Unexpected

.

.

Pair: Yoonmin, others

BANGTAN BOYS AND OTHER CASTS AREN'T MINE

.

.

Setelah kejadian dengam Yoongi kemarin, aku sama sekali tidak bisa melihat wajahnya. Dan sialnya, hari ini ada Matematika dan aku sekeleompok dengannya. Apa salahku.

"Ya, anak-anak. Ayo berkumpul di kelompok masing-masing!" perintah Bu Lee.

Tanpa menjawab, anak-anak, termasuk aku, mulai membereskan meja sesuai perintah yang Bu Lee pernah ajarkan.

"Hei, Chim cepat sini." Sunjeong menarikku ke kursi di depan Yoongi.

Dan karena kelompok ini dibentuk sesuai keinginan siswa (walaupun semuanya Chanyeol yang memilih), jadilah kelompok kami terdiri atas aku, Sunjeong, Yoongi dan Chanyeol. Dan aku duduk tepat di depan Yoongi yang sedang mempertahankan kesadarannya di pelajaran ini. Dari pagi, dia sama sekali tidak mencoba menemuiku untuk menjelaskan, apalagi meminta maaf. Dia kira siapa dia?

Dan untuk menutupi rasa gugupku, aku memperhatikan Bu Lee dengan konsentrasi penuh.

Dan, tibalah saat untuk diskusi kelompokㅡyang merupakan mimpi buruk untukku. Karena saat berdiskusi, setiap anggota kelompok pasti mendekatkan kepala. Dan yang ada di depanku adalah Yoongi. Dan.. dan.. yah.. kalian tahu maksudku 'kan?

Tibalah kami di soal nomor 2. Dan karena dari tempat dudukku aku tidak bisa melihat dengan jelas (aku minus, tidak memakai kacamata, dan meja kelompok kami di pojok belakang), aku pindah untuk duduk setengah-pantat di bangku Jin yang kebetulan kelompoknya duduk tepat di depan papan tulis. Akhirnya, sih, Jin mengusirku dengan alasan dia tidak nyaman, pantatnya sakit, dan aku terlalu memakan tempat.

Akhirnya dengan segenap kerendahan hati, aku duduk di lantai, dan mungkin ini bisa dijadikan alasan untuk jauh-jauh dari Yoongi.

Setelah memberitahu Bu Lee alasanku untuk duduk di lantai, beliau mengizinkanku untuk tetap duduk disana sampai pelajaran terakhir. Setelah itu, Bu Lee memerintahkan anak-anak untuk duduk di dalam kelompok masing-masing. Dan karena aku tidak kembali, aku mendengar Yoongi bertanyaㅡsuaranya cukup keras.

"Dimana Jimin?"

Dan kudengar jawaban Sunjeong, "dia duduk di depan, di lantai."

Setelah itu aku tidak mendengar suara Yoongi lagi.

xxx

.

Saat tiba waktu istirahat, Chanyeol mendatangi mejaku sambil tersenyum anehㅡyang membuatku berpikir ambigu.

"Hey."

Aku mendongak, dan menatap hidungnya. "Ya?" Ada jerawat di ujung hidungnya, tepat di tengah.

"Hari ini kita akan mengerjakan tugas kelompok yang tadi disuruh Ibu Lee," ujarnya sambil menatapku geli. Harusnya aku yang menatapnya geli. "Kau bisa ikut kan?"

Aku mencoba mengingat jadwalku hari ini. Hari ini aku ada les, dan aku malas. Tapi, kalau memakai alasan kerja kelompok tidak apa-apa kan?

"Bisa," jawabku mencoba mengabaikan jerawatnya.

Chanyeol nyengir lebarㅡjerawatnya memerah, "tempatnya di rumah Yoongi ya. Rumahnya yang paling besar soalnya, dekat lapangan basket juga. Sudah dulu ya." Chanyeol langsung pergi dengan bunga-bunga imajiner di sekelilingnya.

Aku berusaha untuk menahan perasaan untuk menjerit nelangsa.

.

Rumahnya tidak sebesar itu. Bukan maksudku untuk membandingkannya, tapi rumah Namjoon bahkan lebih besarㅡtampak luarnya, sih, tapi, siapa yang tahu bagian dalamnya?

Dan walau agak risih, tapi hari ini panas sekali. Jadi, dengan sangat terpaksa, aku mengenakan baju tanpa lengan yang bagian ketiaknya sangat turunㅡwajar karena itu baju lungsuran kakak sepupuku.

Yang menyambutku adalah pembantuㅡatau dalam kamus keluarga Min, adalah maidㅡbermuka agak judes. Dia memberitahuku bahwa yang lainㅡlebih tepatnya Chanyeolㅡsudah berada di lantai 2, lantai yang katanya, hanya dikuasai Yoongi seorang.

Aku naik ke lantai 2 dengan gugup. Di sepanjang tangga, aku menemukan foto-foto keluarga Min. Kebanyakan adalah foto Yoongi yang masih kecil. Aku menghentikan langkahku di depan salah satu foto Yoongi yang sedang tersenyum manis sambil memegang sebuket mawar. Itu pasti foto yang bisa terbilang baru karena di foto itu Yoongi sudah besar. Di bawah foto itu tertulis, 'untuk yang tercinta.'

Dan karena foto itu masih baru, aku penasaran siapa yang 'tercinta' itu.

"Hoi!"

Aku melompat kagetㅡbenar-benar melompatㅡsaat mendengar suara keras itu. "Chanyeol? Kau membuatku serangan jantung ringan! Kau mau bertanggungjawab kalau aku mati disini?"

Chanyeol tertawa terbahak-bahak sampai tertunduk. Dan langsung terhenti saat tuan rumah menendang pantatnya.

Yoongi tersenyum kearahkuㅡsenyum yang tidak mencapai matanya. "Ayo naik, Jim, kenapa kau diam saja disitu? Kita tinggal menunggu Sunjeong."

Dengan kaku aku naik dan tersenyum kaku kearahnya, "Sunjeong selalu telat."

Yoongi masih tersenyum, "ya sudah, kita kerjakan sebagian dulu."

.

Apa salahku. Kenapa aku menjadi yang terakhir pulang? Kenapa hujan harus turun di tengah panas terik? Kenapa Chanyeol di jemput naik mobil? Kenapa Sunjeong sakit mendadak? Kenapa aku harus berdua dengan Yoongi di kamarnya? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kurasa aku saudara jauh Harry Potter dan ketularan banyak kesialannya.

"Hey, jangan bengong, bantu aku," sentuhan tangan Yoongi ke pundakku membuatku sadar dari ratapanku.

Dengan gugup aku mulai mengerjakan beberapa bagian yang disuruh Yoongiㅡya, disuruh.

"Untung kau belum pulang ya. Jadi aku tidak perlu mengerjakan semuanya sendiri."

Aku melirik Yoongi yang sedang duduk santai sambil menatapku. Seram sekali. Apalagi saat dia menatapku lama dengan aneh begitu. Rasanya seperti dilihat oleh Medusa dan Basilisk.

Akhirnya setelah memberanikan diriㅡdan pergolakan batin yang menyakitkan, aku membuka suara, "kau tidak kerja?" tanyaku agak serak. Daritadi aku tidak membuka suara. Takut salah bicara. Mulutku korbannya. Dan bahkan mungkin tubuhku.

"Aku sudah bekerja. Daritadi, aku lah yang paling banyak bekerja."

Kurasa dia masih ingin melanjutkan perkataannya, jadi aku diam saja.

"Dan lagi, kenapa kau bertanya disaat kau sendiri belum bekerja?"

Sebenarnya, saat ini aku sedang bekerja.

"Dan yang kedua, ini rumahku, siapa kau mengaturku? Selama kau berada di rumah ini, apalagi di lantai 2, kau sedang berada di teritoriku."

Sifatnya jelek sekali. Aku bingung kenapa aku kagum dengannya.

"Yang ketiga, karena ini daerah teritoriku, kau harus mematuhiku. Jadi, kesini dan duduk di pangkuanku."

Kata-katanya terdengar agak memaksa, kalimatnya sangat tidak seperti Yoongi. Dan kurasa dia pasti belum minum obat penenangnya.

"Jangan aneh-aneh, Yoon."

Tanpa aba-aba, suara Yoongi berada tepat di belakangku. "Kenapa, hm?"

Seluruh badanku meremang. Apalagi saat Yoongi menarikku untuk duduk di pangkuannya dan mulai menyamankan diri. Kepalanya berada di pundakku, salah satu tangannya di pinggangku, dan yang lain di perutku.

Aku sering membaca fanfic-fanfic BL, dan aku tidak pernah mengerti kenapa mereka menunjukkan sisi lemah mereka ke sesama jenis mereka, yang lebih dominan. Sampai sekarang saat merasakannya sendiri pun, aku masih tidak mengerti.

Hey, aku ini laki-laki, kenapa aku harus kelihatan lemah di depan lelaki lain? Apalagi yang jenisnya seperti Min Yoongi.

"Hey, Yoon, hentikan keusilanmu yang mengganggu ini. Kita masih banyak kerjaan."

Bukannya menjawab, Yoongi malah menghembuskan nafasnyaㅡatau mungkin mendengusㅡke leherku. Sekali lagi seluruh kulitku meremang. Apalagi saat Yoongi mulai menggigiti leherku. Sekali lagi, aku lelaki.

Dan rasanya aku ingin bernyanyi dan menyumpah seperti ini, "OH SIALAN, KENAPA TERJADI HAL SEPERTI INI, DAN AKU MENYUKAINYA. KENAPA MANUSIA BRENGSEK DAN SEMPURNA SEPERTI MIN YOONGI MEMBERIKU KISSMARK? SYALALALALA, SING A HAPPY SONG. BECAUSE I'M HAPPEH"

Kurang lebih seperti itu.

Biar kuceritakan rasanya. Rasanya itu antara tersiksa, menikmati, ingin lebih, takut, marah, dan malu. Apalagi saat tangan Yoongi masuk ke celah lengan bajuku yang tanpa lengan. Sudah kuduga, aku salah memakai baju ini.

Untungnya, dia tidak melakukan aneh-aneh. Walaupun, tangannya yang mengelus-elus leherku dari dalam baju agak aneh.

Yang jelas, aku tidak akan mengeluarkan desahan memalukan seperti yang sebentar lagi akan kuluncurkanㅡsekadar pelepasan, bukan cum.

"A-ah.. Yoongi, hentikan, nhh~"

Bukannya menghentikannyaㅡaku benar-benar malu mengeluarkan suara seperti itu, rasanya mau matiㅡYoongi malah mamutar kepalaku dan menciumku.

.

.

SPIN-OFF

1.) Bagian Chan berbunga-bunga

Setelah memberitahu incaran Yoongi yang bantet itu, aku bahagia sekali. Ini berarti, aku tidak usah mendengarkan perintah Yoongi yang teorinya disamakan dengan simbiosis mutualisme. Padahal lantatku selalu korbannya. Kenala harus dia yang masuk? Kan dia lebih pendek.

.

2.) Bagian Sunjeong

Aku baru tahu kalau hari ini ada kerja kelompok saat Jimin meneleponku. Anak itu bilang, seharusnya Yoongi atau Chanyeol memberitahukannya kepadaku. Dan aku malas kena masalah dengan mereka berdua, jadi aku memakai alasan kalau hari in aku sakit. Setelah itu, aku langsung mendapatkan lesan dari Chanyeol yang berbunyi,

'Hebat juga kau, besok kutraktir di kantin.

-PCY'.

.

3.) Bagian ciuman Yoonmin

Kenapa bibirku menjadi korban lagi?

Bahkan, eomma yang biasanya tidak terlalu memperhatikanku jadi penasaran kenapa bibirku bisa sebengkak ini. Oh, dan jangan lupakan warna merah di leher belakangku.

.

.

[Aphie's Note]

Sebelumnya, gue ingin meminta maaf untuk kesalahan-kesalahan yang gue perbuat selama berjalannya ff ini..

Selamat Idul Fitri bagi yang merayakan. (Gue ga ngerayain btw, fyi, tbh, lmao, lmfao, dll, dst, dst)

Ngerti alurnya ga sampe di chap ini? Gue khawatir banyak yang ga ngerti sama cara penulisan gue yang absurd dan agak terlalu kaku kadang.

Makasih buat yang udah review, fav, fol, dll ya. Mungkin kesannya gue main-main, tapi gue serius.

Dan mulai sekarang, semua review di bales oleh pemain-pemain unexpected, bukan gue. Ada beberapa yang reviewnya dibales dengan kata-kata "Ini Jimin" misalnya.

Jimin: tau, egois ih author-nim.

Chanyeol: tau, gue kan sibuk. Manusia tersibuk. Yo, man, yo, man, yoㅡ

Author: ceye, lu bawel ya.

Yoongi: /di pojok, liatin Jibooty/

Pokoknya, gue cuma muncul di A/N. Selebihnya yang muncul itu aktor unexpected

Annyeong~

PS: gue lagi vacation, jadi kalo ngaret apdetnya maap ya. Dan pendek.

PPS: ada banyak yang minta jadi rate M, apakah ada banyak juga yang setuju?