Pertemuan Kedua
Seoul. Saat Ini.
Dokter Shino Aburame sedang membaca laporan-laporan dari kliennya di rumah sakit tempatnya bekerja pagi ini saat seorang laki-laki bertubuh tinggi memasuki ruang kerjanya. Sekretarisnya bilang kalau hari ini ada klien baru yang akan datang ke klinik sederhananya ini. Shino meletakkan berkas-berkasnya dan menatap laki-laki itu dengan pandangan ramah. Dia membenarkan kacamatanya sesaat sebelum menyapa laki-laki itu.
"Selamat pagi.. Anda yang bernama Uchiha Sasuke?" tanyanya ramah.
"Benar. Saya Uchiha Sasuke.." jawab laki-laki itu, masih berdiri di depan pintu.
"Oh.. Silakan duduk terlebih dahulu," kata Shino mempersilakan laki-laki itu duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya. Laki-laki itu menuruti intruksinya.
Sasuke segera duduk di atas kursi itu dengan sikap kaku.
"Baiklah.. Uchiha-san... Bagaimana kabar Anda hari ini? Hari yang baik, bukan?" kata Shino mulai membuka percakapan.
"Emm... Iya. Saya baik-baik saja..." jawab Sasuke pelan.
"Apa Anda sedang sakit? Wajah Anda tampak pucat sekali.." Shino melepas kacamatanya dan menatap laki-laki di depannya dengan lebih seksama.
Sasuke tidak segera menjawab. Dia bahkan tidak menatap psikiater muda di depannya ini dan memilih untuk memperhatikan berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya.
"Saya.. agak kurang baik beberapa hari ini..." jawabnya kemudian. Shino mengangguk-angguk.
"Saya dengar Anda bekerja di perusahaan kopi. Dari profil Anda yang Anda berikan pada asisten saya kemarin. Apa Anda bekerja terlalu lelah?" tanya Shino. Sebenarnya dia sudah bosan melakukan basa basi panjang seperti ini. Tapi bagaimanapun, inilah salah satu metode terapi. Klien di depannya ini tampaknya tidak akan dengan sukarela mengatakan apa masalahnya, makanya dia harus memancingnya dengan pertanyaan-pertanyaan agar klien ini mau menceritakan apa masalahnya. Biasanya klien-kliennya yang sebelumnya akan dengan blak-blakan mengatakan semua masalah padanya, walaupun ada juga sebagian yang masih merasa malu mengatakannya dengan alasan kalau orang lain akan menganggapnya gila. Laki-laki di depannya ini mungkin salah satunya.
"Tidak. Pekerjaan saya baik-baik saja dan tidak terlalu melelahkan. Hanya saja.. Saya kurang tidur akhir-akhir ini..." jawab Sasuke.
"Anda pasti sedang mengerjakan suatu proyek besar sampai harus kurang tidur seperti itu. Apa itu masalahnya?" tanya Shino hati-hati.
"Bukan... Bukan itu..." jawab Sasuke ragu-ragu.
Shino mengernyitkan kening menatapnya.
"Ah, pasti ada masalah lain tentunya.." Shino melemparkan senyum meyakinkan kepada Sasuke.
Sasuke kelihatan ragu dan dia mulai meremas-remas tangannya.
"Saya tidak yakin dengan apa yang saya rasakan.. Tapi, saya rasa.. Saya takut kalau saya sudah gila.. Saya malu kalau..." dia tidak meneruskan kata-katanya sementara Shino terus mendengarkan dan menunggunya untuk melanjutkan kata-katanya.
"Saya tahu kekhawatiran Anda. Semua orang, hampir semua orang yang memiliki masalah yang berat, akan mengatakan kalau mereka hampir gila. Saya juga pernah mengalaminya. Saya bahkan hampir setiap hari tidak bisa tidur. Memang menyebalkan. Tapi saya akhirnya menceritakan masalah yang saya hadapi pada teman saya, dan beban pikiran saya jadi sedikit ringan. Anda tahu, menceritakan masalah kita pada orang lain dan tidak memendamnya terus menerus kadang bisa jadi obat stres kita.." ujar Shino panjang lebar.
Sasuke kembali menatap psikiater muda di depannya ini untuk beberapa saat.
"Iya.. Dokter, aku rasa.. Aku butuh bantuan..." katanya kemudian. Shino tersenyum tipis.
"Kalau Anda merasa tidak yakin dengan menceritakannya pada kami, Anda boleh protes sekarang. Tapi sebagai info, kami punya pedoman.. Rahasia klien, adalah rahasia kami juga. Anda tidak perlu cemas. Hanya saya yang akan tahu rahasia Anda.." katanya lagi.
Sasuke mengangguk-angguk.
"Baiklah.. Saya akan mencobanya.." katanya.
Shino tersenyum samar.
"Anda bisa mulai menceritakan tentang keluhan Anda, mungkin.." katanya.
Sasuke menduduk dan kedua tangannya memegang kedua lututnya dengan sikap tegang.
"Saya bermimpi.. Mimpi buruk.. Mimpi yang buruk dan datang berkali-kali. Terus menerus, hampir setiap hari..." katanya.
Shino menatap klien di depannya ini dengan seksama.
"Anda butuh merileksasikan diri, saya rasa. Mari, saya menyarankan Anda menceritakan masalah Anda seraya berbaring di atas sofa empuk di sana. Mungkin akan sedikit membuat Anda merasa santai saat menceritkannya," Shino berdiri dan menunjuk pada sofa panjang yang ada di salah satu sisi ruangan. Sofa itu memang diletakkan di sana untuk salah satu metode terapinya.
Sebagian klien yang datang ke klinik ini akan ditangani dengan metode asosiasi bebas ini, di mana pasien hanya butuh menceritakan semua yang dirasakannya. Semua hal.. Apapun.. Dari situlah biasanya pasien akan mengungkapkan dengan sendiri masalahnya yang sebenarnya. Metode psikoanalisa lama yang dikembangkan Freud ini masih banyak digunakan oleh para psikiater dan psikolog modern di jaman sekarang. Kadang sumber masalah sebenarnya ada pada suatu hal sepele yang tidak disadari klien. Dan terkadang, orang-orang tidak paham apa yang menjadi masalahnya dan hanya dengan menceritakan pada orang lain, dia jadi tahu masalahnya dan bagaimana pemecahannya. Kadang juga, orang-orang hanya ingin ada seseorang yang mendengar keluh kesahnya saja. Begitu banyak permasalahan yang dialami beberapa orang dengan pemecahan masalah yang berbeda.
Shino mempersilakan Sasuke berbaring di atas sofa panjang yang empuk itu, dan dia sendiri mengambil tempat duduk yang ada di samping sofa itu, tepat di samping sandaran kepala jadi Sasuke tidak bisa melihatnya dan dia bisa bebas menceritakan semua hal yang ada di dalam kepalanya.
"Anda sudah merasa nyaman, Uchiha-san?" tanya Shino.
"Iya.." jawab Sasuke seraya membenarkan letak kepalanya.
"Anda bisa memulai cerita Anda kalau Anda sudah siap menceritakannya. Ceritakan saja apa saja yang Anda rasakan saat ini. Semua peristiwa dan hal-hal yang memang ingin Anda ceritakan..." kata Shino. Dia sudah menyiapkan buku catatan dan bolpoin di tangannya.
Psikiater itu mengamati laki-laki yang sudah terbaring di sofa di sampingnya.
"Kapan tepatnya Anda mulai bermimpi buruk?" tanya Shino.
"Aku.. tidak tahu. Mungkin sekitar dua bulan yang lalu.." jawab Sasuke.
"Hmm.. Bisa Anda ceritakan apa yang terjadi? Apa yang Anda mimpikan?" tanya Shino lagi.
Sasuke tidak segera menjawab. Laki-laki itu tampak ragu-ragu lagi.
"Aku hanya.. bermimpi.. Mimpi aneh yang sama, berulangkali..." kata Sasuke akhirnnya.
Shino menyiapkan kertas catatan dan alat rekamnya.
"Mm, ya.. Mimpi aneh itu.. kalau boleh saya tahu, tentang apa?" tanyanya hati-hati.
Sasuke terlihat menarik napas dan menghelanya, sebelum akhirnya dia mulai mengatakan apa yang menjadi mimpi buruknya akhir-akhir ini.
.
.
[Sakura Haruno]
Aku berjalan tergesa sambil sesekali melirik jam tanganku sore ini.
"Oh, ya ampun.. Aku sudah sangat terlambat," kataku pada diri sendiri seraya mempercepat langkahku. Langit di atas sudah mulai menggelap dan bunyi bergemuruh sudah terdengar dari tempat di kejauhan sana. Hujan pasti akan turus lebih deras dari yang kemarin, batinku menebak.
Daripada memikirkan hujan yang akan turun malam ini, lebih baik aku segera mencari-cari alasan kepada Seung Hyun karena keterlambatanku ini. Sebenarnya aku ketiduran tadi siang dan baru bangun saat mendengar telepon dari Ino sore ini yang pamit kalau dia tidak bisa pulang ke apartemen karena ada acara makan malam dengan keluarga pacarnya. Dan aku sama sekali lupa kalau aku juga punya janji dengan Seung Hyun akan menemaninya makan malam hari ini.
Ya ampun.. Gara-gara mimpi buruk semalam, aku jadi tidak bisa tidur dengan tenang semalaman. Mimpinya jelas sekali dan masih terbayang-bayang sampai sekarang. Ahh, sudahlah! Aku tidak perlu mengingat-ingatnya lagi. Aku menggeleng keras-keras dan mengusir ingatan tentang mimpiku semalam.
Jalanan di sekitarku sudah mulai padat. Banyak orang yang sudah memegang payung di tangannya. Aku merapatkan mantelku dan mulai mencari-cari sekeliling tempat itu. Dan aku menemukan sosok Seung Hyun sedang bersandar pada sebuah dinding toko dengan berbalut mantel hitam panjang serta topi musim dinginnya. Aku tersenyum tipis dan segera berjalan menghampirinya.
Seung Hyun segera menyadari saat aku berjalan ke arahnya. Laki-laki ini langsung melihat ke arahku saat aku sudah mulai dekat dengan tempatnya berdiri sekarang. Aku melambaikan tanganku ke arahnya dan Seung Hyun hanya membalasnya dengan sebuah senyuman samar.
Ahh, dia keren sekali... batinku antusias. Seung Hyun menyambutku dengan lambaian singkat. Tapi aku mengartikannya sebagai sebuah sambutan terhormat darinya.
"Ah, maaf sekali.. Maaf membuatmu menunggu," kataku seraya menunduk ke arahnya.
"Tidak apa-apa.. Kau pasti sibuk sekali, ya?" tanyanya.
"Ahh, tidak terlalu..." jawabku mencoba mengelak. Sibuk sekali? Yang benar saja.. Aku bahkan hampir menganggur seharian karena tidak memperoleh bahan tulisan satu pun dan dimarahi Hatake-san habis-habisan.
"Lalu? Kau sudah makan?" tanya Seung Hyun dengan sikap kaku.
Aku mengernyitkan dahi menatapnya. Bukankah dia mengajakku ke sini untuk makan? Tentu saja belum.
"Belum.." jawabku kemudian.
"Kau mau makan apa? Sesuatu yang berkuah dan hangat? Atau makanan Eropa? Atau restoran Jepang?" Seung Hyun bertanya padaku seraya mengedarkan pandang ke sekitar kami.
"Tidak perlu repot-repot. Kau yang mengajakku ke sini 'kan? Jadi, aku menurut saja.." sahutku.
"Ah.. Aku rasa kau pasti bosan dengan makanan Jepang. Bagaimana kalau kita mencoba makanan Eropa? Kau mau?" tanya Seung Hyun.
"Em. Baiklah.." kataku.
Seung Hyun tersenyum ke arahku dan aku membalasnya dengan kikuk. Ya ampun.. Kenapa jadi kaku seperti ini suasananya?
Seung Hyun berbalik dan berjalan mendahuluiku. Saat aku melangkahkan kakiku untuk menyamai langkahku, saat itulah tiba-tiba aku merasa udara di sekitarku menjadi sangat dingin. Mendadak bulu tengkukku berdiri dan aku menjadi merinding. Ketakutan yang sama seperti dua hari yang lalu kembali menyergapku. Perasaan terancam dan seolah diikuti oleh orang yang sedang mengincar nyawaku.. Aku yakin sekali... Di suatu tempat, ada seseorang yang sedang mengamatiku. Siapa?
Aku menatap sekelilingku. Mengamati setiap orang yang ada di jalanan itu dan mengamati gerakan mencurigakan dari setiap orang yang lewat di sekitarku maupun yang berada jauh dari tempatku sekarang. Tapi semua orang yang sedang berlalu lalang di sekitarku ini bahkan tidak memperhatikan apa yang sedang aku kerjakan. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing, diburu waktu dan cuaca yang semakin mendung. Apa itu tadi hanya perasaanku saja? Ketakutan itu? Rasa takut yang sama seperti yang aku rasakan semalam. Saat aku terjebak dalam sebuah lingkaran gelap dalam mimpiku.
Ada sebuah dorongan kuat yang memaksaku untuk menoleh ke belakang. Entah kenapa.. Aku hanya mengikuti kata hatiku untuk menoleh ke belakang. Saat aku menoleh ke belakang, aku sama sekali tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Lalu perasaan ini? Apa ini?
"Sakura, kenapa?" sebuah suara bariton mengagetkanku dan aku segera tersadar dari pikiran burukku. Seung Hyun sudah ada di sampingku sambil menatapku cemas.
"Oh, tidak.. Tidak apa-apa.." jawabku buru-buru.
"Benarkah? Wajahmu pucat. Kau sakit?" tanyanya lagi.
Aku menyentuh wajahku.
"Benarkah?" tanyaku.
"Kau aneh.. Apa kau ku antar pulang dan acara makan malamnya bisa diganti lain waktu?" tanya Seung Hyun, masih menatapku dengan cemas.
"Eh? Tidak. Tidak perlu.. Aku baik-baik saja. Sungguh.." kataku mencoba meyakinkan. Pada kenyataannya, aku memang baik-baik saja dan tidak sakit. Tapi perasaan aneh yang baru saja menyerangku ini tiba-tiba membuatku mual.
"Kalau kau bilang begitu.. Apa kau sungguh-sungguh?" tanya Seung Hyun lagi.
"Emm. Kau tenang saja.." jawabku.
Seung Hyun kelihatan ragu untuk meneruskan acara makan malam ini. Tapi saat aku bilang, aku tidak akan kenapa-kenapa dan meyakinkannya kalau aku tidak akan membuatnya repot malam ini, akhirnya dia membawaku ke restoran yang dia maksud.
.
.
Sial~! Gadis itu...
Laki-laki itu memukulkan kepalan tangannya ke tembok batu di sampingnya dengan geram. Tidak memperdulikan rasa sakit yang ditimbulkan karena pukulan itu. Rasa amarah yang menggelegak dalam dirinya sudah tidak tertahankan lagi. Pandangannya tertuju lurus pada dua orang yang sedang berjalan berdampingan tak jauh dari tempatku berdiri saat ini.
Saat pada akhirnya dia bisa menguasai tubuh ini sepenuhnya, saat dia menemukan darah keturunan Senju di tempat ini, saat kesempatan emas untuk membalaskan dendamku pada keturunan keluarga itu ada di depan mata..
Sial~! Gadis itu... Kenapa dia mirip sekali dengan Sakura? Batinnya galau.
Laki-laki itu melepas topi yang dia kenakan dan melemparnya begitu saja dengan kesal ke tanah. Sekarang perasaannya bercampur aduk tidak karuan. Awalnya dia merasa senang sekali karena akhirnya dia bisa menemukan keluarga Ashihara di sini. Dia sudah mencium baunya sejak beberapa hari yang lalu. Merasakan darah mereka ada di sekitarnya. Dan sebuah rencana hebat sudah terpikirkan olehnya saat itu. Tapi hari ini.. Saat dia melihatnya dari dekat... Wajah itu.. Wajah yang bertahun-tahun yang lalu selalu berkelebatan dalam pikirannya dan sampai sekarang tidak bisa dia lupakan.
Laki-laki itu memegang dadanya, mencoba menahan perasaaan yang makin bergemuruh di dadanya.
Sakura.. Benarkah... Dia Sakura?
Sial! Laki-laki itu meremas rambut hitam ravennya dengan frustasi.
Kenapa seperti ini? Bukankah Sakura sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu? Dia sendiri yang melihatnya dengan mata kepalanya, saat gadis itu menghembuskan napas terakhirnya di depannya. Lalu, siapa gadis ini? Tidak mungkin Sakura yang itu 'kan?
"Arggh!" laki-laki itu menendang tempat sampah di sampingnya dengan kesal sampai isinya berhamburan keluar dan dia segera berjalan dengan langkah terburu mengejar mereka berdua. Sakura dan laki-laki entah siapa tadi...
.
.
Sendai, Jepang, Masa Edo.
"Aku mencintaimu..." Sasuke mengatakan itu dengan cepat dan pelan. Walaupun diucapkan dengan nada yang tidak begitu jelas dan terkesan sekedarnya, tapi kalimat itu membawa dampak besar untuk gadis di depannya. Sakura terperangah kaget dan dia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Matanya masih membelalak tidak percaya menatap laki-laki di depannya ini
"Aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Kau boleh tidak mempercayainya. Aku tahu ini konyol. Maafkan aku.. Tapi aku memang benar-benar mencintaimu..." kata Sasuke lagi, kali ini lebih tegas. Mata hitamnya menatap lurus ke mata hijau emerald milik Sakura yang langsung berpaling dengan sikap kikuk.
"Apa.. apa kau bercanda, Sasuke-san? Aku.. Kau.." katanya terbata. Dia tidak meneruskan kata-katanya. Dari sikapnya yang tiba-tiba berubah gugup seperti ini, Sasuke tahu gadis ini sedang berusaha sekuat menahan perasaannya sendiri. Gadis ini masih berusaha menghindari tatapannya.
"Apa aku kelihatan sedang bercanda?" tanya Sasuke.
Sakura menggeleng cepat-cepat, tapi dia masih tidak berani menatap langsung ke mata Hitsuo.
"Sakura, lihat aku... Aku mencintaimu. Dari pertama kita bertemu.. Apa kau tidak mengingatnya? Aku tahu seharusnya ini tidak boleh. Tapi aku tidak bisa membohonginya.. Perasaanku padamu. Tidak masalah kau menganggapku rendah dan tidak tahu diri. Tapi inilah perasaanku.. Aku mencintaimu, sungguh," kata Sasuke dengan lembut.
Sakura kini benar-benar menatapnya dan tidak berusaha menghindari tatapannya. Ada sebuah kekagetan luar biasa yang tampak di matanya. Dia menatap Sasuke dengan tatapan luar biasa kaget. Dan entah hanya perasaannya atau bagaimana, Sasuke melihat mata gadis di depannya itu sedikit berkaca-kaca.
"Terlambat..." kata Sakura pelan.
"Eh?" Sasuke menatapnya kaget. Sakura kembali menunduk dan tidak melihat ke arah Sasuke. Gadis itu terdiam untuk beberapa saat.
"Apa? Apanya yang terlambat?" tanya Sasuke ingin tahu.
Sakura menarik napas panjang, masih menyembunyikan wajahnya dari Sasuke.
"Bukankah kita berdua sudah tahu, keluargamu dan keluargaku sudah bermusuhan sejak lama. Tidak ada yang bisa menyatukannya dengan cara apapun. Dan kau... adalah seorang.. kau.."
"Vampir," potong Sasuke cepat-cepat, melihat Sakura ragu-ragu mengatakannya.
"Dan aku adalah manusia murni. Sasuke-san.. Maaf.." gadis itu berkata dengan nada semakin pelan.
Sasuke sudah menyiapkan perasaannya. Dia tahu akan mendengar jawaban seperti ini. Makanya, dia sudah tidak kaget lagi. Jadi dia hanya mengangguk lemah mendengar jawaban gadis itu.
"Maaf... Seharusnya kau mengatakannya dari awal agar aku tidak cepat-cepat menyetujui pertunangan ini..." kata Sakura lagi, kali ini dengan suara pelan sekali.
"Apa maksudmu?" Sasuke menatapnya bingung. Dia sudah mendengar berita pertunangan gadis ini dengan saudagar kaya dari Edo beberapa waktu lalu. Kabuto yang mendengarnya saat dia belanja tanaman obat di pasar tradisional di kota itu. Banyak orang yang membicarakan tentang itu. Tapi bukan itu yang membuatnya bingung. Kata-kata Sakura baru saja..
"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak dulu agar aku bisa menunda pertunangan ini? Kenapa baru sekarang kau mengatakannya, saat aku sudah menjadi tunangan pemuda itu?" Sakura menatap Sasuke dengan tatapan sayu.
"Eh? Kenapa? M-maksudmu?" Sasuke balas menatapnya dengan tatapan penuh kebigungan.
Sakura membuang napas sebelum akhirnya kembali berkata-kata.
"Aku juga.. mencintaimu.." katanya lirih. Dia kembali menunduk dan kedua tangannya sibuk meremas tali yukata-nya. Sementara dia tidak bisa mencegah wajahnya yang tiba-tiba memerah menahan malu.
Sasuke ganti yang terperangah sekarang. Dia menatap Sakura dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau.. Kau bilang apa?" tanyanya tak percaya. Dia jelas-jelas mendengarnya tadi, apa yang diucapkan gadis ini. Dia hanya tidak percaya kalau Sakura benar-benar mengucapkannya dengan sadar.
"Aku tidak perlu harus mengulanginya sampai sepuluh kali 'kan? Apa kau tidak menyadarinya? Kenapa kau terlambat sekali menyadarinya, padahal Kabuto-san sudah bisa menebaknya? Jangan salahkan aku karena sudah menyetujui pertunangan itu.. Salahmu sendiri..." Sakura tidak meneruskan kata-katanya.
Baik Sakura maupun Sasuke tidak ada yang saling berbicara setelah itu. Pandangan mata mereka beradu satu sama lain. Sasuke sekarang bahkan bisa mendengar detak jantung gadis di depannya ini, mengalahkan semua suara malam ini. Hujan yang turun dengan deras disertai angin di luar kamar gadis ini tidak bisa mengalahkan gemuruh di dadanya. Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Sakura baru saja benar-benar membuat perasaannya membuncah begitu saja. Dan menatap mata gadis ini secara langsung seperti ini, membuatnya semakin tersadar.. dia benar-benar sedang jatuh cinta.
Dengan perlahan dan gerakan yang sigap, dia meraih tubuh Sakura dan merengkuhnya dalam pelukan yang erat. Dia merasakan kehangatan dalam tubuhnya yang selama ini tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dadanya semakin berdegup kencang saat Sakura balas melingkarkan kedua tangannya di pinggangnya. Dan mereka berpelukan dengan erat untuk beberapa saat.
Sasuke lalu melepaskan pelukannya dan menatap mata Sakura lekat. Dia meraih wajah Sakura dan membuat wajah mereka berdekatan satu sama lain sebelum akhirnya Sasuke mulai mencium bibirnya dengan lembut. Sakura membalasnya dengan ciuman yang sama lembutnya.
Tanpa mereka sadari, di tengah-tengah hujan deras disertai angin dan gemuruh petir yang berkali-kali terdengar di luar kamar itu, seseorang terlihat sedang mengawasi jendela kamar yang tertutup rapat itu dengan pandangan penuh dengki.
"Cih~! Kalian pikir apapun yang kalian itu bisa merubah kodrat kalian?"
Sosok berjubah panjang hitam itu lalu menghilang di dalam kegelapan hutan di belakangnya.
.
.
Seoul. Jam 9 Malam waktu setempat. Sekarang.
[Sakura Haruno]
Aku berjalan pelan, sengaja memelankan langkahku dan membuat laki-laki tinggi di depanku ini berjalan mendahuluiku. Hujan sudah reda dan menyisakan rintik-rintik kecil yang membuat jalanan basah. Aku mengerutkan dahi menatap punggung laki-laki tinggi ini dengan tatapan heran. Aku bahkan tidak menyangka akan bertemu dengannya di restoran cepat saji tadi. Laki-laki ini tiba-tiba mengampiri meja kami dan dia menawarkan diri untuk bergabung di mejaku dan Seung Hyun. Aku, sih, tidak masalah. Seung Hyun juga sepertinya tidak keberatan. Makanya, saat laki-laki ini menawarkan diri untuk bergabung, kami mengiyakan saja. Kelihatannya, laki-laki yang aku tahu bernama Uchiha Sasuke ini juga akrab dengan Seung Hyun. Kalau tidak salah, laki-laki ini adalah rekan kerja Sai dan datang bersama pacarnya yang cantik saat acara makan malam dua hari yang lalu.
Aku juga tidak begitu ingat.
Tapi aku cukup kaget saat dia menawarkan diri untuk mengantarkanku pulang ke apartemen Ino malam ini. Padahal Seung Hyun sudah menawarkan untuk mengantarkanku. Tapi laki-laki ini bilang arah rumahnya dengan apartemen Ino searah. Dibanding Seung Hyun yang rumahnya di kawasan Daegu yang mengantarkanku, dia pasti kemalaman nanti. Makanya laki-laki ini berbaik hati mengantarkanku. Dengan berjalan kaki.
Dan sudah hampir sepuluh menit kami berjalan tanpa mengatakan sepatah katapun satu sama lain. Laki-laki ini juga hanya berjalan mendahuluiku tanpa menoleh ke belakang. Aku angkat bahu dan melirik jam tanganku. Sudah pukul sepuluh malam lewat beberapa menit. Kenapa jalanan di sekitarku sudah sepi? Kami berjalan melewati jalan kecil yang lengang yang basah, karena sisa hujan baru saja. Bahkan hanya ada kami berdua di jalanan itu. Aku menatap sekeliling. Tidak ada orang yang berlalu lalang satu pun. Ada dua anjing liar yang sedang mengais-ngais tempat sampah tak jauh dari tempatku berjalan sekarang.
"Kau masih ingat suasana seperti ini, Sakura? Beberapa tahun yang lalu?" aku mendengar laki-laki itu bersuara. Aku terkesiap kaget. Suaranya terdengar berbeda dari seperti saat aku pertama bertemu dengannya.
"He?" tanyaku kaget.
"Kau tidak ingat?" laki-laki itu lagi. Aku mengernyitkan dahi menatapnya. Laki-laki itu tidak menoleh ke belakang dan terus berjalan membelakangiku.
"Ingat, tentang...?" aku membalas bertanya dengan penuh ingin tahu.
"Kita sering bertemu dalam suasana berhujan seperti ini.." ucap laki-laki itu.
Tiba-tiba aku merasa bulu kudukku berdiri. Bukan karena udara dingin di sekitarku. Tapi karena nada suara laki-laki di depanku yang biasanya ramah dan ceria tiba-tiba berubah dalam dan terkesan.. dingin.
"B-bertemu bagaimana? Kita bahkan baru bertemu beberapa hari yang lalu 'kan?" tanyaku bingung. Sekarang aku benar-benar bingung dengan ucapan laki-laki ini.
Terdengar tawa sinis dari laki-laki itu.
"Aku sudah tahu. Kau belum menyadarinya juga, ya? Senju Sakura?" laki-laki di depanku tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadapku. Aku berhenti mendadak dan mendongak menatapnya. Senju? Siapa yang mengatakan padanya tentang marga kakek buyutku?
Laki-laki itu menatap lurus ke mataku dengan tatapan tajam. Dan itu sukses membuatku jadi salah tingkah sendiri. Aku berpaling dan melihat ke arah lain. Ada dua anjing yang sekarang sedang saling kejar sambil menyalak keras. Apa yang terjadi? Kenapa laki-laki ini tiba-tiba bersikap aneh?
"Kau benar-benar tidak mengingatku?" laki-laki itu bertanya dengan nada suara yang lebih lembut dari sebelumnya.
"Aku ingat. Kau teman Sai 'kan?" sahutku, berusaha untuk bersikap wajar.
Laki-laki itu tidak menjawab.
Tapi sebagai balasannya, dia menarik tanganku keras dan membuat tubuhku mendekat ke arahnya.
"Hei~!" aku berteriak kaget. Apa-apaan ini?
"Sekarang lihat wajahku dengan sungguh-sungguh dan katakan kalau kau juga mengingatku," ujar laki-laki itu tajam. Aku berusaha melepaskan tanganku dari cengkeraman tangannya, tapi cengkeramannya terlalu kuat. Sementara wajahku dan wajah laki-laki ini hanya berjarak beberapa senti. Yang benar saja! Mau tidak mau wajahku memerah juga saat melihat langsung ke arah matanya yang sedang menatapku lurus-lurus itu. Sekarang aku bahkan bisa merasakan dadaku berdegup dengan kencang ditatap dengan pandangan seperti itu.
"Ingat apa?" sahutku bingung.
"Hn.. Aku tidak harus melakukan ini agar kau mengingatnya 'kan?" laki-laki itu berkata dengan pelan. Aku mengernyitkan dahi menatapnya.
Tiba-tiba saja tanpa ada peringatan sebelumnya - dan aku juga tidak menduga laki-laki di depanku ini akan melakukan hal semacam ini – sebelum aku menyadarinya, tubuhku didorong dengan keras sampai membentur tembok di belakangku dengan pelan. Aku tidak sempat melawan saat laki-laki itu mengunci tubuhku dengan merengkuhnya erat dan dengan gerakan cepat merapatkan bibirnya ke bibirku.
Apa ini? Sial! Aku merutuk dalam hati. Laki-laki ini... Aku bahkan tidak bisa bergerak saat laki-laki ini mencium bibirku begitu saja.
Untuk beberapa saat rasanya segala sesuatu di sekitarku bergerak cepat sekali. Aku bahkan merasa kalau aku hampir tidak sadarkan diri. Di kepalaku tiba-tiba terlintas banyak hal yang sudah terjadi selama hidupku. Semua berkelabatan begitu saja dengan cepat, seperti tayangan sebuah film. Dan aku merasakan pusing yang sangat hebat.
Lalu sedetik kemudian aku melihat bayangan seorang gadis dengan pakaian tradisional Jepang jaman Edo muncul di kepalaku. Bayangan itu cepat sekali. Seperti sebuah gambar yang menempel di kereta shinkansen yang berlalu cepat sekali. Tapi aku kenal wajah itu. Gadis yang berbalut dengan gaun tradisional Jepang itu.. Rambut merah muda yang digelung ketat ke belakang.. mata hijau emerald yang sedang menangis.. Itu wajahku!
Aku lalu tersadar dan berusaha untuk melepaskan diri dari laki-laki ini.
"Ahh!" aku menendang tulang kering laki-laki ini dan mendorong tubuhnya dengan keras. Laki-laki ini akhirnya melepaskan tubuhku dan aku langsung melayangkan tamparan keras ke wajahnya.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Tapi hanya menatap penuh amarah ke arah laki-laki di depanku sambil mengusap bibirku. Sial! Ciuman pertamaku yang berharga. Seharusnya bukan laki-laki kurang ajar ini yang melakukannya.
Uchiha Sasuke hanya mengusap pipi bekas tamparanku tanpa ekspresi. Lalu sebuah senyum licik tersungging di wajahnya.
"Dasar gila!" umpatku kesal.
"Kau sudah mengingatnya 'kan? Sakura?" laki-laki itu menatapku dengan pandangan liar.
Aku tidak menyahut dan langsung berbalik. Aku berlari meninggalkan laki-laki itu. Tidak peduli dengan suaranya yang mulai memanggil-manggil namaku.
Rintik-rintik hujan mulai bertambah deras dibanding sebelumnya. Aku terus berlari dan semakin mempercepat lariku. Bayangan gadis tadi... Ahh! Kenapa aku terus memikirkannya?
Dan perasaan haru yang sekilas aku rasakan melihat laki-laki tadi.. Kenapa? Seharusnya aku membenci laki-laki kurang ajar itu. Tapi kenapa.. Ada sesuatu dalam diriku yang melarangnya. Justru wajah laki-laki itu semakin terpatri dengan jelas di kepalaku.
"AH! Siaal!" aku berseru kesal di tengah derai hujan yang semakin deras membasahi bumi.
