Remake dari Emma Chase "Tangled".

Alur cerita sesuai dengan novel aslinya, hanya akan disesuaikan dengan cast & setting lokasi ^^

Karena ini Remake, kalau ada cerita (ff) yang mirip-mirip dengan pairing yang berbeda, itu wajar ya :)

Kali ini karakternya mayoritas OOC. Dan FF ini akan bercerita dengan POV Jimin.

Main Cast: MinYoon

- Park Jimin (!SEME!)

- Min Yoongi (!UKE!GS!)

Support Cast:

All BTS member (GS: Kim Seok Jin, Jung Hoseok, Jeon Jungkook) & other Idol (random)

Rate M

Genre: Humour, Romance, Drama, Fluffy.

DON'T LIKE DON'T READ


CHAPTER 4

Ternyata aku tidak terkena ejakulasi dini sama sekali. Aku menemui gadis yang kukenal di coffeehouse malam itu. Dia adalah seorang instruktur yoga.

Puas.

Apa? Ayolah, jangan seperti itu. Aku menginginkan Yoongi, tidak diragukan lagi. Tapi jangan berharap aku bersikap seperti biarawan sampai hal itu terjadi. Yang tidak di pahami wanita adalah bahwa seorang pria bisa menginginkan seorang wanita tapi masih meniduri wanita yang lain. Bahkan, seorang pria bisa mencintai seorang wanita dan masih bisa meniduri sepuluh wanita lainnya. Begitulah kenyataannya.

Seks adalah sebuah pelepasan. Fisik semata. Itu saja. Setidaknya bagi pria seperti itu.

Oke, Oke—tenang dulu—jangan mulai melempar sepatu atau benda apapun kearahku.

Setidaknya pria seperti aku, lebih baik, kan?

Mungkin kalian akan memahami sudut pandangku jika aku menjelaskannya seperti ini:

Kalian menyikat gigi, kan?

Well, misalkan pasta gigi favorit kalian adalah Aquafresh. Tapi di toko habis. Yang tersedia hanya Colgate. Apa yang akan kalian lakukan? Kalian akan menggunakan Colgate, kan?

Kalian mungkin ingin menyikat gigi dengan Aquafresh, namun pada akhirnya kalian menggunakan apa yang kalian punya untuk membuat gigi tetap bersih seputih mutiara. Paham cara berpikirku?

Bagus.

Sekarang, kembali ke kisah duka dan penderitaanku.

.

.

.

Aku tidak pernah merayu seorang wanita sebelumnya.

Kutahu ini mengejutkan.

Biar kujelaskan.

Aku tidak pernah merayu seorang wanita sebelumnya, tidak dalam arti yang umum. Biasanya, aku hanya melihat, mengedipkan mata, tersenyum. Sebuah sapaan yang ramah, satu atau dua gelas minuman.

Setelah itu satu-satunya pertukaran verbal yang terlibat hanyalah satu kata pendek seperti lebih keras, lagi, lebih rendah...kalian pasti mengerti maksudnya.

Jadi, segala hal tentang percakapan dengan seorang wanita untuk mengajaknya ke ranjang merupakan konsep yang cukup baru bagiku, kuakui. Tapi aku tidak khawatir. Kenapa tidak, jika kalian tanya?

Karena aku bermain catur.

Catur adalah permainan strategi, perencanaan, berpikir dua langkah ke depan untuk langkah berikutnya. Mengarahkan lawanmu tepat di mana kalian menginginkannya.

Selama dua minggu setelah pertemuan hari pertama, berhubungan dengan Yoongi, bagiku persis seperti bermain catur. Beberapa kata sugestif, belaian biasa tapi menggoda. Aku tidak akan membuat kalian bosan dengan setiap detil percakapan. Aku hanya akan mengatakan semua berjalan dengan baik, segalanya berjalan sesuai rencana.

Kurasa semuanya akan memakan waktu satu minggu—maksimal dua minggu—sampai aku dapat mengklaim harta diantara paha kenyalnya. Aku sudah tahu bagaimana nanti hasilnya. Pada kenyataannya aku telah menghabiskan waktu berjam-jam, membayangkannya, berkhayal tentang itu.

Ingin mendengarnya?

Ini terjadi di kantorku. Suatu malam ketika kami berdua bekerja lembur—satu-satunya orang yang masih di kantor. Dia pasti lelah, kaku. Aku akan menawarkan memijit lehernya. Dan dia akan mengizinkanku. Kemudian aku akan menunduk dan menciumnya, mulai dari bahunya, naik sampai lehernya, merasakan kulitnya dengan lidahku. Akhirnya, bibir kami akan bertemu.

Dan itu akan menjadi panas—membara. Dan dia akan melupakan semua alasan tentang kenapa kami tidak seharusnya: tempatnya bekerja kita bersama, tunangan bodohnya. Satu-satunya hal yang akan dia pikirkan adalah aku dan apa yang akan dilakukan oleh kedua tangan ahliku padanya.

Aku punya sebuah sofa di kantorku, sofanya dari bahan suede—bukan kulit. Apakah suede bisa bernoda? Semoga tidak. Karena di sanalah kami akan berakhir—pada sofa terbengkelai yang menyedihkan itu.

Jadi, setelah dua minggu menyusun strategi dan berkhayal, aku yakin Yoongi akan menjadi kencan satu malamku berikutnya. Aku tak ingat pernah menginginkan seseorang sebanyak aku menginginkan dia. Aku pasti belum pernah menunggu seorang wanita selama aku menunggu Yoongi. Tapi yang penting, bagiku, kesimpulan yang pasti—bukan jika melainkan kapan.

Dan kemudian, pada Senin sore, ayahku memanggilku ke kantornya.

"Duduklah, nak. Ada beberapa urusan yang ingin kubahas."

Ayahku sering memanggilku di sini untuk membicarakan hal-hal yang dia belum siap untuk bagikan dengan seluruh staf.

"Aku baru saja selesai bicara lewat telepon dengan Saul Anderson. Dia mencari diversifikasi. Dia akan datang ke kota ini bulan depan untuk berkeliling mencari ide."

Saul Anderson adalah 'raksasa' media. Kaya raya—jenis pria yang membuat orang terlihat seperti seorang buruh kasar. Punya serbet? Karena kurasa aku meneteskan air liur.

"Bulan depan? Oke, aku bisa mengerjakannya. Tidak ada masalah."

Aku merasakan kegembiraan memompa di pembuluh darahku. Pasti beginilah yang hiu rasakan setelah seseorang membuang seember daging cincang ke dalam air. Keriuhan.

"Jimin..." ayahku menyela, tapi pikiranku terlalu sibuk berputar dengan ide-ide untuk bisa mendengarnya.

"Ada petunjuk apa yang dia cari? Maksudku kemungkinannya tidak terbatas."

"Nak..." Ayahku mencoba lagi.

Kalian bisa menduganya, bukan? Namun aku terus mengoceh,

"Stasiun tv kabel adalah mesin penghasil uang. Media sosial ada di toilet sekarang, jadi kita bisa mengambil beberapa penawaran yang nyata. Produksi film selalu menjadi taruhan yang aman, dan itu akan mengurangi biaya tambahan ketika mereka memutar ulang pada jaringannya sendiri."

"Jimin. Aku ingin memberikan klien itu pada Yoongi."

Tunggu sebentar!

Mau mengulanginya untukku?

"Apa?"

"Dia bagus, Jimin. Aku bilang padamu, dia sangat bagus."

"Dia di sini baru dua minggu!"

Anjing adalah binatang teritorial. Kalian tahu itu, kan? Itulah sebabnya kenapa di taman mereka tampaknya tidak pernah kehabisan pasokan urin, mereka bersikeras berhenti setiap empat detik untuk mendistribusikannya di area sekitar. Itu karena mereka percaya itu adalah taman mereka.

Dan mereka ingin anjing-anjing lain mengetahuinya, supaya tahu bahwa mereka yang pertama ada di sana. Ini adalah cara non verbal yang artinya sama dengan, "Pergi dari sini—cari tamanmu sendiri."

Begitu juga laki-laki.

Bukan berarti aku akan kencing di sekitar mejaku atau apapun, tapi perusahaan ini adalah milikku. Aku sudah membina klien-klien ini sejak perusahaan mereka masih kecil. Aku memandang perusahaan itu seperti ayah yang bangga, saat mereka tumbuh menjadi konglomerat yang kokoh.

Aku menjamu mereka dengan minuman dan makanan mewah, aku telah menghabiskan jam demi jam, bertahun-tahun tanpa tidur nyenyak. Tugasku adalah bukan hanya apa yang aku lakukan—itulah siapa aku. Dan aku akan sangat tidak rela jika Yoongi berjalan ke sini dan mengambilnya dariku.

Tidak peduli seberapa bagus pantatnya.

"Ya," kata ayahku. "dan apa kau melihatnya beberapa hal yang dia hasilnya selama dua minggu ini? Dia adalah yang pertama datang dan terakhir meninggalkan kantor—setiap hari. Dia segar dan berpikir di luar kebiasaan. Dia mengembangkan beberapa investasi yang paling inovatif yang pernah aku lihat. Naluriku mengatakan untuk memberinya kesempatan dan melihat apa yang akan dia lakukan."

Apa gejala awal untuk penyakit pikun, tepatnya?

"Dia akan meraba-raba—itulah yang akan dia lakukan!" Teriakku.

Tapi aku tahu dari pengalaman bahwa bersikap dramatis tidak berpengaruh apapun dengan ayahku, jadi aku memijit hidungku berusaha untuk menenangkan diri.

"Baiklah, Ayah, aku mengerti apa yang kau katakan. Tapi Saul Anderson bukanlah klien yang kau berikan kepada seseorang hanya untuk mengetahui apakah dia bisa melaksanakan tugasnya. Dia adalah klien yang kau berikan kepada orang terbaik dan tercerdas. Seseorang yang kau tahu bisa membawa sampai ke zona akhir. Dan itu adalah aku."

Bukankah begitu?

Aku bertanya-tanya saat ekspresi ketidakpastian menyelimuti wajahnya.

Saat ayahku terus terdiam, perutku menggeliat dengan cemas. Ini bukan karena aku memiliki Daddy complex atau semacamnya, tapi bohong kalau kubilang aku tidak menikmati kebanggaan ayahku dalam kinerjaku di kantor. Aku adalah tangan kanannya. Aku adalah orang yang dapat mengatasi masalahnya.

Saat jam menunjukkan pukul dua kurang lima menit, aku sangat yakin aku satu-satunya orang yang akan mendapat kepercayaan dari Joon Park .

Atau setidaknya aku dulunya begitu.

Aku terbiasa mendapatkan kepercayaan penuhnya. Fakta bahwa kepercayaan ayahku sepertinya goyah adalah...Well,...sungguh menyakitkan.

"Begini saja." Dia mendesah. "Kita punya waktu satu bulan. Datanglah dengan sebuah presentasi. Yoongi juga melakukan hal yang sama. Siapapun yang bisa membuatku terkesan akan segera bekerja pada Anderson."

Seharusnya aku benar-benar merasa tersinggung. Apa yang ayahku minta sama saja mengatakan kepada seorang pemenang Daesang bahwa dia harus mengikuti audisi untuk menjadi pemain figuran.

Tapi aku tidak membantah. Aku terlalu sibuk merencanakan langkah selanjutnya.

Dengan demikian, Yoongi telah berubah dari seorang wanita yang tidak sabar ingin kuajak dansa secara mesum menjadi seseorang yang tidak sabar ingin aku remukkan di bawah sepatuku.

Lawanku. Sainganku. Musuhku.

Itu bukan salah Yoongi. Kutahu. Sekarang tanyakan padaku apakah aku peduli.

Tidak—tidak sedikitpun.

.

.

.

Dalam mode siap tempur, aku kembali ke markas—yang juga dikenal sebagai kantorku. Aku memberi Hoseok beberapa perintah dan bekerja disisa sore hariku. Sekitar pukul enam sore, aku meminta Hoseok memanggil Yoongi datang ke kantorku.

Selalu memanfaatkan keuntungan sebagai tuan rumah. Bermain di kandang sendiri. Ingat itu.

Dia datang dan duduk, ekspresinya tak terbaca.

"Ada apa, Jimin?"

Rambutnya terurai. Membingkai wajahnya dalam tirai panjang yang mengkilap. Untuk sesaat, aku membayangkan bagaimana rasanya jika rambut itu menggelitik dadaku. Menyebar di pahaku.

Aku menggelengkan kepala.

Fokus, Jimin, fokus.

Dia mengenakan setelan burgundy gelap dengan sepatu yang cocok. Yoongi suka memakai sepatu hak tinggi. Kurasa karena dia mungil, tambahan tinggi yang diberikan oleh sepatunya membuat Yoongi merasa lebih percaya diri di kantor.

Pria menyukai wanita yang memakai sepatu hak tinggi. Kami mengasosiasikan mereka dengan segala jenis posisi seksual yang fantastis. Jika kalian ingin seorang pria memperhatikanmu, kalian tidak akan salah kalau memakai sepatu mengkilap setinggi empat inchi, aku bersumpah.

Saat mataku berkeliaran di tubuhnya dari ujung kepala sampai kaki, satu masalah, sebut saja begitu, muncul. Meskipun pikiranku mengakui kalau Yoongi sekarang sainganku, ternyata kejantananku belum mendapat memo. Dan kejantananku, dilihat dari reaksinya, masih ingin membuat pertemanan.

Jadi, aku membayangkan Miss Sangmi, guru IPA kelas limaku, dalam pikiranku. Dia adalah jagoan dari kaum wanita. Seorang pensiunan pegulat wanita—bukan yang memakai bikini. Dia punya tahi lalat di pipi kanannya yang begitu besar, kami yakin itu adalah kepala saudara kembarnya yang tidak dipisahkan dalam kandungan. Itu menjijikkan tapi anehnya menghipnotis pada saat yang sama—kalian tidak bisa mencegah untuk menatapnya. Tahi lalatnya bergoyang-goyang ketika dia bicara. Seperti mangkuk penuh dengan jelly.

Aku sedikit bergidik, namun triknya berhasil. Semua masalah di bawah sana teratasi.

"Saul Anderson akan datang ke kota ini bulan depan," Kataku akhirnya.

Yoongi mengangkat alis.

"Saul Anderson? benarkah?"

"Benar." Kataku padanya dengan serius.

Tidak ada lagi kesenangan untuknya.

"Ayahku ingin kau menyusun contoh presentasi. Sebuah praktek, seolah kau benar-benar akan mendapatkan klien. Dia pikir itu akan menjadi latihan yang bagus untukmu."

Aku tahu. Aku tahu...Kalian pasti berpikir aku seorang bajingan. Aku bahkan tidak memberikan kesempatan yang adil untuknya.

Well, lupakanlah. Ini adalah bisnis. Dan dalam bisnis—seperti halnya perang—segalanya adil.

Aku mengira dia akan bersemangat, aku mengira dia akan berterima kasih. Reaksinya bukan salah satu dari keduanya.

Yoongi menekan bibirnya menjadi satu garis ketat, dan ekspresinya berubah menjadi serius.

"Praktek, hah?"

"Benar sekali. Ini bukan urusan besar, kau jangan terlalu khawatir. Berikan saja suatu proposal untuknya. Secara hipotesis."

Dia melipat tangannya di depan dada dan memiringkan kepalanya kesamping.

"Sungguh menarik, Jimin. Mengingat ayahmu baru saja mengatakan padaku ia belum memutuskan siapa yang mendapatkan Anderson, klien itu akan jatuh ke kamu atau aku, tergantung siapa yang dapat menyusun strategi yang lebih mengesankan. Cara dia menjelaskan, kedengarannya seperti urusan yang sangat besar."

Oh...Uh

Ketika aku berusia dua belas tahun, Taehyung dan aku mengambil majalah Playboy dari sebuah toserba. Ayah memergokiku di kamar membaca majalah itu sebelum aku punya kesempatan menyembunyikannya di bawah kasur. Ekspresi wajahku saat ini mirip sekali dengan kejadian waktu itu.

Tertangkap basah.

"Kita bermain sedikit kotor, ya?" Dia bertanya, matanya menyipit dengan curiga.

Aku mengangkat bahu.

"Jangan terburu-buru, sweetheart. Anderson akan jadi milikku. Ayahku hanya melemparkan tulang padamu."

"Tulang?"

"Ya, pantatnya praktis melekat pada kursinya sejak kau mulai kerja. Aku heran kalau dia masih bisa berdiri tegak."

Selalu menyerang terlebih dulu—ingat itu. Tim mana yang mencetak skor lebih dulu? Mereka hampir dipastikan menjadi tim pemenang.

Cari tahu kalau kalian tidak percaya padaku.

Ya, aku mencoba mengguncang kepercayaan dirinya, aku berusaha membuat dia keluar dari persaingan.

Tuntut aku.

Aku menceritakan pada kalian tentang sejarahku. Aku beritahu kalian bagaimana aku tumbuh dewasa. Aku tak pernah berbagi mainanku. Aku tak berencana untuk berbagi para klienku.

Tanyakan pada setiap anak yang berumur empat tahun—Berbagi itu menyebalkan.

Ketika dia berkata, nadanya sangat mematikan, setajam golok.

"Kalau kita akan bekerja sama, Jimin, kurasa kita harus meluruskan beberapa hal. Aku bukanlah sweetheart-mu. Namaku Yoongi—Min Yoongi. Camkan itu. Dan aku bukan orang yang suka menjilat. Aku tidak harus melakukannya. Pekerjaanku bicara dengan sendirinya. Kecerdasanku, tekadku—itu yang membuat ayahmu memperhatikanku. Dan jelas dia mengira kau agak kurang dalam bidang itu karena dia mempertimbangkanku untuk Anderson."

Oh. Tentu saja dia menyerang dengan sengit untuk memastikan kemenangan, benar, kan?

"Dan aku tahu wanita mungkin akan saling berebut untuk mendapat perhatian dan senyum menawanmu," ia melanjutkan, "tapi, itu tidak akan terjadi padaku. Aku tidak berencana untuk menjadi salah satu dari para penggemarmu di ranjangmu, jadi kau bisa memberikan rayuanmu, senyummu dan omong kosongmu untuk orang lain."

Dia berdiri dan tangannya bertumpu di tepi mejaku, membungkuk.

Hei, kalian tahu kalau aku duduk sedikit tegak, aku bisa melihat tepat di bawah blusnya, aku suka titik itu pada wanita. Lembah diantara—

Hentikan!

Secara mental, aku menampar diri sendiri, dan Yoongi melanjutkan.

"Kau terbiasa menjadi nomor satu di sini, terbiasa menjadi anak kesayangan ayahmu. Well, ada pemain baru di kota ini. Hadapilah. Aku telah bekerja keras untuk mendapatkan pekerjaan ini, dan aku berencana untuk membangun reputasiku sendiri, kau tidak suka berbagi ketenaran? Sayang sekali. Kau bisa juga berbagi ruang untukku, atau aku akan menginjakmu kalau kau menghalangi jalanku. Apapun yang terjadi, aku jamin aku akan ada di sana."

Dia berbalik untuk pergi tapi kemudian dia menoleh kearahku, bibirnya melengkung membentuk senyum manis sekali.

"Oh, dan aku akan bilang semoga beruntung dengan Anderson, tapi aku tidak mau repot-repot. Saul Anderson adalah milikku...sweetheart."

Dan dengan begitu, dia berbalik dan berjalan keluar dari kantorku, melewati Taehyung dan Jackson, yang berdiri di depan pintu dengan mulut ternganga.

"Well...Sialan," Kata Taehyung.

"Ok. Apakah ada orang yang terangsang sekarang?" Jackson bertanya,

"Serius, aku mengalami ereksi sekarang karena—" dia menunjuk Yoongi yang baru saja berlalu. "tadi sangat panas."

Itu memang panas. Yoongi adalah seorang wanita cantik. Tapi ketika dia marah. Dia spektakuler.

Namjoon berjalan masuk dengan membawa secangkir kopi di tangannya. Melihat ekspresi di wajah kami, dia bertanya,

"Apa? Apa aku lewatkan sesuatu?"

Taehyung dengan senang hati mengatakan padanya,

"Jimin kehilangan sentuhannya. Dia baru saja diomeli habis-habisan. Oleh

seorang cewek."

Namjoon mengangguk muram dan berkata,

"Selamat datang di duniaku, Bro."

Aku mengabaikan tiga badut itu. Perhatianku masih terfokus pada tantangan yang baru saja Yoongi berikan.

Testosteron terpompa melalui tubuhku meminta kemenangan. Tidak saja menang, tapi menang telak—tidak ada yang lebih memuaskan kecuali menang

KO tanpa perlawanan.


-TBC-

[Sedikit penjelasan kenapa aku tidak menggunakan konsep boyXboy untuk FF ini]

[Setelah aku brainstorming. novel ini 99% menceritakan sudut pandang dari seorang pria ke lawan jenis, dan akan menjadi tidak sinkron kalau partnernya bukan wanita]

[Well, jadi aku agak kesulitan untuk bikin konteks di sini menjadi boyXboy]

[Mengerti maksudku? Tapi aku tidak menutup kemungkinan someday atau mungkin udah ada author yang 'berhasil' meremake novel ini menjadi boyXboy]

[hehehe aku harap walaupun GS pairing MinYoon tetap 'asyik' dibaca ya di sini]

[R&R ditunggu selalu :)]