Love At The First Sight~
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance/ Angst/ Hurt/ Comfort
Warning : Typo(s) & MissTypo(s), OCC, AU, Masih pemula, Gaje, Jelek, Abal, Deskripsi payah, Don't Like don't Read!
Summary : Ada selintas pikiran memenuhi pikiranku. Jatuh cinta? Begitukah? Apa aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya? Apa perasaan aneh dan hangat inikah yang dinamakan jatuh cinta? Benarkah? Mungkin saja.
Halo OuO/
Ini Hima desu xD~
Ff chap 4 hadir ._.v
Maaf apdetnya lama dikarenakan Hima udah masuk sekolah lagi Dx
*ga penting
Trus ceritanya juga makin lama jelek ya maap Hima gak bisa bikin deskripsi yang bagus QAQ
*bungkuk
Yaudah daripada kelamaan hepi riding ya ^^
Many thanks to:
Lucy Uchino, Kazuma B'tomat, , Natchii-chan, Kelincibiru94,
Addys Noveanette, AsaManis TomatCeri,
And to all who have read this fict ~
Thanks a lot guys ;)
.
.
.
.
.
Salju yang turun malam itu
Putih bersih
Dingin
Dan beku
Seolah sepadan dengan hatiku saat ini
Salju yang turun malam itu
Begitu lembut
Cair
Dan terurai
Seakan setara dengan perasaanku saat ini
Salju yang turun malam itu
Meleleh
Dan terlihat memudar
Seperti sebanding dengan rasa cintaku saat ini
Salju yang turun malam itu
Ingin kuraih
Kugenggam
Dan tak ingin kulepas
Agar salju itu tak mencair
Melebur
Dan jatuh terhempas di tanah yang keras
Agar salju itu selalu menempel di telapak tanganku
Dan tak akan pernah pergi
Melangkah
Menjauh
Untuk selamanya
...
.
.
.
.
.
"Maukah kau berjanji padaku?" Ia menatapku dengan sorot matanya yang rapuh. Memandangku lekat-lekat dengan sepasang mata emeraldnya yang cantik.
"Tentang apa itu?" Aku menatapnya dalam. Mencoba masuk ke dalam sudut matanya yang tampak tertutup itu. Namun matanya selalu saja seakan terkunci. Seolah tak menginginkan seorangpun masuk ke dalam dunianya.
"Apa kau akan melupakanku jika aku menghilang dari dunia ini?" Tanyanya yang terdengar seperti sebuah pertanyaan konyol dalam kepalaku. Menghilang? Seolah kata itu hanyalah seuntai kata samar yang terucap di bibirnya yang mungil. Apa yang dia katakan? Aku tidak mengerti sama sekali.
"Apa maksudmu?" Tanyaku balik dengan nada bingung dan heran yang terpancar jelas di kedua bola mataku. Mungkin saja wajahku saat ini sudah benar-benar menampakkan raut wajah seperti orang bodoh. Entahlah.
"Tolong—" Aku terhenyak. Nada bicaranya seolah semakin lama terdengar melemah. Sepasang mata emerald itu terlihat bergerak gelisah. Kilasan cahaya hangat dari sudut mata emerald itu entah kenapa terasa memudar. Seakan cahayanya itu akan segera lenyap. Cahaya cantik dan hangat yang selalu kulihat itu seolah perlahan menghilang. Aku mengatupkan rahang rapat.
"Jangan lupakan aku—" Ia menyambung perkataannya lagi. Membuat mataku sukses membulat dengan sempurna.
"Doushite?" Selalu pertanyaan itu yang sering kuucapkan padanya. Dan selalu jawaban yang sama pula yang kudengar dari mulutnya.
"Ehm—tidak apa-apa," Tepat. Ia tersenyum manis. Senyum yang semakin lama membuatku gerah. Ingin sekali ku genggam tangannya erat dan memintanya memberitahuku semua tentang dirinya. Namun keinginan itu selalu saja tak bisa terwujud. Ya. Aku memang pengecut. Menatap matanya saja sudah membuatku memanas seketika apalagi menyentuh tangan mungilnya yang lembut itu. Aku mendesah konyol. Bodoh.
"Hhh—kau selalu saja begitu," Aku mendecak kesal yang dibalas tatapan keterkejutan dari gadis berambut merah muda di sampingku.
"Sasuke-kun—marah?" Ia menatapku polos. Aku menutup mulutku dengan sebelah tangan. Berusaha menahan tawa yang ingin keluar dengan paksa. Kemudian mengacak-acak rambutnya geli.
"Kau bercanda? Mana bisa aku marah padamu Sakura," Aku menatapnya gemas. Ia mengembungkan kedua pipinya kesal. Seolah menunjukkan padaku kalau ia sedang marah, namun menurutku itu malah terlihat sangat lucu. Aku terkekeh kecil.
"Arigatou—" Ia tersenyum tipis dan segera membuat tawaku berhenti mendadak.
"Untuk apa?" Tanyaku tidak mengerti. Ia menghela nafas pelan. Bersamaan dengan angin yang seakan melebur bersama dengan helaannya. Menyapu lembut wajahnya yang putih dan menerbangkan helai demi helai rambut merah mudanya yang indah. Sejenak nafasku terasa sesak dan sekitarku terasa hening. Ia menatapku dalam. Dengan bibir yang berucap dengan nada lemah.
"Untuk semuanya. Aku—bersyukur bisa bertemu denganmu—"
…..
.
.
.
.
.
*Flashback
Angin yeng berhembus dibulan ini selalu saja terasa dingin. Dinginnya menusuk dan membekukan seluruh jaringan tubuhku. Menjalar ke segala permukaan kulit. Dan membuat seluruh bagian tubuhku seakan mati rasa. Aku tidak mengerti kenapa suhu udara di daerah ini selalu saja lebih terasa dingin di banding daerah lainnya. Yang menurutku lama-lama daerah ini akan berubah menjadi daerah sedingin kutub utara. Mungkin saja daerah ini akan menjadi daerah wisata salju dengan lapisan salju yang menempel bertumpuk-tumpuk di permukaan tanah. Entahlah. Aku benar-benar tidak mengerti.
Dan kurasa hari ini masih sama saja seperti hari kemarin. Tidak ada bedanya hari ini dengan hari-hari sebelumnya. Semua masih saja terasa sama. Masih saja aku duduk disini tepat di sebuah bangku panjang di taman kota yang selalu menjadi tempat favoritku. Masih saja aku menghentakkkan kaki sembari mendongak langit atas tempat dimana bongkahan—bongkahan salju putih turun dan terjatuh di permukaaan tanah. Masih saja aku merapatkan jaket dengan erat untuk membungkus tubuhku yang mulai kedinginan. Dan masih saja aku berada di tempat ini. Dengan sebuah tujuan yang tak pasti. Untuk sebuah alasan yang mungkin bagi sebagian orang tak jelas. Tapi menurutku, hal ini sudah menjadi sebuah kebiasaan untukku. Tentu saja ini adalah sebuah aktivitas yang sudah kujalani hampir sepanjang hidupku. Dan aku tak pernah lelah untuk menjalaninya. Aku bahkan tak pernah mengeluh. Munafik? Sejujurnya aku tak pernah berfikir seperti itu. Karena aku tau, sekeras apapun aku mecoba dan sekuat apaun aku mengelak, aku tak akan bisa menghindarinya. Benar. Aku tak bisa menghindar dari sebuah takdir yang telah digariskan Tuhan untukku. Karena aku selalu tau, aku takan pernah bisa. Takan pernah. Dan tak akan. Aku tersenyum miris.
Aku memejamkan mata pelan. Samar-samar terdengar bunyi langkah kaki mendekat. Seakan ada seseorang yang sedang datang mendekat ke arahku. Kurapatkan jaket merah mudaku hingga semakin rapat membungkus tubuhku. Sejenak langkah kaki itu terdengar terhenti. Aku membuka kelopak mataku pelan. Kudapati sesosok mata onyx pekat tengah menatapku kebingungan. Dari sudut matanya terpancar jelas sorot keraguan.
"Hng- Nani?" Ucapku berusaha menghentikan tatapannya yang sedari tadi menatap ke arahku. Ia nampak terkejut sebentar.
"Ano—tidak," Jawabnya sembari menggaruk kepalanya yang kupikir sama sekali tidak terasa gatal. Sejenak kemudian kualihkan pandangan menatap langit atas tempat salju turun lagi. Tempat dimana seluruh bongkahan salju terbentuk . Bongkahan salju yang berwarna putih bersih dan terlihat sangat indah. Cantiknya.
"Ngg- Apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanyanya tiba-tiba. Aku sedikit terkejut ketika mendapati dia sudah berada sedekat ini denganku. Aku menatap sosoknya sebentar. Dengan perasaan datar, ku amati kembali langit atas dengan seksama.
"Tidak ada," Ucapku sembari memberinya sebuah senyum tipis.
"Kalau begitu kenapa kau duduk disini? Bukannya akan lebih baik bila kau di rumah saja? Udara hari ini sangat dingin bukan?"
"Tidak apa," Jawabku cepat sambil menghela nafas panjang. Mataku terasa panas dan bibirku semakin kaku untuk berucap.
"Aku—sebenarnya aku sedang menunggu," Ia nampak terkejut.
"Pacarmu?" Aku menggeleng pelan.
"Bukan apa-apa. Maaf ya telah mengatakan hal yang tidak penting untukmu," Aku tersenyum lagi. Bodoh. Hampir saja aku mengatakan hal yang konyol. Kenapa aku harus memberitahunya hal yang tidak penting? Kenapa kata-kata itu terucap begitu saja dari bibirku? Apa untungnya bagiku untuk memberitahunya mengenai diriku? Aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Bodoh. Bodohnya aku.
"Namaku—Sakura Haruno," Ucapku berusaha mengalihkan pembicaraan. Kuulurkan tangan pelan. Sejenak ia nampak terkejut.
"Sasuke Uchiha," Ia membalas uluran tanganku. Dengan telapak tangannya yang kekar. Tangannya yang besar dan terasa hangat itu menyentuh telapak tanganku. Entah kenapa hangatnya seakan menyebar menembus seluruh lapisan kulitku. Ada sesuatu yang terasa masuk di sudut hatiku. Sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Hanya dengan menatap mata onyxnya yang sejenak membuatku seperti terhisap dalam bola matanya yang dalam. Wajahku serasa memanas dan jemariku terasa kaku. Ada selintas pikiran memenuhi pikiranku. Jatuh cinta? Aku tersentak. Begitukah? Apa aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya? Apa perasaan aneh dan hangat inikah yang dinamakan jatuh cinta? Benarkah? Mungkin saja. Benar. Mungkin saja aku jatuh cinta padanya. Mungkin saja aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya. Mungkin saja perasaan hangaat inilah yang dinamakan jatuh cinta. Ya. Itu benar. Mungkin saja—
Tidak.
Aku menggeleng kuat.
Aku tidak boleh jatuh cinta.
Tidak.
Tidak boleh dan tidak akan bisa.
Tapi.
Tapi.
Sekeras apapun aku mengelaknya.
Aku rasa aku benar-benar telah jatuh cinta dengannya.
Ya.
Pada sesosok pemilik mata onyx pekat itu.
Pada sesosok pemilik tangan hangat itu.
Dan pada sesosok orang yang seharusnya tak pernah kutemui itu.
…..
*Flashback end
.
.
.
.
.
First note, 9-01-2-20XX
Pertemuan pertamaku denganmu
Diiringi dengan salju putih yang begitu indah
Pertemuan pertamaku denganmu
Di tengah hujan salju yang turun dengan cantiknya
Pertemuan pertamaku denganmu
Yang selalu kuingat dalam memoryku
Tersimpan rapi dalam ingatanku
Membekas dalam pikiranku
Menyusup rapat di sela hatiku
Pertemuan pertamaku denganmu
Yang mengantarkanku pada sosok sepertimu
Yang menyadarkanku tentang orang seperti dirimu
Yang membuatku mengerti akan satu hal tentangmu
Pertemuan pertamaku denganmu
Yang telah dirancang oleh Tuhan
Dan diatur oleh Tuhan
Dengan takdir yang dibuat oleh Tuhan
Tak akan pernah kusesali
Di pertemuan pertama itu
Di pertemuan yang telah mempertemukanku denganmu itu…
.
.
.
.
.
=TBC=
Balasan balasan Review ;)
Lucy Uchino
Arigatou gozaimasu (_ _)
*bungkuk
Terima kasih ya sudah berkenan me review :D
Ah ini masih abal deskripsi Hima juga jelek Hima payah kalau masalah deskripsi Dx
Lucy lebih bagus :)
*gigit
Sekali lagi terima kasih ya ^^
Kazuma B'Tomat
Ah arigatou Gozaimasu ^^
*bungkuk
Wah terima kasih banyak sangat membantu sekali QAQ
Dan salam kenal ya ;)
Mind to Review? ^^
Thanks for reading—
See ya in the next capter!
*winks
