Update!^^ cepet kan hehe janjiku tepat ya minggu ini juga update. Tapi tugasku masih numpuk sih ahahaha
Anyway, makasih yang udah review, follow dan favs! Kalian bikin senyum-senyum gitu kkk
Dari 100+ visitors, kalian keknya pada pake VPN ya xD ngakak akutuh liat negara US paling banyak di viewer counts lol btw sekali-kali muncul lah, review walau hanya titik- wait, tar beneran dikasih titik lagi x"D
Yunkuk: Iyaa makasih hehe
pecintathaite5k: eh kamu nongol lagi kkk makasih ya udah review^-^ (love) (love)
—.—.—O—O—O—.—.—
Min Yoongi tidak pernah merasakan hal seperti ini. Bisa-bisanya ia melakukan itu pada Jungkook? Iya, bagian dia yang menempelkan miliknya di pantat Jungkook itu memang tidak disengaja—lagipula siapa juga yang bisa mengontrol perbuatannya saat sedang tidur. Tapi dirinya yang masih ingin mencium Jungkook bahkan saat ia sudah terbangun?
Yoongi sudah merasa tidak enak saat ia hampir mencium Jungkook, dan sekarang, setelah ia menyelesaikan sesi masturbasinya di kamar mandi sambil membayangkan Jungkook, rasanya ia jijik pada dirinya sendiri.
Yoongi mengangkat kepalanya, mengarahkannya ke air yang mengucur dari shower, pikirannya dipenuhi oleh banyak hal.
Jadi.. dia benar-benar Jungkook, lelaki di dalam mimpinya. Wajah yang biasanya kelihatan buram dan jauh, sekarang bisa Yoongi ingat dengan jelas. Ternyata semua gambaran tentang sepasang mata bersinar, suara indah dan rasa manis di dalam ingatannya adalah tentang Jungkook.
Juga, biasanya mimpi-mimpinya itu hanya berupa potongan-potongan gambar namun kali ini, rasanya seperti Yoongi sedang menonton satu film porno dengan alur yang emosional. "4D." Yoongi menambahkan dengan pelan, karena apa yang ia rasakan begitu hidup dan nyata, seperti keluar dari ingatan aslinya.
Yoongi mengingat segalanya. Ia ingat betul bagaimana rasa bibir Jungkook yang menempel di bibirnya, rasa asin kening Jungkook yang terkecap oleh bibirnya. Yoongi ingat tanda ciuman yang ia buat, bagaimana kelopak mata Jungkook mengedip cantik dan bagaimana desahan Jungkook membuatnya membara. Bahkan Yoongi masih mengingat bagaimana Jungkook membuat jantungnya berdegup kencang penuh dengan banyak perasaan—perasaan senang, takut, cinta dan kepuasan—yang bercampur menjadi satu.
Lagi, kumohon.
Yoongi mengumpat. Ia menyetel showernya ke air yang paling dingin karena— duh, masa iya hasratnya langsung naik hanya karena membayangkan suara Jungkook?
—.—.—O—O—O—.—.—
Setelah Yoongi selesai mandi, ia sangat-sangat senang dengan fakta bahwa Jungkook itu tidak akan bangun sekali pun ada gempa bumi, di mana ia melihat Jungkook yang masih terlelap di tempat tidurnya.
Yoongi berjalan mendekat, paham bahwa membangunkan Jungkook dari tidur adalah tugasnya. Tangannya ia angkat untuk meraih pundak Jungkook sebelum akhirnya ia mendudukkan dirinya di atas kasur.
Kenapa hanya dirinya yang mengalami mimpi-mimpi itu? Yoongi sudah pernah menanyakan secara tidak langsung kepada para member Bangtan, tapi kebanyakan dari mereka malah bertanya apakah terjadi sesuatu pada Yoongi, dan Yoongi lelah dengan wajah bertanya yang mereka tunjukkan setelah itu.
Tapi bukankah lebih masuk akal apabila Jungkook juga mengalami mimpi itu? Sebuah gambaran, mungkin? Apalagi dengan fakta bahwa mereka itu sepasang kekasih— di masa lalu atau di dunia lain mungkin?
Atau mungkin.. ada sesuatu yang harus Yoongi lakukan sendiri. Dengan kata lain, pesan apakah yang 'dirinya yang lain' ingin coba sampaikan?
Jari Yoongi meraih rambut Jungkook, memainkannya dengan pelan, seolah-olah ia masih belum mau membangunkan sang magnae. Rambut Jungkook terasa sangat halus, dan tiba-tiba saja kemiripan antara Jungkook yang ini dengan lelaki yang ada dalam mimpinya menjadi sangat jelas.
Beberapa helai rambut Jungkook terselip di antara jemarinya, dan yang Yoongi lakukan hanyalah menyentuhnya dan memutar-mutarnya. Perasaan hangat yang tidak bisa ia jelaskan kembali muncul ke permukaan, dan Yoongi bertanya-tanya, perasaan siapakah ini? Pangeran Yoongi? Ataukah perasaannya sendiri?
Keinginannya untuk selalu menjaga Jungkook. Keinginannya untuk memuji-muji Jungkook. Alasan-alasan yang ia buat hanya untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan Jungkook. Jimin dan Taehyung selalu memprotes soal dirinya yang hanya membebaskan Jungkook setiap mereka bertiga mengerjai Yoongi. Hanya Jungkooklah yang bisa menempeli Yoongi saat ia lelah. Hanya Jungkook yang mendapat hadiah ulang tahun mahal dari Yoongi. Hanya Jungkook yang boleh mendengar lagu rahasia Yoongi. Yoongi paham kalau semua fakta itu bukanlah sesuatu yang bisa ia abaikan mengingat tatapan menilai yang Jin lemparkan padanya akhir-akhir ini.
Yoongi menunduk, menatap wajah Jungkook. Tanpa make up, dia lebih terlihat muda dibanding umur aslinya.
Apakah ia boleh menjadi orang secantik ini?
Yoongi tidak bisa menahan dirinya yang selalu merasa sayang kepada Jungkook. Jungkook adalah member termuda Bangtan, Yoongi telah memperhatikannya sejak Jungkook masih umur 15. Dan Yoongi tahu betapa Jungkook mempercayainya, karena ia terus-menerus mengatakan soal itu saat interview, saat meeting atau bahkan saat mengobrol santai. Jungkook selalu bilang kalau Yoongi adalah hyung yang selalu bisa ia percaya dan ikuti.
Tapi.. Sejak kapan semua ini menjadi tidak platonik? Karena Jungkook sedang ada di depannya, tertidur dengan nyaman, dan Yoongi ingin menyentuhnya.
Apakah tidak apa-apa menginginkan Jungkook seperti ini?
Bibir pink cantik Jungkook terlihat sedikit terbuka. Dan dorongan rasa ingin kembali ke permukaan. Yoongi ingin menciumnya, namun hal ini tidak ada hubungannya dengan masalah mimpi atau si pangeran. Yoongi ingin menciumnya, dan jangan salahkan Yoongi, karena Jungkook hidup untuk dilimpahi dengan ciuman.
Yoongi melirik ke arah jam dan menghela napasnya. Jadwal mereka dimulai 40 menit lagi, dan kalau ia ingin Bangtan datang tepat waktu, ia harus membangunkan Jungkook sekarang juga.
"Jungkook," panggil Yoongi. Tentu saja Jungkook tidak bereaksi sama sekali. Pipi Yoongi menghangat ketika ia mengingat cara tercepat untuk membangunkan Jungkook. Kadang Yoongi memakai cara itu juga, tapi setelah sekarang ia tahu suara seperti apa yang akan Jungkook buat jika ada yang menyentuh pucuk dadanya secara langsung, cara tersebut sudah tidak mudah dan sederhana lagi.
Yoongi berdehem dan mencubit pinggang Jungkook, yang membuat sang empunya terkejut dan memekik kencang. "Hyung!" Jungkook memendamkan wajahnya kembali ke bantalnya, namun Yoongi yang perhatian, sempat menangkap ekspresi wajah Jungkook. "Wajahmu merah, kau sakit? Masih sakit kepala?"
Yoongi mengangkat tangannya untuk memeriksa kening Jungkook. Yoongi bahkan belum dekat, tapi Jungkook langsung menjauhkan badannya.
Yoongi memandang Jungkook bingung saat ia turun dari tempat tidur dan buru-buru berjalan ke kamar mandi sambil berteriak, "Aku sudah bangun! Aku sudah bangun!"
—.—.—O—O—O—.—.—
Semua member Bangtan tahu kalau Yoongi sudah pernah berkencan dengan kedua gender, wanita dan pria. Tapi Jungkook.. Yoongi bahkan ragu kalau Jungkook sudah pernah berciuman. Jungkook benar-benar suci, bagaimana bisa Yoongi tidak merasa bersalah ketika memainkan rambut Jungkook saja rassanya sudah seperti mencuri sesuatu dari Jungkook?
Hangat tubuh Jungkook masih terasa di seprai dan Yoongi membenci dirinya yang menyadari hal tersebut. Dia tahu kalau ia telat menyadarinya. Telat menyadari bahwa mungkin rasa sayang dan khawatir tidak cocok ada di dalam hatinya. Benar, Yoongi sayang dan terus-terusan khawatir pada Jungkook, tapi Yoongi tahu kalau ada sesuatu yang lebih kuat, lebih mencekik, yang hanya ditujukan untuk Jungkook seorang. Yoongi ingin sekali meminta maaf. Duh, Yoongi hanya bisa berharap setidaknya Jungkook sudah dewasa saat perasaannya berubah menjadi tidak platonik lagi.
—.—.—O—O—O—.—.—
Jungkook punya kebiasaan berlarut-larut dalam memikirkan sesuatu. Mungkin itulah alasan mengapa ia selalu memilih untuk mengosongkan pikirannya, memandang asal ke manapun dengan pikiran kosong. Karena itu semua lebih mudah. Bahkan ketika Jungkook memakai conditioner sebagai sabun mandi, menggosok giginya sampai dua kali, itu tidak apa-apa, karena itu semua lebih mudah dibandingkan berpikir.
Jungkook melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dengan pikiran kosong, hampir saja melompat terkejut saat ia ingat kalau Yoongi masih ada di ruangan yang sama dengannya..
"Kau yakin kau tidak apa-apa?"
"Ya. Tentu saja." Gumam Jungkook.
"Kau kelihatan tidak baik-baik saja, kau tahu?" kata Yoongi sambil berdiri. Dan Jungkook tak tahu kenapa, tapi dia panik. Jangan mendekat— jangan kesini— aku tak tahu harus bagaimana— tolong berikan aku waktu— aku—
Jungkook merasakan hati lemahnya bereaksi dengan payah, dan ia dengan cepat mencari minyak rambutnya, membalikkan tubuhnya dari hadapan Yoongi, membelakanginya.
"Berbaliklah." Kata Yoongi kalem dari belakangnya. "Sepertinya kancingmu salah tempat."
Jungkook melihat bayangannya di cermin, dan ya ampun kenapa coba. "Oh— hahaha—, aku— aku akan membetulkannya, hyung." Katanya dengan suara melengking, dan matanya bisa melihat Yoongi yang memandangnya dengan bingung.
Jungkook kemudian mulai mencoba memperbaiki kancingnya. Duh, ya ampun, kenapa kok memakai baju saja sampai jadi sesusah ini? Ia mendengar Yoongi menghela napasnya, lalu memutar tubuh Jungkook.
Rasanya udara di sekitar Jungkook menghangat, ketika Yoongi menyingkirkan tangannya, lalu membuka kancing baju Jungkook dengan cepat. Jungkook hanya diam membiarkan Yoongi yang membetulkan bajunya, dengan perlahan mengancingi bajunya satu persatu. Napas Jungkook tercekat, dan perabot putih di kamar hotel mereka tiba-tiba terlihat menarik bagi Jungkook.
Jungkook berdehem, canggung, memutuskan untuk memainkan sekumpulan bunga ungu kecil yang ditata di sebuah vas yang ada di atas meja sebelh mereka,
"Lilac."
Jungkook menengok ke arah Yoongi, mencoba untuk mengabaikan tangan Yoongi di perutnya. "Yang warna ungu, lebih tepatnya, bermakna cinta pertama."
Sesuatu yang sedih yang melintas di mata Yoongi tak luput dari penglihatan Jungkook, namun ia tahu kalau lebih baik tidak mengatakan apa-apa soal itu. "Hyung benar-benar tahu segalanya." Kata Jungkook sambil tertawa kecil, yang dibalas Yoongi dengan gelengan kepala. "Tidak, Jungkookie, ada banyak sekali hal yang tidak aku tahu."
Jungkook menyadari bahwa sesuatu yang sedih kembali mampir ke mata Yoongi, namun pegangan di pinggangnya membuat Jungkook kembali menaruh perhatian pada bunga-bunga kecil yang tadi. "Cantik," kata Jungkook, mencoba mengalihkan perhatiannya sendiri dari sensasi tidak nyaman yang menyebar di perutnya.
"Ya," jawab Yoongi. Jungkook mengangkat kepalanya, dari cermin ia melihat pantulan sosok Yoongi yang sedang menatap bibirnya. "Cantik."
Pandangan Yoongi masih pada bibirnya, tangan Yoongi masih ada di pinggangnya, dan hati Jungkook masihlah lemah. Kemudian ia ingat bagaimana Yoongi memanggil-manggil namanya di tengkuknya.
Hyung, apakah kau memimpikan aku?
Mulut Jungkook bekerja lebih cepat dibanding otaknya. "Hyung, apa kau memimpikan sesuatu tadi malam?"
Jungkook bisa melihat Yoongi menelan salivanya, kemudian menghindari tatapannya. "Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Aku lupa. Kenapa? Apa aku melakukan sesuatu yang aneh?"
Tangan yang berada di pinggangnya jatuh, dan perut Jungkook rasanya jatuh lebih keras. Jungkook tidak tahu mengapa ia begitu kecewa, pura-pura tidak mendengar pikirannya yang berbisik keras, Kupikir tadi itu ada artinya. Jungkook menyalahkan hidupnya yang jauh dari kata normal, sehingga ia tidak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini. Rasanya perih, seperti perutnya diaduk-aduk. Satu hal yang ia tahu, ia tidak menyukai perasaan ini.
"Ah.. Begitu.. Tidak, kau tidak melakukan apa-apa."
Hening.
"Kau sudah baikan, hyung? Semalam kau terlihat seperti orang mau mati.." kata Jungkook mencoba merubah topik pembicaraan.
"Jauh lebih baik. Terima kasih, Jungkookie."
Bohong, kata Jungkook dalam hati. Mereka tak mengtakan apapun setelah itu, Jungkook hanya bergumam ketika Yoongi pamit untuk kembali ke kamar aslinya untuk membereskan barang-barangnya.
—.—.—O—O—O—.—.—
Yoongi masih sering bermimpi, namun akhir-akhir ini mimpinya kembali menjadi sebuah potongan-potongan. Mimpinya berisi tentang surat rahasia, bunga-bunga, tentang desahan kecil dan seorang yang cantik di dalam pelukannya. Rasa rindu menyakitkan yang ia rasakan sebelumnya menghilang secara ajaib, moodnya pun ikut berubah menjadi bagus dan dia sangat senang member Bangtan cukup baik untuk memaafkan tingkahnya tanpa meminta penjelasan apa pun.
Sebagai permintaan maaf, Yoongi mulai sering mentraktir mereka makanan, maka dari itu sekarang Yoongi sedang berada di luar ruang latihan Bangtan, baru saja selesai memesan ayam di restoran favorit mereka. Ketika Yoongi kembali ke dalam ruangan, mereka masih saja berisik, menyoraki Hoseok dan Jungkook yang sedang menarikan Russian Roulette.
Secara natural pandangannya mengikuti gerakan Jungkook, melihat senyum cerah di wajahnya, gerakan pinggulnya yang lancar. Lirik yang repetitif dari lagu Russian Roulette secara perlahan terekan di otaknya, tanpa sadar Yoongi ikutan bernyanyi pelan, keojineun heart b-b-beat ppallajineunde..
Saat lagunya berakhir, Yoongi sadar bahwa ia bahkan tak lagi mencoba menyembunyikan tatapannya pada Jungkook. Lagipula, sebenarnya sia-sia juga sih Yoongi menyembunyikannya, karena pada akhirnya ia pasti menatap Jungkook juga.
Akhir-akhir ini, Yoongi menyadari bahwa lelaki di dalam mimpinya dan Jungkook yang ini adalah orang yang berbeda. Jungkook yang ada dalam mimpinya tertawa seperti seorang malaikat sedangkan Jungkook yang ini kedengaran seperti minion. Kadang, Yoongi sampai mendengus ketika ada yang bilang kalau Jungkook punya suara yang lembut (iya, Jungkook punya suara yang lembut saat ia bernyanyi atau saat berbicara, tapi dia masih suka tersedak tawanya sendiri). Suara Jungkook terdengar menyebalkan saat ia merengek ke salah satu hyungnya untuk minta dibelikan sesuatu. Juga, sama menyebalkannya saat ia terlalu berisik. Tapi yang paling menyebalkan untuk Yoongi, adalah bagaimana suara Jungkooklah yang paling membuatnya bersyukur telinganya bisa mendengar.
Seokjin dan Namjoon memasuki ruang latihan dengan tangan yang penuh dengan minuman kaleng. Taehyung adalah orang pertama yang melihatnya, juga orang pertama yang berteriak sambil berlari untuk mengambil satu kaleng. "Aku sudah pesan pizza. Kalian tunggu saja." Kata Seokjin, tapi Taehyung malah cemberut, "Padahal aku maunya ayam."
Meskipun Taehyung itu menyebalkan, Yoongi memutuskan bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk memberitahu mereka, "Hyung juga sudah pesan ayam."
Mendengar itu, Jungkook yang baru saja menghabiskan minumannya berteriak menggoda, "Whoaaa, bangtan oppadeul saranghaeyo~~~!"
Setelah di suatu fanmeeting di mana Jungkook berteriak seperti itu di hadapan orang banyak, itu menjadi aegyo yang paling sering ia lakukan akhir-akhir ini. Kadang sebal rasanya melihatnya, tapi sekarang ini, dengan wajah yang cerah gembira, Yoongi mengerti kenapa fansite noona Jungkook selalu bercanda menawarkan kartu kredit mereka setiap Jungkook beraegyo.
Yoongi nampaknya terseyum atau melakukan hal bodoh sejenis— karena Hoseok dan Jimin tiba-tiba berada di sebelahnya, aura jahil terasa saat Hoseok memanggil Jungkook dengan mengatakan, "Jungkookie, sepertinya ada yang senang di sini."
Jimin menyeringai bak raja dunia saat Jungkook melihat ke arah mereka dengan pandangan bertanya, "Jungkook-ah, panggil dia oppa."
"Kenapa? Yoongi-oppa. Begitu?" Kata Jungkook acuh.
Melihat reaksi Yoongi, Jimin tertawa terbahak-bahak— bergulingan di lantai. Yoongi sendiri bisa merasakan pipinya memanas karena malu. Hoseok yang setengah menjerit, setengah tertawa, masih sempat-sempatnya meledek Yoongi, "Ya ampun Yoongi-hyung benar-benar gelagapan!" Perkataan Hoseok mencuri perhatian semua member yang lain. Tiba-tiba Hoseok bersemangat, "Yah! Ayo main game. Yang kalah harus bayar."
"Game apa?" tanya Taehyung, kelihatan begitu pensaran kenapa Jimin ada di lantai, dengan posisi satu tangan memegang perut dan satu tangan menghapus air mata.
"Of Course Game-nya Kookie dan Yoongi-hyung."
Dibandingkan dengan Hoseok, tiba-tiba Yoongi merasa lelah. "Kok game begitu sih?"
"Ayolah! Pasti seru lihat kalian berdua saling bikin gelagapan satu sama lain. Bagaimana kalau yang lain ikut bertaruh? Kita juga ikut bayar kalau kita kalah."
Namjoon yang senang karena Yoongi tidak lagi marah-marah tidak jelas langsung setuju akan ide Hoseok, "Aku bertaruh pada Yoongi-hyung." Yoongi mendelik padanya, "Duh Namjoon—"
Jimin kemudian berkata, "Aku Jungkookie."
Yoongi tak bisa berkata-kata saat Jin dan Taehyung ikut bergabung, keduanya memegang bahunya, memijitinya, memukul-mukul punggungnya, dan memberitahunya bahwa bagaimana pun ia harus menang. Melihatnya, Jungkook mengernyitkan alis. "Kenapa kalian semua memilih Yoongi-hyung?" Hoseok mendekatinya, tertawa, "Aku juga pilih Jungkook." Katanya sambil berhigh-five dengan Jimin.
"Kalau begitu aku mulai—" Belum juga Jungkook menyelesaikan kalimatnya, Yoongi sudah menyerang duluan, "Kau lebih suka menarikan lagu girlgroup dibandingkan lagumu sendiri, ya kan?"
Lucu sekali rasanya melihat mata Jungkook yang membara. Jiwa kompetitif yang Jungkook miliki muncul dalam sekejap. "Tentu saja." Katanya mantap, kemudian langsung balas menyerang. "Kau lebih suka melihatku yang menarikan lagu girlgroup dibandingkan melihat girlgroup sungguhan, ya kan?"
"Tentu saja. Kau mau kami memanggilmu baby, ya kan?"
Rona kemerahan singgah di pipi Jungkook meski pun jawaban yang keluar dari mulutnya terdengar percaya diri, "Tentu saja!"
Jungkook kemudian melirik Hoseok dan Jimin sebelum akhirnya menyerang kembali, "Oppa, apa kau mau menciumku?"
Kau yang memulai ini, Jeon Jungkook."Tentu saja. Kau mau dicium di mana, baby boy? Di bibirmu?"
Rona merah di wajah Jungkook terlihat semakin kentara, "Te— tentu saja. Mimpi basahmu tentang aku yang memakai rok, ya kan, oppa?"
Yoongi bangga dengan dirinya sendiri yang tidak terguncang dengan semua ini. "Tentu saja, baby."
Yoongi baru saja ingin balas menyerang ketika Hoseok mengerang frustasi, "Duh, kalian membuat game ini jadi hal yang aneh!"
Yoongi menyeringai, memuji dirinya sendiri dalam hati. "Kenapa malah kalian yang lebih gelagapan dibanding kami berdua? Makan malam kalian semua yang bayar."
Jimin memprotes kencang mendengar itu, "Hyung kau selalu membuat peraturanmu sendiri!"
Seringaian Yoongi semakin lebar, "Ayolah, nanti baby Jungkookie ku yang manis akan bersedih."
"Aku yang bayar!" Kata Jungkook tiba-tiba. Yoongi terlalu fokus menggoda Hoseok dan Jimin sehingga tak menyadari kalau wajah Jungkook merah sampai ke telinganya. "Aku akan membayarnya, jadi berhentilah mengatakan hal-hal yang aneh."
"Pas sekali, pizzanya sudah datang," kata Jin sambil melempar senyum maaf ke arah Jungkook. Tanpa berkata apa-apa lagi, Jungkook langsung berlari keluar ruang latihan, meninggalkan hyung-hyungnya yang tertawa.
"Kasian baby Jungkook, hyung." Namjoon masih tertawa, dan Yoongi hanya mengendikkan bahunya. "Dia pantas mendapatkan itu," gumamnya, sibuk mengabaikan keojineun heart b-b-beat ppallajineunde di dalam kepalanya, membuang jauh-jauh gambar Jungkook yang sedang menggerakan pinggulnya mengikuti lagu.
—.—.—O—O—O—.—.—
Jungkook meringkuk di sofa, tangannya ia kepalkan menekan perutnya, menghela napas kencang. Setelah kembali ke dorm, semua member langsung tidur. Hanya Jungkook yang sama sekali tidak makan yang tidak bisa tidur, ditambah lagi suara dengkuran Namjoon yang membuat rasa laparnya semakin terasa.
Sebagian dari dirinya melakukan itu karena agensi menyuruhnya untuk menurunkan berat badan, tapi sebagian alasannya adalah karena selera makannya hilang. Sesuatu mengganggu pikirannya, dan dia menghela napas, terus, dan terus, tahu betul kalau helaan napasnya bisa membangunkan seorang hyungnya, terus sampai pintu kamar Jin dan Yoongi terbuka.
Tentu saja, yang keluar adalah Yoongi-hyung. Jungkook tidak tahu dia harus senang ataukah menyesali perbuatannya. Mata Yoongi melirik ke tangan Jungkook yang terkepal, namun Yoongi tetaplah Yoongi, yang ia keluarkan dari mulutnya adalah sebuah protes, "Kenapa kau berisik sekali malam-malam begini, huh?"
Walaupun bahasanya begitu, Jungkook melihat Yoongi mengernyit, dan Jungkook membiarkan dirinya berpikiran kalau raut wajah Yoongi menunjukkan rasa khawatir.
"Perutku sakit." Kata Jungkook pelan, ia tidak bisa menahan suara rengekan kecil yang keluar dari mulutnya. Kalau sebelumnya wajah khawatir Yoongi adalah pikirannya, sekarang Jungkook yakin sekali kalau wajah Yoongi sekarang dipenuhi rasa khawatir. "Tentu saja perutmu sakit. Kau tadi tidak makan apa-apa."
Jungkook gagal membuat Yoongi tetap tinggal, melihatnya dalam diam saat Yoongi kembali dengan membawa roti di tangannya. "Aku harus menurunkan brat badanku." Kata Jungkook, Yoongi mengabaikannya. "Aku akan punya banyak jerawat kalau aku makan roti malam-malam begini." Katanya lagi.
Yoongi tidak mendengarkan, ia malah membuka bungkus rotinya, mendekatkan roti tersebut ke mulut Jungkook. "Ayolah. Makan. Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal semacam itu."
Jungkook sebenarnya lebih dari mampu untuk makan sendiri, tapi ia membiarkan dirinya menikmati keistimewaan ini— sebagai satu-satunya orang yang bisa membuat Yoongi bertingkah lembut (seperti yang sering dikatakan para member). Jungkook menyenderkan kepalanya, membuka mulutnya, menurut.
Seperti dugaan, Jungkook dengan cepat menghabiskan rotinya. Yoongi kemudian mengangkat tangannya untuk mengaca rambut Jungkook, "Lihat dirimu. Kau masih mau makan lagi?"
Melihat senyum Yoongi yang diarahkan padanya, Yoongi yang menunggu jawaban darinya, ia menyadari betapa menyenangkannya berada di dekat Yoongi seperti ini. Ia pun menyadari kalau sesuatu yang mengganggunya pastilah ada kaitannya dengan Yoongi.
"Tidak." Jawab Jungkook akhirnya. Bukan karena ia sudah tidak lapar, tapi karena ia tidak mau Yoongi pergi. Tangan Yoongi masih berada di kepalanya, dan sekali lagi, hati Jungkook itu lemah.
"Bodoh. Kenapa kau bisa-bisanya tidak makan? Lagipula kau juga tidak pernah mendengarkan rencana diet Bangtan."
Jungkook tertawa kecil, menutupi kekhawatirannya, tapi tentu saja, Yoongi selalu tahu. "Sesuatu mengganggu pikiranmu?"
Jungkook mencoba menjawb sebiasa mungkin, "Aku hanya takut, hyung."
"Takut apa?"
Yoongi mengelus rambutnya, dan Jungkook tahu kalau Yoongi sedang mendorongnya untuk bicara. Yang Jungkook tidak tahu, apa yang bisa dia ceritakan di antara semua yang ada dalam pikirannya?
Saat Jungkook frustasi soal nilainya yang jelek di sekolah, Yoongi adalah orang yang memarahinya, tapi dia pula yang menemaninya begadang, memberinya makanan ringan dari waktu ke waktu, memukul kepalanya setiap kali ia ketiduran.
Saat Jungkook datang ke program menyanyi, hanya Yoongi yang tidak mengiriminya pesan semangat, tapi Yoongi lah orang pertama yang meneleponnya ketika ia kalah, tiba-tiba muncul di parkiran, mengatakan pada Jungkook kalau Yoongi telah mendapat izin untuk menjemputnya dari manajer. Jungkook tidak heran kalau pada akhirnya Yoongi mengajaknya makan di salah satu restoran favorit mereka berdua.
Jangan buat Jungkook memulai ceritanya tentang lamb skewers di antara mereka berdua. Itu adalah saat Jungkook mengeluh soal dirinya yang tidak tahu bagaimana rasanya pergi berkencan. Yoongi mendengus kencang, mengatakan padanya kalau kencan hanyalah makan, menonton film dan foto berdua. Tapi setelah itu, Yoongi selalu mengajak Jungkook setiap mereka ada waktu luang, mengambil dompet Jungkook supaya ia tidak bisa membayar, mengajaknya berfoto sambil menggumamkan 'duh anak jaman sekarang'.
Dan sekarang, apabila Jungkook bilang pada Yoongi kalau dirinya ingin mencoba sebuah hubungan, apa yang akan hyungnya itu lakukan?
"Takut apa, Jungkook-ah?"
Takut kalau ia menginginkan lebih.
Elusan lembut kembali terasa di kepalanya, dan jantung Jungkook berdegup kencang. "Jungkookie, kau selalu memberitahu hyung segalanya. Kau tahu kau bisa percaya pada hyung, kan?"
Kau memimpikan apa tentang diriku, hyung? Apa kau berbohong? Atau itu memang tidak penting buatmu? Apa kau mau menciumku? Kenapa kau berhenti? Apa yang kau pikirkan saat itu? Pertanyaan-pertanyaan itu menari di pikirannya, tapi satu hal yang ia keluarkan hanyalah, "Perasaanku." Katanya sambil menelan salivanya. "Aku takut pada perasaanku."
"Apa kau mau menceritakannya?"
Jungkook tak bisa menjawab. Ia benar-benar baru akan perasaan-perasaan kacau ini. Ia tidak tahu apa yang ia inginkan. Jungkook menatap bibir Yoongi, penasaran. Sadar kalau Yoongi sadar ditatapi begitu.
Jungkook tidak yakin apakah ia membayangkannya atau bukan, tapi Yoongi mencondongkan tubuhnya, dan untuk sesaat Jungkook berpikir kalau Yoongi akan menciumnya. Tapi sama seperti saat dulu di kamar hotel— waktu Jungkook pura-pura tidur, Yoongi tidak menciumnya. Tentu saja tidak.
Jungkook tak mampu menjawab ketika Yoongi menepuk kepalanya, "Sudah malam. Jangan tidur di sini," kata Yoongi. Jungkook hanya memandang punggung Yoongi yang berjalan kembali ke dalam kamarnya. Jungkook sangat berharap ia bisa mengejar hyungnya dan memberitahu semuanya. Sejak kapan sih semuanya jadi ribet begini?
—.—.—X—X—X—.—.—
Kamar Yoongi hening, cukup mengobati hari yang panjang dan melelahkan Yoongi. Sebenarnya lelah sekali, semua kelas dan pertemuan yang harus ia hadiri. Tapi saat ia membaringkan diri di kasurnya, senyum langka terlukis di wajahnya.
Dengan pertemuan rahasianya dengan Kim Seokjin, dia akhirnya mendapatkan kesetiaan keluarga Kim. Hal ini membuat keluarga Kim menjadi keluarga berpengaruh terakhir yang bergabung ke sisinya. Pikirannya pun lebih jernih sekarang, semua rencananya berjalan dengan sangat baik.
Yoongi berbaring menyamping, membayangkan seseorang yang menjadi sumber kebahagiaannya. Setelah pertemuan usai, Yoongi menghabiskan banyak waktunya dengan membawa jemarinya menjajaki tanda merah yang ia buat di tubuh Jungkook, memanggil Jungkook boneka cantik, melihat wajahnya memerah lucu.
Ada sebuah lukisan padang hijau di dindingnya dan satu vas bunga lilac di mejanya sekarang. Semuanya dari Jungkook. Mereka sepakat untuk mengekspresikan rasa rindu mereka dengan buga, karena mereka tidak bisa sering bertemu. Yoongi sudah mengirimkan balasannya, mengirimkan kepada Jungkook sebuket bunga gardenia untuk mengatakan padanya kalau ia itu lovely.
Yoongi membiarkan pikirannya tentang Jungkook menemaninya tidur, mencoba untuk tidak terlalu kepikiran soal segalanya yang terlalu indah untuk sebuah kenyataan.
_End of Chapter 4_
