A Super Junior's Fanfiction
Super Junior
©
Themselves and SM Entertaintment
Warns :
Many bad things are mine,
and
if you don't like this pair, or this story,
I beg you, do not read
Thanks for your time, may you'll enjoy it :)
[ Their Forbidden Love ]
with
Cho Kyuhyun
Lee Sungmin
and
the other members
inside
.
* Chapter 3 *
.
Malam telah merajai langit kota Seoul. Dengan jarum pendek menuju angka dua dan jarum panjang menuju angka 6 yang menandai waktu di kiblat dunia dorama itu.
Sesosok namja yang sedang terlelap dalam tidurnya, terbaring diam di atas tempat tidur berseprai hitam satin. Wajah sosok itu terlihat tidak tenang dalam tidurnya, seakan ada mimpi yang sangat mengganggunya. Pelipis dan dahinya dipenuhi keringat dingin serta desah napas yang semula teratur itu kini telah berubah menjadi terengah.
Appa! Eomma!
Jemari lentik itu mencengkeram erat seprai di bawahnya tanpa sadar. Tubuhnya bergerak-gerak gelisah seperti hendak berlari dari sesuatu.
Tolong datanglah secepatnya! Kami sangat membutuhkanmu!
Deretan gigi putihnya menggemertak pelan. Sosok itu menggigit keras bibirnya. Cengkeraman pada seprai tak bersalah itu semakin kuat ketika akhirnya namja itu meneriakkan hal yang sedari tadi tercekat di kerongkongannya.
"LEPASKAN!"
Namja itu terduduk di atas kasurnya dengan napas memburu. Matanya yang beriris hitam itu menatap nanar pada ruangan sekelilingnya, seakan sedang mewaspadai sesuatu. Jejemarinya menyentuh dadanya yang kini terasa sesak. Wajah berkulit putih itu merona pucat, seperti telah mendapati hal yang sangat teramat buruk.
Bibirnya meracau dengan lirihan pelan. Tak lama, sinar ketakutan dalam bola mata itu berubah menjadi kilat penuh kebencian. Dia bangkit dari duduknya dan melangkah menuju westafel dengan warna hitam beraksen peach-white di masing-masing sisi.
Tangan kanannya terulur untuk menekan keran dan jemari kirinya menengadah; menerima kucuran air yang mendinginkan tangannya. Dengan cepat, dibasuhnya wajah putihnya dengan air dingin yang mungkin dapat membekukannya itu.
Tapi sungguh.
Dia sama sekali tidak peduli walaupun dia harus beku saat itu juga. Karena sebenarnya, dia sudah membeku dari dalam sejak awal kejadian yang sampai sekarang terus menghantuinya dalam alam bawah sadarnya.
Hatinya telah beku.
Ditatapnya sebentuk bayangan yang terlihat di kaca yang sedikit berembun di depannya. Sebuah wajah yang dikenalnya dengan amat baik, namun di saat yang sama dia juga tidak mengerti siapa sosok yang ditatapnya ini.
Jemarinya menyentuh pelan permukaan kaca itu—mencoba merasakan bayangan wajahnya sendiri. Dingin. Ya, kaca itu memang dingin.
Sedingin hatinya, bahkan hatinya pun mungkin lebih dingin dari kaca itu. Mungkin juga, hatinya sudah mati dalam kebekuan itu.
Tiba-tiba sebuah bunyi yang tak asing di telinganya terdengar dari arah laptop hitamnya. Tangannya mengambil handuk putih yang terletak di samping kanan westafel itu, kemudian mengusapkannya pada wajahnya. Dengan handuk yang tergantung di leher jenjangnya, dihampirinya laptop itu.
Dua jarinya dengan lincah menggeser mouse dan matanya terarah pada kursor yang menunjuk sebuah e-mail baru yang masuk ke dalam inbox-nya. Setelah bunyi klik terdengar, terpampanglah sebuah foto seseorang dan artikel di bawahnya.
Kasus pembunuhan, Headline news ; Perampok dan pembunuh kelas kakap bernama Mi Ah Ru kembali menghilangkan banyak nyawa. Namja ini berhasil melarikan diri dan telah menjadi buronan Kepolisian selama lebih dari satu tahun. Dia kembali beraksi setelah dikabarkan tinggal di luar negeri dan baru kembali pada minggu-minggu ini dan kembali menelan korban.
Setelah membaca artikel pendek di bawah foto si namja yang diketahuinya bernama Mi Ah Ru itu, ibu jari namja berambut hitam seleher itu menyentuh sisi wajahnya.
Sebuah seringaian terlukis di bibirnya. "Gotcha."
.
.
.
.
Sesosok namja berambut ikal-brunette terlihat sedang meminum segelas teh sambil membaca koran pagi. Pagi ini masih terlalu pagi sebenarnya untuk dia bangun. Jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangannya masih menunjukkan pukul 05.15 a.m.
Ada artikel yang membuatnya tertarik sehingga dia terus mengulang membaca ulasan berita dalam koran tersebut.
Seorang namja yang baru saja kembali beraksi setelah satu tahun tak terlihat, Mi Ah Ru—perampok yang selalu membunuh korbannya, dan juga pintar menyamarkan dirinya. Hingga pihak berwajib pun kewalahan dibuatnya.
Namja ini bernama Cho Kyuhyun, dengan umur 22 tahun dia telah menjadi satuan elite kepolisian Seoul—yang menangani kriminal tingkat berat. Dan memburu para target yang membuat pihak kepolisian sampai angkat tangan adalah tugas mereka.
Sebenarnya, mereka sudah mendapatkan info-info yang ada di dalam koran ini sekitar lima hari yang lalu. Mereka berencana melakukan penangkapan dengan langsung menyergapnya di tempat dia diperkirakan bersembunyi. Ketua tim penyelidik telah mengadakan antisipasi dengan cara memasang sensor pengenal di gate bandara.
Jadi, simpelnya; saat seseorang yang dicari oleh anggota elite itu melewati gate, ada sebuah gelombang yang dapat dipancarkan hingga dua-tiga hari ke depan. Gelombang itu akan menuntun mereka menuju sang target, dengan sensor penangkap gelombang yang mereka miliki.
Dan siapa sangka? Di hari yang direncanakan oleh mereka, Mi Ah Ru melakukan perampokan besar-besaran dan juga membunuh satu keluarga yang tidak tahu menahu apa-apa. Itu membuat rencana mereka yang telah tersusun rapi kembali menjadi berantakan.
Gelombang itu sangat lemah pada bubuk mesiu yang selalu keluar apabila senjata api digunakan. Sekali terkontaminasi dengan bubuk itu, gelombang yang menyampaikan sensor lokasi itu akan hilang tanpa jejak.
Damn, rutuk Kyuhyun dalam hati.
Mereka kecolongan kali ini. Strategi ini sudah mereka terapkan sejak satu bulan yang lalu dan mereka berhasil menangkap tiga incaran yang memang tidak terlalu 'berat' kejahatannya. Dia mendesis karena dia tahu incaran mereka yang 'sangat–berat' kejahatannya selalu mereka temukan dalam keadaan tak bernyawa. Selalu begitu dalam setengah tahun ini.
"Siapa sebenarnya orang ini?" tanyanya pada keheningan. Meski dia baru saja bergabung dengan satuan penyelidik dua bulan yang lalu, tapi dia merasa sangat penasaran pada pembunuh ini sejak awal kemunculannya, yaitu setengah tahun yang lalu.
Setelah mengamati orang yang selalu mendahuluinya ini, Kyuhyun tahu persis incaran the proper killer—julukan miliknya sendiri, karena orang itu selalu tepat menembak di jantung untuk menghabisi korbannya—adalah target kepolisian yang dikategorikan dalam target utama. Harus ditangkap, hidup ataupun mati.
Kyuhyun menyesap tehnya dan sebuah pikiran terbayang dalam benaknya.
Mi Ah Ru itu termasuk salah satu target berat kami 'kan?
Nalurinya tiba-tiba menyuruh untuk menghubungi analyzer timnya dengan segera. Ditekannya satu kontak dalam ponselnya, dan mendecak karena nomor itu sedang tidak aktif. Satu kontak lain ditekannya, dan dia sedikit bersyukur karena nada sambung dari ponselnya masih tetap bertahan.
"Yeoboseyo?"
"Kibum-sshi, tolong carikan aku data di mana kira-kira Mi Ah Ru bersembunyi!"
"Ya, Kyuhyun-sshi. Aku baru saja bangun dan kau berbicara cepat sekali."
Kyuhyun menarik napasnya sejenak. Namja yang dikenalnya sebagai seorang 'silent–man' di kantor, ternyata dapat sebegini berisiknya saat tidurnya diganggu. Mencoba menahan rasa geli, Kyuhyun melanjutkan ucapannya.
"Ah, mianhae. I need an estimate where Mi Ah Ru will hide himself, as soon as possible."
"Umh, tapi kenapa kau seperti terburu-buru begitu?"
"Mollayo. Aku hanya merasa akan ada hal yang buruk."
"Oke. Kau tidak menghubungi Siwon-hyung?"
"Kau yang paling tahu kalau sekarang adalah waktu untuknya pergi ke gereja 'kan?"
Suara yang ada di seberang sana terkikik pelan. "Gomawo, Kibum-ah," lanjut Kyuhyun sambil menutup flap ponselnya. Dia menyesap tehnya hingga mugnya kosong tak berisi. Sesosok namja lain mendatanginya sambil mengusap wajahnya yang masih terlihat mengantuk.
"Annyeong, Hyukkie-hyung," sapa Kyuhyun sambil tersenyum. Sifatnya yang dulu seperti tak punya tata krama itu berubah 180 derajat semenjak dia menjadi seorang anggota bagian Penyelidikan semenjak dua bulan yang lalu.
"A-Annyeong, Kyu," dan seperti yang kita lihat, namja bernama lengkap Lee Hyukjae ini masih sangat belum terbiasa dengan kesopanan Kyuhyun.
"Tumben kau bangun pagi, hyung?" tanya Kyuhyun sambil mencuci mug di atas tempat pencucian piring.
Eunhyuk menarik kursi duduk dan mendudukinya. Dengan cekatan, Kyuhyun yang baru saja selesai dari gelasnya segera mengambil yang baru dan membuatkan segelas teh hangat. Kaki jenjangnya membawa namja itu menuju ke depan Eunhyuk yang masih terlihat sangat mengantuk.
"Hyung, ini," Kyuhyun mengambil tempat di hadapan namja berambut coklat almond itu dan menyerahkan mug berisi teh yang dibuatnya tadi.
Eunhyuk menerima mug itu dan menyesap isinya. "Gomawo, Kyu. Tapi lebih baik jika isinya susu strawberry."
"Ya, hyung. Buat sendiri saja sana!" seru Kyuhyun kesal.
Namja Lee itu terkikik. Ternyata Kyuhyun masih sama seperti dulu, masih ada sifat kekanakan yang dimiliki lelaki Cho ini. Entah kenapa, itu membuatnya merasa lega. Dia merasakan perubahan yang begitu besar semenjak Sungmin, hyung satu-satunya itu menghilang dari hadapannya. Menghilang dari hadapan mereka semua. Dan menghilang dari hadapan Kyuhyun.
Kyuhyun seperti tak lengkap. Tepatnya, ada yang hilang dari namdongsaeng Ahra—yang kini menjadi noona-nya juga.
"Heyo, hyung belum menjawab pertanyaanku. Biasanya kau susah sekali bangun pagi."
Eunhyuk hanya diam sambil menghirup wangi teh itu. "Um, aku hanya bermimpi," lirihnya.
"Mimpi?"
"Minnie-yah," bisiknya sambil menganggukkan kepalanya.
Kyuhyun terdiam. Nama yang disebut Eunhyuk tadi ternyata masih memiliki efek yang sangat besar untuknya. Mendengarnya saja sudah membuat degup jantungnya berdebar lebih keras. Raut wajahnya berubah menjadi sedikit pucat.
"W-waeyo?" suaranya dengan sedikit tergagap.
"Minnie-yah ada di suatu tempat yang sangat gelap. Gelap sampai tidak terlihat apa-apa," Eunhyuk menyesap tehnya lagi. "yang aku lihat hanya dia yang berdiri dengan tegap, di dalam kegelapan itu."
Eunhyuk tahu ini aneh. Karena sudah lama dia tidak memimpikan kehadiran hyung-nya. Sejak Sungmin dinyatakan meninggal oleh kepolisian, dia tidak pernah lagi memimpikan keberadaan kakaknya itu sejelas mimpinya tadi malam.
Kyuhyun terdiam.
"Ah, kau harus berangkat 'kan? Ahra-noona memintamu untuk tak lupa sarapan," kata Eunhyuk mengalihkan pembicaraan. Dia bangkit dan membawa mugnya menuju beranda samping yang menghadap langsung ke arah rumahnya dulu.
"Ne."
Namja berambut coklat almond itu merutuki dirinya yang lupa diri tadi. Dia mengungkit hal yang seharusnya tak usah diungkit, apalagi di depan Kyuhyun. Dia tahu, bahwa hasrat Kyuhyun untuk menemukan Sungmin masih terus membara sampai sekarang.
Bahkan mungkin lebih membara dari sebelumnya.
"Pabboya, Eunhyukkie."
Sedang Kyuhyun masih diam di kursi tempat biasa dia menikmati sarapannya. Hasratnya yang tadi ingin menikmati semangkuk nasi dengan daging cincang buatan eomma-nya hilang sudah. Mimpi yang diceritakan Eunhyuk tadi mengganggu pikirannya, dia merasa akan ada hal yang tidak baik hari ini.
Hatinya sedikit terganggu dengan mimpi itu.
Jika benar, dia akan senang sekali karena sosok yang sangat disayanginya itu masih hidup, meski harus mencarinya kemanapun, itu tidak masalah. Karena ada kepastian bahwa Sungmin masih hidup.
Masalahnya adalah, ini hanya mimpi. Dan mimpi itu... Sungmin yang berada dalam kegelapan pekat? Apa maksudnya?
"Hufffh," hela Kyuhyun pelan.
Semoga itu hanya mimpi. Tapi semoga Minnie-hyung memang masih hidup.
.
.
.
.
Seorang namja berkacamata hitam turun dari sebuah bus. Sebuah tas yang berukuran sedang dan memanjang terselempang di bahunya. Tubuh namja itu tidak pendek, namun tidak terlalu tinggi. Tidak kurus, dan tidak gemuk. Semuanya benar-benar terlihat proporsional untuknya. Kulitnya yang putih tersembunyi dalam balutan jas putih berbahan flanel lembut.
Sosok itu berjalan dengan santai di barisan pertokoan yang cukup ramai. Rambut hitamnya bersentuhan langsung dengan sepoi angin, membuatnya sedikit berantakan. Headphone yang terpasang manis di telinganya membuat langkah kaki itu terlihat ringan.
Tidak akan ada yang menyangka bahwa namja yang sesekali tersenyum manis pada yeojyadeul—yang memandanginya dengan mata berbinar—itu sedang bersiap untuk melakukan misinya.
Membunuh sang korban yang juga merupakan pembunuh. Sama sepertinya yang juga seorang pembunuh.
.
.
.
.
Kyuhyun membuka pintu untuk masuk ke dalam ruangan yang ditandai sebagai ruangan khusus milik Satuan Penyelidik. Di sana indra penglihatannya mendapati dua orang pria yang dikenalnya dengan baik.
Choi Siwon dan Kim Kibum, dua outstanding analyzer yang dimiliki Seoul. Dua sosok itu sedang berdiskusi di pojok ruangan yang berhubungan langsung dengan laptop utama milik kantor.
"Aku yakin Mi Ru akan bersembunyi di sini."
"Hm, sudah kau periksa semua kemungkinannya?"
"Dari semua data yang hyung kumpulkan, aku dapat menarik kesimpulan ini."
Jemari putih milik Kibum menyentuh titik merah pada peta digital yang terpampang di atas meja. "Aku yakin, dia pasti ada di sini."
Siwon mengusap lembut kepala namja itu dengan sayang. Dia sangat suka cara berpikir seorang Kim Kibum. Begitu yakin. Begitu percaya diri. Itu karena apa yang dikatakannya didapatkannya berasal dari pengamatan yang benar-benar teliti.
"Gomawo, Kibummie."
Kibum mengangguk dan tersenyum. Menikmati rasa hangat yang menyapu kepalanya. "Iya, Siwon-hyung."
"Ehem," Kyuhyun berdehem pelan sambil menutup pintu. Kedua hyung-nya segera menjauhkan diri masing-masing. Ekspresi pada wajah tampan mereka membuat Kyuhyun hampir tertawa.
"Di kantor jangan mesra-mesraan dong hyungie~" candanya sambil menyeringai.
Yang paling tidak disukai Kyuhyun dari mengejek ataupun mencandai dua hyungnya ini adalah reaksi mereka yang akan sangat membosankan setelah ekspresi jujur mereka. Intinya, kedua namja itu punya kemampuan akting yang sangat berguna untuk menyamarkan perasaan mereka saat ini.
Lihat saja sekarang.
Kibum hanya tersenyum dan kembali melihat laptop yang ada di sampingnya dengan tenang. Mencari petunjuk lain yang mungkin dapat membantu mereka menangkap Mi Ah Ru. Sedangkan Siwon malah memberinya pertanyaan 'tumben–sudah–datang?' padanya—jangan lupakan senyum gentleman khas miliknya.
Kyuhyun mendengus. Rasanya sifat kekanakannya sedang keluar dan ingin menjahili banyak orang sekarang. Tapi yang ada di ruangan ini hanya dia dan dua orang yang oh–so–calm. Niat jahilnya pun hilang dan berganti dengan keseriusan.
"Kibum-sshi, apa permintaanku bisa dipenuhi?"
Kibum menoleh dan menyuruh Kyuhyun mendekatinya dengan sedikit anggukan. Kyuhyun mendatangi tempat duduk yang ada di dekat mereka dan duduk di atasnya.
"Di sini," tunjuk Kibum dengan jari telunjuknya.
Bola mata beriris hitam kelam bagai black diamond itu mengikuti arah telunjuk Kibum. Sebuah titik merah yang berpendar dengan huruf digital yang bergerak-gerak berada tepat di bawah telunjuk itu.
"Myeondong?"
Kibum mengangguk. Matanya menatap Kyuhyun yakin. "Kenapa Myeondong?" tanya lelaki Cho itu bingung.
"Percayalah padanya," suara bass milik Siwon akhirnya terdengar di tengah kediaman mereka. Senyum yang menampakkan deretan gigi putih dan rapi terukir di wajah rupawan miliknya.
Kyuhyun menatap kedua rekan satu timnya. Dia baru saja bergabung di tim ini selama dua bulan, wajar saja dia belum terlalu mengenal tipe-tipe rekannya 'kan?
Tapi, saat melihat langsung ke dalam bola mata lelaki Kim itu, tak ada yang bisa dia pikirkan selain dia harus mempercayai perkataan sang first–anaylizer timnya ini.
"Oke, ayo kita hubungi uri leader," kata Kyuhyun saat bangkit dari duduknya.
Siwon segera menghubungi tiga rekannya yang lain. Meminta mereka untuk bersiap menuju tempat yang sudah diverifikasi sebagai tempat target bersembunyi. Kibum membawa laptop yang memiliki back-up data utama tentang Mi Ah Ru dalam tas punggungnya. Dan Kyuhyun, menyiapkan mate-fight miliknya, yaitu sebuah revolver.
Setelah menyelipkannya ke balik jas abu-abunya—warna khusus bagi satuan Penyelidik—, Kyuhyun membuka pintu dengan dua rekannya yang lain di belakangnya.
"Let's do this."
.
.
.
.
Sore sudah mulai mengucapkan selamat tinggal pada Seoul dengan semburat jingga-kebiruan yang menghias langit. Seorang lelaki dengan headphone yang masih terpasang sedari tadi menyesap minuman kaleng yang baru saja dibelinya di mesin otomatis.
Sosok itu berdiri menyandarkan punggungnya sambil memandangi bianglala langit yang menyilaukannya. Suara soda yang baru saja dibuka, mengalihkan pandangannya. Bola mata dengan iris eboni itu menatap keramaian yang ada di depannya.
Myeondong; pusat utama perbelanjaan atau bisa disebut sebagai Harajuku-nya Korea Selatan. Keramaian yang ada di sana didukung oleh cahaya terang dari banyak jenis lampu yang dipasang di pertokoan, untuk menarik perhatian pembeli ataupun pengunjung.
Sosok itu seorang namja.
Dengan paras yang bahkan tak kalah dari seorang wanita berparas cantik. Wajah itu rupawan, tanpa cela. Indah untuk dipandang. Banyak orang yang melewatinya memandang kagum pada namja itu. Selalu begini; mata yang berbinar, raut wajah kagum—bahkan tak sedikit raut iri—, sebelah tangan yang menutup mulut. Itulah reaksi yang didapatnya saat dia berdiri di tempat yang sama sedari setengah jam yang lalu.
Tak sedikit yang dibalas dengan seulas senyum tipis dari bibirnya. Namun tak ada yang tahu, mata namja itu tidak ikut tersenyum. Eboni yang tetap kaku dan beku di dalam. Penuh dengan kebencian dan kesakitan yang terkubur jauh dalam hati.
Diliriknya jam digital yang dipasang di pergelangan tangan kirinya.
Sebentar lagi, batinnya.
Diamatinya lagi keramaian yang semakin menjadi. Mengingat besok adalah hari Sabtu, maka wajar saja banyak orang yang ingin terjun ke dalam lautan kegembiraan dan keramaian dari sang Myeondong.
Dulu, dia juga sering berada di sini. Dia sering pergi ke toko kue yang berada tak jauh di depannya. Memakan caké cheese-chocolaté-sweetberry spesial dari toko itu bersama dengan keluarga terkasihnya. Dan membawanya pulang untuk dimakan bersama dengan orang yang juga sangat dikasihinya selain keluarganya, tentu.
Seulas senyum perih menghiasi wajah rupawan sang namja. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Mencoba menghilangkan memoir yang membuat dadanya menyesak.
Saat itu pula, sesosok namja dengan rambut panjang keluar dari sebuah hotel, di dekat tempat dia berdiri tadi. Iris gelap itu mengamati punggung tangan namja tadi dengan detail. Setelah melihat sebuah tanda yang dicarinya, ujung bibir tipis itu tertarik ke atas. Dia menyeringai.
Dengan santai, namja itu melangkahkan kakinya dan mengikuti sosok dengan tanda 'G'—berwarna merah darah—yang ada di punggung tangannya. Rupanya, namja bernama Mi Ah Ru yang kini sedang menekan i-padnya itu tidak memiliki firasat sama sekali.
Bahwa di belakangnya, telah ada orang yang akan mengambil paksa nyawanya. Seperti apa yang telah lama dan telah sering dilakukannya.
.
.
.
.
Langit sudah sempurna menjadi biru bahkan mulai menggelap sekarang. Seorang namja berambut cepak–hitam pendek keluar dari jeep hitam mengkilap diikuti oleh empat orang lainnya. Sorot mata gelapnya yang tajam memantau keadaan yang terlampau ramai untuk hari ini di Myeondong.
Ya. Satuan elite yang beranggotakan enam orang namja ini, kini sedang berada di pinggiran jalan masuk menuju Myeondong.
"Ya, Snow White, kau tidak bergurau 'kan? Mana mungkin dia bersembunyi di tempat seramai ini?" tanya seorang namja dengan rambut dengan warna jingga gelap seleher.
Kibum yang disebut Snow White oleh sosok kurus-semampai itu mendecak kesal. "Hyung, sudah kukatakan jangan panggil aku dengan sebutan itu."
Sosok tadi mendecak kesal. Bibirnya yang tebal dan terlihat seksi itu mengerucut tidak senang. "Ya. Aku hanya bertanya, Kibummie."
"It's easier to find someone, not where will he hides himself, but where he can think everything will be fine," jawab seorang namja bermata sipit yang mengambil tempat di samping sosok berambut jingga-gelap.
"Kau tidak bisa bahasa Korea, tapi lancar sekali berbahasa Inggris. Aku heran. Jangan-jangan kau tidak cinta negaramu sendiri, Hankyungie?"
"Koreksi. Aku dari China—got it, Heechullie?"
Saat mereka ribut dengan perdebatan 'negara asal', namja berambut cepak tadi menggerakkan jari telunjuknya dan meminta chingudeul-nya mendekat.
"Siwonnie, jangan memanggil dengan cara seperti itu! Aku seperti melihatku yang sedang memanggil Heebum untuk mandi!" seru Heechul—namja dengan warna jingga-gelap pada rambutnya tadi.
Sosok terakhir yang keluar dari jeep segera bergabung dengan rekannya. Namja itu bertubuh paling besar di antara yang lain.
"Jadi, kita tetap pada rencana awal kan uri leader?" tanya Heechul kepada Hankyung. Namja China ini adalah leader sekaligus first–minder—sebutan untuk ahli strategi—dalam satuan penyelidik.
Lelaki bertubuh tegap itu mengangguk. Sesekali dia mengingatkan kembali apa yang akan dilakukan oleh mereka agar target dapat ditangkap hidup-hidup dan diserahkan pada pihak kepolisian.
DOR!
Keenam namja itu langsung waspada. Suara itu terdengar begitu jelas di antara suara ramai yang berasal dari Myeondong. Tak jauh dari mereka, terdapat sebuah jalan kecil yang cukup gelap—terasa aneh karena Myeondong yang ada di depannya terlalu terang.
Kibum melihat pecahan kaca yang berada di bawah lampu besar yang berfungsi sebagai penerang utama jalan itu. "Seseorang menembaknya."
Mendengar itu, Siwon segera berlari menuju arah suara itu diikuti oleh Hankyung dan juga Heechul. Sosok bertubuh besar tadi juga ikut berlari di belakang mereka. Kyuhyun melihat ada jalan pintas menuju arah suara tadi dan segera membelokkan langkahnya.
DOR!
Dua kali? Ini buruk!
.
.
.
DOR!
Suara lengkingan yang memilukan terdengar setelah letusan timah panas tadi. Sesosok namja berjas putih tersenyum sinis saat melihat korbannya menggelepar tak berdaya seperti ikan yang baru dipancing. Dia sedikit mendesis karena hari ini dia harus kehilangan dua pelurunya. Targetnya hari ini membuatnya sedikit gugup karena mata hitam kelamnya itu.
Mata itu mengingatkannya pada orang yang telah membuatnya menjadi seperti sekarang.
'Mulai saat ini, kau akan menjadi pembunuh sepertiku, Sungmin-ah.'
"Dasar sampah," desis Sungmin penuh kemarahan yang tertahan di hatinya.
Sebelah kakinya bersiap untuk menginjak tangan namja bertato 'G' itu. Namun—
—"Hentikan!"
Sungmin tak bergeming. Dia hanya menurunkannya kakinya untuk kembali menjejak tanah. Tubuhnya membelakangi orang yang seenaknya menginterupsinya. Dan dia sama sekali tak berminat membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa orang kurang ajar tadi.
.
.
.
"Shit! Dead end!" desis Heechul sambil mengatur napasnya. Hankyung melihat arah sekeliling dan mendapati tak ada jalan keluar menuju lorong yang ternyata tempat pembuangan sampah utama ini. Siwon sedikit menutup hidungnya dari aroma busuk sampah organik—yang diyakininya berasal dari seluruh kedai ataupun café yang ada di Myeondong ini.
"Mana Kyuhyun?"
"Magnae itu! Pasti dia bertindak ceroboh lagi!" geram Heechul. Mood-nya hari ini benar-benar sedang tidak baik.
"Kibummie, lacak keberadaan Kyuhyun sekarang," lirih Hankyung pada earphone yang melekat di telinganya.
.
.
.
Kyuhyun mengatur napasnya. Jujur saja, dia agak lemah untuk urusan lari atau urusan fisik. Dia tidak tahu seberapa jauh dia berlari, yang dia tahu dia sempat menembus keramaian dan setelah mendengar suara tembakan kedua dia tahu dia semakin dekat dengan asal suara.
Dan benar saja.
Setelah kembali berada jauh dari keramaian, Kyuhyun mendapati dua sosok yang sama sekali tidak dikenalnya. Satu tergeletak tak bergerak, dan satu lagi sedang mengangkat kakinya dan bersiap menginjak punggung tangan sang korban.
"Hentikan!"
Sosok berjas putih itu terdiam. Sebelah kakinya tadi diturunkannya dan kembali menjejak tanah. Kyuhyun sedikit memicingkan mata melihat sosok yang tidak mau membalikkan tubuhnya itu
"Siapa kau? Kenapa kau lakukan ini?" tanyanya sambil mengarahkan revolver-nya ke arah sosok yang telah membuat mereka kewalahan selama enam bulan terakhir.
"None of your business."
Mendengar kata-kata dingin itu, Kyuhyun menggeram. Dia sangat tidak suka ini. "Aku tidak bisa membiarkan orang yang seenaknya melanggar kebenaran dan keadilan!"
Sesaat, tubuh yang terbalut pas dengan jas putih itu menegang. Seakan ada pukulan yang menghantam ulu hatinya sehingga kilasan memori berputar cepat di kepalanya. Senyum kecil tergambar di bibir itu. Dia membalikkan tubuh untuk melihat orang itu.
Dan betapa Sungmin terkejut.
Saat mendapati siapa orang yang berani menginterupsinya, bola mata eboni-nya sedikit terbelalak. Tapi, akalnya menguatkan hatinya dan suara dinginnya kembali keluar. "Kau pikir, pekerjaanmu itu membela kebenaran, hm?"
"Tentu saja! Aku ini polisi tahu?"
Sungmin tersenyum lagi dalam maskernya. Senyum penuh kesinisan. Seakan kata-kata tadi terdengar begitu lucu di telinganya. "Kau bodoh."
"Ap—"
Cho Kyuhyun hanya bisa terdiam saat sosok yang berada jauh dari matanya tadi ternyata sudah ada di hadapannya. Dia terpana. Dia tidak kenal siapa sosok yang sekarang ada di dekatnya ini, tapi dia seperti terhipnotis. Namja itu mengenakan penutup di bagian bawah matanya—sehingga bibirnya, hidungnya, dan detail wajahnya yang lain tak terlihat.
Hanya mata, dan dada Kyuhyun berdebar kencang.
Ada aroma vanilla yang menguar dari tubuh sang 'Pembunuh Misterius' itu. Membuat namja bermarga Cho itu menjadi tidak waspada, dan tidak menyadari bahwa namja berjas putih itu tersenyum licik. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Kyuhyun, mengunci mata hitam milik Kyuhyun.
Dan, mencuri ciuman darinya—dengan bibirnya yang tertutup kain penutup.
"Annyeong."
Sosok yang mengunci perhatian Kyuhyun sedaritadi, dengan cepat menghilang bagai angin yang berhembus cepat. Kata-kata terakhirnya tadi, membuat Kyuhyun termangu.
Suara yang halus, namun seperti penuh dendam.
.
.
.
Sungmin terus berlari dengan kecepatan yang tidak tanggung-tanggung. Dia menenggelamkan diri di antara ratusan orang yang masih tetap setia memenuhi pusat fashion dan kehidupan malam remaja Seoul itu. Di tengah banyak orang yang berjalan begitu bersemangat, dia berhenti dan terengah. Digenggamnya kedua lututnya dengan kedua telapak tangannya.
Dadanya terasa begitu sesak. Namun dia yakin, itu bukan karena larinya yang terlampau memaksakan diri tadi. Napasnya terasa terputus-putus hingga ia harus memukul dada kirinya seakan itu dapat membantunya.
Rasa syok memenuhi dada namja berjas putih itu.
Sensasi yang baru saja disentuhnya langsung dengan bibirnya itu masih begitu lekat dirasakannya. Rasa mint yang dicecapnya pelan tadi masih terasa begitu jelas. Sebuah senyum getir tercipta pada wajah putihnya yang kini memucat.
"Katakan...ini...bohong..." racaunya sambil menutup mulutnya dengan satu tangan.
Sesak itu semakin menjadi. Dia bahkan mengipasi dirinya untuk mendapatkan pasokan udara tambahan. Dia tidak sadar bahwa kini bibirnya saling bertemu dan menggigit. Sungmin memeluk tubuhnya sendiri karena sekarang tubuhnya terasa begitu dingin.
Langkahnya melunglai di tiap hembus napasnya. Pelukan di tubuhnya menguat. "Kau...polisi?" getirnya dengan pelan.
Dia tidak menangis. Tidak. Hanya tubuhnya kini bergetar dan napasnya terasa begitu sesak. "Polisi? Kyuhyunnie?" lirihnya lagi. Seulas senyum getir kembali menghiasi wajah pias itu.
Apa lagi ini, Tuhan?
.
Does destiny have fun with me right now?
I feel so numb, right now
[Sungmin]
.
To Be Continued
Pojok Review ~
*Uyung-chan : ehehe, habis Minnie kalau dark gitu keren banget *ngeliat Bonamana sama Performance mereka di Paris kemarin* kesannya seksi bangeet *nosebleed* *mesum* Makasih banyak Uyung-chan :D *peluk* semoga menikmati ^^d
*VainVampire : yeaah, i'm updating this story again~ *plak* jinjja? Rin kira jelek :'( tapi syukurlah kalau chingu suka :") i'll try.. and mian if i disappoint you ;") makasih ya chingu :D semoga menikmati~ rin boleh manggil chingu Vain?
*WhiteViolin : *hug* g-gomawo chinguu x"(( rin ngetiknya sambil dengerin lagu 7 Years Of Love-nya Kyuhyun.. hua, nangis mah rin *siapa nanya?* ah, itu ngga sengaja kepikiran, dan mian kalau chap ini agak beda suasananya.. rin sedang mencoba masuk ke inti masalah :) semoga menikmatinya ya, Chingu~ makasih banyak :D rin boleh panggil chingu apa?
*Yuera Kichito Akihime : Yue-eonnie? :D ini udah ada dikiit adegan romance, mian.. rin agak bermasalah sama adegan romance. Hehe. Rin juga kasian bikin dua namja ini jadi beginian, tapi apalah daya, otak rin terus berpikir gimana cara mereka agak sakit dulu :( Yosh, makasih banyak Yue-eonnie :') semoga menikmatinya yaa :) *hug*
*Cho RhiYeon : Annyeong, Rhi :D untuk itu, liat chap selanjutnya. Ada yang ngelatih Sungmin sampai jadi jago begitu :D haha, makasih banyak Rhi :) Semoga menikmati cerita rin :D
*Yenni gaemgyu : jinjja? Masih banyak yang kurang kok Yenni-sshi :( huhuhu. Ah, makasih banyaaak :D semoga menikmati yaa :D
*kyuminhottie : ehehe, Sungmin itu aslinya seksi banget chingu... liat deh dia di Bonamana sama SMTown Live Paris.. Kyaaa! *oke, backtothepoint* Sungmin itu bisa jadi tokoh gelap juga kok, liat deh seringaiannya dia di Don't Don, wuih.. He is hot! *mesum* Haha, makasih banyak chingu :) semoga menikmatinya ya :D
*Kuchiki Hirata : *hug* Hai, Hirata-yah :D iya, Sungmin jadi killer of the killer *hah?* apa cerita ini susah dipahami? Mian Hirata-yah :'( tapi, semoga menikmati ya :) Makasih banyaaak :D
*Jung ah mi : Sini rin sambut , makasih banyak atas kedatangan dan reviewnyaa :D Oke saengii *manggil saeng setelah dipanggil eonnie* ini chap berikutnyaa :D makasih banyaak :D
*C0coNdvl78: iya, dia jadi kejam.. tapi kejamnya sama yang lebih kejam lagi, saengi :) Ne, udah lanjut :) semoga menikmatinya ya, saeng :D makasih banyaak :'))
*Pity MbumKyumin Elf4ever : cocok kok, chinguu.. coba liat deh di Behind The Scene : Bonamana,, aigooo.. dia keren sekali sama image dark ituu *sweat* iyaa, udah lanjut chinguu :D semoga menikmatinya ya :D makasih banyaak :D
*Sparky-Cloud : *hughug* Ly-saengii :D anni, masih jauh dari kata bagus :( eonnie merasa ada yang kuraang :"( makasih banyak Ly :D semoga menikmatinya yaa :D
*RizmaHuka-huka : annyeong, sunbaenim :D mereka baru ketemu hari ini, dan Sungmin sengaja melupakan Kyuhyun karena dia merasa sudah terlalu kotor sekarang :( haha, jadi bocor deh ceritanya :D Sunbaenim hebat, itu akan jadi salah satu inti konfliknya nanti. :'D mian lama, tapi udah update ini :D makasih banyak sunbaenim, semoga menikmatii :D
*af13knight : iya, itu revenge dia atas kejadian dua belas tahun yang lalu :D benar, ada yang ngelatih, dan itu akan diungkap nanti :D hehe, makasih banyak saengi :D Tetap semangat ya, karena rin menunggu cerita kamu :D semoga menikmati cerita ini :)
*kiannielf : salam kenal ana-ah :D ngga apa, mau baca saja sudah alhamdulillah :D eh, tapi ninggalin review juga sangat alhamdulillah :D ne, makanya rin kasih judul Forbidden Love, *plak* hahaha, semoga menikmatinya, Ana-ah :) makasih banyaak :D
R/N
Annyeong chingudeul-sshi, *hug* Gamsahamnida atas semua respon yang begitu baik :D Rin terharu T.T Semoga menikmatinya ya ^^ dan, boleh rin minta tanggapan lagi tentang cerita ini? :') Saya suka baca review kalian, jinjjayo :)
Super Junior
PROM15E to love them
13ELIEVE in them
10ve the remaining 10
PROT3CT the missing 3
Karena seorang penulis tak akan berarti tanpa adanya pembaca
Dan penulis membutuhkan pembaca untuk meninggalkan kesan mereka terhadap cerita yang dibuatnya
:)
