One Week Girlfriend (HunSoo ver.)
Sehun x Kyungsoo (GS)
Disclaimer : cerita ini milik Monica Murphy, penulis asli novel One Week Girlfriend. Gw nulis ulang/remake dari blog READNOVELSBLOG dot WordPress dot COM Yang dimana cerita udah berupa translate Indonesia. Semua karakter yang ada di FF ini semua milik Tuhan YME, orang tua, keluarga, agensi, fans dll. Gw hanya pinjem nama mereka. Gak ada maksud apa - apa dalam penulisan FF ini kecuali hanya untuk hiburan semata. Kalo pengen baca versi asli yang sudah di translate bisa baca di blog yang udah gw tulis sebelumnya. Ganti tulisan (dot) dengan tanda (.)/titik.
Warn!OOC, GENDERSWITCH
( yang gw remake disini cuma nama tokoh dan beberapa kata/kalimat untuk menyesuaikan jalan cerita tetap sama ga ada yang gw rubah. Novel ini ada 2 seri, dan setiap seri dibagi jadi beberapa bab)
HAPPY READING
*
*
*
*
_
Hari Perjalanan (Tak di hitung)…
"Di belakangnya hanya ada perjalanan yang sia-sia."
-Unknown-
.
Kyungsoo pov.
Truknya cukup bagus. Seperti, kendaraan paling mutakhir yang pernah aku naiki. Dan dia juga kelihatan keren mengendarainya, sekalipun aku benci harus mengakui hal itu, bahkan pada diri sendiri. Tapi, Toyota Tacoma biru gelap itu cocok sekali dengannya.
Segala tentang Sehun itu sempurna. Cara dia berpakaian— bokongnya kelihatan hebat dengan jeans itu dan aku bahkan tak perlu menyinggung bagaimana T-shirt hitam yang di kenakannya sekarang ini melekat dengan setiap otot dadanya. Bagaimana dia bersikap—selalu sopan, selalu melihat mataku dan tidak berkomentar kurang ajar tentang payudaraku atau bokongku. Dan suaranya itu—dalam dan seksi, jenis suara yang tidak akan membuatku keberatan mendengarkannya seharian. Dia benar-benar sempurna.
Dia menghubungiku kemarin sebelum aku berangkat kerja untuk membahas beberapa hal sepele. Jam berapa dia akan menjemputku, bagaimana kami harus mengarang cerita sepanjang perjalanan menuju rumah orangtuanya.
Kemudian aku menanyakan hal itu. Uangnya. Bagaimana aku akan mendapatkan bayaran? Aku benar-benar merasa seperti jalang, mempertanyakan hal sepele seperti itu, tapi aku harus melakukannya. Aku ingin cek itu sebelum aku meninggalkan kota jadi aku bisa meninggalkan sejumlah uang untuk Taeyong jika dalam keadaan darurat.
Jadi aku bertemu dengan Sehun di bank lima belas menit sebelum tutup, dan sebelum aku menuju bar. Kami berbincang beberapa menit kemudian, tidak ada yang penting, dan kemudian dia memberiku sebuah cek. Dia benar-benar acuh tak acuh melakukan hal tersebut, seolah dia terbiasa memberikan seorang yeoja cek tiga ribu dolar setiap harinya.
Ceknya di tulis atas nama akun pribadinya. Dia menandatangani sendiri. Tulisannya seperti cakar ayam. Aku tidak bisa membaca dengan jelas tanda tangannya. Dan namanya adalah Oh D. Sehun.
Ketika aku masuk ke bank seorang diri dan menuju ke Teller, aku penasaran apa kepanjangan D itu.
Sekarang, aku tengah duduk di truk milik Oh D. Sehun, mesinnya mendengkur dengan lembut dan bukannya terbatuk dan tersedak seolah bisa mati kapan saja seperti Honda '91 menakutkan milik ibuku. Aku memberitahu ibuku cerita tentang pengasuh seperti yang kukatakan pada Taeyong. Aku juga bilang begitu pada bosku di La Selle. Mengingat kepergianku pas pada saat bisnis sedang sepi, bosku tak keberatan dengan itu. Dia tahu keadaan keuangan kami dan dia bahagia aku menemukan pekerjaan dengan upah yang tinggi.
Ibuku sulit sekali mengiyakan ketika aku bilang akan pergi.
Aku benar-benar tidak tahu apa yang telah kulakukan hingga membuatnya sangat membenciku. Well. Benci adalah kata yang kuat. Itu berarti dia merasakan sesuatu terhadapku. Dia benar-benar masa bodoh terhadapku, seolah aku tak berarti apa-apa baginya. Sama sekali.
"Empat jam ya?" suaraku memecah kesunyian mengejutkannya. Aku bisa melihatnya melompat di kursinya.
Pemain sepakbola yang nakal takut padaku?
Aneh.
"Yah, empat jam." Dia memukulkan jemarinya di setir, membuatku tertarik melihatnya. Jemarinya penjang, kukunya pendek dan tak ada kotoran di dalamnya. Kuat, tangan yang bersih dengan telapak yang lebar. Kelihatannya… bagus.
Cemberut, aku menggelengkan kepalaku. Aku memikirkan sesuatu yang bodoh ketika seharusnya aku berpikiran jernih.
"Aku tak pernah ke Carmel sebelumnya." Aku mencoba memulai percakapan karena memikirkan akan menghabiskan perjalanan yang panjang tanpa mengobrol membuatku takut.
"Disana indah. Mahal." Dia mengangkat bahunya, mengalihkan perhatianku ke sana. Dia mengenakan kemeja berwana biru dan abu-abu gelap di luar T-shirt hitamnya dan dia kelihatan tampan mengenakan pakaian itu.
Tuhan. Aku memutar kepalaku, memaksa mataku memandang jendela dan pemandangan jalan berlalu begitu saja. Aku harus berhenti memandangnya. Dia benar-benar menggangguku.
"Jadi, seharusnya kita punya semacam kisahkan?" Aku mencuri pandang ke arahnya tanpa bisa menahan diri.
Dengan keberuntunganku, perjalanan selama empat jam ini akan terbang begitu saja dan hal selanjutnya yang aku tahu adalah, aku akan bertemu muka dengan orang tuanya yang terhormat dan aku tak akan tahu apa yang harus kukatakan.
Dengan kata lain, aku membutuhkan lebih banyak waktu agar aku bisa menghapal keseluruhan cerita tentang aku dan Sehun hingga kami bisa terlihat selayaknya pasangan sebenarnya.
"Yah, sebuah cerita seharusnya di perlukan." Dia mengangguk, matanya tak pernah meninggalkan jalanan.
Yang mana itu adalah hal bagus, aku berkata pada diri sendiri. Dia adalah pengemudi yang aman, waspada terhadap segala sesuatu di sekitarnya.
Tapi, sebenarnya aku sungguh berharap dia memandangku. Memberiku senyuman untuk menenangkanku. Sialan, bahkan ucapan 'Semua-akan-baik-baik-saja' yang palsu sekalipun akan membuatku bahagia sekarang ini.
Tapi aku tak mendapatkannya. Tidak juga ucapan terima kasih.
Palsu.
"Well." Aku berdehem, karena aku merasa seolah-olah aku sudah tak sabar untuk terjun dan berenang sementara dia masih ingin berlama-lama di pantai.
"Berapa lama sudah kita berkencan?"
"Sejak kuliah di mulai kedengarannya bagus, menurutku."
Sikap acuh tak acuhnya membuatku ingin menelannya. "Jadi sudah enam bulan kan?" Aku mengetesnya dengan mengatakan hal itu. Dan berhasil.
Dia melemparkan pandangan yang meragukan. "Tiga."
"Oh." Aku mengangguk.
"Benar. Well, seolah aku akan tahu terutama aku tak sekolah lagi sekarang." Jawaban terbodoh yang pernah kukatakan. Semua orang tahu kapan kuliah di mulai.
"Lalu kenapa kau tak kuliah?"
Aku tak pernah menyangka dia akan menanyakannya. Kelihatannya dia benar-benar tak peduli.
"Aku tak punya biaya dan tak cukup pintar untuk mendapatkan beasiswa."
Seolah - olah akan membuang waktuku untuk sekolah sekarang ini. Aku bekerja sebanyak yang ku mampu kerjakan. Dulu aku punya pekerjaan tetap, tapi aku berhenti sekitar setahun yang lalu. Aku bekerja berjam-jam menjadi pelayan di La Selle dan sebuah restoran masakan Meksiko kecil yang tak jauh dari apartemenku tapi pekerjaan itu hanya pekerjaan sementara. Mereka menghubungiku hanya ketika mereka kekurangan pelayan.
Uang yang kini ada di rekeningku, berkat Sehun, akan mengurangi beban pekerjaanku setidaknya untuk sedikit lebih lama. Aku tak menaruhnya di rekening yang kugunakan bersama ibuku karena aku tahu ketika dia menyadari betapa banyak uang disana dia akan langsung menghamburkannya.
Aku tak bisa main-main dengan hal itu.
"Bagaimana kita bertemu?" suara Sehun yang dalam memutuskan khayalanku. Aku berharap dia akan berinisiatif dan mengarang cerita tentang hal ini.
"Di bar." Saranku, karena aku tahu itu kedengarannya menjijikan dan aku menduga satu-satunya alasannya membawaku pulang ke rumah karena dia ingin kelihatan urakan di tengah keluarganya yang sombong.
"Kau bersama teman-temanmu datang dan itu adalah cinta pada pandangan pertama ketika kita berdua berpandangan."
Dia memberiku pandangan mencela dan aku membalasnya dengan senyuman. Jika aku di perbolehkan mengarang sendiri cerita ini, maka aku akan membuat cerita yang paling bodoh dan paling romantis yang pernah ada.
Tak ada ruang untuk percintaan dalam hidupku. Sangat bodoh, ketika aku membiarkan namja - namja itu mempermainkanku, karena ketika mereka melakukannya, satu momen itu, ketika dia memfokuskan perhatiannya hanya kepadaku dan bukannya kepada orang lain, rasanya sangat menyenangkan. Itu membuatku melupakan bahwa tak ada yang benar-benar peduli kepadaku.
Tapi ketika segalanya selesai, ketika aku keluar dari pikiranku yang berkabut, aku merasa murahan. Kotor. Semua kisah klise yang kau baca di buku atau kau tonton di TV, itulah aku. Aku adalah kisah klise Berjalan.
Aku juga adalah pelacur kota yang tak sekotor yang di pikirkan orang—lagi-lagi, Klise. Dan tentu saja aku bukanlah tipe wanita yang akan kau bawa pulang ke rumah untuk membuat ibumu terkesan. Tak ada yang istimewa tentangku.
Dan sekarang Sehun membawaku pulang untuk membuat ibunya terkesan. Atau untuk lebih jelasnya, membuat ibunya ketakutan. Aku yakin, aku adalah mimpi buruk semua Jalang Kaya (Ok, sekarang aku terdengar seperti Taeyong, dari Jalang Miskin menjadi Jalang Kaya) yang menjadi kenyataan. Pada saat mata ibunya memandangku, dia akan langsung menoleh.
"Aku menduga kau membawaku pulang untuk membuat ibumu berhenti mengoceh, kan?"
Aku butuh konfirmasi. Itu satu hal yang bisa kupikirkan dan kuterima. Aku harus mengetahui faktanya dan bisa mempertimbangkan dampak nantinya. Seperti bagaimana nanti hal ini akan membuatku pusing meskipun aku benar-benar membutuhkan uangnya.
Rahangnya mengatup dan bibirnya menipis dalam satu garis, garis suram. "Ibuku telah meninggal."
Oh. "Aku turut berduka." Aku merasa menjadi orang brengsek.
"Kau kan tak mengetahuinya. Dia meninggal ketika aku dua tahun." Dia mengangkat bahunya. "Aku tahu ayahku akan menyukaimu."
Caranya mengucapkannya membuatku takut. Seolah ayahnya adalah orang aneh dan itulah sebabnya dia akan menyukaiku.
"Jadi hanya kau dan ayahmu?"
"Tidak. Ada Yoona." Bibirnya tiba-tiba menghilang ketika mengucapkan nama itu. Dan dia memiliki bibir yang penuh, jadi aku penasaran kemana bibirnya menghilang. "Dia ibu tiriku."
"Jadi, kau ingin membuat ibu tirimu takut."
"Aku tak peduli dengan yang di pikirkannya."
Kemarahan yang terdengar benar-benar nyata. Ada sesuatu yang terjadi antara Sehun dan ibu tirinya yang pastinya bukan sesuatu yang bagus.
Aku mengabaikan komentar terakhirnya tentang penyihir wanita menakutkan bernama Yoona, aku bertanya lagi. "Punya saudara lakilaki atau perempuan?"
Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak punya."
Oh. Kemampuan berkomunikasinya yang kurang pasti akan jadi masalah terutama ketika aku akan bergantung sepenuhnya kepadanya satu minggu ke depan.
"Aku punya satu saudara laki-laki."
"Berapa usianya?"
"Tiga belas." Aku mendesah. "Taeyong kelas delapan sekarang. Dia terlibat dalam banyak masalah."
"Masa usia segitu memang sulit. Masa SMP memang menyebalkan."
"Apa kau juga terlibat masalah ketika berusia tiga belas tahun?" Aku tak bisa membayangkan hal tersebut.
Dia tertawa, menegaskan kecurigaanku itu dan aku berdebar. "Aku tak di perbolehkan."
"Apa maksudmu?" Aku mengerutkan kening. Jawabannya tak masuk akal.
"Ayahku akan menendang bokongku jika aku melewati batas." Dia mengangkat bahu lagi. Dia seringkali melakukan hal itu, tapi aku menyukainya karena hal itu mengingatkanku kalau dia punya bahu lebar yang gagah itu.
Jika aku cukup beruntung, aku akan bisa menyentuhnya selama hubungan pura-pura kami selama tujuh hari ke depan. Aku juga akan menyandarkan kepalaku di bahunya. Menekankan dadaku pada bahan lembut kausnya dan menghirup aromanya secara diam-diam. Dia harum, tapi aku ingin sekali mendekat padanya dan benar-benar menghirupnya.
Aku benar-benar hampir di kuasai kebodohan selama sedetik dalam sikap sinisku, tak ada ruang untuk cerita dongeng, tapi aku siap membuatnya terjadi. Bagaimanapun, aku harus jadi aktris paling hebat di planet ini, kan?
"Bukankah itu yang di katakan semua ayah ketika anak-anak mereka melewati batas?" aku bertanya.
"Ya, tapi ayahku serius. Di samping itu, lebih mudah melakukan apa yang seharusnya kulakukan dan tidak mendapatkan masalah. Aku kehilangan diriku jika aku berbuat ceroboh, kau tahu?"
"Dan apa yang seharusnya kau lakukan?" aku menambahkan kutipan yang biasa di katakan para mahasiswi menjengkelkan yang datang ke La Selle.
Aku benar-benar benci yeoja - yeoja itu dan benci cara mereka mengibaskan rambut mereka dan tertawa terlalu keras dan mengatakan hal-hal bodoh. Mereka benar-benar mengepakkan—secara harfiah—bulu mata palsu mereka ke arah para namja dan semuanya. Itu menyedihkan, mereka benar-benar jalang yang butuh perhatian.
Tuhan, terdengar sangat getir bahkan ketika aku mengucapkannya di dalam kepalaku.
"Masuk kelas, belajar dan mendapatkan peringkat bagus. Latihan sepak bola, menjaga bentuk tubuh, menunjukkan kemampuan terbaikku dan berharap sepenuh hati membuat para penonton di luar sana terkesan." Dia mengucapkan hal-hal tersebut seolah membaca semacam daftar, suaranya terdengar monoton dan bosan.
"Dan gangguan macam apa yang coba kau hindari?"
"Berpesta, minuman, yeoja." Dia menatapku lagi, tatapannya melembut. Amarahnya sudah lenyap.
"Aku tak suka kehilangan kontrol."
"Aku juga," bisikku.
Dia tersenyum padaku dan senyumnya seperti belati di kelembutan hatiku. "Sepertinya kita akan jadi pasangan yang hebat."
-o0o-
Sehun pov.
Ketika aku mengucapkannya, aku benar-benar berharap aku bisa menariknya kembali. Kami benar-benar bukan pasangan yang hebat. Dia adalah jenis wanita paling buruk untukku dan aku mengetahuinya. Itu adalah alasan kenapa aku membawanya pulang. Jadi ayahku akan berpikir kalau aku telah mendapatkan penggemar sepak bola seksi yang akan melayaniku kapanpun aku menginginkannya dan Yoona akhirnya akan membiarkanku sendiri.
Kyungsoo benar-benar seperti penggemar sepak bola seharusnya dia telah melayani separuh anggota tim musim ini sendirian, walaupun aku tak tahu seberapa akurat rumor tersebut. Begitulah pertama kali aku menyadari keberadaannya. Para namja dari tim ramai-ramai membicarakannya ketika kami sedang di La Selle suatu malam tepat ketika semester ini mulai. Ketika dia mencatat pesanan dari meja kami, mereka membandingkan pengalaman mereka dan membual betapa dia hebat di ranjang. Salah satu dari mereka bahkan mencubit pantatnya ketika dia berjalan, dan mendapatkan pandangan mencela darinya yang membuat namja - namja itu terbahak.
Reputasinya—dan reaksinya yang tak menyangkal—adalah petunjuk pertamaku bahwa dia mungkin bisa jadi pacar palsu yang sempurna. Aku tak akan memilih yeoja - yeoja yang berkeliaran di ruang ganti setelah latihan atau pertandingan. Sebenarnya aku tak pernah bersama dengan siapapun.
Lebih mudah begitu. Kau memberikan mereka sebagian kecil dirimu dan mereka akan menginginkan lebih dan lebih lagi. Sesuatu yang tak akan bisa kuberikan kepada mereka. Aku berusaha bertahan dalam hidupku. Aku seperti mesin kadang-kadang.
Tak merasa. Tak peduli. Tak punya emosi.
Ayahku menghawatirkan aku. Aku tahu dia berpikir aku ini cengeng yang tak bisa di lepaskan sendiri dan itu mengganggu pikirannya. Dia mengkonfrontirku dengan pertanyaan tak masuk akal yaitu apakah aku homo atau bukan.
Pertanyaan yang tak tahu datangnya darimana dan membuatku sangat terguncang, akupun mulai tertawa karenanya. Hal itu makin membuatnya marah dan walaupun aku menyangkalnya, aku tahu dia tak benar-benar percaya padaku.
Aku benar-benar berharap, dengan menunjukkan Kyungsoo bersama-sama denganku akan mengakhiri kekhawatirannya itu.
Sialan. Aku tahu aku brengsek karena melakukan hal itu, berpikir begitu. Menggunakan Kyungsoo dengan cara menjijikan semacam itu, tapi itu bukanlah satu-satunya alasannya ikut bersamaku sekarang. Bukannya aku bisa mengatakan yang sebenarnya kepadanya, tapi bagaimana jika aku mengatakannya? Dia mungkin akan mengerti. Dia terlihat seperti jenis wanita yang akan bisa mengerti. Seseorang yang mungkin juga mengalami omong kosong seperti yang terjadi padaku.
Apa yang harus kami bicarakan adalah bicara tentang bagaimana seharusnya hubungan kami ini. Aku harus berhenti berpikir tentang ketakutanku pulang ke rumah dan menanyakan lebih banyak pertanyaan kepadanya.
"Kau hanya punya saudara laki-lakimu kalau begitu?"
"Ya, hanya aku dan Taeyong. Dan ibuku." Suaranya mengeras. Aku menduga dia tak begitu menyukai ibunya.
Sama sepertiku.
"Kau tak akur dengan ibumu?"
"Dia jarang di rumah untuk bisa akur dengan siapapun. Aku selalu bekerja dan dia bisanya cuma menghabiskan waktu bersama pacar barunya." Kepahitan dalam suaranya terdengar jelas. Tak ada cinta diantara mereka berdua.
"Dan ayahmu?"
"Aku tak mengenalnya. Dia tak pernah menjadi bagian dari hidupku."
"Tapi jika Taeyong baru berusia tiga belas…" aku kebingungan.
"Orang yang berbeda. Yang juga tak bertahan lama." Kyungsoo menggelengkan kepalanya.
"Ibuku tahu cara menendang mereka semua."
Aku tak tahu harus berkata apa.
Sebenarnya aku tak nyaman membicarakan hal pribadi seperti ini. Aku punya teman, tapi ada dari mereka yang benar-benar dekat. Teman mainku adalah teman setimku di sepak bola dan kami hanya membicarakan masalah sepak bola dan olahraga lain dan omong kosong lainnya.
Terkadang kami membicarakan masalah wanita. Aku hanya duduk dan mendengarkan mereka bercerita dan tertawa pada apapun yang mereka katakan. Aku tak benar-benar bergabung dengan mereka. Aku tak punya sesuatu yang bisa kuceritakan.
Disinilah masalahnya. Aku bisa mendapatkan yeoja manapun yang kuinginkan. Aku tahu ini. Ya, aku memang arogan dengan berpikir seperti ini, tapi itu benar. Aku tampan, aku pintar dan aku pemain sepak bola yang hebat. Yeoja - yeoja itu bahkan lebih menginginkanku karena aku tak pernah memperdulikan mereka.
Mereka semua menginginkan sesuatu. Sesuatu yang tak bisa kuberikan. Setidaknya bersama Kyungsoo, aku sudah mengatakan sejak awal apa yang kubutuhkan darinya dan aku memberikan kompensasi yang layak kepadanya. Dan dia tak menginginkan hal yang lain dariku.
Lebih mudah begini. Lebih aman.
"Aku boleh bertanya sesuatu?" Dia menarikku dari pikiranku dengan suaranya yang lembut. Dia kelihatan tangguh sekali, dengan hiasan matanya yang tebal dan pakaian berwarna gelapnya, dan rambut pirang metaliknya. Tapi dia memiliki suara paling merdu yang pernah kudengar.
"Tentu saja." Aku membuka diskusi yang mungkin akan jadi bencana ini. Aku bisa merasakannya.
"Kenapa aku?"
"Hah?" aku berlagak bodoh. Aku tahu apa maksudnya.
"Kenapa kau memilih aku untuk jadi pacar palsumu? Aku tahu aku bukan pilihan ideal. Jujur saja sekarang."
Dia pasti pembaca pikiran. "Aku tahu kau tak akan memberiku masalah."
"Apa maksudmu?"
Aku tahu aku akan mengacaukan hal ini, aku bisa merasakannya hingga ke tulang belulangku. "yeoja lain tak akan mau hanya menjadi pacar pura-pura. Dia akan benar-benar ingin berhubungan denganku, kau tahu? Dan aku tahu kau tak akan begitu."
"Bagaimana kau bisa yakin begitu? Kau tak mengenalku?"
"Aku melihatmu ketika di La Selle." Alasan yang lemah.
"Tentu saja. Kebanyakan namja datang ke La Selle. Begitupun teman-teman setimmu juga kesana, dan nongkrong disana sepanjang waktu. Aku juga pernah berhubungan dengan beberapa dari mereka."
Dia menyilangkan lengannya di dadanya dan menekan payudaranya jadi aku bisa melihat sekilas kulitnya yang lembut yang siap tumpah dari atasannya yang berpotongan rendah. Aku tak biasanya tergiur dengan yeoja, tapi ada sesuatu dari yeoja yang satu ini yang membuatku ingin melihatnya telanjang.
"Aku tak akan berhubungan seks denganmu."
Dia bersikap menantang dan aku merasa menyukainya. Apa yang terjadi denganku?
"Aku tak ingin berhubungan seks denganmu. Itulah mengapa aku menyewamu."
"Menyewaku." Dia mendengus, seolah dia tak peduli bagaimana kedengarannya atau penampilannya ketika melakukan hal tersebut, dan mau tak mau aku memujinya.
"Kau membuatnya terdengar seolah itu adalah pekerjaan yang tepat ketika aku menjadi pacar garis miring-pelacur bayaranmu. Ngomong-ngomong darimana kau mendapatkan uang sebanyak itu?"
"Itu uangku, jangan khawatir." Aku punya uang yang kusimpan atas namaku sendiri.
Ayahku bekerja di bidang keuangan dan menghasikan banyak uang sepanjang karirnya.
Dia amat murah hati, terutama ketika sekarang aku adalah anak satu-satunya.
"Dan jangan menyebut dirimu pelacur. Kau bukan pelacur." Aku tak ingin dia merasa demikian, bahkan jika apa yang telah di lakukannya dengan pria lain mungkin menunjukkan bahwa dia pantas di sebut pelacur, seks adalah hal terjauh yang ada di pikiranku ketika berkaitan dengannya.
Atau setidaknya. Itu yang tadinya kupikirkan. Kalau sekarang… sialan, aku tak yakin.
Dia membuatku bingung. Apa yang kupikirkan, apa yang kurasakan ketika berada di sekitarnya, membingungkanku. Dan aku bahkan tak mengenalnya. Aku benar-benar kehilangan pikiranku dan aku tak tahu bagaimana menghentikannya.
"Tidak akan ada seks," dia mengatakannya lagi. Hampir seperti dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri sama sepertiku. "Tak juga oral seks."
"Aku juga tak mengharapkan hal-hal itu." Itu kebenarannya— setidaknya, itu yang kukatakan pada diri sendiri. Dia benar-benar seksi, tak dapat di sangkal, tapi seks hanya akan mendatangkan masalah. Aku tak akan terlibat dengan yeoja yang punya reputasi sebagai wanita murahan dan hanya dengan anggukan—secara harfiah—dia akan bersedia melakukannya dan menghubungiku minggu berikutnya. Tak penting.
Benar kan?
"Tapi kita harus bertingkah seolah kita pacaran," aku mengingatkannya.
"Kita harus terlihat seolah kita saling… mencintai."
Sangat sulit mengucapkan kata terakhir. Aku tak benar-benar menggunakan kata itu. Ayahku tak pernah mengatakan dia mencintaiku. Tao pernah mengatakannya. Tapi cintanya tercemar kondisi menjijikan. Aku tak ingin memikirkannya.
Sialan, aku tak bisa memikirkannya, atau aku akan meledak.
"Aku bisa melakukan itu," Kyungsoo menjawab dengan enteng.
Semua menjadi jelas sekarang. Aku memang bodoh. "Aku akan memegang tanganmu dan melingkarkan tanganku di tubuhmu. Memelukmu." Aku tak pernah membayangkan hal itu.
"Bukan masalah besar." Dia mengangkat bahunya.
"Aku mungkin akan menciummu juga." Ya, aku juga tak pernah membayangkan hal itu.
Dia terang-terangan memandangku, tatapannya jatuh di bibirku. Apakah dia sedang membayangkan menciumku?
"Aku pikir itu bukan sesuatu yang sulit. Apa kau bisa melakukannya?"
"Tentu saja, aku bisa." Aku terdengar lebih percaya diri daripada yang sebenarnya kurasakan.
"Jika menurutmu begitu." Dia meringkuk seolah ingin tenggelam di tempat duduknya.
Sialan, aku tahu dia benar menilaiku. Hal itu akan membuatku panik.
Dan aku makin panik ketika sepertinya hal itu tak begitu menggangguku.
-TBC-
A/N : hehe.. Disini cerita di bagi per bab, jadi ga bisa nambahin tiap chapter. Bisa sih nambah.. Tapi gw males ngeditnya :v soalnya per bab kadang banyak bgt dan itu bikin pusing kalo gw gabungin. Lebih enak gini per bab biar typo ga bertebaran terlalu banyak. Ini ada 2 series aslinya, tapi yg seri ke 2 itu gw harus download pdf nya dan itu gede bgt. Dan yaah.. Gw bakal ganti nge remake novel lain kalo ini selesai. Kalo liat yg typo lagi bagi tau ya biar gw perbaiki.
shareena : sabar yee :v sebenernya sih gw udh selesain semua bab tinggal update aja, tapi...
Erikaalni : ada kok.. Tapi disini dia cuma pemeran figuran :v dia cuma muncul di beberapa percakapan dan ga terlalu menonjol sampe akhir bab gw baca ga di jelasin nama ibu Kyungsoo nya.
Curloey smurf : iya itu Taeyong :v makasih yaa udh di kasih tau. Sekarang udh gw rubah kok, maklum khilaf sering typo :v bentar lagi bakalan keungkap kok knp Sehun benci ibu tirinya.. Tunggu aja yaa :D
Hasnawatymayda : Hahaha.. Kali aja niat baca yg asli :v Gomawo yaa jadi viewer setia lapak gaje gw :)
-MelliFlouse-
