Doumo-
Saya kembali lagi. Hehe…
Maaf kalau saya updated-nya lama kemarin2, tadinya saya males ngelanjutin. Tapi berhubung sudah terlanjur dibuat ya mau tidak mau harus saya selesaikan.
Jujur saja, saya ini lebih suka nonton anime dibanding nonton drama korea & BB/GB. Hehehe…
Jadi maaf jika sekiranya nanti terkesan OOC atau ada kesalahan tentang pendeskripsian tokohnya. Kalau ada masukan akan saya dengarkan, karena saya memang tidak terlalu mengerti dan saya juga baru dalam hal menulis.
Jaa, ini chapter 4 dah saya updated. Arigatou untuk yg dah review, juga untuk silent reader.
Semoga kalian suka dengan karya saya yang pas-pasan ini. ^^
Yosh, drpd nanti saya keterusan. Saya akhiri saja chit-chat tdk penting ini.
Selamat membaca.
ChangKyu fic
DBSK & SJ © SM Entertainment.
Member DBSK & SJ © Their parents.
Warning : AU, OOC, Weird, Typo(s), etc.
.
.
Don't Like, Don't Read
.
.
"Hahahahahahahaha… Kenapa bocah? Kau marah karena teman sialanmu itu akan segera mati." Balasnya pada Kyuhyun.
"Kubunuh kau mahkluk rendahan." Kyuhyun yang awalnya sudah kembali pada wujud setengah silumannya kini mulai mengeluarkan aura-aura mencekam disekitarnya. Aura yang pada saat pertama berwarna seperti uap air kini berubah warna menjadi biru navy, rambutnya yang memutih pun kini memanjang hingga pinggang dan kuku tangan serta taringnya pun ikut memanjang, ditambah matanya yang kini menunjukkan kekosongan seolah ia hanya tubuh tanpa jiwa. Dipipinya terdapat guratan-guratan samar berwarna biru pucat.
Musuh yang menyerang Changmin yang awalnya berpikir jika Kyuhyun tidak akan sekuat Changmin pun kini mulai kehilangan kepercayaan dirinya. Makhluk yang ada didepannya ini bahkan jauh lebih mengerikan daripada Changmin, sosoknya berbeda dengan yang ia lihat diawal tadi. Batinnya menjerit memerintahkan tubuhnya untuk segera kabur, namun untuk menggerakkan tubuhnya saja ia kesulitan.
Dengan langkah pelan Kyuhyun mendekatinya, gerakan kakinya halus namun mengancam. Udara disekitarnya memberat, sedetik kemudian keberadaan Kyuhyun menghilang. Panik, sang hunter yang dengan susah payah dapat mengumpulkan kesadaraannya kini menoleh ke kiri-kanan. Ketakutan setengah mati, hanya ada Changmin yang masih berlutut dengan memegangi pundak kirinya yang ia lihat. Dimana makhluk tadi pikirnya.
DEG
"Apa yang kau cari?" Suara bernada rendah dibelakangnya membuatnya tersentak, perlahan ia menolehkan kepalanya kebelakang. Air mata sudah menggenang dipelupuk matanya, ketakutan sudah menguasainya. Dengan tergesa ia membalikkan tubuhnya dan bergerak mundur menjauhi Kyuhyun, keseimbangannya hilang karena gerakannya yang tergesa-gesa tersebut.
"Hyaaaaaaaaaaaa…. Pergi, pergi kau." Jeritnya sambil melempar lempar pasir dan batu-batu kecil yang dapat tangannya raih kearah Kyuhyun.
BUAGH – KRAK
Pukulan keras dari tinju Kyuhyun menimbulkan bunyi tulang -yang sepertinya- patah dapat terdengar dengan jelas.
"Argggggggh….!" Kesakitan, kepalanya seolah ingin lepas dari lehernya saat pukulan Kyuhyun mengenai pelipisnya. Pusing hebat segera melanda kepalanya.
Kemudian selanjutnya pukulan demi pukulan yang semakin menyakitkan dan terasa dingin pun terus dilayangkan Kyuhyun ke tubuhnya tanpa ampun. Teriakan-teriakan kesakitannya seolah hanya menjadi angin lalu bagi Kyuhyun. Entah sudah berapa pukulan yang dilayangkan Kyuhyun padanya, ia tak ingat. Yang ia tau, kesadarannya saat ini hanya tinggal setipis benang. Pukulan terakhir yang dapat ia rasakan seketika membuatnya tak sadarkan diri.
Bukannya berhenti, Kyuhyun justru semakin bernafsu untuk menghancurkan musuhnya. Tangan kanannya ia angkat keatas, udara disekitar tangannya berkumpul membentuk gumpalan-gumpalan angin. Angin yang sedikit demi sedikit terasa lembab ditangannya karena mulai tercampur dengan air. Hampir saja ia akan menyerang musuhnya yang –sepertinya– sekarat itu, namun suara Changmin mengintrupsinya.
"Kyu,"
Changmin yang telah berhasil menekan rasa sakit dipundak kirinya kini mendongak menatap kearah Kyuhyun, dilihatnya Kyuhyun yang kehilangan kendali terus saja memukuli musuhnya yang sudah hilang kesadaran dan hendak melayangkan sihirnya.
"Kyu," Bisiknya pelan, Changmin yakin jika Kyuhyun sudah dapat mendengar suaranya sepelan apapun itu. "sudah hentikan." Lanjutnya.
Dan terbukti, gumpalan-gumpalan angin bercampur air ditangannya lenyap seketika dan kemudian ia menatap datar kearah Changmin. Tersenyum, Changmin pun bangkit berdiri hendak mendekati Kyuhyun. Namun rasa sakit dipundaknya membuatnya urung untuk bergerak lebih banyak lagi, alhasil kini ia hanya berdiri mematung dengan tangan kanan memegang pundak kirinya.
"Kemarilah." Katanya lagi. Tak butuh waktu lama kini Kyuhyun sudah berada tepat dihadapan Changmin.
"Sakit kah?" Pelan Kyuhyun bertanya.
"Hanya sedikit, tenang saja." Balas Changmin dengan nada santai. "Jangan lakukan itu lagi." Lanjut Changmin lagi.
"Apa?"
"Kau ini, lihat wujudmu sekarang. Dasar, walaupun harus kuakui kau terlihat sangat cantik dengan wujud seperti ini. Tapi tetap saja, kau masih belum sepenuhnya bisa mengendalikan kekuatanmu bodoh." Frustasi, makhluk didepannya ini memang terlihat menggoda, tapi tetap saja Changmin merasa khawatir jika kekuatan besar yang dimilikinya masih belum terkendali.
"Apa maksudmu dengan 'sangat cantik' dan 'bodoh'? Kau tahu jika aku ini laki-laki, dan aku tidak bodoh. Dan lagi, kau sendiri tidak kalah mengerikannya denganku Chwang. Seperti kau bisa mengendalikan kekuatanmu saja." Cibirnya.
"Baiklah, aku kalah. Sebaiknya cepat kita bebaskan mereka. seperti permintaanmu." Balas Changmin lagi, pundaknya terasa berdenyut-denyut akibat serangan tadi. Namun Changmin diam saja, jika Kyuhyun tau mungkin dia akan lebih mengamuk lagi dari sekarang. Menghela nafas pelan tanpa diketahui oleh Kyuhyun dan setelah itu ia mulai berjalan menyusul Kyuhyun yang sudah berjalan didepannya.
Benar yang dikatakan Kyuhyun, semakin kedalam semakin banyak budak-budak yang berkerja dengan tangan dan kaki yang terborgol. Mereka berjalan dengan kaki terborgol yang terhubung dengan rantai besi. Tak hanya orang dewasa, namun juga anak-anak.
"Ada yang aneh dengan mereka." Kata Changmin pelan. "Kau merasakannya kan Kyu?"
"Eum, mereka dikendalikan." Jawab Kyuhyun saat melihat budak-budak itu seperti robot yang berjalan. Mata mereka kosong, seolah mereka hanyalah boneka. Miris. Tubuh mereka kurus kerontang, namun masih harus bekerja dibawah kendali orang-orang yang baru saja mereka kalahkan.
"Hn." Gumam Changmin pelan, mencoba fokus mengalihkan rasa sakit yang sedikit-sedikit masih menjalar dipundaknya. "Kau bisa mengembalikan kesadaran mereka Kyu?" Tanya Changmin, dia mungkin bisa melakukannya. Namun karena serangan dipundaknya tadi, Changmin tidak ingin ambil resiko untuk kehilangan tenaga lebih banyak lagi. Menahan rasa sakit dipundaknya saja sudah membutuhkan banyak kekuatan, dan jujur saja Changmin merasa pundaknya tidak akan sembuh begitu saja.
"Baiklah akan kulakukan, tapi aku ingin kau bawa kita pergi dari sini sebelum mereka menyadari keberadaan kita." Jawab Kyuhyun.
"Ne, tenang saja." Changmin sadar, Kyuhyun-nya masih tidak nyaman bertemu dengan banyak orang. Masa kecilnya yang suram membuatnya tidak ingin terlalu lama berada dikerumunan banyak orang, dia masih kesulitan untuk mempercayai orang selain Changmin. Begitupun Changmin, ia pun sama dengan Kyuhyun.
Kyuhyun menajamkan matanya, tangan kanannya bergerak seolah menggambar sesuatu diatas para budak itu, dan bibirnya menggumam pelan. Setelah selesai segel berbentuk segi delapan berwarna keemasan terlihat didepan Changmin dan Kyuhyun, perlahan segel besar itu turun kearah orang-orang bibawahnya. Saat segel tersebut hilang percikan cahaya berwarna emas segera menerangi tempat itu, sedetik kemudian Changmin yang sudah merangkul pundak Kyuhyun membawa mereka menghilang dari tempat itu sebelum orang-orang yang mulai sadar dan melihat keberadaan mereka, meninggalkan kunci-kunci yang ada digenggaman tangannya terjatuh ketanah dibawah kakinya.
Donghae yang awalnya dalam perjalanan pulang menghentikan langkahnya, walaupun takut tapi dia tetap mengkhawatirkan dua remaja tadi.
'Bagaimana keadaan mereka. Apa mereka baik-baik saja.' Batin Donghae, sudah Donghae putuskan dia akan kembali lagi ketempat itu.
'Sudahlah, persetan jika aku harus dibunuh Kyuhyun.' Batinnya lagi. Mebalikkan badannya dengan cepat, Donghae berlari ketempat Changmin dan Kyuhyun berada.
'Semoga mereka baik-baik saja, lagipula jika aku kembali sendiri. Jungsoo hyung bisa marah, dia lebih menakutkan dari kematian.' Bergidik saat membayangkan hyung-nya yang kalem marah. 'Terkadang orang yang lembut juga bisa menyimpan hal-hal yang mengerikan.' Dengan pikiran-pikiran tentang itu Donghae meneruskan larinya, entah kenapa perasaannya mulai tidak tenang.
TAP
"Kenapa berhenti disini Chwang? Ini masih jauh dari tempat Jungsoo-ssi." Tanya Kyuhyun heran. Saat ia menengok kesamping kirinya matanya pun membelalak melihat wajah Changmin yang pucat pasi dengan keringat yang membasahi pelipisnya.
"YA! Chwang kau kenapa? Wajahmu pucat sekali, apa lukamu sakit lagi." Tanya Kyuhyun panik.
"…" Changmin masih diam saja dengan wajah tertunduk, pundaknya berdenyut-denyut sakit. Tak ingin membuat Kyuhyun tambah khawatir Changmin mendongakkan wajahnya, senyum lembut yang terkesan dipaksakan –karena menahan sakit– ia berikan pada Kyuhyun seolah ingin mengatakan jika ia baik-baik saja.
"Jangan tersenyum seperti itu!" Bentak Kyuhyun. Matanya panas saat melihat kondisi Changmin, lengan kirinya menahan tubuh Changmin yang mulai lemas dan berkeringat dingin, tangan kanannya terkepal membuat buku-buku jarinya memutih. Marah, rasanya Kyuhyun jadi ingin menghancurkan orang yang melukai Changmin menjadi debu. Gigi taringnya yang masih menyembul melukai bibir pink pucatnya karena ia gigit.
Changmin yang melihatnya dengan susah payah mengangkat tangan kirinya menyentuh bibir Kyuhyun dan mengusap darah yang mengalir disudut bibir kanan Kyuhyun.
"Hey bodoh, sepertinya aku benar-benar sangat berarti eh? Jadi jangan melukai bibirmu, cantikmu hilang nanti. Kau mau kutinggalkan? Kekekeke…" Balas Changmin. Sakit memang, namun melihat Kyuhyun melukai bibirnya seperti itu mana mungkin Changmin diam saja.
"Apa-apaan kau ini, tidak lucu. Hiks…" Terisak pelan, bagaimana bisa si pangeran idiot ini menggodanya disaat terluka seperti ini.
"Kyu, bisakah kita beristirahat sebentar. Tenang saja, tidur sebentar akan mengembalikan kekuatanku." Sahut Changmin mengabaikan kata-kata Kyuhyun. 'Yah, semoga saja.' Lanjut Changmin dalam hati, ia sedikit tidak yakin memang. Karena Changmin sadar sihir yang dilayangkan musuhnya tadi bukan sihir biasa.
"Baiklah." Balas Kyuhyun pelan dan mulai memapah Changmin kearah pohon besar didepan mereka. Kyuhyun membantu Changmin duduk menyandar dibawah pohon besar yang rindang tersebut, kemudian ia juga ikut duduk disebelah kanan Changmin.
"Biarkan aku begini sebentar." Kata Changmin saat ia membaringkan kepalanya dipaha Kyuhyun, pundaknya masih saja berdenyut-denyut. 'Sial, seandainya aku lebih waspada.' Batin Changmin, ia kesal karena membuat Kyuhyun menangis.
Kyuhyun hanya terdiam, matanya masih setia menatap Changmin yang menggunakan pahanya sebagai bantal. Wajah yang masih pucat seperti tadi dan berkeringat dingin, diusapnya pelan keringat didahi serta pelipis Changmin. 'Bibir Changmin pucat sekali.' Batinnya saat melihat bibir Changmin yang biasanya kemerahan kini memutih.
Pelan, disibakkannya kemeja putih yang dikenakan Changmin. Matanya membelalak saat melihat pundak kiri Changmin yang diwarnai oleh bercak-bercak hitam pekat.
'Apa ini, kenapa warnanya seperti ini. Pundak Changmin tidak terluka, tapi kenapa dengan bercak-bercak hitam ini. Apa yang bisa kulakukan, apakah ini yang menyakiti Changmin. Lalu apa yang harus kulakukan.' Takut, bercak kehitaman dipundak Changmin membuatnya takut.
TAP TAP TAP TAP TAP TAP
Pendengaran Kyuhyun tajam, ia dapat mendengar suara orang berlari dari arah berlawanan dengan pertambangan. Meningkatkan kewaspadaan, Kyuhyun menajamkan seluruh indranya. Saat sadar ia mengenali bau dari seseorang yang mendekat itu, ia mendesah lega.
"Kyuhyunnie, Changmin-ah!" Teriak orang tersebut yang ternyata adalah Donghae.
Donghae yang terus berlari merasakan perut dan kakinya berdenyut-denyut nyeri. Tak berapa lama ia melihat seseorang dengan warna putih yang mendominasi dan menatap tajam kearahnya. Rambut putih panjangnya sedikit berkibar terbawa semilir angin. Awalnya Donghae takut, namun saat ia sudah dekat, ia menyadari jika orang tersebut adalah Kyuhyun. Serta ada juga Changmin yang tadi sempat luput dari pandangannya.
"Kyuhyunnie, Changmin-ah!" Teriaknya, sedikit khawatir dengan keadaan mereka. Dan sedikit ketakutan juga melihat wujud Kyuhyun yang 'lain' dari terakhir ia meninggalkan mereka tadi.
"Donghae-ssi." Pelan Kyuhyun menanggapi teriakan Donghae.
"Kenapa, apa yang terjadi dengan Changmin?" Donghae berjongkok didepan mereka, dan melihat kondisi Changmin yang pucat pasi.
"Donghae-ssi, Chwang terkena serangan salah satu dari mereka. Dia tidak terluka, tapi serangan itu membuat pundaknya seperti ini. Lihatlah, apa yang harus kulakukan Donghae-ssi?" Tanya Kyuhyun, tangisnya sudah hampir pecah saat menjawab pertanyaan Donghae. Donghae yang melihat pundak Changmin membelalakkan matanya ngeri.
"Omo! Ya! Kyuhyunnie, sebaiknya kita cepat pulang. Aish, bagaimana ini? Dari sini sampai rumah masih lumayan jauh. Changmin tidak mungkin membawa kita kerumah seperti kita datang kepertambangan tadi, bagaimana ini? Kyu, kau tidak bisa melakukan hal yang sama dengan Changmin?" Donghae meracau dengan panik.
"Ani, aku tidak bisa. Chwang belum pernah mengajarkannya padaku." Balas Kyuhyun, 'Kalau kau melihatku, kumohon bantu aku. Sudah kutepati janjiku bukan, jadi kumohon datanglah. Bantu kami kembali ketempat Jungsoo-ssi.' Batin Kyuhyun, ia sudah tidak tau harus melakukan apalagi.
WUUUSH
Tiba-tiba angin yang tadinya semilir kini berubah sedikit kencang, membuat Donghae dan Kyuhyun harus menutup rapat matanya.
SRAT
Seekor anjing besar mirip srigala tiba-tiba muncul dihadapan mereka.
"Kau datang! Bawa kami kembali ketempat Jungsoo-ssi. Kumohon." Kata Kyuhyun cepat, dia semakin khawatir dengan kondisi Changmin setelah melihat reaksi panik Donghae. Ditambah Changmin yang sudah kehilangan kesadarannya -sepertinya- sejak ia meletakkan kepalanya dipaha Kyuhyun. Anjing itu masih terdiam dan hanya menganggukkan kepalanya. Donghae, dia masih belum bisa tersadar dari shock-nya karena melihat sosok mahkluk yang katanya hanya mau menemui sang Queen itu.
Dengan bantuan Donghae, Kyuhyun memapah Changmin untuk naik keatas mahkluk suci itu. Mahkluk itu membawa tiga orang yang terduduk diatas tubuhnya terbang, rambut Kyuhyun yang masih panjang dan berwarna putih berkibar begitu saja. Jika sudah dalam keadaan seperti ini, Kyuhyun membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk kembali kewujud setengah silumannya. Hanya goresan kebiruan dikedua pipinya saja yang sudah menghilang sejak tadi. Pandangan Kyuhyun menerawang kedepan, mengabaikan Donghae yang melirik penasaran kearahnya. Kedua tangannya memeluk tubuh Changmin yang berbaring menyandar padanya.
'Mengingatkanku akan seseorang.' Batin Donghae.
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka berhasil sampai didapan rumah sederhana Jungsoo dan Donghae. Mereka segera turun dari atas tubuh mahkluk itu, masih dengan Changmin yang belum tersadar.
"Terima kasih." Kata Kyuhyun pelan. Donghae hanya diam saja, dia tidak tau apakah harus ikut bicara atau tidak. Namun sedetik kemudian, ia berteriak-
"Hyung, Jungsoo-hyung. Cepat bantu kami!" Teriaknya, 'Tidak ada waktu untuk memikirkan sang mahkluk suci, nyawa Changmin dalam bahaya. Kalau tidak cepat, bisa bahaya.' Batinnya saat ia melirik Changmin.
Saat Jungsoo sampai diteras, anjing besar yang mengantarkan mereka sudah lenyap dari hadapan Donghae dan Kyuhyun.
"Astaga, apa yang terjadi pada kalian!" Teriak Jungsoo panik. Dia pun membantu membawa Changmin kedalam rumah.
Cahaya keunguan terlihat dari tangan Donghae yang berada diatas pundak Changmin. Membuat bercak-bercak yang sejak tadi bertambah banyak dan menyebar itu mulai berkurang sedikit demi sedikit.
"Dia beruntung masih hidup." Kata Jungsoo dengan wajah serius dan mata tak lepas dari Changmin.
"…" Kyuhyun hanya terdiam tanpa ada niat menanggapi, tangannya masih setia menggenggam tangan kanan Changmin.
"Jika orang biasa, mungkin dia sudah mati saat itu juga. Tak kusangka Changmin sekuat ini, aku saja mungkin tidak bisa bertahan." Lanjut Jungsoo lagi, kali ini dia berhasil mengalihkan perhatian Kyuhyun yang kini melirik kearahnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Kyuhyun.
"Wajar saja jika kau tidak tau Kyuhyun-ah. Sihir yang mengenai Changmin, itu sihir hitam dan juga termasuk sihir terlarang. Sedikit saja sihir ini mengenai bagian tubuhmu, sudah bisa dipastikan kau tidak akan selamat dan tewas seketika. Walaupun sudah mati, tapi sihir itu masih akan tetap menjalari seluruh tubuhmu, membuat tubuhmu menghitam kemudian lenyap menjadi butiran-butiran pasir kehitaman. Sihir itu seperti sebuah kutukan. Dari yang kulihat sihir itu sepertinya telak mengenai Changmin, namun dia masih bisa bertahan. Sungguh penyihir yang kuat." Jawab Jungsoo. 'Dan juga menakutkan.' Batinnya melanjutkan.
"Apakah seburuk itu?" Kyuhyun bertanya lagi, namun kali ini ia tidak melihat Jungsoo. Matanya menatap sendu kearah Changmin.
"Ya, dan nyaris tidak ada yang bisa menyembuhkannya." Dahi Kyuhyun berkerut, ia menatap Jungsoo heran.
"Tapi Donghae-ssi bisa menyembuhkan Changmin kulihat. Kenapa kau mengatakan tidak ada yang bisa menyembuhkan?"
"Kubilang 'nyaris tidak ada' Kyu, karena memang jarang sekali ada yang selamat. Dan disamping itu, Donghae sedikit istimewa. Donghae memang tidak menguasai sihir pertarungan. Namun dia menguasai sihir penyembuhan." Jungsoo melirik kearah Donghae yang masih terlihat serius mengobati Changmin tanpa berkata sepatah kata pun.
"…" Kyuhyun hanya terdiam dan berpikir.
Menjelang sore Donghae sudah berhasil mengilangkan seluruh bercak kehitaman ditubuh Changmin, dan dia segera saja tertidur karena kelelahan -hampir empat jam ia menyembuhkan Changmin-. Kyuhyun masih setia terduduk disamping Changmin, menatapnya dalam diam. Ia sedikit lega karena wajah Changmin sudah tak sepucat tadi. Wujudnya masih sama, dengan rambut putih panjang, mata yang berpendar kebiruan –namun tidak segelap seperti diawal–, dan taring kecil yang menyembul disela-sela bibirnya, serta kuku yang sedikit memanjang –walaupun sudah tidak sepanjang tadi–. Sedangkan Jungsoo, ia sudah keluar dari kamar mereka dan sepertinya menyiapkan makan malam didapur.
"Nnnnggh…." Lenguhan pelan Changmin membuat Kyuhyun tersentak.
"Chwang, kau sudah sadar?" Kyuhyun mencoba bertanya pada Changmin. Mata yang tadinya tertutup rapat itu kini mulai terbuka. Menoleh kearah suara Kyuhyun yang ada disampingnya.
"Kyu?" Sahut Changmin lirih, matanya masih kabur. Ia pun mengerjap-ngerjapkan matanya pelan, mencoba mengembalikan penglihatannya. Saat pandangannya sudah jelas, ia dapat melihat Kyuhyun yang menatap khawatir disampingnya. Tersenyum, tangannya yang masih tergenggam oleh tangan Kyuhyun itu ditariknya. Mencoba menyentuh wajah Kyuhyun dan menghilangkan pandangan khawatir dari mata sebiru lautan itu.
Kyuhyun yang melihatnya pun menutup matanya saat tangan hangat Changmin mulai menyentuh pipinya. Jari-jari Changmin menyentuh lembut pipinya, membuatnya merasa nyaman.
GYUT
"Arrrrgh… Apa yang kau lakukan tiang-idiot?!" Teriak Kyuhyun nyaring. Bagaimana ia tidak berteriak, beberapa detik yang lalu ia masih menikmati tangan hangat Changmin. Namun kemudian Changmin merusak kenyamanannya dengan menarik pipinya kuat-kuat.
"Hahahahahahahahahahahahahahahahaha…." Bukannya merasa bersalah, Changmin justru tertawa dengan keras. Mendelik kesal, ia segera beranjak dari tempatnya duduk dan keluar dari kamar itu. Membanting kasar pintu dibelakangnya dan mengabaikan Changmin yang masih sibuk menahan tawanya.
'Idiot, apa-apaan dia itu. Cih, percuma aku mengkhawatirkannya.' Batin Kyuhyun kesal.
Jungsoo yang memasak didapur tersentak kaget saat mendengar teriakan Kyuhyun disusul tawa Changmin. Ia menahan tawanya saat sudah bisa menebak apa yang terjadi.
'Sepertinya Changmin sudah sadar.' Batin Jungsoo masih dengan melanjutkan masakannya. 'Dan ia sudah berhasil mengerjai Kyuhyun. Masa muda…' Lanjutnya.
Jungsoo menoleh kearah pintu yang ditutup kasar oleh Kyuhyun. Dapat dilihatnya Kyuhyun yang merengut kesal dengan tangan terkepal.
"Kyuhyun-ah, dia sudah sadar?" Tanya Jungsoo basa-basi.
"Ya, dan sisi iblisnya pun sudah kembali. Dasar Chwang bodoh, padahal aku benar-benar khawatir tadi." Jawab Kyuhyun dengan menggerutu pelan. Membuat Jungsoo yang melihatnya tersenyum geli.
"Jungsoo-ssi, dimana Donghae-ssi?" Tanya Kyuhyun saat ia ingat apa yang ia pikirkan tadi.
"Sepertinya tidur. Wae? Kau membutuhkan sesuatu, katakan saja padaku." Jawab Jungsoo dengan senyum ramahnya.
"Ah, itu. Aku ingin minta maaf karena tadi aku hampir menyerangnya, dan juga aku ingin dia mengajariku sihir penyembuhan." Kata Kyuhyun dengan wajah tertunduk, sepertinya malu karena ia hampir menyerang Donghae.
Jungsoo tersentak kaget saat Kyuhyun mengatakan ia hampir menyerang Donghae, dari wujud Kyuhyun saat ini. Jungsoo bisa melihat jika kekuatan yang dimiliki Kyuhyun bukanlah main-main. Kyuhyun menyombongkan kekuatannya bukan tanpa alasan, kekuatannya sepertinya hanya setingkat dibawah kekuatan Changmin. Jika Kyuhyun benar-benar menyerang Donghae, bisa ia pastikan jika adiknya itu pasti akan tewas atau minimal sekarat.
'Apa yang dilakukan sibodoh itu sampai Kyuhyun ingin menyerangnya! Dasar.' Batin Jungsoo frustasi, ia tau jika Kyuhyun bukan tipe orang yang menyerang orang lain tanpa alasan. Jadi Jungsoo yakin, ini pasti karena mulut Donghae yang terkadang tidak bisa diajak kerja sama.
"Jungsoo-ssi?" Panggil Kyuhyun, ia heran kenapa sejak tadi kata-katanya tidak ditanggapi sedikit pun oleh orang yang lebih tua darinya itu.
"Eh? Ah, itu. Tunggulah, sebentar lagi mungkin dia akan bangun." Panggilan Kyuhyun tadi membuatnya kembali tersadar dari pikirannya. "Ini, berikan ke Changmin-ah. Sambil menunggu Donghae bangun." Kata Jungsoo lagi, ia memberikan segelas susu hangat kearah Kyuhyun.
"Baiklah." Menurut, ia pun kembali kekamar untuk memberikan susu itu pada Changmin.
.
.
.
Saat ia masuk, dilihatnya Changmin yang menatap jendela disebelah kirinya dalam diam. "Chwang," Panggilan yang sudah familiar bagi Changmin itu mengalihkannya dari jendela.
"Ini, minumlah." Kata Kyuhyun melanjutkan saat ia sudah sampai disamping ranjang.
"Dari Jungsoo-ssi?" Tanya Changmin.
"Ne."
"Sudah tidak marah?" Meraih susu yang diberikan Kyuhyun, Changmin bertanya lagi. Senyum geli menghiasi bibirnya yang masih sedikit pucat.
"Cih, idiot." Balas Kyuhyun pelan. "Cepat minum dan istirahatlah lagi. Aku ingin menemui Donghae-ssi untuk minta maaf."
"…" Changmin hanya tersanyum tipis dan membiarkan Kyuhyun berlalu. Dilihatnya susu ditangannya, rasa manis sedikit demi sedikit menjalari lidah dan tenggorokannya yang terasa kering saat ia meminumnya. Setelah susu itu berpindah semua kedalam perutnya diletakkannya gelas bekas susu itu dimeja samping ranjang, badannya masih sedikit sakit walaupun sudah banyak berkurang dibandingkan tadi siang.
Merebahkan tubuh tingginya diranjang, Changmin memejamkan matanya. Lengan kanannya ia gunakan untuk menutup matanya yang terpejam, menghalau silaunya matahari senja dari jendela disebelah kirinya.
Kyuhyun hanya berdiri diam didepan pintu kamar Donghae. Memperhatikan pintu didepannya tanpa lelah, membuat Jungsoo yang melihatnya geleng-geleng kepala. Tadi dia sudah menyuruh Kyuhyun untuk menunggu Donghae diruang depan, namun Kyuhyun keras kepala dan tetap ingin menunggu didepan pintu.
Tiga puluh menit kemudian Donghae keluar dari kamar dengan wajah kusut dan rambut acak-acakan.
"GYAAAAA!" Teriaknya kaget saat mendapati Kyuhyun berdiri dengan wajah datar didepan pintu kamarnya.
"Kau berisik Donghae-ssi." Celetuk Kyuhyun.
"Ini karena kau yang mengagetkanku, untuk apa kau berdiri disini? Ya ampun, jantungku mau lepas rasanya. Dan jangan terkikik seperti itu hyung." Jengkel, baru saja bangun tidur dia sudah dikagetkan dengan keberadaan Kyuhyun. Ditambah dengan hyung tercintanya yang terkikik nista melihat ia berteriak seperti perempuan.
"Aku ingin minta maaf karena hampir membunuhmu." Kata Kyuhyun polos. Donghae hanya menganga mendengarnya, bocah didepannya ini bagaimana bisa sesantai itu mengatakan ia hampir membunuhnya. 'Jadi jika saat itu Changmin tidak menghentikanmu aku benar-benar akan mati begitu?' Batin Donghae horror.
"Dan juga, ajari aku sihir penyembuhan." Lanjut Kyuhyun saat tak mendapat respon apapun dari Donghae, ia mengira jika Donghae diam karena masih ingin mendengarkannya.
"Eh?" Sahut Donghae kaget. Apa pendengarannya tidak salah jika mahkluk didepannya ini ingin diajari sihir?
.
.
To be Continued~
.
.
.
FiWonKyu0201
Hehe… Arigatou gozaimashita. Maaf kl updated-nya lama… ^^
Iya, malaikat keindahan. Wkwkwkwk…
Hanya saja tingkahnya yg usil mirip Amanojaku. Haha…
fxchani
Doumo arigatou dah mau review… Ne, ini dah di updated lg kok. ^^
Itu cuma elemen utama mereka aja mungkin chingu. Tp gk tau nanti gmn. Hehehe…
retno. dewi. 777
Gpp chingu, masa iya mau saya matikan si Chwang. Hahaha…
Nanti Kyu gk punya partner in crime lgi donk.
Kyuminhae
Saya juga masih bingung ini hubungan mereka apa. Berharap juga seperti itu. Hehehe…
Kyu itu setengah siluman rubah, disini saya buat kl siluman rubah itu langka. Apalagi yg putih. Hehehe
Untuk asal-usulnya Kyu, mungkin nanti baru jelas pas urusan mereka dgn duo Jung-Hae selesai. Wkwkwkwkwk…
wonkyufa
Sumimasen saya updated-nya lama. ^^
Ne, gpp kok dy. Wlpn lbh hebat, tp menghadapi musuh yang licik itu memang terkadang lbh menyulitkan drpd menghadapi musuh yg memiliki kekuatan setara (teori darimana itu). Doumo arigatou dah mau review. ^^
Augesteca
Untuk orang biasa parah, tp untuk raja iblis sepertinya tidak. Wkwkwkwkwkwk….
shin min hyo
Ne, ini dah dilanjut. Arigatou… ^^
