Part 3 : Antara Gede Rasa dan Harapan Palsu
—
[ Chanyeol x Baekhyun x School-life x Romance-Comedy x SMA feels ]
—
.
"…apa kalau kita sedang kegeeran, tai pun rasanya manis, ya?"
—
Baekhyun memasang alarm waspada. Bak buronan yang tengah mencoba kabur, ia selalu menyempatkan diri untuk melirik ke kanan, kiri, lalu depan, kemudian belakang, dilanjutkan ke atas, dan ke bawah. Mengawasi setiap inci pemandangan yang dapat terekam oleh retina mata, memastikan bahwa seluruhnya berjalan sesuai prosedur. Dafuq, prosedur apanya. Ia hanya akan berjalan menuju kelas tapi tingkahnya seperti akan kabur dari lubang buaya saja. Dasar alay. Dan jika ditanya apa tujuannya, maka jawabannya hanya satu;
Menghindari Chanyeol.
Okay, mohon pengertiannya, kawan-kawan.
Pertama, kalian harus tahu Baekhyun benar-benar malu jika harus bertemu si jangkung itu setelah apa yang terjadi kemarin. Tolong, Baekhyun itu galak. Dirinya pula yang sudah mendeklarasikan diri untuk tidak melakukan kontak apapun dengan mantan. Lalu bisa-bisanya dia berubah jadi plin-plan dan lemah lembut begitu hanya karena Park Chanyeol? Ugh, itu benar-benar memalukan!
Kedua, kalian harus tahu pula jika Baekhyun itu sangat menghargai apa yang disebut dengan perjuangan. Tolong mengerti, sudah dua bulan terakhir ini ia berjuang habis-habisan melawan rindu dan sakit hati untuk move on, bahkan dia sudah mulai bisa membuka hati untuk orang lain. Dan hanya karena kejadian unfaedah yang dialaminya kemarin, dia harus menyerah pada keadaan dan kembali menyerahkan hatinya pada Chanyeol? Hah, yang benar saja! Maaf ya, Baekhyun bukan air di atas daun talas!
Yah, walaupun kemarin malam sempat goyah juga sih pendiriannya.
Tapi, tidak lagi. Baekhyun sudah memantapkan hati untuk tidak termakan manis-manis yang Chanyeol ciptakan. Dan karena Chanyeol itu tipe-tipe lelaki yang banyak kejutan, tentu itu membuat Baekhyun harus menebalkan tamengnya untuk tetap berdiri kokoh. Jangan muncul di depannya, jangan menatap matanya, jangan bicara dengannya, anggap ia tidak ada. Yah, begitu lah yang harus dilakukannya.
Mari berdoa untuk kesuksesannya saja.
—
—
Dan nyatanya, menghindar itu tidak terlalu susah untuk dilakukan. Apalagi, Chanyeol-nya sendiri juga mendukung. Mendukung dalam hal, dalam haaal—hmmmmm…—ah sudahlah, Baekhyun sedang bingung.
Masalahnya, begini.
Pagi tadi, sebenarnya mereka sempat berpapasan di koridor lantai satu. Dan Baekhyun, beserta rasa malunya yang membuncah dengan sigap ingin menghindar. Tapi apa daya, koridor itu bahkan tidak punya persimpangan. Mau kemana lagi kalau bukan berjalan maju? Nikung pun tidak bisa. Mau mundur? Heh dibelakang sana adalah ruang kelas Chanyeol, setelah itu jalan buntu. Itu namanya bunuh diri.
Si pendek itu terlalu sibuk merapal doa sambil menutupi wajahnya sampai-sampai tidak menyadari bahkan Chanyeol sudah melewati tubuhnya. Baekhyun baru sadar akan hal tersebut sesaat setelah bau tubuh yang lebih tinggi terekam dalam hidung. Seperti melewati kucing menstruasi, Chanyeol tidak bereaksi apa-apa. Padahal Baekhyun berani sumpah, mata mereka sempat bertemu untuk beberapa detik. Bukankah itu indikasi bahwa mereka menyadari eksistensi satu sama lain?
Dan ini, entah bagaimana caranya sukses membuat Baekhyun bingung.
Alisnya berkerut lucu di atas mata. Hey, kenapa si kingkong itu tidak bereaksi apa-apa? Menyapa maupun melempar senyum pun tidak sama sekali. Bahkan setelah yang terjadi kemarin juga tidak? Siapa yang sedang bercanda di sini? Ini tidak lucu sama sekali! Tidak mungkin juga 'kan kalau telepon serta pesan-pesan semalam itu cuma mimpi? Oh ayolah, Baekhyun bahkan masih meringis merasakan cubitan kemarahan sang ibu negara yang ia dapatkan di pantatnya tadi malam. Bloody hell. Baekhyun mendengus kecil dengan ekspresi wajah yang masih tetap sama.
Otaknya yang ia klaim lebih besar dari manusia lain itu dibawa berpikir. Merangkum kejadian-kejadian yang telah lalu untuk diambil kesimpulan.
'Bilangin, salam balik dari mantan.'
'Aku gak jadi bolos, buat kamu…'
'Maaf ya, istrimu ini sudah taken sama saya.'
Memang rasanya gitu-gitu, sih. Tapi…e-eh? Tunggu dulu. Dari awal kenal, Chanyeol 'kan memang mulutnya manis begitu. Baekhyun yakin pakbon saja juga pernah digombali macam itu oleh orang sejenis Chanyeol.
Ia meneguk liurnya susah payah.
J—jadi, dia cuma di-PHP?
Baekhyun berkedip, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Pikiran si pendek itu berkecamuk seperti badai besar. Sekali lagi, alisnya naik membentuk prosotan ke hidung.
Ah atau, dirinya cuma gede rasa?
Pikiran ini masih mengganjal bahkan sampai jam istirahat pertama sekalipun. Kala itu, Baekhyun dan Jiwon sedang dalam perjalanan menuju kantor guru untuk mengumpulkan tugas. Dan entah bagaimana, tanpa pikir panjang pula, Baekhyun bertanya hal yang sebenarnya sedikit ambigu untuk dilontarkan.
"Jiwon-a, apa kalau kita sedang kegeeran, tai pun rasanya manis, ya?"
Gadis itu mengernyit heran. Pasalnya selama dua tahun menjadi classmate, Baekhyun dan dia tidak seakrab itu untuk mengobrolkan hal semacam ini.
"Urgh, mungkin…iya. Why?"
Baekhyun mendesis sambil matanya menerawang.
"Terus, yang kemarin itu, apa itu sebenarnya juga tai? Masalahnya rasanya manis,"
Kernyitan Jiwon semakin dalam.
"Baek, kamu gak papa?"
"Tapi bentuknya nggak mirip tai. Apa sekarang sudah mengalami mutasi, ya?"
"Mau aku antar ke UKS?"
"Tai jenis apa itu?"
"…"
"…"
"…"
"Jiwon-a?"
Baekhyun menoleh hanya untuk mendapati ruang kosong di sampingnya. Jiwon kemana, sih? Kepalanya ia dongakkan kesana kemari. Dan saat itulah guci di persimpangan koridor tertubruk oleh seseorang. Itu Jiwon, yang sedang terbirit-birit macam kucing kawin. Baekhyun diam, lalu mengumpat.
"Tai."
Dengan wajah suntuk, Baekhyun kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang guru. Walaupun kesal, tapi si pendek itu masih belum bisa mengenyahkan pikiran tentang sikap Chanyeol tadi pagi. Aduh, kalau dilogika sebenarnya hal itu seharusnya tidak akan pernah menjadi beban pikirannya. Kenapa pula muncul pikiran kalau dia itu cuma di-PHP-in? Masalahnya begini, sudah dua bulan ini Baekhyun dianggap tidak ada oleh Chanyeol. Dan hatinya juga sudah mantap mengatakan kalau Chanyeol itu sudah tidak ada rasa padanya. Lalu kejadian kemarin, Chanyeol itu seakan-akan bersikap layaknya mantan yang masih pengen lanjut pacaran.
Eh tapi, masa sih?
Mungkin Chanyeol cuma khilaf. Mungkin dirinya juga yang terlalu gede rasa menganggap tingkah Chanyeol itu sudah termasuk kategori spesial. 'Kan yang namanya mantan, pasti juga pernah rindu untuk saling sapa. Tidak perlu alasan khusus seperti masih cinta atau apa, iya 'kan? Sudah, tidak perlu dipikirkan lagi!
Tapi,
"T—tapi…khilaf apa sampai nelfon begitu? Padahal 'kan cuma mau minta maaf. Lagipula aku tidak bilang kalau aku marah."
Iya. Iya aja. Silahkan berkutat dengan pikiranmu sendiri, Byun. Silahkan berdebat dalam hatimu yang kecil, baru setelah itu silahkan sadar jika di depan sana sudah ada Chanyeol yang sibuk dengan beberapa perempuan. Ada Soojung, Nana, Haneul, juga…TUNGGU!
Apa?
Baekhyun hampir memekik keras. Mulutnya terbuka sedikit beserta raut wajah yang mulai menegang. Dengan cepat, ia mengambil posisi kamuflase; berjongkok dan berlindung di belakang tong sampah. Berakting layaknya lalat yang sedang mengerubungi tumpukan sampah. Matanya yang memang sudah sipit ia sipitkan lagi demi mendapat view yang lebih jelas.
Dari sini, ia dapat melihat tubuh tinggi Chanyeol tampak menonjol di antara beberapa siswi yang sibuk melingkarinya. Mereka sedang tertawa entah menertawakan apa. Beberapa dari siswi itu juga dengan santainya menggamit lengan Chanyeol, dan si jangkung itu tampak tidak keberatan sama sekali. Risih pun tidak. Malah sebaliknya, ekspresinya benar-benar cerah dan bersahabat.
Dan seperti mengalami deja vu, mata mereka bertemu lagi. Chanyeol ngeliat gue Chanyeol ngeliat gue Chanyeol ngeliat gueeeeee. Baekhyun menggigit bibir dan sempat berharap suatu keajaiban akan terjadi. Mungkin Chanyeol akan segera melepas gamitan gadis-gadis itu dan berlari kearahnya; menjelaskan semua padanya. Bahwa yang ia lihat itu cuma salah paham. Yang ia lihat itu cuma fatamorgana. Sekalian mengonfirmasi kalau Baekhyun itu tidak sekedar gede rasa.
Tapi, yah—mau bagaimana lagi? Yang terjadi selanjutnya malah Chanyeol kembali memusatkan atensinya pada para siswi, bergurau dengan senang hati seolah menganggap Baekhyun tidak pernah ada di sana.
Tawa renyah Chanyeol yang dulunya sempat membuat Baekhyun merinding menahan euphoria, kini malah menjadi sebuah bising yang amat mengganggu telinganya. Baekhyun berkedip. Sekali, dua kali. Ekspresinya perlahan mengendur, tergantikan oleh wajah kosong tanpa gairah. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya tapi ia merasa sangat, —hmmm, kesal? Serasa dipermainkan? Tidak tahu juga kenapa ia bisa merasa demikian. Harga dirinya serasa diinjak lalu ditendang ke pusaran segitiga bermuda. Rendah sekali. Dan yang paling penting, mood-nya benar-benar buruk saat ini.
Mata mereka bertemu kembali. Dan sekali lagi pula, Chanyeol hanya menatap lalu.
Sakit hati dd, Bang.
Baekhyun mencelos. Bebarengan dengan bel tanda masuk, ia berjanji dalam hati. Ini terakhir kalinya aku membiarkan diriku ke-PHP, Park Chanyeol.
Dan ngomong-ngomong, kenapa pula Baekhyun harus sekeras itu berusaha untuk menghindar jika Chanyeol saja tidak ada niat mendekatinya lagi?
Goblok, batinnya dalam hati.
—
—
Waktu berjalan sangat cepat. Ini sudah menginjak minggu ketiga setelah kejadian itu. Dan coba tebak, Chanyeol sampai sekarang benar-benar tidak datang menemuinya dan menjelaskan segala sesuatu. Mengirim pesan pun tidak. Baekhyun tidak munafik, ia juga hampir terpuruk karena itu. Walaupun hatinya menolak, tapi otaknya jelas-jelas berteriak.
Bukan dia yang kasih harapan palsu, tapi emang cuma lo yang terlalu kegeeran kemaren. Cuma digituin doang tapi harapan lo selangit. Bhak.
Hancur; begitu kosakata yang tepat untuk menggambarkan ekspektasinya.
Baekhyun menghela napas.
Tapi, hey! Roda kehidupan 'kan terus berjalan! Dunia tidak akan kiamat hanya karena Chanyeol lagi-lagi tidak menganggapnya ada. Ia pernah mengalami hal yang lebih buruk dari ini. Dan tidak ada alasan untuk tidak bisa bangkit kembali.
Lagipula, siapa yang butuh cemewew kalau sahabat saja sudah cukup? Walaupun unfaedah begitu, Baekhyun akui Kyungsoo dan Jongdae benar-benar pelipur lara. Mereka diam-diam selalu men-support Baekhyun dan menariknya dari kesedihan. Yaa walaupun, caranya memang sedikit gaplek.
"Kurang kerjaan amat lo mikirin mantan. Daripada bengong gitu, mending lo kerja. Dapet duit, abis itu bayar kekurangan kas. Lebih berfaedah."
"Emang sih, mantan lo lebih ganteng dari gue. Tapi gue, tetep gak ganteng."
APA SIH, CHEN!
Sudahlah, Baekhyun capek menghadapi kawannya yang kurang sesendok itu.
Kesibukannya menjadi siswa sekaligus sekretaris Dewan Kedisiplinan juga amat sangat membantu. Banyak urusan yang harus ia tangani. Mulai dari proposal pengajuan perkap, administrasi anggota, menyalin hasil rapat rutin, mendata surat izin yang masuk—mereka sudah cukup memusingkan untuk dipikirkan sehingga nama Chanyeol bisa dengan mudah mengecil dan nyaris tidak terdengar lagi. Belum lagi ia harus bisa memanajemen waktunya agar imbang antara organisasi dan akademik.
Dadah mas mantan. W gapunya waktu buat mikirin lo y.
Walaupun pasti, ini memang membuat Baekhyun sedikit stress dan tertekan. Rambutnya sampai rontok beberapa helai acapkali ia sisir. Berat badannya juga turun beberapa kilo sampai pipinya kini menjadi sedikit lebih tirus. Tapi tidak apa. Selama alasannya bukan sesuatu yang menjijikkan seperti patah hati atau semacamnya, Baekhyun sih rela-rela saja.
Dan puncak kesibukannya terjadi sekarang. Ujian Semester sedang berlangsung sementara atensinya sudah terlanjur terpusat pada kegiatan LDK yang akan diselenggarakan beberapa minggu lagi. Baekhyun mengemban tugas sebagai sekretaris, tentu saja ia harus hadir diseluruh rapat. Mengetahui detail acara; mulai dari tema sampai rincian matriks kegiatan. Sebagai panitia inti, dirinya juga kerap kali mengikuti survei ke tempat dimana acara nanti dilakukan dan itu membuatnya harus pulang amat larut untuk ukuran anak SMA. Sampai di rumah, ia juga masih harus belajar serta menghapal seluruh materi pelajaran untuk ujian esok hari. Walaupun delapan puluh persen berakhir dengan ketiduran di meja belajar, sih. Beruntung orangtuanya pengertian dan tidak terlalu memaksa.
Tapi Baekhyun yakin, sepengertian apapun orangtua, pasti terbesit rasa kecewa di hati mereka jika ranking anaknya turun drastis.
Baekhyun tidak tahu, tapi hatinya begitu diliputi rasa bersalah ketika pembagian hasil rapor kemarin. Bisa bayangkan tidak, semester lalu kau mendapat ranking tiga, lalu semester ini kau berada diurutan ke sembilan belas dari tiga puluh dua siswa. Kurang greget apa, sih? Marah, kecewa, malu; semuanya tercampur dengan sempurna didalam dirinya sendiri. Baekhyun merasa sangat kesal. Ia tahu orangtuanya sangat kecewa, tapi kenapa mereka masih tersenyum dan berlagak semua baik-baik saja? Ini tidak adil! Kenapa mereka memilih untuk menjadi munafik hanya untuk ketenangan hati yang memang tidak pantas didapatkan oleh anak sepertinya? Baekhyun merasa tidak berguna sama sekali. Pikirannya berkecamuk; berperang antara harus merasa bersyukur ia memiliki orangtua seperti itu atau sebaliknya.
Baekhyun bahkan tidak punya waktu untuk merenung atau sekedar menenangkan diri. Kesibukannya sebagai sekretaris masih butuh perhatian. Selesai pembagian rapor tadi, ia langsung bergegas menuju ruang DK untuk menghadiri rapat dadakan. Ini semua karena proposal yang ia ajukan seminggu lalu ditolak mentah-mentah oleh pihak sekolah. Katanya dananya terlalu bengkak, tujuannya tidak jelas, dan banyak hal yang rancu; aduh, tolong, semuanya sudah dijelaskan secara rinci di sana, rancunya itu sebelah mana? Ditambah lagi si Ketua, Kim Joonmyeon melampiaskan seluruh kekesalannya padanya. Astaga! Baekhyun tahu jika menjadi Ketua itu berat, mungkin lebih berat daripada yang dialaminya sekarang. Tapi—ayolah! Bukan berarti Baekhyun tidak stress juga, 'kan?
Dan sore itu, ia menangis.
Setelah seluruh peserta rapat pergi meninggalkan ruangan, Baekhyun akhirnya menangis. Tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya yang basah karena air mata. Isakannya terpantul pada dinding ruang, dan entah sudah berapa kali ia tersedak ludahnya sendiri. Kerongkongannya hampir kering karena digunakannya untuk terus terisak, menyuarakan seluruh beban yang sudah ia pendam seorang diri. Dirinya berteriak; persetanan tentang ada yang dengar atau tidak. Baekhyun tidak mau peduli untuk saat ini. Hatinya dipenuhi umpatan dan kekesalan yang membuncah. Beberapa kali ia memukul dadanya yang terasa amat sesak. Ia marah untuk semua yang telah terjadi. Lebih-lebih, ia juga merasa kasihan untuk dirinya sendiri. Kenapa masalah datang bertubi-tubi begini, sih?
Baekhyun bahkan tidak tahu sejak kapan dirinya dipeluk dengan erat seperti ini. Terlebih lagi, pemilik lengan kokoh itu adalah seseorang yang bahkan tidak ia harapkan untuk datang saat ini. Tidak perlu mendongak maupun menoleh untuk memastikan siapa yang berani merengkuhnya tanpa izin, Baekhyun sudah terlalu hapal dengan tubuh ini.
Apakah berlebihan jika Baekhyun benci orang ini berada di sini?
"Mau apa kau kemari?"
Tidak ada jawaban. Hanya saja tubuhnya dipeluk semakin erat. Baekhyun memejamkan mata; sekuat tenaga menjaga agar emosinya tidak semakin membumbung.
Tolong, Baekhyun sudah lelah dengan semua ini. Setelah semua stress yang sudah memuakkan, dirinya juga masih harus berperang dengan perasaannya lagi?
"Aku bilang, mau apa kau kemari?"
Mau apa, hah? Mau datang, lalu membuatku melayang ke langit tujuh. Kemudian pergi begitu saja dan membiarkanku jatuh bebas ke dasar bumi?
Apakah berlebihan juga jika Baekhyun bilang ia ingin sekali membunuh lelaki dihadapannya ini?
"Aku membencimu."
Kepalanya diusap secara perlahan. Harusnya bersifat seperti anestesi. Tapi bukannya tenang, itu malah membuat Baekhyun semakin marah. Emosinya memuncak, dan saat itulah ia mendorong tubuh itu menjauh. Ia segera berdiri, menatap nyalang dengan napas terengah-engah.
"Jangan berani-beraninya kau menyentuhku!"
Jangan begini! Berhenti membuatku merasa dipermainkan!
"Kau pikir aku ini apa?"
Berhenti membuat diriku merasa rendah karena berharap terlalu jauh! Sementara kau! Kau sendiri bebas datang dan pergi sesuka hati!
Chanyeol yang mengajaknya berpacaran. Chanyeol yang memutuskannya. Chanyeol yang menyakitinya. Chanyeol yang membuatnya menderita. Chanyeol yang membuatnya nyaris gila. Chanyeol yang tiba-tiba datang lalu tiba-tiba pergi. Chanyeol yang membiarkannya tergantung oleh perasaan bimbang dan bingung. Chanyeol yang membuatya membenci dirinya sendiri. Chanyeol, Chanyeol, Chanyeol! Semuanya Chanyeol!
Capek!
Baekhyun terlalu bingung membedakan mana yang namanya jengah, mana yang namanya muak, dan mana yang namanya benci. Semua bercampur baur saat ia melihat wajah Chanyeol yang kosong tanpa ekspresi. Si jangkung itu ikut berdiri dihadapan yang lebih muda, membuat Baekhyun terlihat begitu kecil dan mungil. Oh tolong, jangan mengejek perbedaan tinggi kami! Chanyeol mengambil satu langkah ke belakang, dan itu sukses membuat Baekhyun berdecih sambil membuang muka.
"Apa? Mau pergi lagi? Silahkan! Bukannya memang begitu cara mainmu? Datang, memberi harapan, lalu hilang lagi. Sudah cukup, kak! Aku capek! Cepat sana pergi! Aku tidak akan peduli!"
Hilang sudah akar nalar Baekhyun. Logikanya tidak sekalipun mengambil peran. Peduli apa tentang jaga image jika otaknya sudah mendidih seperti ini.
Keadaan begitu hening setelahnya. Hanya ada suara detak jam dinding yang terdengar begitu lirih. Tapi sayang, keheningan itu tidak bertahan lama. Berakhir begitu saja ketika Baekhyun memekik kaget.
Tubuhnya sekali lagi dipeluk erat oleh Chanyeol. Emosinya tambah tersulut. Si sialan ini maunya apa, sih?
"Lepaskan!" Baekhyun meronta. Ia bergerak random kesana-kemari, dan dibalas oleh rengkuhan Chanyeol yang semakin erat tiap detiknya. Logikanya berteriak bahwa usahanya itu sia-sia saja, ia tidak akan bisa lepas dengan kekuatan sekecil itu. Tubuhnya terlalu lelah, sangat jauh berbeda dengan egonya yang masih bergelora. Akhirnya Baekhyun menyerah. Yang ia harapkan saat ini hanyalah kasur empuk dan pelukan ibunya.
"Aku membencimu," desisnya sekali lagi sebelum wajahnya ia sembunyikan di dada bidang Chanyeol. Ia kembali menangis. Pikirannya terlalu berkabut hanya untuk merasa malu. Ia bisa mendengar Chanyeol menghela napas berat.
"Biarin saya nganter kamu pulang. Udah malem, gak baik jalan sendirian." Bisik Chanyeol menenangkan.
Mungkin Baekhyun terlalu gila sampai-sampai ia menurut saja ketika dirinya ditarik pelan. Dipakaikan jaket basket kebesaran, kemudian dituntun begitu hati-hati menuju parkiran sekolah yang sudah sangat sepi. Lalu agenda berakhir dengan Chanyeol yang mengantar sampai di depan pintu gerbang rumahnya.
Sudahlah, Baekhyun memang terlalu capek untuk peduli apa yang akan terjadi esok hari.
—
—
Memang benar jika pada malam hari, waktu berlalu begitu cepat. Karena tepat dua belas jam setelah kejadian dramatis di ruang rapat kemarin, Baekhyun sudah standby lagi di ruang kelas; sedang menelungkupkan wajahnya di atas meja.
Kalau boleh jujur, Baekhyun sebenarnya sangat enggan untuk bersekolah hari ini. Ia masih mengantuk karena semalam kurang tidur. Ia juga malas menanggapi pertanyaan para siswa tentang matanya yang membengkak, malas menanggapi ocehan tidak penting Jongdae, malas ditagih uang kas oleh Kyungsoo, malas ditagih PR oleh Guru Han, dan yang paling vital—amat sangat malas untuk bertemu Chanyeol lagi. Tapi apa daya, ayahnya itu sangat menjunjung tinggi pendidikan. Maka dari itu, ia hanya bisa berhasil membolos dari tugas jaga gerbang dan menyerahkannya pada Junghwan saja.
Satu helaan napas tercipta.
Baekhyun melirik sebentar ponselnya yang sedaritadi berbunyi. Ia berdecak kesal, membalik benda tersebut lalu membuang muka. Mood-nya masih terlalu buruk untuk mengecek notifikasi. Lagipula, ia yakin yang masuk hanya chat dari grup saja. Tidak penting!
"SENIOR BYUN!"
Baekhyun hampir mengumpat jika saja figur kecil dari Sowon tidak terekam oleh matanya. Sowon itu anak kelas 1-1, juniornya di Dewan Kedisiplinan. Dan Baekhyun tahu gadis ini tidak akan datang menemuinya jika tidak ada kabar penting yang memang harus diberitahukan. Dengan sedikit menahan kesal, si pendek itu menyahut. "Ada apa?" Ujarnya berusaha kalem.
Tapi kata-kata adik kelasnya tersebutlah yang membuatnya lupa akan definisi dari kata kalem itu sendiri.
"I—itu…Joonmyeon seonbae sedang bertengkar dengan Chanyeol seonbae di ruang DK. Tolong bantu kami!"
"HAH?!"
Dafuq, agenda macam apa lagi ini?
—
—
Baekhyun menatap skeptis tubuh tinggi Chanyeol yang kini duduk dihadapannya; sedang melipat tangan dan membuang muka kearah samping. Alisnya terangkat satu ketika pemuda itu sempat mencuri pandang kearahnya, lalu sesegera mungkin mengalihkannya ke objek lain. Baekhyun menghela napas lelah. Sambil berkacak pinggang, ia menatap malas pada Chanyeol yang masih saja berusaha mengalihkan pandangan.
"Siapa yang mulai duluan?"
Baekhyun hanya berkedip ketika Chanyeol lagi-lagi mencuri pandang kearahnya, lalu menghindar lagi.
"Aku." Cicit Chanyeol pelan.
Ambil napas banyak-banyak, lalu hembuskan secara perlahan. Baekhyun hanya mencoba untuk tidak mendaratkan bogemannya di wajah Chanyeol yang memang sudah babak belur. Bibir pemuda itu sobek, dan Baekhyun yakin itu sakit sekali. Pelipisnya memar, mungkin besok akan berubah warna jadi ungu atau biru. Joonmyeon memang tidak pernah main-main jika sedang berkelahi.
"Kenapa?"
"Karena dia membuatku marah." Chanyeol balik menatap Baekhyun. "Dia mengejek orang yang tidak berhak untuk dijelek-jelekkan." Lanjutnya kemudian.
Kerutan di dahi Baekhyun semakin dalam saja. Ia hanya tidak mengerti, apa yang salah dengan otak Chanyeol belakangan ini? Sudah satu tahun lebih ia mengenal si kingkong ini dan ini adalah kali pertama pemuda itu berkelahi hanya untuk alasan sesepele itu. Lagipula, sejak kapan Chanyeol peduli seseorang diejek atau dibully sekalipun? Sifat kekenakan Chanyeol inilah yang membuat Baekhyun hampir meledak. Ingin menampar, tapi lebam di tubuh Chanyeol juga tidak membantu sama sekali.
"Kenapa harus pakai berkelahi, sih? 'Kan dibicarakan baik-baik juga bisa! Apa emosimu itu lebih penting daripada tubuh kamu jadi babak belur macam ini? Ini, ini, ini, ini! Bagian sini juga! Apa itu semua tidak sakit? Hah?!"
Baekhyun mengamuk sambil dengan tidak berperasaan menekan bagian hidung Chanyeol yang tampak sedikit bengkok.
"H—hey Byun, hentika…—ARGH SAKIT! ADUH SERIUS!"
Biar! Biar saja! Baekhyun terus menekan bagian itu dengan brutal. Chanyeol sendiri hanya bisa terus berteriak. Yang lebih pendek memutar matanya malas. Chanyeol itu terlalu mendramatisir.
T—tapi, sepertinya Chanyeol memang sakit betulan. Karena selanjutnya, beberapa tetes darah segar mengalir menyusuri philtrumnya yang menonjol.
Baekhyun membelalakkan matanya horor. "Astaga!" Dengan refleks, ia segera mengusap pelan darah yang terus mengalir itu dengan menggunakan telapak tangannya sendiri. Persetanan dengan dia yang sebenarnya benci bau darah. Rintihan yang dikeluarkan Chanyeol hanya membuatnya merasa semakin gelisah dan merasa bersalah.
"B—berhenti membuatku khawatir, dasar sialan!"
Chanyeol diam sambil menatap Baekhyun yang kini sedang sibuk mengelap darah di hidungnya dengan berantakan. Ia mengadakan observasi kecil-kecilan tentang bagaimana sebenarnya wajah Baekhyun yang terlihat lucu saat sedang panik begini. Mata sipit yang sekarang melebar dan sedikit memerah, pipi gembil, dan bibir yang otomatis sedikit mengerucut kekanakan. Chanyeol tersenyum tipis dibuatnya. Ah, entah sudah hilang kemana rasa sakitnya kini. Tidak perlu Revanol maupun Procold, Baekhyun saja sudah cukup untuk jadi obatnya.
"Maaf," gumam yang lebih tua sambil mengulum senyum.
Baekhyun mengernyit tidak suka. "Tidak boleh! Kenapa jadi Chanyeol yang minta maaf?"
Chanyeol tersenyum semakin lebar. Baekhyun yang memanggilnya dengan kata 'Chanyeol' itu sangat lebih baik daripada kata 'kau', 'kakak', 'kamu', atau parahnya, 'lo'. Ia tertawa jenaka.
"Tapi aku mau minta maaf ke kamu, karena udah bikin khawatir. Besok gak diulangi lagi, janji."
Baekhyun terhenti dari kegiatannya. Ia tercenung, bengong menatap wajah Chanyeol yang kini sedang menatapnya serius. Pipinya tiba-tiba memanas mengenaskan.
"J—jangan berjanji kalau gak bisa nepatin!"
Fak, jawaban macam apa itu? Dari sekian banyak kosakata yang tersimpan di otaknya, kenapa kalimat itu yang keluar? Sial sial sial sial sial sial siaaaaaaaaal!
"Tapi gimana kalau saya mau janji, buat bikin kamu jadi milik saya lagi?"
Baekhyun tidak yakin matanya bisa lebih lebar lagi dari ini. Jantungnya yang sempat berhenti, kini berdetak sangat kencang di dalam sana.
"M—maksudnya?"
Aduh, kemana perginya Baekhyun yang galak dan berjanji tidak akan termakan mulut manis Chanyeol lagi?
"Baek, aku rindu."
Napas Baekhyun tercekat. Otaknya sibuk memroses sedangkan tangannya berubah basah karena keringat.
.
Ini dianya lagi kegeeran, diberikan harapan, apa Chanyeol memang betulan?
.
—
End of Chapter
—
.
Kekinian Dictionary:
[ 1 ] Unfaedah : tidak berfaedah, tidak bermanfaat
[ 2 ] PHP : Pemberi Harapan Palsu
[ 3 ] Cemewew : gebetan, pacar.
.
Behind the Bar:
HAHAHAHAHAHAHA CHAPTER MACAM APA INI HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.
Okay listen, ini aku mau jelasin sekalian bales review-nya kak kim-jin-9047. Dia bilang gini;
critanya kok g pas sama summary nya sii,,, d summary nya chanyeol ngotot mnt balikn sdngkn baek anti balikan tp ceritanya g g2
Hmmm, biar saya luruskan yaa. Jujur aja, saya belum selesai nulis cerita ini. Jadi alur bisa berubah; bisa tambah bisa kurang dari ide cerita. Tapi tenang aja, ga nyimpang jauh kok sama nanti akhir ceritanya. Semuanya kan butuh proses, jadi di chap 1-3 kemaren, bisa dianggap sebagai latar belakang kenapa nanti si baekhyun ini ngotot gamau balikan. Tujuan saya sih, supaya kita sama-sama paham kenapa sih kok baekhyun nanti ambil sikap begini-begitu di chapter selanjutnya. Mungkin salah saya juga ga jelasin diawal, ehe. Dan masalah Chanyeol yang malah kayaknya gada niat balikan sama sekali, saya tegaskan sekali lagi; semua butuh proses. Tunggu aja tanggal mainnya eheheheheheheh. Gimana nih? Apa mau dihapus aja chap 1-3nya? Kalau masalah summary, saya gabakal ganti. Soalnya emang nanti inti ceritanya begitu, ehe.
Anywaayyy, DA KING IS BACK OMG OMGGGGGGGG! TULUNG SUMBANG KUOTA. AING JUGA MAU LIAT TEASERNYA KAI TT
JUGA MASALAH CHRISLEE KMRN, ADUH SEMPET BINGUNG UGHA AING. PIKIRAN SAYA KEPECAH DIANTARA SI CHRIS ITU SALAH TINGKAH KARENA KECEPLOSAN ATAU EMANG DIA CUMA SALAH NGOMONG HEUHEUHEU. YANG MAU, SILAHKAN SHARE TEORI KALIAN BARENG SAYA DI PM ATAU REVIEW BOLJUG, EHE.
.
Last but not least, here u go;
OhSehun's Mom malu-malu kucing beranak itu macem mana pulaaa:( astaghfirullah, dosa:( doeO-O w mzieh wRaAzZ, gx gezReq n!3ch. Btw gamon itu gagal move on, ah ga gawl nih gatai:( sorry typo:( yayahunnie lo panggil w sea, w panggil lo ayah, oke?:( channiemolly apa pula keluar masuk?! Ah ah ah ah sehunboo17 biarkan barisan para mantan ku nistakan HEUHEUHEU. Salah siapa out exo:( Apa lagi yang tarik ulur selain layangan dek? Heuheuheu BaekHill kak, pengalaman y? Mendalami gitu:( btw terimakasih sudah disemangatin ehe ehe ehe hunniehan dasar anak jaman sekarang yah, padahal bukan siapa-siapanya kok ikut ngerasain? Jangan nikung y:( pt. 2 nya tahun depan ya, cembukur itu capek hhhhh ByunMafia LUCKNUT LO Y! kim-jin-9047 dah dibales ya:) baekfrappe JANGANKAN CHANYEOL, BAPAK DOSEN AJA LO INTILIN Y KN?! DASAR PLOZOQ Siti855 ini lama nggak nunggunya? Ehe ehe ehe:( ssuhosnet kisah lo sama mantan pasaran berarti:) baekyeolight kisah lo sama mantan pasaran berarti:) (2) Ranfazhr kisah lo sama mantan pasaran berarti:) (3) SIRUPNYA MASIH GAK?! BOLEH LAAAA myzmsandraa99 gemesh mana ama aku? Ehe ehe ehe Baekbooty denger ya kak buti, HELLAW W GA NANYA ╮(╯▽╰)╭ canda ╮(╯▽╰)╭ chansabaek SIAPA LO SIAPA W?! elbetsyy aduh, maunya juga gitu. Tapi kalo kena santet, nanti saya belokin ke kamu, mau y?:( jangan liatin w, nanti tambah parah diabetesnya:) girl404 NJONG SOPO MENEH DUH AceFanFan waa leh lah leh. Besok2 panggil Chanyeol babi leh ugha—kan emang ga jodoh, makanya putus:( BabyXie kirain Baekhyun mah anak exo. Salah ya?:( LyWoo puter balik itu harus mikir 1234567890x tau:( kenlee1412 oh sering baca wattpad? SAMAA! Walaupun cuma pernah baca Ketos doang sih. Soalnya gabisa main wp, ehe:) bantuin ramein cerita receh ginian dong di ffn! Nyeol o. Em. Ji. W DITUNGGUIN! GAJOMBLO LAGI AKUTU IHIY! Bumbu-cimol engga, gasalah kok dek. Dp kamu aja yang menggoda. Bulet gitu:( girl404 lo review lima kali lagi juga gapapa, w ikhlas:) azure percayalah, authornya lebih unyu dari B:) lup ah masa sebel? Diajak pacaran juga kamunya mau, y kn?:( nocbnolife butuh penjelasan apa lagi? Adinda capek, Salihun:( nocbnolife permintaan w cuma dua; lo baca chapter ini dan lo review lagi, udah. EHE MODUS.
.
Thanks a lot for your review,
Sincerely, sciencea.
