Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort, Family

Pair : Hinata x Pain/Pein

Slight

Deidara x Ino

~ Bad Boy ~

WARNING : AU, TYPO'S, OOC TINGKAT AKUT (SIKAP PEIN JAUH BERBANDING TERBALIK DENGAN YANG ASLI), NO BAKU, EYD amburadul, OC, CRACK PAIR, Alur kadang cepat dan lambat, Dll

.

.

.

.

.

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X

Kedua mata Pein menyipit tajam menatap beberapa ruam kemerahan di leher putih sang kekasih, bisa dipastikan itu bukanlah ruam bisa akibat gigitan nyamuk, serangga ataupun karena digaruk tangan melainkah hasil dari kecupan serta gigitan seseorang tapi siapa yang sudah berani berbuat lancang seperti itu pada gadisnya bahkan Pein sendiri saja belum pernah melakukannya.

Dan tentu saja hal ini membuat pria dengan predikat iblis berhati dingin ini merasa marah, emosi, kesal juga cemburu semuanya bercampur aduk menjadi satu karena ada orang sudah berani menodai gadisnya. Darah Pein mendidih panas mengetahui kalau kekasihnya telah dinodai walau dalam artian berbeda.

"Siapa yang melakukannya, Hime?" tanya Pein dingin.

Tubuh Hinata menegang kaku mendengar pertanyaan sang kekasih, ia baru teringat kejadian beberapa waktu lalu yang dilakukan Sosori padanya dan itu pasti meninggalkan jejak di lehernya, bodohnya lagi ia lupa menutupinya. Hinata hanya bisa diam, menutup mulut rapat-rapat karena bingung harus menjawab apa, jika ingin beralasan karena digigit nyamuk atau serangga itu tidak mungkin.

"Kenapa diam? Jawab aku, siapa yang sudah berani menodaimu?" tanya Pein sekali lagi dengan nada membentak membuat Hinata semakin takut dan merasa bersalah.

"I-tu..." Hinata tampak bingung mengatakannya.

"Itu apa? Cepat katakan jangan gagap seperti itu," bentak Pein dengan nada tinggi membuat Hinata benar-benar merasa takut.

Liquid bening menetes membasahi pipi gembil Hinata.

Gadis cantik bersurai indigo panjang ini menangis bukan karena dibentak oleh Pein melainkan merasa bersalah pada pemuda bersurai jingga itu, "Ma-maafkan aku..." isaknya tertahan.

Pein menghela nafas berat melihat sang kekasih menangis terlebih itu karena dirinya membuatnya merasa bersalah karena tak seharusnya hilang kendali, "Maaf sudah membentakmu," Pein merengkuh tubuh mungil sang kekasih, membawanya dalam pelukkan, "Aku bukan marah atau membencimu tapi pada orang yang sudah berani memberikan tanda ini dilehermu, jadi katakan siapa orangnya, Hime?" sambung Pein seraya mengusap lembut helaian panjang rambut indigo sang kekasih.

"Sa-Sasori-Senpai," jawab Hinata jujur dalam pelukkan sang kekasih.

Aura dingin menguar dari tubuh Pein, kedua matanya langsung diselimuti bara api, "Akan kubunuh dia," desis Pein.

"Ja-jangan lakukan itu Pein-kun,"

Pein melepaskan pelukkannya kasar dan menatap tajam Hinata, "Sekarang kau membelanya,"

Hinata menggelengkan kepala cepat, "Tidak. Aku hanya tak mau kau ditangkap polisi dan meninggalkanku sendirian,"

Diletakkan kedua tangannya di pipi Hinata, "Dasar gadis bodoh,"

Pein mencium dalam sang kekasih menyalurkan perasaan sayang serta cintanya pada sang kekasih.

Untaian benang saliva terlihat jelas di kedua bibir mereka, wajah Hinata merona merah dan Pein sangat menyukainya karena sang kekasih terlihat cantik serta menawan. Pein menyibak helain rambut Hinata memperlihatkan leher jenjang putih miliknya yang menggoda namun sudah ternoda dengan jejak kepemilikan dari orang lain dan ia sangat tak suka jika ada orang berani merebut apalagi mengganggu apa yang sudah menjadi miliknya.

Tanpa berkata apa-apa Pein langsung mencium tanda kiss mark di leher Hinata, mencoba menghapus jejak kepimilikan milik Sasori dileher sang kekasih tercinta.

"Pe-Pein-kun..."

"Diamlah, aku sedang menghapus noda,"

Hinata diam seraya memejamkan kedua mata menahan sensasi aneh ditubuhnya, kecupan Pein terasa berbeda dari Sasori bahkan ia merasa seperti tersetrum karena merasakan getaran aneh.

"Ehem..." dehem Konan dengan kedua mata terpejam karena tanpa sengaja melihat adegan intim keduanya di loker ganti.

"Sepertinya aku datang di waktu yang salah," gumam Konan membuat keduanya kaget terlebih Hinata yang merasa malu dan wajahnya memerah.

"Pengganggu," dengus Pein kesal.

Merasa ada Konan buru-buru Hinata merapihkan penampilannya, wajah putihnya berubah menjadi merah padam bak tomat karena kepergok tengah bermesraan dengan sang kekasih, "K-Konan-san," cicitnya.

"Jika kau ingin melakukannya jangan disini, di apartemenmu saja," Konan menatap tajam Pein sedangkan yang ditatapnya hanya melengos pergi tanpa adanya perasaan malu ataupun bersalah seraya menarik tangan sang kekasih.

"Ma-maafkan kami Konan-san," Hinata membungkukkan tubuh meminta maaf pada wanita cantik bersurai biru itu.

"Dasar anak itu." Gumam Konan heran dengan kelakukan Pein.

~(-)-(-)~

Ke esokan harinya setelah penculikan yang dilakukannya, Sasori mendatangi Hinata meminta maaf ditemani para anak buahnya termasuk Kiba dan Shino. Awalnya Hinata tidak ingin memaafkannya tapi melihat Sasori bersungguh-sungguh dengan perkataannya dan tak akan mengulangi perbuatannya kembali membuat Hinata tak jadi melaporkan ulah mereka ke pihak sekolah dan mencoba memberi satu kesempatan lagi terlebih Hinata juga merasa kasihan, karena merka semua terluka di pukuli Hidan dan Tobi bahkan sebagian dari mereka harus menginap dirumah sakit.

"Terima kasih, Hinata." Ucap Sasori dengan tersenyum lega.

"Sama-sama." Balas Hinata lembut.

Jika Hinata mencoba memberikan kesempatan pada Sasori untuk berubah dengan memaafkannya lain hal dengan Pein yang tidak setuju dengan keputusan Hinata bahkan sempat marah, Hinata sudah mencoba berbagai cara membujuk, merayu bahkan sampai menggoda Pein agar tidak marah tapi pemuda bersurai merah dengan wajah penuh tindik itu tetap saja keras kepala dan masih marah. Kini giliran Hinata yang marah pada Pein, dengan bersikap acuh dan cuek membuat perang dingin keduanya.

Konan dan yang lainnya merasa aneh juga tak nyaman melihat keduanya bersikap diam seperti itu padahal biasanya Pein selalu terlihat cerewet juga menempel kayak perangko pada Hinata, tidak berjauhan seperti ini apalagi tak ada satupun kata keluar dari keduanya membuat suasana kafe terasa dingin sekaligus tegang.

Jam kerja Hinata sudah usai dan gadis bersurai indigo panjang ini bersiap-siap untuk pulang, ia sudah berganti pakaian sebelum pulang ia berpamitan pada Konan dan teman-temannya di kafe. Saat keluar dari kafe Pein sudah duduk diatas motor menunggu Hinata tapi gadis bermata bulan tersebut malah bersikap acuh dan berjalan ke arah halte bus tak mempedulikan kalau Pein berteriak memanggil membuat orang-orang disekitar menatap ke arahnya karena membuat keributan. Hinata sudah mempersiapkan diri, kedua kupingnya disumpal oleh headshet untuk mendengarkan lagu menghalau suara teriakkan Pein yang menyebalkan juga memekakan telinga.

Pein yang kesal turun dari motor berlari mengejar Hinata lalu menarik tangannya, "AAAAA!" pekik Hinata.

"Lepaskan aku!" ronta Hinata seraya menatap tajam Pein.

"Kenapa kau acuh padaku,"

"Bukankah kau yang mengacuhkan dan tak mempedulikanku," balas Hinata dengan wajah penuh amarah.

Hinata menepis kasar tangan Pein, "Kau marah padaku hanya karena memaafkan Sasori-senpai, aku sudah menjelaskan semuanya padamu, membujukmu, merayumu bahkan menggodamu sebuah hal yang tak pernah aku lakukan pada siapapun tapi itu semua tak bisa meluluhkan hatimu yang keras seperti batu itu," kata Hinata panjang lebar mengungkap perasaan isi hatinya yangs selama beberapa hari ini dipendam dan dirasakannya.

Tak ada Hinata yang gugup, berkata terbata-bata jupa pemalu, Hinata saat ini terlihat lebih berani tak ada rasa takut berhadapan dengan Pein.

Beberapa orang yang berlalu lalang memperhatikan keduanya yang terngah bertengkar dipinggir jalan, walau bukan kejadian aneh karena sudah biasa terjadi tapi tetap saja menarik perhatian para pengguna jalan mencari tahu apa penyebab keduanya bertengkar. Apakah sang pria berselingkuh atau datang terlambat menjemput dan berbagai pertanyaan mengenai penyebab keduanya bertengkar mucul di pikiran para pengguna jalan yang merasa penasaran terlebih dengan penampilan Pein yang cukup mencolok mata.

Hinata mengepalkan tangan di depan dada, mengungatkan hati dan keputusannya, "Jika terus seperti ini lebih baik kita pu..."

"TIDAK!" Pein memeluk erat tubuh Hinata mengurung gadis mungil itu dalam dekapannya.

"Jangan kau katakan hal itu, Hime. Aku tak mau berpisah denganmu, apapun yang terjadi. Aku mohon jangan tinggalkan aku, maafkan aku Hime," ucap Pein lirih.

Sungguh tak pernah bisa Pein bayangkan jika harus berpisah dengan Hinata, satu-satunya gadis yang dicintai dan dingikan dalam hidupnya.

Kedua tangan Hinata merengkuh pundak Pein, membalas pelukkan sang kekasih, "Jika aku tak bisa memaafkanmu, apa yang akan kau lakukan,"

"Apapun agar kau bisa memaafkanku,"

Hinata tersenyum kecil dalam dekapan sang kekasih, "Kalau begitu maafkanlah Sasori-senpai karena memaafkan lebih baik dari pada membenci, jadi apakah kau mau melakukannya, Pein-kun,"

"Ya, Hime demi dirimu aku akan memaafkannya,"

"Terimakasih, Pein-kun. Aku menyangimu,"

"Aku pun lebih menyangimu, Hime."

Keduanya berpelukan selama beberapa menit tak mempedulikan para pengguna jalan yang berlalu lalang memperhatikan keduanya karena asik dengan dunia mereka sendiri tak mempedulikan kalau saat ini mereka berada ditempat umum dan apa yang dilakukan mereka menjadi pusat perhatian juga tontonan adegan romantis gratis.

Tapi apa peduli Pein, karena saat ini ia tengah menikmati moment romantis serta indah bersama sang kekasih.

Walau sudah memaafkan Sasori tapi dengan tegas Pein melarang Hinata untuk dekat-dekat dengan Sasori apalagi berhubungan dengannya karena baginya pemuda bersurai merah itu adalah srigala berbulu domba dan Hinata harus tetap berhati-hati.

CKIEEETT~

Motor sport milik Pein berhenti tepat di depan gerbang sekolah mengantar sang kekasih dan seperti biasa saat datang mereka berdua menjadi pusat perhatian banyak orang terlebih pakaian yang dikenakan Pein yang terlihat seperti seorang penyanyi rock seperti hendak manggung saja padahal hanya mengantar Hinata tapi penampilannya begitu mencolok mata tapi dimata Hinata sosok sang kekasih terlihat begitu tampan karena ia menyukai Pein apa adanya.

"Terima kasih," Hinata memberikan helm pada Pein.

"Sudah ingat apa yang aku katakan padamu, Hime," Pein mengingatkan kembali nasehatnya pada sang kekasih.

"Iya aku ingat," sahut Hinata pelan.

Pein mengacak-acak poni depan Hinata, "Anak pintar,"

Hinata menggembungkan pipi, "Kau merusak poniku Pein-kun," serunya seraya merapihkan poni.

Pein tersenyum kecil lalu mencubit gemas hidung mancung sang kekasih yang membuat semua gadis kaget sekaligus terpana karena baru pertama kalinya melihat pemuda bersurai orange itu tersenyum walau hanya sebuah senyuman kecil tapi dimata mereka Pein terlihat tampan dan mempesona. Tapi sayang sekali mereka semua hanya bisa menjerit dalam hati tak berani mendekati pemuda itu dengan predikat murid nakal juga paling berbahaya seantero sekolah.

"Sudah sana masuk,"

"Bye-bye..." Hinata melambaikan tangan sesaat sebelum masuk ke sekolah.

Pein menunggu sebentar melihat sang kekasih masuk sekolah kemudian menyalakan motor meninggalkan area sekolah dengan kecepatan lumayan tinggi dan diam-diam dari kejauhan seorang pria bersurai putih panjang dengan dikuncir satu mengamati Hinata sejak tadi.

~(-_-)~

Masalah penculikan Hinata sudah selesai dan mereka berdua bisa menjalani kehidupan dengan tenang samapi suatu hari, seorang wanita bersurai merah panjang datang berkunjung ke kafe. Wanita dalam balutan dress mahal keluaran butik ternama ditambah tas cantik kualitas terbaik dengan harga ratusan ribu dolar dibawanya melengkapi penampilannya yang terlihat menawan sekaligus mewah, wanita ini duduk santai didekat jendela yang langsung menghadap ke arah kasir, secangkir teh lemon dan beberapa potong kue jahe dipesannya.

Sesekali wanita cantik itu menyesap teh miliknya yang tersaji didalam cangkir keramik bewarna putih bermotif bunga teratai, tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel lebar miliknya menikmati minumannya dan diam-diam dari kejauhan Konan memandang tajam dan penuh benci pada wanita bersurai merah tersebut dengan kaca mata minus membingkai wajah. Konan sangat mengenali siapa wanita itu yang kini menjadi tamu di kafenya, entah apa yang dilakukannya disini. Apa kedatangannya hanya untuk mencari Pein tidak cukupkah luka yang diberikan wanita itu pada Pein.

"Kenapa dia ada disini?" tanya Hidan kaget saat keluar dari dapur hendak memanggil Obito untuk membantunya mengangkat beberapa karung tepung terigu.

"Entahlah, tapi tak akan kubiarkan ia menggagu dan menyakit Pein lagi," sahut Konan tanpa mengalihkan pandangan matanya.

Hidan melirik Konan penuh arti, ekspresi wajah Konan sangat berbeda sekali saat menatap wanita bersurai merah itu yang mereka kenal sebagai ibu tiri Pein, istri kedua ayahnya sekaligus orang yang sudah membuat sang ibu bunuh diri karena mengalami depresi berat.

Kling~

Suara lonceng terdengar jelas dari depan pintu masuk yang terbuat dari kaca transparan, seorang pemuda bersurai jingga masuk kedalam kafe dengan menggandeng mesra gadis cantik bermata bulan yang merupakan sang kekasih, keduanya tampak terlihat gembira karena gadis disamping pemuda itu tertawa kecil entah apa yang tengah mereka berdua bicarakan.

Wanita cantik ini langsung menghentikan kegiatannya melihat pemuda bersurai jingga tersebut, tanpa membuang waktu ia berjalan cepat mendekati lalu menepuk pelan pundak kanan Pein.

"Yahiko?!" panggilnya.

Reflek Pein menoleh kebelakang menatap wanita cantik bersurai merah panjang tersebut, kedua matanya membelalak sempurna, "Kau?!" seru Pein kaget.

Hinata yang berdiri disamping Pein memandang bingung wanita cantik dibelakang mereka, apalagi wajahnya tersenyum bahagia memandang Pein, "Siapa dia Pein-kun?" tanya Hinata penasaran.

Berbanding terbalik dengan wanita bersurai merah itu, wajah Pein terlihat tak suka bahkan matanya memandang tajam dan penuh benci, "Pergi!" bentak Pein.

Semua orang yang tengah berada didalam kafe menikmati hidangan sesaat melihat kearah mereka berdua, mencari tahu apa yang sedang terjadi apakah ada keributan atau pertengkaran antar kekasih karena kini Pein berdiri ditengah-tengah dua orang gadis berbeda warna rambut.

Konan ditemani Hidan langsung berlari menghampiri takut terjadi keributan karena bukan tak mungkin jika Pein memukul wanita itu karena hilang kendali akibat marah, "Sebaiknya kalian bicara di tempat lain," bujuk Konan.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan sama sekali, aku muak dan jijik melihat wajahnya." Teriak Pein penuh kebencian.

Pein menarik tangan Hinata dan membawanya pergi dari kafe dan Hinata hanya bisa diam tak bisa berkata apalagi memberontak karena saat ini Pein tengah marah entah apa penyebabnya tapi bisa Hinata simpulkan karena wanita asing bersurai merah itu.

Raut wajah wanita cantik ini terlihat sedih dan penuh kecewa apalagi bisa ia lihat seorang gadis cantik bermata bulan tengah digandengnya mesra.

Konan melipat kedua tangan didada, pandangan matanya tajam sekaligus menusuk, "Pergilah, dia tak mau berbicara lagi denganmu," ujar Konan yang secara tak langsung mengusirnya dari kafe.

Wanita bernama Karin itu berdiri diam dengan raut muka sedih bercampur kecewa, "Baiklah tapi aku akan datang kembali besok dan berharap bisa berbicara dengannya karena ada hal yang ingin aku sampaikan padanya,"

"Bisakah kau tidak mengganggunya lagi. Apa kau belum puas membuatnya kehilangan orang yang paling berharga dihidupnya dan mengambil seluruh haknya," kali ini Konan terlihat kesal, kesabarannya sudah habis menghadapi Kushina.

"Aku minta maaf soal itu,"

Konan tertawa sinis, "Mudah sekali kau berkata maaf setelah kesalahan besar yang kau perbuat, jika kau memang menyesali perbuatanmu pergilah yang jauh jangan ganggu Pein, dia sudah bahagia dengan hidupnya bersama gadis yang dicintainya,"

"Apa? Gadis yang dicintainya?" tanya Karin mengulangi kata-kata Konan tadi.

"Ya. Kini Pein sudah memiliki kekasih dan ia begitu mencintainya, jadi jangan datang lagi dan menggangu hidupnya sudah cukup luka yang kau berikan padanya. Nikmati saja hidupmu sebagai seorang Nyonya Namikaze." Kata Konan sinis.

Tangan Karin mengepal erat disamping tubuhnya saat mengetahui kalau Pein sudah memiliki kekasih namun tak akan ia biarkan siapapun mendapatkan apalagi memiliki pemuda bersurai jingga itu karena selamanya dia adalah miliknya. Karin pergi meninggalkan kafe tanpa kata setelah meninggalkan selembar uang dalam pecahan sepuluh ribu yen diatas meja untuk membayar minuman serta kue pesanannya.

.

.

.

Pein membawa Hinata pulang ke apartemennya dan baru pertama kalinya Hinata datang juga masuk kedalam kamar Pein yang menurutnya sangat mewah untuk ukuran apartemen seorang pelajar SMA karena bisa ia bayangkan berapa harga perbulan tinggal ditempat ini. Pasti sangat mahal dan menguras kantong, mengingat dekorasi serta perabutan apartemen milik Pein diisi berbagai macam barang mewah, mahal juga berkelas tentunya.

Namun keterkejutaan Hinata hanya sesaat tergantikan rasa cemas bercampur sedih melihat keadaan sang kekasih. Semenjak pertemuan dengan Karin tadi siang sikap Pein sedikit berubah, lebih pendiam dan melamun entah apa yang tengah dipikirkan juga siapa wanita asing itu. Hinata mencoba bertanya siapa wanita bersurai merah tersebut Pein hanya diam dan memeluk erat tubuhnya mengungkapkan perasaan hatinya yang tengah resah dan gelisah.

"Ada apa Pein-kun?" tanya Hinata lembut seraya memegangi pipi sang kekasih, memandangnya penuh kasih berharap hatinya akan terbuka untuknya walau sedikit menceritakan apa yang membuatnya tampak gelisah seperti ini.

"Tak ada," jawabnya seraya mengecup telapak tangan Hinata.

"Jangan berbohong padaku, Pein-kun. Apa kau tak mau cerita dan berbagi kesedihanmu denganku,"

"Bukan itu Hime, hanya saja aku belum siap menceritakannya tapi aku berjanji akan menceritakan semuanya padamu,"

"Aku tunggu itu, Pein-kun."

~(-_-)~

Pein tertidur nyaman diatas pangkuan Hinata setelah perutnya terisi penuh dengan masakan Hinata yang terasa lezat, sementara itu Hinata tidak bisa tidur dan sibuk membaca novel klasik yang biasa dibawanya untuk menghilangkan rasa bosan juga menghabiskan waktu menunggu sang kekasih terbangun.

Sesekali Hinata mengusap helaian jingga sang kekasih menyalurkan perasaan sayang berharap pemuda tampan itu bermimpi indah. Tapi sepertinya keinginan serta harapan Hinata tidak bisa terlakasana, Pein bermimpi buruk tentang masa kecilnya, kenangan pahitnya tentang sang ibu hadir dimimpinya, keringatan dingin mengucur deras dari dahi dan nafasnya pun terasa memburu, tubuhnya juga sedikit gemetaran.

Hinata yang berada didekatnya merasa cemas dan khawatir dengan keadaan sang kekasih.

"Pein-kun," Hinata mencoba membangunkan.

Merasa guncangan ditubuhnya Pein terbangun dari tidurnya degan keringat dingin dan wajahnya terlihat ketakutan seperti habis melihat hantu, "Apa kau bermimpi buruk?" Tanya Hinata cemas sambil terus mengelus-ngelus punggung Pein.

Bisa Hinata lihat kalau wajah Pein sedikit pucat dan tubuhnya gemetaran. Entah apa yang dimimpikan hingga membuatnya seperti itu.

GREP

Tiba-tiba saja Pein memeluknya erat, "Ada apa Pein-kun?" tanya Hinata bingung.

"Jangan tinggalkan aku ibu. Aku takut, takut..." ucapnya dengan lirih bahkan meneteskan air mata.

Hinata mengusap punggung Pein penuh kasih, "Tenanglah Pein-kun," ucap Hinata mencoba menenangkan.

Tak lama Hinata mendengar suara dengkuran halus dari Pein menandakan kalau pemuda bersurai jingga itu tertidur kembali dan kembali ke alam mimpi, entah apa yang tadi dimimpikannya hingga membuatnya meneteskan air mata. Apakah sangat menyedihkan dan menyayat hati hingga membuat Pein bersedih walau dalam keadaan mengigau.

Pein memang pemuda penuh misteri dan selama tiga minggu menjadi pacarnya tidak sekalipun pemuda tampan bersurai jingga itu menceritakan tentang kedua orang tuanya terlebih siapa dia sebenarnya, walau ia dekat namun Hinata merasa kalau Pein sedikit menutup dirinya. Hinata menatap sendu wajah damai sang kekasih yang tertidur pulas dipangkuannya sesekali ia membelai rambutnya yang terasa sangat lembut ditangan berharap mimpi buruk Pein tadi hilang terganti dengan mimpi indah.

"Semoga kali ini kau bermimpi indah." Dikecupnya kening Pein dengan penuh kasih.

Hinata merasa kedua pahanya kesemutan karena sudah lebih dari satu jam Pein tertidur dengan menjadikan pahanya sebagai bantal empuk dan saat hendak memindahkan kepala Pein pada sebuah bantal kedua tangan Pein langsung melingkari pinggang ramping Hinata seraya merajuk.

"Jangan pergi,"

Hinata menyunggingkan senyuman, "Aku tidak kemana-kemana Pein-kun, aku hanya merasa kesemutan saja," jelasnya.

Pein membuka kedua matanya lalu mengangkat kepalanya dari paha Hinata, "Maaf jika aku terlalu tidur," ucap Pein penuh sesal.

"Tak apa dan apakah kau bermimpi indah, Pein-kun," Hinata mengusap pipi sang kekasih.

Pein mengangguk pelan, "Tentu saja karena disampingku ada bidadari cantik menemaniku," ujarnya dengan nada sedikit manja.

Hinata terkikik geli mendengarnya, "Dasar gombal. Ngomong-ngomong hari sudah malam, aku harus pulang dan belajar karena besok ada ulangan Matematika,"

"Tidak bisakah kau menginap disini,"

"Nanti aku tidak bisa berkonsterasi belajar karena kau pasti menggangguku,"

"Kau benar, kalau begitu aku akan mengantarmu pulang setelah mencuci muka agar terlihat lebih segar." Pein beranjak bangun lalu berjalan ke arah kamar mandi.

Hinata diam-diam memandang nanar punggung tegap Pein sebenarnya ia ingin bertanya mengenai mimpi Pein tadi, mengapa ia sampai menangis bahkan memanggil nama sang ibu tapi Hinata tak berani bertanya karena tak ingin membuatnya bersedih dan mengingat kembali kejadian buruk yang tadi melintas didalam mimpinya. Bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa itu lebih baik dari pada harus membuatnya mengorek luka lama yang menyakitkan hati serta batinnya.

Selama berada di motor Hinata diam begitu pula dengan Pein, Hinata menyenderkan kepalanya dibahu sang kekasih berharap beban dihati Pein bisa ia rasakan.

"Jangan terlalu malam belajarnya,"

"Kau juga jangan begadang apalagi minum-minum,"

"Aku tidak bisa janji,"

"Pein-kun!"

Pein mencubit gemas pipi gembil sang kekasih lalu mendekap tubuh mungilnya, mengurungnya dalam pelukkan hangat, "Pein-kun," panggil Hinata pelan.

"Biarkan seperti ini beberapa saat Hime."

Hinata menjawab permintaan Pein dengan membalas pelukkannya, karena hanya ini yang bisa ia lakukan meringkan kesedihan hati sang kekasih.

"Apa yang sedang kau pikirkan dan rasakan, Pein-kun." Batin Hinata risau.

.

.

.

.

.

.

Pein duduk termenung dipinggir jembatan memandangi kelamnnya langit malam tanpa bintang seraya menenggak sekaleng minuman dingin, janjinya pada sang kekasih untuk tidak minum alkohol ditepatinya namun ia tidak berjanji kalau tidak akan begadang mengingat saat ini ia tengah memikirkan tentang wanita bersurai merah panjang yang tadi siang ditemuinya, yang tak lain adalah Karin, ibu tirinya, orang yang membuatnya kembali bermimpi buruk mengenai sang ibu. Sudah lama Pein tidak memimpikan tentang kejadian delapan tahun lalu tapi gara-gara Karin, membuatnya harus teringat kembali.

"Sial mimpi itu lagi." Pein meremas kaleng minumannya dengan sekuat tenaga hingga menyebabkan kaleng itu penyok.

"Kenapa juga wanita iblis itu harus datang dan muncul dihadapanku, apa dia belum puas menghancurkan segalanya yang aku punya." Desis Pein penuh kebencian.

"Haaah~" Pein menghela nafas sejenak seraya memejamkan mata mencoba menikmati semilir angin malam yang mendera wajahnya.

Pein membayangkan sosok wanita bersurai orange panjang dengan senyuman manis nan indah bak mentari pagi yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri, "Ibu. Apa kau bahagia disana!?" ucapnya lirih seraya membuka matan, menatap kelamnya langit malam tanpa bintang.

Pandangan matanya lurus menatap langit dan tak lama setetes air mata jatuh membasahi pipi tak kala mengingat wajah mendiang sang ibu.

"Ibu..." panggilnya lirih.

Pein memejamkan mata kembali, mencoba mengingat wajah dan senyuman sang ibu yang selalu membuat hatinya tenang.

Tidak ada yang tahu banyak mengenai pemuda bersurai jingga ini, teman-teman disekolah mengetahuinya hanya sebatas sebagai murid paling bermasalah dan nakal disekolah karena selalu membuat keributan juga kekacauan disekolah baik dengan para senior maupun guru.

Satu tahun lalu, Pein Yahiko datang sebagai murid baru disemester dua dikelas satu, murid pindahan dari Amerika yang misterius juga menakutkan karena wajahnya dipenuhi tindik baik dikuping, hidung, mata bahkan dibawah bibir membuat sebagain murid mencapnya sebagai murid nakal, awalnya pihak sekolah meminta Pein untuk melepas seluruh tindikannya namun dengan tegas menolak karena menurutnya sebuah prestari seorang murid tak hanya bisa dinilai dari luarnya saja dan itu dibuktikannya dengan nilai sempurna saat ujian masuk bahkan selalu menjadi peringkat pertama mengalahkan murid paling pintar disekolah. Tapi bukan hal itu yang membuat Pein terkenal dikalangan para murid dan Sensei disekolah karena baru juga bersekolah satu minggu Pein sudah membuat ulah karena menghajar tujuh orang anak kelas tiga hingga masuk rumah sakit selama beberapa minggu. Karena hal itu Pein hampir dikeluarkan dari sekolah namun Jiraiya sang kakek yang merupakan walinya tidak membiarkan hal itu terjadi dan diam-diam pria bersurai putih panjang itu membeli sekolah tempat Pein menimba ilmu dan meminta para Sensei untuk tidak mengeluarkan Pein apapun yang dilakukannya dan jika membuat keributan Kepala Sekolah berhak mensekornya hingga satu bulan.

Jadi tak heran jika Pein bisa berbuat apapun disekolah dan para Sensei hanya bisa diam tak bisa berbuat apa-apa karena perlindungan sang kakek yang sangat memanjakannya.

Pein meneguk kembali minumannya dan ini sudah kaleng ke tiga yang diminumnya. Disaat tengah asik duduk sendirian menikmati pemandangan malam, tiba-tiba seorang pria bersurai kuning dengan rambut diikat satu keatas muncul dan tak lain adalah Deidara.

"Ooooiiii! Pein..." teriak Deidara senang.

"Ck! Dia lagi yang datang," dengus Pein malas.

Deidara berlari cepat menghampiri lalu duduk disamping Pein ikut menikmati pemandangan langit dimalam hari, "Apa yang kau lakukan disini? Apa kau sedang patah hati karena putus dengan Hinata,"

Pein langsung menggetok kepala Deidara dengan kaleng minuman ditangannya, "Sakit!" teriak Deidara.

"Jangan bicara sembarangan," omel Pein.

"Habis tak biasanya kau duduk sendirian disini, jika sedang tak ada masalah atau bersedih," tukas Deidara yang mengerti kebiasan Pein.

"Memang aku sedang sedih tapi bukan putus dari Hinata, karena selamanya aku tak akan melepaskannya," kata Pein tegas dan mantap.

Wajah Deidara memberengut tak suka, karena tak ada kesempatan untuk mendekati Pein, "Jadi tak ada celah untukku," celetuk Deidara.

Pein memukul Deidara kembali, "Kenapa memukul kepalaku lagi?!" dengus Deidara kesal.

"Agar otakmu tidak miring," sahut Pein santai.

"Memangnya aku gila!"

Pein menggidikkan bahu, "Mungkin,"

Deidara bertambah kesal karena Pein menganggapnya gila, memangnya salah jika ia menganggumi dan menyukai Pein?

"Kau itu menyebalkan Pein!" seru Deidara kesal.

"Kau lebih menyebalkan juga berisik," balas Pein tak mau kalah.

Deidara benar-benar kesal dibuat Pein, padahal tadinya ia ingin duduk menemani tapi sejak tadi Pein selalu mengejeknya membuatnya mengurungkan niat.

"Aku pulang saja,"

"Hati-hati dijalan, semoga kau bertemu gadis cantik dan menjadi jodohmu," teriak Pein memperingatkan Deidara.

"Ya." Sahut Deidara seraya mempercepat langkahnya meninggalkan Pein.

"Sekalian saja kau mendoakan aku cepat menikah." Batin Deidara kesal.

Deidara terus mengumpat hal tak baik, meluapkan kekesalan hatinya pada pemuda penuh tindik tersebut dan dari jauh Pein tersenyum kecil melihat sikap sekaligus tingkah Deidara yang menurutnya sangat lucu dan lumayan menghibur hatinya.

Pein menatap kembali hamparan langit, pikirannya saat ini tiba-tiba tertuju pada gadis pujaan hatinya, pemilik iris bulan dengan mahkota indigo sang penakluk hatinya, Hinata.

"Apakah malam ini kau bermimpi indah, Hime." Gumam Pein.

~000~

Deidara masih saja mengoceh, mengomel pada Pein sepanjang jalan membuat sebagian orang yang berpapasan dengannya merasa aneh bahkan menganggapnya gila karena marah-marah sendiri, padahal tadi Deidara sempat membayangkan kalau akan duduk berdua dengan Pein menikmati pemandangan langit dimalam hari tapi moodnya langsung rusak karena Pein terus mengejeknya bahkan mengatakannya dengan gila.

Seperti hari-hari biasanya Deidara berjalan kaki sampai kerumahnya, satu irit ongkos kedua ia bisa berolahga sambil jalan-jalan malam dan saat melewati jembatan penyeberangan tak jauh dari rumahnya, tanpa sengaja Deidara melihat seorang gadis bersurai kuning ponytail dalam balutan seragam SMA berdiri dipinggir jembatan memandang nanar aliran sungai yang cukup deras serta dalam entah apa yang sedang dilakukan gadis itu malam-malam begini terlebih dipinggir sungai.

"Apa dia mau bunuh diri?" Pikir Deidara.

Tapi jika memang benar gadis itu ingin bunuh diri harus segera dicegah, apalagi dilihat dari pakaiannya gadis itu pasti masih seusia dengan Hinata.

Deidara mempercepat langkahnya, berusaha mendekati gadis itu tapi ia telat gadis itu sudah keburu loncat kedalam sungai.

"Sial!" umpat Deidara.

Deidara menoleh ke kanan dan kiri mencari apakah ada orang yang lewat atau tidak untuk dimintanya tolong tapi kenyataan keadaan sepi.

Deidara menghela nafas cepat, "Sepertinya besok aku masuk terkena flu," dilepasnya cepat jaket tebal yang dipakainya lalu meloncat ke dalam sungai.

Setelah berenang mencari didalam sungai ditambah dalam keadaan yang cukup gelap, akhirnya Deidara menemukan gadis itu dan dengan cepat langsung membawanya ke pinggir sebelum mereka berdua terseret aliran sungai. Deidara langsung memeriksa keadaan gadis nekat ini namun ia tak bergerak buru-buru Deidara memberikan nafas buatan sebelum terlambat, mungkin gadis ini terlalu banyak menelan air.

Dan benar saja setelah diberi nafas buatan dan dadanya terus dipompa akhirnya gadis itu tersadar, "Uhuk...Uhuk!" gadis itu terbatuk mengeluarkan banyak air dari mulutnya.

Deidar bernafas lega, "Syukurlah!"

Baru juga Deidara bernafas dengan lega, tiba-tiba saja gadis itu merintih kesakitan sambil terus memegangi perutnya dan tak lama nampak darah merembes dari kedua kakinya.

"Akh! Perutku..." Rintihnya kesakitan.

"Astaga! Apa lagi ini?!" teriak Deidara dalam hati.

Deidara langsung menggendong tubuh gadis itu dan membawanya ke pinggir jalan untuk menyetop kendaraan dan membawanya kerumah sakit terdekat karena tak mungkin juga dirinya membiarkan gadis ini tergeletak merintih kesakitan dipinggir sungai karena bagaimanapun ia masih memiliki hati nurani.

"Bertahanlah, Nona," gumam Deidara panik.

Ditengah malam Deidara berlarian menggendong seorang gadis asing yang tak dikenalnya mencari kendaraan yang mau mengantarnya kerumah sakit dan sebuah mobil merah yang dikenderai seorang wanita muda berhenti menawarkan tumpangan karena merasa kasihan.

Didalam mobil gadis ini merintih kesakitan bahkan meremas kuat tangan Deidara melampiaskan rasa sakit yang teramat sangat diperutnya. Deidara merasa bingung mengapa juga ia harus terlibat masalah seperti ini, kalau saja tadi ia tidak marah dan menyumpahi Pein mungkin Tuhan tidak akan menghukumnya seperti ini.

"Terima kasih sudah memberikan tumpangan untuk kami, maaf merepotkan anda,"

"Tak apa, hanya ini yang bisa aku lakukan dan semoga pacarmu tidak apa-apa." Ujar wanita cantik tersebut.

Deidara hanya bisa terseyum kikuk karena mana mungkin ia mengatakan kalau gadis ini tadi berniat bunuh diri dengan terjun ke sungai bisa-bisa masalah semakin runyam.

Deidara berlarian menggendong gadis asing ini, "Dokter, suster!" teriak Deidara dilorong rumah sakit dengan panik.

Tak lama dua orang suster pun datang dan menghampiri, membawa gadis dalam gendongan Deidara ke ruangan Unit Gawat Darurat.

Saat susuter membawanya masuk kedalam, Deidara terlihat ingin ikut masuk dan menemani gadis itu namun ditahan oleh para suster, "sebaiknya, anda menunggu diluar. Dokter akan menanganinya."

"Baiklah, suster," Deidara Nampak sangat kacau dan berantakan juga syok tentunya.

Deidar duduk didepan ruang UGD menunggu hasil pemeriksaan sang dokter mengenai gadis tadi dan setelah menunggu hampir satu jam, dokter yang menangani gadis itu keluar.

"Dokter, bagaimana keadaanya!?"

"Apakah anda keluarganya?" tanya sang dokter.

"Ya," jawab Deidara cepat padahal ia bukan keluarga gadis itu mengenal saja tidak.

"Untung anda membawanya dengan cepat, pacar anda dan janin yang ada didalam perutnya selamat," jelas dokter.

"Syukurlah," Deidara bernafas lega.

"Suster akan membawanya ke ruang rawat inap dan anda bisa mengurus administrasinya ke resepsionis,"

"Ah, i-iya, terima kasih dokter."

Deidara memijit keningnya memikrikan darimana uang untuk membayar rumah sakit, dompet serta ponselnya saja tertinggal dijaketnya yang tadi dilepasnya dipinggir jembatan tapi untung saja ia selalu ingat nomor ponsel Pein.

~(-_-)~

Jam sudah menunjukkan pukul satu malam dan sepuluh menit lalu ia baru pulang dari acara duduknya dipinggir sungai menikmati langit dimalam hari seorang diri, wajah Pein terlihat sangat mengantuk dan setelah membuka baju, hanya mengenakan celana panjang berwarna hitam, ia langsung merebahkan tubuh dikasur king sizenya yang terasa empuk dan nyaman, baru beberapa menit memejamkan mata tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dengan keras.

Awalnya Pein sangat malas mengangkatnya karena mengatuk luar biasa namun ponselnya terus berbunyi, membuat kupingnya sakit, kalau tahu begini dari tadi saja ia matikan ponselnya. Dengan malas dan mata yang setengah terpejam Pein mengangkatnya, tanpa sempat melihat siapa yang menghubungi.

"Hallo," ucapnya parau.

"Apakah anda Tuan Pein,"

"Ya, siapa ini?"

"Teman anda bernama Deidara saat ini sedang berada di rumah sakit S, tolong anda segera datang,"

"APA?!" seru Pein kaget.

"Baiklah saya akan segera kesana."

Seketika mata Pein langsung terbuka lebar dan rasa kantuknya hilang menguap entah kemana setelah menerima telpon dari Deidara, tanpa membuang waktu lagi Pein langsung memakai baju dan mengambil jaketnya, lalu pergi kerumah sakit dan menemui sahabatnya itu, dirinya takut terjadi apa-apa dengan Deidara, terlebih kini pria bersurai kuning itu tengah berada di rumah sakit. Apakah Deidara mengalami kecelakaan atau sesuatu hal buruk menimpanya, dan ditengah malam Pein melajukan motornya dalam kecepatan tinggi agar cepat sampai diruma sakit namun saat tiba di rumah sakit ia melihat Deidara tengah berdiri santai di meja resepsionis dalam keadaan baik-baik saja tanpa luka sedikitpun.

"Halo, Pein," sapa Deidara dengan wajah tersenyum manis.

"Ada apa ini? Bukankah tadi pihak rumah sakit ini bilang kau,"

"Aku memang sedang ada dirumah sakit tapi bukan aku yang dirawat, dan keadaanku pun sedang genting karena tak membawa uang sepeserpun untuk membayar biaya rumah sakit," Deidara tersenyum lebar dengan ekspresi wajah tidak bersalah.

"Kau!" geram Pein.

Ternyata Deidara meminta salah satu pegawai rumah sakit untuk menghubunginya dan setelah datang Deidara malah meminta untuk membayarkan biaya rumah sakit yang sangat mahal

"Terima kasih ya, Pein, kau teman yang sangat baik, aku mencintaimu,"

"Aku hanya mencintai Hinata," balas Pein judes.

Pein memasukkan kembali kartu kredit miliknya, "Kau harus menggantinya,"

"Huh, dasar pelit,"

"Jika aku pelit, maka aku tak akan datang malam-malam begini ke rumah sakit,"

"Tapi, kenapa kau minta ganti? Apa itu bukan namanya pelit,"

"Itu perhitungan,"

"Sama saja!" teriak Deidara kesal.

"Sudah jangan marah-marah terus, temani aku minum kopi dan makan sesuatu dikantin rumah sakit ini,"

"Aku tak bawa uang,"

"Tenang saja aku bawa uang,"

"Tidak mau nanti kau minta ganti lagi,"

Pein tertawa kecil, "Aku yang traktir kali ini,"

"Baiklah, kalau begitu. Aku ingin secangkir Latte."

Deidara tak akan pernah menyangka kalau kejadian ini akan mengubah seluruh kehidupannya dan membuat cerita baru dalam hidupnya.

TBC

A/N : Maafkan saya karena baru bisa melanjutkan Fic ini#Bungkuk badan dalam-dalam. Dan jika merasa alur Fic ini terasa aneh atau tidak sesuai harapan kalian sekali lagi saya meminta maaf karena sebenarnya Fic ini adalah versi PeinHina dari Fic 'My Bad Boy' di akun milik saya 'Ogami Benjiro' di fandom sebelah jadi secara garis besar alur ceritanya akan sama tapi konflik serta ending mungkin akan sedikit berbeda.

Big Thank's to :

Onxy Dark Blue,Eka Hime,HHS Hyuuga L,itakun,Nhiyla324,Shaara Namikaze,Lisna Wati716,Hyugahime,IkaS18,sasuhina always,oortaka,yumi,alma,Mhey-chan,rikarika,Eka Yoonseong,hime,yahiko,tom-tom,Imelda Yolanda,AyuManikA.

Terima kasih sudah memberikan Riview dan maaf tidak bisa membalasnya satu persatu.

Untuk kelanjutannya tidak bisa janji cepat namun akan saya usahakan publih cepat jika ada waktu dan dalam keadaan mood bagus.

Fic ini jauh dari kata sempurna apalagi bagus tapi saya ingin mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang sudah mau membaca Fic ini.

Selamat tahun baru walau masih dua hari menuju tahun 2017 dan semoga ditahun depan lebih baik lagi ^^

Ogami Benjiro II

Ogami Benjiro II