~~~~~~~~~~~~~~~~~~ PART 4~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Aku lupa kalau hari ini adalah jadwalku untuk menjadi pembantu cuma-cuma, hah... aku malas sekali, aku hanya ingin bertemu dengan Sungmin si Mer cantik-ku, Sedang apa dia? Apakah sedang bermain dengan si pope paus raksasa itu? Haha, aku jadi ingin bermain dengan hewan laut itu jika mengingatnya.
Siang ini, udara sangat panas, aku hanya memakai celana pendek-ku dan juga kaos dalamanku saja. Sungguh, jika aku tak tahu malu atau gila, aku ingin sekali tak memakai sehelai benangpun di tubuhku sekarang. Aishh... kipas yang di tanganku ini sama sekali tidak membantu. Kadang aku berpikir untuk memasang AC di sini, tapi Donghae berkehendak lain, jika aku sedang merengek untuk meminta benda itu, pasti donghae akan selalu berkata ' Kau itu laki-laki, jangan manja. Kau harus kuat sepertiku, menjalani hidup apa adanya' hahh... yang di katakan Donghae memang ada benarnya, tapi setiap kali dia mengatakan itu, tubuhku selalu merinding, Donghae terlihat seperti kakek-ku, sungguh, aku tidak bohong, Donghae sangat menakutkan seperti kakek-ku.
"kyu? Kenapa kau seperti itu?"
Kulihat itu Eunhyuk, hahhh... aku membenarkan posisiku yang indah tadi, badan serta kepalaku berada di lantai, sedangkan kakiku diatas tempat duduk.
"panas sekali..." keluhku dengan posisi duduk yang sudah benar, sembari memijat pelipis, dan tangan yang satunya mengipasi wajahku. Eunhyuk terkekeh dan mendudukan dirinya tepat di sampingku.
"Biasanya kau ke teluk atau menyelam, kenapa tidak kau lakukan?"
"Donghae akan membunuhku jika aku melakukan itu sekarang."
Eunhyuk tertawa lalu kemudian mengipasi dirinya sendiri dengan kipas yang sedari tadi ia bawa. Situasi saat ini hening, aku dan eunhyuk hanya sibuk dengan urusan masing-masing yaitu kipas mengkipas. Sulit sekali ternyata hidup ini.
Enhyuk beranjak dari duduknya dan berjalan menuju meja kecil di samping lemari. Di meja itu terdapat banyak tumpukan buku-buku dan berbagai kertas-kertas yang bertumpukan. Itu ulah Donghae yang berlanjut kepadaku, kebiasaan kami menaruh kertas atau apapun yang bisa di bilang sudah tidak penting di atas sana. Tak memperdulikan apa yang sedang Eunhyuk lakukan disana, aku kembali melakukan kegiatanku yang sangat melelahkan ini.
"Wah, cantik sekali sketsa wajah ini. Aku tidak menyangka ternyata dia bisa membuat ini."
Eh? Sketsa wajah?
Menyadari kebingunganku, Eunhyuk kembali duduk disampingku dan memberikan kertas yang sedari tadi di lihatnya.
"Lihatlah... cantik sekali, siapa dia, kyu?"
Ketika kulihat sketsa wajah ini... as, ta, ga, i-ini... ini wajah SUNGMIN! Aku yakin ini Sungmin!
"Kyu? Kau tidak apa-apa?"
Eunhyuk panik dengan keadaanku sekarang, dengan wajah kaget dan mata melotot aku memandang sketsa wajah yang sempurna ini. I-ini tidak mungkin, ke-kenapa bisa? Lukisan ini... yang mebuat lukisan ini adalah...
"Kyu! Apakah ada yang salah dengan lukisan Donghae ini? Ada apa denganmu, kenapa wajahmu seperti itu?"
Donghae... di-dia yang membuat ini... jelas sekali nama yang tertera di sisi kanan bawah adalah Dongahe. Kenapa... a-aku tidak mengerti, ada apa ini? Kenapa Dongahe bisa membuat sketsa wajah sungmin. Kenapa... apakah... apakah sebelumnya Donghae pernah bertemu dengan sungmin? A-aishhh!
"Eunhyuk, tolong jaga pondok ini, aku akan bertemu donghae sekarang."
Aku meningalkan Eunhyuk yang sedang kebingungan atas sikapku saat ini. Tanpa mengganti pakaian atau apapun, aku segera berlari menuju tempat dimana kami menyimpan alat-alat selam kami, dongahe tadi berkata dia akan kesana untuk mengecek perlengkapan selam.
"Donghae?!"
Aku berteriak mencarinya, aishh kemana dia, aku tidak menemukanya di sini, ah mungkin dia di belakang. Dengan tergesa aku berjalan menuju belakang tempat ini, dan ya! Disana Donghae, tengah menggulung tambang sambil bernyanyi-nyanyi tak jelas.
"Hae!" panggilku seraya menghampirinya, Donghae yang sedikit terkejut mengubah raut wajahnya menjadi kesal. Aku menyerahkan sketsa wajah sungmin padanya tanpa berkata apapun. Awalnya donghae terkejut atas apa yang aku berikan, tapi tak lama, Dongahe menatap sketsa wajah itu sendu dan ternsenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya pada gambar itu.
"Aku kira ini sudah hilang." Ujarnya padaku.
"Hae, siapa wajah yang ada di sketsa itu?" tanyaku memastikan. Cukup lama terdiam akhirnya Donghae menggeleng.
"Aku tidak tahu,"
Ti-tidak tahu? Apa maksudnya?
"Hanya sekali aku bertemu dengan'nya, tapi sudah berhasil membuatku seperti orang gila berbulan-bulan hingga aku menyerah."
Aku terdiam, apakah yang di maksud Dongahe benar-benar Sungmin'ku?
"Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?"
Donghae terkekeh dan mendudukan dirinya di atas pasir sembari memandang laut. Entah kenapa perasaanku tidak enak.
"Pertemuan itu kuanggap sudah seperti mimpi, pertemuan tak terduga-ku. Aku melihatnya, memperhatikanya lama yang tengah duduk diatas batu karang sendirian. Saat itu sore hari, wajahnya sangat cantik sekali. kau tahu?" Donghae terkekeh dan menatapku, dan mulai kembali berkata. "Dia... dia ternyata Namja"
Lututku terasa lemas, yang dongahe ceritakan pasti benar Sungmin. Mengikuti Dongahe, aku terduduk dengan lutus lemas.
"Kyu, jika kau melihatnya saat itu, aku yakin kau pasti langsung menculiknya dan menjadikanya kekasihmu. Haha, itulah yang aku pikirkan saat aku melihat wajahnya. Hahh... tapi sayang, ketika aku berusaha mendekatinya, dia melihatku dengan wajah kaget. Yang kutahu dia melompat ke dalam laut dan aku... tidak menemukanya. Setiap hari aku kembali kesana berharap bertemu dengannya, tapi nihil, aku tak pernah bertemu dengannya lagi hingga aku menyerah dan berusaha untuk melupakannya" Dongahe merengut dan menatapku " hey, kyu. Aku tidak jelek,kan?"
Aku menatap Donghae dan menggeleng lemah, "Kau buruk rupa hyung."
TAKK! Satu jitakan lumayan aku terima dari Donghae, tanpa mendengarkan donghae yang mulai akan bersilat lidah, aku segera meninggalkannya. Aku ingin bertemu Sungmin sekarang, aku rindu padanya. Dan... aku tidak menyangka Dongahe pernah bertemu dengan Sungmin dan mencintainya, mungkin? Hahh... ini membuatku bingung.
Perjalanan menuju teluk biasa aku bertemu dengan Sungmin memang cukup jauh dari sini, tapi untuk bertemu dengan Sungmin, tidak ada kata lelah untukku! HA HA.
tapi tunggu, sekarang bagaimana caraku untuk bertemu dengan Sungmin? Jika aku memilih tenggelam untuk yang kesekian kalinya itu sangat tidak mungkin. Berteriak memanggil-manggil Sungmin? Hmm... patut di coba.
Kembali lagi bertemu dengan batu karang yang licin dan agak berlumut, berdiri diatas batu karang seperti ini memang agak berbahaya, apalagi jika terpeleset lalu kepala terbentur, terjatuh kedalam laut, terseret ombak hingga dasar laut, bertemu ikan hiu dan di jadikan santapan. Errr kenapa aku bisa berpikiran sejauh itu. Aishhh lebih baik aku mulai saja.
"tes..." gumamku bodoh.
"emm SUNGMINNNNNN DIMANA KAUUUUUUU AKU CHO KYUHYUN! DATANGLAHHHH, SUNGMIN OYYYY SUNGMINNNNN! Uhuk uhuk."
Berteriak seperti tadi membuatku terbatuk dan sedikit sakit di tenggorakan. Sudah empat kali aku mencoba, tapi hasilpun tak ada. Hahhh... aku memlih duduk di atas batu karang ini, berharap sosok Sungmin akan muncul mendatangiku.
"sepertinya hari inipun aku tidak akan bertemu dengan Sungmin lagi." Gumamku. Sepertinya aku memang harus kembali ke pondok saja. Tapi ketika aku akan beranjak...
"Hey manusia!"
Dengan buru-buru aku mencari sosok itu, siapa yang memanggilku? Jangan-jangan...
"Aku di sini bodoh!" aku beranjak menuju sisi kanan batu karang ini yang agak cukup tinggi, ketika aku menjorok untuk melihat ke bawah, yang kutemukan adalah... oh astaga...
"Jangan melihatku seperti itu!"
Dia sama seperti Sungmin, memiliki sirip ekor yang indah, hanya saja miliknya berwarna biru. Oh god.
"Si-siapa kau?"
"Aku Henry."
Ku akui wajahnya memang manis, tapi eits... Sungmin lah juaranya. Mer satu itu mencoba menaiki batu karang yang cukup rendah dengan tumpuan tangannya, bukan bermaksud untuk tidak menolong, hanya saja aku masih terlalu kaget untuk melakukan apapun. Selain sungmin, aku tidak pernah bertemu dengan Mer lainnya. tapi sekarang aku bertemu dan aku tidak tau apa tujuannya menemuiku.
"Kau Kyuhyun'kan? Benar kata kaka'ku kau mirip dengan dewa Oannes"
Mer ini bertanya padaku, aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Darimana dia tau namaku? Apakah Mer ini ada hubungan dengan Sungmin?
"Hahh... jika bukan karena kaka'ku, aku tidak mau kedaratan seperti ini."
KAKA? Apakah Mer ini adalah adik Sungmin?
"Ka-kau?"
"Kenapa? Kau tida percaya aku adik dari Sungmin, huh?!"
Mer satu ini ternyata pemarah sekali, pantas saja, Melihat Mer ini, aku sedikit melihat sosok mer cantiku, Sungmin.
"Bukan maksudku seperti itu, eumm hanya saja aku masih bingung, untuk apa kau menemuiku? Mana Sungmin? Yang ingin kutemui itu Sungmin."
Kulihat Henry mendengus kesal dan melipat kedua tangannya di dada, meskipun wajahnya manis, tapi Mer satu ini tidak ada sifat manis'nya sama sekali berbeda dengan Sungmin yang sangat lembut dan menggemaskan, mengesalkan.
"Kaka'ku di larang ke daratan oleh dewa Oannes."
"A-apa? Ta-tapi kenapa?"
Henry mendelik dan menatap tajam padaku, sepertinya ini tidak baik. Jari telunjuk Henry sekarang tepat berada di depan wajahku.
"KAU! Kaulah penyebabnya, karena kau, Sungmin hyung tidak bebas!"
"T-tapi kenapa?"
"Karena tidak sepatutnya bangsa Mer berdekatan dengan manusia seperti kau! Aku tahu, kau pernah berada di dasar laut kan? Bersama kaka'ku? Dan kau memakan bibir kaka'ku! Aku melihat itu semua, tapi bukan hanya aku saja, para prajurit laut melihatnya dan melaporkan ini semua pada dewa Oannes."
"A-apa maksudmu dengan memakan bibir ka- ohhhh... maksudmu, kau melihatku mencium Sungmin?"
"Mencium? Apa itu?"
Ternyata, semua bangsa Mer memang polos dalam hal seperti itu. Lalu bagaimana mereka dapat memiliki keturunan? Haha
"lupakan. Henry, antarkan aku menemui Sungmin."
Henry tampak terkejut dan menggeleng keras. "Dewa Oannes akan sangat murka, kau tahu? Dia bisa membuat desa yang kau tinggali hancur seketika dengan laut ini."
Mengerikan sekali Oannes itu, tapi Sungmin pernah mengatakan bahwa Oannes itu mirip denganku. Aku jadi penasaran seperti apa dia.
"Apa yang akan Oannes lakukan terhadap Sungmin?"
"Kakaku di kurung, tapi kau tenang saja, Oannes sangat menyayangi kaka'ku, Oannes tidak akan berlaku kejam terhadap kaka'ku."
"Tapi dia mengurung Sungmin! Itu sama saja dengan kejam!"
"itu semua karena ulahmu!"
"Antarkan aku pada Sungmin!"
"Tidak!"
"Ku bilang Antar!"
"Tidak! Aku kesini untuk menyampaikan pesan kaka'ku!"
Aku terdiam, pesan? Semoga bukan hal yang buruk.
"katakan..."ucapku pelan. Henry menatapku dalam " Kaka'ku menyuruh agar kau... melupakannya dan jangan pernah mengharapkan untuk bertemu dengannya lagi."
Aku tercekat, tidak bertemu dengan sungmin lagi? Itu sama saja membunuhku secara perlahan!
aku mendekat pada henry dan bersimpuh di depannya, henry memandangku bingung dan sedikit memundurkan posisinya.
"Kumohon, antarkan aku untuk menemui Sungmin, kumohon..."
Tubuhku lemas, aku tidak ingin menangis, tapi nyatanya... aku menangis sekarang. henry kaget menatapku, tangannya ter-ulur menyentuh pipiku, mungkin iba?
Usapan tangan Henry di wajahku begitu lembut, ia menatapku dan tersenyum.
"Kau tulus pada kaka'ku?"
Aku mengangguk pasti akan pertanyaan Henry, senyum terlukis jelas di wajahnya. Henry mencondongkan badanya dan mendekatkan wajahnya tepat di hadapanku.
"Kalau begitu... jadilah bangsa kami"
TBC
.
.
.
.
Hhhhhaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh akhirnya sudah sekian lama gak publish ni ff akhirnya kesampaian juga~~~~~~ sun sok sibuk soalnya ToT #terus?
okkkk Cuma ini yang sanggup sun kasih untuk pembaca setia ff sun ^^ #emang punya?
maaf yahhhhh kalau banyak typo T^T
