CHAPTER FOUR

.

.

.

Waktu adalah sesuatu yang terkadang membuat seseorang berada dalam ketakutan. Mencemaskan segala hal yang akan terjadi pada dirinya ketika jarum jam tertawa dalam setiap putarannya. Yang lalu tidak akan pernah kembali dan yang di depan harus dihadapi bagaimanapun keadaan di masa sekarang. Tetapi dia mengetahui jika pada suatu saat tiba-tiba waktu berhenti, maka dunia akan lenyap bersama kenangan yang ada didalamnya.

Ini adalah minggu, pukul delapan pagi, dimana setiap murid mendapatkan pelajaran pengembangan diri dan melatih kemampuan non akademik yang mereka miliki di KAI seperti: Panahan, Baseball, Go kart, Basket, karate dan sebagainya.

Terlepas dari teman sekelasnya yang sedang berlatih, Naruto berdiri di hadapan pintu kayu sebuah ruangan yang tertutup. Keraguan dalam dirinya, mencegahnya untuk membuka benda itu dan masuk kedalamnya. Dia tidak yakin jika tidak akan terjadi apa-apa padanya jika sudah berurusan dengan Sasuke.

Pemuda cepak itu bisa mendapatkan apa yang dia mau. Dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Termasuk membunuh Naruto. Tapi dia tahu jika itu terlalu berlebihan untuk sebuah ketidaksengajaan menumpahkan cairan kepakaian Sasuke. Hal itu tidak akan menyakitinya. Namun bagaimanapun, Sasuke sudah terlewat benci padanya.

Kesalahan sekecil apapun bisa menjadi perkara besar yang tidak bisa dimaafkan olehnya.

Naruto menarik napas, mencoba menyiapkan diri. Dia perlahan memutar knop pintu. Melangkah masuk dengan perasaan campur aduk.

Tidak jauh darinya, dia mendapati punggung tegap Sasuke. Pemuda itu menatap keluar jendela masih mengenakan pakaian basket. Naruto mendekat dengan langkah perlahan. Mencoba untuk tidak membuat suara berisik yang akan menambah kemarahan Sasuke padanya.

"A-anou..." ujarnya

Sasuke tetap datar seperti biasa, tapi mata hitamnya menyorot tajam. Dan yang demikian itu membuat Naruto merasa terintimidasi. Banyak pertanyaan berkecamuk di kepalanya seperti badai di musim salju.

Dia melangkah pada Naruto, meninggalkan jarak kurang dari satu meter dari pemuda pirang itu. Raut wajahnya berubah keras dengan giginya yang menggertak.

"Kau tahu alasannya. Dan kau masih bertanya?" ujarnya sembari menatap Naruto dengan pandangan merendahkan.

Sedetik kemudian Sasuke terkekeh dan melayangkan tendangan yang menghantam tepat di dada Naruto. Si pirang tersungkur. Terbatuk lemah dan mengeluarkan darah dari mulutnya.

Naruto pernah merasakan tendangan yang sama. Tapi kali ini terlampau keras. Rasa sakitnya menjalari jantung Membuatnya kepayahan. Naruto mengumpat pada Sasuke dan mencoba untuk bangkit, tetapi Sasuke lebih dulu menyentak rambutnya hingga Naruto mendongak dengan mata terpejam.

Rasa panas dan perih merambat di kulit kepalanya. "Sshh.. Si-sial. Lepashkan... B-brengsek..."

"Tidak semudah itu ferret. Kau harus menjilat sepatuku. Dan kita impas."

Apa ini sebuah lelucon? Dia tidak akan pernah merendahkan harga dirinya dihadapan orang lain bahkan Uchiha sekalipun. Sebesar apapun kekuasaan yang dimilikinya, kedudukan setiap orang adalah sama bagi Naruto.

"Tidak akan..."

Sasuke mendorong kepala Naruto hingga sedikit lagi hidung pemuda pirang itu menyentuh ujung sepatunya. Air mata Naruto mengalir dan setiap tetesnya membasahi sepatu Sasuke.

Dia memutar otak agar Naruto tunduk padanya, "Kau ingin tempatmu bekerja ditutup dan membiarkan ayah serta ibumu kepayahan untuk mencari uang demi hidup kalian?"

Naruto membuka matanya dan seketika terbelalak karena pendengarannya. Dalam hatinya ia juga membenarkan perkataan Sasuke. Ayah dan ibunya tidak akan bangga jika dia tetap keras kepala dan mengabaikan ancaman Sasuke. Si raven tidak pernah bermain-main dalam perkataannya.

Naruto ragu-ragu mencium dengan hidungnya lalu mendongak dan shappirenya menatap Sasuke di mata onyx itu dengan alis bertaut lemah.

"Apa aku menyuruhmu untuk mengendusnya? Tidak Naruto. Kecup dan jilat."

Jika di suatu kehidupan Naruto menjadi yang dibawah dan tidak bisa berbuat apa-apa, maka di kehidupan lain juga begitu. Dan tetap seperti itu seterusnya.

Dia mendorong diri, bibirnya mengecup, lalu terbuka untuk menjulurkan lidahnya perlahan. Menjilat dan menyapu ujung sepatu Sasuke dengan hati menangis. Di sana ia bisa merasakan asin air matanya sendiri. Tapi ini lebih baik dari pada membiarkan orang-orang yang dicintainya menderita.

"Good boy. Setelah ini kau menjadi budakku selama seminggu penuh."

Kepala pirang mendongak lagi, memandang wajah Sasuke dengan ekspresi mengiba, melontarkan kata protes, "Ta-tapi tadi kau bilang kita impas setelah aku menjilati sepatumu.. Ke-kenapa sekarang aku harus menjadi budakmu? Ini tidak adil.. S-Sasuke.."

"Aku berubah pikiran setelah melihat wajah menderitamu itu, terlalu menarik untuk di sia-siakan. Sayang jika aku melepaskanmu begitu saja." ujar Sasuke dengan senyum miring yang mengembang di bibirnya.

Naruto hendak membuka mulut tapi orasi yang sudah dirancang diotaknya tidak tersampaikan karena Sasuke memotong.

"Kau ingin melihat ayah dan ibumu menderita? Pikirkan baik-baik Naruto. Aku bisa melakukan apa saja jika aku ingin."

Dan tanpa pikir panjang lagi, Naruto meng-iyakan karena dia tahu pada akhirnya dia selalu menjadi yang terbawah.
.

-Enmyti—

Basket adalah salah satu hal yang disukai Gaara. Dia sudah ikut serta ke dalamnya sejak junior high school dan meraih juara di setiap turnamen nasional tahunan lalu. Sejak kecil Itachi yang mengajarinya tentang bagaimana cara memasukan bola ke keranjang dengan tubuh melayang yang baik. Sasuke juga, pemuda itu juga suka dengan basket. Kemampuannya setara dengan Gaara dan mereka bekerja sama dalam klub. Setelah Sasuke bergabung dia langsung menjabat sebagai kapten menggeser posisi Gaara.

Tapi itu tidak penting bagi Gaara, karena sebagai ace saja dalam tim sudah lebih dari pada baik. Setiap orang berhak menentukan apa yang mereka pilih.

Selesai latihan dengan klubnya, Gaara beristirahat sejenak. Sasuke tidak kembali sejak dia mengatakan ada sedikit urusan di ruangannya. Entah apa yang dilakukan pemuda itu.

Dia lalu meneguk sebotol air mineral dan menumpahkan separuh isinya untuk membasahi kepalanya. Segar menjalar disetiap pori-pori kulit kepalanya. Gaara lalu melirik jam tangannya, sebentar lagi dia akan pergi ke suatu tempat dimana itu membuatnya nyaman.

Memikirkannya lagi, membuat Gaara tertawa kecil. Seseorang yang kemarin berbicara dengannya mungkin menganggap Gaara menelan kebohongannya bulat-bulat. Dia yakin, seseorang yang berada di balik rak buku adalah Naruto. Tetapi dia tidak akan memberitahukan itu padanya karena Gaara tahu jika dia sudah mengetahui 'kebenarannya' dalam airtian disini Gaara mengetahui jika 'yang berada di balik rak buku adalah Naruto'. Maka pemuda itu akan menghilang dan menjauh darinya. Mengingat Gaara sangat dekat dengan Itachi dan Sasuke yang menjadikan Naruto sebagai bahan candaan kekerasan mereka.

Berbicara tentang kekerasan. Gaara ingat semalam Sasuke memarahi Naruto dan membisikkan sesuatu di telinganya. Gaara tidak bisa berbuat apa-apa. Sasuke akan curiga padanya jika dia tiba-tiba bersuara untuk membela si pirang.

Dia harus pergi ke perpuskaan untuk bicara dengan Naruto dan memastikan tidak terjadi apa-apa pada si pirang itu, atau setidaknya tidak terjadi kekerasan yang terlalu menyakitkan padanya. Akan tetapi dia harus menemui Sasuke terlebih dahulu dan menanyakan rencana apa yang akan dilakukannya pada Naruto. Mungkin Gaara bisa bernegosiasi dengannya.

Ya. Gaara harus berbicara dengan Sasuke.
.

-Enmyti—

.

"Woah honey-ku di sini. Kenapa kau tidak bilang Sasuke?"

Itu Itachi dengan pakaian karatenya, berjalan kearah Sasuke yang duduk di sofa sembari meyilangkan kaki dan Naruto yang bersimpuh di lantai mengangkat tinggi jus tomat di atas nampan. Seperti seorang pelayan.

Itachi tersenyum penuh arti -arti mengejek maksudnya- pada Naruto, "Ayo bermain denganku." Tangan besarnya mencekal pergelangan Naruto. Naruto memberikan tatapan tajam yang diabaikan oleh Itachi.

"Singkirkan tanganmu, Chi. Kau tidak boleh menyentuhnya." Sasuke berdecak dan mendelik pada kakaknya. Itachi refleks menarik tangannya kembali. Dan mengangkat sebelah alisnya, menatap heran ke arah Sasuke.

"Apa maksudmu?" tanyanya.

"Dia milikku."

Itachi membelalak. Tidak percaya dengan hal yang barusan dikatakan Sasuke. Dia tidak pernah mendengar berita tentang adiknya yang merubah orientasi seksual.

"Dia kekasihmu?" tanyanya dengan wajah shock.

Seakan twich besar muncul di pelipis Sasuke dan semakin membengkak saat Itachi melanjutkan kata-katanya.

"Sejak kapan? Tidak kusangka adikku adalah seorang penyuka sesama jenis."

"Shut the fuck up! Baka!" teriak Sasuke yang membuat Itachi berjengit dan Naruto yang nyaris menumpahkan jus tomat Sasuke.

"Maksudku dia adalah Slave-ku, budak-ku." Jelas Sasuke dengan alis menukik tajam dan perasaan jengkel yang menyeruak karena kata-kata Itachi. Kakaknya berpikir terlalu jauh dan mengabaikan akal sehat. Dia berpikir akan meyeret Itachi ke psikiater terdekat sore nanti. Sasuke tidak mungkin menjadi gay karena dia adalah sorang homophobic.

Itachi menarik napas lega dan bergumam, "syukurlah..." lalu tersenyum charming dengan wajah tampannya. Dan mengatakan pada Sasuke mereka harus berbagi. Adiknya tidak boleh egois jika sudah mendapat mainan bagus.

"Tergantung si Dobe. Jika dia mau melayanimu. Tapi aku tidak yakin dengan itu." ujar Sasuke acuh seraya menatap remeh Itachi. Naruto memberikan tatapan protes karena panggilan Sasuke padanya dan ketika dia hendak membuka suara, Sasuke mendelik. Nyali Naruto menciut karenanya.

Itachi mengangguk lalu beralih ke Naruto dan berujar, "Kau harus melayaniku juga, honey."

Layaknya remaja seperti biasa, Naruto risih dengan panggilan aneh itu. Apalagi dengan nadanya yang membuat orang-orang meringis. Dia menggeleng.

"T-tidak. A-aku tidak mau!"

Seringaian mengambang di bibir Itachi. Dia lalu membungkuk untuk memajukan wajahnya ke Naruto. Matanya mengancam sangat kentara. Untuk kedua kalinya dia melihat mata biru besar lagi dengan jarak dekat, ditambah dengan pipi memerah itu. Cantik sekali.

"Kau mau first kiss denganku? Aku sangat yakin kau belum pernah berciuman sebelumnya."

"Hentikan itu! Jangan bercanda Itachi!"

Itu adalah dua suara baritone serentak. Berasal dari Sasuke yang sudah mengernyit jijik dan seseorang di ambang pintu dengan keringat membasahi tubuh atletisnya.

Dia adalah Gaara. Berkilat dengan mata jadenya. Langkah panjangnya membawa Gaara pada tiga orang di depan sana. Menatap Naruto dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan. Pakaian pemuda pirang itu lusuh sekali. Dan rambut pirangnya sudah mencuat kemana-mana. Beberapa helainya rontok dan jatuh di bahu Naruto. Naruto memandangnya dengan alis bertaut lemah, meminta tolong. Gaara jadi tidak tega.

"Kau apakan dia, Sasuke?" Gaara bertanya dengan wajah datar.

Mata Sasuke menyipit, "Apa urusanmu? Kupikir kau tidak mau ikut campur." lalu alisnya mengangkat tinggi.

Gaara diam sejenak. Berpikir tentang sesuatu. Kemudian sebuah hal terlintas di kepalanya, membuatnya tersenyum mencurigakan.

"Melihatmu yang begitu bahagia menyiksa seseorang, aku juga ingin bergabung. Kau masih punya kursi untukku?"

Dan Sasuke bingung dengan teman akrabnya yang mendadak aneh. Tapi dia mengabaikannya, lagipula jika Gaara juga ingin bergabung dengan bussinesnya itu adalah permulaan yang baik untuk penderitaan Naruto. Tampaknya kehidupannya tidak akan membosankan walaupun kembali ke Tokyo.

"Hn. Tanyakan itu pada si Dobe, Gaara." Dia melirik Naruto dengan sudut matanya.

Pandangan Gaara bergulir pada Naruto dan terseyum padanya dengan mengedipkan sebelah mata.

"Bolehkah, Naru?"

Kenyataan itu seperti menampar Naruto. Dan itu menjadi pelajaran baginya bahwa tidak ada lagi seorang teman yang (diyakini) baik tersisa di dunia ini untuknya.

.

.

.

TBC

.

Holaaa~ semuanya...

Maafkan kay karena telat updatenya. Maunya sih, pengen up minggu kemarin tapi karena udah mulai sekolah dari tanggal 3 jadinya sibuk sama urusan sekolah, ga sempat nulis dan udah kelas dua juga so, kay sibuk sama urusan buat persiapan magang nanti.

Btw, kay ga bisa balas ripiu kayak biasa coz bikin fic aja nyuri waktu ini. Jadi Kay nulis nama minna aja dibawah,

(kak Aoi)/Akino aoi. Pyuu. Arum Junnie. Yoon745. Celindazifan. Jambul si Ayam bertopi. Salsabilagantiara. GrandpaGyu. Pyuu(2). Sasunaru. Koko.

Maacih lipiunya.. Kay ceneng abic baca. Apa lagi yang panjang-panjang. Bikin gemessss, jadi pengen cubit satu-satu..*dilempartabungelpiji.

Haha sudahlah.. See ya next chap minna... Ripiu again..

Kachiao!