Hola~~

Maaf kalo lama, tapi internet di rumah lagi ngadat jadi... Hiks.. :'(

Tapi sekarang saia update dua chapter sekaligus.. Yay! ^0^

Makasih banyak untuk Iin cka you-nii sama mozzarella cheese yang udah review chapter 3..

Dan untuk yang nggak log in :

Vhy Otome Saoz : Makasih reviewnya..^^ Aku juga suka susah loh klo review lewat hp.. ribet.. heheh..

Sky Melody : Thnx a lot.. XD Romancenya baru muncul chapter depan.. Gomen..

DEVIL'D : Makasih~~ Selain keriting, Mamori juga saia buat perkasa sampe bisa ngunyah alat penyadap.. Hehe.. :p Aku emang g bisa bikin yang panjang-panjang sih.. Maap ya..

Renmi3 : Makasih banyak.. Yosh, SEMANGAT! XD

.

Enjoy Reading~~


.

Eyeshield21 © Riichiro Inagaki & Yusuke Murata

.

Catokan Impian

.

Genre : Humor, Romance (yang sama sekali nggak kerasa)

Rated : K+ (sewaktu-waktu bisa berubah)

Pairing : Hiruma x Mamori

Warning : OOC (maybe), miss typo, GJness, dst.. dst..

.


Mamori's POV

Fiuhh.. Rahasiaku bagaikan sayur tanpa garam, eh, bagaikan telur diujung tanduk. Hiruma-kun pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkan bukti tentang rambut keritingku. Dia juga pasti sudah tahu kalau aku akan bekerja di salon Himuro untuk mendapatkan catokan impianku.

Untung saja otak pintarku ini langsung menemukan solusi untuk melawan Hiruma-kun. Dan sekarang yang paling penting adalah menghubungi Himuro. Aku yakin 99,99999999% kalau dia mau membantuku.

Soalnya Himuro-san kan dendam sama Hiruma-kun gara-gara Hiruma-kun pernah meledakan sebuah gedung bioskop, padahal didalamnya ada Himuro-san dan Marco-san yang lagi asik pacaran sambil nonton The Lord of The Blink. Fufufufufu... Lihat saja nanti Hiruma-kun. Kau tidak akan bisa menjadikan aku budakmu sampai kapanpun juga!

.

Aku pun menyambar HP Suzuna-chan untuk menelepon Himuro-san. Kenapa pakai HP Suzuna-chan? Karena HPku ikut terkunyah bersama dengan alat penyadap Hiruma-kun. Hiks.. Panggilanku langsung diangkat pada dering pertama.

Karena pulsanya terbatas, maka aku langsung saja menceritakan semua rahasiaku termasuk rencana yang sudah kususun dalam kecepatan 4,2 detik. Seperti yang sudah kuduga, Himuro bersedia membantuku dengan senang hati.

Dia bilang, dia yang akan menyiapkan semuanya. Aku dan Suzuna-chan tinggal melaksanakan rencana kami itu sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (?).

"Ya~~ Mamo-nee... Sekarang aku pulang dulu ya~ Besok kita jalankan rencana kita! Ya-Ha!" kata Suzuna sambil meniru gaya Hiruma-kun.

"Baik. Terima kasih banyak ya, Suzuna-chan. Semoga rencana kita berhasil!"

"Yosh!" jawab Suzuna-chan sambil meluncur dengan inline-skatenya menuju ke rumahnya.

Nah, sekarang aku mau tidur. Untunglah besok hari minggu. Besok aku akan mulai bekerja di salon Himuro, sekalian memintanya untuk mencatok rambutku. Catokan yang kupinjam tadi pagi sudah diambil oleh yang empunya. Tiba-tiba saja Pak Kumabukuro bilang akan berusaha sekali lagi untuk meluruskan rambutnya.

Tapi aku tahu kalau sebenarnya Hiruma-kun yang ada dibalik semua itu. Dia pasti tidak akan membiarkan rambutku kembali lurus sebelum dia mengambil fotonya. Tapi tidak apa-apa. Hal itu justru akan mendukung rencanaku. Fufufufufufu...

.

Author's POV

Mamori pun berbaring di tempat tidurnya dan mencoba untuk tidur. Walaupun mengantuk, ia tidak juga terlelap. Ia malah memikirkan Hiruma. Ia memang khawatir tentang rahasianya yang sudah diketahui Hiruma. Tapi yang benar-benar ia takutkan bukanlah rahasianya yang bisa dijadikan bahan ancaman, bukan pula kalau-kalau Hiruma akan mengungkapkan rahasia tersebut pada khalayak yang paling dikhawatirkannya adalah bagaimana pendapat Hiruma jika melihat ia dengan rambut keritingnya.

Mamori tidak dapat lari lagi. Ia tidak dapat membohongi dirinya sendiri kalau sebenarnya ia telah jatuh cinta pada setan itu. Sekeras apa pun Mamori berusaha untuk membunuh perasaaannya, semakin hari ia malah semakin tenggelam dalam perasaan yang tidak seharusnya tidak pernah tumbuh.

Mamori tahu, kalau tak ada tempat baginya di hati maupun pikiran Hiruma. Selama ini dia bisa terus berada disamping sang iblis hanya karena ia dapat dimanfaatkan. Itu saja. Cairan hangat dan asin keluar tanpa ijin dari mata Mamori. Entah kenapa akhir-akhir ini Mamori jadi melankolis jika memikirkan Hiruma. Mamori pun tertidur masih dengan mata yang basah dan lengket.

.


~Catokan Impian~


.

Keesokan paginya, Mamori menyamar menggunakan celana jeans longgar, kemeja yang kebesaran, topi, sepatu kets, dan kaca mata hitam. Ia juga memakai bluetooth headset dari HP yang dipinjamkan ibunya. HP tersebut sedang dalam keadaan tersambung dengan HP Suzuna.

Menurut prediksinya, setelah melakukan perhitungan masak-masak menggunakan rumus peluang, Hiruma pasti akan mengikuti Mamori untuk mengambil fotonya disaat ia lengah. Dan benar saja, begitu keluar rumah, Suzuna menginformasikan kalau Hiruma berada beberapa langkah dibelakang Mamori sambil membawa sebuah kamera digital.

Jadi urutannya, Mamori diikuti oleh Hiruma, sedangkan Hiruma sendiri diikuti oleh Suzuna. Mamori berjalan dengan santai menuju salon Himuro yang berada di dekat stasiun Deimon. Salon itu sengaja dibuat tertutup oleh Himuro agar Hiruma tidak dapat mengambil foto Mamori dari luar. Alhasil, Hiruma terpaksa mendekat secara sembunyi-sembunyi.

Setelah cukup dekat, Hiruma dapat melihat Mamori melepaskan topi dan kaca mata hitamnya. Tetapi sebelum sempat menekan tombol kamera, tiba-tiba Hiruma didorong masuk ke dalam salon sampai tersungkur.

Hiruma jelas tidak tahu siapa yang telah mendorongnya, karena tersangkanya yaitu Suzuna langsung kabur secepat kilat. Sedangkan Mamori sendiri lenyap entah kemana. Hiruma bangkit berdiri sambil mencak-mencak. Begitu akan melarikan diri, Hiruma sudah dikepung oleh segerombolan banci salon yang sungguh sangat seksi dengan pakaian super ketat dan memperlihatkan aurat. Astaghfirullah al'adzim.

"Wow, kita kedatangan abang ganteng!" kata banci 1 sambil nyolek-nyolek pipi Hiruma.

"Aiihhh... Godain kita dong...," kata banci 2 sambil narik-narik tangan Hiruma.

Banci 3 pun nggak mau kalah. Dia melayangkan ciuman mautnya ke pipi Hiruma sambil berkata, "Abang ganteng deeehh... Maen sama kita-kita yuuk...," dengan manjanya.

"What? No! You fucking bitches! Stay away from me!" teriak Hiruma sambil mencari AK-47 kesayangannya yang tadi terlempar saat ia jatuh.

"Idiiihh... Galak banget bang... Tapi eke suka kok sama yang galak-galak...," kata banci 4 yang ternyata sedang mengelus-elus pacar Hiruma alias AK-47nya.

Hiruma yang setan pun tak berkutik dikerumuni banci kaleng yang jumlahnya hampir selusin itu. Apalagi dengan tangan kosong. Malangnya dia.

.


~Catokan Impian~


.

Sementara Hiruma berjuang mempertahankan hidup, Mamori sedang tertawa-tawa bersama Suzuna dan Himuro di café cola milik Marco. Himuro senang sekali karena dapat membalas Hiruma, Suzuna pun bahagia karena berhasil mengerjai setan itu merupakan sebuah prestasi tersendiri.

Setelah puas tertawa terkekeh-kekeh diatas penderitaan Hiruma, Mamori dan Himuro pun membicarakan mengenai pekerjaan di salon Himuro. Akhirnya diperoleh kesepakatan kalau Mamori akan bekerja membersihkan salon sepulah latihan sore setiap hari kerja selama sebulan dan upahnya berupa sebuah catokan.

Dengan catatan, catokan tersebut langsung diberikan kepada Mamori begitu kesepakatan selesai dibuat. Pakai sistem bayar dimuka begitu maksudnya. Dan mulai besok, Mamori akan membantu Suzuna untuk PDKT dengan Sena. Hari itu berakhir dengan bahagia bagi semuanya, kecuali tentu saja... Hiruma.

.


~Catokan Impian~


.

Di rumah Hiruma yang keberadaannya lebih rahasia daripada Hogwarts, sang setan itu sedang mempertahankan kewarasannya setelah seharian hampir diperkosa oleh banci-banci kaleng suruhan Himuro.

Hiruma mengetahui dari salah satu mata-matanya kalau neraka yang ia alami hari ini didalangi oleh Mamori yang dibantu oleh Suzuna dan Himuro. Yang jelas, Hiruma takkan tinggal diam. Setelah membuat rencana pembalasan, ia pun menghubungi seseorang.

"Botak sialan, aku butuh tenagamu. Temui aku di atap sekolah setelah selesai latihan besok."

Hiruma menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban orang yang dihubunginya tersebut. Sambil membersihkan sisa-sisa lipstick di pipinya, ia bergumam, "Tunggu pembalasan neraka dariku, Manajer sialan... Kekekekeke..."

.

.

.

|to be continue|

.

.

.