ALL I AM IS USELESS WITHOUT YOU
NARUTO BELONGS TO MASASHI KISHIMOTO
ALL I AM IS USELESS WITHOUT YOU BELONGS TO ME
WARNING: THIS FIC CONTAINS OF BOYS LOVE OR USUALLY WE ALL SAY "YAOI", OOC-ness, MISS TYPO(S), IF YOU DON'T LIKE THEN I GUESS YOU'LL NEVER OPEN THIS FIC. IF YOU OPEN IT, IT MEANS YOU INTEREST. IF YOU INTEREST BUT THIS FIC DISAPPOINTED YOU, THEN IT'S NOT MY FAULT NOR THIS FIC, BUT YOURS. CLEAR?
Pairing: SasuNaru (I'm big fan of this pair LoL)
A/n: tatatatatarraararararara(apaan sih?)chapter baru datang. Gomen bagi yang udah nunggu lama(emang ada yang nunggu?-_-). Semoga saja kali ini tidak begitu mengecewakan. Susah sekali dapat ide buat nerusin ini fic. Ada sih ide. Tapi bingung mau nulisnya gimana. Alhasil ya jadinya chapter gaje nan abal di bawah ini. Gomen ne... Tapi saya tetap akan selesaikan apa yang telah saya mulai. Untuk itu mohon beri saya dukungan ya :D. Review minna-san akan sangat berguna bagi saya sebagai motivasi untuk tetap nglanjutin fic ini.
Happy reading minna^.^
((((((((((18041995))))))))))
Pagi-pagi sekali Naruto sudah terlihat memakai seragamnya dengan rapi. Ia tampak tergesa-gesa. Sang ibu pun nampak heran padanya.
"Ada apa, Naruto?Kenapa buru-buru? Ini belum telat kok."
"Ah, ano, a-aku ada urusan dulu sebelum masuk kelas kaa-san, jadi aku harus segera berangkat. Itekimasu kaa-san"
"Itterashai"
.
.
.
Dalam perjalanan, Naruto tampak sedang melamun memikirkan sesuatu. Sejujurnya dia tidak mempunyai sesuatu untuk dilakukan sebelum memasuki kelas, tapi mana mungkin Ia bilang pada kaa-sannya kalau dia hanya ingin menghindari seorang Uchiha. Ya, kalian tidak salah baca, lakon kita kali ini sedang galau karena memikirkan seorang Uchiha. Ini sudah minggu kedua sang Uchiha bersikap aneh padanya. Ia sering menungguinya di depan gerbang kampus setiap dia berangkat lalu mengantarnya sampai keruangan. Uchiha itupun lebih banyak berbicara dibandingkan biasanya. Apa-apaan dia? Apa maunya? Naruto masih tidak mengerti tapi jujur itu membuatnya takut. Ia tidak mau perasaan yang sudah Ia coba untuk buang jauh-jauh—meskipun gagal—itu kembali ia rasakan. Dia tidak ingin jatuh cinta untuk yang kedua kalinya pada orang yang sama. Pada Uchiha yang dingin saja dia bisa jatuh cinta, apalagi pada Uchiha yang bersikap lembut padanya. I bet he did those acts on purpose. Atau jangan-jangan ia mau mempermainkanku dan mengatakan pada semua orang tentang dulu aku yang menyukainya? ARRRGH, aku bisa gila memikirkannya. Ya, kira-kira begitulah isi kepala Naruto.
Apapun itu yang jelas sekarang lebih baik Ia menghindar. Ia akan berangkat lebih pagi supaya dia tidak harus bertemu dengan Uchiha Sasuke di depan pintu gerbang. Mungkin terlihat jahat, karena menghindari teman yang berusaha bersikap baik itu bukan termasuk tindakan baik. Tapi biarlah Ia menghindar dulu sampai semua tujuan atas tindakan Sasuke padanya jelas.
.
.
.
.
.
10.28
Seharusnya Naruto sudah datang sekitar lima menit yang lalu. Sasuke yang saat ini sedang berada di depan pintu gerbang terlihat sedang mengecek jam di tangan kirinya. Apa jangan-jangan dia bermalam di rumah Gaara lagi? Begitu pikirnya. Beberapa hari belakangan dia kembali sulit untuk menemui Naruto. Ck, hanya dengan memikirkannya saja Ia sudah sangat kesal, damn it! karena kemungkinan memang Naruto tidak akan datang, akhirnya ia masuk ke dalam. Saat berjalan Ia berpapasan dengan Gaara. Dia sudah hendak berbelok ketika seseorang menggenggam tangannya. Saat menoleh, ternyata pelakunya adalah Gaara.
"Ada perlu apa?"
"Bisa kita bicara sebentar, Uchiha-san?"
"Hn"
Sasuke mengiyakan ajakan Gaara dan mengikuti Gaara yang berjalan di depannya. Setelah berada di tempat yang cukup aman—nampaknya bagi Gaara—maka akhirnya mereka berhenti. Pada awalnya seperti tidak ada yang berniat untuk mengawali percakapan dan ini membuat Sasuke kesal. Kalau hanya mau diam seperti ini untuk apa dia mengajakku bicara?Cih. begitu pikirnya. Akhirnya karena kesal pun, dia –terpaksa—mengawali perbincangan mereka.
"Apa yang ingin kau bicarakan Sabaku-san?
"Hn, to the point saja. Aku ingin kau menjauhi Naruto."
Sasuke yang sebenarnya sudah tahu sejak awal apa yang akan menjadi tema perbincangan kali ini pun menanggapi dengan santai. "Kenapa harus?"
"Aku rasa tidak ada yang perlu dijelaskan, kau cukup pintar untuk tahu apa jawabannya."
"Sejauh yang kutahu. Dia bilang kalian teman." Sasuke bersikukuh.
"Dan kau percaya?"
"Ya. Setidaknya aku lebih percaya dia daripada kau." Jawab Sasuke dengan seringai di bibirnya.
Gaara memilih untuk menghindari topik itu. "Dia terganggu dengan kehadiranmu."
"He never told me so."
"I believe he wanted to tell."
"Any prove?"
"Dia menghindarimu. Kau pasti sadar."
Kali ini Sasuke tidak menjawab. Sebenarnya ia merasa memang akhir-akhir ini Naruto menghindarinya. Terbukti dengan ia tidak bisa menemui Naruto saat masuk tadi dan beberapa hari lalu. Tapi itu tidak akan menyurutkan niat Sasuke untuk mendapatkan Naruto. Ia tidak akan melakukan kebodohan yang sama seperti tiga tahun yang lalu.
"Kalau begitu akan kubuat dia tidak bisa menghindar."
"Don't you dare!"
"Sabaku-san. Aku rasa semua ini tidak ada hubungannya denganmu."
"Tentu saja ada. Naruto adalah..."
"Temanmu. Ia temanmu, tapi kau tidak bisa mengatur kehidupan pribadinya. Dengan siapa ia dekat sama sekali bukan urusanmu." Sasuke memotong perkataan Gaara.
"Jangan berpura-pura tidak tahu siapa aku, Uchiha."
"Oh, apa kau anak pejabat?" Sasuke bertanya dengan nada mengejek.
Gaara mengepalkan tangannya. Emosi. Lawannya bukan orang yang bisa dengan gampang ia kalahkan, apalagi mengingat posisinya dan posisi Sasuke untuk Naruto. Gaara tidak bodoh. Ia tahu Naruto masih menyukai Sasuke, dan itu membuat posisinya semakin tidak menguntungkan. Tapi dia juga masih beruntung. Naruto masih in denial, ia juga masih menjadi "teman dekat" Naruto. Jadi selama masa itu, ia akan berusaha sebisa mungkin menyingkirkan Sasuke. Gaara menyeringai kecil. Ya, tidak ada siapapun yang boleh ,merebut Narutonya. Naruto hanya miliknya.
"Terserah apa katamu, Uchiha. Yang jelas aku tak akan menyerahkan Naruto begitu saja."
"The same goes with me," sekali lagi, Sasuke menjawab dengan senyum meremehkan.
Gaara melangkahkan kakinya mendekati Sasuke. Setelah tepat berada di depannya ia berkata, "Well, kurasa sebaiknya aku pergi. Aku harus segera menemui..." Gaara berhenti sejenak sebelum kemudian berbisik di telinga Sasuke "Narutoku...", lalu pergi dari hadapan Sasuke. Meninggalkan Sasuke yang masih terdiam dengan perasaan yang amat sangat kesal. Damn it, Gaara! Naruto itu milikku. Chikuso..jangan pernah memanggilnya Narutomu. Aku tidak akan pernah melepasnya kali ini. Tidak akan pernah...
Seluruh dunia pun tahu kalau sekali Uchiha menyukai sesuatu, mereka akan protective dan possesive pada hal itu. Dan mereka akan mendapatkannya. Tidak, tapi harus mendapatkannya...
.
.
.
.
.
.
Sejak tadi Naruto merasakan feeling yang tidak enak. Entah kenapa perasaannya mengatakan akan terjadi sesuatu yang meilbatkan dirinya. Apa ya? Perasaan itu justru bertambah kuat beberapa saat lalu setelah Gaara datang menemuinya.
"Yo, man."
"Ouch, Kiba. You scared me to death."
"Itu salahmu. Sedari tadi melamun. Gaara-senpai sampai kau cuekin."
"Tidak apa-apa. Kurasa aku hanya tidak enak badan. Aku mau bolos. Bilang pada dosen pengajar aku sakit. See ya later, Inuzuka boy."
"Oiy, Naruto. Kau mau kemana, oiy...!"
Naruto tidak mempedulikan teriakan Kiba. Ia terus berjalan. Rasanya ikut kuliah pun percuma karena materi tidak akan masuk ke otaknya. Mungkin dia tidak bohong. Dia merasa tidak enak badan. Merasa seperti sesuatu akan menikamnya dari belakang dan...
"Ittai..ittai.." Naruto mengaduh kesakitan karena terpeleset di tangga. Ada apa dengan Luck nya hari ini, huh? Naruto mencoba untuk berdiri, tapi ia tidak bisa. Gawat, kakinya terkilir. Bagaimana ini?
"Naruto?"
Menolehkan kepalanya ke belakang, kedua mata Naruto melebar untuk beberapa saat sebelum kembali ke normal dan menolehkan wajahnya kembali ke depan.
"A-ah. Sasuke, hi."
Orang yang memanggil Naruto—yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sasuke itu—melangkahkan kakinya mendekati Naruto.
"Apa yang terjadi? Kenapa duduk di bawah tangga?" tanya Sasuke dengan bodohnya.
"Ini bukan duduk. Ini terpeleset, bodoh." Jawab Naruto dengan kesal. Ia tidak percaya seorang Uchiha bisa mengatakan hal semacam itu.
"Hn. Bangunlah kalau begitu. Kau terlihat sangat bodoh duduk di sana." Jawab Sasuke dengan entengnya.
"Teme, kalau aku bisa bangun aku tidak akan duduk disini terus mendengar ocehanmu."
Sasuke terdiam. Untuk pertama kalinya ia merasakan perasaan yang membuncah seperti ini. Sangat tidak Uchiha, tapi, ia tidak bisa tidak merasa bahagia. Narutonya, Narutonya kembali memanggilnya Teme. Setelah tiga tahun tidak mendengarnya. Nama ejekan itu, ia...tidak bisa...terlalu konyol tapi...ia sangat senang. Tanpa sadar ia pun tersenyum dan berkata.
"Dobe."
"Apa?" Naruto masih merasa kesal dengan Sasuke tapi ia cukup terkejut melihat Sasuke tersenyum setulus itu. Wajahnya pun memerah dan ia merasakan detak jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Tidak, jangan lagi..jangan lagi..jangan lagi. Naruto terus merapalkan kalimat itu di dalam hatinya saat tersadar kalau badannya terasa sangat ringan. Loh?
"A-apa yang kau lakukan, Sasuke? Turunkan aku!"
"Hn"
"Cepat turunkan hei. Ini memalukan."
"Diamlah. Kakimu mulai membengkak dan harus segera diobati."
"Iya, tapi turunkan." Wajah Naruto merah padam, ia digendong bridal style oleh cowok di kampus. Kemana harga dirinya sebagai pria?
"Cerewet, Dobe."
"Arrrrrgggghh, Teme menyebalkaaaaaan..."
Dan Sasuke sekali lagi hanya dapat tersenyum mendengar sebutan itu lagi. Dan ia akan pastikan, ia akan mendengar lebih banyak sebutan itu mulai sekarang
.
.
.
.
.
TBC
Yak, sekian chapter gaje nan abal..tunggu chapter berikutnya ya?:)
Review reply:
megu megu: makasih pujiannya..saya usahain apudeto,meskipun ga kilat...
Dee chan-tik: makasih chan-tik juga keren(modus biar kamu ngreview terus :p) ni dah dilanjut...
AsHa Lightyagami kisslicksucks: makasih reviewnya, aku juga penasaran ama naruke...hehehe...dah dilanjut...
Yamashita Kumiko: makasih reviewnya...aku juga suka ama sasuke yang galau galau gitu...tapi jangan lama2 deh...hihihi
: hurray...makasih, seneng deh kamu seneng...review lagi yakkk, kalo review lagi, Gaara pasti kalah deeh sama Sasu...hihihihi...
dhiya chan: ampuuuunnn bosss...jangan geplak saya yang tak berdaya ini...iya, aku juga penasaran gimana ya caranya si Gaara. Kayanya sih sperti yg kmu pikirin coy #sok akrab. SN nya udah muncul kan? Nah, mana reviewnya?#nodong dhiya chan
Mind to review minna?
