.
Terkadang labyrinth yang kita lewati membentuk sebuah mozaik.
Mozaik yang bisa membawa kita berjalan menuju hal yang baru.
Namun, ada kalanya mozaik itu menjatuhkan kita ke hal yang rumit.
Menjerumuskan kita menuju permainan yang tiada ujungnya.
Ya.
Labirin ini telah menyeret kita menuju—
KEMATIAN
.
.
.
Labyrinth
Attack on Titan © Isayama Hajime
.
Chapter 4: It's Beginning
By: AriaFriends24 (id: 3539131)
.
.
.
"Pundak anda kenapa berdarah?!"
Pekikan Eren membuat seluruh teman-temannya menoleh kepada sensei-nya. Tiga belas pasang mata murid kelas 10-4 menatap heran ke arah Levi-sensei, terutama pada pundaknya yang berdarah.
"Darimana luka ini berasal? Aku sama sekali tidak bisa mengingatnya."
Hati nurani Levi pun bertanya-tanya. Ia pun masih ingat mimpi tentang gadis kecil yang aneh dan segala euforia horornya tentang Dufan. Tempat yang seharusnya menyenangkan. Namun, berubah menjadi tempat yang penuh dengan darah, setelah gadis itu memulai permainan berdarahnya tersebut. Sudah kedua kalinya Levi kecolongan—tertidur, maksudnya.
"Sensei, apa anda tidak apa-apa? Pundak anda berdarah. Apa perlu saya antar ke klinik di sekitar sini?" tanya Eren menawarkan diri. Pertanyaan tersebut disetujui para muridnya. Lagipula, bagaimana bisa wali kelasnya terluka? Sedangkan sedari tadi wali kelasnya tertidur. Kini, para murid kelas 10-4 pun bermain dengan pemikiran rasionalnya. Tidak mungkin wali kelasnya diserang orang atau yang lainnya. Toh, mereka sedari tadi bersama wali kelas mereka. Kebingungan pun menjalar di benak murid-murid kelas 10-4.
"Aku tak apa-apa kok. Ayo kita masuk." Levi memberikan isyarat bahwa dirinya baik-baik saja.
"Tapi sensei…" sanggah Armin bingung.
"Aku tak apa-apa. Ayo kita masuk. Nanti aku akan ke toilet untuk membersihkan darah ini." kata sang wali kelas mengultimatumkan kondisi dirinya. Armin pun mengangguk maklum. Akhirnya, seluruh murid 10-4 masuk menuju loket. Levi mengikuti murid-muridnya dari belakang. Suasana yang menyelubungi taman itu berbeda dengan apa yang ada di mimpinya.
"Sebenarnya apa yang akan terjadi di taman ini pada hari ini? Mengapa aku mendapatkan mimpi aneh semenjak perjalanan menuju ke sini?"
"Anak-anak, kalian akan masuk ke wahana secara berkelompok. Lebih baik jika kalian berjumlah banyak. Khusus Braus, kau kumasukkan ke dalam kelompoknya Jaeger." kata Levi sambil mengarahkan Sasha masuk ke kelompoknya Eren, Agar si Gadis Kentang itu tidak sendirian menuju wahana yang ia mau. Dan Levi pun sedikit trauma terhadap mimpinya. Ia melihat Sasha berjalan sendiri di Rumah Kaca dan terakhir, ia melihat gadis itu terbujur kaku dan mulai membusuk.
'Dasar mimpi sialan…' umpat Levi dalam hatinya. Ia mengumpat ke segala hal yang menyelubungi otaknya. Persetan dengan mimpi tersebut. Gegara mimpi tersebut ia menjadi paranoid. Ya, paranoid. Paranoid akan kematian murid-muridnya di Dufan.
"Sensei, apa sekarang kami boleh bermain?" tanya Christa ke gurunya tersebut. Membuyarkan lamunan dari sang guru.
"Sudah boleh, kok. Ingat! Tetap selalu bersama dan pastikan handphone kalian aktif. Jika terjadi sesuatu, hubungi aku. Kalian bisa meminta nomorku ke Jaegar maupun Ackerman," tukas Levi-sensei. "Dan kembalilah sebelum jam empat sore." lanjutnya kembali, mengakhiri pembicaraan. "Ya!" seru seluruh murid kelas 10-4 semangat. Levi pun bisa bernafas lega. Walaupun didalam hatinya masih ada rasa takut dan was-was.
CKIT!
Rasa sakit pada bahu Levi mulai bermunculan.
'Sial… Luka ini rasanya seperti disayat-sayat…' umpat Levi kesakitan.
Nyut… Nyut…
Denyut pada luka di bahu Levi makin menjadi-jadi. Dan Levi pun mulai mengerang kesakitan.
"Kh… Tch… Sebaiknya aku harus ke klinik di sekitar sini, untuk mengurangi rasa sakit dan infeksi…," gumam Levi pada dirinya sendiri, dan mulai berjalan mencari klinik terdekat.
.
.
.
"Kita enaknya main apa dulu ya?" kata Eren sambil melihat katalog wahana permainan, "Sepertinya Hysteria bagus. Tapi, aku juga ingin main Roller Coaster." Eren bingung terhadap pilihannya.
"Apapun Eren pilih, aku ikut saja." tukas Mikasa datar. Ayolah, Mikasa. Masa' kau tidak ingin membantu saudaramu? Ia butuh saranmu, Mikasa. Lain Eren, lain Armin. Kini, Armin melihat pemandangan sekitar Dufan. Tak lama kemudian, Sasha menepuk bahu Armin.
"Ada apa, Sasha?" tanya Armin kepada si Gadis Kentang yang menepuk bahunya.
"Armin, lihat itu. Menurutmu apa dia manusia?" tanya Sasha sembari menunjuk seorang gadis kecil yang duduk tertunduk dengan rambut sepunggung. Dan poninya menutupi kedua matanya.
"Apa-apaan sih kamu itu? Jelas-jelas dia manusia." Armin menyangkal pertanyaan Sasha.
"Hehehe…." gadis kecil itu menyunggingkan senyuman aneh.
"Please, deh, Armin. Dia bukan manusia. Tak mungkin dia tersenyum seperti itu, dan senyumannya pun aneh." kata Sasha bersikeras pada pendapatnya.
Armin yang masih tak percaya dengan kalimat Sasha, kembali menatap gadis kecil tersebut. Sekejap saja, bulu kuduk Armin meremang. Gadis kecil itu terlihat samar dan menghilang. Masih tidak percaya, Armin pun memanggil Eren dan Mikasa.
"Eren, Mikasa. Apa kalian melihat ga… dis itu?" ucapan Armin melirih ketika gadis kecil itu benar-benar menghilang dari bangkunya.
"Ada apa, Armin? Disana tidak ada apa-apa." kata Eren menyerngitkan dahinya. Armin dan Sasha langsung menutup mulutnya. Mereka hanya bisa terdiam, meratapi apa yang baru saja terjadi. Mereka juga masih syok dengan apa yang mereka lihat. Armin pun mulai merasa ada yang tak beres dengan tempat ini.
'Sebenarnya apa yang terjadi pada tempat ini? Aku mulai merasakan hal yang tidak beres. Apa Levi-sensei juga merasakan hal ini? Dan kenapa pula Levi-sensei jatuh tertidur sebanyak dua kali?' Armin menggumam pada dirinya sendiri. Ia baru menyadari hal ini ketika Levi-sensei jatuh tertidur saat hendak memasuki Dufan, dan ia sendiri melihat wali kelasnya terluka tanpa sebab. Masa' tidak ada yang menyadari keanehan yang terjadi? Ya, mungkin ada. Namun, mereka tidak peka akan kondisi yang terjadi.
"Hoi, Armin! Ngapain disitu? Ayo kita main!" seru Eren memanggil temannya yang asyik berpikir.
"Eh, iya. Tunggu aku!" balas Armin gelagapan. Kemudian, ia menoleh kembali pada bangku yang diduduki oleh gadis kecil tadi.
'Ah, jangan berpikiran aneh dulu. Mungkin saja itu halusinasiku. Positive thinking saja dulu,' batin Armin menyangkal prasangkanya tadi.
.
.
.
"Fiuh… Akhirnya bersih juga…"
Levi menghela nafas lega setelah mengobati bahunya di klinik di sekitar Dufan dan membersihkan kemejanya dari darah di toilet. Ternyata, walau terluka, Levi tetap mempertahankan 'maniak kebersihan' miliknya. Namun, kelegaan itu sirna bersamaan dengan munculnya hal yang paling tidak diinginkannya, yaitu…. Gadis kecil itu muncul di dunia nyata. Bukan dunia mimpi. Levi sempat mengerjapkan matanya berkali-kali, memastikan apa yang ia lihat bukanlah ilusi.
'Tidak mungkin…' Akal sehat Levi pun menjerit histeris.
Gadis kecil itu tersenyum aneh. Mengisyaratkan pada Levi, seolah-olah permainannya yang ada di dalam mimpi belum berakhir. Si gadis kecil tersebut mengikuti Eren dan kawan-kawannya dari belakang, berusaha untuk 'mencelakakan' kelompok tersebut.
"Aku akan 'menyeret' mereka ke dalam permainanku ini…" kata si gadis kecil sembari tersenyum layaknya seorang anak kecil yang mendapatkan boneka baru. Sontak saja, Levi berteriak.
"JANGAN!"
CTIK!
Terlambat sudah, sang gadis kecil sudah menjentikkan jarinya. Mengubah dimensi Dufan yang cerah menjadi suram. Orang-orang yang berada di tempat tersebut mulai 'meninggalkan tempat'. Menciptakan suasana lengang.
"Bagaimana? Apa kau bisa menyelesaikan permainan ini?" kata si gadis kecil menantang Levi.
"Aku pasti bisa membawa pulang murid-muridku!" tekad Levi menatap mata gadis kecil tersebut dengan tatapan tajam.
"Oh ya? Buktikan kalau kau bisa. Nyawamu hanya satu. Jangan anggap enteng permainan ini. Kalau masih sayang nyawa, lebih baik kau keluar dari sini. Dan tinggalkan murid-muridmu disini." Si gadis kecil meremehkan Levi.
"AKU TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKAN MURIDKU! DAN AKU TIDAK AKAN MENYERAH!" seru Levi penuh amarah. Ia paling benci apabila ada orang yang menjerumuskannya untuk menyerah.
"Oh, begitu. Jadi, kau ingin bermain-main ya? Silahkan. Aku tidak peduli dengan tekadmu tersebut. Hanya saja, jangan salahkan jika beberapa orang yang ada disini mati karena perbuatanmu sendiri." balas si gadis kecil berusaha untuk membuat Levi jatuh dan menyerah.
"Tch… Sialan kau…," umpat Levi kesal. 'Kenapa semakin rumit begini?' pikir Levi penuh dengan rasa amarah. Namun, pikirannya buyar saat ia mendengar teriakan.
"GYAAA! SENSEI TOLONG KAMI—"
Suara itu berasal dari kelompoknya Eren.
"Wah, wah. Sepertinya permainan yang sebenarnya sudah dimulai. Sebaiknya, aku tinggal saja. Jaa naa…" Gadis kecil itu menghilang dari hadapan Levi.
"Shit!" umpat Levi penuh amarah. Kini, ia dihadapkan dengan permainan yang aneh dan sulit. Ia harus menyelamatkan (lagi) nyawa murid-muridnya mulai detik ini juga.
'Semuanya… Tunggu aku…' batin Levi menatap wahana-wahana di Dufan tersebut.
Kucing yang kehilangan satu kakinya.
Telah membawamu menuju permainan yang tiada akhirnya.
Kau hanya bisa mengikuti alurnya.
Dan menikmatinya.
Lawanlah alur itu sekarang.
Sebelum Labyrinth menghisapmu kembali.
Lawanlah!
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Mungkinkah Levi dapat membawa murid-muridnya pulang kembali dengan selamat?
Siapakah sebenarnya gadis kecil itu?
Lalu—
Apa maksud dari permainan ini?
A/N:
Permisi semuanya, AriaFriends24 hendak berbicara.
Ini persembahan chapter 4 oleh saya.
Maaf jika tidak sesuai harapan kalian sebelumnya.
Saat pengetikan cerita, saya hanya mikir. Jika Armin bertemu 'penampakan' gadis kecil itu bagaimana jadinya. Dan bagaimana reaksi Levi jika bertemu dengan si gadis kecil di dunia nyata.
Sumpah, ini ancur banget….
Yah, namanya juga menyesuaikan cerita dari author-author sebelumnya. Jadi harap maklum ya #dihajarmassa.
Oh ya, soal mozaik itu hanya pemikiran saya ketika membayangkan Labyrinth yang "sebenarnya".
Dan terimakasih untuk Chima-onee-san yang menerima curhatan dan memberi saya saran.
Akhir kata—
TITANISTA
Telah mempersembahkan Fanfic ini untuk para reader disana. ^_^
Semoga chapter ini berkenan bagi anda.
Selanjutnya yang kena giliran adalah….
Rouvrir Fleur!
Saya ngacir dulu yah. Bye-bye be~!
Remaining author(s) and authoress(es):
Tsubaki Audhi / My Shapeless Heart / Shana Nakazawa / Ray Bellatrix / black roses 00 / Rainbow 'Walker' Castle / Saint-Chimaira (Kari)
