Previously . . .

"Mulai sekarang ini adalah rumah kalian!" ujar Namjoon.

"Jadi, darimana kau mendapatkan sampah-sampah kali ini?" tanya Yoongi angkuh yang membuat semua pasang mata mengarah padanya. Yoongi mengangkat sebelah alisnya. "Aku tidak tahu apa tujuanmu dengan membawa orang-orang ini kemari, tuan tanpa nama?" Namjoon menatap Yoongi datar. "Bahkan, jika kau memberikan tawaran padaku dengan mengatakan bebasnya diriku dari buronan polisi? It's bullshit! Siapa kau? Hingga bisa berbuat seperti itu?" umpat Yoongi meremeh tepat di depan wajah Namjoon.

Seketika atmosfer di rumah metal itu berubah. Berubah mendung, dan penuh petir. Kedua pemuda itu saling berpandangan tajam. Bahkan, jika Namjoon mau di sudah melayangkan satu revolver dan dua pistol yang ada di dalam sakunya tepat ke kepala pemuda angkuh itu. Tapi, tidak! Ia harus menahannya dan berpura-pura sanga membutuhkan bantuan mereka semua jika tidak misi yang diberikan padanya akan berakhir sia-sia.

Yoongi menyeringai dan memandang remeh kearah Namjoon. Namjoon mengepalkan kedua tangannya dan membalas tatapan Yoongi dengan tatapan tak kalah remehnya. Namjoon menyeringai.

"Bahkan kau? Lebih buruk dari seorang sampah, tuan Min Yoongi!"

"F*ck!" umpat Yoongi tanpa menunggu waktu lagi melayangkan bogemnya kearah wajah Namjoon. Dan dengan cekatan tangan Namjoon menahan kepalan tangan Yoongi tepat di depan pipinya. Namjoon menyeringai dan Yoongi mendesis. Ini akan menjadi awal yang luar biasa bagi mereka. Bukankah begitu?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi dan Namjoon saling bertatapan. Melempar tatapan tak suka satu sama lain dengan kepalan tangan Yoongi yang masih ditahan oleh tangan Namjoon. Namjoon menyeringai dan Yoongi semakin memenjara kedua mata Namjoon ke dalam tatapan tajam miliknya.

Sret!

Ckrek!

Namjoon mengambil revolver yang berada di saku mantelnya sekaligus menarik pelatuknya dengan tangan kirinya. Namjoon mengarahkan revolver itu tepat di kepala Yoongi yang entah kenapa tidak terlihat takut sedikitpun, justru dapat Namjoon lihat dengan jelas pemuda itu menyeringai.

"Kau tahu—aku adalah pria yang tidak takut mati!" ujar Yoongi. "Kau tidak akan berani membunuhku, jika kau membutuhkanku kan?" dan Namjoon seharusnya tahu jika Yoongi memang berakal licik. Ia tahu, bagaimana caranya mengalahkan lawannya hanya dengan kata-kata yang keluar dari mulut pedasnya.

Namjoon menyerah, ia tidak boleh terbawa emosi sekarang. Jika tidak, ia bisa kehilangan mereka semua pada saat ia belum memulai apa-apa. Itu terlalu memalukan.

Namjoon menurunkan senjatanya, baiklah ia menyerah sekarang. Dan, ia membiarkan Yoongi tersenyum menang kali ini. Tapi, ingatkan Namjoon nanti jika ini semua sudah selesai ia sendiri yang akan menjebloskan Yoongi ke dalam sel di bawah tanah sekalipun.

"Jadi, kenapa kami harus berada disini?" tanya Seokjin menengahi pertengkaran Namjoon dan Yoongi.

"Bahkan, kau sampai membawa anak dibawah umur kemari!" sahut Taehyung melirik sinis kearah Jungkook yang masih mengenakan seragam kumalnya.

"Aku bukan anak dibawah umur, brengsek!" umpat Jungkook tak terima. Taehyung mendecih.

"Bahkan, orang buta saja tahu jika anak yang masih memakai seragam sekolah adalah anak dibawah umur!" cibir Taehyung. Jungkook mengepalkan kedua tangannya geram.

"Tutup mulutmu jika kau tidak tahu apa-apa!" seru Jungkook seraya menunjuk Taehyung.

Namjoon yang melihat perdebatan kedua pun hanya bisa memijat pelipisnya lelah. Belum pertengkaran satu selesai disusul lagi pertengkaran yang lain.

"CUKUP!" bentak Namjoon yang akhirnya membuahkan hasil dan membuat mereka semua diam.

"Bisakah kalian bekerja sama?" pinta Namjoon tegas.

"Dan, untuk apa kita harus bekerja sama?" sahut Yoongi tajam. Namjoon menarik nafas, menahan diri untuk tidak memenggal kepala Yoongi sekarang juga.

"Karena kita memiliki musuh yang sama!" jawab Namjoon tenang.

"Musuh?" pekik Seokjin tak mengerti. "Aku bahkan tidak merasa jika aku memiliki musuh jadi kenapa harus repot-repot bekerja sama denganmu?" lanjut Seokjin. Namjoon tersudut. Jujur saja, ia merasa jika ia akan sial hari ini dan ia yakin kesialannya itu pasti berasal dari keenam orang yang berdiri di depannya. Oh tidak, Namjoon masih sangat mencintai pekerjaannya. Ia tidak mau dipecat saat ia menjadi salah satu orang yang dipromosikan oleh pembinanya. Come on Namjoon, gunakan otak jeniusmu untuk menghasut mereka. Kenapa rasanya susah sekali?

"Aku rasa kau hanya memperalat kami!" sambung Jimin. Namjoon mengepalkan tangannya, kenapa pemuda manis berpipi cubby itu harus mengatakan hal semacam itu? Baiklah, ini tidak semudah yang Namjoon bayangkan selama ini.

"Bukankah itu memang sudah jelas? Kau memberikan kami gold card, dan meminta kami untuk bergabung denganmu. Itu terdengar murahan! Jika kau punya musuh, hadapi musuhmu sendiri. Bukan repot-repot mengemis padaku atau pada siapa pun!" cibir Yoongi. Shit! Namjoon benar-benar ingin melenyapkan pemuda berwajah pucat dan datar itu. Namjoon berdecak. Baiklah, ia sudah kalah sebelum berperang.

"Aku tidak memaksa kalian. Tapi, percayalah aku tidak akan bernego pada kalian jika bukan hal yang saling menguntungkan. Kita disini hanya sebatas melakukan pekerjaan serambi memberantas musuh yang menjadi pengganggu. Bukan mendiamkan mereka atau hanya bersembunyi di got jalan seperti tikus menjijikkan!" sarkas Namjoon. Yoongi menyeringai.

"Kau salah berurusan denganku!" Yoongi melangkah maju mendekati Namjoon dan tertawa mengejek.

"Aku tidak berurusan denganmu—tapi, kau yang akan membutuhkanku!" balas Namjoon menyeringai. Yoongi memutar kedua bola matanya malas, ia menabrak bahu Namjoon untuk keluar dari tempat itu. Namun, kemudian ia menghentikan langkahnya tanpa berbalik badan.

"Bahkan, jika kau mempertaruhkan nyawamu untukku. Aku tidak akan pernah mau bekerja sama denganmu!" ujar Yoongi sombong, ia melengos pergi begitu saja dan beberapa menit kemudian, Hoseok yang sedari tadi diam ikut pergi mengekori temannya.

Namjoon berdecak. Ia menatap empat orang yang tersisa.

"Aku bekerja dengan diriku sendiri dan tidak terikat dengan orang lain. Yah, jujur saja meskipun aku berhutang padamu. Tapi, aku rasa kau melakukannya hanya karena kau membutuhkanku, kan? Maaf, bung! Jika kau menyuruhku untuk membunuh seseorang, aku bisa melakukannya untukmu. Tak perlu berbasa-basi untuk meminta bekerja sama karena aku bisa meringkus musuhku dengan tanganku sendiri!" ujar Taehyung, ia menyambar jaket hitamnya dan menjadi orang ketiga yang pergi menolak bergabung dengan Namjoon.

"Pergilah jika kalian tidak ingin disini!" seru Namjoon frustasi pada tiga orang di depannya. Seokjin berdecak tak suka.

"Fine! Jangan pernah mencari kami!" seru Seokjin kesal karena merasa dimainkan dan membuang waktu. Ia menarik Jimin kasar yang entah kenapa dari tatapannya seperti ia ingin tinggal di rumah asing itu.

Namjoon menatap Jungkook yang satu-satunya orang tersisa dan tak bergeming dari tempatnya.

"Kenapa kau tidak pergi?" tanya Namjoon jengah. Jungkook terdiam dan memasang wajah datarnya.

"Jadi mana kamarku?" tanya Jungkook.

"Huh?" pekik Namjoon tak percaya. Jungkook menatap Namjoon sayu.

"Aku dikeluarkan dari sekolah dan diusir dari rumah. Aku tidak mungkin kembali ke toilet umum kan? Aku juga tidak peduli soal pekerjaan yang akan kau berikan padaku. Aku akan melakukannya asalkan kau mau menghidupiku disini!" pinta Jungkook simple. Namjoon tersenyum senang.

"Tentu saja, jika kau ingin sesuatu katakan saja padaku!" Namjoon menyetujui. Jungkook tersenyum kecil.

"Tentu, dan aku ingin baju baru satu lemari. Aku tidak mungkin memakai seragam ini sampai aku mati kan?" pinta Jungkook tanpa basa-basi lagi. "Dan aku tidak membutuhkan ini!" Jungkook mengembalikan gold card yang ia pegang kepada Namjoon. Namjoon menerimanya tanpa banyak bertanya. "Aku lebih memilih kau memberikanku uang bulanan dibandingkan memberiku hal semacam itu!"

"Bagaimana dengan credit card?" tawar Namjoon. Jungkook mengulum senyum.

"Call!" setuju Jungkook dan ia memasuki salah satu pintu dari tujuh kamar yang berjejer. Namjoon mendesah lega. Akuilah dia gila saat ini, tapi ia yakin bocah Jeon itu pasti berguna untuk kembali mengajak kelima orang yang memilih untuk pergi dari pada tinggal. Dan, salahkan dirinya yang terlalu bodoh karena belum menyiapkan sesuatu yang menguntungkan mereka dan dengan mudahnya mengajak mereka bergabung yang tentu saja akan langsung mereka tolak mentah-mentah.

:: :: ::

:: :: ::

BRAK!

"Well, well, well—lihatlah siapa yang datang?" sambut seorang pria berjas abu-abu menyeringai saat menatap sosok Taehyung masuk dan hampir menghancurkan pintu ruang kerjanya. Taehyung melangkah masuk diikuti beberapa bodyguard yang sedari tadi mencoba untuk menghalangi dirinya.

"Brengsek! Apa maksudmu mengirim orangmu untuk membunuhku?!" geram Taehyung murka. Pria itu menyeringai.

"Just simple, V! Aku takut jika kau membangkang! Dan, juga—aku tidak mungkin berniat untuk membunuhmu. Aku hanya—sedikit menggertakmu, anakku~" remehnya. Taehyung menggeram marah.

"Cih! Aku tidak akan lari bajingan! Dan, berhenti menyebut diriku sebagai anakmu! Kau hanyalah orang tua yang kebetulan menyelamatkan diriku! Tidak! Lebih tepatnya, memperdaya diriku!" tuding Taehyung, kesabarannya sudah benar-benar habis.

"Woah, kau benar-benar sudah dewasa sekarang! Aku salut padamu, V-ssi! Tapi, tidakkah kau tahu? Terlalu berbahaya untuk bermain-main denganku," pria itu menyeringai dan menatap Taehyung rendah. "Where's your parents, V? Dimana mereka?" Taehyung mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.

"Jika kau merasa kau adalah bahaya bagiku, kau salah bajingan! Karena akulah yang membahayakan hidupmu!" ancam Taehyung menyeringai. Pria itu menatap Taehyung dengan kedua mata seramnya, kemudian mengisyaratkan mata kepada bodyguard yang berdiri di belakang Taehyung untuk berjaga.

"Ringkus dia!" titahnya. Taehyung yang mendengarnya pun segera berbalik badan dan melihat empat bodyguard pria paruh baya yang siap kapan saja menyerangnya.

Bugh!

Taehyung kalap, saat dua pria berbadan kekar itu melayangkan pukulan padanya secara bersamaan. Taehyung jatuh dari tempatnya dan seketika, dua pria lain yang tidak memukul Taehyung mendekati Taehyung yang terkapar. Salah satu pria itu mencekeram kerah Taehyung agar Taehyung berdiri.

"Kau tidak akan menang dariku, V Kim!" seringai pria paruh baya itu merasa menang saat melihat Taehyung dengan kesadaran samar.

BUGH!

Taehyung terjatuh pingsan saat pria satunya memukul tengkuknya keras. Taehyung tersungkur, dan membuat pria itu lebih menyeringai menyeramkan.

"Ikat dia dan jangan sampai dia kabur lagi dariku, dan jika aku mendapatinya di luar sana berkeliaran—kalian berempat yang akan menggantikannya. MENGERTI?!" titah pria itu. keempat bodyguardnya mengangguk menurut.

"Kami mengerti tuan—Choi Seunghyun." Sahut keempatnya serempak. Pria yang bernama Seunghyun itu menyeringai puas dan yakin jika ia tidak akan kehilangan orang cerdas seperti Taehyung, salah satunya.

.

.

.

.

.

Byur!

Taehyung tersadar secara paksa saat ia merasakan guyuran air mengenai wajah tampannya. Ia melenguh dan mencoba untuk mengembalikan kesadarannya. Taehyung mendongak hanya untuk memastikan dimana dirinya saat ini.

"Sudah bangun pembangkang?" tanya sebuah suara yang menjadi pelaku pengguyuran Taehyung. Taehyung menyeringai.

"Pengecut! Lepaskan aku dan lawan aku jika kalian berani!" seru Taehyung meronta pada kedua tangannya yang diikat keatas menggantung pada tiang di sebuah gudang yang ia tahu siapa pemiliknya.

"Calm down, V! Kau bisa melukai tanganmu yang berharga itu," sahut pria lain meremeh. Taehyung mendecih dan menatap pria itu murka.

"Brengsek!" umpat Taehyung tak tahan. Keempat pria itu tertawa keras mendengar umpatan Taehyung hingga seorang pria melangkah dan berjongkok dihadapannya.

"Apakah kau tahu—siapa orang tua kandungmu, V?" tanyanya. Taehyung hanya berekspresi datar tanpa minat.

"Apakah kau tahu, jika kau sebenarnya adalah anak konglomerat?" tanyanya lagi. Taehyung mengangkat sebelah alisnya tertarik.

"Apa maksudmu?" Taehyung balik bertanya. Pria itu menyeringai mengetahui bahwa ia berhasil memancing Taehyung.

"Apa kau tahu, jika kau memiliki seorang adik?"

"Mwo?" pekik Taehyung tak percaya.

"Sayang sekali, kau dan adikmu memiliki kisah hidup yang berbeda. Yang satunya hidup tentram bersama kedua orang tuanya dengan segala kemegahan. Tapi, anaknya yang lain? Justru menjadi seorang pembunuh bayaran hanya untuk mencari uang. Menyedihkan sekali!" remehnya. Taehyung menggeram.

"Brengsek! Jangan berbasi-basi denganku, bajingan!" seru Taehyung ia kembali meronta pada kedua tangannya yang terikat. Pria itu menyeringai.

"Kau dibuang Tae! Kau seharusnya tahu itu dan sudah sepantasnya kau merasa berhutang budi pada bos kami!" lanjutnya. Taehyung mendecih.

"Aku lebih baik mati daripada harus menjadi budak pria brengsek sepertinya!" balas Taehyung menolak. Pria yang masih berjongkok di depan Taehyung tersenyum miring.

"Ingatlah perkataanku, V-ssi! Kau tidak ada tempat meskipun kau bertemu dengan keluargamu sekalipun—karena disinilah tempatmu. Disinilah takdirmu—Kim Taehyung!" ujar pria itu berdiri dari posisinya dan berniat untuk meninggalkan Taehyung sebelum ia kembali menoleh dan menatap Taehyung yang menunduk. "Jangan harap kau bisa lepas dan keluar dari kami. Karena anjing, tidak pernah lepas dari majikannya!" dan setelahnya pria itu benar-benar pergi meninggalkan Taehyung seorang diri.

Taehyung semakin mununduk. Pikirannya melayang pada ucapan pria itu beberapa menit yang lalu mengenai keluarganya yang tak pernah ia temui bahkan tak pernah ia kenal sebelumnya. Tanpa sadar, air mata Taehyung menetes sejujurnya ia memang tidak pernah mencari tahu mengenai keluarganya semenjak neneknya meninggal. Jujur, ia tidak tertarik dan tidak ingin tahu. Tapi, entah kenapa setelah mendengar pernyataan yang entah fakta atau kebohongan belaka membuat Taehyung benar-benar ingin mencari tahu mengenai keluarganya, mengenai jati dirinya, bahkan mengenai masa kecilnya.

Namun, sedetik kemudian pikiran Taehyung kembali teringat pada Namjoon satu bulan yang lalu, yang menawarkan dirinya untuk bergabung. Ia tidak tahu apa tujuan Namjoon sebenarnya, karena ia tidak pernah bertanya. Tapi, ia rasa akan cukup membantu dirinya untuk menyelesaikan masalahnya serta lepas dari jerat iblis yang terus saja mengejar dirinya dan memaksanya.

:: :: ::

:: :: ::

"Mwo?!" pekik Yoongi menoleh kearah orang kepercayaannya yang tengah melaporkan mengenai perkembangan perusahaannya. Yoongi yang tengah duduk santai di sofa rumah mewahnya dengan dua orang gadis yang berada di kanan-kirinya memandang tak percaya pada orang kepercayaannya yang baru saja mengatakan hal konyol menurutnya. Yoongi mengisyaratkan tangan pada kedua gadis itu pergi karena ia ingin berbicara empat mata dengan orang kepercayaannya itu. Kedua gadis itu pun tanpa penolakan segera pergi dan kini menghampiri Hoseok yang tengah menikmati soju-nya di meja makan di rumah makan Yoongi seraya mematai setiap sikap yang Yoongi lakukan setiap detiknya.

"Maafkan saya sajangnim." lirih orang kepercayaan Yoongi, Shim Changmin. Yoongi mendengus.

"Sudah berapa lama aku tidak mengurus kantor?" tanya Yoongi akhirnya setelah sedari tadi hanya diam dan hanya mendengar Changmin bicara hingga selesai.

"Sudah hampir sembilan bulan anda tidak pernah kembali ke kantor, sajangnim!" jawab Changmin tegas. Yoongi mendengus untuk yang kedua kalinya.

"Dan, kenapa kau membiarkan hal ini terjadi? Aku mempercayakan perusahaanku padamu dan ini yang aku dapat selama sembilan bulan? Kau tahu bukan, perusahaanku tidak hanya di Korea?" tanya Yoongi murka. Mungkin, Yoongi benar jika ia tidak hanya memiliki perusahaan di Korea bahkan di beberapa negara bagian Asia. Tapi, sejujurnya Yoongi jarang sekali turun tangan untuk mengurus perusahaannya yang tersebar di berbagai negara jika tidak ada masalah yang membuat perusahaannya merugi.

"Maafkan saya sajangnim. Saya tahu, saya telah lalai selama beberapa bulan terakhir hingga tidak mengetahui angka pasok perusahaan yang menyurut tiba-tiba." Changmin menunduk sopan dan tak berani untuk melakukan kontak mata dengan atasannya. Yoongi berdecak.

"Aku akan ke kantor hari ini. Batalkan semua rapat dan katakan pada semua karyawan untuk menyerahkan laporan kerja mereka selama sembilan bulan. Dan juga—katakan pada manajer keuangan untuk memberikan laporan keuangannya lengkap kepadaku selama sembilan bulan ini, entah pengeluaran ataupun pemasukan. Mengerti?!" titah Yoongi. Changmin mengangguk paham.

"Nde sajangnim!"

"Pergilah, aku akan datang dalam waktu satu lagi. Jika semua laporan yang kuminta belum sampai di meja kerjaku. Kau tahu bukan, apa akibatnya nanti?" Yoongi mengingatkan dan Changmin kembali mengangguk.

"Nde sajangnim. Kalau begitu saya permisi!" pamit Changmin dan segera bergegas pergi dari kediaman atasannya yang layaknya istana itu.

Hoseok yang melihat Changmin pergi pun, segera berdiri dan berjalan menghampiri Yoongi, mengabaikan dua gadis yang sedari tadi mencoba untuk mendapatkan perhatiannya.

"Ikutlah nanti. Aku membutuhkan bantuanmu!" pinta Yoongi tepat saat Hoseok yang baru saja berdiri di depannya dan belum berniat membuka mulutnya tapi Yoongi sudah mengetahui kehadirannya meskipun kedua matanya tertutup erat.

"Hm, aku mengerti!" balas Hoseok sekenanya. Ia beralih duduk di sofa tunggal yang berada di seberang Yoongi. Yoongi membuka matanya dan menatap Hoseok yang terlihat pucat.

"Waeyo? Apa ada yang mengganggu pikiranmu? Aku lihat akhir-akhir ini kau sedikit pendiam!" tanya Yoongi heran. Hoseok terdiam. Yoongi memang sangat peka jika menyangkut orang-orang terdekatnya.

"Ani. Aku tidak memikirkan apa-apa!" jawab Hoseok malas. Yoongi menghela nafas.

"Ayolah~apa kau berniat untuk menyembunyikan sesuatu dariku?" jengah Yoongi. Hoseok kembali terdiam.

"Hyung!" panggil Hoseok akhirnya. Yoongi hanya membalas dengan tatapan mata sayunya. "Bagaimana jika aku mengatakan aku ingin bergabung dengan lelaki itu?" tanya Hoseok tiba-tiba.

"Mwo?" pekik Yoongi terkejut. "Lelaki siapa maksudmu?" tanya Yoongi sinis.

"Lelaki yang mengajak kita ke markasnya!" jawah Hoseok ragu sekaligus takut memancing amarah Yoongi.

"Apa kau berniat untuk meninggalkanku?!" seru Yoongi tak menyangka.

"Bukan begitu hyung! Kau tahu? Banyak sekali yang ingin menghancurkanmu, dan aku rasa kita membutuhkan bantuannya. Apa kau tahu, apa saja yang berada di dalam markasnya itu? Setiap spesifikasi komputernya adalah spesifikasi keluaran terbaru yang baru ada di Inggris tapi ia sudah memilikinya. Apalagi, paket lengkap senjatanya yang tertata di rak markasnya. Itu tidak main-main hyung!" terang Hoseok.

"Jadi, kau dibutakan hanya karena peralatan yang dimilikinya?" tanya Yoongi tak percaya. Hoseok menghela nafas sabar.

"Tidak hyung! Bukan begitu, dengar—"

"Pergilah! Aku tidak membutuhkanmu!" potong Yoongi. Emosinya sudah membludak sedari kedatangan Changmin yang melaporkan kondisi buruk mengenai perusahaannya.

"Hyung, kau salah paham maksudku bukan—"

"Sudah satu bulan kau tidak pernah membicarakan hal itu dan sekarang? Kau bahkan ingin bergabung dengan mereka? Daebak! Apa kau berniat untuk mengkhianatiku?!" tanya Yoongi kembali memotong penjelasan Hoseok.

"Hyung, aku belum selesai bicara kenapa kau selalu memotongnya?" seru Hoseok tak sabar karena Yoongi baru saja menyebutnya pengkhianat.

"Pergilah! Aku tidak ingin melihatmu disini!" usir Yoongi malas berdebat dengan Hoseok.

"Hyung, kau salah paham!" seru Hoseok mencoba untuk meluruskan namun terlambat saat Yoongi memanggil bodyguardnya untuk menyeret Hoseok dari kediamannya. Hoseok berontak namun sayang ia juga tidak bisa berbuat apa-apa saat kedua bodyguard itu menarik kedua tangannya.

"Kau membuat kesalahan Jung Hoseok! Kau membuat kesalahan dengan membuatku marah hari ini. Dan jangan harap setelah ini kau mendapat kemurahan hatiku karena kau—telah berani membandingkanku dengan orang asing lainnya!" sinis Yoongi membuat Hoseok sadar, sebaik-baiknya Min Yoongi tetaplah seorang Min Yoongi yang arogan dan tidak akan segan untuk menyingkirkan siapapun yang membuatnya merasa bahwa ia bukan orang unggul teratas segalanya. Min Yoongi yang sempurna, Min Yoongi yang tersohor, dan Min Yoongi yang kaya.

"Kau tidak bisa sendiri hyung! Kau akan mencariku dan membutuhkan bantuanku, bahkan meskipun kau sudah menyewa orang untuk menggarap masalahmu tapi kau tetap akan berfikir untuk mencariku. Ingat itu hyung!" seru Hoseok saat ia sudah sampai di teras rumah megah Yoongi. "Dan, asal kau tahu hyung, aku tidak akan pergi jika kau tidak akan pergi. Dan—jangan coba-coba menyebutku sebagai pengkhianat, tuan Min yang terhormat!" lanjut Hoseok membuat sebersit rasa bersalah di hati Yoongi karena telah mengusir Hoseok dan berfikiran yang tidak-tidak mengenai pemuda yang sebelumnya banyak membantunya. Tapi Yoongi tetaplah Yoongi yang dengan segala rasa egonya yang besar hanya untuk mengejar Hoseok dan meminta maaf padanya. Ia bersumpah, tidak akan melakukan hal yang membuat harga dirinya jatuh dihadapan orang lain meskipun ia tahu, ia sudah salah dalam bertindak.

.

.

.

.

.

"Apa kau sudah mengumpulkan laporanmu?" tanya salah seorang karyawan pada rekan kerjanya.

"Ya, dan kantor sudah seperti restoran karena banyak pelanggan yang meminta pesanannya untuk segera datang!" cibir rekan kerjanya yang diangguki oleh karyawan pertama yang bertanya padanya.

"Min sajangnim, selalu datang di waktu yang tidak tepat!"

"Kau ingat bukan, dia datang hanya jika perusahaan mengalami masalah? Melihat apa yang dia minta sekarang, aku yakin pasti ada masalah penting yang mengharusknya untuk turun tangan!"

"Ya, dan aku selalu benci jika dia mulai kembali ke kantornya!"

"Yak! Dia pemilik perusahaan ini jika kau lupa!"

"Aku selalu ingat, dan sialnya aku sudah terlanjur nyaman bekerja disini!"

Tinggalkan kedua karyawan yang sibuk menggosipkan atasan mereka, karena saat ini semua karyawan harus dikejutkan dengan kedatangan sajangnim mereka yang rupanya datang lima belas menit lebih awal.

"Kau bilang, Min sajangnim datang pukul 3 sore, ini bahkan belum jam 3!" bisik sekretaris Yoongi pada Changmin.

"Aku juga tidak tahu, jika masalah ini akan membuatnya datang lebih awal!" jawab Changmin tidak begitu peduli karena semua pekerjaannya selesai tepat waktu.

Semua karyawan membungkukkan tubuh mereka saat Yoongi berjalan melewati mereka menuju ke ruangannya hingga ia menghentikan langkahnya tepat di depan Changmin dan sekretarisnya.

"Apa semua laporan yang kuminta sudah ada di mejaku?" tanya Yoongi. Changmin mengangguk ringan. "Panggil manajer keuangan. Aku ingin kau dan manajer keuangan itu segera masuk ke ruanganku dalam waktu sepulu menit, mengerti?!" titah Yoongi. Changmin mengangguk menurut dan menundukkan kepalanya saat Yoongi berjalan melewatinya menuju ke ruang kerjanya.

Yoongi segera meraih satu persatu berkas yang menumpuk di meja kerjanya setelah ia memasuki ruangannya. Membacanya dengan teliti dan tidak akan membiarkan satu tulisan pun terlewat.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk!" titah Yoongi meskipun kedua matanya tak pernah lepas dari berkas-berkas di depannya. "Kalian terlambat satu menit!" ujar Yoongi perhitungan. Changmin, dan sang manajer keuangan pun hanya menunduk menyesal dan tak berniat untuk menjelaskan alasan keterlambatan mereka karena mereka tahu bagi Min Yoongi sebuah alasan adalah angin lalu belaka. Changmin dan Donghae—manajer keuangan—berjalan mendekati meja Yoongi dan berdiri tepat di depan pemuda berwajah dingin itu.

Yoongi melepaskan pandangannya dari berkas-berkas menyebalkan itu dan menatap Changmin dan Donghae bergantian.

"Jelaskan mengenai laporan yang kau buat dan laporan yang aku terima!" titah Yoongi tanpa berbasa-basi. Donghae yang merasa bahwa Yoongi tengah bertanya padanya, segera menarik nafas sebelum menjelaskan panjang lebar pada atasannya itu.

"Maaf sajangnim, aku tidak tahu jika laporan dari divisi keuangan dan gudang bisa berbeda. Manajer mereka memberikan laporan yang sesuai dengan pemasokan selama enam bulan yang lalu. Namun, kemudian aku tidak tahu jika bulan selanjutnya mereka memalsukannya!" jawab Donghae.

"Dan, bisa kau jelaskan divisi kepegawaian? Kenapa aku sampai tidak tahu jika ada beberapa karyawan yang tidak digaji sementara beberapa lagi menerima gaji yang tinggi?! Bukankah, kau yang bertugas untuk membayar gaji mereka?"

"Maaf sajangnim, karyawan yang tidak mendapat gaji adalah karyawan yang beberapa bulan mengajukan hutang kepada perusahaan. Sedangkan, beberapa lagi yang menerima kenaikan gaji adalah karyawan yang mendapat promosi!" jawab Dongahe mencoba untuk terlihat setenang mungkin. Yoongi memijat pelipisnya pening.

"Aku tidak buta untuk membedakan mana laporan asli dan laporan palsu. Katakan, apa kau yang membuat semua laporan sialan ini? Bahkan, nominal yang tertera pada pengeluaran dan pemasukan perusahaan bisa jauh berbeda dan mengalami banyak kerugian. Bahkan, setelah aku hitung jumlahnya tidak sama dengan rekening perusahaan!" bentak Yoongi kacau.

"Nde sajangnim, maafkan saya. Bukan saya yang membuat laporan itu selama enam bulan terakhir. Saya ditugaskan untuk mengurus proyek baru di Busan, jadi assmen saya yang mengerjakannya!" jawab Donghae. Yoongi memincingkan matanya.

"Siapa assistenmu?" tanya Yoongi.

"Kim Wonshik, sajangnim."

"Panggil dia kemari!" titah Yoongi cepat tanpa mau dibantah.

TBC