Hari ini suasana hati Kyungsoo benar-benar buruk. Bahkan ia melewatkan sarapan bersama keluarganya hanya untuk menghindari pertanyaan tentang keadaannya yang tampak berantakan.
"Kau baik-baik saja?" Kai menghentikan langkah Kyungsoo. "Ah baiklah, aku tahu jawabannya…"
"Bagaimana kau tahu bahwa aku berangkat sepagi ini?" kini giliran Kyungsoo yang membuat langkah Kai terhenti.
"Sebenarnya aku pagi ini ada piket kelas. Jadi, yahh"
"Oh," dan suasana kembali hening. Kyungsoo tetap teguh untuk berjalan dengan kepala tertunduk, sedang Kai mengikuti kecepatan langkah Kyungsoo dengan bersiul-siul riang.
"Aku pernah menyukai seorang gadis" ucapan Kai membuat Kyungsoo mengangkat kepalanya. "Kami begitu dekat karena aku bukan tipe pria yang suka diam-diam jika mendekati seseorang yang menurutku menarik di mataku. Hingga tiba-tiba ada sosok lain dihidup gadis itu, sosok itupun membuat kami sedikit menjauh"
"Kenapa kau menyukai gadis itu?"
"Aku nyaman dengannya, aku suka dengan semua ceritanya. Wajahnya ketika bercerita selalu membuatku tenang, walau dia bukan menceritakan tentang dirinya. Setiap hari aku selalu menunggu bagaimana kelanjutan ceritanya, dan sosok lain itulah yang membuat dia tidak melanjutkan ceritanya"
"Apa itu cinta?" Kai melirik kearah Kyungsoo dengan heran. "Apa yang kau rasakan itu cinta?"
"Entahlah, aku tidak begitu paham tentang cinta. Selama aku bisa melindungi dan membuatnya tidak menangis, maka hal itu lah yang bisa menjadi arti cinta untukku"
"Dia mencintaiku, tapi aku hanya memanfaatkan kebaikannya. Apa aku orang jahat?" Kai menghela nafas mendengar pertanyaan Kyungsoo.
"Kyungsoo," dan gadis itu langsung terkejut saat kedua tangan Kai memegang bahunya. "Terkadang manusia itu memang sedikit keterlaluan, tapi kurasa tidak masalah jika memang itu yang tuhan takdirkan untuk kita. Ya maksudku, selama ia mau berusaha untukmu, kenapa tidak kau pertahankan saja. Cinta itu sebenarnya hanya butuh waktu, dan aku yakin pria itu mau menunggumu, takut-takut saja jika kau memaksa untuk melepasnya sekarang kau yang akan menyesal dikemudian hari".
"Jadi aku bukan jahat, tapi keterlaluan?"
"Dua-duanya…"
"Yakk" Kyungsoo langsung menendang pantat Kai.
"Ouchh, haish. Kau ini gadis tapi kenapa tingkahmu seperti preman. Awas kau yaa" dan mulailah aksi kejar-kejaran antara Kyungsoo dan Kai selama perjalanan mereka menuju sekolah.
Seiring berjalannya waktu, yah kurasa memang aku sedang jatuh hati lagi pada seseorang ―Kim Kai.
.
.
.
"Kau pagi ini menghilang lagi…" Luhan menatap sebal kearah Kai.
"Hehe, kurasa mulai sekarang aku akan berjalan kaki saja. Kau tahukan kalau berjalan kaki itu menyehatkan"
"Lakukan semaumu tuan Kim dan lupakan keberadaanku dengan Sehun yang selama ini susah senang bersamamu" Luhan membanting kesal sumpit di genggaman tangannya.
"Lu, kenapa kau sensitive sekali hari ini?" Sehun mencoba menahan sang kekasih yang sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Masa bodoh" sahut Luhan, ia langsung meninggalkan kantin dengan wajah bersungut-sungut.
"Maafkan aku Sehun" Kai menatap memelas pada sang sahabat.
"Serahkan dia padaku," angguk Sehun lalu beranjak meninggalkan Kai.
"Oh ya tuhan, kenapa menjadi seperti ini?" gerutu Kai.
.
.
Sehun terus mencari keberadaan sang kekasih karena ternyata Luhan tidak lari kembali ke kelas. Hingga langkah pria itu terhenti saat melihat Kyungsoo sibuk berjalan dengan buku di genggamannya.
DUK
Mereka bertabrakan, atau lebih tepatnya Kyungsoo yang sibuk menunduk dan Sehun yang dengan sengaja menahan langkahnya tepat di hadapan Kyungsoo.
"Ishh" Kyungsoo mendesis kesal, ia langsung mengangkat wajahnya dengan ekspresi kesal.
"Hai Kyungsoo" sapa Sehun ramah.
"Ah, Oh Sehun" Kyungsoo langsung merubah mimik wajahnya, "Maafkan aku, seharusnya aku lebih berhati-hati".
"Ck, memang seharusnya seperti itu," Sehun pun menutup buku yang ada digenggaman Kyungsoo lalu sedikit mendekatkan wajahnya.
"Eh?" Kyungsoo sontak memundurkan kepalanya, posisi mereka benar-benar sangat dekat.
"Aku tahu kau murid kelas unggulan, tapi setidaknya gunakan waktu istirahatmu itu untuk benar-benar istirahat nona Do, dan hei, kenapa kau ada di lorong siswa reguler?"
"Aku mencari Jaehyun, dia memintaku mengantarkan ponselnya" jawaban Kyungsoo membuat Sehun langsung menghilangkan raut ramah di wajahnya.
"Oh, mungkin sekarang ia sedang berkumpul di markas club"
"Baiklah, aku harus pergi, pai pai" Kyungsoo menyunggingkan senyum tipisnya sebelum akhirnya meninggalkan Sehun yang bahkan tak membalas senyumannya.
Kehadiran Kyungsoo membuat Sehun melupakan Luhan, tapi rasa kesal mendominasi dirinya hingga membatalkan niatnya mencari Luhan dan lebih memilih untuk mengikuti Kyungsoo.
.
.
Kyungsoo melangkahkan kakinya menuju markas club basket yang terletak di gedung siswa reguler.
"Kyungsoo" suara Jaehyun langsung membuat Kyungsoo mengangkat kepalanya.
"Kenapa kau ceroboh sekali?" kesal Kyungsoo. Gadis itu pun memberikan ponsel milik sang kekasih dengan poutan di bibirnya. Ini bukanlah Kyungsoo yang seperti biasanya.
"Maafkan aku, aku sangat terburu-buru tadi" Jaehyun mengusap gemas kedua pipi Kyungsoo. "Oh ya tuhan, pipimu berubah chubby sekarang".
"Aku sedang dalam proses penggemukan jika kau ingin tahu" ujar Kyungsoo, ia menutup buku yang ada di genggamannya lalu menatap penuh senyum kearah Jaehyun. Sungguh, ini bukanlah Kyungsoo yang Jaehyun kenal.
"Kau sepertinya sedang senang sekali?"
"Apa salah jika kau bersikap seperti ini?" pertanyaan Kyungsoo membuat Jaehyun menggeleng, pria itu melupakan sikap sensitive Kyungsoo.
"Tentu tidak bae, ayo kita kekantin sebentar" dan mereka bergandengan meninggalkan lorong itu, menyisakan Sehun yang sudah mengepalkan kedua tangannya.
Dalam sekejap pikiran buruk mulai mengalir di kepalanya. Ini tidak boleh terjadi, hubungan keduanya tidak boleh menjadi seperti ini, ia tidak ingin jika rencananya untuk lepas dari Luhan harus terhalang oleh pria itu.
.
.
.
.
.
"Hubungan kalian tampak menghangat beberapa hari ini, apa aku salah?" Kyungsoo menggeleng menanggapi ucapan Kai.
"Seharusnya aku memperlakukan dia seperti ini sejak dulu,"
"Dia pria pertamamu?"
Kyungsoo menggeleng, "Aku pernah berhubungan dengan seorang pria sebelumnya, dan sesuatu terjadi".
"Apa?" tanpa sadar Kai berubah antusias dengan cerita Kyungsoo.
"Teman sebangkuku merebutnya. Ah, bukan seperti itu, lebih tepatnya mereka bermain di belakangku" jelas Kyungsoo, seketika ice cream di hadapannya berubah membosankan.
"Mm, maaf. Sepertinya aku kembali membuka luka lamamu" Kai pun menyesali sikap antusiasnya.
"Tak apa, aku juga lelah jika harus memendamnya sendirian. Mungkin aku yang harus meminta maaf padamu karena setelah ini mungkin kau akan menjadi diary berjalanku," Kyungsoo cukup terkejut dengan ucapannya sendiri, tapi ya sudahlah.
"Aku tak merasa keberatan. Membantu meringankan beban seseorang itu sebuah kesenangan bagiku" walau nyatanya aku harus sedikit tak rela jika kau menceritakan pria lain' sambung Kai dalam hati, oh gadis ini benar-benar menarik hatinya.
"Aku berharap aku akan selamanya bersikap seperti ini pada Jaehyun," Kyungsoo menyuapkan satu sendok ice cream ke mulutnya "Karena aku takut perasaanku akan cepat memudar…"
"Yah, tak ada salahnya mencoba" Kai melanjutkan kegiatan menyantap ice creamnya.
.
.
.
.
.
Malam ini Kyungsoo disibukkan dengan sebuah tugas rumit yang deadline pengumpulannya adalah lusa. Kyungsoo tak biasanya terlambat dalam hal tugas menugas, namun beberapa hari ini ia sering pulang malam karena menemani Jaehyun latihan basket di sekolah.
"Sedang sibuk?" Luhan mendudukkan dirinya di sebelah Kyungsoo.
"Seperti yang kau lihat," jawab Kyungsoo sekenanya, tangannya masih berkutat dengan sebuah kertas penuh angka yang sudah tak bisa lagi dibaca.
"Algoritma benar-benar menyusahkan bukan?" tanya Luhan membuka sebuah pembicaraan.
"Hmm, terlalu rapi untuk ukuran pelajaran seperti matematika. Salah satu cara penyelesaian yang paling aku benci" jawab Kyungsoo. Ia berkali-kali menghapus kertas hitungannya.
"Kau bisa menanyakan itu pada Sehun ataupun Kai, mereka peraih nilai tertinggi untuk pelajaran matematika di kelas," ujar Luhan, gadis itu menyahut ponsel Kyungsoo yag terletak di meja belajar, "Aku akan mengirimkan nomor mereka padamu, hubungi saja mereka jika memang kau butuh bantuan"
Kyungsoo terdiam untuk beberapa waktu, lalu mengangguk. "Thank's" sahutnya singkat. Lalu kembali melanjutkan kegiatannya.
"Baiklah aku pergi, jangan tidur terlalu malam! Jaga kesehatanmu, aku menyayangimu" Luhan memberikan sebuah kecupan di pipi Kyungsoo. Kebiasaan yang ditularkan kedua orang tuanya kepada Luhan, tapi Kyungsoo jarang melakukan hal yang sama, ingatlah bahwa hubungan mereka tak sebaik saudara perempuan pada umumnya.
"Good night" bisik Kyungsoo lalu membalas kecupan Luhan, membuat gadis bermata rusa itu terdiam. Ini kecupan pertama Kyungsoo setelah hampir 2 bulan lamanya gadis itu menghiraukan keberadaannya.
"Mmm, night" dan Luhan segera berlari keluar. Ia tersenyum lebar disela-sela persiapan tidurnya. Berharap bahwa esok pagi ia bisa mendapat senyuman manis dari adiknya.
.
.
.
.
.
Harapan Luhan memang tercapai pagi ini, Kyungsoo menyapanya dan memberikan sebuah kecupan selamat pagi padanya. Kedua orang tua mereka sedikit terheran, tapi mereka senang jika ternyata Kyungsoo bisa sedikit hangat kembali kepada mereka.
"Baiklah, aku berangkat eomma, appa" tapi nyatanya Kyungsoo tetap menyelesaikan sarapannya lebih dulu.
"Berangkat bersamaku ya," tawar Luhan, tapi Kyungsoo menggeleng.
"Aku akan naik bus, lagi pula ini masih pagi, jadi jalanan tidak terlalu padat" jelas Kyungsoo. Luhan mengangguk sekilas dengan wajah yang sedikit menampakkan gurata kekecewaan.
"Semua butuh waktu Luhan. Appa rasa ia tak akan diam dengan segala perhatianmu kepadanya selama ini" Tn. Do mengusap sayang bahu mungil sang putri.
Hingga tak berselang lama, Luhan berangkat karena jemputan Sehun. Awalnya ia semangat saat menyapa Sehun dengan sebuah kecupan di pipi pria itu, tapi moodnya berubah karena tak menemukna sahabat prianya yang lain dalam mobil.
"Mana Kai?" pertanyaan ketus Luhan hanya dijawab geleng oleh Sehun.
"Kim Eommonie mengatakan dia sudah berangkat"
"Naik bis lagi? Ck, dia benar-benar sudah melupakan kita!"
"Lu, dia berhak menentukan apa yang ingin dia lakukan. Kita hanya sahabat, tak lebih dari itu…" ujar Sehun.
Luhan tak mempedulikan ucapan Sehun, ia segera enaiki mobil milik Sehun tanpa mempedulikan tatapan lelah Sehun. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, keadaan mobil Sehun sangat sunyi, Sehun tak masalah sebenarnya dengan hal itu, hanya saja Luhan tak biasanya menjadi sependiam ini.
"Mau mampir membeli susu?" tawar Sehun.
"Tidak," jawab Luhan singkat. Mata gadis itu masih tertuju pada jalanan familiar yang tak berjarak jauh dari sekolahnya, hingga pandangannya terarah kepada sepasang pelajar berseragam sama sepertinya yang sedang menyebrang jalan dengan tangan yang saling bertautan, ah lebihnya sang pria lah yang menggandeng sang gadis.
"Itu…" dan ucapan Luhan terhenti saat sepasang pelajar itu menoleh.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Sorry buat keleletan updatenya, dan yah jadinya cuma segini
Bakal diusahain next update ga selelet ini, dan tolong kasih kritik dan saran ya…
Entah kenapa semakin kesini menurutku aku semakin ga konsisten dengan karakter setiap masing2 (Keculai Kai sama Jaehyun si)
Dan entah kenapa aku merasa alurnya kembali melambat,
But, aku cuma bisa berharap kalo kalian puas dengan chap
Thak's for everything, and sorry kalo masih banyak typo
.
13.06.2017
12.07 AM
