Fieldtrip
Pairing: RomWoo, JunTK
Rating: T (bisa berubah)
Disclaimer: C-CLOWN belongs to Yedang Ent., their family, and God. Sunggyu belongs to Woolim Ent., his family, and God.
Warning(s): Typo(s), Sho-ai, OOC, AU, horrible storyline
note(s): ide murni dari otakku, kalau ada kesamaan jalan cerita, itu hanya kebetulan. Di sini, membernya ditulisnya pake nama asli, bukan stage name. Jadi Taemin sm Minwoo itu bukan Taemin SHINee atau Minwoo Boyfriend.
DLDR! NO BASH OR FLAME!
.
.
.
"Hei, Minwoo-ya?" Minwoo mendongak, melihat Barom yang menatap ke arahnya
"Ah, Barom. Waeyo?" Barom melirik ke arah Kangjun. Ia tengah membaca buku, kepalanya ia sandarkan di bahu Minwoo. Tangannya bertaut dengan tangan Minwoo. Jari-jari Barom mengepal erat, berusaha menahan amarahnya.
"Bisakah kita berbicara sebentar, berdua?" Barom menekankan kata terakhir. Kangjun melirik ke arah Barom sebelum kembali membaca.
"Kangjun, pergilah dulu." Kangjun mengangguk. Ia mengelus punggung tangan Minwoo, sebelum benar-benar pergi. "Kau ingin berbicara apa, Barom-ah."
Barom mendorong tengkuk Minwoo, lalu menciumnya. Hanya sebentar, beberapa detik lalu ia melepasnya.
"N-neo?! Mwohaneungeoya?!" Minwoo melap bibirnya dengan punggung tangannya. Kedua alisnya bertaut kesal. Wajahnya memerah, bukan karena malu, tapi kesal, marah, kecewa.
"Lee Minwoo, aku menyukaimu."
"Aku sudah tahu itu, babbo. Tapi kenapa kau menciumku?!"
"Aku kesal." Minwoo tersentak saat Barom memeluknya. "Aku kesal saat melihat Kangjun berada dekatmu."
"Lalu? Toh, kau kan hanya temanku?" Barom menempelkan dahinya dengan dahi Minwoo, mengunci pergelangan tangannya. Minwoo mengalihkan pandangannya, ke mana saja selain Barom.
"Aku menganggapmu lebih dari itu, dan orang lain pun bisa melihat itu dengan mudahnya. Kau saja yang menganggapku hanya teman. Aku menyukaimu." Barom melepaskan rengkuhan dan cengkramannya, berbalik meninggalkan Minwoo. Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh ke arah Minwoo. "Aku serius, pikirikan pernyataanku tadi."
"Aish, jinjjayo!"
.
.
.
.
"Baiklah! Untuk hari ini, kalian harus langsung tidur setelah makan malam! Besok kalian harus bangun pukul 6 pagi! Mengerti?!" teriak Sunggyu.
"Nde!"
"Sekarang, kalian boleh makan!" Murid-murid langsung bubar menuju kelompoknya masing-masing. Minwoo mendudukkan dirinya di balok kayu. Ia menghela nafas, bosan sekaligus bingung. Dagunya ia tumpukan di tangan kirinya. Tangannya kanannya mengaduk-aduk sepiring nasi kare di pangkuannya. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
"Hey, hyung."
"Jaejoon-ah." Jaejoon duduk bersandar pada balok kayu itu.
"Ada apa?" Minwoo masih melamun, membuatnya-tidak sengaja-menghiraukan Jaejoon. Jaejoon memutar bola matanya kesal. Minwoo baru tersadar saat Jaejoon menjentikkan jarinya di hadapan wajahnya.
"Ah, ada apa Jaejoon?" tanya Minwoo, menyunggingkan senyumannya. Jaejoon mempoutkan bibirnya lalu mencubit pinggang Minwoo, hampir membuat piring Minwoo terjatuh. Minwoo mendesis kesal. "Aish! Waeyo?!"
"Kenapa kau melamun dari tadi? Kare-mu juga hanya kau mainkan. Kalau tidak mau, berikan padaku." Minwoo menyodorkan piring itu, yang disambut senang oleh Jaejoon. Ia baru akan menyuapkan sesendok kare, saat Minwoo berbicara.
"Aku iri padamu, Jaejoon." ucapan Minwoo membuat Jaejoon memghentikan makannya. Ia terdiam sebentar, lalu kembali melanjutkan makannya.
"Waeyo?"
"Hidupmu normal-normal saja."
"Kau mengejek atau memuji?"
"Memuji. Kau tidak pernah mengalami masalah."
"Kau kenapa sih? Kepalamu terbentur?"
"Ani."
"Ahh~! Pasti Barom berbicara sesuatu padamu, kan?" Bingo. Minwoo menganggukkan kepalanya lesu. Jaejoon pergi sebentar, meminta tolong Jinyoung untuk mencucikan piringnya. Ia lalu duduk di samping Minwoo di balok kayu. "Dia berbicara apa? Apakah berhubungan dengan menyatakan perasaan lagi?"
"Eum, dia menyatakan perasaannya lagi."
"Lalu ? Kau kan sudah terbiasa?"
"Well, hanya saja kali ini dia bilang dia serius. Dia menyuruhku memikirkan pernyataannya, dan itulah yang sedari tadi kulakukan." Jaejoon menoleh ke Minwoo, terkejut.
"Kupikir selama ini kau menganggapnya serius."
"Ani, melihat sikap dan wajahnya-" Minwoo merinding mengingat ekspresi dan tatapan Barom yang seperti ingin 'memakannya' setiap saat. "-aku tidak pernah menganggapnya serius. Apalagi dulu dia itu cassanova kan?"
"Jinjja? Tapi kurasa semua orang dengan mudahnya bisa melihat kalau dia benar-benar menyukaimu. He's like an open book, you know?"
"Entahlah. Toh, sudut pandang setiap orang berbeda-beda." Minwoo menggelengkan kepalanya frustasi.
"Ok, masalah Barom sudah selesai. Sekarang, ada apa dengan Kangjun?" Jaejoon menyandarkan kepalanya di bahu Minwoo. Hey! Kepalanya pegal! Dan toh, Minwoo tidak mempermasalahkannya.
"Sama seperti Barom, dia menyatakan perasaannya dan meminta kesempatan kedua."
"Lalu? Apa masalahnya? Kau takut atau kau sudah tidak menyukainya?"
"Sebenarnya sih, lebih ke arah yang pertama. Aku masih sedikit menyukainya."
"Oh. Terserah kau saja, sih. But that guy really deserves a second chance."
"But he fucking left me, Jaejoon-ah! And he didn't even bother to say goodbye!"
"He was worry about his mother, Minwoo! It's not weird if he forgot to say goodbye!"
"Agh, sudahlah!" teriak Minwoo. "Let's not talk about this, 'kay? Aku tidak ingin fieldtrip kita hancur karena ini!"
"Siapa juga yang memulainya?"
"You're really an asshole, Jaejoon."
"Ya! 10 menit lagi, kalian sudah harus selesai makan!" teriak Sunggyu.
.
.
.
"Ah~ capek~" Taemin merebahkan dirinya di atas sleeping bagnya di tenda. Mereka memang tidur di tenda yang cukup besar, cukup untuk 2-3 orang. Dia dan Barom dengan sialnya satu tenda dengan Sunggyu. Beruntung Sunggyu sedang berpatroli mengecek tenda-tenda, mereka bisa tidur lebih telat.
Jujur, Taemin agak khawatir dengan Barom. Ia terlihat lebih diam. Sekarang saja, dia lebih memilih membaca ketimbang bermain kartu. Taemin merinding memikirkannya. Seorang Yu Barom tidak pernah bersahabat dengan yang namanya buku, pengecualian untuk komik. Taemin berdehem, membuat Barom menoleh ke arahnya.
"Hyung, kau tidak masuk angin kan?"
Barom menggeleng.
"Kepalamu terbentur?"
"Ani."
"Kau meminum obat?"
"Ani."
"Kau tadi salah makan sesuatu?"
"Aniyo~! Ada apa sih?!" gerutu Barom. Taemin menggeleng. Ia memejamkan matanya lalu memeluk bantalnya erat. Tubuhnya sudah tidak bisa diajak kompromi. "Taemin-ah?"
"Eum?" Taemin membuka kelopak mata kanannya, melirik Barom. "Waeyo?"
"Kita sekarang sudah kelas 12 ya?" Taemin mengangguk. "Kau ingat dulu saat kita pertama bertemu?"
"Ya. Kau waktu itu berumur 6 tahun, menangis karena sepedamu diambil oleh, eum, siapa yang membullymu waktu itu?"
"Youngjae hyung dan teman-temannya."
"Ah ya! Lalu aku yang juga 6 tahun dan tidak sengaja melewatimu, dengan sok bijaknya berkata 'Hey, kau cengeng. Laki-laki itu tidak ada yang menangis.', dan tidak kusangka kau menonjokku hingga tersungkur. Jujur, sampai sekarang itu masih sakit." Taemin mengelus pipi kanannya yang dulu pernah menjadi 'korban'. Barom menyengir tidak berdosa, jari-jarinya membuntuk huruf V.
"Dan akhirnya kita malah saling menghabisi satu sama lain, kan?" Taemin mengangguk, menanggapi pertanyaan Barom. "Beruntung eomma datang melerai."
"Yap."
Keadaan di tenda hening untuk sesaat. Sunggyu masih berpatroli, Taemin mencoba untuk tidur, Barom melanjutkan membaca meskipunyidak fokus.
"Taemin-ah."
"Nde?"
"Kau tahu, kadang aku berharap kalau aku menyukaimu, bukannya Minwoo."
"Wae? Kau kepikiran apa?"
"Kau sahabat masa kecilku, kita saling mengenal satu sama lain. Kurasa untuk mendapatkan hatimu, tidak akan sesusah ini, kan?" Barom tersenyum miris mengakhiri ucapannys. Taemin beranjak duduk dan menyentil dahi Barom keras. "A! Ya! Waeyo?!"
"Kau mau menyerah? Kau tidak merasa bahwa selama ini kau menyia-nyiakan waktumu jika kau menyerah? Bodoh, kau harus tetap positif. Bisa saja besok, atau 2 minggu lagi, atau tahun depan dia akan membalas perasaanmu. Toh, sekarang dia belum menjalin hubungan. Kau masih punya kesempatan untuk mendapatkannya-Hyung, jangan menyelaku." Taemin memotong kalimatnya, melihat Barom yang akan mengatakan sesuatu. "Kalaupun dia tidak mempunyai perasaan apa-apa, kenapa kau tidak bisa menggunakan caramu yang biasanya? Kau kan cass-ah, mantan cassanova. Seharusnya kau mengerti cara mendapatkan hati seseorang, kau kan sudah sering melakukannya. Barom yang kukenal memiliki 1001 cara untuk mendapatkan hati seseorang. Oke, intinya, jangan menyerah. Kalau kau menyerah, i swear i'll cut your balls." Barom sedikit merinding mendengar ancamannya. Ia tersenyum lega dan mengangguk. Taemin kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
"Jaljayo."
"Jaljayo."
TBC
Akhirnya selesai juga~! Asdfghjkl! Tapi kayaknya di chapter ini, Kangjun cuman muncul sekali... ah, sudahlah ._.
Sorry , kalau misalnya chapter ini jelek atau tidak memuaskan. Aku lagi badmood, bbku rusak padahal banyak banget ff buatanku di situ. Ada jeongseong,krisyeol, rayjun, baroxjinyoung, dan kayaknya masih banyak lagi... semuanya ilang.
RnR, annyeong!
