Sakura menjerit histeris sambil meronta-ronta. Dua orang perawat yang memeganginya tampak kewalahan menenangkannya saat Konan menyuntikkan obat penenang kepadanya. Tak lama kemudian Sakura pun terkulai lemas dan mulai tertidur. Kedua perawat yang dari tadi ada disampingnya segera memapah Sakura ke atas tempat tidur yang tersedia di ruang perawatan itu.

Konan menghela nafas sejenak, Ia segera menaikkan poni Sakura yang panjang. Matanya sedikit menyipit, dan perlahan-lahan mulai menutup. Ia sangat tidak tega dengan nasib Sakura. Perempuan ini masih 16 tahun, tapi sudah memiliki beban yang cukup berat...

"Mebuki-san," Konan berbalik, menatap iba wanita paruh baya yang sedang menangis sesenggukkan di sofa miliknya. "Apa yang terjadi?"

Mebuki, yang merasa namanya dipanggil, segera menaikkan wajahnya dan melihat Konan berdiri di samping ranjang Sakura. Matanya sembab karena air mata. Jujur, dia sama sekali tidak tega melihat anaknya seperti itu...

"Mebuki-san..." Suara lembut itu sedikit memecahkan lamunan Mebuki. Konan berjalan dan segera duduk disamping wanita itu. Tangan mungilnya mengelus punggungnya yang mulai sedikit renta. "Bisa ceritakan padaku apa yang terjadi?"

"... Suigetsu," Konan tersentak, Mebuki menutup kedua matanya, "Si brengsek itu mencoba memperkosanya lagi..."

Suaranya begitu kecil, namun dengan jarak seperti ini, sudah jelas Konan dapat mendengarnya. Dokter cantik itu menatap diam tubuh Sakura yang tertidur di kasur panjang. "Kalau begini, Sakura tidak akan sembuh." Gumamnya. "Lebih baik Anda melapornya pada polisi."

Mebuki menggangguk. Konan mengelus punggung Mebuki lagi. Kalau sudah seperti ini, entah apa lagi yang bisa dia lakukan.

Konan hanya bisa membantunya melupakan masa lalu Sakura, tidak lebih. Ia tidak bisa berbuat apa-apa kalau Suigetsu mulai bertindak lagi...

.

.

.

.

Naruto by Masashi Kishimoto

Afraid by stillewolfie

Rated T

Genre: Romance/Hurt/Comfort/Family/Friendship

Warn: OOC, typo(s), bagaikan sinetron, feel kagak berasa, AU, etc.

Sakura Haruno x Pein Rikudou

[ Pein berwujud Yahiko ]

Chapter IV : Perasaan?

.

.

.

.

Pein dan Sasuke menunggu di luar ruangan perawatan Sakura. Dua lelaki itu sejak datang ke klinik tersebut hanya diam disana. Mereka tidak berbicara sedikitpun. Seperti sekarang, Sasuke duduk di bangku panjang yang telah disediakan sembari terus menatap pintu ruang perawatan di hadapannya, sedangkan Pein berdiri disamping Sasuke, bersandar di tembok, melipat kedua tangannya di dada, dan menutup matanya. Jujur lagi ya, Pein terlalu malas untuk mengajak sang adik sepupu untuk mengobrol, mungkin Sasuke lebih senang menatap pintu yang ada di hadapan mereka daripada berbicara dengan sepupu sendiri.

Malangnya nasibmu, Pein.

Tapi si rambut oranye tidak mementingkan masalah itu. Yang ada di otaknya kini ada macam-macam pertanyaan yang membuatnya penasaran. Penasaran dengan gadis itu, si Sakura Haruno.

Pein memang tidak peduli dengan keadaan, nasib, ataupun takdir yang dijalankan oleh Sakura. Tapi dia memiliki tanggung jawab akan keadaannya saat ini. Seandainya saja Pein tidak memarahi ataupun mengganggu Sakura, pasti perempuan itu akan tetap menunggu ibunya di gerbang sekolah. Dia tidak akan pulang sendiri. Dan tentu saja peristiwa ini tidak akan terjadi.

Tapi... kenapa Mebuki-san langsung meminta diantar kesini? Bukankah sebaiknya Sakura dibawa ke rumah sakit? Lagipula sepertinya Sakura memang sudah sering kesini? Dan juga... ketika Mebuki-san menelepon seseorang yang Pein tidak peduli itu siapa, wanita itu sempat menyebut-nyebut nama Suigetsu. Siapa dia? Dan ada apa dengan kondisi gadis itu sampai ia harus dibawa ke tempat psikiater?

Pein mengelus-ngelus rambutnya.

Semua pertanyaan tersebut sama sekali tidak ada yang bisa dia jawab.

Pein menaikkan kepalanya saat mendengar suara pintu terbuka, Sasuke dan Pein segera menegakkan tubuh saat Mebuki keluar dari ruangan. Dan disusul dengan seseorang. Seorang perempuan.

Pein menaikkan alisnya. Mungkinkah?

Mebuki dan Konan keluar dari ruangan, mereka berdua sama-sama menatap kedua saudara itu dengan pandangan berbeda. Mebuki tersenyum lirih, "Sasuke... tidak pulang?"

Sasuke menggeleng pelan, membuat helaian hitamnya menggoyang sedikit. "Baa-san, bagaimana Sakura?"

Konan tersenyum, Ia merangkul Mebuki lembut. "Tidak usah khawatir, dia baik-baik saja. Siapa namamu?"

Sasuke tersenyum kecil, ia membungkuk sedikit. "Sasuke Uchiha."

'Uchiha?' Konan terkikik, 'Jadi dia yang menyukai Sakura-chan?'

"Sasuke, kita pulang."

Sasuke menoleh, menatap heran Pein yang rautnya mulai berubah. Lelaki itu segera berjalan menjauhi mereka. Sedikit lagi ia akan membuka pintu keluar klinik tersebut jika saja suara lembut itu tidak tertangkap di indra pendengarannya.

"Pein?"

Berhenti.

Ya. Pein tau, ada nada sedikit terkejut disana. Suara yang sempat membuatnya tertegun. Jauh dalam lubuk hatinya, lelaki berambut oranye itu sangat merindukan suaranya. Suara wanitanya...

Lelaki itu menggertakkan giginya, saat-saat paling jengkel dalam hidupnya adalah, dimana ia kembali mengingat masa lalu merepotkan itu. Masa lalu yang membuatnya jadi orang yang tertutup pada perempuan. Dan karena wanita itu... dia berubah.

Konan menatap Pein yang membelakanginya, menghadap pintu klinik. Wanita itu hanya bisa melihat dari Pein dari jarak yang cukup jauh. Konan menghela nafas, "Pe-"

"Aku tunggu di mobil. Kalau kau terlambat, kau akan kutinggal."

Setelah mengucapkan kata yang menurut mereka sangat dingin dan bahkan menusuk itu, Pein segera meninggalkan mereka bertiga, termasuk Sasuke. Si adik sepupu hanya bisa menatap diam menatap kepergian sang kakak. Tiba-tiba Sasuke berbalik lagi, "Maaf Baa-san, sepertinya Onii-san sedang marah, ja-"

"Sudahlah." Mebuki tersenyum. "Tidak apa-apa, kalian sudah cukup membantu kami hari ini." Mebuki berjalan mendekati Sasuke, kemudian menepuk bahunya pelan. "Terima kasih, Sasuke-kun." Ucap wanita itu tulus.

Sasuke mengangguk pelan, ia menaikkan ujung bibirnya, mencoba untuk menampilkan senyum lebar pada wanita paruh baya dihadapannya. "Doita, Baa-san. Tapi..."

"Hmm?"

"Bisa ceritakan padaku apa yang terjadi pada Sakura?"

Konan, yang sedari tadi terus menatap pintu klinik, terkejut saat Sasuke mengatakan hal itu. Ia melirik ke Mebuki, yang akhirnya hanya bisa tersenyum pasrah. "Mebuki-san..."

"Tidak apa-apa," Mebuki tersenyum pada Konan, "Kau benar-benar ingin tau, Sasuke-kun?"

Sasuke mengangguk.

Mebuki kembali menghela nafasnya, ia mengajak Sasuke duduk di ruang tunggu, sedangkan Konan bersandar di tembok di hadapan mereka, ia mulai menyimak, dan Mebuki mulai bercerita, "Empat tahun yang lalu..."

.

.

(==)/

.

.

Keesokan paginya, setelah mengantar Sasuke ke sekolah, Pein segera melajukan mobilnya ke arah berlawanan dari arah apartemennya. Dari tadi malam sampai sekarang, Pein benar-benar kepo tentang Sakura. Meskipun ia sama sekali tidak mengenal gadis bermarga Haruno itu, tetap saja saat ini ia merasa bersalah. Dan ia berhak tau apa yang terjadi dengannya.

Dan ia harus tau apa yang terjadi dengan Sakura. Setelah berpikiran semalaman, memutuskan untuk menemui orang itu.

Pein memang menganggap pilihannya ini bodoh. Tapi tidak ada cara lain bukan? Terpaksa ya terpaksa.

Dan disinilah ia, bersandar di ruangan si pemilik klinik. Menatap dingin sang wanita yang sedang duduk di kursinya sembari menulis sesuatu yang Pein tidak mau urus. Walau ia enggan bertemu dengan Konan, tapi dia tau hanya perempuan ini yang dapat memberi jawaban untuk semua pertanyaannya.

"Sudah tujuh tahun, Pein." Konan melepaskan kacamatanya, menatap Pein dengan tatapan lembut. "Dan kau masih dendam padaku?"

"Tidak." Ucap Pein singkat, namun dari suaranya, sepertinya Konan menyadari kalau Pein memang sama sekali tidak berminat untuk berbicara padanya.

"Lalu kenapa kau bersikap dingin seperti itu?" Kata Konan. "Apa karena aku memutuskan untuk berpacaran dengan Sasori?"

Rahang Pein mengeras, ia benci kalau saat-saat seperti ini mulai muncul. Rasanya bukan ini yang ingin ia bicarakan.

"Hubunganku dengan Sasori sudah berakhir sejak kita lulus SMA. Dan aku memutuskan hubungan kita saat itu..." Konan menghela nafas berat. "... K-Kalau kau mau, kita bisa mengulanginya dari awal. Sebenarnya sampai saat ini aku masih sangat menyukaimu. Kalau kau mau membuka hatimu lagi, aku a-"

"Cukup." potong Pein. Ah, rasanya kepalanya mau meledak mencerna kata demi kata yang diucapkan Konan tadi. "Aku kesini bukan membicarakan hal itu. Tapi tentang Haruno,"

Konan tertegun.

"Ada apa yang terjadi padanya? dan juga... Suigetsu itu siapa?"

Dua pertanyaan singkat. Yang dapat menjawab semuanya.

Konan menatap Pein dengan kecewa, "Jadi karena hanya Sakura-chan kau datang menemuiku?"

Pein mengangguk.

"Baik, aku akan menceritakan semua," Kata Konan sambil menekan rasa kecewanya, rautnya berubah menjadi sedikit berikut. "Empat tahun lalu..."

Dengan serius Pein mendengarkan cerita Konan tanpa memotong sedikit pun. Wajahnya berubah tegang dan hatinya terasa dicabik-cabik ketika mendengar kalimat demi kalimat yang dituturkan oleh Konan. Dan tanpa disadari oleh lelaki bin es itu, ada sebuah perasaan lain yang ikut menyusup ke dalam hatinya.

Setelah selesai, Konan kembali menatap wajah Pein. Perempuan itu terkejut saat melihat ekspresi lelaki itu. Pein membeku di tempat, matanya menatap lurus, tubuhnya terasa membeku, tidak bergerak sama sekali.

"Pein-"

"Begitu," Pein mensandarkan punggung ke arah pintu ruangan. Wajahnya terlihat muram. Ia tidak peduli dengan tatapan Konan yang mengintimidasi, Ia terus membayangkan wajah Sakura di pikirannya.

Oke, sekarang Pein terlihat jahat disini. Sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu, Pein sudah seperti orang jahat bagi Sakura. Dari pertemuan itu sampai sekarang, menurutnya Ia sama sekali tidak ada berbuat baik pada Sakura, bahkan sering memarahi gadis itu karena menuduhnya mendekati Sasuke. Ah...

"Terima kasih, kau sudah cukup banyak membantu." Pein membalikkan tubuhnya, berniat membuka pintu klinik.

Konan terkejut. "Pein! tunggu!"

Tapi Pein sama sekali menghiraukan panggilan Konan. Dia membuka pintu ruang praktek Konan tanpa sekalipun menoleh pada wanita itu. Dan kembali menutupnya dengan bantingan.

Konan hanya dapat memandangi kepergian Pein dengan trenyuh. Pertama kali dalam hidupnya, ia belum pernah melihat Pein segusar itu, bahkan saat Pein mengetahui perselingkuhannya dengan Sasori.

Dan karena tindakannya yang bodoh itulah, membuat jaraknya dengan Pein menjauh. Sepertinya ia memang tidak punya kesempatan lagi untuk mendekati lelaki itu. Ia juga tidak menyangka kalau perbuatannya tujuh tahun yang lalu telah meninggalkan luka yang begitu dalam di hati Pein.

.

.

.

(==)/

.

.

Sakura tertidur di ruangan kelas siang itu. Setelah mengetahui semuanya semalam, ia memutuskan untuk tetap sekolah, yang jelas ditentang oleh Mebuki. Namun karena keras kepala adalah sifat Sakura, toh sekarang ia tetap belajar seperti sekarang.

Dan ia sama sekali tidak menyadari kalau Sasuke sudah duduk disebelahnya beberapa menit yang lalu. Menunggunya untuk segera bangun.

Mata Sakura mulai bergerak-gerak, ia segera menegakkan tubuhnya, lalu menguap kecil. Matanya mengerjap-ngerjap.

Setelah tau kalau dia memang sendirian di kelas, karena istirahat 10 menit lagi akan berakhir, dan otomatis semuanya masih ada di luar. Meninggalkan Sakura sendirian di kelas.

"Hei,"

Sakura terkejut saat mendengar suara berat itu terdengar jelas di telinga kirinya. Ia menoleh, terkejut bukan main saat menatap Sasuke sedang tersenyum kearahnya sambil menopang dagu. "Uchiha-san? S-Sejak kapan.."

"Aku ingin bicara denganmu."

Sakura terdiam.

"Aku tau semua masalahmu," Sasuke menatap Sakura serius, membuat gadis itu menelan salivanya. "Aku tau semuanya. Dari penyakitmu yang memang tidak bisa dekat dengan laki-laki, dan juga..." Sakura menahan nafas, "Masalahmu dengan Suigetsu itu."

"..."

"Aku tau mungkin saat ini kau belum menerimaku, karena masalah trauma-mu itu. Tapi..." Sasuke mendekati wajahnya, otomatis wajah Sakura segera menjauh. "Aku akan membantumu."

Eh?

"A-Apa maksudmu?"

"Mungkin kau menganggapnya aneh, tapi aku benar-benar serius padamu." Sasuke menggenggam tangan Sakura, yang dibalas dengan hempasan lengan Sakura. "Apapun akan kulakukan, sampai kau sembuh."

Sakura terdiam. Emeraldnya menatap onyx Sasuke dengan pandangan kosong.

'Apa bisa?'

Ya, dipikiran si Haruno tunggal itu hanyalah satu. Apa bisa?

.

.

.

.

Sorenya setelah pemotretan, setelah yakin Sasuke ada latihan basket hingga malam, Pein memutuskan akan menjenguk Sakura siang itu. Ia yakin gadis itu sudah pulang jam segini. Dia harus meminta maaf pada Sakura karena sudah menuduhnya macam-macam dan bersikap kasar kepadanya.

Dan kedatangan Pein langsung disambut hangat oleh Mebuki.

"Konnichiwa, Baa-san." Sapa Pein saat melihat Mebuki membukakkan pintu rumahnya.

Mebuki tersenyum hangat, ia segera mempersilahkannya masuk dan menuntunnya menuju ruang tengah. Saat melihat kedatangan Pein, ia langsung apa tujuannya datang kali ini.

Well, tentu saja untuk menemui putri tunggalnya, kan?

Di ruang tengah itu, Sakura sedang berbaring di sofa sambil membaca novel. Dan dia langsung terperajat kaget ketika melihat Pein masuk bersama Mebuki. Buru-buru dia pura-pura tidur, tapi aksinya itu sempai dilihat oleh si tamu rumah.

"Sakura?" Mebuki menaikkan alisnya saat menatap anaknya tertidur di sofa tengah dengan bingung. Ia kemudian menoleh kearah Pein, yang hanya tersenyum tipis. "Pein-kun lebih baik duduk dulu, Baa-san akan buatkan minuman, ya?"

Pein menganggukkan kepalanya sambil meletakkan keranjang parsel buah yang dibawanya ke atas meja. Tapi begitu Mebuki meninggalkannya, dia pun menghampiri Sakura dan menyentuhkan jarinya ke tangan gadis itu. Spontan Sakura melonjak kaget.

"Apa-apaan sih!? Dasar nggak sopan!" Sakura berteriak marah, ia segera duduk dan mengelus lengannya.

"Lho, bukannya kau sedang tidur?" Tanya Pein dengan wajah tidak berdosa, ia segera duduk di sofa, bersebrangan dengan Sakura.

"Mau apa kau kemari?" Tanya Sakura dengan nada ketus, "Pulang sana! Aku malas bicara denganmu!"

Pein menatap Sakura malas. Inilah yang paling dia benci dari gadis manja seperti Sakura. Sedikit salah, pasti dia langsung berteriak keras dan membuat masalah semakin bertambah besar.

Pein menghela nafas, kali ini dia mencoba untuk bersabar dan harus mengalah pada tingkah laku Sakura.

"Kau marah ya?" Pein menatap Sakura dengan pandangan malas, ia memang seperti sama sekali tidak berniat meminta maaf pada Sakura. Tapi mau bagaimana lagi, toh itu memang ciri khasnya kok. "Aku tau semuanya. Kau tidak berpacaran dengan Sasuke, dan juga... aku memarahimu tanpa alasan. Sekarang aku mau minta maaf, kau mau memaafkanku kan?"

Sakura tidak menjawab, gadis itu melipat kedua tangannya sambil menoleh kearah lain. Dan itu membuat Pein menutup wajahnya dengan tangannya.

"Baik baik.. Kau mau tidak kuajak jalan-jalan keluar? Daripada kau seperti orang bodoh yang suka menghabiskan harinya dirumah." Sakura mendelik sebal, bibirnya maju-mundur, menatap Pein dengan pandangan benci. "Kenapa kau selalu menyindirku sih!?" Teriaknya lagi.

"Tapi itu kenyatannya kan?" Pein menyeringai jahil kearah Sakura, ia segera berdiri dan menuju pintu rumah. "Aku menunggumu diluar, kalau 10 menit kau tidak keluar, aku akan meninggalkanmu." Jawabnya enteng.

Dada Sakura naik-turun, wajahnya sudah sedikit memerah karena marah akan sifat Pein yang sangat memaksa. Setelah yakin kalau Pein sudah keluar, Ia segera melempar bantal yang ia pakai tidur tadi, dan sukses terkena pintu rumah.

"Dasar pemaksa!" Teriaknya lagi.

.

.

.

.

.

Pein membawa Sakura pergi ke salah satu taman yang terdapat di Tokyo. Taman itu sudah sering digunakan Pein sebagai lokasi pemotretannya. Pemandangan di taman itu sangat indah karena bermacam-macam bunga beraneka warna tumbuh disana. Ditambah lagi dengan gedung-gedung bertingkat yang berdiri megah sebagai latar belakangnya.

Sakura tampak senang sore itu. Ia berlari kecil sembari memotret bunga-bunga yang ada disana dengan pengarahan dari Pein.

"Coba kau foto bunga mawar itu," Pein menunjuk kearah serumpun bunga mawar berwarna merah. "Dan ambil gedung itu sebagai latar belakangnya." Pein menunjuk salah satu gedung yang melatarbelakangi taman itu.

Sakura memotret bunga itu dengan kamera digital yang dipinjamkan oleh Pein kepadanya. Begitu dia selesai memotret bunga tersebut, ia langsung menyerahkan kamera itu pada Pein.

"Hn, lumayan." Jawab Pein sembari mengembalikannya kepada Sakura, yang disambut Sakura dengan sukacita.

"Enak ya jadi seorang fotografer?" tanya Sakura ketika mereka duduk di bangku taman untuk melepas lelah.

"... Lumayan."

"Kalau tidak enaknya, seperti apa?"

"Tidak ada."

"Seperti orang pacaran?"

Pein terdiam, ia terlalu malas menghadapi berbagai pertanyaan yang dilontarkan padanya. Jujur, mengejar Sakura yang sudah berlari-lari tidak jelas sekeliling taman membuatnya tampak kewalahan. Ia sedikit menyesal ketika tau kalau dialah yang mengajak Sakura kesini.

Sakura cemberut ketika melihat Pein yang sama sekali tidak memperdulikannya. Ia pun menghela nafas. "Hei, Pein..."

"Hn?"

"Kenapa kau melarang Uchiha-san untuk menjalin hubungan? Bukankah itu haknya?" Tanya Sakura tanpa menghadap orang yang ada disampingnya.

"Untuk apa memikirkan hal itu," sahut Pein dingin, membuat Sakura sedikit tersentak. "Si bodoh itu tidak akan bisa menanggung sakit hati bila kekasihnya nanti meninggalkannya."

"Terus, bagaimana Uchiha-san bisa mendapatkan calon istrinya kelak kalau dia tidak boleh menjalin hubungan dengan seorang perempuan?"

"Menurutku," Pein bangkit berdiri, "Sekarang bukan saatnya memikirkan cinta. Yang penting belajar dan berkarir." Jawabnya tanpa ekspresi. Ia lalu meninggalkan Sakura yang masih cengo di bangku taman.

Setelah Pein berjalan menjauhi dirinya beberapa meter, ia segera tersentak dan berdiri, mengejar Pein yang ternyata diam-diam meninggalkannya. "Hei! Tunggu aku!"

.

.

.

.

Sasuke menekan bel pintu rumah Sakura, dia baru saja pulang sekolah. Dan tanpa pulang terlebih dahulu ke apartemennya, dia langsung pergi ke rumah Sakura untuk melihat keadaanya.

"Baa-san, apa Sakura ada?" tanya Sasuke saat menatap Mebuki yang membukakan pintu untuknya.

"Ah, Sakura belum pulang, Sasuke-kun. Apa mau menunggu?" tanya Mebuki senang mendapati sang lelaki tampan berkunjung ke rumahnya.

Sasuke mengerutkan keningnya. "Dia pergi keluar? Sendirian?"

Mebuki menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum ramah. "Tidak. Tadi siang Pein-kun datang kemari, ia mengajak Sakura keluar sebentar. Mungkin sebentar lagi pulang," jawab Mebuki tanpa rasa bersalah.

Sedangkan Sasuke, hanya bisa terdiam membisu saat mendengar nama sang sepupu disebut. Apa dia tidak salah dengar? Ada angin apa sampai Pein mau mengajak Sakura pergi? Apa dia mau mau melarang Sakura untuk berpacaran dengannya? Hal ini tidak bisa dibiarkan! Sasuke harus menunggu sampai mereka berdua kembali. Dia harus tau apa yang dilakukan Pein terhadap Sakura. Dan bila Pein melakukan apapun sehingga membuat gadis itu sakit hati, Sasuke benar-benar tidak akan memaafkannya.

...

...

...

...

Pein dan Sakura duduk di meja kafe dekat dengan taman yang mereka kunjungi tadi. Sama-sama mereka tidak membicarakan apapun sejak Sakura menyinggung masalahnya dengan Sasuke.

"Pein.." Panggil Sakura cemas.

"Hnn?" Gumam Pein malas.

"Kau marah ya?"

"... Tidak."

"Sudah jelas kalau kau marah!" Pein tersentak dari lamunannya. Ia menatap heran Sakura yang mulai mengerucutkan bibirnya. Dalam hati, Pein menggelengkan kepalanya. Kenapa gadis ini sangan sensitif sih? Apa dia sedang PMS?

"Kalau kau marah bilang! Jangan diamkan aku seperti ini!" Teriak Sakura lagi.

Pein berdecak, "Bisa tidak sih kau jangan teriak seperti itu? Kau bisa membuatku tuli tau!"

"Aku tidak peduli!" Sakura berteriak lagi, membuat orang-orang yang ada di kafe tersebut mengalihkan aktivitas mereka dan menatap sepasang sejoli yang sedang beradu mulut di meja paling pojok. "Katakan! Kau marah ya?"

Pein menghela nafas kesal. "Tidak!"

"Baik, apa buktinya?"

"Bukti apa?"

"Bukti kalau kau tidak marah padaku!" Sakura merengut, "Kau memang tidak peka dalam masalah perasaan perempuan."

"... Terserahmu," Jawab Pein seadanya, ia kembali menatap jalanan di sebrang mereka.

Sakura menghela nafas kesal. Memang orang di depannya ini tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya ia bertopang dagu, dan bertanya dengan polos. "Apa kakak sudah menikah?"

Pein mendelik sebal, "Apa urusanmu tentang itu?"

Sakura berdecak, "Sudahlah, jawab saja!"

"Huh," Pein mendengus. "Belum, aku belum menikah."

Sakura mengangguk, "Pantas aku tidak pernah melihat kau jalan dengan seorang perempuan? Apa jangan-jangan kau gay ya? Hahaha!"

Pein menatap Sakura yang tertawa, dia bahkan tidak tau letak kelucuannya dimana.

Dasar perempuan aneh.

Yah, memang benar. Sampai sekarang dia belum menikah, padahal dia sudah cukup umur lho. Tapi, hanya saja dia terlalu malas untuk memikirkan hal-hal yang mengandung unsur percintaan dan semacamnya.

Pein menghela nafas pendek, lebih baik dia menceritakan semuanya dibanding orang yang ada dihadapannya ini tidak salah paham. "Sudah cukup ketawanya, Haruno." Ucapnya dingin.

Sakura pun mengangguk, ia mulai berhenti tertawa dengan cara menutupi bibirnya dengan lengan kanannya. "... M-Maaf.."

"Aku akan menceritakannya kalau kau mau. Supaya kau tidak berpikiran aneh-aneh."

"Hehe," Sakura nyengir. Ternyata dia tau juga apa yang ada di isi pikiran Sakura.

Pein lalu memanggil seorang pelayan untuk meminta bon. Dan setelah membayar, mereka masih saja duduk di kafe tersebut. Dengan serius Sakura mendengar dan menyimak perkataan Pein yang santai, seakan-akan membuka aib masa lalunya itu bukan masalah.

Toh, dia sudah tau apa masalah Sakura di masa lalu, dan untuk Sakura... kenapa tidak?

Setelah selesai, Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar," komentarnya singkat. "Aku tidak menyangka lelaki sepertimu bisa disakiti oleh seorang gadis, kupikir sebaliknya." Sakura terkikik, kemudian disusul dengan tawaan.

"Yah begitulah." Kata Pein santai. "Mereka sudah menjalin hubungan selama sebulan sebelum aku mengetahuinya," Pein melanjutkan ceritanya. "Saat itu seperti dunia akan kiamat. Aku bahkan pernah berpikir akan menghabiskan sisa umurku dengannya." Pein tertawa sumbang, kemudian ia tersenyum iba. "Walau masih SMA aku sudah berpikir sejauh itu, Sementara si wanita brengsek itu menganggap hubungan kami tidak lebih sekedar dengan cinta monyet."

Sakura terdiam. Ia menatap lelaki yang dihadapannya dengan tatapan penasaran sekaligus sedikit kasihan. Hati gadis itu tersentuh mendengar cerita Pein, sekaligus dengan tontonan ekspresi pria itu yang sangat jarang ditampakkannya dalam kehidupan mereka.

PLAK!

"ARGH!"

PLAK! PLAK!

"A-APA YANG KAU LAKUKAN!?"

Mereka berdua terdiam. Sakura memajukan wajahnya, membiarkan kedua tangannya menempel di kedua pipi Pein. Sakura menekan-nekan tangannya pada pipi lelaki dihadapannya, dan seketika pipi Pei seperti tertekan dan akhirnya menjorok ke dalam, membuat pemuda itu tampak sedikit lucu.

Sakura memukul kedua pipi Pein sekali lagi, "APA YANG KAU LAKUKAN, JIDAT!?" Akhirnya Pein berteriak, ia tidak bisa menahan amarahnya.

"Pein," Pein memberhentikan ocehannya, ia menatap heran tatapan Sakura yang seperti mengintimidasi dirinya. "Atas nama perempuan, aku minta maaf atas kesalahannya." Pein menaikkan alisnya, "Kau tidak pantas mengorbankan hidupmu dan hidup Uchiha-san demi orang seperti dia."

Mereka terdiam. Lelaki berambut oranye itu tidak dapat menjawab apa-apa saat kata-kata tadi diluncurkan dengan mudah di bibir seorang Sakura Haruno. Sakua menatapnya serius, sangat serius. Dan perlahan-lahan mulai pasti, Sakura langsung menjauhkan tangannya pada Pein, sedangkan si lelaki hanya menatap bingung Sakura yang seperti tersengat listrik.

"A-Aku..." Suara Sakura tampak bergetar, "... Menyentuhmu?"

Pein segera berdiri, ia meringis sebentar, kedua pipinya masih berdenyut akibat tepukan kedua tangan Sakura yang keras. "Kita pulang," katanya singkat.

Sakura mengangguk, gadis itu lalu berjalan menuju mobil Pein, disusul oleh sang pemilik mobil.

Sepanjang perjalanan pulang, Pein dan Sakura sama-sama diam membisu. Mereka terlalu larut dengan pikiran masing-masing.

'Dia sudah sembuh?'

'A-Aku sudah sembuh?'

Pada saat mobil berhenti di sebuah lampu merah, Pein menoleh kearah Sakura. Iris coklatnya menatap emerald Sakura dengan tatapan penuh arti. Lalu dengan perlahan-lahan dia menyentuh tangan Sakura dan menggenggamnya.

Sakura terdiam sesaat, tapi dia tidak menarik tangannya seperti biasa dilakukannya bila bersentuhan dengan laki-laki. Wajahnya tidak menampakkan ketakutan, bahkan tubuhnya juga tidak gemetar lagi.

Semuanya terlihat baik-baik saja.

Melihat reaksi Sakura, Pein tersenyum tipis. Sakura pun membalasnya dengan sebuah senyum manis.

.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

.

Author curcol ~

WAHAHAHHAA! Saya balik lagi buat lanjutin ni fict. sudah dua bulan kagak mampir, jadi mohon maaf kalo updatenya lambat. :/

Mohon maap kalo ada kesalahan, bahasa aneh dan gajelas, banyak typos, dan banyak kesalahan-kesalahan lainnya, saya mohon maap sebesar-besarnya. karena saya juga bekerja diantara ngerjain ni fict, sekalian sama ngerjain laporan tugas. :V

untuk Sasupyon, aku kaget banget pas aku baca ulang, kmu terlihat OOC disini. ahahhahaa

entah kenapa selalu begini kalo ada Sasuke di fict saya, pasti ada unsur OOCnya buat ni tokoh. x)

Dan untuk Suigetsu, mungkin dia bakal break sampe chap 6. mungkin chap 7 dya baru keluar, hehehe.

Thanks for the reviews yaa semua. tanpa kakak kakkakku yang ganteng dan cantik ini yang meninggalkan jejak di kotak review, rasanya makin semangat update fict ini! hehe. xDD

Sama untuk reviewer login yang namanya Uchiha Tachi'4'Sora, wah! makasi ya sama infonya! aku baru tau, soalnya kebanyakan aku baca fict PeinSaku itu pasti mata Pein diibaratkan warna ungu kalo enggak merah. ehehe, makasih ya! :D

Hehehe, minna, maap ya kalo ada kesalahan informasi dan unsur-unsur fict ini ada yang tidak sesuai dengan canon. Kalo ada kesalahan, mohon beritau saya ya. di PM atou review, terserahhh..

RnR? makasih. :")

.

.

SPECIAL THANKS TO

ayamoekari, Hime Hoshina, , Skymory, zoccshan, .5, Guest, Guest, Guest, Nickyy09, Rikopain, Kim Arlein 17, misticreader, sakura-centric lover, Kaos Kaki, Kim Keyna, Kiki RyuEun Teuk, Uchiha Tachi'4'Sora, Rosachi-hime, Melody in Sky 10, Tohko Ohmiya

p.s : maaf kalo ada yng tersinggung jika saya tidak membalas review kalian. Jujur, saya ini bukannya ga mau, tpi ga bisa Dx

tpi saya selalu baca kok. :D