=Meanie=

Mingyu X Wonwoo

The cute couple ever

.

.

4. Moment

.

.

Musim gugur, 2008

Mingyu menjauh dengan ekspresi Wonwoo yang masih terdiam, rasa kantuknya hilang tak berbekas, dan jantungnya berdemo sekarang, wajahnya dia alihkan, tidak ingin menatap Mingyu yang sejak tadi menatapnya. Dia gugup, bahkan sekedar untuk menatap Mingyu.

"Hyung?" Mingyu buka suara, menatap lurus ke arah Wonwoo yang terdiam. "Kau baik-baik saja?" Tangan Mingyu terulur, menyentuh pundak Wonwoo dengan lembut.

Wonwoo masih diam, matanya mengerjap beberapa kali dengan polosnya.

"Hyung!" Suara Mingyu meninggi, menatap Wonwoo dengan tatapan khawatir kini. Kedua tangannya terulur, menyentuh kedua sisi pundak Wonwoo dan menuntunnya untuk menatap Mingyu. "Apa aku melakukan kesalahan?"

Wonwoo menggeleng, mngerjap pelan menatap Mingyu yang panik didepannya. Wajahnya yang terlihat bingung benar-benar membuat Mingyu khawatir. Bibir merah Wonwoo yang sedikit membengkak dia gigit, menatap Mingyu dengan tatapan, yang jujur saja membuat Mingyu kehabisan akal.

"Aku menyakitimu? Maafkan aku-" Wonwoo menggeleng bahkan sebelum Mingyu menyelesaikan ucapannya. Mata hazelnya menatap Mingyu dengan tatapan bingung.

"Yang tadi ciuman?"

Mingyu mengangguk polos, menatap tidak mengerti wajah tampan Wonwoo.

"Menggunakan lidah?"

"Err~" Mingyu bingung menjawab apa, tangannya terangkat dan menggaruk kepalanya salah tingkah. "Kau membuatku lepas kendali, Hyung." Wajahnya memerah, membuat Wonwoo yang tadi bertanya ikut merasa malu. "Maafkan aku membuatmu tidak nyaman."

Wonwoo lagi-lagi menggeleng, menundukkan wajah tampannya dengan cara yang sangat menggemaskan. "Itu ciuman pertamaku."

Mingyu kehabisan kata-kata, kedua tangannya yang kaku membuktikan bahwa dia gugup, teramat gugup dengan ekspresi Wonwoo yang lagi-lagi terlihat sangat polos didepan sana. Kemana Wonwoo yang selalu berwajah datar? Jangan berekspresi seperti itu, karena Mingyu benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana.

"Kau menyesal?" Mingyu bertanya takut-takut, takut pada jawaban Wonwoo yang tidak menyukai tindakan spontanitasnya, salahkan Wonwoo yang menciumnya duluan tadi, meski hanya dikening. Tapi jantungnya sudah merespon dan membuatnya sontak terbangun. Melihat Wonwoo ada dihadapannya, tentu saja membuat Mingyu hilang akal, ingin mencicip bibir manis didepannya.

"Kenapa kau menciumku?" Wonwoo bertanya, dengan mata yang menatap lurus pada wajah tampan Mingyu yang gugup.

"Aku tidak tahu." Jawaban Mingyu membuat alis Wonwoo terangkat, "Aku tidak tahu, Hyung. Ketika kau mendekat, mencium keningku, aku sudah hilang kendali. Yang ada dalam pikiranku hanya menciummu saat itu juga, seperti yang sudah aku lakukan."

"Kau menyesal?" Wonwoo balik bertanya. Mengabaikan fakta bahwa matahari mengintip malu-malu dari arah Timur dan menyinari kedua wajah mereka yang sama-sama pucat dan gugup.

"Tidak." Mingyu tersenyum dengan manis. Tangannya menggenggam tangan Wonwoo yang bebas dengan lembut. "Itu ciuman terbaik yang pernah aku lakukan, dan aku tidak pernah lebih bahagia dari ini."

"Kau pernah melakukannya sebelum ini?"

Mingyu terdiam, menatap salah tingkah wajah tampan Wonwoo yang kini menatapnya dengan eskpresi kembali datar, membuat Mingyu tahu bahwa dia salah menjawab. "Dulu aku sering bermain, hyung. Jauh sebelum kita bertemu."

Wonwoo mengangguk, tahu bahwa dia tidak bisa menyalahkan Mingyu. Dan kenapa dia harus menyalahkan Mingyu? Toh dia menyukai apa yang Mingyu lakukan. Tapi Wonwoo menyerah, dia benar-benar tidak suka saat mengetahui bahwa Mingyu pernah melakukannya dulu, dan itu bukan dengan dirinya. Eh,

"Maafkan aku." Mingyu buka suara, menatap wajah datar Wonwoo dengan tatapan kalut yang jelas-jelas terlihat. "Aku tidak bisa memutar waktu kembali, hyung. Untuk membuat ciuman pertamaku kembali dan memberikannya padamu-"

Wonwoo diam, menatap tak mengerti ekspresi serius yang menghias wajah tampan Mingyu, satu hal yang membuat hatinya terasa hangat. Mingyu mengerti apa yang dia pikirkan tanpa Wonwoo harus mengatakannya.

"Maafkan aku, aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan bertemu denganmu suatu saat nanti, orang yang berhasil membuatku sadar bahwa apa yang dulu aku lakukan salah." Mingyu menunduk, dan Wonwoo bisa melihat bahwa namja tampan itu kalut. "Aku memang pernah melakukannya dulu, dengan orang-orang yang bahkan tidak bisa aku ingat. Tapi yang pasti aku tidak merasakan apapun, seperti apa yang aku rasakan padamu."

Wonwoo tersenyum kecil, menggeleng sebagai jawaban. Tangannya terulur, mengacak poni Mingyu yang sudah berantakan sejak tadi. "Terima Kasih sudah memberikan ciuman pertamaku."

Mingyu terpesona, menatap wajah menggemaskan dihadapannya. Hanya Wonwoo satu-satunya orang berwajah datar yang tetap terlihat menggemaskan dimatanya.

"Aku berjanji, hanya kau satu-satunya orang yang akan Kucium sampai kapanpun mulai detik ini juga."

Wonwoo mengerjap bingung, tidak mengerti saat hatinya bergetar karena rasa hangat. Matanya mengerjap lembut menatap tangan Mingyu yang menggenggam tangannya dengan hangat. Ada yang salah, Wonwoo merasakannya. Namun dia tidak tahu apa yang salah dan mengapa, dia hanya bahagia ketika Mingyu menjanjikan hal itu, meski Wonwoo ragu Mingyu akan menepatinya, tapi dia tetap bahagia, hanya begitu saja.

"Mendekat-" Mingyu bingung, namun dia tetap menurut dan mendekati Wonwoo, terdiam saat mendapati tangan mungil Wonwoo kini melingkari lehernya, memeluknya dengan erat. "Apapun itu, terima kasih."

Mingyu mengangguk lirih, mengangkat tangannya yang bebas untuk mengacak rambut Wonwoo dengan lembut. Satu hal yang Mingyu tahu hari ini, bahwa Wonwoo menyayanginya namun tidak bisa mengekspresikannya dengan baik. Hanya itu, namun Mingyu sudah teramat bahagia. Bahwa rasa sukanya bukan sebatas asa. Dan ada balasan manis yang dia terima.

.

.

•••

.

.

Mingyu memasuki rumahnya dengan senyum yang masih menghias wajah tampannya. Tangannya melambai membalas sapaan sopan maid-maid keluarga besarnya. Kakinya melangkah dengan ringan mendekati tangga mewah yang menghubungkan lantai satu dan dua rumah mewahnya. Dia teramat bahagia untuk sekedar menutupi ekspresinya yang terlihat begitu nyata.

"Kau dari mana?"

Mingyu menghentikan langkahnya, terpaku di anak tangga keempat. Tangannya mengerat menggenggam pegangan tangga saat suara yang amat dia kenal terdengar. Matanya mengerjap pelan dengan ekspresi dingin kini menghias wajah tampannya. "Kau tidak ingin tahu, Dad." Jawabannya terdengar tak kalah dingin.

"Tatap mata orang yang berbicara denganmu, Kim Mingyu."

Mingyu menarik nafas dengan kasar, berbalik di atas anak tangga dan mendapati ayahnya berdiri kaku tidak jauh didepannya. Wajah tampan ayahnya menatapnya dengan ekspresi dingin, ekspresi yang sudah sejak dulu menghias wajah tampan ayahnya.

"Ada apa?" Mingyu berusaha tenang, melangkah turun hingga mencapai anak tangga terakhir.

"Berkeliaran dari mana saja, kau?"

Mingyu terkekeh, tidak tahan untuk bersikap sopan saat air matanya bahkan ingin keluar karena rasa sakit yang tidak terlihat. "Aku pikir kau tidak akan pernah peduli apakah aku ada dirumah atau tidak, Dad."

"Jaga bicaramu."

Mingyu menganggguk, membungkuk tanpa berniat bersikap sopan. Matanya hanya menatap lurus kedepan, kepada wajah tampan ayahnya yang masih menatapnya dengan eskpresi kaku didepan sana. Mereka berdiam diri, dengan tatapan tidak menyenangkan masing-masing. Memperlihatkan betapa kakunya mereka berdua.

"Sampai kapan kau akan bertingkah menyebalkan, Yun." Sebuah suara mengintrupsi perang dingin mereka, Melangkah pelan mendekati sosok yang dipanggil, Yun. Sosok yang kini menatap wajah tampan dihadapannya dengan eskpresi lembut, ekspresi yang bahkan membuat Mingyu ragu apakah benar itu ekspresi ayahnya yang dia kenal.

Mingyu mengerjap kaku, mencoba mengontrol wajah terkejutnya. Tangannya yang bergetar dia angkat, meletakkannya dengan kaku disisi tubuhnya, menyembunyikan keterkejutannya dari ayah dan orang asing dihadapannya. Orang asing berwajah cantik dengan pakaian kasual yang melekat Indah ditubuh proporsionalnya.

"Boo." Suara ayahnya terdengar lembut, dengan sebelah tangan yang mengacak lembut rambut orang yang dia panggil Boo. Dan Mingyu hanya bisa mematung dengan ekspresi bodoh.

"Hai." Orang itu menyapa lembut, dengan senyum teramat manis menghias wajahnya yang cantik, tangannya terulur mendekati Mingyu yang masih berdiri dengan kaku. "Maaf membuatmu terkejut dengan kehadiran kami."

Mingyu mengerjap, menatap bergantian wajah tampan ayahnya dan orang dihadapannya. Menarik nafas dengan ekspresi datar masih menghias wajah tampannya. Matanya menatap lurus, pada sosok cantik yang masih menatapnya dengan lembut, menghadapi Mingyu dengan sabar meski tangan lentiknya diabaikan oleh Mingyu.

"Bersikaplah sopan, Kim Mingyu."

Mingyu menoleh, balas menatap wajah tampan ayahnya yang melempar tatapan dingin padanya. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum kembali menatap sosok dihadapannya, mengabaikan ekspresi ayahnya dan membalas jabatan tangan tersebut dengan singkat. "Anda siapa?"

Dia masih tersenyum dengan manis. "Kim jaejoong, kau bisa memanggilku Jaejoong."

Mingyu diam, mengangguk pelan lalu berbalik. Tidak ingin melanjutkan suasana aneh yang kini melingkupi mereka. Kakinya baru saja hendak melangkah sebelum suara ayahnya kembali menginterupsi.

"Dia calon Ibumu, jadi bersikaplah dengan sopan."

Mingyu ingin tertawa entah karena alasan apa. Wajah tampannya menoleh, menatap sosok cantik yang baru saja diproklamirkan ayahnya sebagai calon ibunya. Menatap sosok Jaejoong yang terlihat memukul pundak ayahnya dengan lembut. Pukulan sayang yang tergambar secara nyata.

"Kita harus bicarakan semuanya dengan baik, Yun." Jaejoong mengomel, menatap Yunho dengan tatapan mendelik tajam.

"Itu nanti jika Taehyung sudah kembali dari Inggris, kita akan membicarakannya kembali."

Jaejoong masih mendelik tidak terima, menolehkan wajah cantiknya dan terdiam, menatap sendu wajah terkejut Mingyu diatas tangga. Tangannya yang bergetar bisa Jaejoong lihat dengan jelas. Bibirnya tersenyum pilu, merasa bersalah pada sosok Mingyu didepan sana.

"Mingyu-ya." Jaejoong ingin melangkah namun urung, mendesah pelan saat mendapati Mingyu keburu berbalik. Melangkah cepat tanpa memperdulikan wajah sendu Jaejoong dan teriakan Yunho yang dingin.

"Kim Mingyu."

Mingyu menulikan pendengarannya, melangkah keluar meninggalkan rumah mewah yang baru saja dia masuki. Mengabaikan teriakan ayahnya dan wajah sendu wanita cantik yang sebentar lagi akan menjadi ibu barunya. Kakinya ingin berlari dengan kedua tangannya yang mengepal dengan erat.

Mingyu melangkah masuk, membanting pintu mobil silvernya yang tidak bersalah. Menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobil seperti orang gila, mengabaikan raut terkejut para maid yang berdiri disisi mobilnya dan deruman kasar dengan debu yang berterbangan.

Apa yang baru saja terjadi dalam hidupnya yang penuh drama? Tidakkah cukup bahwa ayah dan Ibunya baru saja sah bercerai sebulan yang lalu? Dan sekarang apa? Mingyu tertawa, menertawai kelucuan aneh yang memenuhi hidupnya dalam waktu singkat.

Ayahnya akan menikah lagi? Dengan seorang laki-laki yang sekali lihat saja membuat Mingyu tahu bahwa hubungan mereka bukan sekedar baru bertemu. Mingyu bisa merasakannya dengan jelas, tatapan ayahnya Yang berbeda saat menatap orang yang bernama Jaejoong, sangat berbeda bahkan saat menatap dia dan Ibunya.

"Apakah drama ini akan terus berlanjut sampai aku menyerah?"

Bibir merahnya menyunggingkan tawa sinis, menginjak gas mobil dengan cepat. Menatap jalanan didepannya dengan tatapan menerawang.

Mingyu bisa melihat bahwa ayahnya bahagia, kebahagiaan yang bahkan tidak bisa dia lihat selama 21 tahun dia hidup. Tangannya terangkat, mengacak rambutnya dengan kasar.

Apakah ayahnya harus menemukan kebahagiannya begitu cepat? Apakah kehidupannya sebelum ini sama sekali tidak berarti apa-apa untuknya? Apakah hanya Mingyu yang beranggapan bahwa mereka ini keluarga.

"Aku tidak mengerti."

Suara paraunya teredam oleh hujan yang mengguyur dengan deras, seolah menertawai kisahnya yang ironis. Matanya berkaca-kaca, dengan pikiran yang teramat kalut.

Dia ingin melihat ayahnya bahagia dengan sosok yang bernama Jaejoong, tapi Mingyu tidak siap, tidak secepat itu. Biar dia menata pikirannya terlebih dulu, biar dia merasakannya terlebih dulu, bahwa keluarganya yang dulu sudah lenyap dan menjadi kenangan.

Mingyu tahu bahwa tidak ada kesempatan baginya untuk melihat ayah dan ibunya kembali bersama. Tapi sebagai anak, bukankah dia berhak bermimpi? Memiliki satu keluarga utuh yang benar-benar menyayanginya.

Mingyu menghentikan laju mobilnya didepan rumah mewah yang baru saja dia tinggalkan, tangannya mengapai ponsel yang tergeletak dikursi sebelah. Menggenggamnya dengan erat dan melangkah keluar, mengabaikan suara petir dan guyuran hujan yang langsung membasahi tubuhnya.

Langkah kakinya tidak beraturan, memasuki pekarangan sederhana rumah didepannya, wajah tampannya mendongak, menatap jendela dengan gorden berwarna biru yang tertutup. Matanya mengerjap pelan, menghalau rasa perih saat tetesan air hujan memasuki kedua bola matanya.

Tangannya terangkat, menekan angka satu dan membawa ponsel tersebut ke telinga. Bibir merahnya bergetar, dengan tatapan mata yang masih tertuju pada jendela dengan gorden berwarna biru.

'Halo.' Suara serak yang khas terdengar.

"Hyung." Suara Mingyu bergetar, tangannya terulur dan mengusap wajah tampannya dengan kasar.

'Mingyu kau hujan-hujanan?' Terdengar suara panik dari line seberang.

Mingyu terkekeh. "Aku didepan rumahmu, Hyung."

'Apa?' Suara tidak percaya terdengar, dan yang Mingyu dengar hanya suara pintu yang terbanting, langkah kaki yang terburu-buru dan suara bergedebuk tidak jelas.

Wonwoo muncul saat pintu terjeblak dan terbuka dengan kasar. Baju kaos longgar berwarna biru membungkus tubuh kurusnya yang tinggi. Mata tajamnya mendelik, menatap tajam sosok Mingyu yang basah kuyup didepan sana.

'Apa-apaan kau hah?' Suara sinis Wonwoo terdengar.

Mingyu terkekeh, menjatuhkan ponselnya begitu saja. "Aku lelah, Hyung." Suaranya bergetar hebat, dan hanya sayup-sayup yang Wonwoo bisa dengar dari depan pintu.

Wonwoo melangkah mendekat, mengabaikan hujan yang mengguyur tubuhnya begitu saja. Kakinya melangkah terarah, berjalan mendekati Mingyu yang hanya menatapnya dengan tatapan kosong.

"Bosan hidup?" Wonwoo mendesis tajam, tangan kurusnya terangkat dan menutupi kepala Mingyu, menghalau tetesan hujan yang mengguyur dengan deras. Matanya mendelik, menatap Mingyu yang menatapnya dengan tatapan kosong.

"Aku tidak mengerti, Hyung." Mingyu meracau, melangkah satu langkah mendekati Wonwoo, menghapus jarak diantara mereka.

"Sudah aku bilang jangan mengerti!" Wonwoo berteriak, mengerjapkan matanya yang terasa perih.

Mingyu terisak, membawa kedua tangannya melingkari pinggang mungil Wonwoo yang basah kuyup karena hujan.

"Aku bingung, hyung." Mingyu buka suara, menatap sendu rambut Wonwoo yang berada dalam pelukannya.

Tangan Wonwoo bergerak, membalas pelukan Mingyu dengan erat. "Apa yang membuatmu bingung, hum?"

"Semuanya." Mingyu terisak lirih, mengabaikan air matanya yang menyatu dengan guyuran air hujan.

"Kau memang selalu bingung." Wonwoo berbisik, mengusap rambut basah Mingyu dengan lembut. "Kita bisa mencari jawaban dari kebingunganmu, oke?"

Mingyu diam, memeluk Wonwoo dengan sangat erat. Matanya terpejam, menikmati rasa hangat saat air matanya terjatuh luruh bersamaan dengan air hujan yang mengguyur.

Bahkan dengan pelukan hangat Wonwoo, Mingyu masih merasa dingin.

.

.

•••

.

.

Wonwoo melangkah dengan handuk putih berada ditangannya, kakinya mendekati Mingyu yang hanya mematung disisi tempat tidur, menatap dinding kamar Wonwoo dengan tatapan kosong.

Wonwoo tidak tahu harus bersikap bagaimana, karena sosok Mingyu didepan sana benar-benar terasa asing bahkan untuknya. Tubuhnya yang tinggi hanya duduk dengan posisi tegak tanpa ekspresi. Membuat Wonwoo sadar bahwa ada masalah baru yang kini menghampiri Mingyu. Dan Wonwoo tidak tahu apapun.

"Lihat aku, Gyu." Wonwoo berbisik lembut, memposisikan dirinya didepan Mingyu. Mencoba tersenyum saat mendapati mata hitam Mingyu yang ia sukai kini mendongak, menatapnya dengan tatapan bingung. "Kau baik-baik saja?"

Mingyu menggeleng, mngerjapkan matanya dengan lemah.

Wonwoo diam, tangannya terangkat dan membawa handuk putih ditangannya keatas kepala Mingyu, mengusap rambut Mingyu yang basah dengan handuk. "Kenapa kau selalu merusak tubuhmu saat kalut?"

Mingyu menggeleng sebagai jawaban, tangannya yang sedari tadi kaku diatas tempat tidur terangkat, menyentuh pinggang mungil Wonwoo dengan genggaman erat, membuat kerutan tercipta dibaju Wonwoo yang berwarna biru langit.

"Masih banyak cara lain, kau tahu itu kan?" Wonwoo masih berujar dengan sabar, mengusap rambut basah Mingyu dengan sangat hati-hati. Mengeringkan rambut Mingyu dengan tangannya sendiri dan membiarkan tangan Mingyu bermain dengan pinggangnya.

"Aku lelah, hyung." Suara Mingyu serak, wajah tampannya mendongak dan menatap wajah cantik Wonwoo yang masih menatapnya dengan tatapan teramat lembut.

"Semua orang lelah, Gyu." Wonwoo berbisik, menghentikan gerakan tangannya pada rambut hitam Mingyu yang setengah kering. Matanya menatap Mingyu dengan intens. "Selelah apapun kau, bertingkah bodoh bukan jalan yang tepat."

Mingyu mengangguk, menunduk dengan wajah lemah.

"Aku mengkhawatirkanmu," Wonwoo berujar lirih, menyentuh wajah tampan Mingyu dengan lembut dan menuntun Mingyu untuk menatapnya. "Selelah apapun kau, cukup berteriak padaku tapi jangan menyakiti tubuhmu, aku benar-benar membencinya."

Mingyu diam, menarik tubuh Wonwoo semakin dekat. Wajah tampannya mendekat, menyandar di perut rata Wonwoo yang berada dalam pelukannya. "Maafkan aku, hyung."

Wonwoo menggeleng, mengusap rambut Mingyu yang memeluknya dengan lembut. "Aku tidak ingin maafmu, Gyu. Aku hanya tidak ingin kau menyakiti tubuhmu setiap kali kau merasa lelah."

Mingyu mengangguk tanpa menjawab, merapatkan sisi wajahnya ke perut Wonwoo yang tertutupi kaos.

"Apa yang kau khawatirkan saat ini?"

"Banyak hal." Suara Mingyu teredam.

"Aku bisa mendengarkan semuanya untukmu."

"Bahkan yang terburuk?"

Wonwoo mengerjap, makin mengeratkan pelukan Mingyu pada tubuhnya. Tangannya masih berada di rambut Mingyu, mengusapnya dengan hati-hati. "Bahkan yang terburuk."

Mingyu menarik nafas dengan kasar, memejamkan matanya dengan kalut. "Dia akan menikah lagi dengan orang yang benar-benar dia cintai."

Wonwoo terdiam.

"Aku bisa melihatnya, hyung. Dia benar-benar jatuh Cinta padanya, tatapan matanya bahkan berbeda saat dia menatap Eomma."

Tangan Wonwoo kaku, menahan rasa sakit yang bisa dia rasakan dari cerita Mingyu yang kaku, Mingyu mencoba bersikap biasa-biasa saja meski Wonwoo yakin bahwa Mingyu berada di titik terlemahnya.

"Aku ingin bahagia untuknya, Hyung." Mingyu meracau. "Tapi sekuat apaun, aku tidak bisa melakukannya."

"Kenapa?" Suara Wonwoo parau tanpa dia sadari.

"Aku tidak tahu." Tarikan nafas kasar terdengar jelas dalam Indra pendengaran Wonwoo. "Mungkin aku tidak siap?"

Tangan Wonwoo kembali bergerak, mengusap rambut Mingyu dengan lembut. "Kau tidak menyukai dia?"

"Aku menyukai ibuku." Mingyu terkekeh, terdengar sangat menyedihkan. "Aku tidak ingin ada yang merebut dia dari kami, meski aku sadar bahwa dia sebenarnya tidak pernah berada diantara kami."

"Kau sudah mencoba jujur padanya?"

Mingyu menggeleng, menjauhkan wajah tampannya dari perut Wonwoo dan mendongak, manatap Wonwoo yang juga kini menatapnya. "Dia tidak pernah menyukaiku, hyung."

Mata Wonwoo berkaca-kaca, mencoba menahan rasa sakit yang entah kenapa datang tiba-tiba. "Dia menyukaimu," Suara Wonwoo parau.

"Tidak." Mingyu tersenyum, tangannya terangkat dan menghapus air mata yang entah kenapa menetes diwajah tampan Wonwoo tanpa Wonwoo sadari. "Dia membenci kehadiranku, hyung. Aku tahu dia berusaha menahannya, tapi setiap dia melihatku, aku tahu dia semakin membenciku."

"Kenapa?" Wonwoo terisak.

"Karena dia mencintai orang lain, dan itu bukan ibuku."

Wonwoo tergugu, memeluk Mingyu dengan erat. Bibir mungilnya dia gigit, menahan isakan yang memaksa untuk keluar.

"Terkadang aku benar-benar tidak sanggup, hyung."

Wonwoo diam, tidak mampu mengontrol perasaannya sendiri. Kini malah Mingyu yang menenangkannya.

"Kau tidak sendiri." Suara Wonwoo terdengar parau. "Kau tahu aku selalu disampingmu, bukan?"

Mingyu mengangguk, mengusap rambut hitam Wonwoo dengan sayang. "Kau berjanji tidak akan pergi kan, hyung? Kau janji tidak akan pernah meninggalkan aku kan?"

Wonwoo terdiam, dia ingin berjanji, namun entah kenapa lidahnya terasa kelu.

.

.

•••

.

.

Wonwoo menatap wajah tampan Mingyu yang sedang terlelap, wajah tampannya terlihat pucat dengan mata sembab. Nafas Wonwoo tertarik secara kasar, tangannya terulur dan mengusap rambut Mingyu seperti biasanya.

Dia bersyukur dia sendiri di rumah, dia bersyukur keluarganya sedang keluar kota, karena itu artinya dia bisa bersama Mingyu tanpa mesti takut bahwa Jungkook mungkin akan mengetahuinya.

Bibir tipisnya menyunggingkan senyuman manis, memandangi wajah tampan Mingyu yang terlelap tanpa komentar. Matanya hanya mengerjap, menikmati keheningan yang meliputi mereka.

"Hyung-" Mingyu meracau dengan mata yang masih terpejam.

"Aku disini." Wonwoo menjawab lembut, tersenyum saat mendapati tatapan Mingyu yang terlihat sulit untuk fokus karena rasa kantuk yang masih menyerang.

"Dingin." Suaranya bergetar.

Wonwoo mengerjap mendapati Mingyu menatapnya dengan tatapan sayu, mengambil bantal guling yang menjadi penghalang mereka dan memindahkannya dengan hati-hati.

"Mendekatlah," Wonwoo berbisik lembut, mengulurkan sebelah tangannya yang disambut Mingyu dengan cepat, tubuh tingginya mendekat, mencari rasa hangat dari tubuh kurus Wonwoo yang siap memeluknya.

"Pelukanmu yang paling hangat, hyung."

Suara Mingyu parau, tubuhnya semakin mendekat dan menempel sempurna pada tubuh Wonwoo. Menunduk dan mencari rasa hangat didada Wonwoo yang hanya terlapisi baju kaos berbahan tipis.

"Tidurlah," Wonwoo berbisik lembut, melingkar tangannya pada tubuh Mingyu yang memeluknya dengan sangat erat. "Lupakan semua mimpi buruk ini."

Tidak ada jawaban, dan Wonwoo menyadari bahwa rasa sakit membuat Mingyu melemah. Mata coklat beningnya mengerjap lembut, menatap dinding kamarnya yang berwarna putih.

Mingyu bergantung padanya, dia tahu itu dengan sangat baik. Tapi Wonwoo tidak bisa, bukan karena dia tidak ingin, tapi karena ada rasa sakit yang tidak bisa Wonwoo keluarkan, rasa sakit yang membuatnya semakin terluka setiap harinya.

Wonwoo ingin jujur, dia juga ingin menyandar pada Mingyu seperti Mingyu menyandar padanya. Tapi Wonwoo tahu dia tidak bisa seperti itu, dia tidak bisa seterbuka Mingyu, dan Wonwoo takut Mingyu tidak mengerti pikirannya. Wonwoo terlalu takut, karena tanpa dia sadari, Mingyu sudah menjadi titik terlemahnya.

Mungkin Wonwoo jatuh cinta untuk pertama kalinya, dan itu pada seorang laki-laki. Dia tidak pernah menyayangi orang lain sebesar dia menyayangi Mingyu, dan tanpa Wonwoo sadari, dia tidak ingin membuat Mingyu terluka sedikitpun, dia tidak ingin Mingyu merasakan sakit apapun lagi, dia ingin menjadi pegangan Mingyu-

Seperti itu, tanpa Wonwoo sadari bahwa sebenarnya dia menciptakan batas tas kasat mata antara dirinya dengan Mingyu. Dia ingin selalu membuat Mingyu bahagia tanpa menyadari bahwa Wonwoo semakin terluka.

.

.

•••

.

.

Rabu, 22 Maret 2017

Jun tersenyum kecil, menatap ponsel canggihnya dengan sebuah pesan tertera disana, dari seorang yang selalu membuat Jun tersenyum akhir-akhir ini.

'Aku didekat jendela, kau bisa menemukanku jika berbelok nanti.'

Tangan Jun bergerak cepat diatas keyboard ponselnya, membalas pesan dari Wonwoo secepat yang dia bisa.

'Maaf membuatmu menunggu, aku akan segera tiba.'

Wajah tampannya terangkat, menatap pantulan wajahnya pada cermin yang berada didalam lift. Bibir tebalnya yang unik tertarik, membentuk garis tipis yang membuat orang sadar bahwa Jun sedang tersenyum, dan menatap pantulan dirinya sendiri dengan tatapan yang terlihat janggal.

'Santai, aku baik-baik saja.'

Jun ingin berteriak, rasa bahagia menghampirinya begitu saja. Dia tidak butuh apapun sekarang, menjadi orang yang dipedulikan Wonwoo sudah membuatnya teramat bahagia, meski itu hanya kepedulian yang terkesan basa-basi.

'Aku sudah sampai, aku akan ketempatmu sekarang.'

Jun melangkah keluar tepat saat pintu lift terbuka, tangannya begerak merapikan pakaian yang dia gunakan, pakaian yang sama sekali tidak terganggu, terlihat sangat sempurna ditubuhnya yang tinggi khas model.

Matanya menatap sekeliling, menatap arah restoran dimana dia dan Wonwoo membuat janji. Kakinya kembali melangkah, memasuki restoran dengan Wangi kopi yang menyambutnya tepat saat Jun melangkah masuk.

Matanya mengedar kearah kanan, tersenyum kecil saat mendapati rambut brown Wonwoo sedikit terlihat dari sandaran kursi yang rendah. Bibirnya terhiasi senyuman manis, berjalan kearah Wonwoo sebelum langkahnya terhenti. Balas membungkuk sopan saat orang dihadapannya juga melakukan hal yang sama.

"Jun-ssi." Suara bass yang terkesan dingin terdengar, mata tajam berwarna hitam menatapnya dengan tatapan datar.

"Mingyu-ssi." Jun membalas tak kalah dingin, mengulurkan tangannya dan berjabat tangan.

"Sibuk?"

Jun mengernyit tidak mengerti, menatap sosok tampan dihadapannya dengan tatapan yang terlihat datar. "Tugasku." Jun menjawab.

Sosok dihadapannya mengangguk, menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum kecil, senyuman yang terlihat aneh dimata Jun. "Kau melakukan semuanya dengan baik."

Jun menatap Mingyu dengan tatapan tidak mengerti, apa yang sedang dibicarakan Mingyu? Pekerjaan mereka?

"Ada sesuatu?" Jun jengah, tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh CEO agensinya.

"Tidak," Mingyu menjawab dengan santai. "Aku hanya ingin membuang-buang waktumu."

Jun mendengus, terkesan tidak sopan, namun Jun benar-benar tidak peduli. "Bisa aku pergi?"

Mingyu mengangguk pelan, masih dengan senyum aneh yang menghias bibir tipisnya. "Yah kau harus pergi, karena orang yang menunggumu tidak suka dibuat menunggu."

Jun diam, mengerjap bingung saat mendapati Mingyu yang terlebih dulu meninggalkannya. Tatapan matanya menatap tubuh Mingyu yang menjauh dengan tatapan tidak menyenangkan.

Dia tahu CEO perusahannya bukan orang yang menyenangkan, namun dia tidak tahu bahwa dia akan terlihat begitu aneh. Dan jika Jun sadar, Mingyu sedari tadi menyeringai dengan tatapan yang tidak menyenangkan.

"Pertemuan yang kaku." Bahu Jun terangkat, mengedik tidak peduli dan melangkah mendekati Wonwoo yang menatap kedatangannya dengan ekspresi dingin menghias wajah tampannya.

"Aku minta maaf." Jun memulai, melangkah duduk tepat dihadapan Wonwoo yang masih tidak bereaksi. "Aku tahu kau tidak ingin mendengar alasan apapun, tapi aku benar-benar minta maaf."

"Kau lama."

Jun mengangguk, mengeluarkan beberapa berkas dari tas yang Wonwoo letakkan diatas meja. "Aku tidak akan mengatakan berbagai alasan yang akan membuatmu semakin kesal, jadi aku benar-benar hanya akan mengatakan bahwa aku menyesal membuatmu menunggu lama."

Wonwoo pasrah, tidak sanggup memarahi Jun karena apa yang Jun katakan benar adanya, dia akan marah jika Jun mulai membuat berbagai alasan karena kesalahannya, namun ketika Jun jujur. Wonwoo melambaikan tangannya kemudian.

"Jadi kenapa kita bertemu disini?"

Jun tersenyum kecil, mengeluarkan beberapa berkas. "Aku ingin mendiskusikan banyak hal denganmu, seperti tema apa yang akan kita gunakan untuk pemotretan pertama."

"Hanya kau dan aku?"

Jun mengangguk teramat cepat. "Aku ingin mendengar komentarmu sebagai orang yang tidak menyukaiku." Jun tersenyum lebar, mengabaikan delikan tidak terima yang Wonwoo layangkan. "Penilaian orang yang tidak menyukaiku akan lebih efektif, jadi aku berharap orang itu adalah kau. Kau bisa mengkritisi semuanya dengan jujur karena kau tidak menyukaiku."

"Aku tidak membencimu, Jun."

Jun tersenyum kecil, bertopang dagu menatap wajah tampan Wonwoo dihadapannya. Mata Wonwoo menatapnya, dengan tatapan yang selalu membuat Jun terpesona, tatapan yang Jun tahu tidak pernah bahagia menatapnya.

"Kau tidak membenciku, tapi kau juga tidak menyukaiku." Jun mengangguk, berlagak tidak peduli. Tangannya menunjuk pada foto berwarna kuning. "Bagaimana kalau temanya tentang keceriaan?"

Wonwoo mendengus, menggeser kertas yang Jun tunjuk. "Kau sendiri tidak ceria, jangan bertingkah seolah kau orang yang periang."

Jun tersenyum kecil, merasa puas pada dirinya sendiri. Jun tahu, lambat laun Wonwoo akan peduli padanya tanpa Wonwoo sadari, dan Jun akan selalu bersabar. "Bagaimana dengan ini?"

Wonwoo tampak berpikir, hanya sesaat lalu menggeleng. "Kebebasan?" Dia mengulang. "Kau tidak terikat apapun Jun, kau tidak akan bisa mengekspresikannya dengan baik."

"Lalu?" Jun berujar bingung.

"Ini," Tangan Wonwoo terulur, menyerahkan selembar kertas berwarna putih. "Kejujuran, kau bisa mengekspresikannya dengan baik." Jun menatap Wonwoo, dengan tatapan yang selalu membuat Wonwoo merasa aneh. "Aku pikir?" Nada Wonwoo melemah diakhir.

"Kau bisa melakukannya untukku?"

Wonwoo mengerjap tidak mengerti. "Ini pekerjaanku, Jun."

Jun menggeleng, menatap langsung mata kelam Wonwoo. "Bukan yang biasa kau lakukan," Wonwoo terdiam, terfokus Pada Jun. "Tapi aku benar-benar ingin menunjukkan kejujuranku, kau harus bisa menangkap saat-saat dimana aku benar-benar jujur, bukan hanya pada orang lain, tapi juga pada diriku sendiri."

"Seperti saat ini?" Wonwoo menjawab tanpa sadar.

Jun mengangguk. "Seperti saat ini, saat dimana aku bersamamu."

Wonwoo diam, mencoba mengabaikan tatapan asing yang kini Jun layangkan untuknya, tatapan yang anehnya membuat Wonwoo merasa bersalah, entah karena alasan apa.

"Kapan kau ingin aku memulainya?"

Jun mendesah. "Kapan kau menganggap bahwa aku sedang jujur, kita tidak akan terikat konsep, kau bisa melakukannya kapanpun, bahkan saat aku sedang terlelap."

Wonwoo hanya bisa mengangguk, dia tidak bisa mendebat. Tangannya bergerak merapikan berkas-berkas dihadapannya, memasukannya kembali dalam map. Mencoba bersikap biasa saja meski Wonwoo yakin bahwa Jun menatapnya sejak tadi. Dengan tatapan gamblang yang tidak susah payah dia sembunyikan.

"Sebenarnya ada apa denganmu?" Tangan Wonwoo terhenti, wajah tampannya mendongak dan menatap Jun.

"Banyak hal."

"Apa ini tantangan bagimu?"

Jun menggeleng, tersenyum amat tipis. "Menyukai seseorang bukan permainan, Wonwoo-ya." Wonwoo masih diam, "Aku bekerja, Aku melakukan tugasku sebagai publik figur. Tapi aku memiliki maksud lain, dan itu berhubungan denganmu."

"Kau harus berpikir ulang."

Jun menggeleng. "Ketika aku berjanji untuk jujur, aku hanya akan menyerah ketika aku merasa bahwa itu saatnya aku untuk menyerah. Aku tahu itu akan membuatmu tidak nyaman, tapi hanya sebentar, Jeon. Dan aku yakin kau akan menikmatinya suatu saat nanti."

"Aku bukan permainan," Wonwoo mendengus jengah. "Berhentilah melakukan apapun yang kau lakukan, Jun. Aku hanya akan melakukan tugasku untu memotret. Kau tidak akan mendapatkan apapun dariku selain dari itu semua."

Jun tersenyum kecil, membawa tubuhnya mundur dan menyandar pada kursi yang dia gunakan. "Aku hanya tidak mengerti apa yang aku rasakan, apa aku menyukaimu, atau aku hanya sekedar peduli padamu. Kau tidak bisa didekati dengan alasan-alasan yang tidak jelas, jadi aku hanya akan bersikap jujur padamu, kau yang akan menilainya sendiri nanti."

"Kau membuatku jengah, Jun. Aku benar-benar tidak menyukai saat-saat dimana aku merasa tidak nyaman. Aku bukan orang yang terbuka, aku bukan orang yang bisa mengekspresikan diriku, aku benar-benar orang yang akan membuatmu tidak nyaman. Jadi berhentilah, aku akan mengatakannya sekarang demi kebaikanmu."

"Mari bersikap biasa-biasa saja, anggap tidak terjadi apapun saat ini, anggap aku tidak pernah mengatakan apapun, tapi aku akan tetap melakukan apa yang aku sukai. Jadi mengertilah, karena aku tidak ingin menyakitimu."

Wonwoo mendesah, dia menyerah akan apa yang terjadi padanya. Bagaimana dia bisa diam saat ada orang lain yang menunjukkan ketertarikan yang berlebihan padanya. Dia ingin marah, namun Wonwoo merasa salah jika dia marah, Jun sudah cukup terluka karena Wonwoo tidak mungkin menyukainya. Bagaimana Wonwoo bisa menyukai Jun jika Wonwoo selalu merasa bahwa Mingyu selalu ada disekitarnya.

Seperti saat ini, saat dimana Wonwoo merasa Mingyu memperhatikannya dari jauh. Dengan tatapan yang selalu membuat Wonwoo jatuh Cinta untuk kesekian kalinya. Tapi Wonwoo tahu, ketika dia mengerjap maka bayangan itu akan hilang.

Dan hal itu membuktikan bahwa Wonwoo terikat dengan Mingyu, apapun yang dia lakukan, berapa lamapun mereka berpisah, sejauh apapun jarak yang membentang, Mingyu tidak akan pernah pergi dari pikirannya. Mingyu terjebak dalam pikirannya, dan Wonwoo tidak pernah mencoba untuk mengeluarkannya.

Karena dia bahagia, meski hanya bayangan dan kenangan yang selalu dia ingat tentang Mingyu.

Tentang sosok yang menatapnya dari jauh dengan tatapan tidak menyenangkan.

Wonwoo mengerjap, mengabaikan bayangan Mingyu yang selalu memenuhi pikirannya. Cukup untuk berpikir bahwa Mingyu selalu bersamanya. Bukankah seharusnya ada batas dengan yang namanya rindu? Wonwoo mendesah, tatapannya tertuju pada Jun, pada sosok yang masih menatapnya sejak tadi.

"Aku akan pulang terlebih dulu, kau bisa mengabariku kapan kau ingin memulai pemotretannya."

Jun mengangguk, menatap tubuh langsing Wonwoo yang hari ini terbungkus sweater panjang berwarna abu-abu. Rambut brownnya lagi-lagi tertata berantakan, dengan wajah pucat dan bibir yang memerah.

"Hati-hati dijalan."

Wonwoo mendengus tanpa dia sadari, berbalik dan melambaikan tangannya pada Jun. Hanya sekilas lalu kembali meneruskan perjalannya, dan kembali bersikap dingin seperti biasa.

Mereka hanya rekan kerja, tapi tidak bagi Jun.

.

.

TBC

.

.

Apa ini? Dika badmood sendiri, gak tau kenapa. #abaikan

Ff ini dika update di ffn dan wattpadd, tapi mungkin untuk chap 5 dika updatenya di wattpadd aja. Terkadang ffn bermasalah, dan dika sering kebingungan sendiri.

Thankyou untuk semua respon manis yang kalian tunjukkan. Saranghaeeeee , ini jujur dari hati yang paling dalam.

#alwaysbelieveseventeen