Thanks to my dear readers
whirlwind27 , JongOdult, daddykaimommysehun , BabyFenFen KJI-OSH, auliavp, Seli Kim, Nagisa Kitagawa, Kirity Kim, Guest, MinnieWW, yunacho90, , Kim Seo Ji, , AprilianyArdeta
Jodoh?
Cast : EXO, Mentioned! GG Yoona, 4Minute Hyuna, F(x) Sulli, SJ Leeteuk
Pair : KaiHun with GS!Sehun
Warn : tijel, typo bertebaran, gaje (?) sedikit fluff
Don't Like Dont Read.
And
Happy Reading!
.
.
#1013#
.
.
Sehun terbangun dari tidurnya. Ia masih setengah sadar. Ia tak tahu kalau malam itu dia pingsan. Badannya masih lemas. Matanya bengkak. Dengan langkah yang masih tertatih-tatih, ia berjalan menuju ruang tamu.
" ya ampun,apa yang terjadi semalam? Kepalaku serasa pecah," kata Sehun menepuk-nepuk kepalanya dan merebahkan dirinya di kursi tamu.
"kau sudah bangun?" ucap Jongin dari arah kamar mandi.
Sehun terpaku mendengar suara itu. kemudian ia berbalik dan mendapati Jongin dari arah kamar mandi dengan tidak mengenakan kaus dan hanya membalut tubuhnya dengan handuk. Spontan Sehun kaget dan langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya dan menyungirkan mulutnya.
"Kau kenapa?" tanya Jongin yang sedang tidak sadar sembari mendekati Sehun.
"Stop disitu ! Stop..stop!" Sehun mendorongkan-dorongkan tangannya agar Jongin tak mendekat, "Kau tak tahu malu,ya!"
Jongin masih bingung. Ia mencoba mendekat lagi. "Apanya yang salah?"
"Aduh..! lihat dirimu !" Sehun menunjuk ke arah Jongin dengan tangan kanannya dan tangan kirinya masih menutupi wajahnya.
"Oh,aku lupa," Jongin teringat dan langsung lari masuk kamar untuk ganti baju sambil meringis. Sehun membuka jarinya sedikit untuk melihat situasi. Jongin sudah tidak ada. Cepat-cepat ia menyingkirkan tangan kirinya dan menempelkannya di dada. Lega! Tidak sadar apa,di rumah ini Cuma ada dia dan aku? kalau ada apa-apa,pasti di sangka yang bukan-bukan. Dasar Jongin tak tahu malu! gerutunya.
Ia berjalan ke kamarnya lagi untuk mengambil baju. Tiba-tiba ia dibuat kaget lagi oleh Jongin. Jongin ganti baju tanpa menutup pintu. Di kamarnya lagi! ia terpaku dan langsung melakukan hal yang sama,menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan berteriak.
"JONGIN PABBO SIALAN! Apa yang kau lakukan!" teriak Sehun di depan pintu kamarnya dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Jongin kaget dan langsung menutup pintu. Pipi Sehun langsung memerah. Ini lebih parah dari yang tadi ! ia langsung bersandar di kursi tamu. Haduhh...dasar gila! Gila!
Di dalam kamar,Jongin kaget setengah mati saat Sehun ada di depan pintu kamar. Untung saja ia tadi masih belum melepaskan handuk. Cepat-cepat ia tadi menutup pintu. Kalau tidak,bisa bahaya! Ia sudah kebiasaan di rumah,selalu lupa menutup pintu saat sedang ganti baju. Benar-benar kebiasaan yang buruk! Gumamnya.
Setelah ganti baju dan sambil mengeringkan rambut,Jongin mencari Sehun,dan menemukannya di sofa tamu. Kemudian ia menghampirinya.
"Ayo makan," ajak Jongin pada Sehun yang sedang bengong.
"Hmm.." Sehun hanya bergeming.
Jongin mengajaknya lagi, "Ayo !"
Sehun masih saja bergeming. Kemudian Jongin menariknya dan membawanya ke ruang makan.
"Kau masih?" tanya Jongin sebelum makan.
"Masih apa?" Sehun mulai beranjak dari kebengongannya.
"Waras?" Jongin berkata ragu. Kemudian Sehun mengangkat muka dan menatapnya. Siap-siap kena omel,gumam Jongin.
"Iya." Jawab Sehun datar. "Pertanyaan bodoh," sambungnya sambil makan. Jongin hanya mendengus kesal.
"kenapa kau ada disini?" tanya Sehun heran.
"kemarin kau pingsan. Kalau aku biarkan kau di tengah jalan,bisa-bisa orang menganggapku telah membunuhmu." Jawab Jongin.
"oh,begitu. Kau sudah bilang ke nenek sebelumnya?" tanya Sehun.
"sudah. Dia malah menyuruhku menjagamu sampai kau baikan. Menyebalkan!" gerutu Jongin sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
"kalau kau tak mau,kau boleh meninggalkan aku. Lagipula,aku sudah baikan kok!" ucap Sehun sungkan.
"kau mau aku dihukum lagi!" kata Jongin sambil berkacak pinggang memandang wajah Sehun.
"ya,bukannya begitu..." Sehun serba salah.
"sudahlah! makanlah,aku sudah buatkan sarapan untukmu," perintah Jongin.
"terima kasih ya,kau kemarin sudah mau menolongku. Sekarang,kau bahkan sudah membuatkanku sarapan. Terima kasih yaa.." ucap Sehun sambil menyendoki makanan ke mulutnya dengan nada cute dibuat-buat. Tanpa sadar ia menguarkan aegyonya, membuat Jongin kelabakan sendiri.
" biasa saja kali. Udah cepet makan!" ucap Jongin sambil menyantap sarapannya. Mereka menyantap omelete hasil masakan Jongin. Ternyata selain jago balap,ia juga pandai memasak.
"Henry itu siapa?" tanya Jongin tiba-tiba.
"oh. Henry itu..kakakku yang sudah meninggal." Jawab Sehun lesu.
"kenapa kau kemarin menyebut-nyebut namanya?" Jongin penasaran dan menatap Sehun.
" itu..karena..ia meninggal gara-gara naik mobil dengan kencang. Dia itu sepertimu,dia juga seorang pembalap liar." Cerita Sehun pada Jongin. Matanya mulai terasa panas.
"oh..begitu. maaf ya," Jongin meminta maaf.
"tak apa kok" Sehun menenangkan Jongin. Ia mengusap air matanya diam-diam.
" ternyata,kau pandai beladiri ya?" Sehun mengalihkan pembicaraan.
"dulu aku mengikuti Taekwondo. Tapi sekarang,aku hanya sebagai pengajar guru beladiri Taekwondo di klub-ku." Ucap Jongin santai sambil makan.
"kenapa?"
"tak apa. Kau ternyata juga pandai memasak."
"tentu."
"ya,meskipun lebih enak masakan di restoranku bekerja."
" kau kira aku ini juru masak ? masih untung aku memasakkan untukmu. Kalau tidak,kau hanya bisa makan rumput yang ada di depan."
"kau kira aku ini sapi? Dasar!"
"jangan banyak berkomentar. Cepat makan sana !"
"hei,wajahmu ada yang lebam!" seru Sehun sambil memandangi wajah Jongin yang lebam sehabis berkelahi.
"sudah biasa." Jawab Jongin acuh.
"sini aku lihat," Sehun mendekat ke arah wajah Jongin.
"sudahlah,tak apa!" Jongin mencoba menjauh.
"kalau tak diobati,kau bisa di marahi nenek." Sehun mengambil es batu dan mulai mengompres luka Jongin.
"aduhh..pelan-pelan! Sakit tahu!" Jongin mengerang kesakitan. Ia menepuk lengan Sehun yang mengompresnya.
" hei,jangan asal memukul! ini sudah yang paling pelan! masa guru Taekwondo cengeng !" Sehun membalas menepuk lengan Jongin sambil terus mengompres .
"ini beda lagi ceritanya! guru Taekwondo juga manusia!"
"sudah jangan banyak bicara! tahan sebentar kenapa!"
"aduh,duh..sakit!"
"sudah selesai. Sudah mendingan?"
"ya,lumayanlah daripada kemarin."
"habis ini,keluar yuk!"
"kemana? Badanku sakit semua."
"ke suatu tempat. Kau pasti suka."
"kau memang tukang memaksa!"
" ayolah,kau pasti merasa lebih tenang sepulang dari sana!"
"ah,ya sudahlah ! terpaksa,"
"oke,aku siap-siap dulu ya,"
"cepat sana ! kalau lama tidak jadi !" perintah Jongin pada Sehun. Sehun langsung berlari ke kamar mandi. Jongin menyesap teh yang ia buat. " dasar gadis gila," gumam Jongin sambil melihat tingkah laku Sehun yang berlarian buru-buru mandi dan ganti baju . Kemudian Jongin menuju halaman untuk memanasi mobilnya sebelum berangkat.
"aku sudah siap," ucap Sehun stelah siap di hadapan Jongin. Rambutnya acak-acakan,karena belum sempat merapikannya karena terburu-buru.
"kau seperti orang gila. Lihat rambutmu!" Ejek Jongin sinis.
Sehun langsung merapikan rambut panjangnya dengan jari-jemarinya. Setelah dirasa rapi,mereka berangkat. Sepanjang perjalanan,mereka berdiam diri. Jongin hanya bicara bila diperlukan. Ia sangat irit bicara,padahal tidak dikenakan pulsa. Memang karakter Jongin seperti itu,berubah setelah kematian ayahnya.
Akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Ternyata mereka pergi ke taman tempat biasanya Sehun menghabiskan waktunya jika sedang bosan. Mereka segera mengambil tempat duduk di bawah pohon besar. Daun-daun yang begitu hijau,diterpa angin sepoi-sepoi,membuat suasana menjadi tenang dan damai.
"bagaimana menurutmu tempat ini?" tanya Sehun sambil menyandarkan dirinya ke bangku taman dan mulai menghirup udara dan menghembuskannya.
"biasa saja," jawab Jongin cuek.
"mungkin kau tak begitu sering berada di sini. Kalau kau sering kesini,suatu saat kau pasti ingin kembali kesini lagi," kata Sehun menerawang ke langit yang sedang cerah.
"apa hebatnya tempat ini?" Jongin berkata sinis, "lebih baik di arena balap,lebih seru dan menyenangkan." Jongin menambahkan.
" tempat ini bisa membuatmu nyaman. Apalagi kalau kau sedang dalam masalah. Udara dan pemandangan di sini akan membuat suasana hatimu menjadi lebih baik," Jawab Sehun meyakinkan Jongin.
"ada hal yang ingin kutanyakan," Sehun menambahkan.
"apa?"
"apa kau,...pernah berpacaran?"
"berpacaran?" ia terdiam. Kemudian melanjutkan. " Tidak. Memang kenapa?"
"tak apa. Kau tak mau berpacaran apa karena kau sudah dijodohkan?"
Jongin hanya diam. Ia bingung Sehun bisa tahu apa alasannya ia tak mau berpacaran.
"bukan maksudku untuk ingin tahu tentang masalah pribadimu," Sehun cepat-cepat menambahkan. "tapi aku hanya ingin tahu alasanmu yang sebenarnya." Sambung Sehun memandang wajah Jongin.
" memang benar," jawab Jongin. "aku tak mau berpacaran karena aku sudah dijodohkan dengan seseorang. Tapi aku tak tahu sekarang ia berada dimana. Dan apakah dia masih memegang teguh perjodohan itu." Cerita Jongin pada Sehun.
"ternyata aku tak sendirian." Ucap Sehun tiba-tiba. Sambil menatap awan.
"maksudnya?"
"aku juga sudah dijodohkan."
"yang benar?"
"iya. Kenapa?"
" kau pernah bertemu dengan 'jodohmu' itu?"
"pernah,satu kali. Tapi saat itu aku masih kecil."
"kebetulan sekali."
"benar."
"aku juga pernah satu kali dipertemukan dengannya."
"kita bernasib sama."
"boleh dibilang begitu."
"hei," seru Sehun tiba-tiba "ada penjual es krim,ayo kita beli !" ajak Sehun pada Jongin. Jongin membiarkan tangannya ditarik Sehun. Kenapa ia tidak risih dengan perilaku Sehun padanya?
"kau mau yang coklat apa vanilla?" tanya Sehun sambil memegang dua es krim di kedua tangannya.
" terserah kau saja," jawab Jongin acuh. Sehun memilihkannya rasa coklat. Kemudian mereka duduk kembali ke bangku yang tadi mereka duduki. Mereka menikmati es krim yang mereka beli. Sesaat kemudian,Sehun membuka pembicaraan dengan Jongin.
"kau tahu tidak,kenapa aku suka coklat?"
"Nggak mau tahu," Sehun langsung menjitak Jongin, membuat Jongin meringis. "ish,memang kenapa?"
"karena,coklat itu bisa membuat perasaan seseorang menjadi lebih baik. Menjadi lebih tenang dan bahagia,dan sejenak melupakan semua masalah yang dihadapi. Hatiku menjadi tenang setelah aku makan makanan yang mengandung coklat."
"pantas,tubuhmu gemuk,"
"menghina! aku sudah diet kok!"
"dimana-mana,coklat itu hanya membuat perut kenyang dan gemuk saja. tidak ada pengaruhnya dengan keadaan emosi seseorang."
" kau bilang begitu karena kau belum pernah mencoba ! lain kali,coba deh ! pasti kau akan merasa lebih baik !"
" ya terserah kau saja."
Setelah makan,mereka masih bercengkrama di taman.
" coba kau pejamkan matamu. Lalu perlahan hiruplah udara di sekitarmu." Perintah Sehun tiba-tiba pada Jongin.
" tidak mau !" Jongin mengelak.
"ayolah,dicoba dulu!" Sehun ngeyel.
Akhirnya Jongin menurut. Ia memejamkan matanya. Ia menghirup udara dan menghembuskannya perlahan. Tak tahu mengapa,udara di taman membuat hati dan perasaannya menjadi begitu tenang. Ia merasa,ada kedamaian yang menyergap dirinya perlahan. Ia tak pernah merasakan ini sebelumnya. Ia sangat merindukan suasana seperti ini. Tanpa sadar,ia tersenyum sendiri,tersenyum lepas. Kapan ia terakhir kali merasakannya? Pasti sebelum ayahnya meninggal dunia.
" bagaimana Jongin?"
Jongin masih diam dan memejamkan mata.
" Jongin, kau tak apa?" Sehun heran menggoyang-goyangkan lengan Jongin.
Jongin tersentak kaget. Ia tersadar."oh..maaf. aku tak apa,"
"tadi kau senyum-senyum sendiri? Kenapa ?"
" tak apa. Hanya saja,aku merasa lebih tenang. Benar apa yang kau katakan."
"benar,kan? Apa aku bilang..."
"sudah jangan sombong dulu ! masalah begini saja sudah bangga !"
"ya iya dong,hehe~ "
"kita pulang,"
"pulang? Kok cepet?"
"ini sudah sore. Aku capek !"
"ya sudah,ayo.."
Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Jongin hanya mengantar Sehun sampai ke depan gang kost-kostan Sehun.
"terima kasih untuk hari ini." Ucap Sehun saat menutup pintu mobil Jongin.
" ya." Jawab Jongin singkat.
"hati-hati di jalan. Beristirahatlah kalau sudah sampai di rumah." Nasehat Sehun.
" iya cerewet"Jongin acuh sambil menjalankan mobilnya dan berlalu.
.
.
#1013#
.
.
Sehun berjalan pulang ke kostan-nya. Ia merasa senang hari ini. Hari yang begitu menyenangkan. Sepanjang jalan ia hanya senyum-senyum sendiri. setelah sampai,ia langsung merebahkan dirinya ke kasur. Huh..lelahnya hari ini. Ternyata Jongin yang begitu kaku bisa tersenyum bahagia seperti itu. Ia juga terlihat lebih segar setelah dari taman. Sehun merasa lega. Ia bisa membuat orang menjadi lebih tenang.
" ternyata,Jongin itu bisa tersenyum juga. Aku kira namja macam dia hanya bisa mengomel." Gumam Sehun sambil membayangkan peristiwa tadi.
Nah,kenapa sekarang dia membayangkan senyuman Jongin ?
"hei,apa yang sedang aku pikirkan?! Sehun,jangan macam-macam !" Sehun menggumam dan menampar-nampar mukanya. Ia mencoba mengelak pada perasaannya. Tidak mungkin,aku tidak mungkin mempunyai perasaan seperti itu padanya. Ini hanya sementara ! gumamnya.
Sepanjang perjalanan,hati Jongin menjadi tenang. Entah mengapa,Sehun membuatnya merasa lebih baik. Coklat,udara taman,semua yang ia tunjukkan membuatnya lebih baik. Kenapa Sehun membuatnya merasa lebih baik? Melihat Sehun tersenyum,ia juga ingin tersenyum. Bahkan melihat dia marah,ia merasa gemas melihatnya. Apa artinya semua ini? Kenapa gadis gila itu membuat dirinya terus tersenyum? Apa arti perasaaan ini?
.
.
#1013#
.
.
" apa yang sedang kau pikirkan?" nenek memulai pembicaraan dengan Jongin saat di ruang makan.
"tidak ada. Memang kenapa,Nek?" tanya balik Jongin sambil mengerutkan kening,dan menahan senyuman.
" tak biasanya kau tersenyum-senyum sendiri. Pasti ada apa-apanya.." goda nenek.
"tidak ada apa-apa. Memangnya tidak boleh?" Jongin masih mengelak dan menahan senyuman. Sebetulnya ia sedang membayangkan Sehun.
" apa karena...Sehun?" tanya nenek sekali lagi dengan nada menuduh.
"untuk apa aku tersenyum karenanya? Dia Cuma gadis gila yang percaya dengan hal-hal yang tak masuk akal." Jawab Jongin masih mengelak. Ia masih tak mau mengakui.
"ayo,nenek sudah tahu. mengakulah!" rayu nenek sambil menyenggol-nyenggol lengan Jongin. Nenek tak mau menyerah.
Jongin masih mengelak,"apa sih! jongin gak suka!" ia berlalu dan mengambil kunci mobil sembari menuju garasi.
"kau mau kemana? Kau kan belum selesai makan," nenek mengingatkan.
" pergi jalan-jalan sebentar. Aku akan kembali," Jongin berhenti kemudian menuju ke garasi dan pergi.
.
.
#1013#
.
.
"Sehun,ini gajimu," kata Jooyoung,bos Sehun,sembari menyodorkan amplop putih.
"terima kasih,Pak." Sehun menerimanya dan menunduk tanda hormat,kemudian berjalan menuju dapur. Di dapur,ia berkumpul dengan teman-temannya yang sudah selesai menutup restoran.
"tak terasa,kita bekerja sudah hampir setahun," Yixing memulai pembicaraan,sambil menghembuskan nafas kelegaanya.
"iya,kau benar." Sambung Yoona sembari mengelap meja-meja karena resto akan tutup.
"kenapa kau sedih,Sehun?" tanya Yixing menghampiri Sehun yang sedang melamun.
"ujian kelulusan akan segera diadakan. Sepertinya,aku harus mencari pekerjaan tambahan," Sehun mendesah.
"apa gajimu tak cukup untuk mengikuti ujian?" Yoonaprihatin.
"cukup. Tapi aku tak bisa makan selama 2 minggu," ucap Sehun sambil menopangkan dagunya di atas meja. Wajahnya cemberut.
Yixing menambahkan,"kita bisa meminjamimu uang,kau tak perlu khawatir,"
"iya,Yixing benar !" sahut Yoona.
"terima kasih,teman-teman. Tapi aku telah banyak menyusahkan kalian. Lagipula,kalian juga sama butuhnya sepertiku. Kalian masih punya tanggungan kuliah,keluarga,mana tega aku meminta uang kalian?" Sehun berucap dengan nada bersalah.
"kalau memang itu maumu, it's okay, kami mendukungmu," Yoona menghampirinya dan menepuk-nepuk punggungnya memberi semangat.
"terima kasih,teman-teman. Kalian selalu menyemangatiku." Ucap Sehun sembari memeluk kedua temannya. Malam yang mengharukan.
"sama-sama,teman. Kita harusnya memang seperti ini,selalu ada di saat kesusahan," Yixing memberi semangat.
"aku menyayangi kalian..." sahut Sehun terharu. Ia menitikkan air mata.
"kami juga menyayangimu,Sehun.." sambung Yoona "kita akan selalu bersama.."sahutnya kembali.
Sehun melirik jam dinding. Sudah hampir tengah malam,"oh iya,maaf semuanya. Aku pulang dulu. Aku ingin beristirahat. Sampai jumpa besok.." pamit Sehun pada kedua temannya sambil berlari mengambil tasnya. Ia berlari keluar.
"hati-hati,Sehun.." nasehat Yixing pada Sehun yang sedang buru-buru.
Saat naik bus,sepanjang jalan ia termenung. Pekerjaan apa yang akan ia lakukan? Apakah cukup waktu ia mengumpulkan uang untuk ujian yang akan dimulai 3 minggu lagi? biayanyapun tak sedikit. Apa ia minta kiriman uang dari ayah atau ibunya saja? Itu tak mungkin. Ia sudah cukup menyusahkan orang tuanya. Ia tak ingin membuat repot kedua orang tuanya lagi. Masuk Seoul National Universitysaja sudah menyusahkan orang tua,apalagi sekarang? Ia begitu bingung dan galau.
Ia menyandarkan kepalanya ke kursi . Ia menarik napas, perlahan menghembuskannya.
"Tenangkan pikiranmu,pasti semua ini ada jalan keluarnya." Sehun bicara pada dirinya sendiri. "aku harus kuat,harus !" Sehun menyemangati dirinya sendiri.
"Sehun,you can do it !"
.
.
#1013#
.
.
Sehun turun di halte bus,tak jauh dari gang kost-kostannya. Ia berjalan sendiri,sambil berpikir tentang hal itu. Tanpa sadar,ia telah dihadang sebuah mobil di hadapannya.
"kenapa kau disini?" tanya Sehun pada pengemudi mobil itu,yang ternyata Jongin.
"naiklah," perintah Jongin pada Sehun yang sedang terheran-heran dengan kedatangan dirinya.
" kau mau bawa aku kemana?" tanya Sehun dengan nada terheran-heran.
"sudah jangan banyak bicara ! naiklah," perintah Jongin sekali lagi. Akhirnya Sehun menurut. Mereka pergi bersama.
"kau mau bawa aku kemana?" Sehun masih penasaran.
"ke suatu tempat," jawab Jongin singkat.
"ya..maksudku ke suatu tempat yang mana,bodoh?" Sehun masih bingung. Ia mengerutkan dahinya dan menatap Jongin.
"kau ini memang terlahir sebagai orang yang banyak tanya, ya?! Sudahlah,diam saja ! lihat saja nanti!" Jongin memarahi Sehun.
"iya..iya. aku akan diam saja," Sehun geram. Ia mendengus kesal. Jongin tersenyum dalam hati.
.
.
1013#
.
.
"kau bisa membaca pikiranku,ya? Memang sekarang aku sedang dalam banyak masalah," ucap Sehun gembira,karena Jongin ternyata membawanya ke tempat favoritnya,yaitu taman kota.
"tidak. Aku hanya asal saja membawamu kesini. Kupikir,kalau sudah malam,suasananya pasti lebih bagus," Jawab Jongin sambil menyandarkan kedua tangannya di bangku taman.
" kau benar. Taman menjadi begitu indah jika malam hari. Suasananya sangat damai.." Sehun memandangi sekeliling taman dengan perasaan senang.
"lama-lama," Jongin berucap, "berada di taman kota ini terasa menyenangkan." Sambung Jongin sambil menghembuskan nafas panjang.
"lihat!" seru Sehun,sambil menunjuk arah langit, "ada bintang jatuh,ayo ucapkan permohonan !" Sehun menatap Jongin dan menyuruhnya mengucapkan permohonan.
"kau masih percaya dengan omong kosong tentang mengucapkan permohonan itu?" ucap Jongin sinis.
"cobalah,satu kali ini saja.." Sehun memohon.
"ah..ya sudahlah," Jongin menurut. Mereka menutup mata,dan mengucapkan satu permohonan. Selesai itu,mereka kembali bersandar di bangku taman.
"kau tadi meminta apa?" tanya Sehun pada Jongin yang sedang menerawang langit.
"tidak boleh tahu," Jongin melarang.
"ahh..ayolah.."rayu Sehun.
"kalau kau tahu,itu namanya bukan permohonan," Jongin melarang,
"hmm..ya sudahlah," Sehun bersungut sambil mengurut-urut kakinya.
"kau kenapa?" Jongin memperhatikan tingkah laku Sehun.
"tadi restoran ramai. Aku capek sekali," keluh Sehun yang masih mengurut kakinya.
Jongin bangkit. Ia lalu jongkok ke depan membelakangi Sehun dan berkata, "naiklah,"
"apa?" Sehun kaget.
"kau tak dengar?" Jongin pura-pura marah, "naiklah" Jongin mengulang.
Sehun ragu, "tapi.."
"sudahlah,cepat !" Jongin sedikit meninggikan suaranya.
"iya. Permisi ya," Sehun naik ke punggung Jongin dan berpegangan pada tubuh Jongin. Mereka mulai berjalan. Jongin menggendong Sehun sepanjang jalan.
"terima kasih ya,kau sudah mau menolongku," ucap Sehun saat berada di gendongan Jongin, "maaf merepotkanmu selama ini," lanjut Sehun merasa bersalah.
"tak apa. Hitung-hitung,aku membalas jasa karena kau telah banyak meluangkan waktu untuk nenek. Dulu,aku sering meninggalkan nenek sendirian di rumah. Tapi sekarang,Beliau sudah punya teman bicara," Jawab Jongin.
"kau tahu,nenek Youngjin yeoja yang sangat baik. Jarang ada orang kaya yang mau menolong orang yang tak kaya,sepertiku. Bahkan,nenek sudah menganggapku seperti cucunya," Sehun memuji nenek.
"satu-satunya yang kupunya hanyalah nenek," Jongin menceritakan kisahnya, "setelah aku tak punya siapa-siapa,hanya nenek yang selalu ada buatku. Sampai ayah meninggal,hanya nenek yang ada disampingku. Aku banyak berhutang budi padanya."
"kau sungguh beruntung,kau bisa memiliki nenek yang begitu perhatian padamu," ucap Sehun sembari merapatkan gendongan.
"ya,kau betul,"
"kau tak capek?"
"tidak. Aku sudah biasa."
" Aku turun disini saja,"
" tidak bisa ! Aku antar kau sampai ke rumah,"
"tapi,mobilmu bagaimana? Dan kau pasti lelah.."
"mobilku sudah diurus pak supir. Tak ada masalah,"
"terima kasih banyak,atas pertolonganmu. Aku banyak berhutang budi padamu,"
"sudah berapa kali kau bilang terima kasih terus? Kan aku sudah bilang,aku tak apa-apa!"
"wah,jangan marah,dong! aku kan hanya ingin berterima kasih. Sensitif sekali"
"ahh..terserahlah..!" Jongin pura-pura kesal.
Mereka terus berjalan. Sesampai di tempat kostnya Sehun,ternyata Sehun sudah tertidur pulas di gendongan Jongin. Jongin tak tega membangunkan Sehun,sehingga ia mengantarkan Sehun sampai di kasur. Ia menyelimutkan Sehun dengan selimut,dan memandangi Sehun.
"gadis gila,kenapa kau bisa membuatku menuruti semua perintahmu?",gumam Jongin pelan menatap Sehun,
"tapi asal kau tahu,kau sudah merubah sedikit demi sedikit hari-hariku. Aku merasa lebih tenang,dan bahagia menjalani hidup."
"Sifat gilamu itu yang membuatku seperti ini,dan...tak bisa mencegah perasaanku padamu." Jongin bercerita,seolah-olah sedang mencurahkan isi hatinya pada Sehun.
"aku... mulai tertarik padamu," bisik Jongin di telinga Sehun sebelum ia pulang.
.
.
—TBC—
.
.
Author's corner :
Akhirnya update hehehe terimakasih buat reviewer yang udah sempat bikin jejak di fanfic saya. Suatu kebanggaan bisa direview apalagi banyak orang ehehe lagi galau banget masa fanfic kaihun sekarang makin langka -_-
So, mind to review?
