Take Me, Knot Me
oOo
Part 4 : Kai
oOo
(Double update. Jadi untuk yg belum baca part 3 silahkan baca terlebih dahulu.)
Sehun tidak dapat mengingat apapun. Karenanya ia begitu kebingungan saat mendapati bahwa dirinya kini berada di sebuah ruangan asing serta dalam keadaan tubuh yang telanjang. Sehun segera melilitkan selimut yang sebelumnya menggantung di sisi ranjang pada tubuhnya yang mengigil kedinginan. Pemuda itu merasa lebih terkejut lagi saat dirinya mendapati keberadaan orang asing yang kini berada tepat dihadapannya dan memperhatikannya dengan seksama. Ia panik, namun setelah indera penciumannya membau aroma cokelat dan lavender, Sehun mulai merasa sedikit tenang dan juga lega. Setidaknya ia pernah melihat pria dihadapannya ini, juga yakin bahwa ia bukanlah orang yang bisa berbuat sesuatu yang jahat kepadanya.
Lelaki itu merupakan seorang omega. Tercium dari aroma tubuhnya yang manis juga wajahnya yang rupawan. Wajahnya terlihat jauh lebih baik bila diperhatikan dari jarak yang dekat. Matanya terlihat sayu namun juga tajam secara bersamaan, bibir penuhnya yang merah. Kulitnya yang kecokelatan berhias tanda merah disana-sini, namun tidak mengurangi tingkat keindahannya. Sehun secara tidak sadar mengamati bagian dada dan juga perutnya yang tidak tertutupi pakaian, lelaki itu hanya menggunakan celana jeansnya yang bewarna biru, duduk bersila di sebuah kursi dengan rambutnya yang berantakan.
"Kau sudah bangun." lelaki itu berbicara kepadanya dengan suara yang serak. "Apa kau mengingat sesuatu?"
Sehun berpikir sejenak, kemudian menggeleng atas pertanyaan lelaki itu, membuatnya menghela nafasnya kemudian menghisap rokoknya dalam-dalam. Sehun baru menyadari bahwa lelaki dihadapannya ini merupakan seorang perokok. Kepulan asap bewarna putih keluar dari bibir lelaki itu saat ia berbicara.
"Kau tidak mengingat apapun? Padahal waktu itu kau tidak sedang mabuk. Dan juga, kau membuatku kerepotan saat harus memapahmu masuk ke dalam apartemenku. Aku bahkan membawa adikku pergi setelah dengan bodohnya aku melupakan janjiku untuk membelikannya snack."
"A-adik?"
Pria di depannya menatap Sehun dengan dingin, "Masalah utamanya bukan itu. Apa kau yakin tidak mengingat apapun juga?"
Sehun kembali merasa panik juga bersalah. Ia berpikir dengan keras mencoba untuk mengingat sesuatu, namun sulit baginya untuk berpikir disaat dirinya masih dalam keadaan terkejut atas ini semua. "Kemudian, apa kau ingat ini? Kau secara tidak sadar telah menggigitku pada bagian ini? Kau mengingatnya?"
Sehun melebarkan matanya saat lelaki itu dengan kesal menunjukkan jari tengahnya yang terhiasi bekas gigitan padanya. Bahkan masih tersisa darah yang mengering pada bagian tersebut yang membuat Sehun mulai mengingat sesuatu.
"Kau mengingatnya?"
"Aku.."
oOo
Sehun berlari. Pandangannya semakin mengabur, nafasnya juga semakin memberat. Rumah orang tua Tzuyu masih sangat jauh dan ia mulai kelelahan. Pada akhirnya Sehun memilih untuk mengambil jalan pintas daripada harus berhenti di pinggir jalan hanya untuk sekedar beristirahat. Pemuda itu melewati beberapa gang sempit yang ia yakini merupakan jalan pintas yang lebih cepat demi menuju rumah Tzuyu. Namun setelah cukup lama berlari, termasuk melewati beberapa belokan sempit, Sehun terpaksa harus menghentikan langkahnya. Ia menatap sebuah bangunan kumuh di depannya yang tidak pernah ia lihat seumur hidupnya. Ia akhirnya menyadari bahwa dirinya tersesat.
Sehun menyandarkan punggungnya pada dinding bata bangunan dibelakangnya, mencoba untuk mengatur nafasnya meskipun hal tersebut sia-sia. Tubuhnya mulai panas, hidungnya mulai sensitif membau apapun disekitarnya, jantungnya berpacu dengan kencang. Keringat dingin mengucur pada wajah dan juga dadanya.
Aku mohon jangan sekarang. Tidak. Batinnya.
Sehun memutuskan untuk kembali berlari, menyusuri jalan sekitar untuk mencari toko obat-obatan demi mengurangi rasa sakit yang perlahan menjalar ke seluruh bagian tubuhnya, terutama pada selangkangannya yang mulai terasa begitu sesak. Ia membutuhkan obat penawar.
Namun sebelum dirinya dapat menemukan satupun, ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba muncul dari salah satu gang yang ia lewati. Keduanya saling bertabrakan dengan keras, kemudian mengadu sakit. Kesadaran Sehun hampir menghilang, namun ia memaksakan dirinya agar tetap terjaga.
"Haah.. haah.." Sehun membaringkan dirinya di atas aspal jalan, mengatur nafasnya yang semakin sulit dikontrol. Ia meringis sakit.
"Apa kau baik-baik saja?" aroma cokelat sontak mengerubunginya saat lelaki yang ditabraknya berjalan mendekat dan berlutut di dekatnya. Sehun menatapnya dengan pandangan sayu, meneguk ludahnya dengan susah payah atas nafsu yang tidak bisa dibendungnya lagi. "Astaga. Kau sedang-"
Jongin bergerak mundur setelah melihat mata silver milik Sehun. Ia mengumpat keras dan segera melangkahkan kakinya untuk pergi, namun sebelum ia sempat untuk berbuat demikian Sehun terlebih dahulu dapat meraih tangan kanannya kemudian menariknya jatuh.
"Aku mohon-"
"Tidak! Aku tidak bisa membantumu! Lepaskan tanganku!" geram Jongin, meronta dalam genggamannya. Namun sisi alpha pada diri Sehun jauh lebih kuat daripada omega itu, ia menariknya mendekat dan mendekap Jongin dalam pelukannya. Sehun meletakkan kepalanya di sisi kanan leher Jongin, menghirupnya dalam-dalam demi menyesap aroma kuat yang menguar pada tubuh omega itu. Aroma yang dapat menenangkannya sekaligus membuat gairahnya semakin meningkat.
"Apa yang kau lakukan? Menjauh dariku!"
Sehun tidak bergeming, justru semakin erat memeluk Jongin yang masih saja tidak berhenti mencoba untuk mendorongnya menjauh.
"Sakit sekali. Rasanya sakit sekali." gumam Sehun tanpa sadar sembari meringis.
Barulah Jongin terdiam ditempatnya termasuk menghentikan pergerakannya. Pada sisi lain, ia juga dapat mencium aroma sang alpha yang sama kuatnya. Sebuah perpaduan antara mint dan berry.
Sesuatu dalam diri Jongin tersulut. Antara iba juga terangsang. Terlebih saat Sehun semakin berani dengan perbuatannya menciumi sisi leher Jongin, membuat bagian tersebut basah dan juga terasa hangat. Jongin menutup matanya, ia sadar bahwa dirinya akan menyesali ini nanti, namun hal tersebut tidak terlalu penting mengingat dirinya sering dimanfaatkan banyak alpha untuk melayani mereka dalam keadaan yang sama. Kali ini tidak akan ada perbedaannya.
Bukankah memang takdirnya untuk melayani seorang alpha?
oOo
"Kakak akan menjemput Hyera besok. Setelahnya kita bisa membeli snack bersama. Bukankah Hyera juga menginginkan eskrim? Kakak berjanji akan membelikannya untuk Hyera." Jongin mengusap sisi wajah gadis kecil dihadapannya, yang kini terlihat sangat sedih juga kecewa karena sekali lagi harus dititipkan oleh sang kakak ke rumah temannya yang berjarak dua blok dari apartemen mereka. Hyera yang sebenarnya masih mengantuk tidak dapat menyembunyikan kekesalannya. "Snack pagi dan snack siang, malam juga! Kemudian satu mangkuk besar eskrim stroberi!"
"Tentu, sayang." Jongin mencium dahinya dengan lembut, kemudian melempar senyumnya kepada orang tua dari teman sang adik yang selama ini ia percaya sebagai pengasuh Hyera disaat lelaki itu tidak berada di rumah atau sedang bekerja. "Tolong jaga Hyera dengan baik."
"Tentu. Kau juga sebaiknya berhati-hati, Jongin."
Jongin tersenyum, mengamati sosok adiknya yang kini berada pada gendongan bibi Huan. "Dia mengantuk. Aku rasa aku harus segera pergi. Terimakasih atas bantuannya, juga maaf karena harus membangunkanmu disaat seperti ini."
"Tidak masalah."
oOo
Jongin yang baru saja masuk ke dalam apartemennya, terkejut saat dirinya disambut dengan sebuah ciuman panjang dari seorang alpha yang setengah jam yang lalu ia temukan sedang berkeliaran di jalanan saat masanya tiba. Aroma sperma tercium pada tubuhnya, yang membuat Jongin berpikir bahwa alpha ini telah mencapai puncaknya disaat Jongin pergi, namun ia yakin bahwa hal tersebut tidak akan cukup. Mengingat aroma sang alpha yang masih begitu kuat tercium olehnya. Jongin membalas ciumannya semampu yang ia bisa, sekilas berpikir bahwa alpha ini belum terlalu berpengalaman dalam hal berciuman karena pergerakan bibirnya yang kasar dan berantakan. Beberapa menit berlalu, Jongin menyadari bahwa ruang tamu bukanlah tempat yang baik untuk melakukan ini, ia mendorong sang alpha yang sedikit lebih pendek darinya itu menjauh.
"Kam-"
Belum sempat berbicara, kembali bibirnya ditekan oleh Sehun dengan ciumannya. Begitu seterusnya sampai Jongin memutuskan untuk menampar pipi alpha itu hingga tautan keduanya terputus.
"Kamar tidur!"
Sehun menatapnya sayu, bernafas tepat dihadapan wajah Jongin yang memerah karena terbakar oleh nafsu. Seluruh aroma yang menguar pada tubuh alpha itu kini mempengaruhinya. Jongin menarik pergelangan tangan Sehun menuju kamarnya dan tidak lupa untuk menguncinya. Kemudian ia memutuskan untuk mencium sang alpha terlebih dahulu. Memasukkan lidahnya sebelum akhirnya menggerakkannya secara memutar demi mengecap rasa manis pada bibir alpha tersebut. Sehun menggeram, menarik tubuh omega itu mendekat padanya kemudian berhasil mendorongnya jatuh diatas ranjang. Sehun segera melepas seluruh pakaian mereka hingga keduanya sama telanjang, menyertainya dengan sentuhan-sentuhan di titik sensitif yang terdapat pada tubuh Jongin.
Jongin tidak bisa menahannya. Cairan dari dalam lubangnya bertambah semakin banyak hingga mengalir ke bagian dalam pahanya. Punggungnya melengkung kala Sehun mengecap putingnya yang kini mengeras. Aroma tubuhnya semakin kuat dan sama seperti alpha lainnya, Sehun tidak bisa menahan diri untuk mengigitnya. Namun sebelum itu terjadi, Jongin kembali menamparnya. Membuat Sehun merasa sedikit emosi hingga matanya berubah menjadi kuning keemasan, Jongin menatapnya takjub dan kehilangan kata-katanya.
"Jangan menolakku." geram Sehun.
Jongin menahan kepalanya, menatap lurus pada kedua iris Sehun yang memiliki warna yang begitu indah. "Ini pertama kalinya aku melihat alpha sepertimu." gumamnya, kembali mencium bibir Sehun dan memeluk punggungnya erat demi mengalihkan keinginannya untuk menandai seorang omega. Sehun kembali merasa tenang.
"Aku ingin mengikatmu dengan milikku."
"Lakukanlah." Jongin menyentuh pangkal penisnya yang mulai membentuk sebuah gumpalan. Jongin tergoda untuk mencicipi rasanya, ia mendorong dada Sehun sehingga apha itu terduduk. Kemudian Jongin segera melakukan hal yang sebelumnya sangat diinginkan olehnya, ia menunduk, memasukkan seluruh batang penis Sehun ke dalam mulutnya dan memberikan alpha muda itu kuluman terbaik yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Pinggul Sehun bergerak dengan sendirinya, mendorong penisnya keluar masuk dari bibir penuh Jongin dengan gerakan yang semakin lama semakin bertambah cepat. Jongin melepas kuluman bibirnya pada penis Sehun dan memohon.
"Alpha.. Alpha.." Jongin merasa dirinyalah yang tengah memasuki masa heat, bukannya alpha dihadapannya. Ia memposisikan tubuhnya dengan kepala yang menghadap bantal, menahan tubuhnya dengan kedua siku dan lutut hingga bagian bawah tubuhnya lebih terangkat. Sehun segera meletakkan penisnya didepan lubang Jongin, tidak ingin menghabiskan banyak waktu demi mempersiapkannya. Ia tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, hanya menggunakan insting seorang alpha yang berada dalam dirinya. Sehun mendorong penisnya masuk dalam sekali hentakan, cairan Jongin mempermudah pergerakannya. Omega itu merasa begitu penuh sementara sang alpha menikmati remasan dinding lubang Jongin pada penisnya. Keduanya mendesah keras.
"Alpha.. Alpha.."
Sehun menempelkan dadanya pada pungung sang omega, menggerakkan penisnya keluar masuk dengan gerakan yang cukup berantakan dan liar seolah dirinya hanya ingin memuaskan dirinya sendiri tanpa memperdulikan sosok omega yang kini tengah disetubuhi olehnya.
"Alpha!" Jongin memekik kala ujung penis Sehun menyentuh sebuah bagian yang menimbulkan kenikmatan baginya. Meskipun alpha yang bercinta dengannya kini begitu kasar dan payah, namun Jongin tidak dapat mengelak kenikmatan yang dapat ia terima dari perlakuannya.
Sehun bergerak semakin cepat, merasa bila puncaknya akan datang lebih cepat dari yang ia perkirakan. Alpha itu menggeram saat Jongin mencakar pahanya, tanpa sadar ia kembali mendapatkan dorongan yang lebih besar untuk mengigitnya, Sehun bersiap untuk menancapkan giginya pada sisi leher omega tersebut. Ia hampir berhasil jika saja Jongin tidak segera menyadari maksud dari gerakannya yang mulai kaku, omega tersebut kemudian mengumpankan tangannya sebagai target gigitan sang alpha. Membuat Sehun tidak bisa menandai Jongin sebagai miliknya, dan justru menyakiti jari omega itu hingga mengeluarkan darah.
"Ahh.. Alpha!"
Bersamaan dengan hal itu, pangkal penis Sehun membesar dan membentuk sebuah gumpalan besar hingga tidak dapat digerakkan lagi. Siku Jongin melemas, mengakibatkan kepalanya terjatuh di atas bantal. Ia tidak bisa berhenti mendesah saat penis Sehun berkedut liar dan mengeluarkan cairannya hingga dirasa mengaliri bagian dalam dirinya, menyentak masuk dan memenuhinya secara intim. Sehun mencumbu bibirnya dengan kasar.
"Ikatannya.. Semakin besar." keluh Jongin. Alpha itu tidak mendengarkan, justru menggerakkan pinggulnya secara sembarangan demi meraih kenikmatan lagi. Gerakannyalah yang menbuat Jongin akhirnya sampai pada puncaknya, omega tersebut mengeluarkan cairannya dan menggenggam penis Sehun semakin erat dalam dirinya. Sehun ikut mendesah.
Beberapa puluh menit berlalu, penis Sehun kembali ke ukuran semula. Namun Jongin menyadari bahwa proses ini belum selenuhnya selesai. Sang alpha akan kembali merasa bila gairahnya memuncak beberapa saat lagi, dan hal tersebut mungkin membuat Jongin sedikit menyesal atas keputusannya untuk membawa sang alpha bersamanya karena persetubuhannya dengan alpha muda ini merupakan salah satu pengalaman yang tersakit yang pernah dialami olehnya. Meskipun begitu ia tidak dapat memungkiri bila rasanya begitu nikmat.
oOo
"Kau mengingat sesuatu?"
Wajah Sehun memucat. "Aku-"
Sang omega menunggu pemuda itu untuk menyelesaikan ucapannya, namun sepertinya Sehun masih merasa terkejut dan bingung hingga alpha itu tidak bisa berkata-kata lagi.
Jongin kembali merasa sedikit iba, "Hei. Tenanglah." ucapnya, mendekati Sehun dan duduk disampingnya. "Ini tidak seperti aku akan melaporkanmu ke polisi atau apapun. Kau tidak mengigit leherku jadi aku rasa itu tidak masalah. Dan jangan khawatir, aku tidur dengan banyak orang jadi ini juga tidak seperti kau memperkosaku ataupun merebut sesuatu yang berharga bagiku. Aku tidak akan menuntut apapun."
Sehun menatapnya dengan mata yang melebar, "Apakah-"
Jongin dapat membaca kekhawatiran alpha itu, ia menjawab. "Tidak masalah. Aku meminum pil yang bisa menbuatku tidak dapat mengandung dalam waktu dekat. Jadi kau tidak perlu mencemaskan apapun lagi."
Sehun bernafas lega, namun tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya atas kebenaran perkataan Tzuyu pada malam sebelumnya. Bahwa lelaki dengan aroma cokelat ini merupakan seorang-
Sehun menggeleng dan mencoba untuk menepis pikirannya, "Meskipun begitu, tetap saja-"
"Itu menyenangkan."
"Huh?"
Jongin tersenyum melihat raut kebingungan yang terukir pada wajah sang alpha, "Bercinta denganmu. Apa ini pengalaman pertamamu? Aku akui kau tidak sebaik alpha lain yang pernah tidur denganku, tetapi disisi lain rasanya menyenangkan saat bercinta denganmu."
Sehun kembali terkejut atas pengakuan Jongin, namun kali ini pemuda itu dapat menyembunyikannya dengan baik. Sehun menunduk, "Maafkan aku."
"Bukankah sudah kubilang tidak apa-apa?" tangan Jongin bergerak untuk mengelus rambutnya, namun Sehun secara tidak sadar menolak perlakuan omega tersebut. "Ah. Maaf."
Jongin menatap tangannya yang ditepis oleh Sehun, ia tersenyum kecil. "Aku bisa memakluminya."
Sehun menatapnya menyesal, "Jika saja- Mm. Apa yang- yang dapat aku lakukan demi menebus kesalahanku ini? Aku sangat menyesal, aku akan melakukan apapun yang aku bisa."
"Sebenarnya.." Jongin menatapnya dengan tenang, "Kau tahu. Sebelumnya aku tidak pernah melayani seseorang diluar dari pekerjaanku. Terlebih lagi di rumahku sendiri. Namun tetap saja, meskipun kau melakukannya secara tidak sadar, dan meski sebenarnya aku juga menikmatinya. Semua yang aku lakukan, ada harga tersendiri yang harus dibayar. Bagaimana cara untuk menyebutkannya?"
"Apakah- Uang?" Sehun bertanya dengan ragu. Mengetahui bahwa hal tersebut memanglah yang dimaksudkan oleh Jongin sesaat setelah omega tersebut mengembangkan senyumnya.
"Aku tidak akan menuntutmu untuk membayarku dengan harga yang mahal seperti alpha lain. Beberapa lembar tidak akan menjadi masalah untukku. Mengingat kau masih muda dan juga lugu. Kau bisa memberikannya, bukankah begitu?" ucap Jongin, yang sekali lagi membuat Sehun merasa begitu kecewa dan juga kasihan dalam waktu bersamaan.
"Tentu." angguknya pelan.
oOo
