saja ia didesak habis-habisan oleh polisi -atau hakim mungkin- dan tak punya cara untuk berkelit?
Memang ia tak bersalah, tapi… apakah lebih baik Ino meneleponnya sekarang? Ah tidak. Mungkin ia sedang berdiskusi dengan pengacaranya soal sidang besok. Ino takkan mengganggunya lagi. Besok saja ia akan memberi dukungan kepadanya sebelum sidang.
Melihatnya tadi sore datang menemuinya dengan wajah lesu dan penampilan berantakan membuat Ino mengambil kesimpulan bahwa pria itu benar-benar stress dengan kasus ini. Bahkan Sai tak bertanya apa-apa soal bagaimana caranya Ino bisa mendapatkan nomor ponselnya. Sebenarnya Ino mendapatkannya dari seorang pria berkacamata yang ditemuinya di Rumah Produksi Shinkawa beberapa hari lalu. Saat itu ia hendak menemui Sai untuk wawancara susulan, namun Sai sedang tak ada disana. Jadilah ia memohon-mohon meminta nomor ponsel Sai agar bisa menghubunginya langsung.
Oke, lalu besok bagaimana?
Ino tak mungkin mengajak ibunya untuk sidang. Untuk menghadiri uoacara kelulusannya saja orangtuanya tak sempat datang, bagaimana dengan sidang? Yang ada ayahnya malah mengirim seorang bawahan untuk menemani Ino. Yang benar saja.
Teman kuliahnya. Oh, tidak. Mereka pasti sedang sibuk berkutat dengan tesis -seperti dirinya- dan mengganggu mereka sama saja dengan membangunkan harimau yang sedang tidur.
Seandainya ia punya teman di sekitar sini…
Dan sayangnya tidak. Ino adalah tipe orang yang mudah bergaul. Tapi hari-hari lalunya yang lebih sering ia habiskan di rumah sakit membuatnya tak mengenal banyak orang di sekitar rumahnya. Apalagi ditambah kegiatan kuliahnya yang padat. Sempurna sudah.
Lalu siapa?
Tiba-tiba ia ingat bahwa ia masih memiliki seorang teman kecil. Rumahnya tak jauh dari sini dan… oh, ini sempurna! Maka dengan semangat Ino segera berlari untuk mengambil ponselnya. Tak butuh waktu lama baginya untuk mencari nomor seseorang, lalu meneleponnya.
"Sakura?"
"Oh, halo Ino. Apa kabar?" suara lembut seorang wanita membalas dari ujung sana. Ino segera menjawab dengan antusias. "Baik! Teramat baik! Kau bagaimana? Ah sebenarnya aku ingin bertanya, besok kau shift pukul berapa?"
"Aku juga baik. Aku? Shift malam. Ah sebenarnya aku lebih suka…"
"Ooh tuhan! Kau mengabulkan doaku! Artinya besok pagi hingga siang kau tak ada acara?" Ino dengan semangat memotong ucapan Sakura yang baru setengah. Padahal dengan shift malam bukan berarti Sakura tak acara di siang harinya bukan?
"Kau ini! Senang sekali memotong ucapanku. Mmm…. Ya. Ada apa?" ujar Sakura maklum. Ino dengan senang hati segera menceritakan soal sidang esok harinya.
"Oh, demi tuhan, Ino! Kasus pembunuhan Sabaku Kankuro? Aku melihat wajahmu sekilas di televisi sekitar minggu lalu. Saat itu aku hendak meneleponmu, namun entah mengapa aku lupa. Apa kau tahu? Aku juga menangani kasus itu." Ucapan Sakura membuat Ino terbelalak. "Oh ya? Benarkah? Jadi aku bisa menanyakan padamu bagaimana perkembangannya?"
"Aku hanya memeriksa jasadnya. Tak lebih. Aku akan menceritakannya besok. Dan….. yang kulihat di televisi itu memang benar-benar kau?" tanya Sakura tak percaya. Ino meringis, "Padahal aku setengah menolak waktu di wawancarai. Namun apa boleh buat."
"Baiklah, baiklah. Aku tak sabar menunggu esok hari. Besok kau yang mengemudi?"
"Tentu saja. Kujemput kau di rumahmu esok jam delapan pagi. Dan….. oh ya, besok aku akan membuatkan brownie untukmu!" ujar Ino sesemangat biasanya.
"Woah! Kalau begitu aku takkan keberatan menemanimu sidang setiap minggu, Ino! Berapa banyak kau akan buatkan untukku?" tanya Sakura sambil tertawa. Ino membalasnya sambil terkekeh, "Sebanyak yang kau mau tentunya."
-ooo-
Peluh Sai mulai bercucuran. Sidang baru berjalan selama setengah jam, sebenarnya. Namun bagi Sai ini sudah seperti seharian. Sebenarnya yang sedari tadi berbicara hanya pengacaranya. Ia hanya berbicara di awal saja. Tentang kebodohan dan kepanikannya saat menghadapi tubuh kaku Kankuro dua minggu lalu. Sisanya polisi, penyidik TKP, hakim, dan pengacaranya yang mengambil alih. Dan oh ya, wanita pirang yang cerewet itu juga hadir disini. Sebagai saksi. Ia juga hanya berbicara sedikit.
"Dalam pisau itu hanya ditemukan sidik jadi Saudara Sai," ujar seorang wanita bertubuh tinggi, seorang penyidik TKP.
"Itu tidak bisa dijadikan dasar untuk menangkap klienku! Bisa saja kan, sang pembunuh menggunakan sarung tangan?" kali ini Mei, pengacaranya. Orang-orang kembali bertempur dengan ucapan mereka sementara Sai hanya diam menelan ludah.
Ia berteriak sekencang-kencangnya bahwa ia bukan pelakunya pun polisi takkan percaya, bukan?
Sai memutuskan mengalihkan pandangan ke belakangnya. Ke arah puluhan orang yang duduk di belakang kursinya. Sebagian dari mereka adalah polisi, ada juga saksi, dan keluarga korban, mungkin? Dan sialnya juga ada wartawan.
Pandangan Sai jatuh pada Ino yang duduk tak begitu jauh darinya. Di kursi saksi. Hari ini ia belum berbicara pada gadis itu. Selain karena Sai dan pengacaranya memang sengaja datang pukul 9 tepat. Ia juga tak berpikir untuk mengetahui siapa-siapa saja yang menghadiri sidang ini.
"Saudara Sai. Sekali lagi saya bertanya. Apakah anda yang melakukan pembunuhan ini? Suara sang hakim. Sai menelan ludah, lalu menjawab dengan yakin. "Tidak, bukan saya yang melakukannya."
"Baiklah. Bukti yang dikumpulkan polisi belum cukup kuat dan kasus ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut. Dengan demikian sidang kali ini saya tutup dengan status menunggu, artinya belum ada keputusan….." yeah, dan Sai sudah bisa menebak ini. Akhir yang menggantung.
Tak lama terdengar palu diketuk dan setelahnya orang-orang mulai beranjak dari duduknya. Sai sekilas melihat Ino lagi sebelum ia benar-benar berdiri. Gadis itu pula melihat kearah Sai, kemudian tersenyum sambil mengepalkan tangannya keudara. Memberi semangat.
Sai tersenyum kaku kearahnya. lalu ia melangkah bersama pengacaranya. Juga para polisi. Polisi yang berdiri di depan Sai melindunginya dari serangan wartawan.
"Kita akan lewat belakang,"
Sai menoleh dan mendapati Letnan Shisui tengah berdiri tepat di belakangnya. Sai membalik badan. Begitu pula dengan Mei dan beberapa polisi yang mengawalnya. Awalnya Sai mengira mereka akan keluar lewat pintu belakang dan segera menuju mobil patroli untuk meninggalkan tempat ini. Namun ternyata tidak.
"Nona Mei, bisa tinggalkan kami sebentar?" pinta Letnan Shisui tiba-tiba.
Mei memandang Sai dengan tatapan bertanya, Sai mengangkat bahu tanda tak tahu. Namun akhirnya Mei mengangguk, lalu menepi menuju dinding sementara Sai mengikuti Letnan Shisui keluar ruangan.
"Kau tak keberatan bukan, untuk melakukan interogasi sekali lagi?" tanyanya langsung. Sai membuang napas kesal. "Interogasi lagi? Sudah kukatakan pada interogasi sebelumnya…"
"Tidak, bukan kami yang meminta. Pihak lain."
Sai mengernyit. Siapa yang dimaksud dengan pihak lain?
"Siapa?"
"Badan inteljen. Ini hanya akan berlangsung sebentar. Tapi, kau akan ikut mereka ke kantornya." Ujar Letnan Shisui sambil melihat ke belakang Sai. Sai menoleh ke belakang dan mendapati beberapa orang berbaju hitam menghampirinya. Tak lama mengapit tangannya.
"Sebentar. Ini apa….."
"Saya akan berbicara dengan Nona Mei setelah ini. Jangan khawatir, mereka akan mengantarmu kembali ke kantor polisi setelah interogasi usai." Ujar Letnan Shisui lagi sebelum orang berbaju hitam di kiri-kanannya menarik tangan Sai. Sai hanya bisa melipat dahi, tak mengerti.
Oh Tuhan, apa lagi kali ini?
