Chapter 4 update. Langsung baca aja ya :)


Chapter 4 : AWAL YANG MENJADI AKHIR

Karena aku mencintaimu. Ya, itulah kata-kata terakhir Sasuke sesaat setelah dia berhasil menyelamatkanku. Seketika itu aku langsung membawa Sasuke ke rumahnya dan merawatnya setiap hari. Ya, dia hidup sebatang kara. Ayah dan Ibunya telah dibunuh oleh kakanya, saudara kandung Sasuke satu-satunya, dan kakaknya Sasuke, yang bernama Itachi, tewas akibat tertabrak oleh truk sesaat setelah kakaknya membunuh Ayah dan Ibunya. Akupun mulai bertugas merawat Sasuke setiap harinya. Anggap sebagai balas budiku karena dia telah menyelamatkanku.

Sudah seminggu semenjak hari itu dan Sasuke belum masuk sekolah. Sasuke masih dalam masa pemulihan di rumahnya. Yah, lukanya memang tidak parah. Tetapi luka dibagian anusnya itu membuat Sasuke masih kesulitan untuk berjalan dengan normal. Teman satu sekolah pun tidak ada yang tau megenai kondisi Sasuke dan mengapa Sasuke tidak masuk selama satu minggu. Mungkin ini karena ulah Kakashi sensei, sehingga semua penghuni sekolah tidak ada yang tahu.

"Hei hei! Katanya pelaku pemorkasaan ini sudah tertangkap lho." Ucap Choji tiba-tiba.

"ya aku tau beritanya. Kabarnya mereka ditangkap seminggu yang lalu. Syukurlah. Dengan ditangkapnya mereka, sekolah ini akan menjadi aman lagi." Ucap Kiba.

"Kau tau tidak? Katanya pelaku pemerkosaan itu semua dihukum kebiri lho. Peraturan kota kita serem ya." Ucap Shikamaru menambahi.

"Kebiri itu apa?" Tanyaku tidak tahu.

"Kebiri itu istilah dimana alat kelamin pria dipotong sampai pangkalnya." Jelas Shikamaru.

"Jadi…?" Tanyaku bingung.

"Intinya kebiri "Hei, ada yang tahu tidak Sasuke kenapa seminggu ini tidak hadir?" Ucap Kiba di tengah-tengah obrolan kami berempat.

"Katanya dia terkena cacar air. Jadi dia tidak mau masuk sekolah dulu. Itu kata kakashi sensei." Ucap Choji.

"Kau yakin Choji? Kau tau tidak Naruto? Naruto? NARUTO!" Teriak Shikamaru ke arahku.

"Ma… maaf… aku sedang memikirkan sesuatu tadi. Sasuke? Teme?Aku tidak tau mengenai si teme itu. Bukankah kata Kakashi sensei dia terkena cacar air?" Ucapku.

"Kita jenguk dia yuk pulang sekolah ini." Usul Choji.

"Yah, meskipun dia menyebalkan, tapi ayolah! Dia tetaplah teman kita." Ucap Kiba.

"Ja… jangan!" Teriakku spontan.

"Kenapa? Hanya kena cacar air? Aku sudah pernah kena cacar air kok, jadi aku tidak akan tertular." Ucap Kiba.

"Ja… jangan!" Cegahku.

"Kau kenapa sih Naruto? Kau menyembunyikan sesuatu dari kami tentang Sasuke ya?" Ucap Shikamaru.

"Bu… bukan begitu… a… aku… aku hanya ingin bilang, waktu itu juga ingin menjenguk si teme itu. Tapi ketika di depan pintu rumahnya, dia mengusirku. Padahal kan dia sudah tahu kalau aku sudah pernah kena cacar air, jadi seharusnya dia mengizinkanku kan? Jadi aku rasa dia tak mau dijenguk karena malu dengan kondisi mukanya saat ini." Ucapku.

"Kau yakin Naruto?" Tanya Shikamaru curiga.

"Te… tentu saja." Jawabku sekenanya. Bel masuk sekolah pun berbunyi. Seperti biasa, aku kembali kepada aktivitasku di SMA ini hingga berakhirnya jam pelajaran di sekolah ini.

"Hoi Naruto! Cepatlah! Kau tidak ingin aku tinggal kan? Badanmu doing yang bagus, tapi lari saja kau lambat." Ejek Kiba dari mobilnya. Yah betul, hingga saat ini berangkat dan pulang aku tetap bersama ketiga sahabatku ini.

"Tu… tunggu…" Teriakku. Aku langsung masuk ke mobil Kiba dan kami pun langsung pulang menuju rumah masing-masing, kecuali aku. Sesampainya di depan rumahku, aku akan tetap berada di depan pintu hingga Kiba dan yang lainnya pergi dari pandanganku. Setelah mereka menghilang, aku langsung bergegas menuju rumahnya, Sasuke Uchiha. Semenjak kejadian itu, aku sudah bertekad untuk merawat Sasuke hingga dia sembuh total. Alhasil, semenjak hari itu aku terus menginap di rumahnya. Ayah dan Ibuku tidak melarang dan mereka pun tidak mencurigaiku, toh mereka juga sudah mengenal Sasuke sejak dulu.

Sesampainya di depan rumah Sasuke, aku langsung membuka gerbang rumahnya dengan kunci yang dipinjamkan oleh Sasuke. Langsung saja setelah pintu rumahnya kubuka juga, aku langsung menuju kamarnya tempat dia beristirahat.

"Sasu… ke… kemana dia?"Ucapku heran, menyadari bahwa di kamar tidurnya tidak terdapat Sasuke.

"Di belakangmu dobe." Ucap seseorang tiba-tiba di belakangku yang sontak langsung membuatku terkejut.

"A… apa yang kau lakukan? Memangnya kau sudah bisa bergerak hah?" Tanyaku setelah aku bisa menguasai diriku lagi.

"Yah… masih agak terasa sakit sih kalau untuk berjalan. Makanya aku jalannya masih ngangkang (Author gak tau bahasa Indonesianya :D ). Dan karena itu pula aku belum bisa menggunakan celana dalam." Ucap Sasuke dengan polosnya. Ya kau benar. Bagian bawahnya tidak tertutup apapun. Memakai celana dalam saat ini akan membuatnya semakin sakit. Celana? Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa tidak pakai celana saja. Ya begitulah Sasuke. Menurutnya, dalam beberapa waktu ini, dia tidak akan keluar dan tidak akan ada yang dating. Jadi itulah mengapa dia tidak memakai celana.

"Pakai celana kek." Perintahku padanya.

"Apa sih? Memang kenapa jika aku tidak pakai celana? Toh aku tidak pergi keluar rumah dan tidak ada yang datang ke rumahku juga. Yah… meskipun ada satu orang yang suka ke rumahku, toh orang itu adalah teman baikku sejak kecil yang juga seorang pria." Ucapnya. Ya, yang dimaksud orang itu adalah aku.

"Hah… terserah kau lah Sasuke." Ucapku pasrah dengan pernyataan Sasuke.

"Etoo… Naruto. Waktu kejadian itu, setelah kita diselamatkan Kakashi sensei, apakah aku mengatakan sesuatu padamu ya?" Tanya Sasuke tiba-tiba.

"Ke… kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?" Tanyaku balik.

"Entahlah. Setelah kau membuatkan makan pagi dan siangku tadi sekitar jam 4 pagi sebelum kau kembali ke rumahmu, aku kembali tertidur dan dalam mimpiku, aku mengucapkan sesuatu padamu sesaat setelah Kakashi sensei menyelamatkan kita. Kau tahu kan? Mimpi itu seringkali adalah sebuah penglihatan yang telah terjadi di masa lampau. Jadi, apa aku mengucapkan sesuatu padamu waktu itu?" Tanya Sasuke lagi.

"Ti… tidak… Kau tidak mengucapkan apa-apa kok." Jawabku padanya.

"Kau serius dobe?" Tanyanya lagi.

"Se… serius." Jawabku.

"Begitu ya…" Ucapnya.

"La… lagipula Sasuke, kenapa makan siangmu tidak kau habiskan? Bagaimana kau bisa cepat sembuh jika tidak makan siang mulu. Sudah seminggu aku membuatkan makan pagi dan siang, tapi kamu Cuma makan makanan pagimu saja." Ucapku padanya sedikit membentak.

"Kan sudah kubilang kalau aku tidak suka makan siang. Kau sih tidak pernah mendengarkanku. Sudahlah buatkan saja aku makanan pagi mulai besok." Ucapnya.

"Pokoknya besok aku akan membuatkanmu makan pagi dan siang lagi. Dan pastikan besok kau juga makan makanan siangmu. Ucapku membentak.

*SASUKE POV*

'Tuh kan, dia tidak mendengarkan' -_-

*NORMAL POV*

"Konbanwa…" Teriak seseorang dari balik pintu rumah Sasuke.

"Hah? Siapa yang datang malam-malam begini? Perasaan aku tidak pernah ada janji. Dobe bisa tolong liat siapa itu. Ingat! Bagian bawahku sedang telanjang." Ucapnya padaku.

"Kalau wanita aku langsung suruh masuk ah…" Ucapku seraya pergi meninggalkannya.

"DOBE…!" Teriak Sasuke. Setelah teriakan itu, aku langsung mengintip lewat jendela dan ternyata dia…

"Yosh! Naruto-kun!" Ucap seseorang kepadaku setelah kubukakan pintu rumah Sasuke.

"Ka… kakashi sensei!" Ucapku. Ya, dia adalah guru sekaligus penolong kami saat itu, Kakashi Hatake sensei.

"Jadi kau yang merawatnya selama ini Naruto?" Tanyanya.

"Hehehe… iya Kakashi sensei. Silahkan masuk sensei." Ucapku mempersilahkan masuk. Aku dan Kakashi sensei kemudian pergi menuju kamar Sasuke setelah aku menutup pintu rumahnya.

"Yosh! Sasuke-kun! Merasa sudah baikan?" Tanya Kakashi sensei pada Sasuke tiba-tiba yang masuk ke kamar Sasuke tiba-tiba tanpa mendapat izin dari Sasuke.

"KA… KAKASHI SENSEI…! DOBEEE…! Kenapa kau izinkan Kakashi sensei masuk hah? Sudah kubilang aku tidak pakai celana." Teriak Sasuke marah-marah padaku sambil berusaha menutupi penisnya dengan tangannya sendiri. Terlihat pipi Sasuke mulai memerah karena malu.

"Memang kenapa? Toh Kakashi sensei juga yang menolong kita saat itu. Ya, menolong aku yang masih terikat dengan tiang dan kau yang sedang telanjang bulat." Ucapku padanya.

"Hahaha… tidak perlu malu Sasuke-kun. Kan waktu aku sudah melihatmu telanjang." Ucap Kakashi sensei sambil tertawa. Perlahan-lahan kuperhatikan Sasuke mulai tidak menutupi penisnya lagi dengan tangannya.

"Maaf Kakashi sensei, aku lupa kalau Kakashi senseilah yang menolongku. Maaf juga dobe tadi aku membentakmu." Ucap Sasuke meminta maaf padaku dan Kakashi sensei.

"Tidak apa-apa Sasuke-kun. Bagaimana denganmu Sasuke-kun? Sudah merasa baikan?" Tanya Kakashi sensei.

"Yah… seperti yang Kakashi sensei lihat, aku masih belum bisa memakai celana dalam dan jalankupun belum bisa seperti biasanya." Ucap Sasuke menjelaskan.

"Boleh kulihat lubangmu?" Pinta Kakashi sensei.

"Bo… boleh Kakashi sensei." Ucap Sasuke. Sasuke kemudian menungging dan menunjukkan lubang anusnya. Bagaimana bentuk lubang anusnya saat ini? Entahlah. Sepertinya author tidak bisa membayangkannya

"Hem… kurasa besok kau sudah dapat berjalan dengan normal lagi Sasuke-kun." Ucap Kakashi sensei setelah melihat kondisi lubang anus Sasuke.

"Jadi sebentar lagi Sasuke sembuh Kakashi sensei?" Tanyaku pada Kakashi sensei girang, tapi kurasa tidak dengan Sasuke.

"Ya kira-kira." Ucap Kakashi sensei.

"Oh iya aku lupa. Kakashi sensei mau minum apa? Biar aku buatkan minum." Tawarku pada Kakashi sensei.

"Tidak usah Naruto-kun. Aku sudah mau pulang. Ini aku bawakan cemilan untukmu Sasuke-kun. Semoga suka ya." Ucap Kakashi sensei.

"Te…. Terima kasih Kakashi sensei." Ucap Sasuke.

"Baiklah, kalu begitu aku pulang dulu ya. Absen Sasuke-kun akan tetap kutulis sakit dan untuk Naruto-kun, pastikan besok kau tidak terlambat ya." Ucap Kakashi sensei.

"Iya iya Kakashi sensei." Ucapku seraya mengikuti Kakashi sensei menuju pintu rumah Sasuke.

"Naruto-kun, selama Sasuke-kun masih dalam masa penyembuhan, aku harap kau terus memberi dukungan padanya." Ucap Kakashi sensei.

"Baik Kakashi sensei." Ucapku. Kakashi sensei pun pergi meninggalkan rumah Sasuke dan aku kembali ke kamar tidur Sasuke, satu-satunya tempat terlembut di rumah Sasuke dimana hanya di tempat itulah Sasuke dapat menaruh pantatnya. Sesampainya di kamar tidurnya, terlihat Sasuke sedang menonton anime favoritnya sambil memakan cemilan yang dibawakan Kakashi sensei tadi.

"Hoi dobe! Lihat sini! Anime ini lagi dalam klimaksnya. 3 Legenda Sannin sedang bertarung. Jiraiya dan Tsunade versus Orochimaru. Jiraiya memanggil katak bernama Gamabunta, Tsunade memanggil semacam ulat bernama Katsuyu, dan Orochimaru memanggil ular bernama Manda." Ucap Sasuke kegirangan sambil terus menikmati cemilan yang dibawa Kakashi sensei tadi.

"Hei Sasuke, boleh minta cemilannya?" Ucapku meminta coklat yang sedang dimakan Sasuke. Ya, coklat adalah makanan kesukaanku.

"Kau mau dobe? Sini ambil di mulutku." Ucapnya padaku. Aku pun tanpa malu langsung melahap coklat yang sedang berada di mulut Sasuke. Sekilas bibirku bersentuhan dengan bibirnya dan akupun kemudian menarik kembali bibirku dari coklat yang sudah hampir kudapatkan itu. Kudapati mukaku memerah dan ternyata hal ini juga terjadi pada Sasuke.

Jantungku berdegup semakin kencang. Aku tidak mengerti apa yang sedang aku rasakan ini. Apakah ini yang namanya Cinta? Kami pun terdiam untuk beberapa saat hingga Sasuke menyodorkan coklatnya padaku seperti memberi isyarat 'ambillah'.

"A… ano Sasuke. A… ada yang mau aku bilang. A… aku sudah berbohong padamu mengenai suatu hal." Ucapku tiba-tiba.

"Bo… bohong? Bohong mengenai apa?" Tanyanya.

"Waktu itu… setelah kita diselamatkan Kakashi sensei dan sebelum kau pingsan kembali, kau mengatakan sesuatu padaku." Ucapku padanya.

"Sudah kuduga kau berbohong dobe. Jadi apa yang kau ucapkan saat itu?" Tanya Sasuke penasaran.

"A… ano… itu… aku malu Sasuke." Ucapku malu-malu.

"Sudah katakan saja. Aku percaya padamu kok." Ucap Sasuke.

"A… ano… kamu bilang… Aku… mencintaimu…" Ucapku malu-malu. Mukamu langsung memerah setelah mengucapkan, termasuk Sasuke.

"A… ano… i… itu… se…"

"Dan aku… sepertinya juga…" Ucapku memotong percakapan Sasuke yang belum tuntas.

"A… apa… apa yang kau bilang?" Tanyanya padaku.

"AKU JUGA MENCINTAIMU SASUKE." Teriakku yang kontan membuatku mencapai puncak rasa maluku. Hingga aku merasakan sesuatu memelukku dari belakang. Ya… itu pasti Sasuke.

"Terima kasih. Terima kasih Naruto. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tetapi…" Ucap Sasuke terhenti yang masih memelukku dari belakang.

"A… ada apa?" Kupaksakan diriku bertanya padanya meski aku masih tetap menahan malu.

"Aku tidak bisa mencintaimu saat ini." Ucap Sasuke kemudian yang langsung membuatku shock.

"Ke… kenapa? Kau sudah punya kekasih lain?" Tanyaku.

"A… aku akan pergi. Pamanku di Indonesia akan mengangkatku sebagai anak angkatnya, dan kemungkinan aku akan pergi kesana besok. Pamanku sudah mengirimkan tiketnya padaku tadi lewat fax (Yang dikirim pamannya lewat fax adalah bukti pembelian tiket Tokyo-Jakarta. Sedangkan pinnya sudah dikirimkan pamannya melalui SMS) saat kau mengantar Kakashi sensei ke depan. Maafkan aku Naruto. Aku tidak bisa mencintai seseorang yang akan kutinggalkan jauh. Maafkan aku." Ucap Sasuke.

"Tidak Sasuke. Tidak apa-apa kok. Aku mengerti kok. Sebaiknya sekarang kau tidur agar besok kau tidak ketinggalan pesawat." Ucapku lalu mencium bibir Sasuke kemudian pergi menuju ruang tamu Sasuke tempat aku akan tidur. Menangis, menangis, dan menangis. Hanya itu yang saat ini kulakukan hingga aku tertidur tanpa sadar.

Keesokan harinya, kutemukan secarik kertas di hadapanku yang bertuliskan:

''Maafkan aku Naruto. Aku tak sanggup membangunkanmu saat tadi pagi berangkat .Aku tak sanggup untuk melihatmu kembali bersedih seperti semalam. Maafkan aku Naruto dan terima kasih atas segalanya yang telah kau berikan untukku. Kutitipkan rumah ini padamu Naruto. Tolong jaga rumah ini ya. Selamat tinggal Naruto. Selamat tinggal, My True Love.''

Aku pun kembali menangis membaca surat itu. Ketika aku telah menemukan cintaku, aku harus rela meninggalkan cintaku. Apakah ini yang namanya pengorbanan cinta. Sepertinya memang iya.

'Selamat tinggal, My True Love.' Batinku.

Next Chapter : HADIAH TERINDAH


Chapter selanjutnyakemungkinan akan menjadi chapter yang terakhir :

Warning : Next chapter is SasuNaru LEMON

Review please. No flame/s atau semacamnya

~~~Arigatou~~~