Lampu-lampu jalanan sudah mulai menerangi gelapnya malam, Chanyeol mengeratkan tangannya pada kemudi, raut wajahnya nampak datar namun sirat akan kekesalan yang tertahan. Ia tak bisa menghilangkan rasa kesal juga marahnya disepanjang jalan, dan objek kekesalannya masih saja menaungi alam mimpi.

Beberapa saat kemudian, Baekhyun mulai tersadar dari pingsannya, rasa pening langsung melanda kepalanya, tangan mungilnya terangkat dan meremas rambutnya.

"Ahk... kepalaku,"

"Kau sudah bangun, nona?"

Tatapannya beralih kesamping, mata sipitnya mengerjap-ngerjap karena pandangannya terasa sedikit buram. Denyutan di kepalanya kembali terasa, ia berdesis sakit dan meremas kepalanya dengan kedua tangan.

Alis Chanyeol berkerut heran melihat keadaan Baekhyun saat ini, saat pria itu kembali berdesis akan rasa sakitnya Chanyeol memutuskan untuk menepi ke pinggir jalan.

"Wae? Ada apa denganmu?" Chanyeol bertanya dengan santai.

Setelah merasa peningnya mulai membaik Baekhyun mendongakkan wajahnya dengan kedua tangannya yang masih diatas rambutnya. Matanya menyipit untuk beberapa detik sampai ia menyadari siapa orang didepannya, saat itu juga Baekhyun baru menyadari jika wig palsu yang dipakainya telah menghilang dari kepalanya, matanya terbelalak dengan kedua tangan mengacak surainya untuk memastikan jika yang di rasanya ini benar.

"Kau mencari ini?"

Pluk

Sebuah benda berjenis rambut memukul wajahnya keras, ketika benda itu jatuh ke pangkuannya, Baekhyun mengambilnya dengan wajah luar biasa terkejut.

"Menggelikan sekali!" Komentar sinis keluar dari mulut Chanyeol. Baekhyun melirik Chanyeol dengan gerakan gugup lalu membuang mukanya kearah jendela seraya meringis.

"K-kau sudah tahu?"

"Aku tidak tahu apa motifmu melakukan penyamaran sebagai Baekhee, tapi apa yang kau lakukan ini membuatku tak bisa berpikir jernih."

Baekhyun masih enggan menatap Chanyeol, ia rasa make up masih menghiasi wajahnya, meskipun tipis tapi tetap saja sebagai laki-laki ia sangat malu.

"Memangnya ini penting untukmu?" Baekhyun berkata ketus.

Chanyeol melotot kearah Baekhyun."Kau sudah hampir merusak masa depanku pendek!"

Refleks Baekhyun terbelalak dan berbalik menatap Chanyeol. "Apa? Merusak masa depanmu? Apa maksudmu?"

"Untung saja aku langsung menyadarinya, jika tidak mungkin aku sudah-"

Chanyeol menghentikan ucapannya, Baekhyun melotot curiga.

"Yah, kau ingin melakukan apa padaku? Ah tidak, maksudku pada Baekhee? Kau ingin berbuat macam-macam?"

"Apa? Aku tida-"

"Aish! Orang ini, apa aku harus mengantarmu ke psikiater supaya otakmu itu tidak berpikiran kriminal terus?"

"Apa kau bilang? Aish! Jjianja!" Chanyeol berdesis kesal, ia sungguh tak percaya dengan pemikiran pria mungil dihadapannya ini.

"Awas kau! Aku akan terus mengawasimu disekitar Baekhee." Baekhyun mengacungkan telunjuknya memperingati.

"Berhenti berpikiran buruk tentangku! Kau telah mencemarkan nama baikku, pendek!" Chanyeol tak bisa lagi menahan kekesalannya.

"Ish! Jangan memanggilku pendek!"

"Kalau begitu berhenti memanggilku pencuri!"

"Itu memang kenyataannya!"

"Kau juga memang kenyataannya!"

"Tapi aku lebih tinggi satu senti dari Kyungsoo! Huh!" Baekhyun berbalik kesal ingin membuka pintu mobil untuk segera pergi darisana.

Chanyeol yang melihatnya segera mencekal lengan Baekhyun dan menariknya. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan semua pemikiran burukmu!"

Baekhyun tertarik dan Wajahnya menubruk bahu Chanyeol, matanya terbelalak kaget. Sementara Chanyeol terdiam saat tiba-tiba kembali hidungnya mencium bau itu, bau yang entah kenapa melemahkan kinerja otaknya. Sadar dengan posisinya Baekhyun bergerak untuk menjauh namun entah kenapa tangan Chanyeol malah semakin menggenggam erat lengannya. Perlahan mata bulat Chanyeol menyayu lalu terpejam dengan wajah mendekat kearah leher Baekhyun, hidungnya menempel disana.

"HUWAAA, APA-APAAN INI, LEPASKAN AKU SIALAN CABUL!"

Teriakkan menggelegar itu berhasil menyadarkan Chanyeol, ia langsung mendorong Baekhyun menjauh.

"KAU CABUL! OTAK KRIMINAL!"

"Yah! Ini tidak seperti yang kau lihat!"

"JAUH-JAUH DARIKU!" Baekhyun segera membuka pintu dan mengambil langkah seribu, berlari entah kemana dan tak menyadari bagaimana penampilannya saat ini, rambut pendek memakai dress wanita, untung saja memakai sepatu bukan high heels.

Author be like -_-"

Sementara Chanyeol keluar dari mobil, ingin mengejar Baekhyun tapi pria mungil itu sudah berlari jauh. Ia berdecak kesal.

.

.

.

.

HappytimewithCB – Present

What's Wrong

[ There Is Nothing Wrong With Their Destiny ]

Cast :

- Park Chanyeol

- Byun Baekhyun

- Oh Sehun

- Byun Baekhee (Baekhyun's Twins)

- Do Kyungsoo

- Kim Jongin

Rating T.

Warning : YAOI, BOYXBOY, GJ, Comedygaring, TYPO, DLL.

Happy Reading~

.

.

.

.

Sekarang ini Baekhyun berdiri di depan kasir di sebuah toko baju, hanya senyuman canggung yang dapat ia berikan ketika ia membayar semua pakaian yang dibelinya. Jika kalian ingin tahu, semua orang disana menatapnya aneh, mungkin mereka jijik dengan pakaiannya saat ini, bahkan Baekhyun sendiri pun merasa jijik dan ingin segera menghentikan penderitaannya ini.

"Ini kartu kredit anda nona eh! Maksudku t-tuan?" kasir perempuan itu terlihat sedikit kebingungan.

Baekhyun mengambil kartunya dengan cepat. "Tuan! Itu baru benar." Ucapnya sedikit kesal dan segera beranjak dari sana.

"Woah! Jadi yang benar tuan?! Jadi dia laki-laki? Apa dia bisa berubah-ubah gender?" Ah, sudahlah, biarkan kasir itu berdialog dengan batinnya sendiri.

Baekhyun sudah di toilet dengan bajunya yang sudah berganti, untungnya tas selempang milik Baekhee tidak tertinggal di mobil si cabul itu. Ia sekarang memakai celana jins, baju kaos warna oren dan tak lupa dengan jaket tebal, diluar sangat dingin menurutnya. Setelah merapikan rambutnya, ia segera keluar dengan mentengteng kantung kertas berlogo toko dimana ia berada sekarang.

"Woah!"

Seruan itu membuatnya terperanjat dan berhenti, ia melirik ke sampingnya, disana berdiri si kasir wanita tadi yang nampak menatapnya tidak percaya.

"Benarkah dugaanku ini, kau mempunyai dua gender?!"

Baekhyun melotot tidak terima, "Dua gender apa maksudmu? Aku ini laki-laki! Ish!" sesuatu seperti ini membuatnya sangat kesal, ia sangat anti jika sudah dikait-kaitkan mirip perempuan, dia ini laki-laki tampan, catat itu. Baekhyun mendengus dan beranjak pergi dari sana, tidak ingin berbincang banyak.

Si kasir mengerutkan keningnya, "Aku yakin dia mempunyai dua gender dan kenapa wajahnya lebih cantik dariku?" Biarkan dia terus mengoceh tentang gender uri Baekhyun.

.

.

.

.

Baekhee berjalan kesana-kemari di tengah rumah, dari tadi ia tidak dapat balasan dari Baekhyun bahkan teleponnya juga tidak diangkat. Ia mulai cemas sekarang, ini sudah malam, mau apa Baekhyun keluyuran memakai dandanan wanita sampai malam begini?

Baekhee sudah menelepon Kyungsoo, tapi Kyungsoo juga tidak tahu keberadaan Baekhyun. Awas saja kalau adiknya itu membuat kekacauan diluar sana dengan atas namanya.

Baekhee segera kembali mengirimi Baekhyun SMS.

.

.

.

.

Di dalam mobil, Chanyeol mengendara seraya matanya sibuk melihat keluar jendela, mencari keberadaan si galak. Ini sudah jam 8 malam dan pria mungil itu berkeliaran diluar sana dengan pakaian minimnya itu, membuat Chanyeol sedikit Khawatir, ya sedikit khawatir karena kalian juga tahu jika Chanyeol yang membawa Baekhyun dan Baekhyun adalah adik Baekhee, jika terjadi apa-apa pada bocah menyebalkan itu maka tamat riwayat Chanyeol.

Chanyeol berinisiatif menelepon Kyungsoo.

"Halo, Kyungsoo-ah."

'Oh, Chanyeol-ah, ada apa?'

"Tolong beri aku nomor Baekhyun, ini sangat penting."

Pip

Diseberang sana Kyungsoo menatap ponselnya bingung, Baekhee tadi menghubunginya menanyakan Baekhyun lalu sekarang Chanyeol, apa yang terjadi pada Baekhyun, dan ini aneh sekali, bukankah mereka masih saling mengatai beberapa hari yang lalu, apa mereka sudah berdamai, pikirnya. Kyungsoo mengedikan bahunya dan segera mengirim nomor Baekhyun.

Ding dong

Pesan masuk ditrima Chanyeol, segera ia membukanya, dan meng-klik nomor Baekhyun. Ponselnya ia tempelkan ditelinga.

Tut tut tut

Tak ada jawaban.

Tut tut tut

Masih tak ada jawaban.

Pip

Chanyeol mengerutkan dahinya kesal, ia melempar ponselnya ke dashboard, namun suara tubrukan dua benda terdengar darisana. Ia melirik kesana dan menemukan ponsel selain miliknya disana, ia mengambilnya dan ternyata itu ponsel Baekhyun.

"Aish! Aku lupa jika menyimpannya disini."

Ia melihat layar ponsel, disana tertera 7 panggilan masuk, dan 16 pesan dari Baekhee. Chanyeol membulatkan mulutnya. Ponsel Baekhyun memang sengaja ia silent kan karena Baekhee menelepon Baekhyun terus. Itu mengganggunya yang sedang menyetir.

Sementara di dalam bus, Baekhyun merogoh-rogoh tas selempang wanita dipangkuannya. Benda persegi panjang miliknya tidak ada disana, kemana perginya, atau tertinggal di mobil Chanyeol. Baekhyun mengepalkan tangannya kesal.

Ia memasukan kembali tas itu kedalam kantung. Perasaannya saat ini benar-benar kesal, ia tidak ingin berinteraksi lagi dengan si otak kriminal.

.

.

.

.

Chanyeol tiba di apartemennya, ia segera melepas sepatu dan tas ranselnya, kemudian mendudukan dirinya di sofa. Apa Baekhyun sudah berada dirumahnya. Baekhyun, aish bocah itu, mengingatnya mebuat Chanyeol ingat kejadian tadi, kenapa ia bisa tidak bisa mengendalikan otaknya setelah mencium bau tak biasa dari tubuh Baekhyun, bau itu baru pertama kali Chanyeol cium dari tubuh seseorang.

Teringat akan kepercayaan itu lagi membuat Chanyeol meringis dan mengacak rambut frustasi, bagaimna jika ikatan itu benar. Auh, ini tidak bisa dipercaya. Ia harus bagaimana sekarang. Apa harus ia jauh-jauh saja dari Baekhyun, tapi itu tidak mungkin, Baekhyun adalah adik Baekhee. Dimana ada Baekhee disitu ada Baekhyun. Ahh, pikirannya mulai kacau sekarang. Ia mengambil ponsel miliknya dan mengetik sesuatu lalu menempelkan ponsel itu ditelinganya.

"Ibu, aku ingin bicara sesuatu."

. . . . CB . . . .

Ting Tong

Baekhee terdiam sejenak diatas sofa, apa ia baru saja mendengar bel pintu, ah si Bacon sudah kembali rupanya. Baekhee segera berlari kearah pintu.

Ketika pintu terbuka, Baekhyun langsung memasuki rumah tanpa memperdulikan Baekhee yang berdiri termangu diambang pintu, wanita itu mendengus lalu menutup pintu.

"Yah! Baekhyun!"

"Aku lelah Noona." Baekhyun menjawab tanpa berbalik, berjalan terus kearah tangga. Baekhee tak merespo Baekhyun, ia pikir Baekhyun memang kelelahan, ya sudah ia akan wawancara Baekhyun besok saja. Bahkan ini memang sudah malam.

.

.

.

.

Baekhyun terbangun dipagi hari, ia berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Setelah selesai dengan kebutuhannya ia berjalan kearah sofa ruang tv, namun disana sudah ditempati oleh Baekhee dan ohh? Siapa pria disampingnya itu. Baekhyun semakin berjalan mendekat. Dan semakin dekat sampai kemudian Baekhee tiba-tiba berdiri dari duduknya.

"Baekhyun-ah, Chanyeol datang untuk mengembalikan ponselmu. Dia baik sekali." Baekhee tersenyum berbanding terbalik dengan Baekhyun, ia terbelalak kaget, segera matanya melirik ke arah pria itu dan benar saja si otak kriminal duduk manis disana.

Setelahnya Baekhee beranjak dari sana. Baekhyun segera duduk di samping Chanyeol.

"Apa kau cari muka pada kakakku?"

Tak ada jawaban dari Chanyeol, Baekhyun melirik Chanyeol. "Mana ponse- Huwaaa..." Tiba-tiba Chanyeol mendorongnya hingga kepalanya terantuk pegangan sofa, matanya membulat melihat bagaimana Chanyeol sekarang.

Kulitnya berubah pucat, matanya berwarna kuning keemasan dan gelap. Dan bibirnya terbentuk senyum menakutkan dengan gigi taring yang menonjol. Apa yang terjadi dengannya.

"Yah! Park Chanyeol lepaskan aku."

"Baumu itu sangat enak pendek." Chanyeol segera menelusupkan wajahnya diantara perpotongan leher Baekhyun.

"ANDWEEEE!"

Mata sipit itu terbuka lebar, Baekhyun baru saja bermimpi buruk, napasnya terengah-engah, keringat membanjiri wajahnya. Ia mengusap wajahnya kasar. Apa karena rasa pening semalaman membuatnya bermimpi hal seperti itu. Aish, dan kenapa harus Chanyeol. Baekhyun bingung sendiri dibuatnya.

Tok tok tok

"Baek ada roti di meja makan, aku akan berangkat sekarang." Baekhee sidikit berteriak diluar sana.

"Ne."

Baekhyun segera beranjak dari kasurnya untuk bersiap kesekolahnya. Dan melupakan sejenak mimpi buruknya tadi.

Di meja makan sembari mengoles roti dengan selai strawberry, Baehyun teringat akan kejadian kemarin. Saat Chanyeol yang tiba-tiba mengendus lehernya, apa pria itu memang tidak sengaja melakukannya. Tapi, Baekhyun yakin jika Chanyeol masih menyukai perempuan, dengan tingkah laku pria itu pada Baekhee. Baekhyun yakin itu.

.

.

.

.

"Hahahahaha..."

Tawa Kyungsoo terasa mendominasi kebisingan di kelas XII-4, ia memukul-mukul meja dihadapannya. Baekhyun disampingnya menatap datar kelakuan Kyungsoo. Yah, ini salahnya, tidak seharusnya Baekhyun menceritakan mimpinya pada Kyungsoo, untung saja ia tidak memberitahu jika Chanyeol ada dalam mimpinya. Ia benar-benar menyesal sekarang.

"Kau memang teman terbaikku, aku mimpi buruk pun kau malah tertawa."

"Yah, bukan begitu, haha.. " Kyungsoo berusaha menghentikan tawanya melihat Baekhyun memalingkan wajahnya dengan sebal. "kau tahu, dalam pikiranku ini kurasa, vampir sedang balas dendam padamu karena tidak diakui keberadaannya. Haha.."

"Yah! Memangnya bisa balas dendam lewat mimpi? Ada-ada saja kau!"

"Haha.. Oh! Chanyeol-ah!" Kyungsoo mengalihkan fokusnya pada Chanyeol yang berjalan ke arah meja mereka.

"Hai Kyung," Chanyeol tersenyum, ia mengalihkan tatapannya pada Baekhyun yang tak menatapnya balik. Seakan teringat sesuatu ia merogoh saku jasnya, dan meletakkan ponsel di hadapan Baekhyun.

"Ini, masih untung aku tak membuangnya." Kemudian ia melanjutkan langkahnya ke mejanya dibelakang.

"Aish! Membuang katanya? Sok kaya sekali dia!" Baekhyun menggerutu seraya mengusap lockscreen layar dan disana terpampang background ponselnya dengan dirinya yang memakai wig palsu editan, bulu mata badai, lensa kontak, bibir merah, tentu semua itu terlihat seperti editan.

"AIGOO, ini kan photo terbaikku! beraninya dia." Baekhyun berbalik untuk menatap Chanyeol dengan kekesalannya yang mendalam, tapi pria itu nampak sedang tenang mendengarkan musiknya karena terpasang earphone ditelinganya.

"Ada apa eoh?" Kyungsoo mengintip ponsel Baekhyun, dan ia membulatkan matanya lalu tawanya kembali meledak. "Hahahahaha... Apa kau ketagihan baek. Aigooo, jangan sampai aku ketularan."

Baekhyun beralih menatap Kyungsoo, "Apa maksudmu? Ish! Dari tadi kau terus menertawaiku! Apa kau senang aku menderita seperti ini."

"ini penderitaan untukmu, tapi hiburan untukku." Kyungsoo membuat tanda V dengan tangannya ketika Baekhyun bersiap memukulnya.

Sementara Chanyeol tertawa dibangkunya. Ternyata rasanya seperti ini mengerjai seseorang yang selalu membuatmu kesal dan jengkel setiap hari.

.

.

.

.

Seperti biasa Baekhyun dan Kyungsoo akan nongkrong di kantin ketika istirahat, tak ada tempat nyaman selain kantin menurut mereka, tapi menurut Chen si ketua kelas, tongkrongan ternyaman adalah perpustakaan. Hah, Chen lebih memilih mengisi otaknya dari pada perutnya. Tapi, hari ini Chen harus nongkrong di kantin bareng duo rempong yang tiba-tiba menariknya mengikuti mereka.

Srotttt...

Chen menatap malas Baekhyun yang menyedot habis minuman berwarna pink nya. Saat mata sipit itu menatapnya, Chen balik menatapnya dengan pandangan bertanya.

"Begini Chen, soal kemarin aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa datang."

"Ne, aku tahu kau sakit."

"Eumm... tapi Chen, apa janjimu waktu itu masih berlaku?"

"Hm? Janji apa?"

"Kau akan memberiku contekkan untuk ujian sejarah hari ini." Baekhyun tersenyum semanis mungkin.

"Oh... kurasa sudah tidak berlaku." Chen berucap santai.

Baekhyun membulatkan matanya, Kyungsoo ikut-ikutan membulatkan matanya, karena jika Baekhyun tidak berhasil mebujuk Chen, maka tamat riwayat mereka. "Mwo? Kenapa? Kyungsoo kan sudah menggantikanku."

"Heem, bahkan aku bernyanyi dengan seluruh jiwa dan raga ku kemarin."

"Tetap tidak, aku janji jika itu Baekhyun yang bernyanyi. Sudah, aku sudah ditunggu Xiuman di perpus." Chen segera beranjak dari sana, tidak memperdulikan duo rempong memanggilnya dengan pasrah.

"Dia itu pintar tapi nyerempet bodoh, mau saja diperalat oleh Xiumin Sunbae." Ucap Baekhyun geram.

"Benar, padahal kita sudah berusaha pura-pura takut padanya dikelas, biar dia dinaikkan derajatnya oleh guru."

"Benar Kyung, setelah ini kita tidak boleh menuruti dia lagi."

Yaampun duo ini, apa mereka sudah menjadi duo evil sekarang.

Beberapa saat setelah itu, mereka kembali menikmati makanan yang terhidang diatas meja, Kyungsoo melirikkan matanya kepenjuru kantin ketika matanya terhenti pada salah satu meja, disana terduduk dua orang berbeda jenis tengah mengobrol asik. Ia menyikut lengan Baekhyun.

"Baek, lihat, Baekhee tengah bersama Chanyeol. Bagaimana kalau kita gabung mereka?"

"Ani! Disini saja, apa kau tak lihat si tiang itu tengah merayu singa betina?"

Kyungsoo terkekeh geli, "Ucapanmu itu, bagaimana bisa kau memanggil saudara kembarmu seperti itu?"

"Biarkan saja, dia memang seperti singa, jika kau tercakar olehnya, lukamu tidak akan sembuh satu bulan pun."

Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya, menurutnya Baekhyun berlebihan sekali.

Baekhyun menatap kearah dua orang itu, ia melihat Baekhee beranjak dari tempatnya namun tidak dibarengi Chanyeol. Chanyeol terlihat masih memakan makanannya.

"Kkajja Kyung, aku harus melabrak si otak kriminal itu." Baekhyun berdiri dari duduknya, menyeret Kyungsoo yang kebingungan setengah mati.

"Chanyeol-ah." Seperti biasa Kyungsoo akan menyapa, Chanyeol tersenyum pada Kyungsoo.

"Duduklah Kyung."

Namun semakin mereka mendekat yang duduk dihadapannya malah si galak dengan rautnya yang tak bersahabat menatap tajam kearahnya dan kyungsoo duduk disampingnya. Chanyeol memutar bola matanya malas.

"Kau... benar-benar menyukai Baekhee?"

Chanyeol menatap Baekhyun kemudian tersenyum remeh, "Memangnya kenapa? Apa kau kegeeran karena kejadian kemarin?"

"Cuih! Aku bertanya karena Baekhee saudaraku, meskipun dia menyebalkan tapi aku ingin dia mendapat pria baik-baik."

Alis mata Chanyeol terangkat sebelah, "Jadi maksudmu aku bukan pria baik-baik?"

Lagi-lagi Kyungsoo dibuat cengo dengan pertikaian Chanyeol dan Baekhyun yang entah kapan ada ujungnya.

"Bukan begitu, hanya saja kau itu cabul."

Kita lihat reaksi Kyungsoo, ia membulatkan matanya sekarang.

Chanyeol mendekatkan wajahnya, "Kita lihat saja nanti, bagaimana reaksi orang-orang melihat Byun Baekhyun berdandan perempuan."

Baekhyun membulatkan matanya.

"Kurasa kalian sudah semakin dekat ya?" Kyungsoo menengahi.

"Dekat dari mana?" Chanbaek bertanya kompak.

"Itu, kalian sudah tahu aib masing-masing." Kyungsoo nyengir tanpa dosa.

Baekhyun mencebikkan bibirnya kesal, sementara Chanyeol menghela napas.

.

.

.

.

"Apa jawabannya?"

Kyungsoo memperlihatkan kertasnya pada Baekhyun.

"Aish, kau belum menjawab soal nomer 4?"

"Belum."

Kyungsoo berbalik kebelakang, tuhan memihak padanya karena Chanyeol juga meliriknya. Ia memberi isyarat untuk nomer yang ia belum jawab, Chanyeol yang mengerti menganggukkan kepalanya.

Sebuah kertas meluncur dan mendarat di bawah bangku Kyungsoo. Ia membuka kertas itu, dan ia tersenyum karena Chanyeol ternyata sangat baik hati dan pintar, ia ada contekkan cadangan jikalau Chen tidak mau lagi dicontek. Kyungsoo tertawa dalam hati.

*Jangan ditiru ya kelakuan Baeksoo disini

Disisi kertas itu terdapat tulisan lain.

Berikan juga pada teman sebangkumu, aku tidak tahan melihat wajahnya yang sudah seperti bebek buruk rupa.

Kyungsoo tertawa sejenak membaca tulisan itu, setelah menulis beberapa jawaban,ia memberikannya pada Baekhyun.

"Ini, Chanyeol memberikannya padaku."

"Si tiang itu? Ani aku tidak mau."

"Yah! Cepat terima, aku tidak bisa jika harus memberikan kertas ujianku padamu."

"Kau memang teman yang baik."

"yah, dari pada terus menyindirku, lebih baik cepat terima ini."

Baekhyun tidak ada pilihan lain selain menerimanya. "Aku benar-benar terpaksa melakukan ini."

Dengan menggigit bibirnya ia menulis jawaban dikertas itu. Matanya melirik tulisan disisi kertas. Matanya melotot kesal.

"Aish! Si otak kriminal, aku menyesal menerima ini semua." Baekhyun meremas kertas itu dan melemparnya kesembarangan tempat.

Plukk

Kertas itu mengenai kepala guru Song, Baekhyun buru-buru merubah gesturnya dengan serius mengerjakan kertasnya.

"Aigoo!" Guru song memungut kertas itu, membukanya dan menggertakkan giginya marah.

"Siapa disini yang mempunyai julukan bebek buruk rupa? Huh? Yah! Bebek buruk rupa! Keluar kau dari kelasku! Beraninya si bebek ini mencontek di ujianku."

Semua murid hening, mereka mencoba terlihat serius mengerjakan ujian mereka. Dibelakang sana Chanyeol menunduk karena tak tahan dengan tawa yang mungkin akan meledak kapan saja.

.

.

.

.

Hari ini ia sudah sangat puas mengerjai adik Baekhee, Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya, ia sudah puas tertawa disepanjang jalan. Bus yang ia tumpangi berhenti di halte dekat apartementnya. Chanyeol keluar dari sana. Hari ini ia tidak pulang bersama Baekhee karena wanita itu harus langsung ke toko bunganya. Yah mungkin minggu ini, ia akan mengajak Baekhee jalan.

Chanyeol memasuki lift, seseorang dengan pakaian santai, memakai kacamata juga jaket hitam dengan tudung jaket melapis kepalanya, memasuki lift yang sama. Chanyeol tidak memperdulikan orang itu. Mereka hening didalam lift. Lift terbuka, keduanya keluar bersamaan, Chanyeol melangkah ke kanan koridor, sementara orang itu berdiam didepan lift. Ia melepas kacamatanya kemudian tersenyum geli, entah apa yang membuatnya seperti itu.

Di Apartemen, Chanyeol langsung merebahkan dirinya di sofa, ia memejamkan matanya yang mulai lelah akhir-akhir ini.

'Kau bisa terikat dengan wanita itu, tapi juga tidak. Namun, yang ibu tahu tidak pernah ada yang gagal mencoba metode itu. Maka dari itu kepercayaan ini sangat dipercaya turun-temurun.'

Perkataan ibunya tiba-tiba terlintas, Chanyeol menggeleng keras. Tapi juga tidak, Ibunya juga bilang begitu kan, ya Chanyeol hanya akan optimis pada kepercayaan itu.

Ting tong

Matanya harus kembali terbuka, ia mendengus kemudian bangkit dari rebahannya. Chanyeol berdiri didepan pintu, ia segera membukanya.

Seseorang dengan jaket hitam berdiri disana, Chanyeol mengerutkan alisnya karena tak bisa melihat wajah yang menunduk itu.

Orang dihadapannya segera membuka tudung jaketnya, dan terpampanglah wajah tampan dengan rambut coklatnya, tersenyum sumringah begitu kekanak-kanakan.

Chanyeol membulatkan matanya.

"Annyeong! Hyung!"

[TBC]

Keutt!

Tolong review yaa~ makasih pokoknya yang udah review chap kemarin :* aku cinta kalian :* yang fav sma follow juga, makasih yaaa :*