-CHAPTER 4-

Tiga anbu berjalan di koridor kantor Hokage lalu mengetuk pintu ruang kerja pimpinan Konoha tersebut. Sebuah kata terdengar dari dalamnya, menandakan bahwa ketiga anbu itu diizinkan untuk masuk. Mereka pun membuka knop pintu dan melihat bahwa seorang wanita berambut pirang panjang sedang berdiri, memandangi keadaan desa dari balik kaca jendelanya.

"Godaime Hokage-sama," panggil salah satu anbu.

Wanita itu berbalik, memperlihatkan wajahnya yang tampak muda walaupun umurnya sudah berkepala lima. "Ninja Otogakure datang menyerang?" tanyanya walau ia sudah tahu jawabannya, hanya untuk memastikan.

"Ya. Dan mereka datang dalam jumlah ribuan!"

Tsunade, begitu bunyi tulisan di depan meja kerja yang merupakan nama wanita itu, menunjukkan amarahnya dengan memukul meja. Walau pelan, tapi cukup untuk membuat meja tersebut retak disana-sini. "Orochimaru...," desisnya, "Dia telah melanggar keputusannya sendiri."

"Seluruh anbu, jounin, dan chunnin sudah mulai terjun dalam pertarungan sesuai dengan rencana sebelumnya."

"Baiklah, pertahankan kekuatan Konoha! Aku dan ninja medis lainnya akan mempersiapkan obat-obat dan pertolongan."

"Baik!"

Ketiga anbu itu mulai berlari meninggalkan ruang Hokage. Sedangkan Tsunade bersama seorang gadis juga keluar dan bergabung dengan ninja medis lainnya.

"Sakura, segera kumpulkan obat-obatan yang disimpan di rumah sakit!" perintah gadis tersebut pada seorang ninja medis berambut merah muda.

"Ya, Shizune-san!" Sakura mengangguk dan mulai melaksanakan tugasnya.

Di waktu yang bersamaan, tak jauh dari tempat itu, Shikamaru bersama teman-teman chunnin-nya berusaha melawan ninja Otogakure yang sudah semakin berkurang jumlahnya.

"HIAAH!" teriak pemuda berponi sambil mengayunkan kakinya ke arah kepala seorang musuh. Hebatnya, tendangan itu mampu membuat si musuh terpental berpuluh-puluh meter hingga jatuh dengan mengenaskan.

"Hebat! Kau memang ahlinya taijutsu, Lee!" komentar seseorang yang ada si sampingnya. Ia berkomentar sambil melempar tubuh musuh yang sudah babak belur karena dipukulinya.

"Terima kasih, Neji," kata Lee tersipu. "Hei, awas!"

Neji menoleh ke arah yang ditunjuk Lee. Sebuah 'bola' besar berputar dengan cepat ke arahnya.

"Nikudan Sensha!" teriak 'bola' itu.

Lee dan Neji meloncat menghindar, hingga membuat si 'bola' mengenai barisan musuh yang tak sempat menghindar. Terjadilah sebuah tontonan bowling gratis yang spektakuler!

"Yey! Berhasil!" si 'bola' mulai berubah menjadi bentuknya semula yang ternyata adalah Chouji.

"Kau ini mengagetkan kami saja, Chouji! Hampir saja jurusmu tadi mengenai kami!" protes Lee.

"Hehehe... Maaf. Em, makan dulu ah!" Chouji merogoh sakunya dan mengeluarkan sebungkus kripik kentang. Satu persatu ia masukkan ke mulutnya. Neji dan Lee hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya, sampai akhirnya seorang berambut nanas datang dan menegur mereka.

"Hei kalian, ayo jangan santai-santai! Walaupun musuhnya sudah tinggal sedikit, kita harus secepatnya menyelesaikan ini, agar aku bisa segera tidur."

"Haah...tidur lagi tidur lagi." Lee kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. "Oke deh, kita lanjutkan pertarungan ini. Ayo, bangkitkan semangat masa mudanya!"

Namun saat mereka hendak beranjak untuk kembali bertarung, puluhan ninja Otogakure lain datang dengan melemparkan shuriken bersamaan.

"Cih!" Neji menghindar, diikuti dengan tiga teman lainnya. "Kelihatannya kita memang tak boleh menganggap remeh musuh kita."

Akhirnya, keempat chunnin itu kembali melawan musuh mereka bersama.

Sementara itu di lain tempat, ketiga pemuda lain juga sedang bertarung. Berusaha untuk selalu kompak, mereka saling melengkapi dalam lemparan senjata maupun jurus.

"Naruto, shuriken!" teriak Itachi.

Hup! Naruto bersama sepuluh bunshin-nya melempar shuriken masing-masing dan berhasil mengenai puluhan ninja Otogakure. Namun ninja-ninja itu masih dapat berdiri. Tak disangka-sangka, Sasuke muncul dan membentuk beberapa segel di tangannya.

"Katon! Goukakyou no jutsu!" teriaknya, dan semburan api keluar dari mulutnya, bergerak lurus ke arah puluhan ninja tersebut kemudian membakarnya. Ternyata shuriken-shuriken itu sudah diikat dengan tali yang tak terlihat sehingga api dari jurus Sasuke tadi dapat merambat dan tepat mengenai sasaran.

"Kerja bagus, Naruto, Sasuke! Sekarang giliranku." Itachi menutup mata kirinya sejenak lalu membukanya, memperlihatkan mata sharingan yang berubah menjadi seperti bentuk shuriken. "Amaterasu!"

Boff! Api berwarna hitam muncul dan membakar semua yang ada di hadapannya. Aktifitas ninja-ninja Otogakure yang tersisa pun lumpuh seketika, tubuh mereka terkapar tak berdaya.

"Uwah! Aku suka kekompakan seperti ini!" pekik Naruto ceria.

"Jelas saja, Naruto. Karena inilah kelebihan ninja Konoha yang sesungguhnya, selalu berusaha kompak dalam membela desanya," kata Itachi yang tersenyum sambil merubah matanya kembali hitam. Api hitam bernama amaterasu itu berusaha dipadamkan Itachi dengan sebelah matanya yang memang mempunyai kemampuan memadamkan amaterasu. Dan akhirnya amaterasu itu padam, walau membuat mata Itachi nyeri.

"Akhirnya selesai sudah." Sasuke terduduk dan melakukan sedikit peregangan.

"Apa benar ini sudah selesai?"

Suara berat yang terdengar mendesis seperti ular mengejutkan mereka. Sasuke dan Naruto terbelalak melihat pemilik suara tersebut—yang ternyata adalah seorang pria bermata ular—sedangkan Itachi menatapnya marah.

"Orochimaru," panggilnya dengan penuh kebencian. Sasuke dan Naruto hanya berpandangan bingung.

"Khukhukhu..." pria berambut panjang yang dipanggil Orochimaru itu tersenyum sinis. "Kau Uchiha Itachi, kan? Anak pertama dari Uchiha Fugaku?"

Itachi tetap melemparkan tatapan tajamnya pada Orochimaru, membuat senyum pria itu semakin mengerikan. Sangat aneh! pikir Naruto.

"Hm, ternyata benar, kau adalah Itachi. Dan...," Orochimaru melirik ke arah Sasuke, "kau pasti adiknya, kan? Uchiha Sasuke?"

Sasuke hanya menatap bingung Orochimaru. "Aniki, siapa Orochimaru itu?" bisiknya pada Itachi.

"Dia adalah salah satu dari Legenda Sannin. Dialah yang membuat orang tua kita dan ibu Naruto meninggal karena ulahnya!"

Naruto membelalakkan matanya. Ibuku meninggal karena dia?

"Hooo... Jadi si rambut kuning itu anaknya Minato dan Kushina. Huh, aku tak menyangka. Jangan-jangan dia sama cerobohnya dengan ibunya?"

"Jangan hina ibuku!" Naruto memunculkan pasukan bunshinnya dan menyerang Orochimaru bersamaan. Tapi dengan cepat Orochimaru menghindarinya. Ia melemparkan kunai-nya sehingga membuat bunshin Naruto lenyap satu persatu. Naruto yang asli kembali ke tempatnya bersama Itachi dan Sasuke.

"Hahaha! Ninja Konoha sekarang tak sekuat yang aku kira. Rupanya, semenjak aku pergi dari sini, tak ada lagi ninja berkualitas yang lahir!"

Itachi, Sasuke, dan Naruto hanya memandangi Orochimaru dalam diam. Walau hati mereka sudah mengutuk si pria ular dengan berbagai umpatan. Mereka tahu, mengutuknya dalam hati takkan mengurangi kekuatan pria itu. Tapi setidaknya dengan begitu, mereka mempunyai alasan untuk mengalahkannya secepatnya.

Dengan sekali jentikan tangan dari Itachi, Sasuke maju. Ia menarik beberapa shuriken dari kantongnya kemudian dilemparkan ke arah Orochimaru. Pria itu meloncat menghindar. Namun tak sempat ia menyentuhkan kakinya di tanah, tiga bunshin Naruto sudah memukulnya kompak. Ia terjatuh. Lagi-lagi—seakan tak membiarkan pria ular itu untuk balik menyerang—serangan datang, kali ini dari Itachi yang mengaktifkan sharingan-nya. Seketika Orochimaru mengerang, ia terperangkap dalam genjutsu Itachi. Menyadari bahwa lawannya telah lemas, Itachi merubah sharingan-nya menjadi mata hitam biasa.

Hening sejenak. Ketiga ninja Konoha itu memandangi salah satu Sannin tersebut dalam diam, menanti sebuah respon terburuk darinya. Namun tak diduga, Orochimaru bangkit. Walau perlahan-lahan tapi cukup membuat Itachi, Sasuke, dan Naruto kembali memasang kuda-kuda. Itachi memandangi keadaan Orochimaru yang tampak sehat. Ia terkejut. Bagaimana bisa genjutsu itu tak memberikan dampak apa-apa?

"Khukhukhu..." Orochimaru tertawa remeh setelah berdiri sempurna. "Hanya itu kekuatanmu? Hanya itu cara kalian mengalahkan aku yang hebat ini? Hah!"

Naruto kembali geram. Baginya, ejekan itu terlalu parah. Belum sempat ia maju untuk menonjok muka pucat Orochimaru, tangan Itachi menghadangnya.

"Naruto, sudahlah. Aku akan coba melawannya. Kau dan Sasuke berjaga-jaga di sini saja. Aku akan memberikan isyarat kalau sudah waktunya kalian untuk maju," kata Itachi tanpa memandang Naruto ataupun Sasuke.

"Ta-tapi..."

Belum sempat Naruto menyelesaikan kata-katanya, Itachi sudah maju menyerang. Dengan segenap kekuatannya ia berusaha melawan Orochimaru yang juga tak menyerah. Kekuatan mereka seimbang. Namun, tiba-tiba Orochimaru menggigit jarinya untuk mengeluarkan kuchiyose. Bof! Sekelompok ular berwarna ungu muncul lalu mendesis, memandangi Orochimaru. Itachi langsung mundur beberapa langkah.

"Makan itu, Uchiha!"

Ular-ular itu maju dengan gesit ke arah Itachi. Dengan sigap, Itachi menghindarinya. Tangannya membentuk segel, dan akhirnya jurus andalan Klan Uchiha dikeluarkannya. Ular-ular itu pun mulai terbakar oleh api dari jurus goukakyou.

"Kenapa kau menyerang Konoha, Orochimaru?" Itachi mendekat ke Orochimaru. "Tidak puaskah kau dengan apa yang kaulakukan belasan tahun silam? Tidak puaskah kau dengan kematian orang tuaku?"

"Hooo, anak ini sudah berani rupanya." Orochimaru menjulurkan lidah panjangnya. "Kenapa aku menyerang Konoha? Hah! Karena aku menginginkan surat warisan Shodaime! Dengan surat itu, aku akan bertambah kuat! Dan aku bisa menguasai dunia!" Ia kembali mengeluarkan pasukan ularnya.

Sial! Itachi meloncat menghindar sambil melemparkan puluhan shuriken-nya. Berurusan dengan ular seperti ini bukanlah hal yang mudah bagi Itachi. Walaupun sudah lewat belasan tahun, kenangan pahit tentang serangan Orochimaru terhadap orangtuanya tetap membekas di ingatannya. Masih tergambar jelas keadaan kala itu dalam pikirannya, saat ibunya rubuh karena ular ungu besar melilitnya.

"Tssaah..."

"Argh!"

"Ibuuu!!!"

"Itachi, sudahlah. Ayo cepat kita ke tempat yang lebih aman! Kasihan adikmu ini. Gawat kalau sampai Orochimaru menemukan kita!"

"Tapi, Kakashi..."

"Sudahlah! Cepat!"

Ia menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir flashback dalam otaknya yang terus berputar. Ia tahu ini ia tidak boleh mengingat kenangan pahit itu kali ini. Ia tidak mau traumanya dengan ular mengganggu pertarungan ini. Dan sekali lagi, Itachi mengeluarkan amaterasu-nya. Puluhan ular ungu itu pun terbakar.

"Ugh!" Itachi terduduk sambil memegangi matanya. Amaterasu barusan benar-benar membuat matanya nyeri dan pandangannya berkunang-kunang. Tepat pada saat itu, dua ekor ular maju dan melilit tubuh Itachi yang sudah lemas.

"Aniki!" pekik Sasuke, tidak tega melihat keadaan kakaknya.

"Kenapa, Sasuke? Kau juga mau ular-ular itu?" kata Orochimaru. Tanpa Sasuke minta, seekor ular bergerak menuju Sasuke.

Hup! Dengan sekali lompatan, Sasuke berhasil menghindari ular itu. Kemarahan yang Naruto rasakan kini ada pada dirinya. Ia menyerang Orochimaru habis-habisan. Shuriken, ditangkis, walau beberapa berhasil mengenai. Pukulan, juga berhasil dihindari. Dan pada akhirnya, ia membentuk beberapa segel tangan lalu menunduk dengan memegangi tangannya. Cahaya listrik berwarna biru muncul di tangan kirinya, menimbulkan bunyi berisik seperti kicauan seribu burung. Ia pun mendongak, memperlihatkan mata sharingan-nya yang merah membara. Dengan cepat, ia berlari lurus ke arah Orochimaru, menghantamkan cahaya biru itu tepat di dadanya.

"CHIDORI!" teriak Sasuke.

"Argh!" Orochimaru mengerang kesakitan. Tubuhnya yang diselimuti aliran listrik chidori jatuh dan terseret beberapa meter, hingga akhirnya berhenti.

Sasuke menghampiri pria itu untuk memeriksa keadaannya. Pingsan rupanya... Ia pun berbalik badan, tanpa memperhatikan bahwa Naruto sedang melihatnya sambil menunjuk-nujuk ke arah belakangnya.

Slep! Sasuke merasakan sesuatu menusuk leher kirinya. Ia menoleh dan mendapati kepala Orochimaru berada di sana, memamerkan kedua taringnya yang menusuk leher Sasuke. Tak sempat menjauh, Sasuke merasakan tubuhnya lemas seketika. Matanya berkunang-kunang dan jantungnya berdetak lebih cepat. Ia roboh, dan terkapar tak berdaya.

"Fufufu...," Orochimaru melepaskan gigitannya, "mati kau."

Pria ular itu berjalan walau tertatih-tatih, berusaha menghampiri Naruto. Seringai mengerikan tetap menghiasi wajah pucatnya, membuatnya semakin terlihat seperti monster. Namun tak sampai lima langkah, ia kembali roboh sambil memegangi dadanya. Sial, ada apa denganku?

Sementara itu Naruto langsung berlari menuju Sasuke. Perlahan ia letakkan kepala sahabatnya itu dalam pangkuannya. Hatinya begitu sakit melihat orang yang biasanya kuat kini terlihat begitu lemah.

"Na...ruto..."

Naruto tersentak. Suara Sasuke yang terdengar lebih berat memanggilnya. Dengan segera ia menoleh ke wajah Sasuke yang mulai membiru.

"Sasuke, kau kenapa?"

"Ra...cun... Orochimaru telah memberikan...racun lewat...gigitannya." Sasuke terlihat begitu berusaha untuk berbicara. "Tapi...dia takkan...bertahan lama. Chidori...telah memutuskan sel sarafnya."

"Sudah, kau tak usah berbicara lagi. Bertahanlah, sebentar lagi ninja medis pasti datang!"

Sasuke menggeleng pelan. Nafasnya semakin berat. "Terlambat, tidak usah..."

"Heh, kau masih saja keras kepala. Sudahlah..."

"Biarkan...aku pulang, Naruto.. Aku ingin bertemu...ayah dan ibu... Haah...haah..."

Naruto semakin merasakan tubuh Sasuke semakin lemas dan dingin. Ia mulai panik.

"Sasuke! Heh, teme, bertahanlah!"

"Sampaikan...salamku...pada aniki..." Sasuke mulai menutup matanya. "Gomen..."

Kini tubuh Sasuke benar-benar diam dan kaku, setelah mengejang beberapa saat lamanya. Naruto tetap berusaha menyadarkan sahabatnya dengan mengguncangkan pelan sambil meneriakkan namanya. Namun, sia-sia.

"Sasuke!" teriak Naruto perih.

Itachi—yang masih dalam lilitan ular—melotot tak percaya. Pemandangan itu begitu mengiris hatinya. Ia terus-terusan menyalahkan diri sendiri yang dianggap tak berguna dalam menyelamatkan adiknya. Dilanggarnya janjinya dengan sang ayah. Air matanya keluar. Maaf ayah, aku menangis...

Naruto menatap berang pada Orochimaru. Orang yang sudah melukai sahabatku harus tau akibatnya! Namun ketika ia berdiri untuk menyerang pria ular itu, tiba-tiba gas berwarna merah menyelimutinya. Kuku-kukunya berubah runcing seiring dengan matanya yang berubah merah. Naruto terkejut dengan perubahan dirinya ini. Apa yang terjadi? Dan...kenapa, kenapa kekuatanku rasanya bertambah?

K-Kekuatan itu! Gawat! Bagaimana bisa ia mempunyainya? pikir Orochimaru panik. Ia menoleh kesana kemari, mencari sesuatu. Akhirnya ia menemukan yang dicarinya sedang berdiri di depan gunung Hokage, dengan surat gulungan yang terbuka di depannya.

"Tsunade...," desisnya.

Ya, Tsunade sudah berdiri dengan segel di tangannya. Sebagai Sannin, jelas ia dapat menggunakan jurus itu. Namun kali ini berbeda. Bukan Tsunade yang memakainya, tapi Naruto! Saat itulah Orochimaru menyadari bahwa jurus tersebut bisa ditransfer kepada orang lain. Dan Tsunade melakukannya untuk Naruto.

Naruto mulai bergerak gesit, memukul Orochimaru yang lengah dan membuat pria itu tersungkur. Bertubi-tubi ia menyerangnya dan selalu gagal ditangkis oleh Orochimaru. Rupanya, kekuatan Orochimaru banyak terkuras setelah terkena chidori, hal itu memudahkan Naruto untuk tetap menyerang. Tidak puas, Naruto memunculkan bunshin-nya. Bunshin itu membentuk sebuah pusaran angin berwarna biru di tangan Naruto asli.

"RASENGAN!"

Wuzz... Rasengan itu mengenai Orochimaru. Lagi-lagi ia terpental jauh. Cukup lama ia berbaring hingga akhirnya kembali bangkit dengan darah yang mengalir dari mulutnya.

"Heah!" Naruto melayangkan tinjunya hingga membuat pria ular itu kembali tersungkur. Namun, belum sempat ia memukul untuk yang kedua kali, dua ekor ular berukuran besar datang dan melilit kaki kanan-kirinya dengan kencang. Ia tidak mengeluh, namun tetap menyerang dengan kunainya. Dengan tumpuan pada lengannya, ia loncat dan sekali lagi melayangkan tinjunya ke dada Orochimaru.

Orochimaru terbatuk, darah segar menyembur dari mulutnya. Sekuat tenaga ia mencoba untuk menyerang balik, namun tidak berhasil. Naruto ambruk, tak kuasa menahan sakit di kakinya. Ular itu sudah lenyap seiring dengan kekuatan Orochimaru yang semakin melemah. Itachi juga sudah bebas. Dengan segera ia berlari menghampiri Naruto yang tersungkur di sebelah tubuh Sasuke. Ia menunduk, masih menangis...

"Tsu...nade...," bisik Orochimaru lemah melihat rekan Sannin-nya yang kini berdiri tegak di depannya.

"Sudah lama tak bertemu, Orochimaru. Semenjak penghianatanmu pada Konoha dengan menyerangnya belasan tahun silam, aku tak pernah melihatmu lagi. Ternyata kau sama saja, tetap jahat! Beruntung kau segera pergi dari Konoha. Kalau tidak, sekarang desa ini pasti hancur karena ulahmu!"

"Kau...kenapa memberikan...kekuatan Kyuubi...pada anak Kushina? Harusnya...kau memberikannya...padaku..."

"Karena dia anak Minato, yang juga pewaris kekuatan Legenda Sannin Jiraiya. Kau takkan bisa mengambil surat wasiat Shodaime Hokage ini, Orochimaru. Karena..."

Duak! Tsunade memukul Orochimaru. Pria itu mengerang kesakitan, hingga akhirnya dengan perlahan ia menutup matanya.

"Semoga kau dikalahkan juga oleh Jiraiya di alam sana..."

Tiga ninja medis yang ikut bersama Tsunade menghampiri Itachi, Naruto, dan Sasuke. Sekuat tenaga mereka berusaha menyembuhkan luka-luka tiga ninja itu.

"Gawat, kaki anak ini sudah tak terselamatkan!" pekik Shizune saat melihat kondisi Naruto. "Dan, oh, anak ini...," ia melirik ke Sasuke, "dia...sudah tak tertolong..."

"Sasuke...," bisik Sakura sambil terisak.

"Ayo cepat bawa mereka ke rumah sakit!"

Akhirnya, ketiga ninja medis bersama dengan Tsunade pergi menuju rumah sakit. Hawa dingin datang dan menyelimuti Konoha. Buliran air mulai jatuh dari langit dan sekejap membuat Konoha yang sudah kembali tenang menjadi basah. Rupanya langit juga ikut bersedih atas apa yang terjadi. Keadaan seperti itu menambah perih hati orang-orang yang ditinggal pergi oleh jiwa yang gugur. Mereka menangis atas apa yang terjadi, menangisi kepergian tubuh tak bernyawa tanpa harapan.

-TBC-