Naruto selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.
.
Pintu ruangan Sasuke terbuka lebar dan ekspresi Sasuke seketika berubah. Perkiraannya meleset jauh. Sialnya Sasuke melupakan kemungkinan lain. Satu orang lagi yang bisa dengan mudah masuk ke ruangannya. Sesuka hatinya. Tanpa butuh persetujuan siapapun. Senyuman kebahagiaan yang sedari tadi tersungging di wajahnya lantas musnah. Mata hitam itu pun berubah dingin dan tajam. Jelas sekali menujukkan rasa ketidaksukaannya pada sesosok wanita yang baru saja melangkahkan kakinya memasuki ruangan Sasuke.
Rambut panjangnya tergulung rapi. Pakaian yang membungkus tubuh proporsionalnya tentu saja berasal dari merek-merek ternama, membuat wanita yang sudah berumur itu terlihat semakin berkelas. Wajahnya memang tampak kaku dan terkesan angkuh tanpa adanya sebuah senyuman, namun riasan yang terpoles minimalis menjadikan wajah itu tetap terlihat anggun.
"Sepertinya aku datang di saat yang kurang tepat," ucap wanita itu. Nada suaranya memang tidak meninggi, namun ada kesan mendalam hingga membuat Sakura sendiri merasa gentar. Apalagi sekarang mata berwarna madu itu tengah menatapnya. Sungguh, Sakura merasa terintimidasi hanya dengan tatapannya yang dingin. Semua gesture tubuh wanita itu menjelaskan bahwa dia adalah orang yang berkuasa.
Tidak ada ketakutan. Secuil pun. Bahkan ketika wanita itu menyunggingkan senyum. Keangkuhannya tidak jua hilang.
Tanpa sadar Sakura menelan ludahnya sebelum berkata, "Tidak. Urusan saya juga telah selesai."
Di detik itu juga Sakura tersadar, untuk apa ia mengatakan itu? Seharusnya pria yang berdiri di dekatnya lah yang mengatakannya, tapi Presdir Uchiha Corp ini tiba-tiba bertingkah layaknya orang bisu. Mulutnya terkunci rapat, meski sepasang matanya terus menatap tajam wanita itu. Sakura merasa ada yang aneh dengannya. Namun Sakura tidak ingin menyimpulkan keanehan yang ia rasakan.
Sakura memang tidak salah.
Jika saja Sasuke boleh jujur, ia masih ingin menahan wanita Sabaku itu agar tetap di sini. Bukan karena alasan sederhana seperti ingin menghabiskan waktu lebih lama dengannya. Tapi karena Sasuke tidak ingin menghadapi wanita itu. Benar. Silakan saja menyebut dirinya pengecut.
Kenyataannya sekarang, selain perasaan benci yang mencambuknya, Sasuke pun merasa ketakutan. Dia adalah wanita yang paling tidak ingin Sasuke temui selama hidupnya, jika bisa. Seorang wanita yang begitu Sasuke hindari. Karena dialah orang yang telah mengajarkan pada Sasuke apa itu perasaan takut. Merasa tertekan. Dengan mudahnya pula dia mampu membuat Sasuke merasa tidak berdaya.
Dan parahnya Sasuke tidak bisa melawannya. Tidak pernah bisa.
Wanita itu masih tersenyum. Terlihat ramah, namun entah bagaimana juga terlihat sinis di mata Sakura.
"Tidak perlu merasa sungkan padaku, Nona …?"
"Sabaku Sakura," jawab Sakura tegas.
"Ah, perwakilan dari Sabaku Group. Senang bertemu denganmu di sini. Aku, Uchiha Tsunade." Satu tangannya terulur setelah sebelumnya ia berjalan mendekati Sakura dengan begitu anggunnya.
Segera Sakura membalas uluran tangan itu dan menggenggamnya sama kuat seperti yang dilakukan oleh wanita yang baru saja memberitahukan namanya, lalu berkata kembali seolah memperjelas identitas dirinya.
"Ibu dari Uchiha Sasuke."
Mata hijau Sakura mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya menyunggingkan senyuman, "Senang bisa bertemu dengan Anda, Nyonya Uchiha," sapa Sakura ramah. Berbeda dengan batinnya yang tengah sibuk mempertanyakan empat kata yang baru saja ia dengar.
Ibu? Wanita ini ibu dari pria berengsek itu?
Dilhat dari jarak sedekat ini pun Sakura tidak … Oke, mungkin belum menemukan satu kemiripan pun dengan Presdir dari Uchiha Corp. Jadi agak wajar rasanya jika Sakura sempat meragukan kebenarannya. Tapi bisa saja kemiripan yang dimiliki Sasuke semuanya berasal dari sang ayah. Mungkin, kan?
Tunggu dulu!
Apa yang baru saja ia pikirkan? Peduli setan pria berengsek itu mirip dengan siapa. Mau berasal dari planet mana. Tidak perlu otaknya bekerja untuk memikirkan hal semacam itu. Itu sama sekali tidak penting. Dan lagi itu juga bukanlah urusannya.
"Kalau begitu saya permisi," lanjut Sakura yang disambut oleh senyuman ramah namun juga terlihat sinis, khas milik Nyonya Uchiha. Berbanding terbalik dengan pria Uchiha yang masih saja membisu. Seakan kemampuan bicaranya telah hilang saja. Tapi agaknya Sakura bisa memahami sikap Sasuke. Ibunya memang sedikit menyeramkan. Ralat. Memang menyeramkan.
"Tak kusangka perwakilan dari Sabaku Group ternyata adalah seorang wanita yang menarik, kau pasti juga berpikir seperti itu bukan?" tanya Tsunade seraya berjalan mendekati Sasuke setelah pintu ruangan itu tertutup.
"Ada perlu apa Anda datang menemuiku?" Sasuke balik melempar pertanyaan dengan nada dingin. Mengabaikan pertanyaan Trunade barusan.
Hal yang sama pun dilakukan oleh Tsunade. Seakan tidak mendengar pertanyaan Sasuke, wanita itu juga ikut melempar pertanyaan kembali. Melanjutkan pembahasan mengenai wanita Sabaku itu.
"Jadi, apa dia tidak menarik?" tanyanya lagi setelah mendaratkan tubuhnya di atas sofa tepat di depan Sasuke yang masih berdiri. Lututnya terlipat dengan tas jinjing berwarna silver terletak di atasnya. Punggungnya menyandar nyaman. Kepalanya sedikit terangkat hingga mempertemukan dua pasang mata berbeda warna itu.
"Kita sudah sepakat untuk tidak bertemu kecuali untuk membahas masalah bisnis. Itupun jika aku melakukan kesalahan besar atau kondisi perusahaan menurun."
"Apa salah seorang ibu bertanya mengenai selera wanita anak laki-lakinya?"
"Sayangnya kau lupa … kau bukan ibuku."
Jika saja yang berdiri di depannya adalah orang lain, Sasuke pasti akan mendengus dan menatap remeh lawan bicaranya. Tapi tidak kali ini, karena lawannya tidak bisa ia remehkan.
Tsunade menaikkan satu sudut bibirnya. Diikuti kedua tangannya terlipat di depan dada. "Oh … jadi kau lebih memilih wanita yang sudah membuangmu … ah, bukan, dia tidak membuangmu, tapi dia menjualmu. Itukah seorang ibu bagimu?"
Sasuke menarik napasnya panjang. Ini bagian yang paling ia benci, dan wanita berengsek ini selalu mengusiknya.
"Sejak kapan aku mengatakan kalau aku punya seorang ibu? Cek kembali kalimatku tadi. Yang kukatakan adalah Kau. Bukan. Ibuku."
Suara tawa terlantun lembut dari Tsunade. Sasuke tahu, wanita ini sedang mengejeknya. Seakan-akan kalimat penekanan Sasuke tidak memiliki pengaruh apapun.
"Berbicara kenyataannya, Sayang. Semua orang di dunia ini mengetahui kalau aku adalah ibumu. Dan kau adalah anakku."
"Itu bukan kenyataan. Kenyataan yang sebenarnya adalah kau menipu dunia … dan kau juga menipu dirimu sendiri."
"Aku?" tanya Tsunade kemudian menyeringai, "Kurasa penipu itu adalah KITA, Sayang."
"Kau benar. Aku juga ikut berperan membantumu meyakinkan dunia. Tapi sekali lagi, dasar peranku adalah atas perintahmu. Dan aku berperan sebatas pada lensa sekitar. Tidak selebihnya. Itu perbedaanku denganmu. Aku tidak pernah menipu diriku sendiri. Aku tidak pernah memiliki seorang ibu, jadi berhentilah bertingkah selayaknya seorang ibu jika sudah tidak ada orang lain. Itu sungguh memuakkan," ucap Sasuke dingin.
"Penipu menuduh penipu. Lucu sekali. Kau punya seorang ibu. Entah bagaimana kau mendefenisikan sosok ibu itu sendiri, tapi kau memilikinya. Jangan lupakan itu, Uchiha!" Kali ini Tsunade berbicara dengan tajam. Pun dengan tatapan matanya. "Kaulah yang seharusnya berhenti menipu dirimu sendiri."
Ruangan mendadak senyap beberapa detik, sebelum akhirnya Sasuke mulai berbicara.
"Apa ada lagi yang ingin Anda katakan? Jika tidak maka silakan pergi atau aku yang pergi."
Tsunade melemparkan senyum sebelum bangkit dari sofa. Lalu dengan angunnya berjalan dan berhenti tepat di hadapan Sasuke. Wanita itu tersenyum.
"Baiklah, Sayang. Ibu yang akan pergi karena sepertinya kau telah berhasil menyelesaikan proyek dengan Sabaku Group."
Satu tangannya mengelus lembut pundak Sasuke. Lalu tangannya bergerak mengusap-usap bahu Sasuke seolah banyak debu menempel di sana.
"Jangan sampai telingaku mendengar kabar-kabar tak mengenakkan tentangmu lagi. Aku tidak suka anak kesayanganku dijelek-jelekkan oleh sembarangan orang," ucap Tsunade dengan nada lembut, namun tidak pada ekspresi wajahnya.
"Berhentilah membual. Kau membuatku merinding." Tsunade hanya tersenyum. Tangan itu kini sibuk membetulkan dasi hitam Sasuke. Mata madunya terfokus di sana. Jelas-jelas mengabaikan ucapan Sasuke tadi.
"Reputasi Uchiha tidak akan rusak hanya karena berita omong kosong seperti itu. Kau tidak perlu takut posisi ini akan direbut oleh orang lain. Inikan yang sebenarnya kau khawatirkan. Jadi, diamlah dan duduk manis saja," sambung Sasuke dengan tenang.
Kepala Tsunade mendongak. Senyum kembali tersungging, yang sebenarnya semakin membuat Sasuke merasa muak. Tangannya telah berpindah membelai pipi Sasuke yang kemudian berubah menjadi tepukan-tepukan pelan. Dan senyuman itu pun berubah menjadi seringai.
Seringai merendahkan!
"Oh, good boy."
Satu kecupan mendarat di pipi Sasuke. Dan Sasuke hanya terdiam membeku di tempatnya.
….
"Jadi … bolehkan, Pa?" tanya Inojin menatap Sai serius.
"Dokter bilang tadi aku boleh makan apa saja yang kusuka. Iya kan, Ma. Mama juga dengar kan tadi?" kali ini bocah itu memutar tubuhnya dan menatap Ino di balik bangku dengan mata membulat.
"Pasang sabuk pengamannya, Sayang." Ino mencubit pipi Inojin pelan. Putranya benar-benar terlihat sangat menggemaskan.
"Ahhhh …" Inojin mendesah kesal seraya membalikkan tubuhnya, "Mama curang. Selalu mendukung Papa terus." Wajahnya cemberut dengan kedua tangan tersilang di dada, membuat Sai yang tengah menyalakan mesin mobilnya tersenyum. Begitu juga Ino yang duduk di kursi belakang.
"Turuti kata Mamamu, Inojin." Kali ini Sai memberi perintah. Namun Inojin malah menolehkan wajahnya ke samping. Malas menatap wajah papanya.
Sai mengelus rambut putranya dengan gemas, "Bagaimana kita bisa pergi kalau kau tidak memasang sabuk pengamanmu. Katanya kau mau makan pizza."
Kepala bocah itu menoleh cepat, "Benarkah?" Matanya berbinar-binar senang. Tanpa menunggu lagi Inojin segera memasang sabuk pengamannya.
Sai hanya menggeleng-gelengkan kepalanya yang kemudian mengemudikan mobilnya meninggalkan area parkir rumah sakit.
"Mama, boleh pinjam ponselnya?" tanya Inojin seraya menoleh pada Ino.
"Memangnya kenapa dengan ponselmu?" Ino balik bertanya.
Inojin tersenyum dengan lebarnya, "Baterainya habis."
"Jangan banyak bermain game, Inojin. Papa membelikannya bukan untuk itu," sahut Sai yang terfokus menatap ke depan. Tidak menyadari bahwa Inojin meliriknya dengan wajah sebal, "Iya. Papa."
Lalu Inojin kembali menatap Ino dengan wajah memohon, "Boleh, Ma? Aku mau menghubungi Paman Sasuke sebentar."
"Inojin—"
"Hanya mengirim pesan, Ma. Aku tahu Paman sedang bekerja," potong Inojin cepat sebelum mamanya ikut menceramahinya. Entah mengapa Inojin selalu merasa papa dan mamanya sangat kompak, memang hanya paman Sasuke yang selalu mendukungnya.
"Memangnya ada apa, Sayang?" tanya Ino sembari memberikan ponsel pintarnya yang berwana merah pada putranya.
"Ini rahasia laki-laki," jawab Inojin, "Dan Papa juga tidak boleh tahu!" Kali ini Inojin melirik sinis pada Sai. Sai menoleh sebentar lalu mengangguk, mengiyakan begitu saja ucapan putranya.
"Baiklah. Mama tidak akan bertanya lagi," gumam Ino lalu terkekeh pelan. Tidak tahu saja Inojin kalau Ino akan membaca isi pesannya nanti. Putranya pasti lupa menghapus pesan terkirimnya. Ino sudah paham sekali.
"Beritahu aku kalau Paman membalasnya ya, Ma," ucap Inojin saat mengembalikan ponsel merah Ino, "Dan jangan sekali-sekali Mama membaca pesannya," ancam Inojin dengan mata menatap Ino tajam.
Satu tangan Ino memberi hormat, "Siap, Bos!" Barulah ia mengambil ponselnya. Namun sebelum Inojin berbalik, Ino menahan lengan putranya.
"Bayaran sewanya?" ledek Ino yang menyodorkan pipi kanannya.
Inojin mendesah gusar, "Mama …." Ino langsung menggelengkan kepalanya dan semakin memajukan pipinya. Inojin mendesah lagi, matanya melirik Sai sebentar. Tahu papanya masih terfokus menatap ke depan, buru-buru Inojin mengecup cepat pipi Ino.
Ino tertawa kencang melihat Inojin langsung memalingkan wajahnya kesal. Putranya tidak pernah mau lagi mencium pipinya, apalagi kalau ada orang lain di sekitarnya. Sekalipun itu adalah Sai. Inojin merasa ia sudah besar dan mencium apalagi dicium manja oleh Ino adalah hal yang memalukan. Tidak laki-laki sama sekali, begitu katanya.
Ino sendiri sampai heran. Siapa yang telah mengajarkan hal seperti itu pada putranya?
Inojin bersorak senang saat sampai. Bahkan ia menarik Ino dan Sai supaya mempercepat langkah mereka. Dipesannya dua pizza dengan toping kesukaannya. Satu dimakan di tempat bersama dengan Sai dan Ino, sedangkan yang satunya lagi dibungkus untuk dibawa pulang. Rencananya akan ia habiskan bersama Paman Sasuke.
Setelahnya Inojin menagih janji Sai. Papanya sudah berjanji setelah keluar dari rumah sakit akan membelikan Robotica The Mask Hero jagoannya. Meski begitu, Inojin tidak akan memberikan hadiah pemberian Sasuke pada Sai. Hadiah itu disimpannya rapi di dalam kamarnya. Katanya, Paman Sasuke membelikan hadiah itu untuknya, bukan untuk papanya. Ino yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepala. Sedangkan Sai hanya mendesah pasrah. Kalau sudah Paman Sasuke yang menjadi pembahasan Inojin, Sai sulit mengalahkannya.
Langit sudah berubah warna ketika mereka sampai di rumah. Segera Ino memerintah putranya untuk membersihkan diri. Sai sendiri lebih memilih untuk bergelut dengan beberapa pekerjaan yang baru ia terima lewat email. Libur panjangnya telah berakhir. Setidaknya ia harus membaca perkembangan perkejaan yang sudah ditangani oleh sepupunya. Terutama mengenai proyek kerjasama dengan SAbaku Group yang akan menjadi tanggung jawabnya.
"Mama, apa paman belum membalas pesannya?" tanya Inojin, setengah berlari menuruni tangga dengan mainan baru yang ia dekap dengan erat. Wajahnya tampak cemas.
Ino yang tengah sibuk merapikan kebutuhan dapur yang baru dibelinya lantas menoleh. Dirogoh saku celananya lalu mengecek ponsel merahnya.
"Belum, Sayang," jawab Ino kembali menatap Inojin, "Mungkin Paman Sasuke masih ada kerjaan."
"Boleh kalau aku telepon Paman?" tanyanya lagi. Keceriaan tadi siang tidak berbekas sama sekali di wajahnya. Padahal mainan kesukaannya sudah ada di tangannya.
Ino pun berjongkok, menyejajarkan tubuhnya dengan Inojin. Dipegang kedua bahu putranya dengan lembut.
"Sayang, bukannya Mama tidak membolehkan. Tapi bagaimana kalau paman masih ada urusan pekerjaan? Inojin tidak boleh mengganggu Paman Sasuke."
"Tapi paman sudah berjanji akan datang hari ini. Kita akan menonton The Mask Hero bersama-sama. Paman sudah janji, Ma," ucap Inojin dengan sepasang mata yang menatap ke lantai. Nada suara jelas memelan dan terdengar begitu sedih, "Biasanya Paman tidak pernah bohong."
Ino menghela napas. Kesedihan putranya cepat sekali menular ke hatinya. Ia belai lembut rambut putranya, "Baiklah. Kita tunggu setengah jam lagi, oke?"
Inojin hanya menjawab dengan anggukkan kepala lalu berjalan menaiki tangga dengan langkah lunglai. Bahkan mainan robot kesukaannya tidak lagi berada di pelukannya. Ino menghela napas sekali lagi ketika punggung Inojin menghilang dari pandangan matanya. Dilihatnya lagi ponsel yang masih terkunci. Waktu pada layar depannya menunjukkan pukul Sembilan malam. Seharusnya waktu kerja Sasuke memang sudah berakhir.
Ponsel merah itu ia masukkan ke dalam sakunya lalu Ino berjalan menuju ruang kerja Sai. Diketuknya dua kali hingga ada suara sahutan dari dalam, barulah Ino membuka pintunya.
"Ada apa?" tanya Sai yang tidak beranjak dari tempat duduknya.
"Bisa kau hubungi Sasuke? Inojin menunggunya," jawab Ino pelan.
"Apa Sasuke benar-benar mengatakan akan datang ke sini?" tanya Sai lagi sembari mengambil ponselnya.
"Inojin bilang Sasuke sudah berjanji untuk datang dan menonton bersamanya."
Sai menyentuh layarnya—melakukan panggilan keluar. Tiga kali mengulangnya, namun sang pemilik nomor yang dituju tidak menerima panggilannya. Pada panggilan ke empat Sai memutuskan untuk menyudahinya.
Sai menghela napas sebelum berkata pada Ino, "Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kurasa kemungkinan besar Sasuke tidak akan datang. Lebih baik kau temani Inojin. Katakan saja padanya alasan yang logis tentang Sasuke. Aku akan menghubungi Obito untuk mencari tahu."
Ino mengangguk, "Baiklah."
Setelah pintu tertutup kembali, Sai segera menghubungi Obito. Dan jawaban Obito cukup membuatnya tercengang. Sedari siang Sasuke pergi meninggalkan semua pekerjaannya. Bahkan ia menolak keras Obito yang ingin mengantarnya. Namun Obito tidak menjelaskan penyebabnya secara pasti. Mengapa Sasuke bertindak seperti bukan dirinya.
Beberapa kali Sai mencurigai sikap Sasuke yang terkadang tidak bisa Sai pahami. Mencoba mendekat pun percuma, Sasuke tidak pernah menceritakannya meski Sai sudah memintanya. Sasuke selalu menyembunyikannya. Dan Obito ikut pula merahasiakannya. Namun menurut Sai, ini adalah yang terparah karena Sasuke tidak pernah melanggar janjinya pada Inojin.
Itu berarti masalahnya lebih berat dari pada biasanya. Namun masalah apa? Sai sendiri tidak mengerti, karena Sai tahu masalah Sasuke bukanlah mengenai pekerjaan.
Sebelum menutup panggilannya, Obito mengatakan bahwa Sasuke sudah bersamanya dan meminta Sai untuk tidak cemas. Permintaan yang sia-sia saja. Tidak mungkin Sai tidak mencemaskan saudaranya. Namun, selalu pada akhirnya Sai hanya bisa diam menuruti.
….
Tepat tengah malam. Obito berhasil menyeret paksa Tuan Mudanya. Pria itu sudah mabuk berat. Sebenarnya Obito tidak ingin mendapati Tuan Mudanya seperti ini. Namun Sasuke tidak akan pernah mau menuruti permintaannya jika masih dalam keadaan sadar. Jadi yang Obito bisa lakukan hanya menunggu di dalam mobil.
Selama perjalanan Sasuke terus mengumam hal tak jelas. Kadang berteriak, mengumpat dan memaki. Keadaan ini bukan hal baru lagi bagi Obito. Bukan pula Obito merasa terbiasa. Kondisi seperti ini jarang terjadi pada Sasuke kecuali jika sudah menyangkut urusan dengan nyonya besarnya.
Obito melirik dari kaca tengah. Tuan Mudanya sudah lebih tenang, tampak setengah terlelap. Resah menjadi pemandangan yang Obito tangkap di wajah Sasuke. Mungkin bayang-bayang yang tidak ingin Sasuke ingat tengah bermunculan.
Tak beberapa lama mereka sampai. Setelah memarkirkan mobilnya, Obito bergegas membuka pintu belakang dan membantu Sasuke untuk keluar dari mobil. Namun dorongan kasar yang Obito terima saat mencoba membantu Sasuke berdiri.
"Pergi!" perintahnya Sasuke. Satu tangannya masih berpegangan pada pintu mobil. Kepalanya menunduk menahan rasa pusing.
"Tapi, Tuan—"
"Apa kau tidak dengar apa yang kukatakan tadi!"
"Biarkan saya mengantarkan Anda, Tuan."
"Aku bisa! Jangan meremehkanku, berengsek! Kau pikir kau siapa?!" Teriak Sasuke yang kemudian menutup pintu mobil itu dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang cukup kuat.
"Kau tidak berhak mengatur hidupku. Sialan."
Dengan langkah sempoyongan Sasuke berjalan meninggalkan Obito yang hanya bisa menundukkan kepalanya. Tidak ada lagi yang bisa Obito lakukan selain memandang kepergian punggung Tuan Mudanya dengan penuh kesedihan.
….
Sakura membuka matanya malas. Matanya langsung mengarah pada jam dinding di kamarnya. Jarum pendeknya menunjuk angka satu. SATU! Sialan! Ini masih pagi dan suara gaduh itu sukses mengganggu tidurnya. Sakura sendiri kurang begitu yakin, tapi tampaknya suara gaduh itu berasal dari pintu apartemennya.
Setengah mati Sakura menyeret kakinya untuk berjalan. Matanya bahkan belum terbuka sempurna. Ditambah lagi hatinya juga ikut kesal karena suara berisik yang sukses membangunkannya. Pencuri jelas-jelas tidak akan mengedor-gedor pintu apartemennya dengan kencang begini. Lantas siapa?
Mata yang tadinya terasa berat untuk dibuka kini melebar sempurna setelah mendapati siapa pelaku dari kegaduhan ini. Sakura yakin dirinya tidak salah lihat. Pria itu benar Uchiha Sasuke, meski penampilannya agak sedikit berantakan. Apa mungkin dia mengigau tengah malam begini?
Dibukanya pintu itu tanpa ada perasaan takut atau curiga. Sakura merasa hanya perlu secepatnya menyelesaikan tingkah bodoh pria Uchiha itu.
"Apa yang kau—"
"Kenapa kau ada di apartemenku?" tanya Sasuke heran.
Sakura langsung menutup hidungnya saat aroma alkohol menguar jelas dari mulut Sasuke.
"Kau mabuk!" Sakura mendorong tubuh Sasuke yang mencoba menerobos masuk ke dalam. Buru-buru Sakura bergerak menutup pintu apartemennya, yang sayangnya dapat ditahan oleh Sasuke. Satu tangannya berhasil mencengkram sisi pintu.
"Pergilah, Uchiha. Ini bukan apartemenmu!" teriak Sakura yang masih bertahan agar Sasuke tidak berhasil masuk. Bukan hanya tangannya, kini tubuh Sakura juga ikut mendorong pintu itu agar tertutup. Sayangnya tenaga Sasuke—yang meski dalam keadaan mabuk—masih lebih besar daripada tenaga Sakura yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Sakura ikut terdorong saat pintu itu terbuka lebar. Sasuke berhasil masuk dan menutup pintu itu dengan kasar. Satu tangannya mulai melepas dasi lalu melemparnya sembarangan dan berlanjut membuka jas hitamnya. Mata Sakura melebar dan bergegas cepat menahan gerakan Sasuke.
"Wow … wow, tahan Tuan. Anda ada di apartemen yang salah. Jangan berbuat seenaknya."
"Pergi!" Sasuke menepis kuat tangan Sakura. Mata hitamnya menatap marah, "Aku tidak mau melihatmu."
"Bagus. Kali ini kita sepaham," ucap Sakura yang kini mendorong tubuh Sasuke. Mencoba untuk membawanya keluar dari apartemennya. Namun sekali lagi usahanya harus berakhir sia-sia. Malahan dorongan kasarlah yang ia dapatkan. Tubuhnya sampai jatuh terduduk.
"Kau pikir bisa berbuat seenakmu." Kepala Sasuke tertunduk. Punggungnya bersandar pada pintu. Tak lama kemudian pria itu tertawa, suara tawa yang terdengar begitu menyedihkan.
"Ya, kau memang bisa melakukan semuanya sesukamu. Kau sudah membeliku. Dan aku harus menuruti semuanya."
Kening Sakura mengerut. Apa itu? Membeli? Dia pikir dirinya adalah barang? Tanpa sadar Sakura menghela napas panjang, orang ini sudah tidak waras. Tentu saja. Dia mabuk!
"Aku bisa gila," gumam Sakura seraya memijat pelan keningnya. Ia pun berjalan mendekat. Dipegangnya salah satu pundak Sasuke hingga pria itu mendongak.
"Dengarkan aku. Kau mabuk. Dan ini bukan apartemenmu. Ini bukan apartemenmu, Uchiha." Sakura menghela napasnya lagi, mencoba untuk berbicara setenang mungkin, "Aku akan mengantarmu, jadi lebih baik kau tenang dan turuti kata-kataku."
"Aku sudah menuruti semua perkataanmu, bukan? Apa aku bisa membantah? Apa pernah aku membantahnya? Apa pernah kau membiarkan aku membantah perintahmu," ucap Sasuke dengan satu jarinya menunjuk-nunjuk bahu Sakura, kemudian pria itu kembali tertawa, "Di sini kau tidak bisa memerintahku. Kau tidak bisa."
"Kau menyedihkan. Berhentilah merengek seperti anak kecil, Uchiha!" Bentak Sakura kasar. Bahkan cengkaraman pada bahu Sasuke juga ikut menguat. Kesabaran Sakura sudah habis. Tidak bisa lagi ia menahan emosinya untuk menghadapi pria mabuk ini.
Rupanya hal serupa didapat Sakura. Bahkan jari yang semula hanya menunjuk-nunjuk dirinya kini sudah mencengkram pakaiannya.
"Jangan menatapku seperti itu! Berhenti merendahkan diriku, wanita berengsek!" Bentak Sasuke dengan suara yang lebih kencang. Mata hitam itu tepat berada di depan matanya. Memandang Sakura penuh amarah.
Tangan Sakura tidak lagi mencengkram bahu Sasuke. Keduanya terkulai lemas di samping tubuhnya, dan bergetar ketakutan. Tarikan napas Sakura tidak lagi teratur, karena dadanya pun ikut bergemuruh kencang. Sasuke berubah menjadi menakutkan.
Sasuke memiringkan kepalanya sembari memajukkan wajahnya. Menatap Sakura lebih dekat kemudian ia menyeringai senang, "Apa itu? Kau ketakutan? Wanita angkuh sepertimu bisa merasa takut?"
Susah payah Sakura membasahi tenggorokannya saat jemari Sasuke bergerak mengelus pipinya. Kedua mata Sakura terpejam, dan tanpa sadar Sakura menahan napasnya. Wajah pria itu semakin dekat. Dan Sakura merasa tubuhnya tidak memiliki kekuatan untuk bergerak.
Sakura sudah bersumpah dalam hati jika Predir Uchiha ini melakukan hal kurang ajar. Ia akan membalasnya beribu-ribu kali lipat. Namun rupanya belaian lembut pada pipinya telah berubah menjadi tepukan-tepukan ringan.
"Jangan khawatir, itu adalah hal bagus. Kau jadi terlihat seperti manusia biasa sekarang. Tapi kau tetap tidak bisa menjadi ibuku. Setidaknya jadilah manusia biasa saja. Jangan pernah bertingkah menjadi ibu untukku. Aku tidak membutuhkannya."
Ibu? Batin Sakura bertanya. Apa wanita yang sedari tadi Sasuke bicarakan adalah ibunya?
Sepasang mata itu kembali terbuka dan seketika Sakura merasa terkejut mendapati tidak ada lagi amarah di netra kelam Sasuke. Ada banyak kesedihan di sana. Bahkan terlalu banyak.
"Aku tidak punya ibu. Aku tidak punya," sambung Sasuke yang kemudian jatuh tak sadarkan diri. Membawa Sakura ikut serta terjatuh menabrak lantai dengan keras.
Mereka terjatuh dengan Sasuke berada di atas Sakura. Bagus. Sekarang tubuh Sasuke berkali-kali lipat lebih berat.
"Sialan kau Uchiha." Sakura meringis merasakan perih pada bagian kepala dan bahunya.
Sakura mencoba bergerak, namun hal itu ternyata sulit dilakukannya. Bahkan menggeser tubuh Sasuke pun tidak. Ia menghela napas panjang. Kepalanya menoleh dan mendapati wajah Sasuke tepat di depannya. Mata hitamnya terpejam.
"Hebat. Setelah aku menjadi tempat pelampiasan emosimu, sekarang tubuhku menjadi kasurmu." Sakura mendesah lagi. Matanya menatap pasrah atap bercat putih itu. Mata hijaunya kemudian terpejam. Ini gila. Benar-benar gila. Sekarang ia terjebak di bawah tubuh pemabuk ini.
Tanpa sadar Sakura menghela napasnya lagi, "Hei, Uchiha. Apa ibumu semenggerikan itu?"
Ditatapnya lagi wajah Sasuke yang masih terpejam. Embusan napasnya sudah teratur. Ternyata pria ini sudah tertidur lelap. Terlihat begitu tenang. Namun Sakura masih tidak bisa melupakan tatapan matanya yang terakhir kali. Tatapan mata dengan begitu banyak kesedihan dan luka. Dia terlihat sangat menderita.
"Dia membelimu? Apa maksudnya? Jadi wanita menggerikan tadi bukan ibumu?" tanya Sakura lagi, kali ini menatap iba pada Sasuke. Alis pria itu mengerut. Resah mulai tampak di wajahnya. Tubuhnya pun ikut bergerak tak nyaman.
"Ibu …," igau Sasuke. Suaranya terdengar parau. Dan Sakura merasakan sakit mendengar suara itu kembali memanggil-manggil penuh kesedihan.
"Ibu…." Kali ini ada air mengalir dari mata Sasuke yang masih terpejam, "Ibu … aku sakit."
Pria itu menangis. Tidak hanya suaranya, wajahnya juga ikut menunjukkan rasa sakit itu.
"Rasanya melelahkan … hidup seperti ini." Satu isakan lolos dari mulutnya. Dan itu membuat tenggorokan Sakura tercekat. Matanya terasa panas. Seorang pria yang terlihat begitu sombong dan angkuh telah berubah menjadi begitu rapuh.
"Kenapa kau menjualku? Tidak biarkan saja aku hidup bersamamu." Dan lolos lah air mata Sakura. Wanita itu menggigit bibirnya agar tidak terisak. Ia paham perasaan ini. Dan hatinya juga ikut merasa sakit.
Isakan Sasuke berubah makin kencang. Seolah ia membiarkan dirinya larut dalam tangisan. Tubuhnya pun bergerak merapat. Mencari kenyamanan. Ujung hidungnya sudah menempel di leher Sakura. Tangannya merengkuh pinggang dan bahu Sakura. Sasuke memeluk tubuh Sakura erat, kemudian berkata dalam tangisnya, "Kau ibuku, kan?"
"Dasar kau berengsek," maki Sakura dengan suara paraunya, "Kalau kau memelukku begini erat, bagaimana caranya aku menyeretmu keluar."
"Ibumu adalah seorang wanita, lalu apa kau juga memasukkan ibumu sendiri sebagai makhluk bodoh itu, HAH!"
"Ya,"
Ingatan Sakura berputar. Setengahnya ia telah mengerti jawaban singkat Sasuke waktu itu, dan alasan dibalik pernyataan Sasuke bahwa wanita adalah makhluk bodoh. Mungkin itu adalah bentuk pelampiasan rasa kekecewaannya.
Isakan tangis Sasuke tidak lagi terdengar. Berubah menjadi embusan napas halus yang membelai leher Sakura. Sakura menghela napas panjang. Meski pria itu telah tertidur, namun kedua tangan itu masih memeluk tubuh Sakura begitu erat.
Sakura mendesah pasrah. Dirinya pun juga merasa lelah. Hanya kali ini saja, Sakura berbaik hati membiarkan pria rapuh ini melepaskan rasa lelahnya.
"Istirahatlah …," bisik Sakura dengan satu tangan mengelus lembut punggung Sasuke.
Karena Sakura sendiri belum bisa melepas satu beban yang selalu membuatnya merasa lelah. Beban yang ada di dalam hatinya.
Yaitu, perasaan cintanya.
Bersambung.
Ucul Note :
CiheeLight : Cerita ini emang lama apdet karena mood saya untuk cerita ini aslinya emang ngak ada hihihi. Butuh usaha lebih tiap ngetik Fic ini, jadi maaf klo harus nunggu lama ya. Tenang aja, dikit lagi Sai sm Sakura ketemu kok. Makasih ya Cihe ^^
Uchihaliaharuno : Iya kudu bersambung. Mksh udah nunggu ya ^^
Sakura Uchiha stevani : Sipp ^^
Diandarndraha : Udah ke jawab ya di chap ini klo itu bukan Sai :D
Hyemi761 : Kenapa Sai dan Ino nikah? Ada deh, nanti juga kejawab kok haha *dilemparkuaci* Sabar lagi ya nunggu reaksinya Sai dan Saku ketemu nanti hehe.
Zarachan : Siap ^^
Arisahagiwara chan : Itu sengaja kok, dipas2in hihihi
Yuanthecutegirl : Hihi sayangnya Saku blom ketemu sai ya… jgn botak dulu yak,, pasang lagi rambutnya hehehe
Amaya Katsumi : Terima kasih. Duh, jgn panggil saya senpai ^^
Wwowwoh geegee : Sayangnya bukan Sai yang dateng ya hhihi, tenang nanti jg ketemu kok.
Monster Cookies : Skrg masa lalunya Sasuke dulu by. Hidangan utama belakangan hahaha. Percuma profil pictnya pake kacamata segede bagong gt. Warnanya item sih, jadi gelapkan. Ganti deh. Hahaha
Rosmiyati543 : Sipp ^^
Angsa Putih : Apaaaaaaa hehehe. Mereka b2 susah mup on :D Hm, gtw deh, emang beda ya? Yg pasti sih ngetik Fic ini lebih berasa susahnya daripada Samurai Heart hehehe.
Aegyo Yeodongsaeng : Hai Yeo-chan salam kenal juga ^^ Makasih udah baca fic silence sm Fic ini juga, yang gaze bin nganeh ini hehehe. Nomal? Kayanya masih ngalay juga deh ini fic hahaha. Sama2, salam persahabatan juga. Btw saya juga sering di bilang ngak jelas. Saya orangnya paling ngak bisa diem hahhaa.
Eysha Cherryblossoms : Betul sekali. Ngak nyangka kamu bakalan menerka-nerka hihihi.
HoshikoNozomi : Salam kenal juga ^^ tapi jangan panggil senpai ya dear.
Hanaruppi : Iya ya, chapter ini juga pendekkah? Trs kayanya ngebosenin ya chap ini? Huhuhu *nangis di pelukan Taka* Inojin sm lucunya kaya aku han hahahha. Pasti ketemulah, nanti tapi hahaha.. makasih banyak han udah mau ngripiu *nih kukasih Itachi*
Jamurlumutan462 : Ino dan Sakura malah temen deket kok, ntah deh lebih kasian siapa nanti hihihi.
Riku Aida : Nikah terpaksa, ya bisa disebut gt jg sih… Nanti banyak kok interaksi Saisaku, tapi nanti klo udah ketemu hahaha… Oh, jgn panggil senpai, panggil ucul aja ^^
Rachel chan Uchiharuno Hime : Sayangnya bukan Sai hehe, bersabar lagi ya nunggu pertemuan mereka. Hmmm, ya maklum keuangan Sabaku lagi goyah, jd ya gt deh. Hehe
Someandmany : Maaf apdet lama ^^ terima kasih ya.
Embun adja 1 : Siap ^^
Che-sii : Eaaaaa ternyata bukan Sai nih hahha :p
Aprianor007 : Sayang sekali mereka belum ketemu hehehe…
Khalerie Hikari : Siap ^^
Curcul :
Hai ^^
Pada kecewa ya Sakura ngak ketemu Sai? Hehehe. Ketemunya nanti aja. Sekarang biar Sakura tahu dulu, Ohh Sasuke tuh ternyata….. (Apalah apalah) Hahaha.
Oya disini Sakura emang jijik sama makhluk laki-laki, tapi bukan berarti ngak mau bersentuhan ya. Dia Cuma menghindari memiliki urusan dengan laki-laki. Gitu.
Tapi ngak lama lagi Sai ketemu kok sm Sakura. Mudah2an chap besok udah bs ketemu. Semoga chap ini masih bisa dinikmati. Ngak bosen2 saya minta maaf buat semua kekurangan di Fic ini.
Sampai jumpa di chap selanjutnya.
16 – 01 – 16
.
[U W] — Istri sah Taka, One Ok Rock :* —
