DIFFERENT

Rated:

T [bisa berubah kapanpun]

Cast:

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Oh Sehun

Xi Luhan

and Other Cast..


Dua kepribadian yang berbeda menjadi saling memiliki. Baekhyun yang gemar berkelahi dengan Chanyeol si ketua Osis yang sangat berwibawa. Sehun si tukang bully dengan Luhan si namja pemalu dan terlihat lemah. Semua itu hanya karena surat cinta sialan milik Luhan. Bagaimana kedua pasangan itu menjalani kisah cintanya? mampukah keempat namja itu bertahan?


Chanyeol menatap iris mata bulan sabit milik Baekhyun dengan dalam "Aku memang sungguhan menyukaimu, Byun Baekhyun"

Baekhyun yang saat itu sedang minum segera tersedak karena perkataan Chanyeol "Uhuk, apa? Kau menyukaiku? Jangan bercanda, sialan!"

"Aku memang menyukaimu, Baby" Chanyeol makin memperdalam tatapan mata mereka membuat Baekhyun menelan ludahnya kasar.

Tiba tiba Baekhyun memutuskan kontak mata mereka dan bangkit dari kursinya "Jangan membual! Aku tak mempercayai ucapan bodohmu, sialan!"

"Kau pikir aku membual?"

Seringaian Baekhyun terlihat, "Ya! Aku yakin kau hanya membual! Kau akan menerima konsekuensinya jika kau memang benar benar membual, bajingan!" Ia pun pergi menjauh dari sana.

Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya kecil melihat punggung Baekhyun yang semakin jauh "Dia tetap saja kasar"


Mata Sehun tak hentinya menatap punggung Luhan yang duduk dikursi paling depan. Tangannya melemparkan kertas ke punggung Luhan membuat lelaki mungil itu menoleh ke belakang.

Luhan menelan ludahnya kasar saat menemukan Sehun sedang menyeringai padanya. Ia segera menoleh kedepan kembali dan menyibukkan dirinya dengan buku yang ia baca saat ini. Entah mengapa Luhan sangat takut melihat tatapan mengintimidasi milik Sehun.

"Kenapa tak mengambil kertas yang ku lemparkan tadi?" Tanya Sehun yang tiba tiba berdiri didepan meja Luhan. Ia pun mengambil kertas yang ia lemparkan tadi di lantai.

Luhan tersentak kaget, lalu menatap Sehun dengan takut "M-maaf"

"Hanya maaf?" Sehun menatap Luhan tak percaya. Tak lama, ia pun terkekeh "Bagaimana kalau aku mengerjaimu saja untuk penebusan rasa bersalahmu?"

Tak ada jawaban dari Luhan membuat Sehun mendengus kesal. Sehun pun mengambil tas Luhan dengan kasar dan membuang seluruh buku Luhan di tong sampah. Bahkan, lebih parahnya lagi Sehun menginjak injak buku Luhan sehingga buku buku itu tercampur dengan sampah.

Seluruh orang yang ada diruangan itu melihat Sehun kaget, Sehun benar benar terkenal kejam sebagai tukang bully di JHS. Tak ada satupun siswa yang berani menghentikan perbuatan Sehun, karena mereka tak mau jika harus menjadi bullyan lelaki albino itu.

Melihat Luhan yang hanya menunduk dan tak marah sedikitpun ketika bukunya terbuang membuat Sehun merasa kesal. Ia benar benar muak dengan Luhan yang sok kuat ketika ditindas, padahal ini sudah tahun kedua Luhan dibully Sehun.

"Kenapa aku bisa sejahat itu pada Luhan?" Sehun menggeram kesal saat mengingat masa JHS nya dulu ketika dia membully Luhan. "Seharusnya aku tak usah membullynya jika sekarang aku memiliki perasaan padanya"

Bayangan Luhan menangis selalu terbayang dipikiran Sehun. Kepala Sehun menggeleng untuk mengenyahkan bayangan itu. Ia pun lebih memilih memejamkan matanya dan menutupi wajahnya dengan bantal.

Tak lama, Sehun membuang bantalnya dan mengubah posisi tidurnya menjadi posisi duduk dengan wajah yang memerah. Ia pun mengambil ponselnya yang berada dinakas dan membuka salah satu foto Luhan yang tersimpan disana.

Sehun pun berteriak didepan foto itu "Enyahlah dari pikiranku sekarang, brengsek"

Tiba tiba terdengar suara seorang wanita dan suara ketukan dari arah pintu kamar "Sudah malam Sehun, tidurlah!"

"Iya bu" Sehun pun memilih tidur dan menutupi wajahnya dengan bantal lagi. Lagi lagi, bayangan Luhan pun terbayang di benaknya.


Mata sipit Baekhyun enggan tertutup, otaknya masih mencerna perkataan Chanyeol yang mengatakan bahwa ia menyukai Baekhyun.

Baekhyun menatap langit langit atap rumahnya dan mengacak rambutnya sendiri tanda frustasi "Aku yakin ini pasti akal akalan si brengsek itu"

"Aku memang sungguhan menyukaimu, Byun Baekhyun"

Kata kata itu terngiang ngiang di kepala Baekhyun membuat wajah Baekhyun memerah seketika, kedua tangannya pun menangkup pipinya sendiri, "Kenapa tatapan matanya terlihat begitu serius?" Baekhyun memutar memorinya pada kejadian saat siang tadi. "Apa ia benar benar menyukaiku? Tapi bukankah ini hal yang aneh? Kita baru saja dekat dan dia sudah menyukaiku."

Baekhyun mengingat ingat semua kelakuan Chanyeol selama ini "Jika ia benar menyukaiku kenapa ia hanya mendekatiku saat kesalahpahaman surat itu saja? Apa jangan jangan ini perbuatan Choi Siwon? Atau mungkin ini perbuatan kakek?" Alis Baekhyun berkerut bingung "Jika kakek dibalik semua ini, aku sungguh tak akan membuat hidup si tua bangka itu bertahan lama."

Berbicara sedikit tentang kakek, pria tua bangka itu adalah kakek Baekhyun yang sangat sok bijak dan berkelakuan absurd yang sialnya menjadi pemilik sekolah SM high school. Namun, jika di pikir pikir lagi kakeknya pasti tak ada urusan sama sekali. Dia kan seorang bisnisman yang sangat sibuk, untuk apa ia ikut campur?

"Aish, jinja" Baekhyun pun merubah posisinya menjadi posisi duduk, ia pun mengacak rambutnya lagi dengan kasar "Si brengsek itu benar benar membuatku jadi gila! Aku harus menjauhinya secepatnya!"

Tiba tiba sosok chanyeol yang sialnya tampan itu ada di samping Baekhyun dengan senyuman yang sangat menggetarkan hati. Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan cepat mengeyahkan imajinasinya akan Chanyeol, ia mendengus kesal, "Sialan! kenapa aku harus memikirkanya?"


Seharusnya di jam tujuh lewat lima menit seperti saat ini, Baekhyun sudah terburu buru untuk berangkat sekolah. Namun, pengecualian untuk hari ini lelaki mungil itu lebih memilih untuk bergelung di dalam selimut hangatnya. Ia malas sekali rasanya untuk pergi ke sekolah, apalagi jika bertemu dengan lelaki jangkung idiot yang mengaku menjadi pacarnya.

Sebenarnya Baekhyun sama sekali tidak tertidur, semenjak semalam matanya sangat sukar untuk terpejam. Otaknya terus memikirkan tentang pernyataan suka Chanyeol. Sial memang, tetapi itulah faktanya.

Pintu kamar Baekhyun terbuka, suara langkah kaki anggun mendekat. Baekhyun pura pura terpejam agar ia terlihat sedang tertidur, "Kau belum berangkat?" seorang wanita paruh baya namun masih sangat terlihat cantik menggoyangkan gundukan selimut yang berisi Baekhyun, "yak! Byun Baekhyun!." teriak Nyonya Byun dengan keras.

Demi tuhan! Teriakan ibunya membuatnya tuli di usia muda.

"Ibu," Baekhyun berpura pura membuka matanya khas bangun tidur, ia mengerucutkan bibirnya dengan lucu dan matanya berbinar lucu seperti seorang puppy, "perut Baekki sakit, Baekki tidak sekolah ya~"

Oh shit! Apa apaan ini? Ternyata pembuat onar seperti Baekhyun yang memiliki gelar master of tawuran bisa beraegyo di depan sang ibu. Dan demi tuhan, Baekhyun sangat menggemaskan jutaan kali lipat.

Wanita yang di panggil ibu itu pun menatap Baekhyun dengan sorot mata yang tegas, "Jangan menipu ibu lagi! Cepat mandi dan berangkat sekolah!"

"Tapi bu-"

"Berangkat atau uang jajanmu ibu potong!"

Baekhyun hanya berdecak kesal dengan ketegasan ibunya. Menurutnya, ibunya lebih pantas menjadi seorang tentara karena kedisiplinannya dari pada menjadi seorang ibu rumah tangga. Dengan malas malasan, Baekhyun pun berjalan menuju kamar mandi tak ingin ibunya berceramah panjang lebar.

Setelah menyiapkan diri, kurang lebih pukul setengah delapan Baekhyun berangkat ke sekolahnya yang jaraknya sangat dekat. Bukan Baekhyun namanya jika ia masuk ke dalam sekolah untuk belajar, ia lebih memilih untuk bermain games di rental PlayStation terdekat.

Setidaknya, di tempat itu ia tak bertemu dengan Chanyeol.

"Hei Byun pengecut! Sudah cukup lama tak melihatmu." suara berat menginterupsi Baekhyun yang sedang sibuk memainkan games Dota.

Baekhyun menoleh dan menemukan Yongguk disana, lebih tepatnya Yongguk yang berada di belakangnya bersandar pada kayu pembatas antar PS. Ia pun berdecih, "Ternyata kunyuk sialan ini merindukanku eoh?"

Seringaian terlihat di bibir Yongguk, "Aku lebih merindukan memukul wajahmu sampai babak belur, Byun pengecut! Kau ingatkan tawuran kita yang terakhir? Kau kabur seperti seorang pengecut, brengsek!"

Mendengar ucapan Yongguk, hati Baekhyun terasa panas. Jika bisa, ia ingin sekali memukul wajah sialan itu di tempat ini. Tetapi, ia masih punya otak untuk tak memancing diri ditangkap penjaga rental dan melaporkannya ke polisi sebagai anak bolos yang membuat kerusuhan.

Menyadari keterdiaman Baekhyun, seringaian Yongguk bertambah lebar., "Ouh, lihatlah! Kau sepertinya kalah denganku, Byun!

"Benarkah? Aku bisa memukulmu di sini, Bang! Jangan macam macam!"

Yongguk pun tiba tiba mempunyai cara untuk mengalahkan musuh tawurannya itu sekaligus memerasnya, "Bagaimana jika kita saling memukul dalam games saja? Yang kalah harus mentraktir!"

"Call!" setuju Baekhyun, setidaknya Yongguk tidak terlalu bodoh untuk mempunyai ide sebagus ini. Lagipula, Yongguk juga sama seperti Baekhyun, pembolos yang tak ingin di tangkap polisi hanya karena bertengkar di rental PS.

Dan setelahnya, mereka berdua pun memainkan games bersama.


Selama jam pelajaran pertama, pikiran Sehun bercabang pada Luhan. Ingin sekali lelaki tinggi itu pergi ke kelas Luhan untuk melihat sekilas wajah manis miliknya. Ia sadar bahwa ia memang merindukan lelaki mungil itu.

Semenjak semalam, Luhan masih saja menghantui pikirannya. Demi Tuhan! Sehun sampai di buat gila oleh hal itu. Sialan memang.

"Oh Sehun, ada yang mencarimu di depan kelas." ucap seorang siswi yang sekelas dengan Sehun dan menunjuk pada seorang gadis di depan pintu. Sehun menoleh untuk melihat objek tunjukkan teman sekelasnya.

Sialan!

Itu adalah Bae Irene.

Mau tak mau, Sehun pun beranjak dari kursinya dan menghampiri gadis yang mencarinya dengan langkah malas, "Ingin apa kau kemari?" tanya tak acuh, namun dengan bibir yang di paksakan tersenyum. Ya tuhan! Sehun terlihat seperti orang idiot.

Mata indah Irene menatap Sehun antusias, ia segera memeluk lengan lelaki tinggi itu, "Aku ingin mengajakmu ke kantin, Hun."

Decakan Sehun terdengar, ia menatap Irene dengan tatapan malas. Ia tak menyangka bahwa Irene sangat bodoh dengan mengajaknya ke kantin bukan di jam istirahat seperti ini, "Aku tidak mungkin membolos karena jam pelajaran kedua adalah pelajaran guru killer kimia. Lagi pula, Aku adalah anggota Osis, Bae Irene."

"Jadi tidak bisa ya?" bibir Irene mengerucut imut. Dan entah mengapa, Sehun merasa mual melihatnya, ia lebih menyukai bibir Luhan yang mengerucut ketimbang bibir Irene. Ya Tuhan! Mengapa Sehun masih sempat sempatnya memikirkan Luhan?

Sehun hanya mengangguk acuh membalasnya, membuat Irene berniat untuk pergi dari sana. Tetapi baru saja Irene hampir melangkah, gadis itu segera berbalik lagi kearah Sehun, "Ah iya, aku ingin bertanya padamu."

"Bertanya tentang apa?" alis Sehun terangkat bingung.

"Tentang kemarin," Irene menjeda ucapannya, ia menatap Sehun dengan sorot mata tajam, "Aku melihat kau berdua dengan Luhan, teman sekelasku di atap sekolah. Kau tak mempunyai hubungan apapun kan?"

Tubuh Sehun menegang mendengarnya, ia tak menyangka bahwa Irene akan melihat dirinya dan Luhan bersama di atap sekolah. Kepalanya pun menggeleng pelan, "Aku tak ada hubungan apapun dengannya." jawabnya dengan jujur. Jika di pikir pikir, ia dan Luhan memang tak mempunyai hubungan apapun meskipun Sehun memiliki rasa padanya.

Senyuman terlihat di bibir ranum Irene, "Baguslah, aku hanya tak ingin ada seorangpun yang menghalangi perjodohanku denganmu, Hun." setelahnya Irene pun menjauh dari sana meninggalkan Sehun yang menatap punggungnya dengan tatapan kosong.

Sehun tak menyangka akan mempunyai sepupu senaif Irene yang berambisi menikah dengannya. Karena Irene lah yang meminta ibunya untuk menjodohkannya dengan Sehun, dan Sehun hanya mampu menerima dengan kemungkinan suatu saat akan menolaknya mentah mentah.

Karena sesungguhnya, Sehun sama sekali tak mempunyai perasaan apapun pada Irene selain rasa sayang seorang kakak laki laki pada adik perempuannya.


Mata Luhan tak berkedip sedikitpun dari objek penglihatannya. Seperti biasa, ia duduk di perpustakaan di lantai tiga untuk melihat Chanyeol bermain basket di lapangan. Bibirnya tak hentinya mengukirkan senyum saat Chanyeol berhasil memasukkan bola basket kedalam ring.

Rasa kagum Luhan akan sosok Chanyeol tidak pudar sedikitpun karena masalah kemarin, karena ia rasa ia tak butuh mendapatkan cinta Chanyeol. Yang ia butuhkan hanyalah, melihat Chanyeol bahagia seperti saat ini. Tertawa lepas ketika bermain basket.

"Masih saja memandangi Chanyeol hyung." lelaki tinggi yang tak asing bagi Luhan memasukki perpustakaan dan duduk di kursi kosong samping Luhan.

Kepala Luhan menoleh dan menemukan Sehun disana, "Kau sedang apa disini?"

Kekehan Sehun terdengar, "Tak mungkin aku menjawab bahwa aku sedang bermain basket di perpustakaan?"

"Menyebalkan!" sungut Luhan. Ia pun mengembalikan fokusnya pada Chanyeol lagi.

Tanpa Luhan sadari, Sehun terkekeh dengan kelakuan Luhan. Ia tak menyangka bahwa ia benar benar menyukai bibir ranum Luhan mengerucut seperti itu, membuatnya ingin meraup habis bibir itu. Oh tidak! Pikiran Sehun tak pernah beres jika sudah ada Luhan di dalamnya.

Tetapi, kekehan Sehun berubah menjadi sebuah dengusan sebal saat ia merasa di abaikan karena Luhan lebih suka melihat Chanyeol ketimbang dirinya, "Apa sih hebatnya Chanyeol hyung? Jika hanya bermain basket saja, aku pun bisa."

"Chanyeol berbeda, ia terlihat tampan saat tubuhnya di banjiri keringat karena bermain basket." Luhan tersenyum idiot membuat Sehun merasa kesal sendiri.

"Asal kau tahu! Aku jauh lebih tampan!"

Luhan segera menoleh pada Sehun dan memasang tatapan menilai, membuat Sehun sedikit gugup mendapatkan tatapan seperti itu. Sialnya, Jantung Sehun berdetak cepat seperti pacuan kuda perang. Ya Tuhan! Sehun merasa ingin pingsan sekarang.

Dan semua kegugupan Sehun hilang berganti kekesalan yang luar biasa saat Luhan bersuara, "Menurutku Chanyeol lebih tampan darimu dari segi manapun."

Demi bokser Sehun yang bergambar spongebob! Luhan benar benar membuatnya menjadi pria terjelek didunia. Tak tahukah Luhan bahwa Sehun adalah satu dari dua puluh lima lelaki idaman di sekolah? Ya walaupun Chanyeol ada di peringkat satu dalam lelaki idaman sekolah.

Sehun pun tiba tiba menarik tangan Luhan dan membawa jemarinya menyentuh pipinya, dan matanya menatap dalam mata Luhan, "Tatap aku, lihat aku." Perintahnya.

Beberapa detik dalam keadaan seperti itu, tiba tiba pipi Luhan memanas. Ia menunduk dalam merasa malu karena tiba tiba hatinya merasa aneh, ia tak menyangka bahwa Sehun terlihat sangat tampan dalam jarak dekat seperti tadi.

"Bagaimana? Aku tampan kan?" tanya Sehun dengan kekehan keras, ia melihat dengan jelas wajah Luhan yang memerah malu karena menatapnya.

"Hm," Luhan menggigit bibir ranumnya malu, ia pun segera menatap Chanyeol kembali dengan wajah yang sangat memerah. Kekehan Sehun makin keras dibuatnya.

Tanpa Sehun dan Luhan sadari, ada sepasang mata yang menatap mereka dengan sorot mata penuh kebencian.


Sorakan histeris dari beberapa siswi terdengar saat Chanyeol dengan kerennya mendrabble bola basket dan memasukkannya ke dalam ring dengan gaya yang sangat cool. Tetapi sorakan mereka semakin histeris saat Chanyeol melakukan pose Love dengan senyuman tampan yang memperlihatkan salah satu lesung pipinya.

Oh tidak! Chanyeol benar benar membuat para siswi pingsan karenanya.

Ya itulah Chanyeol, pencuri hati para gadis. Ia adalah kapten basket yang merangkap menjadi ketua osis, dengan wajah yang sangat tampan seperti dewa yunani dan gaya yang sangat bijaksana seperti seorang lelaki dewasa. Oh sangat sempurna bukan?

Tetapi tiba tiba, terdengar suara menginterupsi membuat sorakan beberapa siswi berhenti, "Chanyeol sunbae! kau di panggil guru Choi di ruangannya." itu adalah suara seorang anak osis yang berjalan menghampirinya.

"Huh! kau merusak suasana saja!" protes beberapa siswi pada Jaehyun si anak osis itu.

Jaehyun hanya menaikkan bahunya acuh, dia pun menatap Chanyeol lagi, "Guru Choi meminta sunbae menemuinya sekarang juga."

"Baiklah." Kepala Chanyeol mengangguk, ia pun melempar bola basktenya pada Jaehyun.

Dengan langkah cepat ia pun berlari menuju tempat ganti untuk mengganti kaos olahraganya dan menemui guru Choi. Para siswi hanya mendesah kecewa melihat kepergian Chanyeol.

Raut wajah Chanyeol berubah tegang, dan diameter matanya membesar ketika ia memasukki ruangan guru Choi. Seorang kakek dengan senyuman tampan yang berwibawa dan sorot mata tajam penuh ketegasan menyambutnya. Chanyeol mengenalnya, dia adalah Byun Seunghyun, pemilik sekolah SM High School dan pemilik perusahaan Byun corp. Demi apapun! Chanyeol tak percaya bisa menemui orang yang di hormati di Korea itu dengan langsung.

"Mr. Park Chanyeol?" tanyanya dengan suara lembut dan berat. Ia pun mempersilahkan Chanyeol duduk disofa kosong ruangan itu, "aku tak menyangka kau setampan ini." sepertinya Tuan Byun sedang bercanda, tetapi sama sekali tak terlihat seperti sedang bercanda.

Chanyeol sedikit canggung karena candaan dan tatapan menilai Tuan Byun, "K-kenapa Tuan memanggilku kesini?"

"Memangnya tidak boleh seorang kakek merasa penasaran dengan kekasih cucu kesayangannya?" tanyanya dengan senyuman yang sangat meneduhkan.

Kecanggungan Chanyeol makin bertambah ketika mendengarnya, ia sungguh tak percaya bahwa kakek Baekhyun akan tahu mengenai hubungan sepihak mereka. Ya ampun! Entah mengapa Chanyeol menjadi takut jika Tuan Byun tahu kalau Baekhyun tak setuju dengan hubungan mereka.

"Aku senang akhirnya Baekhyun sudah memiliki kekasih dan kekasihnya adalah seorang ketua osis yang terkenal bijak sepertimu."

"Hm, anu sebenarnya-" dengan ragu, Chanyeol berusaha jujur, "sebenarnya hubunganku dan Baekhyun hanyalah hubungan sepihak."

Kekehan Tuan Byun terdengar, "Lalu? Apa itu sebuah masalah?"

"Hah?" alis Chanyeol berkerut tak mengerti.

"Pertahankan hubunganmu dengan cucuku dan buatlah dia bahagia." ucapnya dengan wajah serius. Entah mengapa tubuh Chanyeol menegang, ia baru sadar bahwa dengan melihat keseriusan wajah Tuan Byun sepertinya pria itu sangat menyayangi cucunya, "Aku sangat mengenal cucuku seperti apa dan aku yakin kau pantas dengan cucuku."

Tak ada jawaban dari Chanyeol, Tuan Byun pun bersuara kembali, "Jangan menyakiti cucuku atau kau akan menerima konsekuensinya."

Dan setelah itu, Chanyeol diizinkan keluar dari sana dengan gontai. Ia tak menyangka bahwa hubungannya dengan Baekhyun akan serumit ini, karena kakek Baekhyun mengetahui segalanya.

Semoga saja tidak ada hal yang buruk karena hal ini.


"Master of tawuran sepertimu ternyata bisa ku kalahkan juga." Yongguk terkekeh, sedangkan Baekhyun menatapnya tajam.

"Itu hanya dalam games." Jawab Baekhyun santai namun dingin.

Beberapa bungkus rokok, snack, dan kaleng bir berserakan di depan Baekhyun dan Yongguk. Kedua lelaki itu sedang menikmati waktu sore dengan hal tak bermutu seperti ini, dan sialnya semua ini adalah traktiran dari Baekhyun karena kekalahannya.

Langit sudah menjingga dan tak ada satupun dari mereka yang ingin beranjak. Keduanya sudah nyaman duduk di sebuah sofa usang di atas atap gedung tua tak terpakai dengan menghisap satu batang rokok dan mata yang menerawang menatap keramaian kota.

Sepertinya hanya untuk saat ini saja kedua orang itu tidak bermusuhan.

"Seandainya setiap hari aku bisa merasakan kenyamanan seperti ini tanpa harus sekolah dan bertemu si idiot." suara Baekhyun memecah keheningan.

Yongguk menoleh merasa tertarik, "Idiot?"

"Hm," kepala Baekhyun mengangguk kecil, "kau tahu Park Chanyeol kan? Ketua osis sekolahku."

Decihan Yongguk terdengar, "Kau takut padanya? Pengecut!"

Sebuah korek gas terlempar mengenai kening Yongguk, tatapan dingin dari Baekhyun terlihat, "Brengsek! Jika kau menjadi aku pasti kau tidak ingin bertemu dengannya."

"Memangnya apa yang ia lakukan padamu eoh?"

Baekhyun terdiam lama menyiapkan mentalnya untuk mengucapkan kenyataan pahit yang menimpanya, ya walaupun Chanyeol adalah lelaki idaman di sekolahnya, Baekhyun masih waras untuk tak menyukai lelaki yang notabenenya sebagai musuh, "Dia terus saja mengklaimku sebagai pacarnya."

Dan rahang Yongguk seketika jatuh, ia menganga tak percaya dengan ucapan Baekhyun, "C-chanyeol yang digilai wanita itu? mengklaimmu? Gila!"

"Ya itulah faktanya, sebenarnya aku ingin kau membantuku untuk menyingkirkannya dalam hidupku."

"Kita bersekutu eoh?"alis Yongguk berkerut heran. Kepala Baekhyun hanya mengangguk acuh.

Yongguk menyetujui permintaan Baekhyun, "Baiklah, lagi pula aku tak menyukai Chanyeol si ketua osis sok bijak itu."

Baekhyun pun menyeringai setan, dan setelahnya Baekhyun menghisap batang nikotin di sela jemarinya kuat kuat dan menghembuskan kepulan asap dari mulut dan hidungnya, "Kau harus menerima konsekuensinya karena membuat masalah denganku, Park!" ucapnya dingin.

Oh tidak! Bagaimana nasib ketua osis tampan kita selanjutnya?

.

.

.

TBC


YALORD! AKHIRNYA BISA NEXT! SORRY FOR ALL KARENA LAPTOP GUA RUSAK HIKS, INI BARU DI SERVICE!

MAAF BANGET KEPENDEKAN HUHUHU.

oke, capsloks jebol dan curcol dadakan wkwk.

BTW CONGRATSSS BUAT EXO.. hiks hiks, gak nyangka udah dapet daesang ke 4 di Seoul Music Award. Duh, gimana mau unstan coba? mereka itu daebak banget huhuhu :*

Makasih banget buat Review, Favorite, and Follows nya :)) aku mencintai kalian wkwkwk

Maaf gak bisa sebutin satu satu, udah malem lagi pula maljum wkwk.