Chapter 4 update!
I don't own NARUTO, but Masashi Kishimoto does. I just borrow it!
R'n R
Gak suka? Jangan baca! No FLAME please! But movement critic accept
HIMITSU MEZU PRESENT:
.
.
.
A Naruto fanfiction
~ONE OCTAVE ~
Disclaimare: Masashi Kishimoto.
Main Pairing: NaruHina.
Genre: Romance, Friendship, and..adventure inside.
Rated: T
Warning: OOC, gaje, abal, typo, judul gak begitu nyambung, juga ada OC dan crack pairing untuk keperluan cerita.
Chapter : 4 (Perjuangan Budug)
Normal POV
'Hmm..para jenius memang selalu bisa lebih unggul!' batin Kakashi saat melihat tim 'Budug' datang mendekat kearahnya. Sekarang, guru Konoha Kotogakko yang berambut perak dan bermasker itu tengah berdiri di depan gerbang masuk Suna.
Ya, tujuannya untuk mengawasi dan mendata setiap tim yang akan menjalankan tugasnya. Tugas sekolah yang ekstra luar biasa tentunya.
Pos satu, gerbang Suna. Itulah teritori Kakashi dalam tugasnya saat ini. Setiap guru memang sudah ditempatkan masing-masing di pos mereka yang tersebar di gurun ini.
Tim Budug serempak menghentikan langkahnya saat melihat Kakashi. Pastinya mereka paham akan sesuatu yang sudah lazim seperti saat ini tanpa dikomandoi sang ketua. Yah, sejak SD mereka sudah tahu jenis dan konsep 'permainan' seperti ini.
"Ah, Kakashi-sensei pasti ̶ " baru saja Naruto angkat bicara, Kakashi sudah memotongnya.
"Ya...benar. aku salut pada kemampuan kalian menebak teka-teki rumit ini."
"Kujelaskan singkat saja karena sepertinya kalian sudah paham, di gurun ini kalian akan menjalankan perintah sesuai yang kalian tebak di lembaran soal itu. Tapi ada tambahan clue dariku." Tambah Kakashi.
"Apa itu?" tanya Sakura.
"Hm.. kalian harus BENAR-BENAR mengikuti semua petunjuk yang telah dipecahkan. Bila tidak...yah, lebih buruk dari kegagalan. Selanjutnya, ada di peta ini," terang Kakashi sambil menyerahkan sebuah gulungan kuno pada Shikamaru. Shikamaru mengangguk mantap.
"Baiklah, selamat berpetualang di gurun Tottori terluas dan satu-satunya di Jepang!" ujar Kakashi dengan senyum misteriusnya.
"Ohya, bekerja sama lah!" lanjutnya.
HINATA'S POV
Aneh...Ya. Semuanya benar-benar aneh! Sampai suasana pun jadi aneh begini. Kenapa tiba-tiba, Naruto terus ada disampingku? Padahal sejak tadi Himawari yang ada disampingku~ Mendekat, pula! aaah.. aku 'kan jadi malu...
Lihat! Apa maksud tatapan mereka? Menjengkelkan sekali! Kenapa mereka yang semula berkerumun untuk melihat peta malah berbalik melihatku dan Naruto?
"Ehm!"
"Chin..ta lokasi!"
Apa itu? Pakai nada batuk?
"Ekkhmm.."
"Ohommm"
"Hehemmm"
"Okhok-okhok!"
"Okhemm.."
"Ekhem..Ekhem.."
"Ekhm..hkk..hemm..ekhkk, hokk..khokk..KHEMM KHOAKKK!"
Lama-lama aku sweatdrop. Malah pada batuk betulan. Rasain. Haahh..dasar teman- teman...
Sedetik kemudian, saat aku menoleh kearah Naruto, kudapati reaksinya kesal. Ia menyipitkan matanya dan bibir bawahnya manyun. Lalu bicara seakan bodoh, walau ia memang bodoh kata sebagian besar kelas.
"Maksudnya apa heeehh? Batuk-batuk, kaya kakek-kakek aja! Udah cepetan liat petanya!"
Aku bersyukur karena Naruto bisa membuang sedikit rasa malu ku. Hyuuh..sankyuu Naruto.
Rupanya teman-teman sadar batuk-batuk mengejeknya sudah kelewat err.. lebay, sekarang mereka sudah berhenti mengejekku dan kembali serius. Walau kudengar Kiba bersiul pelan, tapi semua mengabaikannya. Aku meliriknya sejenak dengan ujung mataku, matanya terlihat sendu dan agak sinis. Nada siulannya juga terdengar sinis. Ah, apa itu hanya perasaanku saja? Jujur, aku merasa tidak enak dengan ini.
Shikamaru membuka petanya. Semua berkumpul membentuk lingkaran. Petanya kuno.. ada gambar-gambar. Sepertinya itu ilustasi tempat atau pos-pos. Seperti petanya Dora. Hahaha.
Ah, itu...gambar peti harta karun di ujung itu! Seperti dugaan kami, tujuan akhirnya memang untuk mendapatkan harta karun. Tapi..tidak ada tulisan selain nama-nama tempat yang digambar disini: Titik Berdiri, Gunung Pasir, Labirin Pasangan, Oasis Abadi.
"Yang jelas, kita sekarang berada di titik berdiri." Ujar Sasuke yang tiba-tiba disambar ucapan Himawari.
"Membingungkan! Uuuh... aku benci disini! Ingin cepat-cepat ke Tokyo!" keluh Himawari sambil menggerak-gerakkan tangannya frustasi.
Tiba-tiba Naruto menepis tangannya. Sontak Hima mengamuk.
"Heh, bisa gak sih diam! Shikamaru lagi mikir tuh! Asal kau tahu, pemikiran dia tuh penting buat nasib Budug!" kata Naruto, tak disangka-sangka ia bicara begitu. Nadanya seakan anti pada anak-kelas-lain, Himawari.
Sebenarnya aku ingin melerai, tapi sepertinya percuma karena aku tahu Hima, dan semua tahu Naruto seperti apa jika dalam fighting mode.
Sejenak aku menghela napas, Hima baru saja akan meledak. Kalu tidak terpotong ucapan Shikamaru. "Ini tidak terlalu sulit, kita hanya perlu mengikuti peta merepotkan ini, lalu sampai."
"Bodoh, gurun ini 'kan luas! Tidak ada jalannya pula! Bagaimana bisa menemukan tempat-tempatnya?" Temari berorasi pada TTM nya itu. Yah, setidaknya aku berpikir begitu.
"Heh.." gumam Shikamaru.
"Di peta ada jalan yang berkelok-kelok. Namun, di kenyataan hanya terhampar padang pasir, Walau begitu, mudah bagi kita untuk mengetahui jalannya. Karena ada ini, yang sepertinya tidak disadari..." Neji-nii menyambung penjelasan.
Tenten yang sedari tadi mengintil Neji-nii, ikut melanjutkan. Aku melihat gambar bebatuan dan pohon kelapa yang ditunjuk Neji-nii, ah..Tenten juga menunjuknya! Wajah Tenten memerah saat jari mereka bersentuhan. Hahaha...mereka makin dekat saja. Jangan-jangan teman sebangkuku itu nantinya akan jadi kakak iparku! Haah, lucu membayangkannya!
Gambar bebatuan kecil dan pohon kelapa itu terletak di tiap tikungan jalan. Aku tersentak, tersadar.
"...kita hanya perlu mencocokkan arah pada peta, dan berbelok setiap ada bebatuan dan pohon kelapa," Nii-san mengakhiri penjelasannya.
"Nii-san benar, itulah petunjuk batas jalannya," kataku.
"Baiklaaah...ayo jalaaan!" seru Naruto bersemangat. Haaah...dia memang selalu bersemangat.
Kami ̶ err...Tim Budug pun kembali berjalan. Memulai petualangan kami. Panasnya cuaca gurun kami hadapi, langkah demi langkah meninggalkan jejak-jejak kaki di atas hamparan pasir yang luas. Yah, aku tahu gurun pasir di Jepang ini tentu tidak seluas dan 'separah' gurun-gurun pasir di Mesir sana. Tapi...Ya Tuhan, tempat ini menyiksa sekali! Untung saja kami membawa peralatan lengkap beserta minuman yang banyak.
Kami sampai di Gunug pasir yang sangat besar. Hm.. jelas saja kami berhasil sampai. Karena kami telah mengikuti semua tatacara dari soal bagian kedua itu. Kecuali poin terakhir tentunya. Menemukan petunjuk, lalu melakukan 3T kurasa sudah. Gambar bebatuan yang menunjukan jalan-lah petunjuknya. Lalu...walaupun sejak tadi tidak terlihat tim lain ataupun bahaya, kami sudah waspada. Ya, cukup.
Tidak mudah mendaki gunung ini. Sampai di atas, kami melihat beberapa kelompok lain mulai bergerak. Hah, semoga saja mereka tidak melihat kami! Bisa-bisa jejak kami diikuti. Langsung saja kami cepat-cepat turun. Di bawah gunung, saat Naruto berpijak, pijakannya ambles. Ia berteriak panik. Sasuke mengejeknya cengeng. Keributan pun terjadi.
Tapi bukan itu yang menjadi perhatianku. Aku heran memandangi padang pasir di dekat kami berpijak, atau lebih tepatnya di depan tempat Naruto berpijak tadi. Pasir-pasirnya seakan tersapu angin. Membentuk ruas jalan.
Baru saja aku akan membuka mulut akan hal ini, lagi-lagi ada yang memotongku. "Hey, Naruto! Coba hentakkan kakimu lagi!"
Sepertinya ketua Budug berambut nanas itu berpikiran sama denganku.
Dengan ragu dan ekspresi takut, Naruto menghentakkan kakinya perlahan. Sambil memberikan Shikamaru tatapan 'Kalau-aku-sampai-terperosok-masuk-ke-pijakan-ambles-ini-GANTIKAN-NYAWAKU!'
Semua memperhatikan cowok berambut duren itu. Aku sedikit khawatir. Yang lain pun menampakkan wajah khawatirnya.
Ajaib! Semakin dihentakkan, semakin ambles, maka semakin terlihat wujud jalannya! Akhirnya semua paham dan ikut menginjak-injak pijakan berbentuk persegi panjang itu. Dan...fuala! terciptalah jalan lurus. Wow, persis seperti di peta. Pantas saja awalnya kami dibuat kebingungan karena jalan yang ditunjukkan peta tidak tampak di aslinya.
Kami pun mengikuti jalan itu, sampai tiba di suatu tempat di belahan gurun ini. Tempatnya mempunyai hawa sejuk, berbeda dengan gurun panas tadi. Beberapa pohon kelapa tumbuh rimbun, walau belum bisa disebut oasis. Hmm... itu berarti, ini bukan Oasis Abadi seperti yang di peta. Tadinya aku sempat mengira seperti itu sih.
Terlihat reruntuhan bangunan kuno yang sudah hancur tak berbentuk. Hanya ada sebuah dinding dengan 6 pintu berjejer di dinding itu. Ada sekat pembatas berupa tembok setengah betis yang sudah runtuh di sela tiap pintu. Bangunannya tampak tua namun klasik dan artistik. Dinding itu bercat kuning gading dengan pintu-pintu kayu cokelat berukiran sulur-sulur tanaman kecil terletak di tiap sudut pintu yang sudah tidak terlihat jelas tentunya.
Cat-cat di bangunan, atau lebih tepat dibilang tembok tua itu telah luntur dan kotor. Pilar-pilar yang rubuh pun berserakan bersama puing-puing bangunan. Orang akan mengira rusaknya bangunan itu karena faktor usia sang bangunan yang sepertinya saat masih baru tampak indah, bukan karena gempa bumi atau perang. Setidaknya itulah pikiranku.
Akhirnya Budug mendekat ke reruntuhan bangunan itu. Walau sekilas tempat ini tidak seperti tempat-tempat yang ditunjukkan peta, entah kenapa tempat ini seakan mempunyai magnet yang menarik kami untuk berjalan mendekat. Padahal menurut jawaban soal bagian kedua, kami diharuskan mengikuti petunjuk, dalam hal ini peta.
Dalam diam, walaupun tadinya terdengar beberapa ungkapan kekaguman dan bisik-bisik lainnya mengenai tempat ini, tim Budug melangkah perlahan.
Kami berdiri berjejer menghadap tembok itu. Kini tinggal selangkah lagi bagi kami untuk memasuki pintu kayu ini. Tanganku seakan memiliki rasa penasaran yang besar untuk membuka pintu misterius di depanku ini. Apa yang lain juga sama sepertiku?
Kulirik ke sebelah kiri, di pintu pertama paling ujung, ada Sasuke dan Sora, lalu Kiba dan Nii-san di pintu kedua, selanjutnya ada Tenten dan Sakura, lalu Temari dan Shiho di pintu keempat berada persis di sebelahku yang berada di pintu kelima ini.
Setelah itu, kugerakkan bola mataku ke kanan. Ada himawari yang satu sekat pintu denganku, lalu disebelahnya ada Naruto di pintu selanjutnya bersama Shikamaru sang leader Budug.
Sepertinya mereka semua berpikiran sama denganku. Aku menengok menatap Himawari, ia mengangguk mantap, tanda mengerti dan yakin. Tanganku yang telah menyentuh gagang pintu yang berdebu itu perlahan bergerak menekannya.
"Bersama-sama!" tiba-tiba Shikamaru mengomandoi kami.
Agak takut rasanya...
"Ayo Hinata! Jangan ragu!"
Ah? Naruto menyemangatiku? Baiklah, aku takkan ragu!
Tim Budug serempak bergerak.
KREKK!
Uuh..susah sekali pintunya terbuka. Semuanya berusaha keras membuka pintunya, tapi hasilnya nihil.
Sesaat pandanganku menangkap deretan huruf hiragana terukir indah di tengah-tengah pintu kayu di depanku ini. Kudekatkan mataku ke ukiran itu, dan kubaca di dalam hati. Sontak Himawari pun mengikuti aktivitasku itu, lalu membacanya pelan.
"Berpasanganlah di pintu labirin ini," katanya.
Detik itu juga, seluruh anggota Budug menengok kearahku dan Himawari. Aku pun menjelaskan temuanku itu, hmm... kukira itu petunjuk.
"Coba lihat, dong!" kata Naruto setelah penjelasanku. Ia melompati sekat antara pintu keenam dan kelima lalu 'menyingkirkan' Himawari dari depan tulisan itu. Seketika Hima meledakkan amarahnya yang sebelumnya tertunda dengan bentuk tinjuan maut ke wajah Naruto. Oh, tragis.
Naruto meringis kesakitan dan kembali ke tempatnya sambil mengutuki Himawari pelan.
"Cih..bilang saja mau dekat-dekat Hinata dan merepotkanku!" ujar Himawari pelan dengan nada kesal. Eh, apa? Dekat-dekat aku? Haah?
Mmm.. memang iya sih, sejak tadi Naruto dekat–dekat aku terus. Jadi sedikit, err..risih. Dan kusadari wajahku memerah di saat seperti itu. Eeeuh~
"Dasar. Tunggu apa lagi, itu petunjuk 'kan?" tiba-tiba Sasuke di ujung sana membuka suara setelah melihat tingkah konyol Naruto dan Himawari.
"Ya. Semuanya mengerti 'kan?" kata Shikamaru sambil berjalan melewati bagian pintu kelima.
Melihat Shikamaru, aku pun paham. Semua paham. Pasti ia beranjak ke tempat Temari, ingin berpasangan dengannya.
Benar saja. Semua pun terlihat bingung dan canggung mencari pasangan. Saling melirik antara laki-laki dan perempuan. Aku pun bingung dan terdiam.
Tiba-tiba lantai bangunan yang kami pijak bergetar. Apa ini? gempa?
Semua panik. Tunggu, ini gempa, tapi bangunan sama sekali tidak runtuh. Memang gempanya kecil, tapi logikanya, pasti ada bagian bangunan yang runtuh 'kan? Ah, biarkan saja. Toh keanehan ini malah menguntungkan kami.
Untuk langkah penyelamatan diri, kurapatkan tubuhku ke pintu dan tanpa melihat, kutarik lengan baju Himawari di sebelahku agar ia juga merapat di pintu kelima ini. Untung saja aku pernah mempelajari cara-cara penyelamatan diri di SMP saat PMR berpegang erat pada gagang pintu.
Haaah...? Bagaimana ini? Gempa semakin besar! Terdengar teriakkan Himawari dilatar belakangi suara gemuruh gempa yang tidak begitu ekstrim. Eh? Tapi.. kenapa suara Himawari terdengar jauh? Aku yang tadinya menutup mata karena takut, segera membukanya dan membelalakkan mataku karena Himawari yang berteriak tadi, yang kukira ada di sebelahku, ternyata ada di pintu sebelah tempat Naruto. I.. itu berarti..di sampingku..
"Na..Naruto? Kke..napa ada di..disini?" tanyaku gagap. GYAAAAAA...! ingin rasanya aku berteriak, namun seperti tertahan dalam keadaan gawat ini. Oh Tuhan, jarak kami dekat sekali! Dan kami merapat di pintu bersama, walau tidak berdempetan sih... Ta..tapi.. aaarrgh!
Kuakui wajahku memanas, dan aku sembunyikan itu. Naruto hanya nyengir saat kutanyai.
Kudengar Shikamaru berteriak. "Sepertinya tempat ini menuntut kita untuk cepat. Segera berpasangan pada tiap pintu dan masuk bersama-sama! Kalian mengerti?"
"Ehehehe.. Aku sudah menyadari itu sejak tadi, jadi aku mengambil tempat di sebelahmu..engg..karena gempa juga sih, aku terlempar... Lalu kau menarikku 'kan? Hehehe..." kata-kata Naruto sungguh kejam sehingga membuatku blushing karena perbuatanku sendiri yang ceroboh. Haaah...dia ini, curi-curi kesempatan saja. Eh...apa? curi kesempatan? Hei Hinata, sadarlah..! Mengapa aku malah jadi geer? Uuuh..
Kulihat teman-teman juga mulai beraksi. Shikamaru pun menggenggam tangan Temari erat, dan mendekatkan dirinya pada Temari. Ekspresi mereka tetap datar, tapi kunilai itu sebagai ekspresi naif.
NORMAL POV
Shiho yang merasa harus pindah, segera menengok ke kiri dan mendapati Sora yang sendirian di pintunya karena Sasuke telah berjalan ke pintu Sakura yang didahului pandangannya kepada Sakura dan dibalas oleh gadis berambut pink banyak berpikir, Shiho pun menuju kesana dan berpasangan dengan Sora.
Lalu, bagaimana dengan Tenten yang tadinya bersama Sakura? Jangan tanya. Sebelum dikomandoi pun, ia sudah bersama Neji di pintu kedua. Otomatis menggeser Kiba. Kiba yang merasa tidak memiliki pasangan dan tempat, melihat kearah Hinata dan malah mendapat kekecewaan. 'Kenapa Naruto selalu mendahuluiku?' batin Kiba.
Sepersekian detik kemudian, tatapannya beralih ke belakang Hinata. Terlihat Himawari yang melambai-lambaikan tangannya dan berujar, "Hei, kesini!"
Ditengah gempa yang bertambah kecil, ia menuju ke tempat Himawari di pintu paling ujung. Tepat saat ia sampai, Shikamaru kembali berujar.
"Bagus, semua sudah siap?"
"Apa ini? Kenapa kita harus kesini?" kata Sakura.
"Ini, setelah berpikir tadi, kukira inilah Labirin Pasangan itu. Baiklah, kita buka pintunya bersama!" ujar Shikamaru mengomandoi.
Setiap pasangan memegang gagang pintu masing-masing. Mempersiapkan diri mereka pada apa yang akan dihadapi. Begitu pula Naruto dan Hinata, Hinata memejamkan mata agak takut. Naruto yang menyadari itu lalu menyemangati Hinata.
"Jangan takut Hinata, nanti 'kan kita bersama-sama! Tidak akan ada hantu, kalau ada pun paling aku kabur! Hahaha..."
"I-iya.." kata Hinata pelan.
Lalu terdengar suara Shikamaru "1..2..3, buka!"
KRRREEEKK
SET
Semua pintu pun terbuka. Seluruh tim Budug masuk ke dalam pintu masing-masing.
Hinata dan Naruto melangkahkan kakinya kedalam, namun pijakan mereka ambles, mereka jatuh terperosok ke dalam lubang. Spontan mereka berteriak kaget.
Kini, Naruto dan Hinata, juga anggota tim Budug lain yang tidak terlihat oleh Naruto dan Hinata, berada di ruang bawah tanah yang gelap. Mereka semua saling tidak mengetahui dimana dan bagaimana nasib pasangan lain tim Budug.
Tidak ada yang bisa Hinata lihat kecuali Naruto yang berada di sebelahnya. Ruang ini gelap, namun ada obor di suatu sudut tak jauh dari mereka.
"Kau tidak apa-apa, Hinata?" tanya Naruto sambil membersihkan bajunya yang terkena pasir.
"Tak apa.." jawab Hinata.
"Eeengg... se-sekarang sebaiknya kita kemana, Naruto?" ucap Hinata lagi.
"Entahlah..eh, lihat itu! Ada cahaya... kita kesana?" jawab Naruto.
Hinata mengangguk. Mereka pun berjalan perlahan dalam diam. Namun, kali ini Hinata tidak merasakan perasaan gugup atau canggung seperti saat pertama berjalan berdua dengan Naruto.
"I..inikah labirin pasangan itu?" ujar Hinata saat melihat apa yang ada dibawah nyala obor. Naruto mendongak menatap dinding-dinding yang menjulang di depannya. Benar, labirin. Dinding-dindingnya yang berwarna hijau sudah kotor dan berlumut. Tampak sebuah pintu masuk ke labirin itu. Diatasnya terdapat tulisan berupa ukiran kayu dengan huruf kanji: Hitotsu.
Naruto dan Hinata saling bertatapan bingung. Mungkin yang ada di pikiran mereka adalah, memasuki labirin itu untuk melanjutkan perjalanan mereka, dan...
"Engg..Naruto, apa kita tidak sebaiknya mengetahui dimana anggota lain?" ujar Hinata pelan sembari mengeluarkan ponsel putih dari saku celananya.
"Hm..benar juga. Baiklah, aku sms Teme dulu," kata Naruto. Dengan cepat ia mengetik sesuatu di HP Nokia X3-O2 terbarunya. Itulho..yang ada live konten Glee-nya.
"Nnn..Naruto, memangnya disini ada sinyal? kirim e-mail saja," kata Hinata menyarankan. Ia pun mengirimkan e-mail kepada teman-temannya.
"Ehehe...oh iya ya..baiklah," kata Naruto dengan tampang bodohnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hinata geleng-geleng kepala. Namun bodohnya Hinata, ia tidak menyadari seharusnya di bawah tanah ini tak ada sinyal internet juga. Memang tak ada, tapi tanpa mereka ketahui ada Wi-Fi yang dipasang disini, oleh pihak sekolah yang telah menyiapakan rintangan ini tentunya.
Ada juga sepasang mata yang tengah mengawasi tim Budug dari sudut ruangan ini. Tentunya mereka tidak menyadari orang itu. Seseorang bertubuh tinggi besar berjenggot dengan rokoknya yang ia hisap. "Tim pertama sampai, tim Budug," ucap orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Asuma-sensei yang mengawasi perjalanan siswa-siswi di pos labirin ini.
Beberapa detik setelahnya, e-mail balasan datang dari anggota tim Budug lain. Hinata membacanya satu per satu dan mengabarkannya pada Naruto.
"Naruto-kun, ano... kata Sakura, ia dan Sasuke ada di tempat yang sama seperti tempat ini, tapi tulisan di atas pintunya 'futatsu'..lalu-"
"Eh, ada e-mail dari Shikamaru," potong Naruto.
"Iya, aku juga dapat," sambung Hinata. Ia membuka e-mai dari Shikamaru dan membaca isinya dalam hati.
"Shikamaru dan Temari ada di tempat yang sama seperti kita juga, tapi pintunya bertuliskan mittsu! Lalu katanya semua pasangan telah ia kirimi e-mail dan berada di depan labirin sama seperti kita!" Naruto membacanya kencang.
"I..iya.. kata Shikamaru, bisa disimpulkan labirin ini berbentuk segi enam. Kita di pintu pertama 'hitotsu', Sakura-Sasuke di pintu kedua 'futatsu', Shikamaru-Temari di pintu ketiga 'mittsu', Himawari-Kiba di pintu keempat 'yottsu', lalu.." Hinata berhenti sejenak untuk mengambil napas.
Naruto pun melanjutkan. "Di pintu kelima 'itsutsu' ada Shiho-Sora, dan terakhir...'muttsu' pintu keenam, ada Tenten dan kakakmu itu."
"Ya.. menurut Shikamaru, ki-kita semua akan bertemu di pertengahan labirin, kalau kita masuk bersama-sama." Ujar Hinata.
"Hm... ah, ini! kata Shika, sekarang kita semua masuk bersama-sama. Ayo Hinata!" ajak Naruto.
Saat melangkah, tanpa sadar tangan Naruto bergerak ingin menggandeng tangan gadis bermata amethyst di sebelahnya ini. Namun dengan satu gerakan refleks, Hinata menghindar.
"Ah, maaf!" kata Naruto. Hinata hanya menundukkan kepalanya, melihat ke arah lain. Tanda menolak.
"Eeh.. ladies first," kata Naruto gugup sembari mengambil senter di dalam tas nya, yang juga dilakukan Hinata.
Hinata pun langsung melenggang masuk labirin diikuti Naruto, partnernya. Baru tiga langkah ke dalam labirin, Hinata berhenti dan membuat Naruto yang ada di belakangnya heran, Naruto berbelok. Kini ia berada di sebelah Hinata.
Baru saja Naruto akan bertanya, Hinata sudah lebih dulu menunjukan jawabannya. Sebuah buku dikeluarkannya dari dalam tas dan disobeknya selembar kertas.
"Ini, ka..kau pegang satu. Disobek kecil-kecil lalu dijatuhkan setiap kita melangkah. A...agar kita tidak tersesat." Ujar Hinata sambil tersenyum manis.
Sesaat jantung Naruto berdegup kencang melihat pemandangan indah ini. Walau hanya diterangi cahaya lampu tempel yang berjejer jarang-jarang di dinding labirin yang beratapkan permukaan tanah ini. Wajah tan nya yang sedikit pink tersamarkan oleh intensitas cahaya yang memang minim di bawah tanah. Menguntungkan dirinya, setidaknya Hinata tidak menyadari hal ini.
Kalau iya, apa kata dunia? Hei tunggu. Apa artinya ini? Naruto sendiri mengklaim hatinya menyukai Sakura baru-baru ini. Yeah, ini pengakuan si rambut durian pada hatinya sendiri.
Untung saja belum ia katakan pada teman karibnya, Uchiha Sasuke. Yang semua anak di kelas tahu, bahkan semua FG nya juga tahu, bahwa beberapa hari belakangan ini si Pangeran-primadona-satu-sekolahan sedang dekat dengan Haruno Sakura.
Gadis cantik dengan mata indah yang memancarkan kilau kecerdasan dirinya dan rambut lebat pink nya yang lembut serta tubuh semampai. Membuat si primadona rajin curi-curi kesempatan dekat-dekat dengan Sakura setelah kurang lebih dua bulan putus dengan Ino.
Begitulah sepengetahuan Hinata, selebihnya ia juga tahu bahwa dua sahabatnya, Sakura dan Sasuke, sedang sering-seringnya sms-an, e-mai - e-mai-an, dan lain sebagainya yang sejenis dengan itu. Hal 'tampak' yang tidak disadari oleh baka Naruto.
Tapi toh Naruto tidak terlalu cinta pada Sakura, hanya sebatas suka...suka dalam kadar ringan. Sehingga tidak heran hal seperti ini terjadi. Sepertinya pemuda bermata shappire ini mulai tertarik pada kecantikan dan kepolosan alami gadis pemalu di depannya yang kini sedang mengibaskan selembar kertas di depan wajah Naruto karena pemuda itu belum juga menerima kertas yang disodorkan Hinata.
Hinata sendiri heran, bukannya langsung mengambil kertas putih itu dari tangannya, Naruto malah bengong. Ia khawatir, jangan-jangan ada setan di labirin ini yang merasuki Naruto.
Tapi Naruto seakan menepis bayangan Hinata dengan buru-buru mengambil kertas itu sambil nyengir lebar khas dirinya dan menggumamkan 'Baiklah' sekenanya.
Mereka melanjutkan perjalanan sambil saling berbalas e-mail dengan pasangan lain untuk mengetahui dimana mereka berada dan info lain. Ralat, bukan mereka, tapi hanya Hinata yang kontak dengan pasangan lain.
Sedangkan tugas Naruto adalah berjaga dan menerangi jalan dengan senter yang dipegannya. Tapi keduanya sama-sama menyobek kertas untuk menandai jalan yang sudah dilewati.
Sementara itu, pasangan lain juga sedang sibuk melewati labirin ini. Tapi beberapa diantara mereka malah memanfaatkan situasi.
Seperti Tenten yang pura-pura takut agar bisa 'nempel' dengan Neji, Sasuke yang tersandung lalu terluka dan diobati Sakura ditengah minimnya cahaya sehingga diperlukan jarak yang dekat, Shikamaru dan Temari yang masih saja jaim satu sama lain, padahal tangan mereka saling menggenggam, serta Kiba dan Himawari yang sejak tadi seru sekali mengobrol tentang anime, sampai-sampai ribut tentang chara anime jagoan mereka. Sora dan Shiho sih biasa saja.
Walau tim budug berada di belahan labirin yang berbeda, tidak tahu dimana dan kapan mereka akan bertemu, dan seringkali berhadapan dengan tikungan atau pilihan jalan di labirin ini, mereka tidak perlu pusing dan khawatir akan salah jalan. Karena mereka yakin akan bertemu di satu titik.
Yang tidak bisa dipungkiri adalah, kelompok Budug ini adalah kumpulan jenius. Mereka bisa mengatasi ini dengan kepintaran dan keahlian mereka memanfaatkan teknologi.
Sasuke dengan kemampuannya, menggunakan suatu situs internet yang berfungsi seperti GPS untuk mendeteksi dimana teman-temannya berada. Hinata menganalisa tentang tempat ini dengan hipotesisnya plus data-data dari Sasuke. Neji dan Himawari membantu mencari petunjuk. Shiho menghitung jarak koordinat titik pertemuan mereka, yang Shikamaru duga adalah pusat dari labirin ini. Ya, terakhir Shikamaru lah yang mengolah semua informasi menjadi 'jalan keluar' mereka. Kerjasama yang bagus!
Mata Hinata terus menatap layar handphone nya. Naruto disebelahnya hanya menatap ke depan dengan bosan karena sedari tadi hanya berjalan dalam diam menuruti instruksi yang diberikan Hinata. Itupun 'rute' yang Hinata dapatkan dari layar handphone nya, tepatnya dari Sasuke.
DEG
Entah itu hanya perasaan Naruto, kesalahan penglihatan, atau memang benar, ada suatu bayangan putih terlintas jauh di depan Naruto. Pemuda itu menelan ludahnya. Ia mulai gemetar. Bahkan untuk memanggil Hinata saja rasanya susah sekali.
"Selanjutnya belok sini Naru-"
"Huaaaaaaaaaaaa... cepat lari, Hinata!"
Instruksi Hinata dipotong oleh teriakan lantang Naruto. Cukup keras untuk bisa didengar anggota tim Budug lain yang kini terpisah. Tidak, bukan hanya teriakan, tapi gerakan kilat Naruto pun tak bisa dihindari oleh Hinata sehingga lekas saja ia ditarik pergi ke arah yang berlawanan 90 derajat dari yang diinstruksikannya tadi.
Naruto berlari secepat kilat. Rupanya ia tak mau kalah dengan Eyeshield 21, Hinata yang tidak tahu menahu, terpaksa ikut berlari. Sampai akhirnya...
BRUAKK
Terjadilah insiden itu. Menyimpangnya rute Naruto dan Hinata malah mempertemukan mereka dengan seseorang. Bukan bertemu, tapi lebih tepatnya menabrak.
Hinata yang berlari di sebelah kiri Naruto menabrak seseorang di depannya sehingga benda di tangan orang itu terlempar. Buruknya, benda itu tepat mengenai kepala Naruto. Dan bukan kabar baik, benda itu adalah sebuah senter.
Yah, sebuah senter akan limited edition bila berbobot enteng. Dengan kata lain, senter yang mengenai kepala Naruto cukup berat untuk membuat kepala Naruto benjol besar. Ia meringis kesakitan.
Gelap memang perlu disalahkan dalam kejadian ini. Hinata lalu mengambil senter dan menyorotnya ke seseorang di depannya.
Rambut cokelat ikal. Potongan cowok. Ya, sepertinya cowok.
Naruto pun ikut melihat siapa pembawa sial yang melempar senter nista itu.
Terdengar suara seseorang melangkah dibelakang orang yang sedang di timpa cahaya senter Hinata, yang ternyata adalah..
"Ki-Kiba? Himawari!" kata Hinata saat melihat wajah orang itu
"Ah, Hinata!" sapa Kiba sumringah.
"Eh, rupanya kau, Kiba? Hei NYANTAI DONG, JANGAN ASAL MELEMPAR!" seru Naruto kesal.
"Hinaaaaaaaa~ aku tidak betah sekali disiniii..." kata Himawari yang muncul dari belakang Kiba.
"Lha, siapa yang nabrak? Ente lah yang nyantai!" bela Kiba pada dirinya sendiri.
"Eh.. gomen.. ini salahku." Kata Hinata sambil membungkukkan badannya. Naruto dan Kiba sontak menggeleng.
"Harusnya aku yang meminta maaf, Hinata!" sanggah Naruto.
"Ti..tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, mengapa kau membawaku lari tiba-tiba?" tanya Hinata.
"Emmm...i-itu.. sebenarnya.. aduh, tadi kau tidak melihat sih~ Aku langsung menarikmu.. karena... ADA HANTU!" ujar Naruto sambil melihat ke sekeliling dan gemetar. Ia masih panik akan penglihatannya yang belum tentu benar.
"KYAAA... DIMANA ADA HANTU?" Hinata langsung panik dan refleks memeluk Himawari di depannya.
"Telat, Hinata~" kata Naruto sweatdrop lalu membatin 'Jiaaaahh~ nih cewek ternyata telmi juga."
'Kenapa tidak memelukku saja sih.. uuh.. jadi iri sama Himawari~' batin Kiba dan Naruto bersamaan.
"Udah..udah... gak ada Hantu kok, Hina." Kata Himawari sambil melepas pelukan Hinata.
"Eh.. go-gomen," ujar Hinata malu.
"Hei..tapi gara-gara itu kita jadi bertemu ya. Kebetulan sekali," celetuk Kiba.
"Hm..kalau begitu, sekarang kita kemana? Apa sudah sampai di tengah labirin?" ujar Naruto menimpali.
"Hei! Lihat itu, sepertinya sedikit lagi sampai!" seru Himawari dengan wajah berseri-seri sambil menunjuk ke suatu arah.
Ada cahaya terang terlihat menjalar keluar seperti lidah api dari suatu tempat yang tertutup potongan dinding-dinding labirin yang membentuk jalan.
Mereka berempat langsung bersemangat lari. Sudah tidak tahan berada disini dan tidak sabar ingin cepat-cepat meraih tujuan akhir mereka. Mereka lelah, juga khawatir dengan teman-temannya.
Dan..tidak sia-sia. Cengiran lebar maupun tipis, bagi sebagian orang, terpampang di wajah para manusia ini. cahaya-cahaya lilin yang klasik nan mewah menghiasi ruangan eksotis itu.
Hinata, Himawari, Naruto, dan Kiba sampai di pusat labirin yang sesuai dengan perkiraan mereka. Seperti mimpi. Teman-temannya pun berangsur-angsur datang tidak lama setelah mereka. Senyum kelegaan dan senang terpancar dari wajah tim Budug saat mereka berkumpul kembali.
Sebuah tangga spiral yang ber-cat emas kini nyata di depan mereka. Seakan-akan menghipnotis mereka untuk naik keatas dan membuka pintu kayu di langit-langit labirin, dan melihat apa yang ada disana.
Yakin dengan pemikiran mereka bahwa harta karun ada disana, mereka pun naik ke tangga itu dan membuka pintunya perlahan.
Dan betapa senangnya Hinata, cahaya mentari sudah mendekati matanya lagi setelah sebelumnya gelap yang didapat. Ia mengerjapkan matanya yang belum terbiasa dengan sinar terang di gurun ini. Tunggu, bukan gurun lagi sepertinya, tapi hutan!
Ya.. hutan. Benar-benar hutan. Pohon-pohon tumbuh menghijau disini, dan sungai biru mengkilap jernih mengalir deras menambah sejuk suasana. Mereka sangat bersyukur saat ini karena kejamnya gurun sudah tak ada lagi.
Mereka saling bertatapan dan melirik-lirik sungai tanda ingin segera menceburkan diri beramai-ramai kesana.
Hampir saja Sakura CS tancap gas berlari ke sungai, kalau Hinata tidak mencegahnya.
"T..tunggu Sakura-chan! Teman-teman, lihat itu!" seru Hinata sambil berjalan pelan menuju ke suatu tempat di pinggir sungai itu. Mereka semua memperhatikan Hinata heran. Pasalnya mereka tidak menemukan apa-apa selain sebuah pohon oak besar di pinggir sungai itu.
"Hn.. bagus Hinata. Sepertinya kalian lupa tujuan utama kita," ujar Sasuke pada Hinata dan tim Budug. Ia pun melenggang pergi dari tempat mengikuti Hinata yang hampir sampai. Shikamaru pun mengikuti disusul yang lain yang sepertinya baru menyadari sesuatu.
Setelah semua sampai, Hinata tersenyum bangga akan hasil temuannya. Semua anggota tim Budug berbinar melihat temuan Hinata.
"Kyaaa... hebat sekali, Hinata!" ujar Sakura senang.
Mereka pun menyentuh hasil temuan mereka yang sangat membuat senang itu. Sesuatu yang menakjubkan dan... seperti mimpi...
TBC
Apakah benda itu? Dan apa isinya? Mengapa membuat tim Budug senang? Tunggu di chapter depan!
Bocoran chapter depan:
"Gadis yang aku sukai...dia lembut, seperti bunga lavender yang menyentuh kulit. Dan ternyata bukan seperti bunga sakura yang kelopaknya akan gugur saat disentuh."
"Teman dekatmu. Aku baru menyadari, dia.. Indah. Seperti puspa bangsa ini yang kehadirannya selalu dinantikan orang."
REVIEV PLEASE! Arigatou and.. keep reading!
Jaaa...!
