Judul: Intoxicating
Fandom: Naruto
Author: Ninja-edit
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance
Rating: M
Pairing: ?/Sasu, ?/?, ?/?
WARNING: Yaoi, AU, OOC-ness, Mature contents
NOTE: Chapter ini aman.
Happy Belated Bday to my sweet lil sistah, Beby-chan. ^^
Flames will be sent to hell.
.
Intoxicating
.
Samar-samar terdengar sayup suara seseorang.
Sasuke menggeliat dari tidurnya, meluruskan posisi badannya yang miring.
"…lang."
Suara rendah dan sedikit parau lembut itu kembali terdengar. Sasuke memasang telinga baik-baik.
"Oke, sampai nanti."
Suara flip ponsel yang ditutup membuat Sasuke sadar bahwa siapapun yang tengah berbicara itu tampaknya berbicara lewat saluran telepon.
Ranjang sedikit bergoyang ketika salah satu penghuninya turun dari tempat tidur. Terdengar sayup langkah kaki yang semakin menjauh, dan bunyi derit pintu yang dibuka dan kemudian ditutup dengan pelan. Detik berikutnya suara gemericik air shower terdengar mengisi ruang senyap.
Sasuke membuka kelopak matanya perlahan. Sinar matahari yang masuk melalui celah gorden jendelanya membuat matanya silau. Dengan satu erangan kencang, ia menggeliat dan mengerjapkan matanya berulang kali hingga pengelihatannya normal kembali.
Diliriknya sosok yang terbaring di sebelahnya. Rambut cokelat panjang yang menyembul dari balik selimut menjawab pertanyaannya. Neji.
Sasuke melirik pada pintu kamar mandinya.
Dengan berbagai pikiran di kepalanya, ia bangkit dari posisi terlentangnya dan pandangannya menelusuri sekitar ranjang tidurnya.
Sebuah ponsel berwarna merah terang teronggok kaku di atas meja kecil di dekat pintu kamar mandi.
Sebuah rasa penasaran hinggap di benak Sasuke. Tak melepaskan pandangannya dari benda mungil itu, ia seret langkahnya menuju meja tempat benda itu berada. Sesekali ia melirik ke arah pintu kamar mandi, awas dengan kemungkinan Suigetsu sudah selesai mandi dan segera keluar dari sana.
Tentunya bukan hal yang benar mengusik privasi orang lain. Namun sejak awal pun apa yang mereka telah lakukan memang bukanlah tindakan yang benar. Sasuke mengangkat bahunya tak acuh dan meraih ponsel merah terang itu.
Membuka flipnya, segera ia masuk ke dalam menu panggilan terakhir. Di sana terpampang jenis panggilan masuk beberapa saat lalu, selama rentang waktu kurang lebih sepuluh menit.
Sai.
Hanya 'Sai' saja. Tidak ada nama keluarga ataupun nama kecil. Entah ini nama marganya atau memang nama kecil sang penelepon. Sasuke mengerutkan keningnya sedikit.
Segera ia beralih pada menu pesan masuk. Didapatinya di sana beberapa pesan yang baru saja masuk tadi malam.
Sasuke membukanya satu per satu.
#
Sender: Sabaku no Gaara
Time: Sat - 07/15/2010 - 11:00 PM
Message: Dimana kau? Aku sudah meneleponmu berulang kali tapi ponselmu tidak aktif.
#
Sender: Sabaku no Gaara
Time: Sat - 07/15/2010 - 11:15 PM
Message: Jangan bilang kau lagi senang-senang?
#
Sender: Sabaku no Gaara
Time: Sat - 07/15/2010 - 12:27 AM
Message: Betul, ya? Lagi senang-senang?
#
Sender: Sabaku no Gaara
Time: Sat - 07/15/2010 - 01:09 AM
Message: Telepon aku segera.
#
Alis Sasuke berkedut.
Nama yang lain lagi. Tadi Sai, lalu sekarang Sabaku no Gaara.
Seketika perutnya terasa mual.
"Tidakkah orang tuamu mengajarimu bahwa mengintip isi ponsel orang itu tidak baik?" sebuah suara renyah mengejutkan Sasuke.
Sontak Sasuke memutar lehernya dan menatap sang pemilik suara.
Neji memijit punggung lehernya dalam posisi terduduk di atas ranjang menatap Sasuke. Tubuh bagian pinggang hingga ke bawahnya ditutupi selimut tebal putih bercorak garis-garis halus biru langit.
Sasuke tersenyum simpul, "Iseng saja," sahutnya singkat.
Neji hanya bergumam tanpa menimpali. Memutar lehernya yang terasa kaku dan memejamkan matanya kini.
Sasuke meletakkan ponsel merah terang itu kembali ke atas meja, tak lupa dengan berhati-hati menempatkannya pada posisinya semula.
"Si Suigetsu itu, kau kenal dia dari mana?" Sasuke menghampiri Neji di ranjang.
Neji membuka sebelah kelopak matanya, "Kenapa?"
"Cuma tanya saja," Sasuke mengangkat bahunya. Duduk di tepi ranjang.
"Beberapa kali ketemu di klub malam favoritku," jawab Neji sejenak kemudian. Masih mengamati raut muka Sasuke.
"Menurutmu…" Sasuke memelankan suaranya sedikit, "dia punya pacar, tidak?"
Neji mengangkat sebelah alisnya, "Kenapa tanya begitu?"
Sasuke berdehem kencang, "Pelankan suaramu!" desisnya setengah berbisik sambil melotot.
Neji melirik sekilas pada pintu kamar mandi, "Kenapa kau tanya begitu?" ulangnya, lebih pelan kini.
"Sesaat sebelum bangun sepenuhnya tadi pagi, aku tidak sengaja mendengar dia bercakap-cakap di telepon dengan seseorang. Sedikit penasaran, dan hasilnya… ya kau lihat sendiri, aku mengecek ponselnya," Sasuke menunjuk ponsel merah terang itu dengan dagunya.
Neji mengerutkan keningnya, "Apa yang dia katakan di telepon?"
"Entahlah. Sesuatu yang kedengaran seperti… 'Dapat', 'Hilang', 'Buang', dan 'Pulang'," ujar Sasuke. Terdengar sedikit nada keraguan dalam tutur katanya.
"Dapat? Hilang? Buang? Pulang?" Neji mengulang ucapan Sasuke dengan penuh tanda tanya. "Dapat apa? Apa yang hilang? Buang apa? Siapa yang pulang?" tambahnya mencecar.
"Mana kutahu," sungut Sasuke.
"Siapa peneleponnya?" Neji mengalihkan pertanyaan.
"Seseorang bernama Sai," jawab Sasuke cepat.
"Sai…" Neji mencoba meluncurkan nama itu dari ujung lidahnya. Sesaat seolah ia merasa nama itu tak asing baginya. Namun ia tak ingat di mana pernah mendengar nama tersebut.
"Dan ada pesan singkat juga," tambah Sasuke lagi. "Empat. Empat atau tiga, aku lupa. Tidak kuhitung."
"Dari Sai ini juga?" Neji mulai tertarik dengan arah pembicaraan berlangsung.
Sasuke menggelengkan kepalanya, "Orang yang lain lagi. Sa—"
"Aahhh! Segarnya~!" sebuah suara nyaring memotong kalimat Sasuke.
Sasuke tersentak dan menoleh cepat ke arah pintu kamar mandi.
Di sana, tepat di ambang pintu bercat biru terang, Suigetsu berdiri telanjang bulat dengan handuk kecil di kepalanya.
"Maaf mandi duluan, aku sudah selesai," ujar Suigetsu sambil nyengir lebar, memamerkan barisan gigi tajamnya.
"Pakai bajumu," celetuk Neji.
Suigetsu tak menyahut, namun menghampiri pakaiannya yang berserakan di lantai dan memakainya dengan santai sambil bersiul riang.
Sasuke menatap Neji dengan was-was. Neji memberinya isyarat bahwa tampaknya Suigetsu tak mendengar pembicaraan mereka sama sekali, melihat dari tingkah lakunya yang acuh tak acuh itu.
"Aku lapar," ujar Suigetsu beberapa saat kemudian, merapikan pakaiannya yang sudah terpakai sempurna. "Ada makanan?"
"Aku dan Sasuke biasa sarapan di kantin sekolah," sahut Neji menimpali.
"Ah! Hampir aku lupa," Suigetsu menghampiri Sasuke cepat-cepat. "Selamat pagi, sayang," ucapnya sembari mengecup kening Sasuke.
"A—" Sasuke memegangi jidatnya dan menganga.
Suigetsu tertawa. Meraih tas sekolahnya yang terabaikan semalam di pojok ruangan dekat pintu keluar, ia berujar lantang, "Aku duluan ke sekolah. Aku lapar."
Sasuke tak berkata-kata. Masih terkejut dengan perilaku Suigetsu padanya barusan.
"Sampai jumpa di sekolah, honey~" Suigetsu menegdipkan sebelah matanya sebelum menutup daun pintu di belakangnya.
Sasuke masih mematung menatap daun pintu yang telah tertutup seutuhnya itu, hingga pelukan sepasang lengan kuat melingkar di pinggangnya, "Menurutmu orang yang begitu, punya pacar?" Neji berbisik seksi di telinganya. Mengecup daun telinganya beberapa kali.
Sasuke meringis geli, "Mungkin saja. Seharusnya tadi kau tanya langsung."
"Kalau begitu kenapa tidak kau yang tanya?" Neji menghentikan kecupannya.
Sasuke tak menyahut untuk sejenak sebelum menjawab, "Dia 'kan temanmu, kau lebih punya hak untuk bertanya darpada aku."
"Disebut teman juga bukan, aku cuma ketemu dia beberapa kali sebelumnya. Dan beberapa kali itu dua atau tiga kali, juga dengan tempo hari di pemandian umum dan hari ini," Neji mengangkat bahunya. "Kenapa? Ada yang membuatmu tidak senang?"
Sasuke beranjak dari tempatnya duduk dan melangkah menuju kamar mandi, "Tidak, tidak ada," ujarnya seraya masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.
Neji tak berkata lebih lanjut, menatap bayangan Sasuke yang menghilang ke balik pintu dengan alis berkedut.
.
X.X.X
Sasuke berjalan menyusuri koridor sekolah dengan sekaleng jus persik dingin di tangannya. Sesekali ia menyesap jus segar itu dan mengedarkan pandangannya. Mencari sosok berambut cokelat panjang, atau barangkali sosok berambut perak sebahu.
Tiba-tiba tubuhnya menubruk sosok di depannya dan limbung hingga jatuh ke lantai dan mendarat dengan berdebum keras.
Sasuke meringis mengusap bokongnya dan memasang raut muka jengkel, "Kau pasang di mana matamu itu?" umpatnya kesal.
Seorang siswa berambut merah gelap menatapnya dengan sepasang bola mata hijaunya yang menyorot dalam di antara eye-shadow hitam pekatnya. Anak laki-laki bergaya gothic dengan kalung dari kulit hitam dan logam perak melingkar di lehernya. Lengan baju seragamnya tergulung dan menampakkan armband
Sasuke sedikit terkejut menatap orang yang baru saja bertubrukan dengannya itu.
Anak laki-laki itu mengalihkan pandangan lekatnya dari Sasuke dan berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi sedikitpun.
Sasuke melongo.
"Kau suka?" sebuah suara menghenyakkan pikiran Sasuke.
Kontan Sasuke menoleh pada sumber suara. Di sana Suigetsu tengah berdiri dan menjulurkan tangannya padanya.
Sasuke menyambut uluran tangan itu dan bangkit berdiri. Menepuk celananya yang sedikit kotor dengan debu lantai, ia melirik pada arah si anak laki-laki gothic tadi menghilang, "Kau kenal?"
"Sabaku no Gaara," jawab Suigetsu tak acuh.
"Siapa?" Sasuke membelalakkan matanya dan memutar kepalanya cepat, menatap Suigetsu.
"Sabaku no Gaara," ulang Suigetsu, keningnya terlipat. "Kenapa?"
"Oh, ah, tidak…" Sasuke memijit punggung lehernya dan melemparkan pandangannya ke jendela koridor. Tak mungkin dia bilang kalau tadi pagi ia baru saja mengintip isi ponsel lawan bicaranya itu.
"Dia anak kelas D. Kau tidak tahu?" Suigetsu gagal menangkap tingkah gelagapan Sasuke. "Lihat siapa yang anak baru di sini," ujarnya dengan nada mencemooh.
"Aku tidak suka bergaul dengan orang tak dikenal," Sasuke bersungut membela diri. "Sebentar. Kau baru masuk kemarin, 'kan? Bagaimana bisa kenal dengan anak barusan itu?"—dan mendapatkan nomor ponselnya?—tambah Sasuke dalam hati.
Suigetsu menarik sudut bibirnya, "Tanya saja pacarmu."
Kening Sasuke berkerut, namun Suigetsu berlalu meninggalkannya tanpa penjelasan lebih banyak.
.
.
.
Neji tengah menutup pintu lokernya dan menguncinya, ketika sosok berambut perak terbayang di sudut matanya. Ia menoleh dan mendapati Suigetsu tengah nyengir lebar seraya menengadahkan telapak tangannya padanya.
"Oh," Neji kembali memutar kunci lokernya dan membuka pintu besi kelabu itu. Meraih benda mungil berwarna merah terang dan menyerahkannya dalam genggaman Suigetsu. "Hati-hati lain kali. Sampai lupa membawa ponselmu segala."
"Ho? Akan ada lain kali?" Suigetsu mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan mata berkilat penuh ketertarikan. Tak mengindahkan cemoohan Neji pada kalimat terakhirnya.
Neji mengangkat bahunya, "Siapa tahu? Mungkin Sasuke akan minta."
Neji berbalik dan siap menuju ruang kelasnya. Suigetsu melingkarkan tangannya di pundak Neji dan melangkah bersisian dengannya, "Kau sendiri? Mau denganku?" bisiknya tepat di cuping telinga Neji.
Seringai tipis terpoles di sudut bibir Neji, "Boleh saja kalau kau yang di bawah," ujarnya dengan sedikit nada canda.
"Ehem," suara deheman sengaja dari seorang siswa berambut pirang menghentikan aktifitas saling goda mereka.
Keduanya menoleh pada sang siswa pirang.
"Ah, Naruto. Halo," Suigetsu melambaikan tangannya ringan pada siswa yang dipanggil Naruto itu.
Naruto melipat kedua tangannya di dada, "Oh, halo juga, Sui-ge-tsu. Aku senang kalian sudah semakin akrab hanya dengan satu hari bercengkrama," tutur Naruto dengan nada berduri. "Tapi kau harus ingat kalau hari ini adalah giliran tugas kebersihanmu, Suigetsu!" tudingnya pada Suigetsu yang kini mengerjapkan matanya. Lembaran kertas yang tergulung teracung tepat di depan batang hidung Suigetsu.
"Dengan senang hati, seksi kebersihan," Suigetsu melepaskan rangkulannya dari pundak Neji dan mencondongkan dirinya pada Naruto, berbisik di telinga Naruto seraya menghembuskan napasnya.
Dari cara kata-kata tersebut meluncur di bibir tipisnya jelas sekali kalimat sederhana itu jadi terdengar mesum jika diucapkan oleh yang bersangkutan.
Naruto kontan menggeplak telinganya cepat dan merona, "A—I—Da—Po-Pokoknya cepat ke kelas! Kerjakan tugasmu!" ujarnya berusaha menyembunyikan rona malunya dengan merahnya murka.
Suigetsu bergumam sebentar sambil menahan senyum, "Kalau kau butuh seseorang mengajarimu bicara, hubungi aku kapan saja. Sekalian… aku bisa mengajarimu hal yang lain juga," ujarnya mengedipkan sebelah matanya dan mengirimkan tatapan penuh provokasi seksi.
Naruto memukul kepala Suigetsu dengan gulungan kertas di tangannya dan membalikkan badannya. Melangkahkan kaki lebar-lebar menuju ruang kelas, "Jangan main-main!"
"Aku serius, lho!" seru Suigetsu kencang sembari menyesuaikan langkah dengan Naruto. Melirik sang pemilik rambut pirang emas yang kini menggembungkan pipinya menahan rona.
"Apa lagi serius! Tidak boleh!" timpal Naruto tak kalah kencang.
Suigetsu tertawa.
.
.
TBC
End Note:
Apa arahnya makin ga jelas? Tentu, berhubung baru mulai plotnya.. ^^;; *ngeles*
Mohon maap atas keterlambatan update fic ini, saya terjangkit wabah WB belakangan ini. Setelah menghibur diri dengan bikin fic2 ringan, akhirnya motivasi saya bangkit kembali.
Terima kasih bagi yang sudah meninggalkan feedback! Love you all!
