Playlist
Songfict(s) by Kimnamjineu
PD101S2 / Wanna One Pairings.
BL. YAOI. Bahasa campur aduk seperti biasa(?), Typo(s). DLDR.
Selamat membaca!;D
.
.
I know you know
Jinseob
[Park Woojin x Ahn Hyungseob]
.
.
I don't really know
I'm just feeling complicated
Even when all my senses are fully mobilized
It's difficult, you're out of my league
Woojin terbangun. Mendapati sinar mentari mulai menembus tirai jendelanya; menusuk hingga matanya yang masih terpejam erat. Tangannya mengucek kedua kelopak matanya yang terasa silau.
Kedua netranya mulai terbuka; Mengedip-ngedip. Membiasakan cahaya yang memasuki indra penglihatannya. Dengan segera, ia mendudukan tubuhnya. Diregangkannya otot-otot tubuhnya yang terasa kaku setelah tidur semalaman.
Menguap pelan; dengan mata yang sayu dan tubuh yang masih lemas, ia meraih ponsel yang berada di nakas didekatnya. Melihat tanggal dan jam yang tertera.
Minggu, 16 April, 07:06 am.
Senyuman merekah pada wajah kusut Woojin. Dikuncinya kembali benda pesergi pipih digenggamannya, lalu melemparnya ke sisi kasur yang kosong. Dengan semangat, ia turun dari kasurnya dan bergerak semangat. Sedikit melakukan peregangan lagi karena ototnya masih terasa kaku walau beberapa saat yang lalu ia sudah meregangkannya.
Baby, I get it but then I don't, I can't handle
Baby, you're coming but then you don't, you're cheating
You're like an endless mirage
Oh, I can almost grab you but you're not so easily grabbed
Setelah melakukan peregangan pada otot tubuhnya, Woojin berlari kecil menuju kamar mandi dengan handuk yang tersampir dibahu kirinya. Sambil bersenandung kecil, Woojin masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Woojin bukan seseorang yang senang bangun pagi apalagi di weekend seperti ini. Sebuah rekor untuknya, terbangun pukul tujuh pagi dengan senyuman lebar yang tidak berhenti nampak dari wajahnya. Park Woojin nampak berbeda hari ini.
Dan alasan dibalik perubahannya hari ini adalah— kencan dengan Ahn Hyungseob.
Incaran Woojin semenjak keduanya masih duduk di sekolah menengah pertama. Orang yang dikejar Woojin selama lima tahun belakangan ini. Yang selalu mendapatkan perhatiannya, namun balasan yang didapat Woojin adalah 'tarik-ulur' dari Hyungseob.
Somehow due to your shaky eyes
I instinctively get a hunch
I think all of me got caught
I think he knows what
I'm about to say
Honestly
Hyungseob itu membingungkan. Batin seorang Woojin sering berkata demikian.
Bagaimana tidak?
Ada kalanya Hyungseob tersenyum cerah, membalas pelukan Woojin padanya dan tertawa dibawah teriknya matahari berdua. Membalas gombalan mainstream seorang Woojin namun dengan nada yang jenaka. Nampak seperti pemuda yang bersedia membuka hatinya untuk Woojin.
Namun tidak jarang pula, Hyungseob berubah menjadi seseorang yang pendiam dan dingin; menghindari tangan Woojin yang ingin membawanya kedalam rengkuhan hangat. Membuang muka ketika Woojin menggombalinya dan berkata bahwa ia menggelikan.
Terkadang, Woojin merasa bahwa Hyungseob nampak labil dan bermain tarik ulur pada dirinya. Seakan sedang mengamati apakah pemuda gingsul tersebut serius dengannya. Jujur saja, Woojin sempat merasa lelah karena permainan tarik ulur ini tidak hanya berjalan sebentar. Namun tentu saja, rasa sayang yang besar membuat dirinya tidak ingin menyerah begitu saja.
Seorang Woojin mungkin memang merasa bahwa Hyungseob seakan mempermainkannya; namun, ia tentu sangat sadar akan suatu fakta.
Pupil mata Ahn Hyungseob selalu membesar saat menatap Park Woojin.
You're a little different today
You keep glancing at my eyes
I know you know
This certain feeling
It's telling me you're the same as me
You can't hide it
Woojin telah selesai mandi dan mulai bersiap. Ia membutuhkan waktu sekitar lima belas menit hanya untuk mencari pakaian yang cocok dalam kencannya kali ini. Ia bukanlah tipe yang peduli dengan penampilan; namun lagi-lagi, seorang Hyungseob mengubah dirinya.
Kaus supreme putih dipadu dengan kemeja kotak-kotak katun biru—yang sengaja dibuka semua kancingnya—, ripped jeans berwarna biru langit yang membalut kedua tungkainya, serta sepatu slip-on dongker menjadi pilihan untuk tubuhnya kali ini. Disisirnya helai merah dikepalanya agar nampak rapih.
Setelah merasa siap, Woojin memakai arloji dipergelangan tangan kirinya. Dipandangnya bayangan tubuhnya di cermin. Ia menyeringai; merasa sangat menawan hari ini.
Dengan segera, diambilnya ponselnya untuk dimasukan kedalam saku jeansnya. Ia kemudian bergegas meninggalkan rumah dengan motornya; menuju rumah sang pujaan hati.
With those eyes
Evidently looking at me is cheating
You have the
Master Key that knows how to handle me
"Sudah siap?" Tanya Woojin begitu melihat Hyungseob berdiri didepan pagar. Yang ditanya mengangguk santai, lalu tersenyum tipis.
"Tidak biasanya kau serapih ini," ejeknya. Woojin hanya tersenyum; memamerkan gingsulnya. "Karena hari ini spesial. Setelah sekian lama aku memintamu untuk berkencan denganku, akhirnya kau setuju."
Hyungseob memukul pelan lengan Woojin. "Berlebihan. Kita sudah pernah kencan sebelumnya," Yang dipukul meringis pelan, lalu menatap Hyungseob yang sedang berjalan mendekati motornya. "Kau sebut itu kencan ketika kita tidak hanya berdua? Oh ayolah, selama ini kita memang sering berjalan bersama, namun tidak berdua saja, kan?"
"Kupikir itu sama saja," Hyungseob mengendikkan bahunya. Mengambil helm yang disodorkan Woojin, lalu menaiki kursi belakang motornya.
"Terserah saja," Woojin mulai menyalakan motornya. "Sudah? Pegangan, jaga-jaga kalau nantinya aku mengebut," Sambil melirik kaca spion; ia memastikan Hyungseob sudah memakai helmnya dengan benar dan duduk dengan aman.
"Sudah," Hyungseob memeluk pinggang Woojin. "Jangan terlalu cepat, kalau kecelakaan saat kencan kan, tidak enak."
"Siap!" Woojin tersenyum, lalu mulai melajukan motornya dengan kecepatan normal.
Hyungseob memang pandai membuat Woojin menekuk lututnya; menuruti segala keinginannya.
Stop furthering back and come close
Stop feigning ignorance and hurry over to me
Tell me baby I know you know
I like this more
Let me know everything baby come on
Setelah dua puluh lima menit menaiki motor, kini Woojin memarkirkan motornya di parkiran. Setelahnya, keduanya turun lalu melepas helmnya.
Woojin menggantung helmnya di gantungan untuk barang. Hyungseob masih sibuk melepas kaitan helmnya. Ia nampak kesusahan.
"Sulit, ya? Sini, aku bantu." Woojin memajukan tubuhnya, lalu membantu Hyungseob. Tangan keduanya bersentuhan. Woojin masih sibuk dengan kaitan helm Hyungseob; sedangkan yang dibantu terdiam. Pipinya terasa memanas. Jarak diantara keduanya sangat dekat, ditambah Woojin yang tidak sengaja menyentuh tangannya.
"Nah, sudah." Pemuda bergingsul tersenyum; melepaskan helm dari kepala sang pujaan hati. Yang disenyumi menunduk, berusaha menutupi pipinya yang memerah.
"Pipi kamu kenapa? Kok merah?" Heran Woojin sambil menaruh helmnya diatas kaca spion, "Kamu malu ya? Jadi sekarang kamu suka sama aku juga?"
"A-apa sih," Hyungseob membuang mukanya, "Sudah ayo! Aku ingin segera melihat festivalnya," Ia buru-buru berjalan meninggalkan Woojin yang masih tersenyum lebar.
"Ayo! Pelan pelan jalannya, Hyungseob," Woojin mempercepat langkahnya; menyamakan dengan Hyungseob. Setelahnya, ia memandang Hyungseob dari samping. Memperhatikan wajah pemuda disebelahnya yang masih tersipu.
"Jangan berperilaku seakaan kau tidak menyukaiku, Hyungseob," Ia menyeringai. "Bahasa tubuhmu tidak bisa berbohong,"
A moment where even breathing is silent
You, who has no exit comes to me
I want to be trapped inside forever
Like a child without an answer
I get more drawn into you
Without me knowing
Saat ini, Woojin dan Hyungseob sedang berjalan menyusuri festival bersama. Saling melemparkan candaan disela kegiatan keduanya. Kadang, mereka berhenti disebuah booth permainan atau makanan yang menarik perhatian.
"Woojin, aku ingin sayap ayam bumbu pedas itu," Hyungseob menunjuk kedai makanan yang nampak agak ramai didepan mereka. "Sepertinya lezat. Aku dapat mencium baunya!"
"Tapi itu pedas, Hyungseob," Woojin menatap Hyungseob ragu. "Nanti kalau perutmu sakit, bagaimana?"
"Tidak akan!" Hyungseob menarik tangan Woojin. "Sudah ayo! Aku berjanji tidak akan makan terlalu banyak sampai sakit perut. Kajja~" Yang ditarik menggelengkan kepalanya pelan.
"Apapun untukmu," pasrah Woojin akhirnya. Hyungseob memekik senang lalu kembali menarik tangan Woojin sambil mempercepat langkahnya. "Ayo cepat! Aku ingin sekali~"
Woojin ikut mempercepat langkahnya. Lalu keduanya sampai dikedai tujuan Hyungseob. Dengan semangat, Hyungseob memesan beberapa potong sayap ayam keinginannya.
Woojin hanya terdiam, menyaksikan Hyungseob dengan semangatnya yang menggebu. Kilatan matanya, senyuman lebar dibibirnya, pipinya yang ikut tertarik keatas karena ujung bibirnya naik—membuat Woojin semakin terpana.
Ia mengagumi Hyungseob. Ekspresinya yang bermacam-macam, bentuk tubuh dan wajahnya yang indah, rambut hitam kelamnya yang selalu wangi— apapun. Apapun yang berada didalam diri Hyungseob, akan membuat Woojin semakin jatuh kedalamnya.
Hyungseob sangat mempesona.
Even if you pretend it's not
Boy I know you know
I know you know
You're only looking at me
Boy I know you know
It's too obvious
"Woojin, cari tempat duduk, yuk?" Pinta Hyungseob. Mulutnya masih sibuk mengunyah sayap ayam yang dibelinya beberapa menit yang lalu. Woojin menoleh untuk menatap Hyungseob, lalu mengangguk.
"Ayo, kau lelah, ya?" Woojin mengacak pelan rambut pemuda disampingnya, "Didepan sepertinya ada kursi kayu untuk duduk. Ayo kesana, Hyungseob," Kemudian, ia merangkul pemuda Ahn tersebut.
Pipi Hyungseob kembali memanas. Ia sedikit menunduk, lalu buru-buru mengambil potongan sayap ayam yang berada di plastik genggamannya. Mengunyahnya dengan cepat; menahan rasa malunya.
Woojin melirik Hyungseob yang nampak malu ketika ia merangkulnya. Woojin terkekeh pelan, lalu tersenyum lembut.
"Pelan-pelan, makannya. Aku tidak akan mengambil, tenang saja." Pemuda bersurai merah tersebut mengedipkan sebelah matanya pada Hyungseob.
Yang mendapat kedipan membuang mukanya. Wajahnya sudah semerah kepiting rebus.
Woojin menyeringai.
Oh ayolah, Hyungseob. Bukannya ini sudah nampak jelas?
Just don't avoid it
Boy I know you know oh yeah
Stop making me anxious and come
I know you know
"Hyungseob, ingin minum?" Tawar Woojin dengan botol air mineral digenggamannya. Hyungseob menoleh, lalu mengangguk cepat. Disambarnya minuman digenggaman Woojin.
"Pedas sekali," Hyungseob memajukan bibirnya setelah tenggorokannya kembali basah, "Aku tidak menyangka ayamnya akan sepedas ini,"
"Aku sudah bilang tadi," Woojin menatap Hyungseob khawatir, "Apa perutmu sakit?"
"Tidak, hanya saja, bibirku panas," Hyungseob masih memajukkan bibirnya. Woojin menggeleng pelan; berusaha menahan rasa gemasnya. "Yasudah, minum saja lagi. Kalau habis, nanti aku belikan yang baru."
Hyungseob tersenyum lebar. "Terima kasih, Woojin!"
"Sama-sama," Woojin berdeham, menjeda ucapannya. "Jadi, kau sudah terpesona denganku, kan?"
"A-apa sih, terlalu percaya diri," Untuk ketiga kalinya hari ini, wajah Hyungseob bersemu. "Jangan terlalu pede,"
"Aih, kenapa kau tsundere sekali sih? Akui saja, Hyungseob."
Setelahnya, kepala Woojin dijitak dengan keras.
My heart that has already grew big
It can't be stopped
Do I really have to say it for you to know
I understand why you're asking
Setelah merasa cukup beristirahat, kedua pemuda tersebut melanjutkan kegiatan menyusuri festival. Kali ini, keduanya lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain berbagai macam permainan.
"Ayo, Woojin! Tembak boneka kelinci itu!" Hyungseob menyemangati Woojin yang sedang memegang pistol. Woojin tersenyum begitu menyadari kemenangan sudah didepan matanya.
Woojin melepaskan tembakannya menuju boneka kelinci yang diinginkan Hyungseob. Bidikannya tepat sasaran; boneka kelinci putih tersebut jatuh. Hyungseob memekik senang lalu meloncat rendah.
"Yay! Terima kasih, Woojin!" Hyungseob memeluk Woojin refleks. Senyuman lebar mengembang dibibirnya.
Woojin sedikit terhuyung ketika Hyungseob tiba-tiba menerjangnya. Untungnya, pertahanan Woojin cukup bagus. Ia mengelus surai kelam milik pemuda yang memeluknya, "Sama-sama. Itu bonekanya tidak diambil?" Kekeh Woojin.
Hyungseob membelalakan matanya begitu sadar bahwa ia memeluk Woojin. Buru-buru dilepaskannya tubuh Woojin dari pelukannya. Ia berdehem canggung, lalu mengambil boneka kelinci yang sudah berada dihadapannya.
"Sudah puas?" Tanya Woojin. Yang ditanya mengangguk, lalu kembali tersenyum lebar. Tangannya sibuk memeluk boneka kelinci barunya.
"Sudah ingin pulang?" Hyungseob menggeleng pelan begitu mendengar pertanyaan Woojin. "Sebentar lagi, kita belum melihat bunga bermekeran, Woojin."
Woojin mengangguk pelan. "Baiklah, ayo ke bagian bunga-bunga,"
"Eum," Hyungseob kemudian menggigit bibirnya ragu. "Ayo. Tapi sebelumnya, aku ingin bertanya."
"Apa? Tanyakan saja," Woojin tersenyum lembut.
"Apa kau.. sungguh-sungguh menyukaiku?"
"Tentu saja. Aku sudah menunggumu semenjak lima tahun yang lalu, Hyungseob." Woojin mengerutkan dahinya; bingung dengan pertanyaan acak Hyungseob.
"Kalau begitu, aku ingin bicara sesuatu, Woojin.."
Now we're a little different
It's certain that you want me too
I know you know
This feeling that matches with you
You know you were gonna say it too
Come even closer
"Nah, kau ingin bicara apa?"
Kini, keduanya sudah duduk di rerumputan yang berada dibawah pohon sakura. Saat ini musim semi; bunga-bunga mulai bermekaran dengan indahnya. Hyungseob yang semula mendongak memperhatikan keindahan pohon sakura diatasnya, kini buru-buru menunduk begitu mendengar pertanyaan Woojin.
"Jin.." Hyungseob menghela nafasnya. Mengumpulkan keberanian untuk berbicara pada Woojin. Woojin menatap Hyungseob; menanti pemuda Ahn tersebut dengan wajar.
"Kau tahu.." Setelah merasa cukup mendapat keberanian, Hyungseob mendongakkan kepalanya; lalu menatap Woojin. "Sudah lima tahun ini, aku tidak memberikanmu kepastian."
Woojin mengangguk. Masih terdiam, sambil menanti pujaan hatinya melanjutkan ucapannya. "Dan inilah saatnya, aku memberikanmu sesuatu yang seharusnya sudah kau dapatkan semenjak lama, Woojin."
Woojin mengerutkan dahinya. Belum mengerti tujuan Hyungseob.
"Woojin, aku harap hingga saat ini, kau masih menantiku." Pipi Hyungseob mulai memerah kembali, "Karena.. Aku akan membalas perasaanmu."
"Ya, Woojin.. Aku juga menyukaimu,"
Woojin terdiam sebentar. Tak lama kemudian, matanya membelalak.
"Sebentar, aku tidak salah dengar, kan?" Woojin mengerutkan dahinya; memastikan pendengarannya tidak bermasalah.
"Tidak.. Aku sungguh-sungguh menyukaimu!" Hyungseob buru-buru menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Habis sudah keberaniannya.
Woojin tersenyum lebar. Buru-buru membawa Hyungseob kedalam rengkuhan eratnya. "Akhirnya.. Kita resmi sekarang,"
Yang dipeluk menggangguk pelan, lalu tersenyum manis. "Ya, maaf sudah menunggu terlalu lama, Woojin." Ia membalas pelukan sang surai merah.
"Tidak masalah," Woojin tertawa ringan, "Aku tidak bermimpi kan?"
"Tidak, ini nyata," Hyungseob mendongakkan kepalanya, meyakinkan Woojin bahwa saat ini adalah nyata. "Aku betul-betul berada direngkuhanmu dan membalas perasaanmu, Woojin."
"Syukurlah," Woojin mengecup ubun-ubun Hyungseob pelan. Kemudian, ia sedikit meregangkan pelukan keduanya.
"Ingin pulang sekarang? Atau jalan-jalan dulu keliling Seoul?"
"Jalan-jalan!" Pekik Hyungseob semangat. Woojin terkekeh, mengacak surai kelam sang kekasih barunya dengan gemas. "Ayo," Ia lalu berdiri; menyodorkan tangannya pada Hyungseob.
Hyungseob mengangguk, lalu meraih tangan Woojin. Menggenggamnya erat, berjalan meninggalkan festival bersama.
Akhir pekan yang menyenangkan.
I know you know!
End of I Know You Know Chapter
Author's note ;
Hai yeorobun, kembali lagi dengan saia!Maaf kelamaan nunggu ya. Kali ini aku bawa Jinseob. Maaf kalau gaje atau nggak ngefeel, aku nulis ini sempet keganggu konsentrasi(?) Karena tanganku yang tiba tiba kram pas nulis. Kuharap kalian suka, ya. Disini juga ceritanya plotless, yang ada dibenakku cuma inti lagu ikyk yang katanya tentang perasaan seorang pria yang pergi kencan pertama (dari subtitle tvn), jadi aku tulis begini.
Maaf juga kalau aku bawanya Jinseob duluan bukannya Deepwink. Soalnya aku udah janjiin di wattpad untuk bawa Jinseob duluan, dan beberapa pada pm aku untuk riqwes Jinseob. Jadi, i bring Jinseob first.
Oh ya, wannaonego udah dibuka ya? Gengs jangan lupa vote Ongniel atau Deepwink, ya! Biarkan kapal kita yang masih ada berlayar :')) (kenapa deepwink? Karena aku jujur nggak suka panwink, hehe. Menurutku Guanlin milik Seonho seorang dan Jihoon milik Jinyoung seorang.)
Next chapter, aku janji untuk bawa Deepwink. Lestarikan Deepwink! Layarkan Deepwink!
Dan karena masih ada 4 lagu lagi yang belum aku tambahkan : Pick Me, Always, Hands on me, Super hot.. (Deepwink sudah dipastikan akan mendapat lagu open up); kalian punya saran kah siapa pairing yang ingin ditambahkan?
Rencananya aku mau masukin Hakwoong, Howons, Jungtin (thanks buat vayazz najjeminna yang ngasih tau aku nama pairing mereka!;)), dan Minhyunbin (karena request munbyuli (guest), aku juga demen MinHyunbin hehe;). Setuju kah?
Naiseuji juga request kentaki (serius, aku langsung merhatiin mereka lagi abis baca review kamu. Dan yeah, MEREKA COCOK SEKALI ASTAGA. Sama sama ceria dan clingy gitu, gemes!),
Dan nunumanto99 yang request dongpaca (YAHAH, MEREKA LOWKEY OTP AKU LOH!). Aku usahain bikin ff mereka juga ya, tapi lagunya, ada saran kah? Gapapakah kalau aku pakai lagu selain lagunya pd101s2?;-;
Oh ya, makasih juga untuk kalian yang mereview;
Kwonfire19 / baekhsarang / armyeonn / jaeminnanana / hellopeaches / naiseuji / 17dollars / kimchenmin / najjeminna / haniyaa (guest) / kaisooppa / nunumato99 / bbypop / karen ackerman / kjmnwn / munbyuli (guest) / vayazz (halo, kayanya aku nggak buat sequel ya. Karena ini songfict banyak otp. Tapi nanti aku coba usahakan kalau semua otp udah kebagian ya :) )
Percayalah, aku suka sekali baca review kalian. Nambah semangat! Sering-sering mampir ya~
Sekian dulu cuap-cuapnya. Part deepwink aku usahakan nggak sampai seminggu ya ;)
Love,Kimnamjineu.
