Title : We're always together, right ?

Genre : Family, Friendship, Bromance

Cast : BTS member

Rating : T / General

Length : Chaptered

A/N : Terinspirasi dari BTS - Prologue, BTS MV, BTS Song.


Chapter 4

(Taehyung bagian empat)

Flashback

Taehyung melirik jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Ia baru saja menyelesaikan shift-nya di bar tempatnya bekerja. Kakinya terasa sangat pegal karna malam ini pelanggan yang datang sangat banyak dan membuat dirinya tidak bisa untuk sekedar duduk dan beristirahat. Ia mempercepat langkah kakinya menyusuri gang-gang kecil menuju tempat tinggalnya. Ia ingin cepat sampai di bangunan flat sederhana yang ia tempati bersama dengan ibunya lalu segera tertidur dan mengisi kembali tenaganya yang terkuras habis malam ini.

Kakinya melangkah cepat menaiki anak tangga, lima puluh tujuh anak tangga lebih tepatnya untuk bisa sampai dilantai dua unit blok flatnya berada. Setelah tinggal dibangunan ini hampir dua puluh tahun lamanya Taehyung terbiasa menghitung berapa anak tangga yang ia lewati setiap harinya, bahkan kebiasaan tersebut masih saja ia lakukan sampai saat ini.

Taehyung sudah berada tepat didepan pintu flatnya. Tangannya masih sibuk mencari kunci rumah disaku celana jeans yang ia kenakan saat ini.

BRUK..

PRAAANG..

Taehyung terkejut dan refleks menjatuhkan kunci rumah yang sudah ada digenggamannya ke lantai setelah mendengar suara benda pecah belah yang membentur pintu dan jatuh berhamburan kelantai didalam rumahnya dan suara seorang wanita yang berteriak lalu menangis, Taehyung menyadari sesuatu, suara itu adalah milik ibunya.

Taehyung mengambil cepat kunci yang sempat terjatuh dan segera membuka pintu flat-nya, berkali-kali meleset dari lubang kunci karna tangannya yang gemetar akibat terlalu panik karna saat ini ia sudah mendengar suara ibunya yang merintih kesakitan.

Setelah pintu terbuka Taehyung melihat seorang pria yang tengah berdiri dan menarik paksa rambut ibunya yang duduk bersimpuh dilantai ruang tengah. Taehyung tidak bisa melihat dengan jelas siapa pria dihadapannya karna posisinya saat ini membelakangi Taehyung.

"Ibu!" Taehyung berteriak panik dan segera berlari kearah ibunya, melepaskan gengaman tangan pria tersebut dari ibunya dan segera mencengkeram kerah kemeja pria dihadapannya bersiap melayangkan sebuah pukulan.

"Ayah.." Taehyung bergumam, tangannya yang terkepal berhenti di udara saat ia bisa melihat dengan jelas wajah pria tersebut. Tidak ada yang berubah dari sosok dihadapan Taehyung saat ini, hanya raut wajahnya saja yang memperlihatkan gurat halus karna bertambahnya usia, selebihnya Taehyung masih bisa mengingatnya dengan jelas siapa orang yang ada dihadapannya saat ini.

"Eoh, lihat ini, bukan kah ini Kim Taehyung, anak ku? Kau sudah besar rupanya, " bau alkohol seketika menyapa indra penciuman Taehyung. Tangannya yang mencengkeram kerah ayahya terlepas begitu saja saat ayahnya dnegan kasar menepis tangan Taehyung dari kerah bajunya.

Taehyung berusaha untuk tidak menghiraukan saat tangan ayahnya kini sudah berpindah mengusap kepalanya dengan kasar. Taehyung hanya menunduk, mendesiskan kebencian dari bibirnya.

"Brengsek," Taehyung berdesis. Tangannya sudah kembali mengepalkan tinju hingga membuat buku-buku jarinya memutih dibawah sana. Raut wajahnya menebar kebencian, kebencian yang sudah ia simpan bertahun-tahun lamanya.

"Apa? Kau berkata apa anak kecil?" Ayahnya menyeringai didepan wajah Taehyung dengan nada mengejek.

"Brengsek!" Taehyung melayangkan satu pukulan yang mengenai tepat pada pelipis ayahnya. Matanya buas mengancam pada sosok yang saat ini telah jatuh tersungkur dilantai karna pukulannya. Dengan cepat Taehyung menindih tubuh besar ayahnya. Kembali melayangkan pukulan pada rahangnya hingga membuat darah segar mengalir keluar dari hidung ayahnya.

Tanpa menghiraukan tangisan ibunya yang berteriak meminta Taehyung untuk segera berhenti, Taehyung kembali mencengkeram kerah baju ayahnya yang saat itu hendak berdiri dari jatuhnya. Kepalan tangan sudah kembali terangkat bersiap untuk kembali memberikan pukulan.

Namun keadaan tiba-tiba berbalik saat ayahnya dengan sigap mencengkram tangan Taehyung yang sudah mengantung di udara dan dengan gerakan cepat mendorong tubuh Taehyung hingga membuatnya jatuh tersungkur membentur lantai dingin dibawah punggungnya. Dengan cepat tangan ayahnya langsung menghantam wajah Taehyung beberapa kali.

Belum puas memukul wajah Taehyung ayahnya sudah kembali melayangkan pukulannya ke bagian perut Taehyung yang tepat mengenai ulu hatinya sekuat tenaga. Taehyung bahkan belum sempat membuat pertahanan apapun namun sebuah pukulan sudah kembali ia dapatkan dan mengenai tepat di rahangnya.

Taehyung bisa merasakan darah segar baru saja keluar dari sudut bibirnya karena pukulan tersebut, seketika rasa amis darah menyapa indra pengecapannya.

Tubuh Taehyung terlalu lemah untuk melakukan perlawanan setelah mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari ayahnya. Apalagi lawan yang ia hadapi bukanlah tandingannya. Tubuh ayahnya yang cukup besar membuat keadaan tidak menguntungkan untuk Taehyung. Taehyung bisa dengan jelas melihat raut wajah ayahnya yang saat ini masih berada diatas tubuhnya menyeringai dan mengejek Taehyung.

Saat ini ayahnya sudah beranjak dari tubuhnya. Ia terlihat tengah menyeka keringat di dahi. Kemudian menarik hoodie Taehyung dan kembali mendorong tubuh kurus Taehyung hingga membentur lemari kayu yang ada dibelakangnya.

Taehyung memekik lirih, seluruh tubuhnya terasa kesakitan. Dengan sisa-sisa kekuatannya Taehyung mendudukan dirinya dan bersandar pada lemari kayu yang berada dibelakang tubuhnya. Ia menyeka darah yang masih mengalir diujung bibirnya dengan punggung tangan. Ia bisa melihat ibunya yang saat ini berada dipojok ruangan berdiri berusaha menghampirinya tapi dengan cepat ayahnya menarik rambut ibunya hingga kembali terduduk dilantai, Taehyung bisa melihat ibunya yang menangis dengan suara lirih merubah posisinya hingga berlutut dengan kedua tangan didepan dadanya memohon ampun agar pria dihadapannya ini berhenti.

"Wah, aku tidak menyangka kau mendidik anakmu sehingga menjadi bajingan seperti itu selama aku tidak ada! Dasar wanita bodoh.." suara tamparan yang kuat melayang dari tangan ayahnya. "..mengurus satu anak saja tidak bisa, dari awal memang seharusnya wanita tidak berguna seperti kau ku

bunuh saja!" kini ayahnya sudah kembali menarik paksa rambut ibunya sehingga membuat kepalanya dengan terpaksa menghadap ke atas dimana ayahnya berada.

Taehyung mengertakkan giginya, ia seakan melupakan rasa sakit pada tubuhnya saat ini karna amarahnya yang telah memuncak. Ia tidak ingin hidupnya dan ibunya kembali seperti beberapa tahun lalu karna ayahnya. Tanpa pikir panjang Taehyung mengedarkan pandangannya kesekitar ruang tengah mencari benda yang bisa ia gunakan sebagai senjata. Ia tidak akan bisa melawan ayahnya hanya dengan tangan kosong.

Matanya langsung tertuju pada beberapa botol soju yang berserakan diatas meja ruang tengah, mungkin bekas ayahnya. Taehyung berusaha bangkit dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya menyambar cepat botol tersebut dan menghantamkannya ke meja hingga pecah dan menyisakan ujung-ujung runcing yang tajam.

Taehyung sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia bukan lagi Taehyung yang berumur tujuh tahun, yang hanya bisa menangis dalam pelukan ibunya saat dipukuli. Dengan cepat ia meraih pundak ayahnya yang membelakanginya agar menghadap padanya dan mendorong tubuhnya sehingga berhimpitan dengan dinding kemudian mengarahkan cepat ujung runcing botol tersebut ke tubuh ayahnya.

"Mati saja kau, brengsek! Matiii!" Taehyung berteriak setelah pecahan botol tersebut tertancap tepat di bagian perut ayahnya. Taehyung masih bisa mendengar suara teriakan ayahnya yang memekik akibat serangan dadakan dari Taehyung.

"Kau bajingan! Kau tidak pernah tahu kalau aku tidak baik-baik saja bahkan setelah bertahun-tahun kau pergi dari rumah ini! Aku harus melewati masa-masa sulit yang tidak seharusnya anak seusiaku alami karena kau! Aku menyimpan dendam setelah bertahun-tahun lamanya! Kau... jangan berani-berani menyentuh ibuku dengan tangan kotormu!" Taehyung mendesis, wajahnya memerah, giginya bergemeletuk menahan amarah.

Ia kembali mendengar suara parau ibunya yang berteriak. Tangisannya terdengar semakin kencang ditelinga Taehyung. Tapi Taehyung sudah gelap mata, ia tidak mendengar apapun, yang ia tahu saat ini emosinya yang meluap-meluap tengah mengambil alih dirinya.

Taehyung mencabut kembali ujung pecahan botol yang masih menancap di

tubuh ayahnya. Ia terdiam saat menatap semburat merah dibagian perut yang tercetak pada depan kemeja ayahnya. Matanya beralih pada tangan kanannya yang masih mengenggam pecahan botol yang juga berwarna sama.

Taehyung terkesiap menjatuhkan pecahan botol kaca yang berlumuran darah digengamannya tersebut kelantai. Tangan nya yang gemetar menyeka matanya yang berair dan menggangu pandangannya. Wajah Taehyung seketika berubah pucat saat melihat sosok dihadapannya sudah tidak bergerak dan jatuh begitu saja dipojokan dinding.

Kaki Taehyung gemetar mencoba menopang tubuhnya sendiri yang tiba-tiba menjadi sangat lemas, tangannya yang lain sudah sibuk mencari pegangan pada dinding disekitarnya. Nafasnya mulai tersengal, keringat membanjiri sekujur tubuhnya.

Ibunya yang masih terkejut dan hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangan dengan cepat berlari kearah Taehyung, mencengkeram erat lengan Taehyung lalu memegang kedua sisi wajah Taehyung agar menghadap dirinya.

"Pergilah, cepat pergi dari apa, kau tidak melihat apa-apa, jadi segera pergi. Kau dengar ibu Taehyung?" ucap ibunya disela-sela tangisannya. Wajahnya sudah basah oleh air matanya sendiri. Tangannya tidak kalah gemetarnya dengan milik Taehyung.

"Ibu.. aku.. aku.." lidah Taehyung mendadak terasa kelu. Tanpa sadar air mata Taehyung sudah terjatuhan dan membasahi pipinya,ia memandang ibunya dengan ketakutan.

"Pergi dari sini Taehyung, cepat! " teriak ibunya mendesak, lalu dengan tergesa menarik tangan Taehyung dan membawanya kedepan pintu lalu mendorongnya agar cepat keluar dari rumah.

Taehyung sudah tidak bisa berfikir jernih lagi. Terakhir yang ia lihat adalah ibunya yang berusaha tersenyum dan mengucapkan 'Tidak apa-apa semua akan baik-baik saja' padanya didepan pintu sebelum kakinya melangkah keluar pintu dan dengan gerakan cepat sudah menuruni anak tangga dan berlari sekencang mungkin meninggalkan bangunan flat yang sepi dibelakangnya.

Taehyung terus berlari. Sesekali ia mengarahkan punggung tangannya untuk mengusap air mata yang masih terus keluar dari sudut matanya sehingga menggangu penglihatannya. Jalanan sangat sepi, tidak ada satu orangpun yg Taehyung temui. Sejauh ini yang ia lihat hanya lampu-lampu toko yang menyala terang berada disekitarnya.

Hingga akhirnya kakinya terhenti dipojokkan gang sempit yang Taehyung tidak pernah ketahui sebelumnya bahkan Taehyung tidak yakin saat ini ia berada dimana, tubuhnya jatuh terduduk begitu saja, saat ini ia telah bersandar pada tembok berlumut dibelakangnya lalu menekuk lutut dan menundukkan kepala menyembunyikan wajah diantara kedua lututnya dan kembali menangis, pikirannya mendadak kosong, ia bahkan tidak ingat apa yang baru saja ia lakukan.

Ia tidak tahu harus berbuat apa. Tangannya saat ini sudah meremas surai coklat karamelnya dengan kuat memaksa otaknya untuk berpikir, sebelum akhirnya terlintas sebuah nama di dalam kepalanya, tangannya dengan cepat mengambil handphone disaku hoodienya memencet cepat kontak seseorang yang sudah ia hafal di luar kepala.

Tut... tut... tut...

"Halo," hingga suara serak seorang pria khas bangun tidur terdengar disambungan telepon.

Taehyung menahan nafasnya, ia hanya ingin selamat.

Flashback end


Seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu besi diseberang kaca pembatas antara tempat Taehyung berdiri saat ini, disampingnya ada seorang sipir berseragam lengkap sedang memegang lengan ibunya yang ter-borgol dibagian depan tubuhnya yang kurus.

Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam dari dermaga yang Taehyung datangi bersama dengan yang lain, Namjoon menyuruh Yonggi menghentikan mobilnya disebuah lembaga pemasyarakatan khusus wanita, menjelaskan cepat situasi yang terjadi. Mengatakan akan kembali menjemput Taehyung setelah membawa yang lain pulang kerumah masing-masing.

"Ibu," panggil Taehyung terdengar sangat lirih. Taehyung menatap lamat wajah ibunya yang sudah duduk dikursi yang tersedia.

"Tidak apa-apa Taehyung-ah, Ibu baik-baik saja." seru ibunya sambil mencoba tersenyum dengan bibirnya yang pucat.

"Kenapa ibu disini?!" Taehyung mulai berteriak panik, ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak marah pada saat seperti ini dengan melihat ibunya yang mengenakan seragam tahanan dan ter-borgol tepat dihadapannya.

"Taehyung-ah berhenti," ibunya mencoba menenangkan Taehyung mengulurkan tangannya menyentuh kaca pembatas ruangan.

"Kenapa?! Aku yang bersalah bu, aku yang membunuhnya!" nafas Taehyung tersengal saat berteriak. Jemarinya sudah terkepal kuat memukul kaca tebal pembatas dihadapannya. Air matanya sudah berlomba-lomba keluar dari sudut matanya.

"Kim Taehyung!" ibunya ikut berteriak membuatnya terbatuk kecil akibat terlalu memaksakan suaranya keluar.

"Apa yang ibu lakukan disana? Aku yang sudah membunuhnya bu," Taehyung menurunkan nada bicaranya, tidak tega melihat ibunya yang saat ini tengah menepuk-nepuk pelan dadanya karna berteriak tadi.

Kalau bisa ia sangat ingin menghancurkan kaca pembatas yang ada dihadapannya saat ini, memeluk tubuh kurus ibunya yang saat ini mengenakan seragam tahanan yang lusuh dan membuat tubuh kurusnya terlihat sangat kecil.

"Tidak Taehyung-ah, ibu yang sudah melakukannya. Kau tidak bersalah. Kalaupun saat itu kau tidak melakukannya, ibu akan tetap melakukanya untukmu. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri." seru ibunya yang sudah tidak bisa lagi menahan air mata melihat Taehyung yang sudah ikut menangis dihadapannya.

"Ibu," Taehyung menyeka wajahnya yang basah oleh air mata dengan ujung lengan kemeja yang dipinjamkan Namjoon padanya sebelum ia masuk tadi. Menyisir rambut coklat karamelnya yang berantakan dengan jemari karena frustasi.

"Kau sudah melakukan hal yang benar Taehyung-ah, tidak apa-apa ibu baik-baik saja." ibunya kembali tersenyum mencoba untuk menenangkan Taehyung.

"Tidak! Aku akan menyerahkan diriku bu. Aku tidak bisa melihatmu berada disana, biar aku saja yang ada disana, jangan dirimu." Taehyung sudah kehabisan akal, menurutnya dengan menyerahkan dirinya sendiri adalah satu-satunya cara agar ibunya bisa keluar dari tempat ini.

"Tidak!" ibunya kembali berteriak. Lalu menhembuskan nafas pelan mencoba menenangkan dirinya. "Jangan lakukan itu Taehyung, kau akan membuat ibu terluka kalau kau melakukannya. Ibu menyerahkan diri demi kita Taehyung, demi keluarga kita. Ibu ingin kau melupakan masa lalumu. Ibu ingin kau berhenti menyimpan dendam dengan ayahmu sendiri. Ibu ingin kau menjalani kehidupan normal layaknya anak-anak lain yang juga memikirkan masa depan. Ibu tidak mau kau terus-terusan merasa bersalah padaku atas apa yg ayahmu perbuat pada kita dulu. Ibu ingin kau berhenti Kim Taehyung!"

"Semua sudah terlambat, aku sudah menghancurkan hidupku sendiri karna dendamku pada ayah sejak bertahun-tahun lamanya dan bahkan yang lebih parah saat ini aku juga sudah menghancurkan hidup ibu," Taehyung menghela nafas perlahan. Ia terdiam sejenak, menatap ibunya diseberang ruangan. Taehyung bisa melihat pipi ibunya yang tirus sudah kembali basah oleh air mata.

"Tidak. Kau tidak pernah melakukannya. Kau selama ini hanya lari dari masalahmu. Ibu tahu selama ini kau hanya menahannya untuk terlihat baik-baik saja padahal hatimu tidak. Aku ibumu Taehyung, aku sangat ingin hidupmu bahagia, bukan dengan membawa dendam selamanya didalam hatimu." ibunya kembali terisak.

Taehyung hanya bisa menunduk, ia berusaha mengendalikan nafasnya yang memburu. Bagaimana bisa ia membiarkan ibunya berada dibalik tahanan atas apa yang telah ia lakukan. Taehyung tidak akan bisa menerima kenyataan itu.

"Kau tidak bisa berada disini, kau harus tetap disana. Kau harus menata kembali hidupmu. Kau harus bahagia Taehyung-ah. Kau sudah meninggalkan masa lalu kita. Mulai saat ini kau harus memulai kembali hidupmu yang baru. Kau harus berdamai dengan masa lalumu, dengan menjalani hidupmu dengan baik, hingga tidak akan ada lagi penyesalan diantara kita." suara ibunya melembut, mengapai kaca pembatas kearah wajah Taehyung seolah tengah menyentuh anaknya tersebut.

Taehyung tertegun. Ia menyadari kalau memang selama ini ia selalu lari dari masalahnya. Ia tidak pernah menceritakan kepada siapapun tentang ke khawatirannya, tentang ketakutannya, tentang amarahnya. Taehyung selalu menyembunyikan perasaannya.

"Maafkan aku bu... maafkan aku..."

"Tidak ada yg perlu dimaafkan Taehyung-ah. Semua sudah berlalu. Semua itu sudah tertinggal jauh dibelakang. Ibu juga akan menggunakan waktu ini untuk menata kembali hidupku, ibu akan memcoba berdamai dengan masa lalu dan segala kenangan buruk yang telah kita lewati. Dengan begitu setelah ini kita bisa kembali hidup bersama tanpa bayangan dendam dan masa lalu." Taehyung dapat melihat ibunya yang menghapus jejak air mata di pipinya lalu tersenyum, senyum yang sangat tulus dari seorang ibu kepada anaknya.

"Taehyung-ah, kau bisa berjanji kan pada ibu?" tanya ibunya dengan sorot mata lembut.

Taehyung terdiam menatap wajah ibunya dengan mata yang masih berkaca-kaca lalu dengan ragu-ragu mengangukkan kepalanya.

"Aku sangat menyayangimu nak," ucap ibunya yang langsung membuat Taehyung ikut tersenyum dan juga menghapus jejak air mata dipipinya.

Percakapan mereka terhenti saat seorang sipir yang tadi membawa ibunya mengetuk pintu, mengatakan waktu kunjungan telah habis. Taehyung masih bisa melihat saat ibunya beringsut berdiri dari tempat duduknya, beranjak pergi saat sipir tersebut kembali menarik tangan ibunya yang ter-borgol kearah pintu besi yang sama saat ia datang tadi.

"Aku akan sering berkunjung bu,"

"Baiklah, ibu akan sangat senang."

"Aku akan menepati janjiku bu,"

"Ya, kau sudah berjanji nak."

"Aku menyayangimu bu,"

"Aku lebih menyayangimu Taehyung-ah."

Taehyung menatap punggung ibunya yang sudah menghilang dari balik pintu besi diseberangnya.


Matahari bersinar sangat terik saat Taehyung berjalan atau lebih tepatnya menyeret paksa kedua kakinya kearah gerbang besar pintu keluar yang dijaga oleh beberapa petugas berseragam.

Diujung gerbang ia bisa melihat Namjoon yang tengah bersandar pada badan mobilnya dengan kedua tangan yang berada didalam saku celana jeansnya.

Namjoon tersenyum saat menyadari Taehyung yang saat ini sudah berdiri tepat dihadapannya.

"Kau sudah bertemu dengan ibumu?" Tanya Namjoon hati-hati. Sedangkan Taehyung yang saat ini tengah menunduk sambil memainkan jari-jarinya hanya menjawabnya dengan gumaman.

Namjoon menganguk seakan mengerti apa yang baru saja Taehyung gumamkan.

"Aku tau ini sangat berat untuk kau terima Taehyung-ah, tapi aku rasa aku bisa mengerti mengapa ibumu mengambil keputusan seperti itu." Namjoon tersenyum getir kepada Taehyung.

Taehyung perlahan mengangkat kepalanya menatap Namjoon seakan menagih penjelasan atas ucapan Namjoon barusan.

"Ibumu tau, kita semua pun tahu bahwa hidupmu sudah banyak menderita karna dendammu sendiri. Kau selalu bersikap seolah semua baik-baik saja padahal tidak seperti itu, bukan? Kau selalu menyembunyikan semuanya, kau tidak pernah membiarkan kami tahu apa pun yang kau rasakan. Ibumu ingin kau lebih terbuka Taehyung-ah, semua masalahmu, perasaanmu bahkan apa yang kau inginkan, kami semua ingin tau. Jangan menyimpannya untukmu sendiri, kau tidak sendirian. Kau memiliki seorang ibu yang paling menyayangi dirimu lebih dari apapun di dunia ini dan kau juga memiliki kami, keluargamu."

Taehyung mengigit sudut bibirnya. Hatinya perlahan terasa mencair. Masa lalunya memang teramat buruk tapi ia seakan lupa kalau didunia ini bukan hanya dia yg memiliki masa lalu yang buruk. Bagaimana bisa ia melupakan orang-orang disekitarnya.

Taehyung sudah seharusnya mencoba memahami takdirnya dari sisi lain seperti orang lain yang mencoba memahaminya selama ini. Sisi yang seringkali ia lupakan.

"Kau sudah berhasil Taehyung-ah, kau berhasil melewati rencana langit yang Tuhan berikan untukmu, kau berhasil memecahkan batu besar yang menganjal dihatimu selama bertahun-tahun ini, jadi sudah tidak ada lagi alasan bagimu untuk takut menghadapi hidupmu kedepannya. Ingatkan pada dirimu sendiri kalau saat ini kau adalah Kim Taehyung yang baru. Kim Taehyung yang memiliki masa depan dan kehidupan yang lebih baik."

Namjoon menyentuh lembut bahu Taehyung dihadapannya. Taehyung membalas senyum Namjoon dan mengangguk cepat. Masa lalu itu sudah Taehyung simpan rapat-rapat dalam hatinya. Ia tidak ingin lagi menyia-nyiakan hidupnya. Ia akan membayar pengorbanan ibunya dengan hidup bahagia dan tentu saja bersama dengan 'keluarga' nya.

(End for Chapter Taehyung)

- To Be Continued -

(for another member story)