Disclaimer :Naruto © Masashi Kishimoto

Title : Universal

Rate :T

Genre :Romance/Angst

Warning :AU, OOC, typo(s)

Note : Neji kelas tiga SMA, Hinata kelas dua XD

.

.

o . . . .oOo. . . . o

I Have my Own Reason

Part 2

o . . . .oOo. . . . o

.

.

Suara dapur terdengar berisik di pagi buta. Neji yang menyadarinya, beranjak dari kasur dan berjalan setengah sadar menuruni anak tangga. Tangan kanannya menekan dahi, dikarenakan rasa nyeri yang berlebih menjalar disana. Suara derit lantai kayu dirumahnya membuat keberadaan Neji mudah disadari, hingga orang yang sedang sibuk membuat suara gaduh di dapur menoleh sebelum kepala pemuda itu muncul dari ambang pintu.

"Ah, Selamat pagi, Nii-san," Hinata menyapanya seperti biasa. ia sedang mengelap meja dapur, dan tempat cucian piring yang kotor. Sementara di ruang tamu, dua buah sandwich dengan segelas susu tinggi sudah bertengger manis memenuhi meja.

"Apa … yang kau lakukan pagi-pagi begini?" Neji tercengang dengan kerja keras Hinata yang mengambil alih seluruh pekerjaan rumah tangganya. Gadis itu lagi-lagi tersenyum simpul. Diletakkannya piring yang baru saja di cuci pada rak-rakkan.

"Sebaiknya Nii-san sarapan," tukasnya lembut. Ia mendorong tubuh semampai Neji menuju meja makan. Mau tidak mau, pemuda berambut panjang itu duduk, dan mengambil piring Sandwich-nya. Hinata hendak kembali ke dapur, namun Neji yang sedang menikmati sarapannya mencegah,

"Kenapa tidak makan?" gadis berambut biru itu memunggungi sepupunya dan berujar pelan,

"Ah, aku lupa cuci tangan," ia menggosok belakang kepalanya dengan tangan kiri, "P-Permisi sebentar," ucapnya gagap. Untuk beberapa saat, Hinata kelihatan gugup di depan Neji. Namun pemuda itu tidak terlalu memusingkannya dan berniat untuk menggigiti sandwich-nya lagi.

Gadis itu berlari kecil menuju bak cucian piring dan menyalakan air keran disana. Ia membasuh jari tangan kanannya yang berdarah saat itu. Hinata sadar, saat menarik kursi untuk Neji, jarinya tergores karena terlalu buru-buru.

"G-Gawat," gadis itu mulai berkeringat dingin. Darahnya tidak berhenti mengalir. Ia mencoba menarik sebuah pintu laci di dapur dan mengambil sebuah botol yang sudah disimpannya sejak bangun tidur. cairan di dalam botol itu dituangkannya pada kapas yang sudah di persiapkan terlebih dahulu. Kemudian mengoleskannya pada jari yang terluka dengan niat membersihkan. Masih belum berhenti juga, Hinata mencari es batu di kulkasnya. Kemudian mengompres tangannya yang berdarah tersebut dengan es dingin berplastik.

Bersyukur, aliran darah itu berhenti perlahan.

Dengan sigap, gadis itu mengambil perban kecil di saku bajunya yang sudah di persiapkan, kemudian membalut jarinya dengan lembut.

"Hinata? Apa yang kau lakukan di bawah sana?" terkejut dengan suara bass Neji, Hinata segera memasukan kembali sisa perban yang tadi digunakannya kedalam saku baju. Gadis itu menoleh kaku dalam keadaan terduduk di atas lantai dapur,

"Aa.. N-Nii-san," suaranya sedikit bergetar. Untunglah, bajunya berupa jaket berkantung, sehingga tangan kanannya bisa dimasukkan ke dalam saku, "Aku terpeleset.. hehe," ungkapnya bohong. Neji menautkan alisnya. Ia memerhatikan sekeliling bahwa nyatanya tidak ada setetes airpun disana. Bagaimana mungkin Hinata bisa terpeleset di atas lantai kayu yang kering?

"…Hati-hati," akhirnya Neji memutuskan untuk membantu gadis itu berdiri, dan bukannya menanyakan alasan kenapa Hinata bisa terpeleset, "Cepat habiskan sarapanmu, aku mau mandi dulu," gadis kecil itu mengangguk dalam bisu. Matanya yang ragu-ragu barusan, kembali pada setting-nya yang semula, tersenyum cerah.

Neji sudah melewati ambang pintu dapur, namun tiba-tiba saja tangannya meraih badan tembok dan menoleh kepada Hinata lagi, "Oh iya," gadis berambut biru itu kembali was-was.

"Kenapa … Nii-san?" tanyanya pelan. mata Neji masih terpaku pada meja di ruang makan,

"Aku baru sadar, kau tidak membuat susu untuk dirimu sendiri ya?" wajah maskulin itu menoleh dengan tatapan pastinya. Hinata berkeringat, lagi.

"Ee.. i-itu," ia mengambil botol isi alkohol yang tadinya digunakan untuk membersihkan luka goresnya. Karena botol itu mirip seperti botol minum anak-anak, Hinata merasa aman beralibi dengannya, "Aku memasukkannya ke dalam botol. Sekalian untuk bekal," Neji hanya bergumam.

"Oh … kau sudah mandi kan?" Hinata mengangguk polos, "Selesai makan cepat ganti bajumu dengan seragam sekolah,"

"Baiklah, Nii-san. Jangan khawatir," gadis itu melambaikan tangannya, seolah menyuruh Neji untuk cepat mandi. Pemuda itu akhirnya menghilang dari ambang pintu. Hinata kembali menghela nafasnya yang dalam.

Gadis itu menoleh keluar jendela rumah. Bersyukur, cuaca diluar sangat kelam dan angin di musim dingin bertiup kencang. gadis itu bisa menutupi luka kecilnya yang terlihat sepele dengan sarung tangan berwarna biru gelap. Selepas sarapan, Hinata mengambil tasnya dan memasukkan botol isi alkohol itu ke dalam kantung tas yang paling dalam. Kemudian, perban-perban elastis dan kecil yang berada di saku bajunya tadi dipindahkan oleh Hinata kedalam dompet besarnya yang berwarna ungu cerah. Dan terakhir, ia mengambil sebuah tas kecil dari kopernya. Warnanya cokelat tua, dan tidak terlalu mencolok. Tas yang memiliki fungsi seperti kulkas tersebut diisi oleh beberapa kantung es batu. Kemudian Hinata memasukkan dua kotak es krim kecil yang berfungsi untuk menutupi semua es-es batu yang disembunyikannya di balik tas mini tadi. Semua barang-barang itu ternyata muat didalam ransel Hinata yang nyatanya mirip seperti tas punggung para pendaki gunung. Hinata bersyukur memiliki tas besar untuk saat ini.

Sampai sekarang, gadis itu masih bisa menyembunyikan semuanya dengan rapi.

.

.

oOoFujioOo

.

.

"Tasmu … besar sekali?" Neji terbelalak saat tahu-tahu gadis mungil itu muncul sambil menjinjing sebuah tas besar berwarna hitam pekat. Hinata tertawa pelan.

"Modelnya memang begini … makanya diisi sedikit atau banyak barang, bentuknya tetap besar," gadis itu menyamai langkah Neji yang berada di sampingnya. Neji sendiri tiba-tiba saja mengambil tas yang di gendong oleh Hinata tanpa izin, "Wakh!" gadis itu tersentak.

Begitupun dengan Neji, yang tidak menyangka bahwa tas milik Hinata saat itu benar-benar berat, "Kau isi apa saja tas ini? Batu?" tanyanya heran. Wajah Hinata terlihat marah,

"Kembalikan," tukasnya tegas. Tangannya terulur ke depan wajah Neji, "Kembalikan tasku," mata Hinata terlihat tajam. Neji memandangnya semakin aneh. Pikirnya, udara dingin membuat gadis didepannya menjadi emosi.

"Biar kubawakan," Neji berlalu tanpa permisi. Hinata terbengong di belakangnya, "Ayo cepat, naik," pemuda itu mengeluarkan sebuah sepedah berkeranjang dengan model untuk laki-laki. Ia meletakkan tas Hinata di keranjang tersebut, sementara tangannya menepuk-nepuk jok di belakang tempat duduknya. Perlahan, Hinata berjalan mendekat, perasaannya mulai tenang, dan kemudian ia duduk di belakang Neji.

"Ano … kita naik sepeda?" tanya Hinata yang memegangi -lebih tepatnya menarik- seragam Neji dengan kuat.

"Kau pikir kita akan naik kereta?" Neji mendengus malas, "Kalau kau tak suka, biasakanlah hidup sederhana disini. Harga tiket kereta bisa gunakan untuk membuat sarapan, tahu," ia mulai mengayuh pedal sepedahnya tanpa aba-aba. Hinata terkikik sendiri disana. Tidak menyangka, bahwa kakaknya punya 'wajah' lain yang belum pernah di lihatnya selama ini. Neji tidak terlihat formal saat itu, "Kenapa kau tertawa?" sanggah pemuda didepannya dengan suara yang menginterupsi.

"Haha … tidak, apa-apa," Hinata menyandarkan kepalanya di punggung lebar Neji yang hangat. Pemuda di depannya sempat kaget, namun tidak memberikan respon maupun melarang Hinata untuk melakukannya. Jadi, Neji memutuskan untuk diam dan mengendarai sepedanya dengan tenang.

Sepanjang jalan, langit di sekitar pedesaan mereka terlihat kelabu. udaranya begitu dingin, dan pematang beserta lapangan-lapangan luas membentang di sekeliling mereka. Perjalanan terasa menyenangkan bagi Hinata saat itu, "Aku bukannya tidak suka," tiba-tiba saja gadis itu berujar. Hinata menghirup udara disekitarnya dalam-dalam, "Justru aku menyukai tempat ini," tambahnya lagi, semakin mencengkeram seragam Neji dengan kuat. pemuda di depannya tersenyum tipis secara rahasia.

"Kalau begitu pegangan yang kuat, aku akan ngebut," dan dalam sekejap, roda sepeda itu berputar lebih cepat dari yang sebelumnya. Hinata melewati setiap pemandangan yang ditangkap oleh matanya dengan tawa yang mengembang.

.

.

oOoFujioOo

.

.

Setiap murid yang dilewati oleh Hinata berbisik dengan rahasia. Tidak sedikit yang wajahnya bersemu atau memancarkan mata kekaguman secara jelas. Hinata dengan seragam sailor-nya terlihat manis. Meskipun, nyatanya gadis itu memang cocok mengenakan pakaian apapun. Ditambah dengan keberadaan sepupunya Neji di samping Hinata, lengkaplah sudah kecantikan yang terpancar oleh Hyuuga bersaudara itu.

"Ohayou, Hyuuga-san," seorang gadis berambut cepol menepuk bahu Neji. Wajahnya nyengir saat tahu pemuda itu menatapnya, "Pulang sekolah kau kosong tidak?" tanyanya tiba-tiba dengan ekspresi yang kelewat semangat.

Neji menoleh pada sepupunya Hinata untuk memastikan bagaimana ekspresinya saat itu. Hinata masih tersenyum, seperti biasa.

"Hei? Bagaimana?" gadis semangat itu bertanya lagi. Ia tidak sabar mendengar jawaban Neji.

"Ah, bagaimana ya?" pemuda itu mengusap tengkuknya, tidak enak, "Pulang sekolah aku harus mengantar sepupuku pulang," matanya mengekor pada Hinata yang berdiri mematung disampingnya. Gadis itu tersentak mendengar jawaban 'tidak' dari Neji.

"Wakh, tidak, tidak apa," kepala Hinata menggeleng cepat. Kedua tangannya yang mengenakan sarung tangan pun ikut menolak, "Aku bisa pulang naik bis … Nii-san jangan khawatir," ucapnya ringan. Gadis berambut cepol itupun ikut berwajah sumringah.

"Nah, nah … sepupumu saja tidak keberatan. Ayolah … sebentar saja," Neji kembali melirik Hinata, sekedar untuk memastikan,

"Kau yakin, pulang sendiri?" Hinata mengangguk patuh. Wajahnya tersenyum lembut,

"Ya, aku tidak apa-apa," sedetik kemudian, pandangan Hinata beralih pada gadis yang kini merangkul lengan Neji, "Perkenalkan, saya Hinata," gadis berambut biru gelap itu menunduk sopan.

"Ah, Ano … aku Tenten," jawabnya terbata. Gugup karena perilaku Hinata yang sopan diluar batas perkiraannya, "Nah, Neji. Ayo cepat, kelas akan dimulai," lanjut gadis itu yang mulai menarik lengan Neji menuju arah yang berlawanan dengan kelas Hinata. Neji sempat melepaskan rangkulan tangan Tenten dan menjitak kepalanya, "Adaw!" gadis itu meringis.

"Kau sudah tau kelasmu kan, Hinata?" pemuda itu kembali menoleh pada sepupunya sebelum benar-benar pergi. gadis itu mengangguk lagi, sambil tertawa kecil.

"Ya, jangan khawatir," ungkapnya pelan. entah kenapa ini adalah yang kedua kalinya Hinata meyakinkan Neji untuk tidak khawatir terhadapnya, "Kelas sebelas-satu. Dari sini belok kanan, ada perempatan belok kanan lagi. Disebelah laboratorium persis," Neji mengangguk setuju.

"Baiklah kalau begitu. Sampai nanti, Hinata," langkah Neji perlahan menjauh. Rasanya begitu sepi, saat kaki berlangkah besar itu pergi menghilang, dan bahkan tidak berada di sampingnya lagi. Ada perasaan yang sedikit iri saat menyaksikan Tenten dekat dengan Neji. Namun Hinata sudah tahu alasannya apa.

Bel di sekolahnya berbunyi semakin jelas, cepat-cepat gadis itu berlari menuju kelasnya. Setengah mati ia mengejar waktu, nafasnya sedikit terengah. Ketika tiba di depan sebuah pintu geser berplang sebelas-satu, lagi-lagi Hinata harus menarik nafasnya agar tidak gugup. Setelahnya, pintu itu digeser dengan hati-hati oleh Hinata. serentak, tiba-tiba saja cahaya kemilau di dalamnya menyilaukan mata gadis itu. Semerbak aroma khas dan udara yang berhembus dari dalam menerpa wajahnya.

Kelas miliknya terlihat gaduh dengan murid-murid yang membuat keramaian. Tidak hanya dari mulut gadis-gadis yang bergosip dengan suara teriak, bahkan anak laki-laki pun ikut mencari perhatian dengan bersahut-sahutan bak gagak.

Hinata mulai bergidik takut, ia tidak berani melangkah lebih dalam ke kelas barunya itu. apalagi saat dilihatnya seorang bocah berambut pirang memegangi sebuah pemukul baseball dan memukul bola-bola kertas buatannya dengan itu. Disampingnya seorang bocah berambut kecokelatan dengan plester merah dipipinya menjambak-jambak baju kawannya yang tertidur tidak peduli di mejanya.

"Oi! Shikamaruuu! Menyingkir dari mejakuu!" kukunya mencakar-cakar. Hinata semakin ngeri melihatnya.

Kelas ini bahaya.

Ia bisa terluka jika bergabung dengan anak-anak desa itu. matanya mencari orang-orang atau setidaknya seseorang yang terlihat tenang dan bisa didekati olehnya. Sehingga ia merasa terlindung atau minimal, aman. Matanya terpaku pada sosok seorang bocah berambut gagak yang sedang membaca buku dengan tenang di sudut belakang kelas. Dalam hati, Hinata mengutuk dirinya sendiri.

'kenapa orang itu harus berada di pojok belakang!'

Jika gadis itu ingin beranjak kesana, itu artinya sama saja Hinata harus melewati 'neraka' dunia didepan matanya saat ini.

Tidak, ia belum mau mati. ia terpaksa menunggu seorang guru masuk dan menenangkan kelasnya.

"Selamat pagi, anak-anak," beruntung, timing-nya tepat. Seorang pria bermasker mencurigakan, masuk sambil menarik Hinata ke depan kelas.

"Heh, Kakashi-sensei, sudah telat berlagak keren," bocah pirang yang mempunyai pemukul Baseball itu mengacungkan jempol terbaliknya. Disusul oleh suara murid-murid lain yang menyoraki guru mereka

"Huuu! Huuuu! Payah!" kelas semakin gaduh. Hinata ingin sekali menggali sumur yang dalam dan masuk ke dalam sana.

"Oi, oi, tenang dulu! aku telat karena mengurusi data murid baru ini," kilah Kakashi, menunjuk Hinata yang berdiri di sampingnya. Satu kelas menjadi senyap, tanpa suara. Semua mata kini membidik Hinata tepat sasaran. Gadis itu tersenyum setenang mungkin.

"Waa Manis!" celetuk Kiba spontan. Yang lainnya langsung menertawai kejujuran pemuda itu. sekarang wajahnya mengerut penuh ejek, "Heh! Jangan munafik. Aku hanya menyuarakan suara hati kalian semua," tunjuknya menantang semua murid. Bahkan jari itu mengarah pada bocah dingin yang duduk di pojok kelas, yang Hinata lirik sejenak, "Sasuke, kau setuju kan?" tanyanya nekat. Semua murid gambling dalam hatinya. Sasuke pasti mengatakan 'tidak'. Pikir mereka.

"Hn? Kau bicara padaku?" earphone di telinga Sasuke di lepas kemudian. Wajahnya datar.

'Dasar brengsekk! Dia mengejekku' umpat Kiba dalam hati. Walhasil, satu kelas kembali gaduh dengan suara tawa mereka.

"Sudah, sudah. Tenang!" lagi, Kakashi kembali mengambil inisiatif untuk berteriak keras, "Ehem," kemudian berdehem setelah murid-murid di depannya terdiam mendengar suara 'singa'nya, "Kita beri kesempatan lima menit bagi Hinata untuk memperkenalkan dirinya. Ayo silahkan," guru Kakashi menoleh pada Hinata sambil tersenyum.

Gadis itu mengangguk, kemudian mengambil sebuah kapur tulis dan menuliskan namanya disana, "Nama saya Hinata Hyuuga. Salam kenal semuanya," ia membungkuk sembilan puluh derajat.

"Sopan sekali…" celetuk si pirang sambil bertopang dagu di mejanya. Hinata yang menyadarinya, segera menoleh kearah pemuda itu dan menghujaninya dengan senyuman. jantung si pirang berdetak lebih cepat dari yang sebelumnya,

"Aku tahu, mungkin keberadaanku disini akan menyusahkan kalian semua. Tapi, mulai detik ini aku mohon bimbingannya. Kuharap, kita bisa berteman dekat," ia mengganti gaya bicaranya menjadi non-formal. Senyum itu kembali terarah pada Naruto yang sempat meragukan sikapnya. Pemuda itu menjadi salah tingkah.

"Yah, mungkin ada yang mau bertanya pada Hinata sebelum kita mulai belajar?" seorang murid berambut pink angkat tangan,

"Sensei, Hinata-chan duduk dimana?" Kakashi menggaruk pipinya, tanda malu.

"Ah, iya. Soal tempat duduk…" ia memerhatikan sekeliling kelas, "Bagaimana jika disebelah Naruto … Hm," yang namanya dipanggil langsung berbicara terbata,

"E-Eh? Aku?" Hinata kaget saat tahu yang namanya Naruto adalah cowok pirang yang berisik itu.

"Tunggu dulu, jangan," Kakashi meralat kata-katanya. Naruto sempat kecewa karenanya, "Kursi di sebelah Uchiha kosong kan?" semua menoleh ke belakang pojok, tepat dimana Sasuke bersandar di dinding kelas sambil memutar lagu-lagunya dari I-pod. Seorang pemuda kota yang baru saja pindah sekitar tiga bulan yang lalu, dan dalam kedipan saja langsung menjadi pusat perhatian di sekolah ini. Dia memang kebanggaan bagi para remaja putri, namun iblis dingin bagi para cowok. Itu sebabnya, tidak banyak anak-anak cowok yang berbicara atau bahkan mau dekat-dekat dengannya. Apalagi duduk sebangku!

"Sasuke Uchiha? Silahkan angkat tanganmu," perintah Kakashi lagi. Bocah cuek itu mengangkat tangannya singkat, kemudian kembali hanyut dalam dunia musiknya. Untuk sesaat bola mata Sasuke yang hitam menusuk pandangan Hinata tanpa kedip. Begitu lurus, dalam dan tajam. Namun, Hinata sadar. tiba-tiba saja bola mata Onyx yang menatapnya itu terlihat melebar, dan kemudian ia merasa sesuatu yang tidak enak menyerang tubuhnya. Sekejap saja, Hinata limbung, dan terjatuh. Pemandangan disekitarnya terlihat remang hingga semakin lama menjadi gelap gulita. Hanya ada suara teriakan yang terdengar bagaikan sayup-sayup ditelinga Hinata.

'Kenapa?'

Gadis itu bertanya dalam hati. Hinata pingsan di kelas. ia bahkan tidak tahu siapa yang sudah membopongnya ketika gadis itu sedang bermimpi terbang di angkasa. Aroma musim gugur tercium begitu pekat.

"Baiklah sensei,"

Dan Itu adalah suara terakhir yang Hinata dengar di kelas barunya.

.

.

oOoFujioOo

.

.

Seorang perawat di UKS sekolah memeriksa tubuh Hinata. Mula-mula ia mengira bahwa gadis itu mengidap anemia. Namun pikiran kecil itu tersingkir saat wanita paruh baya tersebut melepas sarung tangan Hinata dan menemukan darah yang tak berhenti mengucur dari sana.

"A-Apa ini?" ia terkejut bukan kepalang. Masalahnya luka itu hanya segores, namun darah yang keluar dari sana lantas tak pernah mau mengering, "Sasuke, ambilkan es batu!" bocah Uchiha itu dengan sigap berlari menuju kulkas kecil disamping meja UKS. Ia mengambil sebuah es batu berplastik dan memberikannya pada guru sekaligus pemilik UKS itu.

"Ini, Kurenai-sensei," dalam hati, Sasuke bertanya-tanya separah apa penyakit yang mengendap dalam tubuh Hinata.

"Ini gawat sekali … Hinata harus dibawa ke rumah sakit," wajah Kurenai-sensei terbaca bahwa ia tidak main-main. Kompresan es itu dibiarkan tergeletak di atas meja kecil samping ranjang. Perban milik Hinata dilepas, dan sungguh, darah itu tidak berhenti, masih mengalir dengan baik.

"Sensei, mungkinkah Hinata terkena Hemofilia?" wajah Kurenai mengangguk khawatir. Ia mengambil kunci mobil Volvonya dan menuliskan sebuah surat Izin untuk Hinata dan juga Sasuke, "Aku ingin kau ikut ke rumah sakit Sasuke. tapi sebelumnya, serahkan ini pada wali kelas kalian," bocah itu mengangguk. Ia mengambil surat keterangan yang dibuat oleh Kurenai dan pergi ke kelas sesuai dengan perintah, "Jangan lupa, langsung ke halaman depan sekolah. Mobilku akan kuparkir disana,"

"…Ya," serta-merta pemuda itu berlari keluar kelas.

Susah payah Kurenai memapah tubuh Hinata yang saat itu dalam kondisi setengah sadar, "Ng … I-Ini siapa?" tanya Hinata tiba-tiba. Suaranya terdengar lemah. Gadis itu pikir, orang yang membopongnya tadi dengan yang sekarang sudah berbeda lagi. Ia bisa mencium aroma farfum yang berbeda pula.

"Apa ada yang sakit, Hinata? Kau baik-baik saja?"

"T-Turunkan aku…" gadis itu mulai merasa tidak nyaman. Ia berontak, hingga akhirnya Kurenai-sensei menurunkannya dari punggung hangatnya. Hinata berdiri dalam keadaan limbung,

"Hati-hati," ucap Kurenai yang saat itu menahan tubuh mungil Hinata agar tidak jatuh, "Ayo ikut aku," kaki Hinata tidak beranjak sedikitpun.

"K-kemana?" tanyanya was-was. Kurenai menghela nafasnya, lelah. Ia baru sadar, bahwa gadis itu pasti tidak suka dengan rumah sakit.

"Kita harus kerumah sakit untuk mengobati lukamu itu," mata Kurenai menunjuk kearah jari tangan kanan Hinata. Gadis itu tersentak kaget saat tahu-tahu sarung tangannya terlepas dan perbannya tidak ada.

"Tidak mau!" dia lari membabi buta, hingga tubuh tegap di depannya tertabrak, "W-Wakh! Nii-san!"

"Lho? Hinata?" gadis itu mendorong tubuh besar di depannya. Neji tersentak kaget, "A-Kenapa dia?" kepalanya menoleh heran saat menemukan Hinata berlari tunggang langgang seperti itu. Kurenai-sensei ikut berlari mendahuluinya,

"Tunggu Hinata!" Neji pikir, sepupunya itu terlibat masalah sekolah. Lantas, setelah menggeleng tidak percaya, ia kembali berjalan pelan menuju kelasnya.

"Semoga saja dugaanku salah…"

Dan dugaan itu memang salah.

.

.

oOoFujioOo

.

.

"Sasuke tangkap Hinataa!" pemuda yang baru saja balik dari kelasnya itu sadar bahwa seorang gadis berlari kearahnya.

"Akh," Hinata yang sadar, hendak mengelak namun apa daya, Sasuke berhasil meraih lengannya, "L-Lepas!" Sasuke mempertipis batas diantara mereka,

"Kau mau kupukul sampai pingsan atau kubawa baik-baik kerumah sakit?" bola mata perak Hinata menatap pemuda di depannya dengan takut-takut, "Aku serius Hyuuga. Pilih, salah satu," perlahan-lahan, tubuh Hinata berhenti melakukan pemberontakan. Gadis itu terduduk sambil menahan isakan.

"M-Maaf," ia mengusap matanya dengan tangan kiri, "Maafkan aku," ucapnya lagi. Kurenai hanya tersenyum tipis, bangga dengan sikap Sasuke yang pintar mengontrol emosi orang.

"Iya, iya. Aku mengerti," Kurenai menarik tubuh Hinata untuk berdiri, "Ayo," ia sadar, sebentar lagi Hinata sampai pada batasnya. Tetes demi tetes darah yang mengalir pada tangan gadis itu semakin surut, namun darah tersebut belum juga berhenti mengalir. Hinata nyaris saja kembali pingsan kalau saja Sasuke tidak kembali menangkapnya dan memapah gadis itu menuju mobil Volvo Kurenai.

"Kau cocok menjadi psikolog Sasuke," Kurenai tersenyum sembari menyetir mobilnya. Bocah raven yang duduk di jok belakang bersama dengan Hinata hanya bergumam acuh. Pundaknya dijadikan sebagai penyanggah kepala Hinata yang bersandar nyaman padanya. Jari Hinata diperban lagi untuk sementara.

Hingga akhirnya, mobil perak itu berhenti di depan sebuah rumah sakit yang cukup ternama, Konoha. Hinata langsung saja di papah dengan ranjang berjalan menuju bangsalnya. Seorang dokter dengan susternya masuk untuk memeriksa tubuh gadis itu. sesuai dugaan, pernyataan yang sama keluar dari mulut sang dokter,

"Murid anda positif terkena Hemofilia," ungkapnya pelan, "Detak jantungnya sedikit tidak normal, pernafasannya kurang teratur, dan dibalik itu semua, ia juga terkena Anemia karena banyak darah yang keluar dari luka gores di jarinya," wajah Kurenai semakin khawatir. Sementara Sasuke duduk dengan kaki yang tak bisa diam di kursi tunggu. Tidak bisa dipungkiri bahwa rasa kasihan mulai menyelimuti perasaannya terhadap gadis itu.

"Sensei, boleh saya lihat keadaan Hinata?" ucap Sasuke pelan. Kurenai hanya mengangguk pelan,

"Ya, tolong jaga Hinata sebentar. Aku akan mengurus biaya pengobatan Hinata dulu," dan tak lama setelahnya, Kurenai berjalan menjauhi ruang rawat Hinata beserta dengan sang dokter yang terus menerus membicarakan sesuatu terhadap wanita muda itu. Sasuke membuka pintu ruangan Hinata perlahan. Ia tidak menyangka, bahwa dalam beberapa menit saja, wajah gadis itu sudah terlihat pucat.

"Sasuke…" Hinata menoleh saat tahu pintu kamarnya dibuka oleh seseorang. Senyuman itu tak pernah pudar di saat seperti apapun.

"Kau … sakit Hinata," gadis itu tertawa kecil mendengar pernyataan Sasuke, "Hemofilia bukan penyakit sembarangan, bodoh. Kenapa kau menyembunyikannya dari pihak sekolah?" gadis itu membisu tiba-tiba. Senyumnya pudar, "Aku bertaruh, kakakmu Neji juga tidak tahu soal penyakitmu ini," bola mata perak Hinata melebar,

"I-Iya," ia menunduk kemudian, "K-Kumohon, rahasiakan ini dari Nii-san. Aku sudah banyak merepotkannya. Dan tanpa ia tahu penyakitku ini pun, rasa khawatirnya sudah sangat berlebihan. Kumohon, kalau kau mengatakan semuanya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana Nii-san akan bersikap padaku nanti," gantian, Sasuke yang terdiam. Ia duduk di samping ranjang Hinata, pandangannya menelusur ke arah kaca jendela kamar,

"Kenapa, memangnya kalau kakakmu khawatir? Itu sudah wajar kan? Penyakitmu itu memang parah," sembur Sasuke datar. Wajahnya bertopang dagu kini. Ia menoleh pada Hinata dengan mata yang berani, "Jangan-jangan keluargamu juga tidak tahu dengan penyakitmu ini?" selidik Sasuke. Hinata hanya menundukkan kepalanya, lagi.

"Keluarga yang mana? Ayahku sudah meninggal sebulan yang lalu," dunia terasa gelap dimata gadis mungil itu, "Penyakit ini diturunkan darinya … adikku Hanabi, untungnya tidak terjangkit penyakit yang sama denganku. Setelah kematian ayah, Hanabi di titipkan di rumah bibi. Sementara aku, di rumah paman alias, ayahnya Neji,"

Banyak hal yang Hinata rahasiakan pada Neji. Ia bahkan sempat berbohong dan tidak mengatakan bahwa ayahnya sudah meninggal. Semuanya bocor tanpa Hinata sadari di depan Sasuke, orang yang bahkan belum pernah diajaknya bicara atau ditemui sekalipun. Setelah puas, gadis itu baru menyadari apa yang baru saja diucapkannya,

"C-Celaka! Jangan ceritakan yang tadi kepada siapapun, mengerti?" Sasuke terdiam menatapnya, "Jawab aku!" lagi, Hinata menagih balasan dari lidah Sasuke yang menurutnya kelu. Pemuda itu hanya menyeringai, namun bukan berarti ia berniat jahat.

"Ya. Asalkan kau tidak bertindak konyol atau membahayakan dirimu sendiri," gadis itu awalnya ragu, namun akhirnya ia mengangguk dengan mantap di depan wajah Sasuke.

"Ya, baiklah. Kalau ada apa-apa, aku akan menghubungimu. Pinjam ponselmu," Hinata mengulurkan tangannya di depan wajah pemuda itu. Sasuke dengan sukarela menjulurkan tangannya ke dalam saku celana dan mengambil sebuah ponsel berwarna hitam berlian kepada Hinata. Gadis itu mengetikkan beberapa keypad di ponsel Sasuke dan sedetik kemudian, ia mengembalikannya, "Ini,"

"Jadi, Hinata Hyuuga ... Cepat sembuh," cowok di sampingnya mengelus pelan kepala Hinata dengan lembut. Gadis itu tersentak kaget dibuatnya. Ia bahkan belum pernah diperlakukan demikian oleh Neji, orang yang menjadi alasan kenapa Hinata rela pindah ke desa daripada di kota bersama dengan Hanabi dan bibinya.

"Ya," matanya berkaca-kaca. Untuk sementara, Sasuke kebingungan sendiri dengan gadis mungil yang tiba-tiba saja menangis didepannya.

.

.

oOoFujioOo

.

.

Semua murid yang ditinggal pergi oleh Hinata dan Sasuke sedang mengitari bangku Hinata dengan pandangan mengobservasi.

"Menurutmu, tas Hinata isinya apa ya? Besar banget," salah seorang gadis berambut pink yang tadi mengacung, bergumam heran. Salah seorang teman ceweknya yang pirang membuka resleting tas Hinata saat itu, "Hei– Ino-pig! Apa yang kau lakukan!"

"Sudahlah, daripada bergumam saja kerjaanmu, lebih baik cari tahu," sanggah gadis berkuncir satu itu dengan mata yang serius. Perlahan tangannya merogoh kantung tas.

"Tapi kan tidak sopan," sambung Sakura menambahkan. Saat itu ia menangkap wajah Ino yang sudah berubah menjadi kaget, "K-Kau kenapa?" tanyanya hati-hati. Murid yang lain juga penasaran melihatnya. tangan Ino menarik sebuah botol minuman keluar, dan sebuah dompet yang sangat tebal.

"Waa … Hinata banyak duit ya!"

"Berisik kau, Kiba!" Sakura memukul kepala cowok berambut cokelat-merah itu. mukanya memancarkan ekspresi tidak suka. Ino mendesis, menyuruh kedua sahabatnya itu agar tidak berisik. Perlahan, gadis itu membuka botol minum Hinata, dan mengendus baunya.

"Minuman apa ini?" ia tidak bisa menebaknya. Naruto mengambilnya tanpa aba-aba,

"Sini, sini! Biar aku yang cicipi," Naruto nyaris saja menenggak cairan di dalam botol itu kalau saja aroma yang sangat dikenalnya itu tidak tercium, "Huek! Ini kan Alkohol!" seru Naruto melempar botol itu tak sengaja. Air nya tumpah kemana-mana.

"Waa! Bodoh! Kau membuat ruangan ini bau alkohol!" jerit Kiba tidak tahan. Shikamaru yang masih kekeh bermalas-malasan di kursinya pun ikutan mendecih sebal,

"Sudah berisik, bau lagi," ia semakin menenggelamkan kepalanya agar tidak mencium wewangian yang tidak enak itu.

"Alkohol?" tanya Sakura tidak percaya.

"Ibuku selalu menyimpan stok obat Alkohol banyak sekali karena aku sering pulang dalam keadaan babak belur. Yah … kau tahu kan maksudku? Dan baunya persis seperti ini," jelas Naruto yang berniat untuk mengelap tumpahan air alkohol, sebelum guru Asuma masuk ke kelas mereka dan menghukumnya berdiri di depan kelas karena tidak mengerjakan PR dan masalah Alkohol ini.

Ino kembali beralih pada dompet ungu cerah Hinata, "Hei! Kau kan tidak perlu memeriksa sampai segitunya," ungkap Sakura kembali menasehati. Ino tidak peduli, dibukanya resleting dompet Hinata, dan mata biru lautnya harus membelalak kembali.

Dompet milik Hinata tidak berisi selembar uang pun disana. Melainkan penuh dengan puluhan kain perban elastis yang tersumpal dengan rapi, "A-Astaga. Separah itukah Hinata?" pikiran Ino mulai macam-macam. Dikiranya, Hinata adalah preman setipe dengan Naruto yang tiap hari selalu berkelahi hingga harus mempersiapkan perban dan alkohol untuk mengobati lukanya sendiri.

"Jangan bodoh Ino! Dengan wajah sepolos itu, mana mungkin Hinata sering berkelahi," sanggah Sakura, lagi. Gadis itu memang satu-satunya orang yang berpikir secara rasional.

"Wajah kan bisa saja menipu," lagi, gadis itu mengorek tas Hinata tanpa izin.

"Sudah cukup Ino! Kau akan kulapork–" perkataan Sakura terpotong, "Itu kan … tas buat menyimpan es krim," ucap Sakura yang melihat Ino menarik sebuah tas mini keluar dari ransel besar Hinata. Gadis pink itu terdiam kemudian. Ino tak bisa menahan dirinya untuk mengorek terus isi dari tas Hinata. Sisanya hanya ada buku-buku dan bekalnya. Tidak ada yang aneh lagi.

"Dia juga bawa sarung tangan ke sekolah. Lalu, tas es krim ini…" Ino membukanya. Terpampanglah dua buah kotak es krim milik Hinata, rasa Stroberi dan cokelat hazelnut. Ino mengangkat salah satu kotaknya. Ternyata ada es batu dibalik tumpukan kotak es yang dimaksud. Sesuai dengan dugaannya, tidak mungkin tas yang berisi dua kotak es saja bisa terlihat sepenuh itu.

"Aku tidak mengerti," Ino kembali memasukkan barang-barang milik Hinata ke tempat asalnya, "Hinata itu anehhh!" ia menjerit tidak jelas kemudian. Sakura hanya menggeleng kepala,

"Katanya, dia di bawa kerumah sakit sama Kurenai-sensei. Sasuke juga ikut," gumam Sakura sendirian. Ino yang mendengarnya tiba-tiba saja tersentak,

"Hah? Sasuke juga ikut?"

"Menurutmu, Hinata bersaudara dengan Neji tidak ya?" tanya Sakura mengabaikan pembicaraan Ino.

"Oi! Jangan kacangin aku!" Ino menjerit lagi. Namun tidak ada yang peduli.

"Kurasa iya," Kiba ikutan nyambung, "Sama-sama Hyuuga kan?" tambahnya lagi.

"Kalau begitu, kenapa nggak nanya langsung aja sama Neji-san?" Naruto ikutan ngomong. Yang lain ngangguk-ngangguk.

"Boleh. Masalahnya siapa yang mau?" suara Sakura membuat semuanya bungkam. Siapa yang berani menghadapi tuan Neji? Semua orang segan dengan pemuda itu. apalagi, dia kakak kelas yang paling senior, kelas duabelas. Gadis pink itu hanya menghela nafas, "Yasudah, aku saja yang nanya,"

Entah kenapa, kelas sebelas-satu jadi terlibat sejauh ini dengan masalah pribadi Hinata. Dan Hinata sendiri tidak tahu dengan tindakan dari teman-temannya itu.

.

.

. . . oOoOo . . .

To Be Continue

つづく

. . . oOoOo . . .

.

.

A/N : coba tebak, chapter ini panjangnya sekitar 5/2x chapter lalu lho #halah# untuk chapter depan sepertinya Neji bakal tahu. Hwehwe! Hayo, hayo … si Sasuke muncul XP Semoga aja nggak antiklimaks.

Yosh, RnR?

-Fuun-