Eka's Headnote : LAPPIE GUE RUSAK! SIALAN TUH LAPPIE! GILIRAN GUE BUTUH, MALAH RUSAK! (Capslock jeblok) Gomen, saya telat update gara-gara lappie saya yang laknat itu rusak. SALAHKAN LAPTOP SAYA! *disumpel scone*

Yes! Gue habis nonton Harry Potter 7! Gila! Filmnya seru banget! Uwoh! Gila! Gue makin cinta sama Harry Potter! #mulaisarap

Oke, abaikan curcol diatas.

Kemarin gak ada yang menjawab pertanyaan saya (dengan benar). Pada mau tau gak jawabannya? Oke, film dengan scene Arthur dengan anak perempuan itu sebenarnya saya ambil scenenya dari film 'Mirror'. Kurang cluenya ya? *digeplak readers*

Lanjut ke cerita! ^^


Alfred menatap cover buku diary bergambar daun maple itu. Bayangan Matthew seakan menyapanya dalam buku diary itu.

Ia rindu dengan adiknya. Tangannya mulai mengusap cover diary itu perlahan.

Dipikirannya terlintas bayangan adiknya.

.

Hanya dua menit pikirannya dipenuhi kenangan sang adik, Alfred beranjak dari kamarnya.

Ia melangkahkan kakinya—sambil membawa buku diary itu— ke kamar tamu. Tangannya membuka pintu kamar itu dengan perlahan.

Pemilik mata biru laut itu hanya tersenyum melihat Arthur yang sedang tertidur pulas.

Alfred menutup pintu dengan perlahan—hingga tak menimbulkan suara.

Ketika pintu itu telah tertutup sempurna, pemilik mata hijau itu membuka matanya.

Hanya pura-pura tidur.


#

Hetalia Axis Powers © Hidekaz Himaruya

Alone's Movie ©Someone who made it

Alone © Eka Kuchiki

#


Antonio mengendarai mobilnya setengah ngebut. Di tengah malam yang semakin sepi.

Setelah insiden tabrak lari—yang korbannya menghilang secara misterius, Antonio langsung mengantar Lovino pulang.

Ya, ia tak ingin kejadian yang buruk menimpa Lovino, bukan?

Antonio tetap memegang setir mobilnya. Mata hijau itu mulai mengantuk.

Harusnya ia tak keluar pada jam malam seperti ini. Sementara jam menunjukkan pukul 12.

Harusnya otaknya tidak dipenuhi bayangan menyeramkan setelah insiden mistis tadi.

Tapi mau tidak mau, tak ada alternatif lain baginya selain melewati jalan dimana insiden tabrak lari itu terjadi.

Membawa hawa mistis kembali ke dalam pikirannya.

.

"Mati…"

Bulu kuduk Antonio meremang. Suhu udara di mobilnya mulai menurun drastis.

'Hanya perasaanku saja,' Batinnya—berusaha menenangkan diri sendiri. 'Pasti karena aku melewati jalan menyeramkan seperti ini—'

"Mati…"

Demi tomat segar yang ada di kebunnya! Siapa yang berkata mati?

Suhu di mobilnya semakin menurun. Namun, hanya leher Antonio saja yang merasakan penurunan suhu yang drastis tersebut.

Mungkin saja cuaca di New York masih cukup dingin. Apalagi dia sedang membuka jendela.

Antonio menghela nafas—berusaha menenangkan dirinya.

Mata hijau itu melirik kearah kaca spion kanannya. Tiba-tiba, satu sosok tertangkap dalam retina matanya.

Sosok dengan wajah berlumuran darah itu berada dibelakangnya.

Lengkap dengan pisau di tangan kanannya.

Dan mulutnya membisikkan kata-kata yang membuat dirinya ketakutan yang amat sangat.

"Mati…"

"AAAAHHHHH!"

Antonio menginjak rem sekuat tenaga. Namun malangnya, rem tersebut blong secara tiba-tiba.

Membuat dirinya tak bisa mengendalikan mobilnya.

Sepertinya ini akhir kehidupannya.

Ketika dirinya membanting stir dan tak melihat apa yang berada didepannya.

CKIIIIT!

BRAAAKKK!

Roda mobil berhenti. Bagian depan mobil hancur menabrak sebuah pohon besar.

Warna merah darah menggenangi dashboard mobil. Robekan kulit kepala—tempat mengucurnya darah— menyebabkan sang pengemudi tersebut dalam keadaan kritis.


Sementara itu, Lovino terbangun dari tidurnya. Ia mengambil nafas dan menghembuskannya setelah merasakan sesuatu yang buruk.

Sesuatu yang berhubungan dengan Antonio.

'Sial! Kenapa aku terbangun karena tomato bastard itu sih?' batinnya kesal. Tetap saja, Lovino tak bisa tenang karena—

'Tapi… Kenapa aku merasa nyawa Antonio dalam bahaya?'

Pemuda Italia itu hanya berharap Antonionya akan baik-baik saja—tak sesuai dengan fisaratnya.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Tercantum nomor yang tak dikenalnya.

Dengan penuh penasaran, Lovino menjawab telepon itu.

"Halo, ini dengan tuan Vargas?"

"Iya, saya sendiri," jawab Lovino. "Ini dengan siapa?"

"Kami dari pihak kepolisian," jawab suara diseberang. Mata amber itu membelalak.

"Apakah anda kenal dengan Antonio Fernandez Carriedo?"

Kali ini fisarat buruk itu kembali membayangi Lovino.

"Ada apa dengan Tom—Antonio, Sir?"

"Tuan Carriedo mengalami kecelakaan di jalur 13 Highway,"

"APA?" Lovino nyaris membanting teleponnya. Dan teriakannya sampai saudaranya, Feliciano terbangun.

"Ve… Fratello, ada apa teriak-teriak begitu?" tanya Feliciano.

Lovino tak menghiraukan pertanyaan adiknya—hingga membuat sang adik pundung,"Dimana dia sekarang?"

Setelah mencatat alamat rumah sakit—tempat Antonio mendapatkan pertolongan pertama, Lovino mengambil jaket coklat khakinya lalu berlari keluar.

"Fratello, kau mau kemana, ve?" tanya Feliciano.

"Ke tempat Tomato Bastard," jawab Lovino sambil menyalakan mesin mobil.

"Ada apa dengan Antonio fratello?"

"Dia kecelakaan, bodoh," Lovino menginjak gas, "Kau disini saja!"

"Tapi aku ingin ikut!" Feliciano benar-benar khawatir dengan keadaan pemuda Spanyol—yang sudah dianggapnya sebagai kakak.

"Sudahlah! Kau di apartemen saja!"

Lovino mengendarai mobilnya dengan setengah ngebut. Feliciano hanya menyunggingkan seringai misterius—yang tak pernah ditunjukkan didepan umum. Sungguh, seringai itu terlihat… menakutkan.

"Aku akan tetap ke sana," Feliciano memencet nomor di ponselnya., "Meskipun Fratello melarangku…"

Feliciano memegang kertas berisi alamat rumah sakit yang dituju, "Untung saja Fratello lupa membawa ini."


Di apartemen Germany, Ludwig mengguncang-guncangkan tubuh kakaknya.

"Bruder, cepat bangun!" kata Ludwig. Gilbert hanya ngulet sebentar, lalu tidur lagi.

"Bruder! Ayo bangun!" Tetap saja, pemuda Jerman itu masih melanjutkan tidurnya.

Karena tak ada reaksi, Ludwig menggulingkan badan Gilbert hingga pemuda berambut putih itu terjatuh dari tempat tidur.

Mata rubi itu melotot, "West! Kau sungguh gak awesome!" jeritnya. Badannya terasa sakit karena bersentuhan langsung dengan lantai.

Adiknya sungguh kejam.

Ludwig tidakmendengar omelan kakaknya, "Kita ke rumah sakit St. Stanford—sekarang!" Ludwig menaik tangan kakaknya.

"Ngapain kita harus kerumah sakit?" dumel Gilbert sambil menahan sakit.

"Carriedo kecelakaan," jawaban singkat dari Ludwig membuat mata rubi itu membelalak.

"APA?"


"AAAHHH!"

Teriakan nyaring itu seperti alarm otomatis yang membuat Arthur terbangun dan langsung berlari ke arah kamar Alfred.

Sialnya, pintu kamar Alfred terkunci. Arthur mengedor pintu kamar Alfred dengan tidak sabar.

"Ada apa, Hamburger Freak?" Tanya Arthur setengah berteriak. Nada bicaranya terdengar khawatir.

"Alfred! Jawab aku!" Teriak Arthur lagi. Kepanikan tingkat atasnya membuat dirinya menyebut nama asli pemuda Amerika itu.

Leher Arthur mulai menegang ketika dirinya merasakan hawa mistis dikamar Alfred.

'Jangan-jangan—' Arthur mulai merasakan fisarat buruk.

"ALFRED F. JONES! BUKA PINTUNYA!"

.

Didalam kamarnya, Alfred terpojok di sudut kamar. Sebenarnya ia mendengar teriakan Arthur dari luar kamar.

Tetapi kakinya terpaku dengan tanah. Ia tak bisa bergerak.

Dan dirinya hanya bisa merutuki diri sendiri karena mengunci pintu kamar. Karena sekarang, ia tak sendiri dikamarnya.

Di hadapannya, satu sosok menatapnya dalam-dalam. Mata violet tanpa kacamata yang membingkai matanya tak membuat Alfred lupa akan sosok yang sangat ia kenali.

Tapi sejujurnya, dia takut akan sosok yang sangat dikenalinya itu.

"Ma—Mattie! Ke—kenapa kau bisa—" kata Alfred ketakutan.

Wajar saja jika Alfred ketakutan jika yang 'mengunjunginya' sekarang adalah adik kembarnya yang sudah meninggal.

Adiknya yang—seharusnya— sudah tidak ada lagi di dunia. Wajah dengan lumuran darah itu hanya menatapnya tajam.

"Ke—kenapa kau bisa ada di sini, Mattie?" tanya Alfred dengan suara tersendat. "Bu—bukankah kau seharusnya—"

"Ada urusan yang harus aku selesaikan," potong Matthew.

"U—urusan apa itu?"

"Bukan urusanmu."

Matthew menatap mata azure itu dengan tatapan yang menyeramkan—bagi Alfred, tetapi menyiratkan sesuatu.

Mata itu seperti… memendam kesedihan yang mendalam.

Bahkan saat Matthew menghilang, Alfred masih bisa merasakannya.

.

Setelah hampir lima belas menit menggedor pintu, akhirnya Alfred membuka pintu kamarnya.

"LAMA SEKALI KAU MEMBUKA PINTUNYA, GIT! DASAR—" Arthur tak melanjutkan makiannya karena Alfred memeluknya dengan erat.

"Mattie…dia datang, Iggy," kata Alfred tersendat. Bahunya bergetar hebat—mengisyaratkan bahwa ia dalam ketakutan yang amat sangat.

"Apa?" Tanya Arthur tidak percaya. Jadi benar fisaratnya bahwa ada sesuatu yang mistis dalam kamar Alfred.

Arthur membiarkan Alfred memeluk dirinya, bahkan mengusap punggung Alfred—untuk menenangkannya.

"Ceritakan padaku apa yang terjadi di dalam," Nada bicara Arthur sedikit melunak. Sepertinya sisi gentleman sang British mulai keluar.

Alfred menceritakan apa yang terjadi padanya—termasuk Matthew datang ke kamarnya. Mata azure itu masih nampak ketakutan. Dan ia masih tak melepas pelukannya.

Kasihan Alfred.

Arthur hanya menyimaknya setiap curhatan Alfred dan tak menanggapinya—terus membiarkan Alfred mencurahkan semuanya.


Sekarang jam dinding menunjukkan waktu 3 dini hari. Alfred tak dapat memejamkan matanya sekalipun. Meskipun wajahnya mengutarakan kelelahan, setiap kali ia mencoba untuk tidur, pasti terbangun lagi karena terbayang kejadian tadi.

Tak ada jalan lain.

Alfred mengetuk pintu kamar tamu, lalu menggedornya lebih keras. Kemudian Arthur keluar dengan wajah penuh aura menyeramkan—mungkin hasil privat dengan Ivan.

"BERISIK, GIT! ORANG LAGI TI—" Arthur tak melanjutkan makiannya karena Alfred menarik tangannya.

"Temani aku tidur, Iggy!" rengek Alfred sambil menarik tangan Arthur.

"Bloody hell! Ngapain sih aku harus menemanimu tidur?" gerutunya dengan pipi yang merona.

"Aku—tidak bisa tidur, Iggy…" jawab Alfred lemah. Wajahnya yang terlihat lelah dan mata azure yang setengah mengantuk itu membuat Arthur terdiam.

"Tapi—"

"Please, Artie…" kali ini, Alfred mengeluarkan jurus puppy eyes terampuhnya. Meskipun sangat tidak cocok dengan keadaannya sekarang—dan membuat Arthur ingin muntah, jika sang Amerika memintanya dengan cara seperti ini, maka ini adalah masalah yang serius.

"Jadi, kau mau tidur bersamaku?" Tanya Alfred lagi. Mencoba menggoda sang tsundere akut itu.

Arthur hanya mengangguk pelan, kemudian memalingkan wajahnya yang merona maksimal—membuat wajahnya semerah tomat.

Alfred tersenyum senang dan entah mengapa rasa kantuknya mulai hilang diwajahnya.

"Yey! You're my best UK-e!" Alfred menggendong Arthur dengan bridal style. Membuat pemuda Inggris itu membentaknya dengan wajah yang lebih merah dari tomat

"O—OI, GIT! TURUNIN GUE! DAN JANGAN PANGGIL GUE UKE!"

.

"Iggy! Ayo kita tidur!" Alfred menurunkan Arthur diatas tempat tidurnya.

"Ti—tidur seranjang maksudmu?" mata hijau Arthur membelalak.

Alfred menyunggingkan senyum—mesumnya, "Menurutmu?"

"Hamburger shit! Elo gak bener-bener ngelakuin 'itu' kan?" gaya bahasa bajak laut Arthur keluar secara spontan.

"Apa maksudnya 'itu'?"

Dasar Alfred, jangan pura-pura polos seperti itu. Hal itu akan membuat sang tsundere akut semakin jijik padamu.

"Jangan pura-pura bodoh, git!" Arthur duduk disamping ranjang dan membalikkan badannya. Alfred hanya tertawa melihat kelakuan ukenya itu.

"Terserah kau saja," Alfred melepas kacamatanya kemudian menguap, "Selamat malam, Iggy!"

Ia membaringkan tubuhnya, lalu memejamkan matanya. Beberapa saat terdengar suara mendengkur pelan.

Arthur hanya menggerutu pelan melihat kelakuan sang American. Dasar pembual! Katanya tidak bisa tidur! Bisa-bisanya ia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan!

Mata zamrud itu menatap mata azure yang tertutup itu. Diam-diam ia mengagumi wajah Alfred yang sedang tertidur pulas.

'Ternyata dia tampan juga saat tidur,' pikir Arthur saat melihat wajah damai Alfred. Beberapa detik kemudian, ia mulai sadar dan kembali kepada sifat tsunderenya.

'Kau ini memikirkan apa, Arthur! Jangan sampai kau menyukai dia!' Arthur menampar pipinya serta menjambaki rambutnya sendiri.

Tapi sifat tsundere itu hanya bertahan sementara. Saat dirinya merasa mengantuk, Arthur menarik selimut lalu tertidur disamping Alfred.


Di rumah sakit St. Stanford, Lovino mondar-mandir di depan ruang UGD. Sudah hampir dua jam ia menunggu.

Dan jujur, dia sebenarnya sedikit merinding karena suasana di depan ruang UGD sepi. Apalagi udara yang cukup dingin serta lorong ruangan UGD yang beberapa lampu sudah dimatikan.

Oh, please… jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Tiga dini hari! Suasana dirumah sakit terasa sangat menyeramkan dimalam hari!

Lovino menelan ludah. Awas saja kalau si Tomato Bastard itu sudah sadar nanti! Beginilah resiko jika membiarkan seorang Lovino sendirian di rumah sakit ini dan…

"Mati…"

Leher Lovino menegang. Tiba-tiba saja, suhu disekitarnya menurun drastis.

Lovino melihat kearah lorong rumah sakit. Ia menyakinkan diri sendiri bahwa dia tadi salah dengar atau berhalusinasi.

Karena tidak ada seorang pun—kecuali dirinya— yang berada di lorong rumah sakit ini.

Tiba-tiba ia melihat sekelabat bayangan putih melintas.

"Chigi!" jerit Lovino. Jantungnya nyaris copot melihat hal itu. Semoga ini hanya halusinasi.

'Bukan, Lovino. Itu bukan apa-apa.' Batinnya menenangkan diri. Tetap saja, sugesti itu tidak mempan.

Ia menutup mata dengan kedua tangannya. Ketakutan sudah menyergapnya.

Tiba-tiba, sebuah tangan menepuk pundaknya.

"CHIGYAAA!" jerit Lovino. Badannya sudah lemas seketika dan ingin rasanya ia menjatuhkan dirinya diatas lantai yang dingin itu.

"Ve… fratello, ini aku!"

Tunggu, suara ini—

Lovino memberanikan diri menoleh ke belakang. Ia melihat Feliciano, Ludwig dan Gilbert.

"Ve… fratello, aku ingin melihat keadaan Antonio fratello, ve…" kata Feliciano ceria. Ludwig hanya mengangguk pelan. Kalau bukan karena Feliciano yang meneleponnya untuk mengantarnya ke rumah sakit, pasti dia tidak akan berada disini.

Ditambah lagi… orang yang sok awesome itu datang juga kesini?

Ini bagaikan neraka bagi Lovino Vargas.

Lovino mencengkram kerah baju Feliciano, "ADIK BEGO! ELO BIKIN GUE TAKUT SETENGAH MATI TAU!" Kemudian ia menjedukkan kepalanya dengan kepala adiknya.

"Fratello! AKU GAK BISA NAFAS!" Jerit Feliciano.

"Kalian berdua tenanglah! Ini rumah sakit!" kata Ludwig setengah berteriak—karena dirumah sakit. Tak mempan, Ia memisahkan kedua saudara abnormal itu.

"Cih! Dasar gak awesome!" komentar Gilbert melihat pertengkaran Vargas bersaudara itu.

"Bruder, jangan diam saja! Bantu aku memisahkan mereka berdua!"


Pagi hari jam 8 tepat.

Alfred tengah memegangi perutnya yang masih terasa sakit. Ternyata bogem mentah yang diberikan oleh Arthur benar-benar kuat.

Ya, perut Alfred dijadikan sansak tinju oleh ukenya sendiri. Pukulan itu dihadiahkan olehnya saat Arthur mengetahui dirinya tengah dalam posisi berpelukan dan saat ia mau melepaskan diri, Alfred—dengan bodohnya— malah memeluknya lebih erat. Dengan sangat terpaksa ia menonjok perut Alfred.

Setidaknya Alfred bersyukur bahwa tidak ada Elizaveta dan Kiku diapartemennya. Jika fujoshi dan fudanshi itu berada di dalam apartemennya dan melihat adegan tersebut, entah bagaimana masa depannya dengan Iggynya tercinta.

.

Arthur memindahkan chanel ke berita, tak memedulikan Alfred yang merajuk sekaligus meringis karena telah ditonjok perutnya. Dengan tenangnya, ia meminum earl grey—seakan tak terjadi apa-apa.

"Berita pagi ini. Telah terjadi sebuah kecelakaan di ruas jalan 13 highway. Sebuah mobil BMW merah dengan nomor polisi T0M4T0 menabrak sebuah pohon,"

Arthur nyaris menyemburkan earl greynya. Nomor polisi itu—

"…Pengemudi mobil kini dibawa ke rumah sakit . Dari kartu identitas yang dibawanya, pengemudi mobil tersebut bernama Antonio Fernandez Carriedo."

Kali ini bukan hanya Arthur yang menyemburkan tehnya, tetapi juga Alfred yang tengah meminum kopinya.

Antonio… kecelakaan?


Jam sepuluh pagi. Waktu yang pas untuk berjalan-jalan.

Karena ini hari Minggu, tentu saja hari ini para mahasiswa tidak ada jam kuliah. Seperti kedua pemuda yang sedang berkencan hari ini.

Oke, coret kata 'berkencan'nya.

Alfred dan Arthur memang berangkat berdua, namun mereka tidak berkencan.

Karena tempat yang mereka kunjungi sekarang adalah rumah sakit.

.

Di depan ruang rawat tempat Antonio dirawat, Alfred dan Arthur disambut oleh Roderich dan Elizaveta.

"Bagaimana keadaan Antonio?" tanya Arthur.

"Kata dokter, kondisinya sudah cukup stabil. Namun dia masih belum sadar." Jawab Roderich .

"Mengapa kalian berdua tidak masuk?" tanya Alfred.

"Tadi kami sudah masuk," jawab Elizaveta. Mata hijaunya menatap Alfred dan Arthur dengan curiga. Kemudian ia tersenyum.

"Ada apa, Eli?" tanya Alfred heran.

Sebelum kekasihnya menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan yaoi, Roderich menarik tangan Elizaveta.

"Kami permisi dulu," kata Roderich datar sambil menarik tangan Elizaveta.

Kedua pemuda itu sweatdrop melihat pasangan yang agak 'ajaib' itu.

"Seharusnya kita datang sendiri-sendiri," ujar Arthur.

"Aku lupa kalau Elizaveta itu ketua perkumpulan fujoshi dikampus kita."

"Biarkan saja, Iggy!" Alfred menarik tangan

"Kalian?" kata Ludwig ketika melihat Alfred dan Arthur masuk ke dalam ruang rawat.

"Tadi kami baru melihat berita," sahut Alfred. "Makanya kami langsung ke sini."

"Jadi, tidak ada yang tahu penyebab Antonio mengalami kecelakaan?" tanya Alfred.

"Tadinya aku mengira bahwa Antonio mabuk saat mengendarai mobil," jawab Ludwig. "Tapi menurut dokter, dia tidak berada dibawah pengaruh alkohol."

"Tentu saja tidak mungkin, potato bastard!" seru Lovino. Membuat Alfred, Arthur dan Ludwig menatapnya.

"Karena… dia yang mengantarku pulang kerumah… sejam sebelum kecelakaan itu," lanjutnya dengan suara tersendat.

Kemudian Lovino beranjak dari tempat duduknya.

"Lovi—" Alfred memanggilnya, namun ia sudah keluar dari ruang rawat.

"Benar, ve… Aku melihatnya sendiri! Antonio fratello yang mengantarkan fratello." Tambah Feliciano.

"Dari tadi aku tidak melihat orang sok awesome itu," ujar Alfred sambil mencari sosok pemuda berambut putih.

"Bruder masih menenangkan dirinya diluar," jawab Ludwig. "Dia masih syok dengan keadaan Carriedo."

Keheningan berhembus di ruang rawat itu.

Sebenarnya, ada apa dibalik semua ini?


Setelah sejam menjenguk Antonio, Alfred dan Arthur meninggalkan ruang rawat. Ada satu hal yang masih menjadi tanda tanya dibenak mereka berdua.

Soal kematian Francis yang tidak wajar.

.

Kedua pemuda itu melepas lelah sejenak disebuah kafe yang letaknya tak jauh dari rumah sakit.

Alfred memakan hamburgernya dengan pelan—tidak seperti biasanya. Sementara Arthur menyisip tehnya.

"Kemarin kau bilang bahwa kematian Francis bukan dibunuh oleh manusia,"Kata Arthur membuka percakapan.

Alfred tidak menjawab pertanyaan Arthur—malah melayangkan tatapan tajam kepadanya.

Arthur balik menatap tajam Alfred, "Ada apa denganku?"

"Iggy, kau tidak menyuruh 'temanmu' untuk membunuh Francis kan?" tanya Alfred curiga.

"Bloody Hell! Seenaknya aja nuduh!" bentak Arthur. "Jangan mentang-mentang aku bisa melihat hantu terus kau menuduhku seperti itu!"

"Tapi kau sangat membenci Francis, kan?" Tatapan mata Alfred semakin menajam.

"Sebenci-bencinya gue sama si kodok mesum itu, gue gak akan ngebunuh dia kayak gitu, hamburger shit!" Bentak Arthur. "Kenapa kau tidak mencurigai Putra atau Nor—"

"Ada yang memanggil namaku?" suara dengan logat melayu yang kental mengagetkan mereka berdua.

"Putra?" Alfred dan Arthur menoleh kearah Putra.

Ternyata Putra tidak datang sendirian. Dia juga ditemani oleh coretkekasihnyacoret Williem, dan adik tersayangnya, Razak.

"Kalian berdua ngomongin aku, ya?" tanya Putra tajam. Aura kelam milik Putra mengelilingi tubuhnya. Dari ekspresi wajahnya, terlihat bahwa dia ingin menyantet mereka berdua.

"Ng—nggak kok!" Jawab Alfred dan Arthur serempak.

"Sayang, mereka tidak punya maksud apa-apa kok!" Williem melingkarkan tangannya ke pinggang pemuda Indonesia itu.

"Oh, elo mau gue santet juga ya?" kata Putra sambil melepaskan tangan Williem.

"Santet aja, kak! Biar kapok!" Razak malah memprovokatori.

"Diam kau, anak ingusan!" bentak Williem. Kemudian ia beralih ke Putra, "Put, kok kamu galak amat sih?"

"Bodo amat!" jawabnya singkat. Membuat pemuda Belanda itu pundung dipojokan.

Pemuda Indonesia itu beralih ke Alfred dan Arthur, "Kalian ngapain disini?"

"Kami dari rumah sakit, habis menjenguk Antonio. " jawab Arthur.

Melihat pemuda berambut hitam itu, mendadak ia seperti mendapat ilham.

"Apa kau tahu sesuatu mengenai kematian Francis?"

"Yang aku ketahui hanyalah kematian Francis karena dibunuh oleh hantu," Jawab Putra. "Aku tahu itu dari hasil penerawanganku."

"Jelas sekali jika pola pikirmu seperti itu!" timpal Razak. "Bukankah film horor di negaramu selalu menayangkan hal seperti itu?"

Putra menginjak kaki adiknya hingga membuat si empu kaki menjerit kesakitan.

"Rasakan!" timpal Williem dengan wajah meledek. Razak menatap Williem dengan tatapan-lihat-saja-pembalasanku-kepala-tulip.

"Selain kematiannya yang tidak wajar," tambah Putra. "Adanya pesan kematian yang menimbulkan ambigu. Untuk apa seorang pembunuh meninggalkan tulisan sepanjang itu? Bukankah itu dapat membuat sidik jarinya menempel?"

Alfred dan Arthur terkejut mendengar pernyataan itu, mengapa Putra bisa berpikir sejauh itu?

"Wajar saja Putra berbicara seperti itu," kata Williem sambil merangkul pundak pemuda Indonesia itu. "Dia kan mahasiswa jurusan kriminologi."

'Pantas saja,' batin Arthur dan Alfred.

Kemudian ketiga orang tersebut meninggalkan mereka berdua untuk menjenguk Antonio.


"Harusnya kita menanyakan hal ini pada Gilbert," ujar Arthur. "Karena dia yang melihat mayat Francis pertama kali."

"Tapi kita tidak bertemu dengan orang sok awesome itu sejak tadi!" gerutu Alfred kesal.

Mata zamrud itu menatap mata azure didepannya, "Kau masih marah dengannya?"

Alfred mendengus pelan, "Sebenarnya aku masih tidak rela ketika dia meninggalkan Mattie dan membuatnya mengurung diri seharian dikamar."

"Dasar bodoh. Itu kan sudah lama sekali!" Alfred hanya menggumam tidak jelas mendengar pernyataan Arthur tadi.

Teh dan hamburger mereka sudah habis. Tak ada lagi yang membuat mereka berlama-lama di kafe ini, bukan?


Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Suasana cukup sepi di taman rumah sakit St. Stanford.

Taman rumah sakit yang cukup luas, ditambah dengan pohon-pohon tinggi seperti menyimpan aura mistis di sekitar taman ini.

Namun ada seorang pemuda berambut putih sedang duduk sendirian di bangku taman. Ia tampak masa bodoh dengan suasana mencekam di taman itu.

Gilbert Beilschmidt.

.

Gilbert hanya menghela nafas pendek. Sudah sejam dia berada di taman ini.

"Antonio," gumamnya pelan. Tatapan mata kosong itu hanya ditujukan pada penjuru taman.

'Kenapa kau mengalami kejadian seperti ini?' batinnya.

Bad Touch Trio adalah tiga sahabat yang kompak. Mereka selalu bersama dalam hal apapun—termasuk membuat onar.

Dan kini Bad Touch Trio sudah pecah. Satu personilnya sudah tak ada di dunia, dan yang satunya lagi

'Kemarin Francis dibunuh, Antonio kecelakaan dan sampai sekarang masih koma—' ia masih memikirkan kejadian beruntun yang menimpa sahabatnya.

'Apa sekarang aku yang awesome ini—'

"Mati…"

Mata rubi itu membelalak ketika mendengar suara misterius itu. Suhu di sekitarnya menurun secara drastis.

'Suara itu…'


#

T.B.C

#


Eka's Note : HUWEEEE… Kenapa sih semua orang nyangka Mattie bakal ngebunuh bang Antonio? Gue kan sayang ama dia! Emangnya gue setega itu bakal ngebunuh bang Anton? #stresskumat

Mein gott! Chapter ini… dipenuhi USUK dan Spamano! XD Maaf, kalo yang bagian USUK itu terkesan manjang-manjangin cerita. Entah kesurupan apa saya jadi nulis hints sampai sepanjang itu… ==a

Bagi anda penggemar Melayucest dan Netheindo, saya berikan slight mereka disini. Saya bisa membuat ini karena Malay dan Indo belum dibuat official artnya. Jadi… sekarang anggap mereka berdua itu cowok ya! *digeplak karena nentuin seenaknya* Oh, iya lupa! Putra itu Indonesia, Razak itu Malaysia, Williem itu Netherlands.( Buat Kak Arekey, saya pinjem ya namanya si Razak sama Williem. ^^)

Maafin saya ya kalau chapter kali ini gak maksimal plus aneh, soalnya saya lagi gak enak badan saat menyelesaikan chapter ini. Kayaknya amandel saya bengkak lagi. #curcolabaikan

Ya sudahlah, akhir kata…

Review please?