Hinata merasa kepalanya sangat berat. Ia mencoba membuka kelopak matanya. Meski begitu, sengatan pada kepalanya semakin menjadi. Ketika iris lavendernya terbuka, ia mencoba menyesuaikannya dengan cahaya yang memancar. Iris lavender itu menyapu seluruh ruangan dan Hinata tak dapat mengenali ruangan tersebut.
Dimana aku?
Gadis berhelian hitam ke unguan itu mencoba mengingat-ingat apa yang menimpanya. Berbagai kepingan ingatan mulai menyatu. Ia ingat bahwa ia tengah membaca buku disebuah cafe, kemudian wanita sialan itu datang dan mengatakan niatan buruknya. Rasa sesak kembali menggerogoti hatinya. Isakan kecil mulai terdengar diruangan yang cukup luas tersebut.
─ KREK
Pintu itu terbuka dan menampakkan seorang pemuda yang sangat ia kenali. Pemuda tampan nan ceria yang selalu mengejar-ngejarnya. Hinata berpikir untuk apa pemuda ini terus mengejarnya? Bukan kah jika pemuda ini mengetahui kenyataan kehidupannya, pemuda ini akan pergi juga? Akan meninggalkannya bersama kesepi yang selalu menemaninya, menyelimutinya.
"Hinata," kata pertama yang keluar dari mulut pemuda itu membuat Hinata menatap pemuda itu dengan benar. "Syukurlah, akhirnya kau sadar."
Dapat Hinata lihat, pemuda itu terlihat sangat lega. Wajah pemuda itu sebagai refleksi dari perasaannya. "Aku kira, kau tak akan bangun-bangun.. heheehe."
Wanita Hyuuga ini menunjukkan sikap waspada. Ia harus tahu apa yang diinginkan pemuda ini? Apakah pemuda ini benar-benar menginginkannya meski ia mengetahui kenyataan pahit ini? Satu-satunya cara untuk melihat kesungguhan seorang laki-laki adalah dengan berterus terang. Mengungkap semua kenyataan yang menimpa.
Jika pemuda di hadapan Hinata ini benar-benar menginginkannya, tentunya ia akan menerima masa lalunya yang pahit. Tapi, jika pemuda ini pergi─ maka tak sepantasnya juga Hinata menginginkan pemuda ini.
Si pemuda mulai berjalan menghampirinya. Perlahan pemuda itu mengangkat punggungnya, membuat Hinata yang semula masih dalam posisi tidur; kini menjadi duduk.
"Ini─ minumlah," Dengan penuh kehati-hatian pemuda itu membantu meminumkan air tersebut ke mulut Hinata.
"Arigatou.. Naruto-kun ," ucap Hinata lirih.
Ya Kami-sama, pemuda ini terlalu baik. Ia sepertinya memang telah menyukai pemuda bernama Naruto ini. Sedikit banyak hatinya memang telah berlabuh pada Naruto. karena pemuda ini terus berusaha mendekatinya, terus mengejarnya, membantunya, membuat ia merasa spesial dan merasa berarti dengan semua perlakuannya yang lembut.
Apa sebenarnya yang terjadi? mulai Naruto dengan senyuman khasnya. Tidak ada nada paksaan di dalam nada bicara pemuda ini untuk mendapatkan jawaban. Membuat Hinata semakin gelisah memikirkan apa yang harus ia berikan sebagai sebuah jawaban.
"Baikah-baiklah, tak apa jika kau tak mau bercerita." Ucapnya diiringi senyuman lebarnya. Kemudian pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Hinata─ maafkan sikapku tempo hari," ungkapnya tulus. "Aku benar-benar tidak bermaksud apa-apa. Lanjutnya.
"Ya, " jawab Hinata . ia tersenyum lemah "Aku memaafkanmu,"
.
.
.
.
.
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Hyuugadevit-Cherry
(Uzumaki Naruto & Hyuuga Hinata)
.
.
.
.
.
Setelah kejadian itu, Naruto semakin dekat dengan Hinata. Ia merasa nyaman dengan gadis ini. Hinata adalah gadis yang sangat cantik. Tubuhnya proposional, alisnya tertata dengan rapih, hidungnya mancung, bibirnya kissebel, dagunya lancip. Dan yang sebenarnya palig menarik dari Hinata adalah bola matanya yang berwarna lavender. Sungguh ia jatuh cinta pada mata itu. Meski tatapan gadis itu sangat lemah, rapuh dan seperti dilingkupi dengan kedukaan membuatnya seperti kurang gairah hidup.
Namun disinilah Naruto, merasa tertantang untuk merubah kehidupan wanita Hyuuga ini.
Ia ingin memberikan suatu warna lain untuk wanita ini. Ia ingin menjadi seseorang yang dapat membuat gadis ini menjadi wanita yang ceria seperti para wanita lainnya. Menjadi wanita yang kuat, tidak rapuh seperti ini. Dan ia akan memulai semuanya sekarang juga.
Maka dari itu, muali saat itu─ Naruto dan Hinata selalu terlihat bersama. Seperti hari ini, Naruto meminta Hinata untuk belajar bersama di apartemen Naruto.
"Hei," Naruto menghampiri wanita idamannya dengan wajah sumeringah. "Aku membawakan sesuatu untukmu."
Hinata memandang Naruto dengan dahinya yang mengkerut. Diletakkannya buku serta bolpoin tersebut di atas meja.
"Taraaa... aku menemukan dua buah kotak ramen instan di lemari. Aku sangat menyukai ini kau juga pasti menyukainya." Ucap Naruto menggebu.
Ini snagat konyol. Naruto adalah pemuda yang konyol. Pemuda ini ingin membuatnya bahagia. Ia tahu itu, tapi cara pemuda ini sangatlah garing dan tidak romantis. Dimana letak romantisnya ketika seorang laki-laki mendekatimu dengan memberi ramen instan yang bahkan masih dalam keadaan terbungkus rapih?
Sesuatu yang akan dikategorikan romantis adalah dengan memberikan perempuan yang biasanya laki-laki berikan untuk gadisnya adalah dengan membri bunga, atau coklat, atau mengajaknya kencan, kemudian makan malam bersama. Tapi ─ Naruto memberikannya ramen instan. Sekali lagi ramen insan, sekali lag─ oke cukup!
"Kau tak suka ya," wajah pemuda itu terlihat menyesal. "Maaf, kalau bergitu aku─"
"Naruto-kun," Hinata yang semula duduk di atas karpet, mulai berdiri kemudian menyentuh pundak pemuda itu dengan lembut. "Aku ingin ramen itu. Tapi ─ mungkin kau harus memasakkannya untukku. Bukan begitu?" tambahnya malu-malu. Ya, sungguh ia malu untuk lebih terbuka dengan pemuda ini.
Perilaku sederhana dari Naruto selalu berhasil membuatnya mersa seperti di atas angin. Ia suka itu. Naruto membuat hidupnya benar-benar berbeda. Sikapnya yang baik dan ramah membuat Hinata tak bisa menghindari perasaan yang ia yakini akan tumbuh dan terus tumbuh, yang mungkin juga akan menjadi suatu bumerang dalam hidupnya.
Tapi Hinata tak peduli. Ia ingin merasakan suatu kebahagiaan. Kebahagiaan yang sejati. Kebagiaan bersama seorang laki-laki yang benar-benar ia cintai. Dan apakah ini berarti Hinata akan melabuhkan hatinya pada Naruto?
"Tentu saja Hinata," Kata Naruto dengan sikap yang langsung berubah dari seperti sedih menjadi ceria kembali. 'Tunggulah, aku akan memasakkannya untukmu Nyonya." Tambahnya dengan nada menggoda. Membuat kedua pipi Hinata bersemu merah.
.
.
.
"Aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa hukum bisnis seperti ini? tidak ada kawan atau lawan? Yang benar saja." Seru Naruto emosi. Pemuda itu menendang buku paket dan catatannya.
"Na-Naruto- kun," gagap Hinata.
"E-EH, Gomenasai .. Hinata," Naruto terlihat malu. "Gomen, aku selalu emosi jika masalah hukum bisnis. Masa iya tidak ada kawan, semuanya adalah lawan. Kalau seperti ini aku tidak akan bersahabat lagi dengan Sasuke. Kami memiliki perusahaan masing-maisng dan Ya kami-sama, lawan? Kawan?" teriaknya frustasi sambil mengacak-acak rambunya yang pirang itu.
Melihat tingkah Naruto, Hinata terkikik. Sungguh pemuda ini sangat lucu.
Ya Kami-sama, pemuda yang telah Kau hadirkan untuk Hinata adalah pemuda yang benar-benar mampu membuat Hinata nyaman, merasa berarti dan terus tersenyum. Maka apa lagi yang ia harapkan? Akhirnya hidupnya dapat berjalan sesuai dengan keinginannya. Wanita sialan itu juga tidak pernah trlihat lagi. Dan semuanya seakan terasa sempurna.
"Na- Naruto-kun," Hinata menyentuh tangan Naruto yang terus mengacak-acak rambutnya, kemudian mengusap wajahnya kasar, terus seperti itu.
"He-hentikan,"
Naruto memandang Hinata dengan wajah yang seolah terluka. "Kau, bisa menyakiti dirimu sendiri jika terus seperti ini."
"Benar juga Hinata. Tapi─ kau tidak tahu seberapa besar penghargaaku terhadap suatu ikatan. Aku adalah orang yang paling menghormati ikatan, terutama persahabatan." Ucapnya.
"Kau tahu, dulu ketika aku masih kecil─ aku tidak setampan ini. Aku sangat gemuk dan pendek. Selain itu aku sangat bodoh dan heboh. Tapi Sasuke mau menemaniku. Ia teman pertamaku dan sahabat pertama ku.
Kemudian Sakura. Mereka berdua orang beharga untukku. Jika mereka menikah, maka aku akan bermusuhan dengan kedua orang yang paling dekat denganku." Naruto terus mengungkapkan keluh kesahnya. Ia merasa benar menceritakan semua kekhawatirannya ini pada Hinata. Ia percaya, Hinata dapat menjadi pendengar yang baik untuknya. Dan ini terasa benar.
Meski ya, Naruto tak tahu ikatan apa yang ia miliki bersama wanita ini. Tapi ia percaya, bahwa wanita ini juga mungkin mempercayai apa yang ia yakini.
"Naruto-kun," mulai Hinata. "Kau harus tenang."
Naruto menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Gomen, aku memang aneh. Ehehe.., "
"Ti-tidak kok Naruto-kun," Hinata menggelengkan kepalanya cepat-cepat. "Kau tidak aneh."
"Begini Naruto-kun," Hinata mencoba menjelaskan. "Aku rasa kau tak perlu kahwatir akan ikatanmu bersama kedua sahabatmu. Jika kalian memiliki perusahaan masing-masing, maka jalan satu-satunya untuk tetap menjalin ikatan yang baik adalah dengan menjalin kerja sama.
Atau juga kalian tetap menjalin persahabatan dan bersaing secara sehat. Dengan begitu, kau akan tetap bisa berbisnis sedang persahabatan kalian pun baik-baik saja. Jika salah satu jatuh, maka yang satu akan membantu. Begitupula sebaliknya. Aku yakin, semuanya akan baik-baik saja."
Seketika itu pula kedua bola mata aquarium itu berbinar-biar. Naruto segera menggenggam tangan Hinata dan menatap wanita itu lekat-lekat.
"Wow, kau─ penjelasan mu itu benar-benar luar biasa Hinata. Benar-benar luar biasa. Aku jadi semakin menyukaimu." Ucap Naruto keceplosan.
Hinata terkejut dengan pengakuan tiba-tiba pemuda ini. Meski ia sudah tahu perasaan pemuda ini, tapi ia tak menyangka jika pemuda ini akan mengatakannya secepat ini.
"Ka-kau─ menyukaiku?" wajah Naruto kini terlihat merona hebat. Wajah Hinata? Jangan ditanya. Meskipun ia masih bisa mengeluarkan suaranya, namun wajahnya sudah sangat merah.
"Emmm.. a-ano.. i-itu..." O-oy, sejak kapan aku jadi gagap?. Batin Naruto frustasi.
"Na-Naruto-kun."
"Y-yo?" Jawabnya kaku.
"Be-benarkah kau menyukaiku?"
Naruto memejamkan matanya dan kembali membuka kelopak matanya. Ia kini benar-benar menghadapkan dirinya ke arah Hinata. Mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat minim. Dikumpulkannya keberanian Naruto dan ia semakin mempersempit jarak antara dirinya dengan Hinata.
Ia menyatukan antara bibirnya dengan bibir Hinata. Berharap ciuman ini dapat menyalurkan perasaannya yang tak pernah main-main. Kelembutan bibir itu membuat nya hilang akal. Itulah yang Naruto rasakan, juga Hinata. Mereka berdua menyukai senasi penyatuan bibir ini. Tidak. Mereka hanya menempelkan bibir mereka. Tidak ada lumatan atau yang lainnya.
Namun, perasaan lain merasuki keduanya.
Rasa sadar akan saling membutuhkan membuat mereka mulai menambahkan kecupak-kecupan ringan, dan berlanjut pada lumatan-lumatan kecil. Yang berakhir kini mereka saling mencium rakus bibir pasangannya. Merasa ingin dan ingin lagi.
Terus mereka melakukannya, hingga Naruto memasukkan lidahnya ke dalam mulut Hinata. Mengajak wanita itu untuk bertarung lidah. Menyesapi tiap sensasi yang mereka rasakan.
Sepertinya pertahanan dari masing-masing telah hilang. Kedua orang ini hilang kendali akan dirinya sendiri. Jari-jari nakal Naruto mulai membuka satu-persatu kancing dari kemeja Hinata. Sedang Hinata memeluk Naruto, seolah tidak membiarkan Naruto melepaskannya.
Hingga akhirnya, pakaian Hinata seluruhnya terlepas. Tubuh indah wanita itu terekspos dalam keadaan tanpa sehelai benangpun. Dan Naruto mulai melepaskan pakaiannya sendiri.
Mereka berdua telah dibutakan oleh kabut nafsu.
Kabut Nafsu itu benar-benar membuat kedua anak manusia itu tak menyadari apa yang tengah mereka berdua lakukan. Mereka bukan sepasang kekasih. Mereka juga bukan teman? Ya mereka bukan teman, karena teman tidak akan melakukan hal segila ini, mereka juga bukan sahabat, sahabat juga tidak akan saling melakukan sexy. Tapi Naruto dan Hinata melakukannya.
Sentuhan-sentuhan Naruto pada tubuh Hinata membuat wanita itu semakin hilang kewarasannya dan membalas perlakuan pemuda itu tak kalah bernafsunya. Mereka terus saling menyentuh hingga titik terdalam. Merncari-cari titik kenikmatan yang tiada tara.
"Na-Narutoo..ohh─"
"Hi-Hinata.. aaggghh..,"
Selanjutnya yang terdengar di apartemen Naruto hanyalah suara desahan Hinata dan erangan tertahan dari Naruto. Benar-benar, hari ini mereka melakukan sex yang hebat.
.
.
.
.
.
•TBC•
A/N:
Hai NaruHinaloverss.., selamat malam ^^ Hyuugadevit-cherry kembali update fic gaje ini. hehe maaf kan atas semua keanehan fic ini. Juga typo yang bertebaran. Hummmpp.. apa ya Dhe-chan benar-benar sulit membuat interaksi mereka, karena sulit sekali membuat interaksi NaruHina yang benar-benar alami tuh. Tapikan dhe-chan lagi belajar. Mohon dimaklum yaa, karena dhe-chan pemula ^^ btw ini lime kan? Apa masuknya lemon? Ahh entahlah. Dhe-chan berharap setidaknya fic ini dapat mengisi waktu luang minna-san ^^ Terakhir, Terimakasih karena udah sabar nunggu, serta R&R nya. Dhe-chan terharu. So..
.
Mind to reviews?
