Once
Original Story Belong To Phoebe
Starring:
Kim Jongin (GS)
Park Chanyeol | Oh Sehun
Byun Baekhyun (GS)
Wu Yifan
Summary:
Jongin hanya ingin jatuh cinta sebelum ia mati. Ia juga sangat ingin melakukan seks dengan seorang pria yang benar-benar ia cintai walau hanya sekali dalam hidupnya. Tapi akankan Jongin bisa merasakannya?
.
.
.
This is Remake Novel by Phoebe with the same title.
.
.
.
~ Happy Reading ~
.
.
.
Nafas Chanyeol sesak mengetahui kenyataan itu. Ternyata Jongin punya penyakit jantung? Ia terlalu muda untuk memiliki penyakit seperti itu. Semula Chanyeol kira, selama ini Jongin hanya berpura-pura sakit, tapi ternyata dia benar-benar sakit.
Jadi semua ekspresi kesakitannya selama ini bukan sandiwara? Seharusnya Chanyeol tidak sembarangan menduga, padahal Chanyeol selalu merasa khawatir setiap kali Jongin kesakitan. Ia seharusnya menyadari itu.
"Aku takut kehilangan Jongin." Baekhyun berdesis. "Aku menyesali kata-kataku hari ini, Tuhan. Jika saja aku tau kalau begini jadinya. Aku bahkan rela menyerahkan Chanyeol untuknya bila Jongin benar-benar menginginkannya. Sembuhkan dia. Tuhan, selamakan dia."
Chanyeol meneteskan air matanya. Jika saja ia tau kalau akan begini jadinya, maka Chanyeol tidak akan pernah menolak permintaan Jongin untuk bercinta dengannya. Mungkin Chanyeol akan bersikap sedikit egois untuk menikmati cintanya dengan Jongin meskipun hanya sementara.
"Tolonglah, Ini mungkin kesempatanku yang terakhir. Aku tidak mungkin bisa merasakan ini jika kau tidak melakukannya kali ini."
Jongin pernah mengatakan itu. Seharusnya Chanyeol menyadari sinyal yang Jongin berikan. Jongin hanya ingin merasakan cinta itu di saat-saat terakhir hidupnya.
Chanyeol menyesalinya. Ia menyesali segala sikap dan penolakannya kepada gadis itu, ia menyesalinya. Sekarang tidak ada pilihan lain selain menunggu keputusan Tuhan, Gadis yang nakal itu sudah koma selama dua hari. Ia berada di antara hidup dan mati.
Jongin mungkin belum ingin mati, ia masih mempertahankan jantungnya untuk terus berdetak meskipun jantung itu tidak sanggup melakukannya tanpa bantuan alat-alat medis.
Begitu mengetahui kabar tentang Jongin, Appanya dan Kris benar-benar kehilangan konsentrasi saat berada di kantor. Mereka hanya akan tenang bila duduk di samping ranjang Jongin dan berbicara dengannya. Chanyeol seringkali melakukan hal yang sama.
Ia tidak perduli lagi dengan perasaan Baekhyun, ia hanya takut kehilangan Jongin. "Jong, bangunlah. Jika kau bangun, aku akan segera mengabulkan permintaanmu. Aku berjanji akan melakukan itu."
Baekhyun menyentuh tangan Jongin lalu menciumnya. "Bangunlah, Jong. Aku tidak akan menyakitimu lagi. Kau boleh berlari, kau boleh melakukan apapun yang kau mau. Aku tidak akan menghalanginya. Aku berjanji, Jong. Tolonglah aku, aku akan menderita jika tidak mendengar maafmu."
"Kabar gembira." Kris tiba-tiba saja membuka pintu ruang rawat dengan bunyi yang sangat keras. "Ada pasien yang meninggal hari ini-terlalu kejam memang mengatakan bahwa kematian orang lain adalah kabar gembira-tapi keluarganya setuju untuk menyumbangkan jantungnya kepada Jongin. Semoga saja cocok, semoga saja Jongin bisa menerima jantung itu."
Chanyeol dan Baekhyun saling pandang dengan ekspresi lega. Kris segera menyongsong adiknya dan membelai kepalanya. "Jong, semua orang mengharapkan kesembuhanmu. Maka sembuhlah, Aku akan menjadikanmu ratu jika kau bisa sembuh."
.
.
~ o ~
.
.
Bab 10
'Jong, aku akan memberikan Chanyeol untukmu. Bangunlah.' Suara Baekhyun.
'Jong, segeralah buka matamu, aku sangat merindukanmu.' Suara Chanyeol
'Ayolah, sayang aku akan menghajar siapaun yang menyakitimu. Setelah ini kau tidak boleh terluka lagi. Cepatlah bangun.' Suara Kris
'Sayang, Cepatlah bangun. Tuhan sudah memberimu jantung baru dan kau harus sehat dengan itu. Jangan kecewakan orang yang memberikan jantungnya untukmu.' Suara Appa.
Jongin bisa mendengar semuanya. Tapi ia tidak bisa bangun meskipun ingin bangun. Selama ini ia mendengar janji-janji yang sangat indah jika dirinya bisa segera bangun. Tapi Tuhan belum menghendakinya untuk bangun. Jongin belum bisa membuka matanya.
'Tuhan, sembuhkan dia. Aku ingin dia tetap hidup meskipun aku tidak mungkin bersamanya Ada Appaku di dalam dirinya Dan ku harap Appaku akan menjaganya seperti dia menjagaku selama hidupnya.'
Jongin tertegun. Doa itu dari siapa? Siapa yang mendoakannya dengan ungkapan tulus itu?
Astaga, Jongin merasakan jantungnya berdetak sangat cepat. Appaku ada di dalam dirinya? Orang itu pastilah keluarga dari orang yang mendonorkan jantung untuknya.
Jongin belum bisa melihatnya, tapi ia menyayanginya. Menyayangi orang yang berdoa untuknya setiap malam. doa yang sangat tulus yang tidak pernah di dapatinya selama ini.
'Tuhan, aku tau kalau diriku penuh dosa. Tapi aku ingin bagian dari Appaku tetap hidup. Bantu dia menerima jantung Appaku. Bantu dia, Tuhan. Aku akan menjaganya jika dia terbangun nanti. Aku akan terus mengawasinya meskipun dari jauh.'
'Tuhan, lihat dia, begitu cantik. Tapi wajahnya sangat pucat. Kapan aku bisa melihat rona merah di wajahnya?'
'Tuhan, lindungi dia, perhatikan dia. Berilah dia kehidupan yang seharusnya di miliki oleh Appaku.'
'Kapan dia akan sadar? Kapan kau mengizinkannya untuk membuka mata? Aku ingin dia tersenyum, aku ingin melihatnya tertawa. Aku akan menghapus air matanya jika ia menangis.'
Jongin menghela nafas dalam. Ia menyukai setiap doa yang orang itu panjatkan untuknya. Jongin ingin membuka mata dan melihatnya. Tapi apa yang terjadi? Dia masih belum bisa membuka matanya. Tuhan masih belum mengizinkannya untuk membuka mata.
Jongin harus segera sembuh, ia harus berjuang untuk bisa melihat orang itu. Siapa dia?
Tuhan, izinkan aku membuka mata.
Aku ingin melihatnya dan berterima kasih.
Karena dia sudah berbaik hati merelakan Appanya.
Menjadi perantaramu untuk memberikanku hidup.
.
.
~ o ~
.
.
"Belum ada tanda-tanda sejauh ini." Dokter bergumam kepada seluruh keluarga Kim yang berkumpul di ruang rawat saat ia memeriksa keadaan Jongin untuk kesekian kalinya. "Dia masih berjuang untuk menerima jantungnya yang baru."
"Tapi ini sudah seminggu." Kris berdesis.
"Dia butuh dorongan dan motivasi. Saya harap seluruh keluarga terus memberinya dorongan untuk bertahan hidup."
"Tentu saja kami akan melakukannya."
Dokter tersenyum. "Ya, saya rasa itulah yang menjadi sebab gadis ini untuk bertahan. Orang lain sudah menunjukkan tanda-tanda pada dua atau tiga hari jika ia bisa menerima ataupun tidak bisa menerima jantung barunya. Dia gadis yang hebat."
.
.
~ o ~
.
.
Jongin menanti kata-kata yang datang untuknya hari ini. Ia sudah mendengar banyak ucapan semunggu terakhir. Tapi doa itu sudah tidak di dengarnya selama dua hari. Apakah orang itu sudah bosan mendoakannya?
'Jong, aku datang.' Chanyeol. Jongin tau itu. Chanyeol selalu datang setiap sore. Dia sangat rajin melebihi Kris yang menjaganya seharian suntuk dan terus mengajaknya bicara.
Jongin pernah merasakan kecupan hangat dari Chanyeol di keningnya, juga di bibirnya beberapa kali.
'Kapan kau akan bangun, Jong? Aku takut bosan menanti. Baekhyun memintaku untuk membatalkan pernikahan kami. Aku rasa Baekhyun mengira kalau kau mencintaiku dan dia memintaku untuk bersamamu meskipun aku menolak. Bangunlah, Jong. Kau tau kalau aku sangat mencintaimu, kan? Aku tidak bisa meyetujui permintaan Baekhyun. Tapi aku tidak bisa kehilanganmu.' Dan Jongin sangat bahagia mendengar itu.
Chanyeol menginginkannya? Ingin bersama dengannya? Ternyata Chanyeol benar-benar mencintainya. Kebahagiaan itu terus bersarang di hatinya sampai akhirnya Chanyeol berganti dengan Baekhyun setelah selang beberapa jam.
Baekhyun terisak saat itu. Jongin bisa mendengarnya karena Baekhyun sama sekali tidak menyembunyikan isakannya. Ia terdengar sangat terluka.
'Aku sudah berfikir panjang. Kami akan membatalkan rencana pernikahan kami. Mungkin aku akan mengatakannya kepada Appa besok sore. Untukmu, untuk segara peyesalanku, Aku bahkan rela melepaskan nyawaku Jong, aku menyayangimu. Percayalah.'
Tiba-tiba kebahagiaan di hatinya berganti dengan kesedihan. Baekhyun mungkin sangat menderita karena harus berpisah dengan orang yang di cintainya.
Ia merasa telah salah mencintai Chanyeol. Baekhyun lebih membutuhkan Chanyeol di bandingkan dirinya. Jongin meneteskan air mata. Jika saja ada orang di ruangan saat itu, mereka pasti tau kalau tubuh kakunya sedang bersedih.
Hingga tiba-tiba bunyi pintu di buka menyeruak. Jongin ingin menghapus air matanya, tapi tidak bisa. Tidak ada satu pun air mata dari anggota tubuhnya yang bisa di gerakkan. Tapi Jongin merasakan sebuah tangan yang hangat menyeka air matanya.
'Kau sedang bersedih? Aku juga.
Ah, ya. Aku membawakan bunga lavender untukmu.
Dia cantik seperti dirimu, Jong.
Maafkan aku. Aku tidak bisa menepati janjiku padamu.
Aku tidak bisa menjagamu.
Aku harus mengikuti ujian besok pagi.
Selama dua hari ini aku mengurusi beasiswa Cookery.
Aku juga harus bekerja keras mulai sekarang.
Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi.
Sudah saatnya aku berhenti bermanja.
Tapi aku berharap bisa melihatmu dalam keadaan sehat.
Cepat sembuh, ya?'
Lalu doa itu terdengar lagi.
'Tuhan, aku tau ini belum saatnya.
Tapi aku harus mengatakan satu hal yang penting padamu.
Aku jatuh cinta pada Jongin.
Akhirnya aku benar-benar mencintainya.
Tapi aku tidak bisa menjaganya lagi.
Maka awasilah dia, Tuhan.
Jagalah dia untukku.
Dan ampuni segala dosa-dosaku padanya.'
.
.
~ o ~
.
.
Jongin menghela nafas dengan tamak lalu membuka mata.
Akhirnya. Ia memandangi atap rumah sakit dengan pandangan kabur, lalu kembali menjelas dan semakin menjelas. Jongin akhirnya bisa melihat dengan lekukan nyata. Ia memandangi cahaya yang masuk lewat jendela.
Sudah hampir siang. Beberapa saat kemudian matanya terpaku pada bunga lavender yang sudah di susun apik di dalam sebuah vas kaca berisi air. Sudah berapa lama bunga itu berada disana?
"Ya, Tuhan. Jong. Kau sudah sadar?"
Pandangan Jongin beralih kepada orang yang berteriak kegirangan itu. Baekhyun, ia segera sibuk memanggil dokter secara manual padahal Baekhyun bisa saja menekan tombol darurat. Ia sedang membuang-buang energi.
Dalam sekejap ruangan tempat Jongin di rawat menjadi penuh dengan dokter dan perawat. Jongin di periksa secara intensif dan di kabarkan baik-baik saja. Ia sudah sehat. Sebuah keajaiban yang luar biasa.
Baekhyun sepertinya sangat senang. Ia segera menelpon semua orang dan perlahan-lahan mereka datang, satu persatu. Dimulai dari Kris, mungkin Kris mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga ia sampai di tempat itu dalam waktu yang singkat. Kris tidak berhenti bersyukur, ia terus bicara tentang apa saja.
Lalu Appanya, Appa yang jarang Jongin lihat hari ini memeluknya, membelai rambutnya, mencium keningnya. Ia menatap Jongin dengan kerinduan yang sangat. Akhirnya Jongin bisa merasakan kasih sayang Appa tirinya dengan baik. Selama ini Jongin fikir, ia hanya memiliki Kris dan Kyungsoo. Tapi ternyata ia memiliki banyak orang yang ada di sekitarnya.
Chanyeol datang dan memandang Jongin dengan penuh syukur. Mungkin ia ingin memeluk, ingin mencium. Tapi Chanyeol tidak akan berani melakukan hal itu di depan Appanya. Chanyeol hanya mengucapkan betapa ia senang menlihat Jongin bisa sadar setelah sekian lama mereka menunggu.
Jongin ingin memeluknya, ia juga merindukan Chanyeol. Tapi matanya segera menatap Baekhyun yang berusaha menyembunyikan kecemburuannya. Jongin segera mengulurkan tangannya ke arah Baekhyun dan wanita itu segera menyambutnya.
Baekhyun menatapnya bingung. "Kau ingin mengatakan sesuatu, Jong?"
Jongin mengangguk kemudian menoleh kepada Appanya. Laki-laki itu menggenggam tangan Jongin yang satunya lalu menciumnya.
"Appa, Bolehkah aku belajar di luar rumah setelah pulang dari rumah sakit? Aku ingin kuliah Coockery. Aku ingin menjadi chef hebat."
[Cookery: Akademi/jurusan tata boga di suatu universitas.]
Appanya tertawa renyah. "Jadi itu yang kau dapatkan setelah koma berminggu-minggu? Aku kira kau akan mengatakan hal apa. Tenanglah, Appa akan melakukan apapun agar kau bisa sekolah disana."
.
.
~ o ~
.
.
Bab 11
Jongin harus menahan diri beberapa minggu lagi di rumah sakit sebelum ia kembali ke kamarnya yang nyaman di rumah. Ia sudah bisa berjalan-jalan meskipun tidak banyak, sudah bisa naik-turun tangga dan yang paling penting Jongin sudah bisa menghabiskan waktu di Synagogue seperti biasa.
Ia tengah berusaha menggapai dapur untuk menemui Kyungsoo saat mendengar percakapan Appanya dan Baekhyun di ruang kerja sang Appa.
Percakapan yang pada akhirnya membuat Jongin hanya bisa menggigit jarinya untuk tetap bertahan di balik pintu sampai perbincangan itu selesai. Atau mungkin ia tidak akan pernah selesai.
"Apakah kau sudah memikirkan ini?" Suara Appa terdengar agak menyimpan kemarahan. Jongin bisa merasakannya.
"Aku sudah memikirkannya. Aku tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan itu lagi jika harus mengorbankan Jongin."
"Kau sudah membicarakannya dengan Chanyeol?"
"Aku sudah memintanya datang malam ini. Aku akan mengungkapkannya."
"Untuk apa kau melakukan ini, sayang? Kau malah akan menyiksa dirimu."
"Jongin kolaps karena aku memarahinya. Aku sangat cemburu karena dia terlalu dekat dengan Chanyeol. Aku fikir Jongin menyukainya karena itu aku ingin mewujudkan impiannya untuk memiliki Chanyeol. Kita tidak pernah tau berapa lama Jongin bisa bertahan dengan jantung barunya. Aku harap selamanya."
"Tapi kau sudah salah mengambil tindakan, Aku tidak akan membiarkan Chanyeol menikah dengan Jongin meskipun dia sudah berpisah denganmu. Mendiang Eommanya pun tidak akan menyetujui itu. Jongin dan Chanyeol terpaut usia yang sangat jauh, dan satu hal lagi. Semua orang sudah tau tentang rencana pernikahan kalian dan aku tidak ingin nama baik keluarga kita tercemar karena kau membatalkan pernikahan lalu calon suamimu menikah dengan adikmu."
Jongin nyaris saja menangis. Dia sangat senang dengan pembatalan pernikahan Baekhyun dan Chanyeol. Tapi Appanya tidak menyetujuinya. Appanya bahkan menjamin kalau Chanyeol dan Jongin tidak akan pernah bisa bersama bagaimanapun keadaannya.
Sepertinya Jongin harus menyerah pada cintanya. Dia bisa saja meminta Chanyeol membawanya pergi. Tapi Jongin tau bahwa Kim memiliki kuasa yang sangat runcing yang bisa menembus apa saja. Appanya akan menemukan mereka lalu membuat hidup Chanyeol sengsara.
Jongin menahan isakannya, ia tidak bisa mengorbankan hidup banyak orang hanya demi cinta konyolnya yang entah bertahan berapa lama.
"Kau mencintai Chanyeol, kan?" Appanya melanjutkan percakapan itu. "Kau fikir Chanyeol juga akan setuju dengan hal ini?"
"Karena itu aku akan bertanya padanya..."
Jongin tidak bisa mendengar kata-kata yang selanjutnya. Ia merasakan tubuhnya di tarik oleh seseorang dengan kuat menaiki tangga lantai dua.
Kris memaksa Jongin untuk masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Selang beberapa menit kemudian Kris sudah mengajak Jongin duduk di atas Sofa kamarnya yang membelakangi rak buku. Ia menatap Jongin dengan serius.
"Benarkah kau punya hubungan dengan Chanyeol?"
Jongin tidak menjawab. Ia tidak tau harus menjawab apa.
"Jong, Kau tidak bisa berbuat seperti itu. Keluarga ini sudah membuat hidup kita menjadi nyaman. Mereka juga membiayai pengobatan Eomma sampai Eomma bisa hidup lebih lama dari yang seharusnya bersama kita. Kita bukan hanya berhutang satu nyawa. Kita sudah berhutang dua nyawa kepada mereka. Karena uang mereka kau bisa hidup sampai sekarang."
"Tapi aku mencintai Chanyeol." Jongin bergumam pelan. Isakannya tidak bisa di tahan lagi.
Kris memandang Jongin dengan perasaan iba. Ia tidak tega melihat air mata adiknya. "Aku tau, tapi Baekhyun juga, kan? Sudah berapa lama kau mencintai Chanyeol? Bisa kau bandingkan dengan Baekhyun? Kau berfikir harus memiliki Chanyeol karena itu selalu berusaha merebut Chanyeol dari Baekhyun kan? Bandingkan dengan cinta yang Baekhyun miliki. Dia bahkan rela melepaskan Chanyeol agar Chanyeol bisa bahagia denganmu. Meskipun untuk itu dia harus sakit hati seumur hidupnya."
"Aku juga sakit, Chanyeol cinta pertamaku dan aku tidak bisa memilikinya."
"Baekhyun juga cinta pertamaku dan aku juga tidak mungkin, tidak akan pernah bisa memilikinya."
Jongin terdiam lama. Ia memandang Kris dengan tatapan terksima. Jadi selama ini Kris mencintai Baekhyun? Saudara tirinya sendiri?
"Ya, Aku mencintai Baekhyun meskipun tidak pernah mengatakan hal itu kepada siapapun. Sejak pertama kali kita berada di rumah ini, Baekhyun selalu berusaha bersikap baik meskipun aku tau itu sulit baginya. Dia memperhatikan kita yang masuk ke rumah ini dalam keadaan lusuh dan itu yang membuatku mencintainya. Sangat lama aku berusaha memendam perasaanku, Jong. Sampai akhirnya aku berfikir untuk menikmati cintanya selama sepihak begitu ia membawa Chanyeol ke rumah. Aku bahkan sering kesakitan karena itu."
"Tapi kau bisa menghadapi Baekhyun dengan baik."
"Karena aku mengusahakannya. Tidak ada yang tidak bisa kita lakukan jika kita mau mengusahakannya. Tapi jangan sampai kemauan kita itu merusak kehidupan orang-orang yang berjasa dalam hidup kita. Coba kau bayangkan kehidupan kita tanpa mereka, Aku tidak mungkin bisa melanjutkan sekolah, Eomma meninggal lebih cepat dan kau mulai sakit-sakitan. Bayangkan bila aku harus mencuri hanya untuk mendapatkan makanan dan kau harus mengalami kesakitan melebihi apa yang pernah kau rasakan selama ini karena aku tidak sanggup membeli obat untukmu."
"Hentikan." Jongin menutup kedua telinga dengan telapak tangannya. Ia tidak sanggup mendengarkan semua penjabaran Kris tentang hutang budi mereka pada keluarga ini.
Tapi Kris sepertinya belum puas, ia masih ingin Jongin mendengar lebih banyak. Kris menarik tangan Jongin dengan keras sehingga Jongin tidak lagi bisa menolak.
"Baekhyun berusaha keras menggantikan Eomma untukmu. Dia tidak ingin kau di besarkan tanpa kasih sayang dan perhatian. Tapi apa yang kau lakukan padanya? Jong, aku mohon usahakanlah cara apapun agar perikahan mereka tidak di batalkan. Jika kau menyayangiku, jika kau menyayangi Eomma, hentikan semua ini. Hentikan usahamu untuk merebut Chanyeol darinya. Dia sangat menyayangimu, Baekhyun sangat menyayangimu."
Jongin memejamkan matanya, perih. Ia tidak tau harus bagaimana, tidak bisa melakukan apa- apa lagi. Hatinya sangat sakit menyadari keadaan hidupnya. Ia menginginkan cinta dari kehidupannya yang sangat singkat tapi cinta itu harus ia rampas dari orang lain.
Lamat-lamat Jongin bisa mengenang kembali ucapan Baekhyun padanya di rumah sakit.
'Untukmu, untuk segala peyesalanku. Aku bahkan rela melepaskan nyawaku Jong, aku menyayangimu. Percayalah.'
.
.
~ o ~
.
.
"Apa yang kau lakukan?" Chanyeol berbisik saat Jongin berhasil menariknya ke perpustakaan sebelum acara makan malam keluarga itu di mulai. Ia baru saja tiba dan sangat senang saat Jongin menyambutnya.
Chanyeol kira, ia akan mendapatkan sebuah pelukan. Tapi ternyata Jongin malah memaksanya untuk masuk ke perpustakaan rumah itu lalu menyembunyikan diri mereka di balik rak-rak yang tinggi.
"Apakah kau mencintaiku?" Jongin bergumam pelan.
Chanyeol terdiam lama, memandangnya dengan tatapan terkesima.
"Jawab Chanyeol, apakah kau mencintaiku?"
"Kau memanggiku apa? Chanyeol? Aku sangat senang mendengarmu memanggil namaku, bukan Tuan Park seperti yang biasa kau katakan."
"Jawablah, cepat. Makan malam akan segera di mulai."
Chanyeol menghela nafas lalu mengangguk. "Aku rasa iya, aku tidak bisa memungkiri kalau aku sudah menganggapmu istimewa beberapa minggu belakangan ini. Aku berusaha menolaknya karena aku tidak bisa meninggalkan Baekhyun. Tapi saat kau koma di rumah sakit, aku menyesalinya. Aku ingin terus bersamamu, Jong."
"Baekhyun ingin membatalkan pernikahan kalian. Apa jawabanmu?"
"Kalau itu yang terbaik untuk kita aku akan menyetujui-"
"Jangan pernah." Jongin memotong. "Jangan batalkan rencana pernikahan kalian. Aku mohon. Aku sudah bilang, kan? Aku tidak akan pernah membiarkanmu terlibat masalah. Saat itu cukup bagiku jika kau membiarkanku mencintaimu. Aku tidak pernah memintamu membatalkan pernikahan dengan Baekhyun. Aku tidak ingin pernikahan kalian di batalkan."
"Tapi, Jong-"
"Aku mohon."
"Bagaimana denganmu? Bagaimana dengan perasaanku padamu?"
"Ini hanya sementara. Suatu saat nanti akan menghilang dengan sendirinya kalau kau merasa bosan." Jongin lalu memeluk Chanyeol erat-erat. Ia merasakan Chanyeol membelai punggungnya dengan sangat lebut.
"Aku belum bisa berhenti mencintaimu saat ini, Chanyeol. Tapi aku juga tidak akan membiarkan pernikahanmu dan Baekhyun batal. Kita tidak tau berapa lama aku bisa bertahan dengan jantungku yang baru. Selama itu, biarkan aku mencintaimu diam-diam. Itu saja sudah cukup. Aku tidak bisa membuatmu meninggalkan Baekhyun dan setelah itu aku meninggalkanmu. Kau tidak boleh kehilangan semuanya hanya karena aku."
"Jong-"
"Menikahlah dengan Baekhyun, jika tidak kau akan membunuhku."
Chanyeol mengangkat wajah Jongin perlahan. Wajah Jongin memerah, ia mungkin berusaha menaha perasaannya yang sebenarnya. Juga berusaha agar tidak menangis sejadi-jadinya sehingga orang bisa mendengar tangisannya.
Chanyeol merasa sedih dengan permintaan ini, ia membelai wajah Jongin lembut lalu mencium keningnya. Selang beberapa saat bibir Chanyeol sudah mencium bibirnya lalu berpindah ke leher. Chanyeol sudah bisa menaklukkan Jongin sehingga mereka sudah berbaring di lantai, gadis itu menggeliat saat Chanyeol mencoba melepas pakaiannya. Jongin belum berhenti menangis.
Tuhan, Ampuni dosaku
Ampuni dosaku
"Jong." Suara Kyungsoo mengetuk pintu perpustakaan terdengar nyaring.
Chanyeol menghentikan gerakannya dan memandangi pintu. Lalu berpindah kepada Jongin yang nyaris saja bercinta dengannya. Padahal mereka sudah begitu dekat, Chanyeol sudah mencapai puncak hasratnya dan siap untuk memberi kepuasan kepada Jongin.
Bukankah ini yang Jongin inginkan? Bercinta dengannya? Chanyeol juga sudah menginginkannya. Teramat menginginkannya.
"Jong, cepatlah. Baekhyun sudah mencari Tuan Park ke sekeliling rumah. Kris sedang menuju kemari. Kau bisa mati jika dia menemukan kalian berduaan di dalam."
Jongin segera bangkit dan memperbaiki pakaiannya. Ia memandang Chanyeol sekali lagi dengan tatapan penuh permohonan. "Tolong jangan batalkan pernikahan kalian. Jika kalian sampai batal menikah, kau tidak akan pernah bisa melihatku lagi. Aku bersumpah."
Chanyeol terpaku, ia tidak tau harus berbuat apa-apa selain membiarkan Jongin keluar dari ruangan itu dan meningalkannya sendiri. Jongin meminta hal yang menyakitkan untuk di lakukan. Dia mungkin tidak sanggup menikah dengan Baekhyun bila hatinya terisi oleh orang lain.
Tapi jika tidak melakukan itu, Chanyeol tidak akan pernah bisa melihat Jongin lagi seumur hidupnya. Ancaman seperti apa itu? Jongin akan melakukan hal apa?
"Chanyeol, sedang apa kau disana?" Suara Kris terdengar dengan jelas. Laki-laki itu berdiri di ambang pintu perpustakaan dan menatap Chanyeol heran.
Chanyeol menepuk bahunya yang mungkin di kotori debu. Ia juga berusaha memperbaiki pakaiannya. Beruntung Chanyeol belum melepas pakaiannya sama sekali seperti yang di lakukannya pada Jongin tadi. Ia bisa lega karena itu.
Chanyeol menatap Kris sejenak lalu tersenyum. "Aku mau mengembalikan buku yang ku bawa pulang beberapa hari yang lalu, tapi ku lihat sangat banyak buku yang berserakan di atas meja, jadi aku merapikannya."
Kris mengangguk mengerti. "Memang selalu begitu, Tapi besok pagi akan ada yang merapikannya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan buku lagi. Sekarang kita ke meja makan. Semua orang sudah menantimu. Aku rasa ada hal serius yang harus di bicarakan mengenai pernikahanmu dan Baekhyun."
.
.
~ o ~
.
.
Bab 12
Kris membawakan es krim untuk Jongin. Antri hari ini terlalu panjang dan Kris tau kalau Jongin sudah sangat bosan menanti proses administrasinya selesai. Penundaan selama hampir setengah tahun ini tentu saja cukup membuat Jongin merasa tertekan.
Ia merindukan Chanyeol dan harus melihat Chanyeol bersama dengan orang lain karena pernikahan itu sudah di laksanakan. Betapa hancurnya dia. Tapi ia sedang berusaha menepati kanjinya kepada Tuhan. Jongin tidak akan merebut Chanyeol dari Baekhyun meskipun ia harus terus merasa sakit karena itu.
"Jong, kita pulang saja dulu. Aku harus mengerjakan sesuatu." Kris berujar pelan. Antrian masih sangat panjang dan Kris sudah bosan menemani Jongin menunggu gilirannya tiba. Masih puluhan orang lagi sebelum nama Jongin di panggil.
Jongin terlihat kecewa. Ia berharap bisa segera terdaftar di Akademi Cookery ini tanpa penundaan lagi karena dirinya sudah menunda selama setengah tahun dan terpaksa mengikuti kelas pada musim semi.
Tapi Jongin-pun tidak ingin merepotkan Kris untuk menemaninya. "Kalau begitu kau pergi saja. Selesaikan pekerjaanmu."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku menunggu sampai namaku di panggil. Aku tidak mau menundanya lagi. Proses penyembuhanku sudah memakan waktu yang sangat lama. Usiaku sudah bertambah satu tahun. Jika menunda lagi maka aku akan membuang banyak waktu dengan menunda-nunda."
Kris menghela nafasnya. "Tapi kau tidak akan menghilang, kan?"
"Aku punya ponsel, Kris. Jika aku butuh bantuanmu aku akan menelpon."
"Baiklah, tapi berjanjilah kau akan baik-baik saja."
Jongin mengangguk. Kris kelihatan tidak rela melepaskannya, tapi ia tetap melambaikan tangannya dan meninggalkan Jongin di kursi ruang tunggu.
Kris benar-benar berjalan pelan menanti fikirannya berubah dan kembali duduk di samping Jongin lagi. Sayangnya, Kris sudah mencapai mobilnya lebih dulu sebelum fikirannya berubah.
.
.
~ o ~
.
.
"Kim Jongin, silahkan ke Outlet enam."
Jongin tersentak, ia memandangi jam tangannya dan lega saat namanya di panggil. Sudah jam dua siang dan ia melewatkan makan siangnya untuk menunggu.
Jongin memandangi sekelilingnya. Hanya tinggal dirinya dan empat orang lagi. Namanya memang mendapat urutan akhir karena datang kesiangan. Dengan langkah-langkah kelelahannya Jongin berjalan menuju Outlet yang memajang angka enam dalam sebuah layar digital. Ia membawa semua bahan pendaftarannya dan duduk dengan malas menghadapi seseorang yang... Astaga!
"Sehun?!" Jongin mengerjapkan matanya beberapa kali. Yang di hadapinya benar-benar Sehun?
"Jong! Kau?"
"Maaf, sepertinya aku salah..." Jongin berujar sambil kembali mengambil barang-barangnya yang tadinya di letakkan di atas meja, tapi kata-katanya terhenti saat Sehun berhasil menggapai tangannya.
Sehun memandang Jongin dengan tatapan maklum, gadis itu ketakutan saat melihatnya. "Kau ingin mendaftar, kan? Kau tidak mungkin menunggu berjam-jam untuk melakukan kesalahan. Duduklah."
Jongin berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sehun dan pemuda itu mengerti. Sehun kembali meletakkan tangannya di atas meja.
"Duduklah, Jong." Sehun melanjutkan ucapannya. "Aku tidak mungkin melakukan apapun padamu di hadapan banyak orang, kan?"
Jongin terdiam sesaat lalu memandangi Sehun dengan serius. Beberapa saat kemudian, ia duduk di hadapan Sehun dengan kikuk lalu mengeluarkan formulir yang sudah di isinya dan meletakkannya di atas meja.
Sehun menekap formulir Jongin dengan telapak tangannya lalu menggeser kertas itu medekat. Selang beberapa menit Sehun mengetik komputernya dan meminta Jongin menanda tangani beberapa buah surat.
Jongin mengerjakan semua permintaan Sehun tanpa mengatakan apapun. Ia hanya terus bersikap hati-hati sambil memandangi Sehun penuh selidik.
"Kau sudah biasa memasak?" Tanya Sehun.
Jongin mengangkat alisnya. "Apa urusannya denganmu?"
"Percayalah, ini untuk kepentinganmu, Jong. Bukan untukku."
"Aku baru mencoba memasak beberapa bulan ini."
"Kalau begitu kau di daftarkan untuk mendapat bimbingan khusus."
"Olehmu?"
"Pihak Fakultas yang menentukannya. Kalau ternyata aku yang terpilih untuk membimbingmu. Berarti kita memang di takdirkan untuk bersama." Sehun tersenyum lebih ramah. Lalu menyilangkan kedua lengannya di atas meja. "Kau sangat takut padaku?"
"Tidak."
"Tapi kau menyiratkan seperti itu. Kufikir kau sudah melupakannya. Itu sudah lama sekali, kan?"
"Aku tidak akan penah bisa melupakannya. Kau tau?"
"Ya, Aku tau. Dan kau akan terus berhati-hati denganku. Baguslah kalau begitu. Itu artinya kau tidak memerlukan siapapun untuk menjagamu, kan?" Sehun kembali memandangi komputernya.
"Apa yang membuatmu memilih jurusan Cookery? -ini wawancara tahap awal, untuk mengisi datamu."
Jongin terdengar mendesah. "Aku tidak tau."
"Haruskah aku mengetik tidak tau?"
"Tulis saja karena aku ingin bisa memasak untuk suamiku suatu saat nanti."
Sehun tertawa renyah dan ketakutan Jongin mulai sirna. Jongin seperti menemukan Sehun yang lain dari yang pernah di kenalnya. Tidak, Ia sudah menemukan lagi Sehun yang di kenalnya. Itu lebih tepat.
Satu-satunya hal yang membuat Jongin merasa tidak mengenal Sehun adalah kejadian malam itu dimana Sehun hampir saja merusak hidupnya.
"Apanya yang lucu?" Jongin agak membentak.
Sehun menggeleng berusaha menenangkan dirinya. "Tidak, kau mengingatkanku kepada Jongin yang ku kenal dulu."
"Aku sama sekali tidak berubah, Sehun."
"Sudah berapa banyak pacarmu setelah aku?"
"Aku tidak mendapatkan seorangpun."
Ekspresi ceria di wajah Sehun berhenti, jawaban Jongin tiba-tiba saja membuatnya merasa bersalah. "Kau sudah makan siang, Jong? Mau makan bersamaku?"
"Untuk apa?"
"Untuk permintaan maaf."
"Kau akan menculikku lagi dan-"
"Aku tidak akan melakukan hal seperti itu ." Sehun memotong ucapan Jongin dengan penekanan khusus. "Aku menyesali semua perbuatanku. Sungguh. Aku tidak bisa menghentikan diriku untuk menyalahkan diri sendiri atas perbuatanku itu. Seandainya calon kakak iparmu itu tidak datang, mungkin aku sudah megajak teman-temanku untuk menikmatimu secara beramai-ramai. Aku tidak seharusnya merencanakan hal keji seperti itu. Maafkan aku."
"Aku sedang malas untuk membahasnya. Tapi aku tetap saja tidak bisa menghentikan diriku untuk berhati-hati kepadamu. Ini bukan bagian dari wawancara awal, kan?"
"Ya, aku mengerti. Aku tidak boleh terlalu berharap, begitu maksudmu?"
Jongin mengangguk. "Tapi aku akan menerima tawaran makan siang gratis itu karena aku sangat lapar. Tapi aku akan pergi ke tempat itu sendiri dan kau harusnya menyusul setelahku. Aku tidak mungkin pergi bersamamu."
.
.
~ o ~
.
.
Jongin termenung memandangi makan malamnya. Bukan karena tidak sedang berselera, tapi ia tengah memikirkan pertemuannya dengan Sehun hari ini. Ia bertemu lagi dengan Sehun dalam keadaan yang sama sekali tidak terduga. Sehun adalah seonbaenya di akademi Cockery itu. Ia bahkan mengurusi segala pendaftaran Jongin dan berjanji untuk tidak membuat Jongin merasa lelah karena harus bolak-balik.
Saat makan siang bersama tadi, Jongin mengajak Kris ikut serta dan Kris lebih banyak bebicara dengan Sehun di bandingkan dengan dirinya. Kris sangat menyambut niat baik Sehun itu.
"Jong, kau baik-baik saja?" Baekhyun menyapanya. Malam ini Baekhyun dan Chanyeol akan menginap di rumah lagi.
Biasanya Jongin akan bersedih semalaman. Tapi sepertinya malam ini Jongin tidak akan memikirkan Chanyeol. Ia yakin kalau dirinya hanya akan memikirkan pertemuannya dengan Sehun.
"Kau merasakan sakit lagi? Kau tetap meminum obatmu, kan?"
Jongin menoleh kepada Baekhyun sejenak lalu tersenyum. "Aku baik-baik saja, aku hanya-"
"Hanya memikirkan kejadian tadi siang." Potong Kris. "Kami bertemu dengan mantan kekasihnya. Siapa namanya Jong?"
Jongin melirik Chanyeol sekilas dan menyadari tatapan tajam Chanyeol menghujamnya. Dengan kikuk Jongin kembali memandang Kris dan berdelik.
Kris tertawa senang karena merasa sudah berhasil mengganggu adiknya. "Sudahlah, Jong. Kau tidak perlu malu-malu. Kau sudah cukup sehat untuk mencari kekasih baru. Siapa namanya? Sehun? Pacarmu yang terakhir sebelum kau masuk rumah sakit kan? Aku ingat, saat itu kau menangis karena berpisah darinya. Kau bilang masih menyukainya-"
"Hentikan Kris. Aku tidak mau membahasnya."
Appanya yang sejak tadi memperhatikan Kris mengganggu Jongin tertawa. Ia lalu bergumam dengan sangat bijak. "Kau bisa membawanya ke rumah. Jong. Jika dia sampai pernah membuatmu menangis karena berpisah berarti kau sangat menyukainya. Appa ingin melihatnya."
"Mana mungkin aku melakukan itu. Kami hanya bertemu tanpa sengaja dan saling menyapa. Itu saja."
"Apakah dia melakukan sesuatu yang buruk?" Chanyeol tiba-tiba bersuara. Ekspresinya terlihat sangat khawatir. Tentu saja hal itu di sebabkan oleh perlakuan Sehun yang pernah menyakiti Jongin. Hanya Chanyeol yang mengetahuinya.
Jongin melirik keluarganya secara bergantian. Semua orang mengeluarkan ekspresi heran pada wajahnya karena perubahan suasana secara tiba-tiba.
Sepertinya nada suara Chanyeol benar-benar mempengaruhi semuanya. Jongin memandang Chanyeol sejenak lalu menunduk. Ia masih tidak bisa memandangi Chanyeol berlama-lama. "Tidak, dia sangat baik."
"Aku sangat lega mendengarnya. Jangan pernah menyembunyikan sesuatu jika dia menyakitimu, Jong. Aku. Maksudku kami semua sangat khawatir dengan keadaanmu. Kau belum pulih seratus persen dan masih harus di jaga ketat."
"Ya, aku tau. Aku akan berusaha menjaga diriku."
"Chanyeol benar, Kau tidak boleh menyembunyikan apapun jika terjadi sesuatu padamu." Appanya berbicara lagi, kembali menyegarkan suasana mencekam yang tiba-tiba saja hadir diantara mereka karena ucapan Chanyeol.
"Kalau dia bukanlah orang yang baik untukmu, jangan dekati dia, Jong."
Jongin mengangguk. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa untuk yang satu itu.
.
.
~ o ~
.
.
"Appamu benar, sebaiknya jangan dekati Sehun. Aku tidak ingin dia meyakitimu sedangkan aku tidak ada disana untuk melindungimu lagi." Park Chanyeol berbisik di kamar Jongin yang terkunci dari dalam.
Laki-laki itu memaksa masuk sedangkan selama ini dia tidak pernah melakukan hal itu jika Jongin tidak memintanya. Chanyeol membuat Jongin merasa takut. Takut ketahuan dan takut kehilangan kendali.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Aku hanya mengkhawatirkanmu. Kau tau bagaimana dia pernah berusaha membunuhmu?"
"Berhentilah bersikap seperti ini, Chanyeol. Keluarlah dari kamarku sekarang. Bagaimana bila Baekhyun tau? Aku tidak ingin menyakitinya."
"Dia tidak akan tau. Aku mengatakan akan keluar rumah sebentar." Chanyeol menatap Jongin hangat. Ia sangat merindukan gadis itu. Meskipun sangat dekat, selama setengah tahun ini mereka terasa begitu jauh. "Aku merindukanmu, Jong."
"Hentikan, Chanyeol. Aku tidak bisa mendengarmu mengatakan hal itu." Jongin menundukkan wajahnya semakin dalam. Lalu, "Karena aku mungkin merasakan kerinduan yang lebih dalam."
"Tapi kau selalu tampak kuat menahan semua ini. Kau tau bagaimana terlukanya aku? Aku sangat senang kau sembuh, tapi aku terluka karena tidak bisa berdekatan lagi denganmu sesering dulu. Aku menyesal meluluskanmu lebih cepat. Seharusnya aku bisa menundanya karena hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa berdekatan denganmu."
"Chanyeol!"
Chanyeol mendekat, merangkul pinggang Jongin dan merapatkan tubuh gadis itu kepadanya. Lalu mereka bertatapan penuh kerinduan.
Mereka selalu begini setiap kali Chanyeol datang ke rumah ini, selalu menangatakan hal yang sama dan Jongin akan selalu kehilangan kendali. Ia membiarkan Chanyeol mencium bibirnya lagi dan Jongin hanya bisa meneteskan air mata untuk itu. Ia tidak punya kuasa untuk menolak.
Jongin sangat menginginkan Chanyeol dan masih belum berubah. Chanyeol mungkin merasakan isakan Jongin di kedalaman ciumannya. Ia menjauhkan wajahnya dari Jongin dan menatapnya dengan sedih. Chanyeol melepaskan sebelah tangannya dari pinggang Jongin untuk menghapus air matanya.
"Kenapa kau selalu menangis seperti ini?"
"Aku merasa sangat bersalah kepada Baekhyun. Tidak seharunya kita melakukan ini di sela-sela pernikahan kalian."
"Kau yang meminta kami untuk mempercepat pernikahan."
"Aku tidak punya pilihan lain. Bila kau dan Baekhyun tidak jadi menikahpun, aku dan dirimu tidak mungkin bersatu, Chanyeol. Appa tidak akan menyetujui hubungan kita meskipun Baekhyun bisa menerimanya. Kita memang tidak pernah di takdirkan untuk bersama."
"Lalu kau fikir tidak masalah jika aku menjadi kakak iparmu asalkan kita terus bersama? Aku juga memikirkan hal itu. Aku tidak akan bisa hidup tanpa melihatmu, jika hubungan kita di ketahui oleh keluargamu, maka mereka akan menjauhkanku darimu sedangkan aku tidak sanggup menahan kuasa Appamu. Meskipun harus seperti ini, bukan masalah bagiku. Aku juga merasa bersalah, Jong. Tapi hubungan kita ini setidaknya memberikanku harapan untuk terus bertahan hidup."
Jongin menunduk lalu memeluk Chanyeol erat-erat. Ia ingin melepaskan diri dari Chanyeol, ingin bisa tapi tidak bisa. Hatinya berperang setiap kali Chanyeol dan dirinya melakukan hal ini. Dia tidak ingin menyukainya, tapi Jongin tidak bisa menyangkal kalau dirinya menyukainya.
Chanyeol menjatuhkan tubuh Jongin di ranjang lalu kembali mengulum bibirnya. Jongin tidak bisa menahan dirinya lagi, ia meledak. Benar-benar meledak. Jongin mendorong tubuh Chanyeol menjauh dari dirinya. Dia tidak pernah bisa melakukan hal itu selama ini dan mungkin tidak akan pernah bisa. Chanyeol memandang Jongin dengan sedih. Jongin selalu menolaknya.
"Kau masih tidak bisa melakukannya? Bukankah kau sendiri yang pernah memintaku untuk melakukan hal itu, Jong? Aku berjanji untuk mengabulkan permintaanmu itu jika kau sembuh. Tapi kenyataannya-"
"Aku tidak bisa." Jongin mendekap tubuhnya sendiri erat-erat. Air matanya mengalir lagi. "Aku tidak bisa mengkhianati Baekhyun lebih jauh. Bagiku cukup menikmati ciumanmu di saat aku merindukannya. Tapi aku tidak akan pernah memaafkan diriku jika melakukan hal yang lebih dari itu. Pergilah, Chanyeol. Kembalilah pada istrimu. Dia pasti menunggumu."
Chanyeol menghela nafas lalu keluar dari kamar itu dan meninggalkan Jongin sendirian. Jongin merasa kecewa pada dirinya setiap kali ia melakukan hal ini. Ia merasa sangat pedih dan terluka.
Tapi Jongin tidak bisa memungkiri kalau hatinya sangat membutuhkan cinta. Hanya Chanyeol yang bisa memberikannya dan ia selalu bertahan dengan sejumput asa tentang itu.
Tuhan, mengapa kelopakku tidak bisa terbuka lagi?
Apakah aku tidak akan bisa mekar selamanya?
.
.
~ To be Continued ~
.
.
