Disclaimer : I don't own Fairy Tail.

Warning : OOC.

This story is mine.


Beauty and The Gallant

Story Four.

- Insomnia Sleeping Beauty


Namaku Lucy Heartfilia, seorang putri kolongmerat ternama di Magnolia.

Aku terkenal sebagai seorang tuan puteri yang anggun, pandai, dan cantik. Mottoku adalah tidak ingin kehidupanku diusik oleh hal-hal bodoh dan sepele. Namun belakangan ini karena suatu kejadian, aku mulai menaruh perhatian pada seorang anak pindahan yang terkenal culun. Harga diriku memang tinggi namun tidak menutup kenyataan bahwa aku mengamati anak itu secara diam-diam. Entah apa yang terjadi padaku, memang. Berkali-kali aku meyakinkan diri bahwa perhatianku padanya hanya didasari pada rasa simpati dan penasaran.

Siapa sangka, kejadian di acara festival sekolah membuatku terang-terangan membela anak culun itu saat ia dijahili dan dipermalukan oleh beberapa orang senior. Entah apa yang aku pikirkan, mungkin aku telah kehilangan kewarasanku.

Itulah yang aku pikirkan saat itu.

Namun tanpa diduga, kejadian setelah itu membuatku melongo, bukan hanya aku tapi seluruh sekolah tepatnya. Ya. Bagaimana tidak, anak yang kami anggap culun selama ini ternyata menyimpan rahasia besar yang bahkan jauh lebih besar dari kacamata yang ia pakai selama ini. Ternyata, anak itu tidaklah culun sama sekali, malah dia adalah murid pindahan asal Amerika dan lebih dari apapun dia tampan.

Ada beberapa alasan yang membuatnya melakukan 'penyamaran', ya salah satunya karena nasihat bodoh yang diberikan kakaknya, namun ada beberapa alasan logis lain yang membuatnya berdandan culun. Alasan-alasan itu hanya aku dan sahabatku, Levy yang tahu. Karena untuk saat ini hanya kamilah 'teman'nya.

Oleh karena itu setelah malam pesta topeng yang membuat anak itu mengungkapkan jati dirinya (untuk mengembalikan citraku juga), aku berkata padanya, "Kurasa kau tidak perlu melanjutkan penyamaranmu lagi karena toh pesta topeng ini sudah berakhir, mmm maksudku karena satu sekolah terlanjur melihat wajahmu jadi tidak ada gunanya kau bergaya culun lagi."

Dan sepertinya Rogue, nama anak itu, mengerti dengan apa yang aku maksudkan.

Sesuai dengan saranku, sehari setelah pesta dan segala kejadian di dalamnya usai, Rogue untuk pertama kalinya datang ke sekolah dengan penampilan yang berbeda. Tidak ada lagi kacamata tebal dan besar yang menyembunyikan mata merah tajamnya, rambutnya sekarang dibiarkan berantakan, dan tak ada lagi kancing yang menyatukan kerah seragamnya. Tampilannya berbalik 180 derajat, karena sekarang ia berpenampilan modis sekali seakan si culun yang ada sampai kemarin adalah seorang alien yang telah mengambil alih tempatnya selama ini.

Makanya tidak heran kini saat aku memasuki ruang kelas, kulihat bangku yang biasanya selalu kosong dan paling dijauhi oleh siapapun kini dikerumuni banyak orang.

Aku mengernyitkan dahi melihatnya, tidak biasanya kelas sehidup ini. Aku bertanya-tanya bagaimana reaksi Rogue menanggapi kebisingan disekitarnya sekarang, mengingat segala usahanya untuk mendapat sedikitnya perhatian, kini pasti ia sedang kerepotan. Aku menyadari seharusnya tak ada yang perlu aku pikirkan saat sekarang tidak akan ada lagi orang yang menjahili anak itu, tapi mengapa aku merasa jengkel dengan kegaduhan ini?

Aku menghela napas dan berjalan tenang menuju bangkuku, merasa tak perlu dan tak mungkin bagiku untuk ikut bergabung dengan kerumunan itu. Namun meskipun aku telah duduk cukup jauh dari sana, suara tawa dan obrolan masih mampu memasuki lubang telingaku. Jelas terdengar olehku omongan para siswi yang memuji penampilan Rogue, berkata bahwa ia lebih cocok berpenampilan seperti itu, dan teriakan mereka memanggil namanya "Rogue-kuuuuun" tanpa menyinggung sedikitpun mengenai sosok culunnya. Sedangkan para siswa yang sekarang terdengar menyapanya dengan akrab, bertanya seputar kehidupannya dan lain-lain.

"Hey, hey, Rogue-kun sangat kereen!" Saat pada akhirnya kudengar kata-kata menjengkelkan itu, aku memutuskankan untuk menutup telingaku. Namun belum sempat aku menempatkan tanganku, satu suara yang sangat familiar berkata, "Apa yang kalian bicarakan? Bukankah kalian masih memanggilnya si culun yang pemurung dan melihat rendah padanya sampai kemarin!?"

Aku menolehkan kepalaku ke arah mereka saat aku yakin bahwa itu suara Levy, kemudian aku melihat beberapa siswi protes, "Ada apa dengan itu, Levy?"

"Keren adalah kebenaran, itu adil!"

"Ya! Jika dia sekarang tampan, maka biarkanlah. Yang berlalu biarlah berlalu, hihi." Jawab salah satu siswi dengan senyum polosnya, lalu ia berbalik kembali pada kerumunan yang mengelilingi Rogue.
"Hey, hey, bukankah itu kejam!" Ucap Levy masih protes, "Lagipula, jangan mencoba dekat-dekat de-"

"Ssssh, Levy-chan tidakkah kau lihat mereka tidak akan mendengarmu saat sibuk berteriak seperti itu." Aku menepuk bahu Levy, sedetik kemudian ia menoleh.

"Tapi Lu-chan, mereka keterlaluan!" Levy melanjutkan protesnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah kerumunan.

Aku mengikuti arah telunjuk Levy dan menatap kumpulan siswa itu, "Ya, mereka berisik." Aku mengambil beberapa langkah mendekat dan berkata pada kerumunan tersebut. "Bisakah kalian lebih tenang? Guru akan datang kemari jika kalian terus ribut seperti itu." Kuakhiri dengan senyuman.

"L-lucy." Kulihat gadis-gadis itu terkejut saat melihatku, dan wajah mereka memerah. Mungkin pikiran mereka mengulang ingatan tentang kejadian kemarin saat mereka dengan jelas menertawakanku.

Para siswa pun sama memerahnya entah karena malu atau terpesona, oleh karena itu salah satu dari mereka berkata, "Y-ya, yah Lucy-san benar, kita tidak mau ada guru yang datang sepagi ini kan? Lebih baik kita, mmm kalian jangan berkerumun."

Aku kembali tersenyum pada mereka lalu mereka segera sibuk membubarkan diri dengan persetujuan.

"Geezz mereka hanya mendengarmu, Lu-chan!" mendengar kejengkelan Levy aku hanya terkikik, lalu kusadari bahwa Rogue sedang memandang ke arah kami, ia tersenyum, padaku?

Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku, dan berbalik pada Levy sambil menarik bahunya, "Ayo Levy-chan! Kau harus cepat menyimpan tasmu!".

Levy sedikit memprotes namun ia tidak melawan setelah ia menggumamkan beberapa kata pada Rogue seperti "Jaga dirimu" dan "Sampai ketemu nanti".

Levy masih terus mengomel dan mengeluh sesampainya ia di bangkunya yang bersebelahan denganku. "Aku hanya kesal, Lu-chan. Belum sampai 24 jam lalu mereka mencibir, mencemooh dan memandang jijik Rogue, terutama gadis-gadis itu! Dan apa yang kutemukan sekarang? Mereka kini berkumpul dan berkerumun dengan lagak sok manis dan sok akrab!" Ocehnya.

"Biarkan saja mereka, kurasa Rogue tidak mengerti ocehan mereka. Lagipula dia terlihat repot dan kebingungan." Ucapku masih menjaga ketenangan.

Kulihat Levy mengangkat alis, "Memangnya kau tidak kesal?"

"Aku kesal dengan sikap pilih-pilih dan diskriminasi mereka."

"Bukan itu maksudku, Lu-chan. Lihatlah sekarang banyak gadis yang akan mendekatinya."

"Dia akan bisa mengatasinya, Levy-chan. Kau tak usah berlebihan memikirkannya."

"Ah, Lu-chan kau sama sekali tidak peka!"

Aku melihat Levy menggembungkan pipinya dan menyibukkan dirinya pada sebuah buku tebal yang sekarang telah digenggamnya. Levy sangat peduli pada orang lain, namun aku tak menyangka dia akan sepeduli ini bahkan setelah dipastikan bahwa Rogue tidak akan dipermalukan lagi.

Aku tidak pernah berbicara dengan Rogue lagi. Aku tidak merasa perlu untuk berbicara padanya, juga tidak merasa mempunyai urusanya dengannya. Dia jarang terlihat sendirian lagi meski tetap tidak banyak bicara. Setiap kali aku melakukan kontak mata dengannya, dia selalu tersenyum padaku dan aku hanya memalingkan mata dengan terburu-buru.

Suatu hari saat aku datang terlalu pagi, kupikir tidak akan ada siapun di kelas. Namun Rogue telah berada disana dan sedang membereskan kursi ketika aku masuk. Aku terkejut, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saat itu kusadari bahwa meskipun penampilan luarnya telah sangat berubah, namun di dalam dirinya ia masih orang yang sama dengan si culun itu. Sifatnya yang baik hati, dan sikapnya yang tetap tenang. Orang lain mungkin tidak akan menyadarinya.

Untuk pertama kalinya setelah malam pesta dansa itu kami berbicara. Bukan pembicaraan penting dan spesial memang, karena dia masih tetap sedikit bicara dengan kosa kata yang terbatas. Meski aku sudah terbiasa berbicara dengan sopan sesuai tata bahasa, namun aku tidak biasa berbicara keras, lambat dengan ejaan baku. Aku merasa bodoh.

Karenanya aku memberikan saran padanya "Kau harus sering berkomunikasi dengan orang lain agar kau mulai terbiasa dengan bahasa disini, juga itu akan membantumu untuk beradaptasi. Kurasa mereka akan paham jika bicaramu masih kaku." Sesaat setelah itu Levy memasuki ruangan, dan aku merasa terselamatkan.

Seminggu berlalu dan benar saja kata Levy, gadis-gadis terlihat lebih berisik dari biasanya dan menghabiskan banyak waktu untuk membicarakan anak yang sekarang sangat populer semenjak debutnya di pesta dansa itu. Hal bagus jika dia sekarang populer, in the good way. Tapi kenyataannya adalah sosok si culun yang pernah digunjing satu sekolah kini seakan tertelan bumi. Aku merasa tidak mempunyai urusan lagi dengannya. Sekarang dia populer, dan akan baik-baik saja. Aku tidak perlu merasa simpati dan iba lagi terhadapnya, lalu mengapa aku masih memperhatikannya?

Aku memperhatikan bahwa Rogue mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan padanya, sehingga membuatnya tidak terlalu kaku. Kurasa ia mendengarkan saranku lagi, namun sebagai gantinya sekarang ia lebih banyak dikerubungi para siswa. Karenanya suatu saat di kelas kerajinan tangan, aku melihat kebanyakan gadis berkumpul disekelilingnya, berebut mengajarinya cara menjahit atau menyulam. Anak laki-laki yang berkumpul disana juga tampak antusias, aku heran karena jarang sekali anak-anak itu mau mengikuti kelas ini.

Sekali lagi aku menemukan diriku sedang memperhatikannya yang sedang kebingungan merapikan gumpalan benang yang kusut. Karenanya aku tidak menyadari saat jariku tertusuk jarum, mengeluarkan darah hangat yang mengucur melalui telapak tangan. Saat itu juga Levy panik meski aku bilang ini hanya masalah sepele namun dia malah meledekku, tidak biasanya aku ceroboh sampai tertusuk jarum karena aku sangat mahir menyulam.

Lalu Levy dengan imajinasinya yang biasa, tiba-tiba semangat bercerita tentang kisah Putri Tidur yang terkena kutukan karena jarinya tertusuk jarum sehingga mengalami tidur panjang selama 100 tahun. Menggodaku jika saja aku akan mengalami kutukan itu karena Auora, nama putri dalam kisah itu memiliki banyak kesamaan denganku termasuk rambut kami yang sama-sama blonde dan kami berdua adalah tuan putri. Dan ia bertanya-tanya siapa pangeran yang akan membangunkanku dari tidurku. Aku memelototi Levy saat itu juga dan dia segera berhenti berkhayal meski tetap cekikikan.

Siang hari setelah aku kembali dari Ruang Kesenian, aku melihat beberapa gadis menggerutu. Penasaran, aku menelusuri pandangan mereka, dan disanalah aku melihat Rogue sedang berdiri tepat disamping seorang gadis. Aku ingat pernah bertemu dengan gadis itu saat perkumpulan komite kelas. Dia berasal dari kelas lain, mengapa dia ada disini?

Dengan berbisik, kudengar seorang gadis mengeluh, "Gadis paling populer dari kelas 2-5, Yukino Aguira. Apa dia mengincar Rogue-kun?" Jeda sebentar lalu ia melanjutkan "Tapi, dari penampilan luar keduanya terlihat cocok satu sama lain."

"Memang, keduanya terlihat tenang, begitu dewasa." Sambung gadis lain.

"Ne, ne, tapi bukannya Rogue-kun bersama Lucy? Kita semua melihat mereka berdansa bersama." Sela gadis ketiga.

"Itu belum pasti, kita tidak pernah melihat mereka bersama lagi. Lagipula, aahhh jika gadis seperti Yukino muncul, ia bisa menandingi Lucy. Kurasa Rogue-kun juga akan bingung."

Tidak terasa aku berdiri cukup lama dekat daun pintu, dan rupanya mereka belum menyadari keberadaanku yang sedaritadi berdiri di belakang mereka.

Jadi selama ini anak-anak itu mengira aku dan Rogue mempunyai hubungan? Oh yang benar saja. Memang selama ini tidak ada yang mengomentari kejadian di pesta itu saat kami datang dan berdansa bersama, tapi kukira, seperti halnya keberadaan si culun yang telah ditelan lautan, kupikir kejadian di pesta dansa itu –terkecuali terbukanya topeng Rogue- telah sama-sama terkubur di dalamnya lautan.

Suara rengekan gadis-gadis itu membangunkanku dari lamunan, sadar bahwa daritadi aku menatap ke arah Rogue dan gadis yang bernama Yukino itu. Kesal. Jengkel. Kedua kata tersebut yang muncul dibenakku saat itu. Entah kesal karena aku melihat Rogue sedang didekati oleh gadis baru, atau jengkel karena selama ini gadis-gadis itu menggosipkanku dengan Rogue, aku memalingkan muka dan berjalan melewati mereka menuju ke bangkuku. Menegaskan dirikku bahwa tidak ada yang harus dipikirkan dan dikhawatirkan.

Malamnya, meski telah berjam-jam aku duduk di meja belajar tapi tidak satupun soal yang aku kerjakan.

Aku duduk sambil menggigiti pensilku dan tangan menopang daguku. Moodku belum membaik menunjukkan bahwa aku masih kesal akan sesuatu. Gadis-gadis itu yang berteriak dan menggerutu dan merengek dan mengeluh membuatku kesal. Ada yang salah, biasanya aku hanya jengkel pada siswa-siswa yang terus-terusan mengejarku, dan tidak peduli dengan kebisingan para siswi.

Terutama saat teriakan dan pembicaraan mereka tertuju pada satu siswa populer yang aku kenal sekalipun, aku tidak peduli. Lalu aku menimbang-nimbang, siapa yang membuat gadis-gadis itu lebih berisik dari biasanya?

Oh iya, Rogue. Anak itu yang sekarang mendadak populer. Anak yang tadi siang kulihat berduaan dengan gadis berambut pendek berwarna silver itu. Lalu memangnya kenapa kalau mereka berduaan, Lucy? Apa yang kau pikirkan?

Aargh.

Aku mengacak rambut blondeku, saat kusadari jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Mata cokelatku melebar. Apa yang kulakukan daritadi sehingga aku tidak menyadari malam sudah selarut ini?

Dengan cepat aku turun dari kursi dan menyalakan lampu tidur lalu bergegas menaiki tempat tidur sambil menarik selimut untuk menutupi seluruh badanku sampai kepala. Kucoba memejamkan mata namun kantukku tidak segera menjemputku menuju alam mimpi, sehingga aku kembali membuka mata. Kini kulihat cahaya remang lampu tidur menerobos selimut yang menutupi wajahku.

Aku tidak mengantuk. Aku tidak bisa tidur. Aku mengulurkan jemariku, mengusap permukaan selimut yang menutupi wajahku dan meregangkannya mundur sehingga memberi ruang untuk hidungku bernapas. Saat itu pandanganku tertuju pada jariku yang dibaluti band-aid berwarna coklat muda polos.

Aku teringat sesuatu. Menurut dongeng yang tadi diceritakan Levy, seharusnya sang putri tertidur panjang setelah jarinya tertusuk, lalu kenapa sekarang aku malah mengalami kesulitan tidur?

x x x

Hari berganti.

Sudah beberapa hari ini waktu tidurku berantakan dan aku hanya bisa tidur selama beberapa jam saja. Beberapa kali Levy bertanya tentang keadaanku karena dia bilang aku terlihat lelah dan menjadi lebih emosional sekarang. Tapi aku terus berkelit dan berkata aku baik-baik saja, hanya kurang tidur.

Dan memang benar aku kurang tidur, sangat kurang. Setiap kali aku melihat Rogue, ada kegelisahan yang timbul. Hal ini bertambah parah saat beberapa kali aku bertatapan dengannya, aku merasa panik. Kali ini Levy datang terlihat marah, mengomeliku yang terlihat jauh dari kata baik-baik saja. Akhirnya dengan mendesah pelan, aku mengaku "Sepertinya aku terjangkit suatu penyakit Levy-chan,"

"Nah! Benarkan kataku, kau tidak sedang baik-baik saja!" gerutunya, "Penyakit apa Lu-chan, beritahu aku?"

"Atau mungkin ini kutukan, seperti yang kau bilang."

"A-apa? Apa maksudmu?" Kagetnya, meski terlihat ada setitik gairah di pupilnya. Levy memang pecinta kisah dongeng.

Melihatnya seperti itu, aku tersenyum pelan, "Bercanda." Sebelum Levy memulai protesnya, aku melanjutkan, "Sulit tidur, sepertinya aku mengidap insomnia."

"Haaaa? Bagaimana bisa? Kau bertengkar dengan ayahmu lagi, Lu-chan?"

"Aku tidak perlu sampai mengalami insomnia jika alasannya adalah itu."

"Hmmm" Levy menopang dagunya, berpikir. "Berarti ini masalah yang lebih sulit." Levy bertanya apakah makanku teratur atau tidak, apakah aku mengalami kecelakaan atau tidak, ataukah megkonsumsi obat-obatan atau tidak. Tentu saja aku menepis semuanya.

Akhirnya Levy menyimpulkan, "Berarti yang tersisa adalah faktor psikis! Lu-chan apa kau mengalami depresi?"

"Tidak."

"Mimpi buruk?"

"Tidak."

"Sudah pergi ke dokter?"

"Tidak."

"Kau seharusnya pergi!"

"Dokter apa, psikiater?" Aku menghela nafas lemah, "Levy-chan, aku tahu bahwa insomnia disebabkan permasalahan psikologis, tapi aku tidak merasa ada yang salah dengan pikiranku dan aku tidak memiliki gangguan jiwa, paham?"

"Tapi pasti ada alasannya! Kau baru mengalami insomnia sekarang kan?" Aku mengangguk lalu ia melanjutkan, "Katakan apa akhir-akhir ini ada yang mengganggu pikiranmu?"

"Kurasa ini hanya karena perubahan lingkungan. Kelas menjadi semakin berisik semenjak kedatangan sosok asli Rogue, aku tidak bisa fokus di siang hari, tapi malam hari pun aku terkena efeknya."

"Lu-chan, jangan bilang kau terganggu karena memikirkan Rogue?" Pemahaman tiba-tiba menyertai Levy.

"Hah? M-mungkin." Aku mengaku.

"Apa kau menyukainya?" tanya Levy tiba-tiba, entah datang dari mana.

"Apa?!" aku tersentak dengan pertanyaan itu.

Aku memang tidak tahu mengapa diriku memikirkan Rogue seperti ini, berkali-kali aku berpikir bahwa rasa simpatiku sebelumnya adalah didasari oleh rasa iba. Aku terus meyakinkan diriku bahwa anak itu tidak akan mendapat masalah lagi. Sekarang dia telah dikelilingi banyak orang, dan tampaknya dia sudah mulai mengalami kemajuan dalam berkomunikasi sehingga jarang sekali ia terlihat sendirian. Karenya tidak mungkin anak kelas 3 atau siapa pun punya kesempatan untuk menjahilinya lagi. Namun sepertinya bukan lagi hal itu yang kukhawatirkan sekarang, karena saat ia tidak mempunyai masalah lagi dengan hal itu, mengapa aku masih merasa gelisah dan memikirkannya?

"Oh ya ampun, tentu saja kau menyukainya. Awalnya aku kaget saat kau menyetujui datang ke pesta itu untuk menolongnya, apalagi mendengarkan saranku dan repot-repot menyamar, memangnya kau pikir aku tidak menyadari kalau diam-diam kau memperhatikannya?"

"Aa- kau tahu?"

"Tentu saja, kau melindunginya saat dia dibully dan tanpa pikir panjang menariknya keluar. Lalu kau berdansa dengannya saat ia berubah menjadi seorang pangeran!"

Astaga, sejelas itu kah sikapku sampai Levy dengan mudahnya menyadari?

"Aku hanya . . merasa kalau dia anak baik. Bukan berarti aku menyukainya Levy-chan." Koreksiku.

"Kau menyukainya Lu-chan, jujur padaku. Kau tidak bisa tidur karena terus-terusan memikirkannya, dan kau marah karena gadis-gadis mendekatinya."

Kuakui Levy benar, aku merasa sedikit menyesal saat menyuruh Rogue membuka topengnya dipesta dansa itu, juga saat memberinya saran bahwa dia harus banyak berinteraksi dengan orang lain. Aku kesal saat gadis-gadis bersorak dan memanggil namanya, khawatir karena sikapnya yg terlampau baik akan disalahgunakan mereka. Dan pikiran-pikiran ini terus berlanjut menguasaiku, sehingga aku mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi pada hal lain.

Tapi, aku menyukainya?

"M-mana aku tahu, aku belum pernah menyukai seseorang." Jawabku, kali ini rasanya wajahku panas.

"Lihat mukamu merah!" Levy menyeringai, namun sedetik kemudian ekspresinya berganti serius. "Kau harus mengaku pada dirimu sendiri bahwa kau menyukainya, jika kau ingin sembuh dari insomniamu."

"A-apa hubungannya?

"Jangan salah, itu termasuk pada salah satu terapi psikis. Kau tidak boleh menyangkal perasaanmu sehingga pikiranmu bisa tenang."

"Hmmm?"

"Aku iri padamu! Aku tidak percaya akhirnya kau memiliki ketertarikan pada seorang pemuda. Kau bahkan tidak menyadari bahwa kau sedang jatuh cinta! Ah, manis sekali~" Kali ini dia benar-benar mengejekku sambil menyeringai puas.

"Yaah, lalu apa yang harus aku lakukan?" kataku menyerah.

Levy menepuk-nepukan jari ke dagunya. "Aku tidak tahu, aku belum pernah mengalami penyakit sepertimu"

Well, tadi Levy memaksaku menceritakan apa yang terjadi padaku, tapi setelah aku menceritakan semuanya dan setelah akhirnya kami menemukan alasan dibalik insomniaku, dia malah berkata tidak tahu dan tidak memberi solusi sama sekali. Lalu dia pergi sambil berjanji akan menemukan jawabannya setelah ia mendapatkan dan membaca buku yang tepat tentang ini.

Aku merasa lelah akibat kurang tidur dan aku tidak tahan berada di kelas yang berisik sambil terus-terusan merasa cemburu –rasa kesal yang kali ini kuakui sebagai rasa cemburu- sehingga saat bel istirahat berbunyi aku memutuskan untuk mencari udara segar dan tidak mengikuti kelas pada jam pelajaran ketiga.

Aku sedang bersandar di dinding sebuah lorong, menikmati kali pertamaku membolos saat kudengar seseorang memanggilku, "Lucy?"

Aku segera menoleh saat aku yakin bahwa itu adalah suara Rogue.

"R-rogue? Kenapa kau ada disini?" kepanikan seketika menghantamku, jantungku berdegup kencang. Namun tetap aku menemukan secercah kebahagiaan saat melihatnya meskipun ditengah panik.

"Kemarin Levy terus mengeluh karena kau terlihat sakit. Lalu kau tidak ada di kelas makanya aku mencarimu."

"M-mencariku? Kenapa?"

"Aku . . berharap bisa menolongmu."

Aku sempat terdiam, lalu terkikik kecil, "Terima kasih, Rogue."

Aku tidak tahu pertolongan apa yang akan diberikannya, karena sejak awal dialah sumber penyakitku. Mungkin hanya perasaanku tapi wajahku terasa panas. Spontan aku meletakkan tangan dipipiku sambil menggigit bibir bawahku.

"Lucy, kau tidak apa-apa?" Seketika itu Rogue melangkah maju, satu lengannya memegang bahuku dan lengan yang lain ditekankan ke dahiku. Rogue mengusap dahiku dengan punggung tangannya. "Kau demam?"

Aku mematung saat itu juga. Melihatku diam Rogue membungkuk dan dengan perlahan wajahnya mendekat ke arahku. Tangan yang tadinya di dahiku kini bergeser sampai menahan belakang kepalaku.

Aku sedikit kaget, belum pernah melihatnya sedekat ini. Ralat. Aku tidak pernah melihat siapapun dari jarak sedekat ini.

Aku tidak tahu apa yang harus aku lalukan, apalagi ketika Rogue menutup matanya, lalu dengan hati-hati ia menempatkan dahinya di dahiku.

"Aneh, badanmu tidak panas." Ia mulai bicara.

Aku bisa merasakan napasnya di wajahku, namun ia segera menjauhkan dirinya dan kembali pada posisi semula. Sambil tersenyum, ia melanjutkan, "Padahal wajahmu merah." Terpancar kebaikan yang selama ini kusaksikan disana.

Anehnya, melihat senyumnya membuat segala ketegangan dan panikku pergi saat itu juga. Aku kembali tenang. Sambil membalas senyumnya, aku berkata, "Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong bicaramu sudah lebih baik sekarang."

"Ya, aku mengikuti saranmu. Aku berhutang banyak padamu Lucy, karenanya saat ini aku ingin membantumu. Aku mengetahui seseorang yang memiliki toko obat tradisional, katanya ramuan ini akan membantumu mengembalikan staminamu."

Rogue mengulurkan sebotol minuman yang di dalamnya terdapat fluida berwarna coklat susu. Aku menatap botol tersebut, kemudian teringat pada nenek tua dan wanita paruh baya dari toko obat tradisional kuno yang dulu pernah ditolong Rogue. Mungkinkah minuman ini diperolehnya dari sana?

Melihatku diam menatap botol tersebut, Rogue menambahkan, "Mungkin kau tidak akan suka, tapi ini baik untuk kesehatan jadi kupikir bisa membantu."

Aku segera meraih botol tersebut, mana mungkin aku menolak pemberian nenek dan ibu dari toko obat tradisional itu, toh dari merekalah pertama kali aku mendengar cerita tentang pemuda didepanku ini.

"Tentu saja aku akan meminumnya, terima kasih. Tapi," aku berhenti sejenak "Kau tidak usah khawatir karena aku sudah tidak apa-apa. Kebetulan aku baru saja menemukan obatku." Aku tersenyum padanya.

"Benarkah? Syukurlah." Ia terdengar lega. "Kalau begitu kau seharusnya beristirahat di ruang kesehatan."

"Tidak, tidak. Lebih nyaman disini lagipula aku sudah jauh lebih baik." Tolakku.

Aku tidak berbohong, bersama dengannya sekaligus mengetahui bahwa dia mengkhawatirkanku saja sudah membuatku sangat lebih baik. Seperti saat di pesta dansa itu, aku merasa nyaman bicara dengannya. Aku sama sekali tidak lagi gugup, kurasa obat yang baru kutemukan ini manjur. "Mmmm, Rogue?"

"Ya?" sekali lagi ia menatapku dengan manik merahnya, membuat detak jantungku terdengar dua kali lebih keras.

"Mau menemaniku? Kurasa kau juga sudah berniat membolos." Tanyaku dengan suara lebih keras dan lebih lambat.

Dia tertawa, tawa yang sama seperti yang kulihat saat malam itu kecuali tak ada sapu tangan yang kini menutupi wajahnya. "Tentu saja. Aku lelah karena diikuti dan ditanyai sepanjang hari. Ngomong-ngomong kau benar akan baik-baik saja?"

Dalam hati aku membatin, tentu saja aku akan baik-baik saja. Lalu sambil tersenyum innerku berbisik lagi, 'Karena kaulah obatnya, Rogue.'

Begitulah sisa siang itu kuhabiskan dengan melakukan terapi pikiran, yakin bahwa insomniaku akan sembuh karena obatnya kini tepat berada dihadapanku.

-TBC-


Story status : Pending, work on progress.